Adore You

.

.

Soongyu

.

YAOI

.

Chapter 2: Mixed up feelings~

.

.

"Mingyu-ah"

Mingyu mengabaikan panggilan itu dan terus melanjutkan tidur siangnya, ah tidak, tidur sore lebih tepatnya. Karena jam sudah menunjukkan pukul enam petang.

"Mingyu!"

Kali ini disertai gedoran di pintu kamarnya yang sengaja ia kunci. Mingyu menutup telinganya menggunakan bantal kepalanya. Dia hanya ingin tidur saat ini.

"Jika masih tidak bangun akan umma siram pakai air panas. Umma serius!"

Mingyu langsung bangkit berdiri sambil merutuki ummanya. Dia berjalan ke arah pintu dan membukanya. Terlihat namja manis dengan wajah ditekuk. Mungkin karena dia sudah lelah membangunkan anaknya yang sangat susah dibangunkan ini.

"Biarkan aku tidur umma"

"Kau sudah tidur dari siang. Pemalas sekali"

"Hanya di hari Sabtu seperti ini aku dapat bersantai dan umma mengganggu saja"

"Mwo? Dasar anak kurang ajar!"

Jaejoong menjewer telinga Mingyu dengan lumayan keras. Membuat namja tinggi itu mengaduh kesakitan.

"Sekarang cepat mandi dan jemput Soonyoung dari tempatnya mengajar dance"

"Mwo? Kenapa aku?"

"Karena kau calon suaminya"

"Aish! Merepotkan saja! Apa dia tidak bisa pulang sendiri?"

Jaejoong memukul kepala Mingyu dengan kesal.

"Dia bahkan tidak tahu kalau dia disuruh kesini. Cepat jemput dia dan katakan umma mengundangnya makan malam disini!"

"Hm"

"Jawab yang jelas"

"Ne"

Jaejoong mendengus kesal lalu keluar dari kamar anaknya sambil menggerutu tentang dosa apa yang telah diperbuatnya dulu hingga mendapatkan anak seperti Mingyu.

Mingyu hanya memutar bola matanya kesal. Harusnya dia yang bertanya kenapa bisa lahir dari umma seperti itu. Kakinya melangkah dengan berat menuju kamar mandi.

.

Hanya dalam waktu tiga puluh menit Mingyu sudah berada di depan gedung tempat Soonyoung mengajar. Ini rekor mandi tercepatnya. Biasanya dia baru akan keluar setelah tiga puluh menit di kamar mandi, belum lagi mengenakan baju dan mengemudi kesini. Ini semua gara-gara umma nya yang berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi memaksanya untuk mandi lebih cepat karena takut Soonyoung pulang duluan.

Mingyu menunggu di dalam mobil selama sepuluh menit kemudian memutuskan untuk masuk menyusul Soonyoung di dalam. Siapa tahu ternyata Soonyoung sudah pulang dari tadi dan akan sia-sia saja dia menunggu.

Kakinya melangkah menyusuri tiap ruangan kelas yang kebanyakan sudah ditutup. Dirinya berpas-pasan dengan seorang namja berkulit sedikit lebih gelap darinya, dan lebih pendek. Dia memutuskan untuk bertanya kepada namja itu.

"Um, permisi. Apa kau mengenal Soonyoung?"

"Soonyoung? Ne aku mengenalnya"

"Dimana dia sekarang?"

"Umm kau siapa?"

"Aku Mingyu"

"Mingyu?" namja itu terlihat berfikir sebentar namun sedetik kemudian dia membelalakkan matanya dengan mulut terbuka. "Kim Mingyu?"

"Ne, bagaimana kau bisa tahu?"

"Tentu saja dari Soonyoung! Dia bercerita bahwa dirinya dijodohkan. Ah maaf, dimana sopan santunku. Namaku Kim Jongin, salah satu guru tari juga disini"

"O-oh bangapta. Lalu dimana dia?"

"Dia masih mengajar di kelas yang terletak di ujung sana" jawabnya sambil menunjuk salah satu kelas yang terletak di ujung koridor. Terlihat lampu yang masih menyala dari balik kaca yang terdapat di pintu yang tertutup itu.

"Baiklah"

"Lebih baik masuk saja ke dalam. Ada kursi untuk orang tua yang biasanya menunggu anaknya"

Mingyu mengangguk pelan.

"Aku duluan ya, sudah dijemput" kata Jongin lagi sambil menunjuk ke arah namja yang sedang berdiri di pintu masuk yang dilewati Mingyu tadi. Namja itu berkulit sangat pucat dan bertubuh tinggi. Seperti vampir, pikir Mingyu dalam hati.

Jongin meninggalkannya di koridor itu. Mingyu ragu, apakah ia harus menunggu Soonyoung di dalam atau di luar saja. Tetapi dia menjadi sedikit penasaran. Dia memutuskan untuk menunggu di dalam saja.

