Judul : Friend or Love?
Author : Kim Jong Soo 1214
Cast : Do Kyungsoo (Kyungsoo)
Kim Jongin (Jongin)
Huang Zi Tao (Tao)
Baekhyun (Baekhyun)
Chanyeol (Cameo)
Genre : Friendship
Rate : T
Warning : Yaoi (boyxboy), Typo (s) bejibun, Alur Gaje
Disclamer : Cerita ini asli/real dari pemikiran saya. Tidak ada plagiat sama sekali walaupun jalan ceritanya pasaran. Saya hanya meminjam nama tokoh idola saya (cast EXO) untuk menulis cerita ini. Karena sesungguhnya mereka hanya milik Tuhan, orang tua, dan SM Ent.
Summary:
Inilah cobaan sebenarnya dari kata "Persahabatan". Bagaimana Kyungsoo bertahan dengan statusnya sebagai seorang 'Pembunuh'?
Preview
"Bicara apa?" tanyanya dingin
"Ikutlah, aku akan mengatakannya. Tapi bukan disini" jawabku sambil berjalan menjauhi Jongin. Awalnya aku ragu Jongin akan mengikutiku atau tidak, tapi setelah ekor mataku melirik, aku melihat Jongin mengikutiku dari belakang. Dan tanpa aku sadari senyum riang menghiasi bibirku.
Dan disinilah kami sekarang. Taman belakang kampus yang sebenarnya tidak banyak orang yang mengunjunginya mengingat bagaimana tidak terawatnya taman ini. Tapi itu tidak masalah bagi ku. Karena hanya disinilah tempat yang menurutku tepat untuk berbicara dengan Jongin.
Aku berdiri tepat didepan Jongin. kutatap lekat wajahnya yang tampan. Tapi Jongin tak berniat sedikitpun melirik padaku dan lebih memilih mengedarkan pandangannya kelain arah.
"Jongin" panggilku lirih mencoba menarik perhatiannya. Tidak ada jawaban. Aku menghela napas sebelum aku memulai obrolan kami.
"Jongin, aku minta maaf atas kejadian waktu itu." aku menjeda kalimatku "aku tau, aku dan Tao tidak seharusnya mengatakan hal itu padamu. Tapi sungguh, aku dan Tao tidak bermaksud menyakiti hatimu" Jongin masih tidak merespon ucapanku.
"Kau masih menganggap aku dan Tao teman, bukan?" tanyaku memastikan. Kutatap lekat matanya yang masih tidak menoleh padaku.
"Jadi hanya itu?" tanyanya ketus.
"Eh?"
"Hanya itu yang mau kau bicarakan?" dia menatapku dingin. Tak ada senyum lembut yang dulu selalu dia berikan padaku. Oh ayolah, ini hanya masalah kecil. Kenapa harus dibesar-besarkan?
"Jongin"
"Tidak ada teman yang tidak senang melihat temannya bahagia, Kyung"
"Aku senang melihatmu bahagia Jongin. Hanya saja aku dan Tao merasa ada yang aneh padamu" aku mencoba menerangkan
"Itu berarti kalian tidak bisa menerimaku apa adanya"
Ini benar-benar sulit untuk dikatakan. Apa maksudnya? Tidak bisa menerimanya apa adanya? Lalu bagaimana persahabatan kita yang sudah terjalin dari kecil?
"Jongin aku dan Tao hany-"
"Jongin!" belum sempat aku meneruskan kalimatku seseorang menginterupsi memanggil nama Jongin. Otomatis aku dan Jongin menoleh pada sumber suara itu. Disana, tidak jauh dari tempatku dan Jongin, berdiri sosok cantik Baekhyun dengan riang melambaikan tangannya pada Jongin. Dan Jongin? Dia memasang senyum lebarnya saat itu juga. Huft...ini benar-benar pemandangan yang menggangguku.
"Kalau hanya itu yang mau kau bicarakan, aku tidak ada waktu" Jongin segera berlalu setelah mengucapkan kalimat yang membuatku sakit. Hey,ini adalah masalah persahabatan kita. Bagaimana bisa dia menganggapnya enteng? Apa mungkin Jongin sudah benar-benar melupakan persahabatan ini?
