Jam pelajaran ke dua. Sains.

Akashi kembali ke tempat duduknya, setelah mendapat dukungan (?) dari 2 sobatnya, Momoi dan Kuroko. Ia sudah memutuskan akan berjuang demi mendapatkan sekilas saja lirikan dari senior idamannya.

Ia menoleh ke arah jam dinding dengan waswas. Jemari lentiknya menghitung mundur.

5… 4… 3… 2… 1…

Sampai akhirnya bel tanda masuk pun berbunyi.

Mission Start.


DokiDoki-Exam Time!

.

A Kuroko no Basuke fanfiction

.

Disclaimer:

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Story © kiyoha

.

Pair:

Nijimura Shuuzou x Akashi Seijuurou

.

Warning (s):

Author mabok UAS, diksi merdeka, penggantian gaya penulisan mulai chap ini dan kedepannya, maybe (so) OOC? Humor gagal! Teiko!Akashi version, Nijimura belum kenal Akashi, desain kelas seperti desain kelas Indonesia (berdua-dua), fangirling fuwafuwa, berdasarkan pengalaman beberapa orang. DLDR!


Nijimura kembali dari luar ruangan, duduk lagi di kursinya untuk mengerjakan soal. Mungkin dia habis dari kantin? Bekas nasi goreng di pipinya mengatakan begitu.

Tangannya sibuk merogoh-rogoh tempat pensilnya (yang juga berwarna pelangi), mencari-cari sesuatu. Tidak ketemu, ia mulai melihat ke kolong meja, bahkan sampai (ehm) di bawah kursi kouhainya.

"Sial! Dimana, sih…?"

Akashi, coretkouhaiyangpengendinotiscoret memandangnya bingung. "Ada-apa, Nijimura-san?"

"Ah, maaf, Akashi." Nijimura menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sepertinya aku kehilangan rautan pensilku… Bukan masalah besar, kok."

"Oh, kalau begitu…" Akashi mengeluarkan sesuatu dari tas –bermerek- nya. Rautan super canggih yang memakai listrik. Entah di mana ia beli dan berapa harganya. Yang pasti nggak selevel dengan rautan Nijimura yang baru sehari dibeli langsung cabut dari kandang (baca: tempat pensil) nya.

"Pakai saja milikku, Nijimura-san,"

"Duh, maaf ya jadi merepotkanmu,"

"Ah, tidak kok… Kebetulan aku ada, jadi…" Akashi mengeluarkan gaya salting Mk.2 nya, yaitu memainkan kedua jari telunjuk, persis seperti istri hokage di fandom sebelah.

APA SIH YANG NGGAK BUATMU, SENPAI

"Thanks, ya," Sang senpai tersenyum ke arah kouhainya. Padahal senyumnya biasa-biasa saja, tapi bagi Akashi, senyum Nijimura sangat indah menyilaukan bagai pelangi setelah badai. Cieilah.

Lelaki berambut merah itu membalas senyum seniornya dengan manis, dan beberapa detik kemudian (saat Nijimura tak melihat) langsung berubah menjadi seringai lebar.

2nd Mission Completed.

.

Orb rubynya membaca satu per satu soal dengan seksama. Tidak ada yang begitu menyusahkannya. Masih level normal untuk anak SMP.

"Alga merah, hmm… Protista,"

"Kertas lakmus merah akan menjadi biru jika terkena lautan basa, jawabannya benar…"

Baru 30 menit berlalu dari bel dimulainya ujian, dan dia sudah sampai soal ke 30 tanpa di longkap-longkap sekalipun. Dengan otaknya memang mengerjakan soal seperti ini semudah membalikkan telapak tangan. Ia melirik senior di sebelahnya, Nijimura juga mengerjakannya dengan lancar tanpa beban.

Mendadak ide iseng lewat di kepalanya. Mumpung masih ada beberapa soal fisika yang belum ia jawab, ia memutuskan untuk…

"Nijimura-san… Ini caranya bagaimana, ya?"