Kakinya melangkah menuju pintu itu dan tangannya memegang pegangan pintu. Dia mengayunkan tangannya pelan untuk membuka pintu itu sedikit. Terdengar suara musik hip-hop menyerbu pendengarannya.

Mingyu masuk dan berjalan menuju kursi yang di bilang Jongin tadi. Bukan kursi, lebih tepatnya sofa. Sofa yang lumayan besar dan cukup nyaman untuk ditempati.

Mingyu memperhatikan orang-orang yang ada di dalam. Dia masih belum menemukan Soonyoung disana. Ada sekitar sepuluh orang berusia remaja. Mata Mingyu sibuk mencari Soonyoung di antara orang-orang yang bergerak kesana sini mengikuti musik.

Hingga matanya berhenti pada satu titik yang berada di paling depan. Soonyoung. Dengan gerakan yang luwes dia mengikuti lagu itu, diikuti oleh murid-murid yang berada di belakangnya. Tidak satupun dari mereka yang menyadari kedatangan Mingyu.

Mingyu masih asyik mengamati Soonyoung yang bergerak mengikuti musik. Sepertinya dia mulai terhanyut dalam gerakan namja itu. Gerakan tubuhnya terlihat indah dan bagus. Berbeda sekali dengan Mingyu yang tidak bisa menggerakkan pinggangnya untuk menari sama sekali.

Namja pucat itu terlihat begitu...flawless. Seolah tubuhnya memang diciptakan untuk bergerak dalam lambaian yang indah walaupun musik yang terdengar adalah musik hip-hop.

Mingyu masih hanyut dalam pikirannya hingga tidak sadar bahwa musik telah berhenti dan kelas sudah dibubarkan. Ketika Soonyoung sudah berada di depannya baru ia tersadar.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Soonyoung sambil meneguk sebotol air.

Keringat memenuhi wajahnya, air yang diminumnya juga sedikit tumpah melalui sela bibirnya bergerak menuruni lehernya dan menyusup ke dalam kaos yang sudah terlihat sangat basah. Mingyu yang memperhatikan itu hanya bisa terpaku.

"Mingyu?" panggil Soonyoung lagi. Kali ini dengan tangan yang dilambai-lambaikan ke wajah Mingyu.

Mingyu tersadar, "ah ne?"

"Aku bertanya. Apa yang kau lakukan disini?"

Soonyoung mengelap keringatnya dengan sebuah handuk kecil. Wajahnya masih terlihat sedikit memerah dengan nafas yang sedikit terputus.

"Umma menyuruhku menjemputmu untuk makan malam di rumah"

"Ah sekarang?"

"Ne"

"Tapi aku baru saja siap mengajar"

"Apa kau lelah?"

"Bukan itu. Aku bau" kata Soonyoung dengan semburat merah di pipinya.

"Apa kau punya baju ganti?"

"Ya, aku bawa. Apa tidak apa menunggu sebentar? Aku ingin mandi dulu"

"Lalu aku harus mengantarmu dulu ke rumahmu?"

"Tidak. Disini ada kamar mandi"

"Oh, baiklah"

"Tunggu sebentar ya"

Mingyu mengangguk, lalu berjalan keluar ruangan itu.

Mereka berpisah di koridor, Mingyu mengatakan akan menunggu di mobil saja, dan Soonyoung meneruskan jalan ke kamar mandi khusus untuk para pelatih dance disana.

.

Sepertinya Mingyu menunggu hampir setengah jam. Dia hampir tertidur di mobil ketika tiba-tiba kaca mobilnya diketuk oleh Soonyoung yang terlihat fresh sehabis mandi.

Mingyu membuka pintu penumpang dan Soonyoung langsung masuk ke dalamnya. Aroma mint segar tercium dari tubuhnya memenuhi mobil. Mingyu menatapnya sekilas sebelum menghidupkan mobil dan meluncur menuju rumahnya.

.

.

"Soonyoungie, selamat datang" sambut Jaejoong ketika mereka melangkahkan kakinya masuk ke rumah.

"Maaf jika kami terlambat" kata Soonyoung.

"Tidak apa, Mingyu sudah memberitahu tadi. Ayo duduk, kau pasti lapar"

"Ah ne ahjumma"

"Panggil umma saja. Umma Kim juga tidak apa"

"Ne u-umma"

Mereka berjalan ke ruang makan dimana Yunho sudah duduk manis di salah satu kursi. Jaejoong mengambil tempat di samping Yunho. Mingyu mengambil tempat di depan appanya dan Soonyoung di sebelah Mingyu.

"Makan yang banyak ne Soonyoungie~"

"Ne umma"

Mereka bersantap dalam tenang. Sesekali Jaejoong akan berceloteh ria yang hanya ditanggapi oleh Yunho. Mingyu diam seperti biasanya dan Soonyoung makan dengan salah tingkah. Ini pertama kalinya dia ke rumah Mingyu dan kedua kalinya bertemu orang tua Mingyu.

Sedikit banyak ada perasaan canggung mengingat dia tidak mengenal mereka sebelumnya dan tiba-tiba akan menjadi anggota keluarga ini dalam waktu kurang dari dua minggu.