Kulihat punggung tegapnya yang berjalan menjauh dariku. Menghampiri sosok manis disana. Kulihat Jongin merangkul mesra Baekhyun. Apa ini? kenapa hatiku berdetak tak karuan? Kenapa ada perasaan aneh disini? aku terus memegangi dada kiriku, dan mataku mulai mengabur. Ada begitu banyak air yang memenuhi mataku sekarang.
"Kyung, gwencana?" tiba-tiba Tao menepuk bahuku. Sebenarnya aku tau Tao sedari tadi mencuri dengar pembicaraanku dan Jongin. Walaupun panda satu ini sangat polos, namun dia mempunyai daya kepekaan yang cukup kuat. Tao segera memelukku begitu tau aku menitikkan kristal bening dari kedua mataku. Dia memelukku sangat erat. Walaupun dia dongsaengku, tapi tingginya memang melebihiku. Itulah sebabnya Tao bisa dengan mudah memelukku.
"Sudahlah Kyung, mungkin Jongin masih belum menyadari kesalahannya" Tao mengusap pelan punggungku. Hanya anggukan kecil yang aku berikan. Sambil menahan isakan yang seolah memaksa keluar dari tenggorokanku. Ada apa denganku? Kenapa aku begitu rapuh?
.
.
.
"Jongin. Bagaimana kabarmu? Apa kau sudah sarapan?" tanyaku riang setelah aku mendudukan pantatku disebelah bangku Jongin. Jongin memang menjauhiku dan Tao, jadi aku berinisiatif untuk mendekatinya. Satu langkah dia menjauh, maka dua langkah aku mendekat. Terdengar konyol bukan? Tapi itulah aku. Sungguh aku tidak ingin hubungan persahabatan ini rapuh hanya karena orang lain.
Jongin diam, tidak ada tanda-tanda dia akan menjawab pertanyaanku. Bahkan matanya tidak menoleh padaku. Sebenarnya aku sedikit sebal dengan tingkahnya. Tapi kucoba menepis pikiran-pikiran aneh ini. Aku memang sudah bertekat untuk memperbaiki 'hubungan' ini.
"Aku tau kau belum sarapan. Aku membawakanmu bekal. Hari ini aku memasak ayam dan udang goreng kesukaanmu" aku tersenyum selebar yang aku bisa sambil menyodorkan kotak bekalku didepan Jongin. Jongin hanya menatapnya sebentar dan kembali membuang muka. Tapi bukan Kyungsoo namanya jika aku menyerah.
Mulai kubuka kotak bekal itu, menampakkan berbagai masakan yang memang sengaja aku buat untuk Jongin. Aku mengambil udang goreng tepung dan menyodorkan sumpitku didepan mulut Jongin.
"Bukalah mulutmu. Aaaaa.." Jongin masih tetap diam. Tak menggubris semua yang kulakukan.
"Untuk apa kau melakukan semua ini?" tanyanya dingin
"Kau lupa ya? Bukankah setiap hari memang aku memasak untukmu? Sekarang buka mulutmu. Aaaaa..."
"Sudahlah Kyung, kau menggangguku" Apa? Aku mengganggunya? Tunggu, apa aku salah dengar?
"Jongin" suara itu lagi. Kenapa dia muncul disini? Entahlah, aku rasa memang ada sesuatu didalam diri Baekhyun. Tatapan matanya padaku juga sekarang berbeda. Setiap kali aku latihan vokal di club musik Baekhyun tidak lagi mau menyapaku. Dan juga perkatannya selalu dingin padaku. Hey, ada apa dengan kalian? Apa aku melakukan kesalahan pada kalian?
"Baekkie" Jongin tersenyum lebar. Seperti biasanya. Jongin mengacuhkanku dan lebih memilih menanggapi Baekhyun. Itu membuatku sebal.
"Aku membawakanmu bekal hari ini. Aku sengaja memasakkannya untukmu" dapat kulihat mata Baekhyun yang begitu berbinar memamerkan hasil masakannya pada Jongin. Hello? Aku masih berada disini. Apa kalaian tidak melihatku?