Senior tersayangnya itu menghentikan kegiatan menghitamkan jawaban, lalu menoleh. "Yang mana?"

"Yang ini, hehehe~ Aku lupa bagaimana caranya," tawa Akashi (sok) polos. Padahal dia sudah mendapatkan jawabannya dari tadi. Tapi mendapatkan perhatian senpai? Belum.

Bukannya membantu, Nijimura malah terkagum-kagum. "Hee… No. 1 se-angkatan juga bisa lupa, ya…? Hebat,"

Sang kouhai nyengir galau. Senpai tersayangnya malah berpikir begitu. "Tentu saja bisa, aku kan juga manusia…"

"Hee…"

"Jadi? Bagaimana?"

"Kalau soal yang ini, ingat saja rumus kalor, massa dan suhu. Di sini kau pakai kalor uap…"

"Hmm… Begitu, ya?"

Akashi memperhatikan penjelasan Nijimura dengan seksama. Setiap kata yang diucapkan, ia goreskan dalam pikirannya agar tak lupa. Memang sih, dia sudah mengerti semuanya, tapi…

Demi dapat perhatian senpai, -sekali lagi saya ingatkan- apa sih yang nggak? Walau Nijimura mau menjelaskan panjang lebar sampai bel pulang berbunyi nanti, Akashi juga tidak akan keberatan. Walau lembar kerjanya baru terisi setengah dan ia harus mengumpulkannya, ia tidak peduli.

…Cinta memang buta.

Buta sama nilai juga, maksudnya.


Bel tanda pulang berbunyi.

Murid-murid segera mengumpulkan lembar jawaban mereka ke meja pengawas. Memang, Teiko termasuk sekolah yang murid-muridnya disiplin, menaati nasihat guru dan rajin menabung, makanya saat bel berbunyi, tak ada lagi yang namanya '5 menit lagi bu plis!', 'satu soal lagi bu! Tanggung!' atau teriak-teriakan bertanya jawaban ke teman (atau biasa disebut crossing). Kecuali satu anak berambut kelabu yang tampangnya slengean di barisan belakang.

Tapi rasanya ia tak ingin pulang. Pahanya serasa di lem ke kursi, sulit sekali untuk bangun dari duduk.

Gak mau. Gak mau pisah sama senpai.

(Oh Akashi, demi apapun lebay sekali dirimu. Toh besok masih sebelahan juga kok.)

.

Nijimura mengangkat tasnya di bahu, lalu bangkit dari kursi. Bersiap untuk pulang dan mempersiapkan diri untuk ujian besok.

"Akashi, ayo pulang. Sudah bel,"

Melihat kouhainya diam saja, ia menepuk bahunya.

"Oi, Akashi, nggak pulang?"

"He?" Akashi cengo, Nijimura sweatdrop.

"Ah, ehe, aku bingung dengan pelajaran matematika besok, jadi melamun…Soalnya banyak yang belum kumengerti, sih…" ia memiringkan kepalanya, memasang ekspresi (?) tehe yang kelihatan sok manis.

Demi Dewi Fortuna, tumben-tumbennya Akashi dapat alasan bagus. Padahal tinggal bilang saja lagi mikirin senpai.

"Hmm…"

Tokoh utama kita kali ini –Akashi- manggut-manggut, mencoba meyakinkan seniornya. "Nijimura-san, pulang saja duluan… Kalau udah kesorean juga Akashi bisa panggil taksi, kok…"

Sekaya itukah, eh?

.

Aha!

Nijimura memasang pose eureka.

"Gini aja deh. Sini, kemarikan tanganmu." Ucapnya seraya menarik tangan kanan kouhainya, yang -tak diragukan lagi- sekarang hatinya pasti dipenuhi bunga bermekaran.

"Anu…Apa, Nijimura-san?"

Kret Kret

Nijimura Shuuzou. 08XXXXXXXXXX

...

"Eh, ini kan…?"

"Ya. Nomor handphoneku. Kalau ada yang mau ditanyakan, calling-calling saja. Oh ya, aku juga punya Whatsup, kalau kau nggak ada pulsa. Mumpung ada senior tempatmu bergantung, nih."

'Eh?! Eh?!'

"Begini begini, aku lumayan mahir dalam matematika, lho!" ujar Nijimura bangga. Akashi melongo.

Kayaknya ada panah cinta nyasar yang mengenai hati Akashi Seijuurou.

"Nah, sudah. Pulang, gih. Nanti dicariin sama orang tua." Senpai kece itu menepuk lembut kepala kouhainya dengan buku cetak Bahasa Jepang.

"Hati-hati di jalan."

.

Akashi melongo tingkat 2.

.

"I-iya, Nijimura-san…"

Pasti Momoi memberinya guna-guna sampai bisa pedekate sedekat ini. Dapat nomor ponselnya pula.

Hatinya terbang ke angkasa dan tak turun-turun lagi.


"Oi, Akashi~" Aomine, ace dari tim Teiko menghampirinya dengan wajah penuh cahaya kebahagiaan. "Aku berhasil dalam sains, lho! Ternyata ucapanmu benar juga. Mungkin kau sebaiknya tampil di TV menggantikan acara ramalan dodol favorit Midori… Eh, Akashi?"

.

Akashi melongo tingkat 3.

.

Ace team itu melambai-lambaikan tangannya di depan iris ruby Akashi. Bahkan dia juga membuat bentuk tangan 'kuncup' yang legendaris dalam mengalihkan perhatian orang.

.

Percuma, Akashi melongo stadium akhir.

.

Tapi sepertinya mbakdewi Fortuna masih sayang pada Akashi Seijuurou dan tak ingin dia terus melongo sampai meronda di SMP Teiko, maka saat ia terkena penyakit melongo kritis tersebut, sebuah (?) makhluk hijau kuning ungu (bayangkan saja seperti Leletubbies) mendatanginya dan membantu Aomine menyeretnya pulang. Tidak elit, memang. Lebih baik mereka minta bantuan tukang taksi.

Akhirnya sih, dia bisa sadar juga.


"Ada apaan sih, dia? Dari tadi aneh banget…" Aomine berbisik sangat pelan, berharap raja gunting merah tidak mendengarnya. Midorima hanya mengangguk setuju sambil terus memeluk botol Kisproynya. (A/N: Ini lucky item yang sering ia bawa di official art Teiko, percayalah /gapenting)

Namun bisikan selembut sutra itu terlanjur merambat ke telinga 2 manusia yang secara tidak langsung menyuruh Akashi pedekate tadi—Kuroko dan Momoi. Antek-antek iblis yang berwajah malaikat.

.

"Nee~ Akashi-kun." Suara sopran gadis manis itu memecahkan lamunan Akashi. Ia pun langsung berubah menjadi reisei mode, cool and spicy.

"Ada apa, Momoi?"

"Ehm…" gadis itu tersenyum-senyum. Ada maksud dibaliknya, pasti.

"Akashi-kun bengong melulu, kenapa sih?"

"Oh, iya. Daritadi aku juga mau tanya begitu-ssu. Akashicchi kenapa-ssu?" Kise menimpali.

Mode cool and spicy Akashi retak seketika. Pipinya memerah bak apel yang ranum.

"Nggak apa-apa."

"Ah, Akashicchi mainnya rahasia-rahasiaan nih-ssu…"

Didorong rasa penasaran, Kuroko merebut ponsel Akashi dengan kekuatan misdirection yang secepat cahaya atau lari seorang atlet bernomor punggung 21 dari animu sebelah. Buru-buru ia membuka screen lock, yang passwordnya entah dia tahu dari mana. 94949944.

.

Dan yang terpampang di layar ponsel itu….

Contact saved. Nijimura-senpai.

.

"Ooh…" Kuroko hanya ber-oh ria.