"Woahh...kelihatannya enak. Aaa..." Jongin berkata manja pada Baekhyun dan membuka mulutnya lebar-lebar tanda minta disuapi oleh Baekhyun. Dan benar saja Baekhyun segera menyuapinya sepotong telur gulung pada Jongin. Aku yang menyaksikan live drama didepanku ini hanya terdiam seribu bahasa. Aku menatap nanar sumpit yang masih kupegang dengan sepotong udang goreng. Harusnya udangku yang sekarang dikunyah Jongin, bukan telur gulung gosong dari Baekhyun.
Mereka berdua masih asik bermesraan didepanku dan seolah tidak menganggapku ada disana. Aku melihat Baekhyun menoleh padaku. Entah kenapa aku merasa tatapan Baekhyun sangat aneh padaku. Tatapan tajam dengan smirk dibibir tipisnya. Aku mengalihkan pandanganku darinya. Aku bukannya takut, hanya saja aku merasa risih dengan tatapan tajamnya.
"Kyung" Tao memanggilku dari pintu masuk kelas. Sepertinya dia baru datang.
"Eoh, Tao" aku membalas sapaan Tao.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Tao sambil berjalan mendekatiku.
Aku diam, hanya memandang kosong kotak bekal yang masih utuh didepanku.
"Lebih baik kita pergi Kyung. Biar aku yang menghabiskan bekalmu" kata Tao . Dapat kulihat mata Tao menatap tajam Jongin dan Baekhyun. Sedangkan yang ditatap masih saja acuh dengan kehadiranku dan Tao. Ini benar-benar melukai hatiku dan Tao. Tanpa basa basi Tao langsung membereskan kotak bekalku dan menarik tanganku menjauhi Jongin dan Baekhyun. Sebenarnya aku tidak ingin pergi, tapi tangan Tao terlalu kuat menarikku.
"Apa yang kau lakukan, eoh? Kau menyakiti hatimu sendiri dengan sikap bodohmu ini, Kyung" Tao mulai berkata setelah menarikku keatas gedung kampus.
"Aku hanya ingin memperbaiki persahabatan kita Tao" jawabku lemas. Sungguh aku tidak berani menatap mata Tao karena aku tau sekarang mata Pandanya sedang melotot kearahku.
"Tapi kau menyakiti hatimu sendiri, Kyung! Kau tidak memperbaiki keadaan. Jongin itu brengsek! Dia lebih memilih orang yang baru dia kenal dari pada kita sahabatnya sendiri!" ini gawat, Tao benar-benar marah sekarang. Apa yang harus aku lakukan? Aku takut jurus wushu-nya keluar jika Tao sedang marah.
"Tao, tenanglah" aku mencoba menenagkan Tao.
"Aku tidak bisa tenang Kyung. Aku tau Baekhyun punya maksud buruk terhadapmu!" oh, aku benar-benar bingung sekarang. Bagaimana Tao tau Baekhyun punya maksud buruk terhadapku sedangkan Tao saja tidak mengenal Baekhyun.
"Apa maksudmu Tao" tanyaku polos. Atau mungkin aku memang benar-benar polos sekarang. Aku sungguh tidak mengerti dengan perkataan Tao.
"Kau tau..." Tao mulai menceritakan apa yang dia tau tentang Baekhyun. Dan sungguh,ini sangat membuatku terkejut. Bagaimana mungkin hal ini terjadi? Bagaimana Baekhyun tau hubunganku dengan almarhum Chanyeol? Dan darimana Tao tau semua ini?
Ini membuatku kembali memutar kepingan memori yang sempat kusimpan rapi diotakku. Dan dengan tidak sopannya Baekhyun 'memporakporandakan' itu semua. Tubuhku merosot seketika. Entahlah, hanya saja tiba-tiba lututku terasa lemas. Mengingat semua hal yang susah payah kucoba melupakannya. Tidak, bukan melupakannya lebih tepatnya menyimpannya.
"Kyung" Tao memegang bahuku. Dia tau aku sedang terpukul sekarang. Aku tau matanya menyiratkan penyesalan karena sudah memberitahuku semua ini. Dan aku tau Tao memang harus mengungkapkannya demi kebaikan semua.