"Ada apa, Tetsu-kun?" Momoi ikut nimbrung, penasaran dengan ponsel Akashi. "Ooh, ini yang membuat Akashi-kun bengong dari tadi…" Ia cengar cengir, hasrat fujoshinya bangkit lagi.

"Tunggu! Hei, Kuroko! Seenaknya saja kau—"

"Apaan, sih? Lihat dong, Sacchin." Murasakibara (dan tubuh Titannya) tanpa rasa berdosa (dan tidak sengaja) mendorong tubuh mungil Akashi yang berusaha mengambil balik apa yang menjadi miliknya. Murasakibara sih enak-enak saja, dia tinggi jadi ponsel Akashi terlihat jelas dari atas.

"Pantas Akashi-kun melamun, ternyata gara-gara dapat nomor senpai," Momoi dan jiwa fangirlingnya menggoda sang surai merah. Yang digoda hanya membuang muka, malu.

"Berisik, Momoi."

.

"Memangnya siapa sih senior Nijimura ini-nodayo?"

"Betul, ssu. Memangnya siapa sih senior Nijimura ini?"

"Jangan mengopi pertanyaanku, Kise! Mentang-mentang kau punya perfect copy jadi begitu-nodayo?!"

Apa, sih, Midorimacchi! Aku memang ingin bertanya itu dari awal!"

Oke, sekarang hijau dan kuning memperibut suasana. Kenapa biru tidak ikutan, ya? Apa karena mendengar petuah Super Akashi golden ways tadi pagi jadi dia diam seribu bahasa?

Momoi, masih dengan jiwa fujonya, menjawab pertanyaan duo hijau-kuning itu. "Gini nih, ya! Nijimura itu senpai yang Akashi-kun su-mmph nggh?!"

Merasakan aura yang hitam-hitam merambat dari punggung Akashi, Kuroko dengan sigap membungkam gadis manis berambut pink itu. Great job, Kuroko.

"Itu. Dia senior yang Akashi-kun kagumi dan hormati. Really charismatic."

Bahkan ia bisa menyambung kalimat Momoi dengan baik dan tidak terdengar melenceng dari fakta sebenarnya. Patut sekali ia diberi apresiasi. Tapi hanya ditanggapi 'oh' oleh teman-teman kuninghijaudilangityangbirudenganlimbahasapungunya. Kuroko sebal.

Akashi menghela nafas lega. Mungkin ia akan mentraktir Kuroko segelas-dua gelas vanilla milkshake di Majiba nanti.

"Jadi intinya, Akachin bengong karena senang dapat nomor senpai?" Tanya Murasakibara malas-malasan. Tangan besarnya membuka bungkusan gari-gari bou dan langsung dilahapnya sampai habis.

"Benar begitu, Murasakibara. Aku hanya sedikit terlalu senang karena mendapat nomor ponselnya. Dan dia bilang akan mengajariku matematika, walau sesungguhnya aku sudah lancar. Tapi kau pasti mengerti, kan? Rasanya mendapat nomor ponsel dari seseorang yang kau kagumi. Ibaratnya seperti di film-film. Biasanya tokoh utama akan senang mendapat sesuatu dari orang yang benar-benar ia kagumi, dan—"

"Akashi-kun." Dengan watados (atau pokerface?) Kuroko memotong penjelasan panjang Akashi. Nggak takut dirajam gunting kayaknya. Ini orang benar-benar harus diberi penghargaan, setidaknya Kalpataru lah.

"Hm? Kenapa, Kuroko?"

"Kamseupay."

"…"

Wahai dik Kuroko Tetsuya yang manis dan lucu seperti bayi panda, ini guntingku tajam sekali lho, mau kenalan nggak?


Akashi menggelar alas duduk dan segera bersimpuh manis di dekat coffee table yang sengaja ia siapkan untuk belajar.

Buku cetak matematika dan alat-alat tulisnya tersusun rapi di atas coffee table, bersebelahan dengan ponselnya.

Tangan kecilnya ragu-ragu untuk menekan tombol 'panggil' yang ada di kanan tengah layar ponselnya. Telpon, nggak. Telpon, nggak.

Kalau ada yang mau ditanyakan, calling-calling saja.

"Nijimura-san…" gumamnya pada diri sendiri. Akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk mencalling-calling senpai tersayang. Takut merepotkan. Nijimura juga pasti sedang belajar jam segini.

Tapi ia senang.

Hari ini berjalan dengan menyenangkan dan strategi pedekatenya sukses. Sampai dikasih nomor telepon pula. Kurang beruntung apa dia.

Akashi merebahkan badannya yang lelah di atas ranjang empuknya. Orb rubynya terpejam, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi esok hari.

Besok juga, akan seperti apa, ya?

.

.

TBC


A/N: Konchi minna dan SALAM UAS! Dari Kiyoha *gigitbukusejarah*

Yak, kali ini Kiyoha lanjutin lagi, dengan gaya bahasa yang agak diubah buat nyesuain genrenya UwU, gimana? Yah, Akashi di sini benar-benar kayak heroine Shoujo Manga, Nijimura-senpie juga sosok senpai yang patut disebut senpai (?) so gentle~ dan nulisnya menyenangkan sekali xD Lumayan buat hiburan di sela-sela UAS~

By the way anyway busway makasih banyak buat yang udah repot-repot review dan nuangin ide-idenya, masukannya benar-benar berguna buat Kiyoha. Hontou ni arigatou gozaimasu!

Oh ya sekalian curcol /plak/ sebenarnya di sekolah Kiyoha juga di acak, dan Kiyoha dapat temen sebangku anak kelas 12… *sweat,sweat* plus cowok. Tapi asyiknya nih, senpai di sebelah Kiyoha bisa dijadiin model buat ff, soalnya ya model-model niji gitu xD /apasih

Yak, cukup segitu curcolnya. Mari balas review-review reader manisku semuanya:

.

BlueBubbleBoom

Wah, sarannya boleh banget tuh, Blue-san, bikin Akashi makin kege-eran dan cenatcenut xD /dirajamgunting/ saran buat modusnya juga bisa. Makasih banyak sarannya ya~ ^^

.

Nate Mello Jeevas

Eh~ tadinya author juga maunya bikin oneshot, tapi karena kebiasaan author nulis berchapter-chapter jadinya begini~ Tapi syukurlah bisa jadi hiburan ^^

.

aya komichi 9

Iya kan Akashi memang kyun~ xD /flok/

Oke, akan terus lanjut…

.

Cocoamilo

Hanya fic random bertemakan uas, kok xD hee, jadi senpai? Enak dong? Kiyoha aja kouhai tahun pertama…/ming

Soal saran yang ditegur guru, itu oke banget, dan mungkin bisa dipakai. Makasih banyak sarannya, cocoamilo-san! ^^

Btw iya kan Akashi lebih pinter dari Niji…wkwkwk *digetokpanci*

.

Madeh18

Fb? Waduh pengalaman nih kayaknya xD

Bisa juga ya lewat sosmed, toh Akashi juga hpnya pasti udah sekeren aipon (?) jadi bisa lewat-lewat sosmed~ Oke nanti dicoba! Makasih banyak sarannya X3

.

Yu-chan (YuraHira)

Akh jadi nostalgia ya x''D tapi syukurlah Yu-chan suka.

Hou, jadi di sini Nijimuranya gentian jadi yang salting gegara Akashi, ya? xD bisa tuh, Kiyoha akan pakai~ Makasih banyak ya sarannya :33

Lirikan mataamuu menaaariikk hatiii~ /apa

.

Kurohime

Oke, ini di update~ x3

.

Kisa Kitakore

(Akashi: ganbarou)

Berdoalah supaya Akashi-sama dinotis, ya? xD /ditajong

.

Lastly,

Mind to RnR? Atau saran? :3 Gladly accepted~

kiyoha