"Aku mengerti Tao. Tapi bagaimana dengan Jongin? Dia tidak tau apa-apa dengan ini semua" nada suaraku bergetar, aku tidak kuat menahan air mataku untuk tidak jatuh. Bagaimana tidak? Wajah Chanyeol terus saja berputar-putar diotakku setelah Tao mengungkapkan ini.
"Entahlah. Mungkin memang kita harus mencari cara lain untuk menjelaskan pada Baekhyun. Aku tau Baekhyun melakukan ini karena dia salah paham. Bukan semua kesalahan Baekhyun. Hanya saja caranya yang salah dengan mengikiutsertakan Jongin dimasalah ini" Tao mencoba menenangkanku. Aku mengangguk mengerti. Huft...mungkin benar kata Tao. Ini hanyalah kesalah pahaman.
.
.
.
"Hai Jongin" aku menyapa Jongin yang sedang berjalan santai dikoridor kampus. Kupasang senyum ceriaku. Kuikuti langkahnya dengan riang. Bagaimanapun juga aku tetap merindukan Jongin-ku yang dulu. Yang selalu menggodaku. Untuk itu sekarang aku berusaha agar Jongin kembali kepadaku. Ah,atau lebih tepatnya kembali pada persahabatan manis kami.
"Jongin. Apa kau sudah sarapan?" tanyaku sambil terus berusaha menyamakan langkahku dengan langkah Jongin. Kalian ingatkan ukuran tubuhku yang sedikit mungil membuatku sedikit sulit menyamakan langkah Jongin yang lebar-lebar.
Tidak ada jawaban.
"Jongin" aku menarik tangannya agar Jongin mau berhenti. Tapi dia malah menepis tanganku. Oh, baiklah. Mungkin harus dengan cara lain.
"Jongin!" aku berteriak disebelah telinga Jongin. Dan benar saja,Jongin langsung menoleh padaku. Aku tersenyum melihat Jongin mau mendengarkanku. Tapi itu hanya kesenangan sesaat. Karena setelahnya Jongin memberiku tatapan yang menusuk.
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?"
"Apa itu perlu?"
Rasanya waktu berhenti bergerak. Apa yang dilakukan Jongin? Kenapa pertanyaan itu muncul dari bibirnya? Apa dia benar-benar tidak menganggapku teman lagi? Tidak pentingkah aku dihatinya lagi?
"Jongin kau masih marah? Mianhae" aku menundukkan kepalaku. Jongin masih belum menjawab pertanyaanku.
"Apa kau masih belum memaafkanku dan Tao?" aku mencoba menatap mata tajamnya. Ada rasa takut saat Jongin menatapku seperti itu.
"Apa kau sedang mengemis maaf sekarang?" tanyanya sinis masih dengan mata tajam dan nada dinginnya.
"A-apa?" aku tergagap. Bagaimana bisa Jongin berfikir seperti itu?
"Aku tidak menyangka, selama ini aku berteman dengan seorang pembunuh!"
Deg
Bagaikan ditusuk seribu pisau bermata dua. Jantungku rasanya ingin lepas dari tempatnya. Apa yang barusaja dia katakan? Aku pembunuh?
"A-apa maksud-mu Jongin?" aku menatap Jongin tidak percaya.
"Apa aku harus mengatakannya disini?" Jongin semakin menampakkan tatapannya yang mengerikan. Rasanya hatiku berukuran kecil sekarang. Dan dengan teganya Jongin mengiris hati kecilku dengan pisau setajam itu. Oh bukan, ini bukan lagi pisau, tapi ini kapak!
"Jongin, kau bicara apa? Aku bukan pembunuh" sungguh, kenapa air mata ini tiba-tiba saja mengalir? Kenapa aku harus menunjukkan sisi lemahku pada Jongin disaat seperti ini?
"Benarkah? Aku rasa kau bukan temanku. Bahkan kau merahasiakan hal yang begitu besar kepadaku" Jongin menampakkan seringaian diwajahnya. Dan itu membuatku benar-benar merasa takut. Apa Jongin tau tentang masalaluku?
"Jongin, aku bisa menjelaskannya. Tapi bukan disini" kepalaku menoleh kekanan dan kekiri memastikan bahwa lorong ini masih sepi.
"Kenapa? Kau takut ketahuan bahwa kau adalah seorang pembunuh?!"
Hancur sudah pertahananku. Tembok tak kasat mata yang sudah aku bangun sedemikian kokohnya untuk menahan air mataku telah dirusak oleh kalimat Jongin. Setitik lelehan hangat ini menghiasi pipiku
"Kenapa kau diam? Apa itu benar? Kau seorang pembunuh?!" tanyanya dingin namun begitu menohok hatiku.
"Kau selalu menganggapku sahabatmu dari kecil, tapi kenapa hal sebesar ini aku bisa tidak tahu, eoh?!" Jongin menekan setiap ucapannya. Membuatku bergetar dengan setiap ucapannya. Aku takut sekarang. Takut Jongin akan semakin membenciku. Bahkan Jongin mengesampingkan perasaanku padanya. Sungguh, sakit.
"JONGIN!" Tiba-tiba Tao datang menghampiriku dan Jongin. Tao bergegas melangkahkan kaki jenjangnya untuk berdiri didepanku. Melindungiku dari tatapan Jongin yang begitu menusuk.
"Oh,pahlawan datang tepat waktu!"
"Apa yang kau lakukan pada Kyungsoo, brengsek!" dapat kulihat tangan Tao mencengkeram kuat kerah kemeja Jongin. dengan santainya Jongin melepas cengkeraman Tao dengan seringaian dibibirnya. Sungguh, ini benar-benar bukan Jongin.
"Aku rasa kau juga sudah tau kalau Kyungsoo itu adalah seorang PEMBUNUH!" Jongin mengucapkannya dengan penuh penekanan. Bahkan sekarang Jongin meninggikan volume suaranya. Ini adalah kali pertama aku mendengar Jongin mengeluarkan nada marah seperti ini. Apalagi nada marah ini ditujukan padaku dan Tao, sahabatnya sendiri.
Kakiku lemas seketika. Pertahananku sekarang benar-benar hancur. Bagaimana bisa Jongin berkata seperti itu padaku?
"BRENGSEK!"
Bukk!
Tao memukul Jongin tepat dipipi kanannya. Membuatnya limbung dan tersungkur ketanah. Dapat kulihat ada setitik darah keluar dari sudut bibirnya. Mata bulatku semakin membesar saat aku melihat Jongin seperti itu. Ingin sekali aku menolong Jongin sekarang. Tapi tubuhku terlalu kaku untuk sekedar digerakkan.
"JONGIN!" Baekhyun datang tepat waktu. Baekhyun segera menolong Jongin dan membantunya berdiri. Untuk kali ini aku berterimakasih padanya karena dia menyelamatkan Jongin dari amukan Tao. Bagaimanapun juga Tao adalah atlet Wushu, dan kemampuannya tidak boleh dipandang remeh. Sekali pukul aku bisa jamin orang pasti akan langsung pingsan dibuatnya.
Aku memegang lengan Tao untuk menghentikan aksinya yang akan memukul Jongin lagi. Dengan sekuat tenaga aku menarik Tao agar tidak terlalu dekat dengan Jongin. Aku dapat merasakan nafas Tao yang terengah-engah menahan amarahnya. Mata Pandanya yang biasanya menatap lucu sekarang berubah begitu mengerikan.
"Ada apa dengan kalian, eoh?! Ini dikampus dan bukan arena bertanding!" Baekhyun berteriak memarahi aku dan Tao. Yah,untuk kali ini dia memang benar. Tidak seharusnya namja dewasa seperti kami berkelahi dikampus. Kalau sekarang kampus sedang ramai, aku berani bersumpah pasti akan banyak orang yang menonton kami dengan teriakan riuh.
"Ayo Jongin, kita pergi dari sini. Kita harus mengobati lukamu" Baekhyun mulai mengajak Jongin pergi dengan memapahnya. Belum jauh mereka meninggalkan aku dan Tao, aku melihat Baekhyun berbalik menatapku. Menunjukkan seringaian diwajahnya. Apa itu maksudnya? Ada apa dengan tatapan itu.
TBC
Masih tetep ditunggu review-nya loh readernim. Untuk sekedar penyemangat aja ^^
Gomawooo...
7 Januari 2016