"Soonyoung-ah, umurmu berapa tahun sekarang?" tanya Jaejoong.

"23 tahun"

"Ah, hanya berbeda dua tahun dari Mingyu kalau begitu"

"Benarkah? Kupikir kami seumuran" kata Soonyoung sambil memandang Mingyu. "Apa aku harus memanggilmu hyung?" tanyanya sambil memiringkan kepalanya.

"Aih imutnya" kata Jaejoong sambil mencubit pipi Soonyoung pelan.

"Terserah kau saja" kata Mingyu acuh.

"Kau ini!" delik umma nya ke arah Mingyu, sedangkan Mingyu tak peduli dan kembali mengunyah makanannya.

Jaejoong kembali menatap Soonyoung sambil tersenyum. "Tidak usah panggil hyung. Sebentar lagi kalian kan akan menjadi suami-istri, panggil 'yeobo' atau 'chagi' saja bagaimana?" tanyanya sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Soonyoung.

Mingyu tersedak dan terbatuk-batuk hingga wajahnya memerah. Tangannya meraih segelas air lalu meminumnya dengan sekali teguk. "Umma!"

"Waeyo? Kan tidak salah jika kalian saling memanggil sayang seperti itu"

Mingyu mendesah jengah dan memandang Soonyoung yang wajahnya memerah karena digoda seperti itu. "Umma membuatnya malu"

"Omo! Kyeoptaa~ kau imut sekali Soonyoungie~"

Mingyu menutup mukanya malu. Demi apa dia bisa mendapatkan umma yang memalukan seperti ini?

"Boo~" kata Yunho pelan. Mungkin dia juga merasa malu karena istrinya ber-fanboy ria di hadapannya.

"Ah mianhae. Aku terlalu senang hihihi" katanya sambil tertawa imut.

Keempatnya kembali makan. Selesai makan Mingyu masuk ke kamarnya sedangkan Yunho kembali ke ruang kerjanya. Jaejoong dan Soonyoung duduk di ruang keluarga sambil bercerita dengan asyik. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Soonyoung rasa lebih baik jika dia pulang sekarang.

"Umma, aku boleh pulang sekarang?"

"Ah, padahal umma masih ingin bercerita" kata Jaejoong sedih.

"T-tapi ini sudah jam sembilan malam"

"Menginap saja bagaimana?"

"M-menginap?"

Jaejoong mengangguk-ngangguk dengan antusias.

"Tapi aku besok harus mengajar"

"Ah sayang sekali"

"Mian umma"

"Tidak apa. Tunggu sebentar ne. Mingyu-ah!"

Jaejoong berteriak memanggil Mingyu untuk segera keluar dari kamarnya. Tak lama setelah itu Mingyu keluar dengan tampang ditekuk. Sepertinya sedang bad mood.

"Wae?"

"Antarkan Soonyoung pulang"

"Aish, suruh saja supir mengantarnya"

Jaejoong memukul kepala Mingyu. "Dasar anak tidak sopan! Antarkan dia hingga ke depan pintu rumahnya dan beri salam kepada keluarga Kwon"

"Merepotkan saja" gerutu Mingyu pelan. Syukurlah perkataannya itu tidak didengar oleh Jaejoong, tapi Soonyoung bisa mendengarnya.

"Mian" kata Soonyoung pelan.

Mingyu hanya memandangnya sekilas lalu memakai jaketnya dan mengambil kunci mobil.

"Kajja"

"Umma aku pulang dulu ya"

Jaejoong memeluk Soonyoung dan mencium pipinya. "Hati-hati di jalan ne. Tidak usah dimasukkan ke hati, Mingyu memang begitu"

"Ne. Annyeong umma~"

"Annyeong~"

Soonyoung mengikuti Mingyu dari belakang dengan diam. Masih canggung karena Mingyu kelihatan tidak suka padanya.

Keduanya hanya diam saja selama di perjalanan. Hingga mendekati rumah Soonyoung, tiba-tiba ponsel Mingyu berdering. Sepertinya ada pesan masuk.

From: Umma

Umma lupa, beritahu Soonyoung kalau kalian akan fitting baju lusa siang. Jangan sampai lupa ne. Katakan kau yang akan menjemputnya.

Mingyu mendecak kesal. Apalagi ini?

"Umma bilang kita akan fitting baju lusa dan aku disuruh menjemputmu"

"Begitu? Baiklah"

"Dimana aku harus menjemputmu?"

"Lusa ya? Hmm jam berapa?"

"Katanya siang"

"Jemput di TK tempat aku bekerja saja. Aku selesai mengajar sebelum jam makan siang"

"Dimana?"

"Akan kuberitahu alamatnya nanti. Berapa nomormu?"

"Nomor apa?"

Soonyoung memutar kedua bola matanya. "Nomor ponselmu. Bagaimana aku bisa memberitahumu jika aku tidak memiliki nomormu"

"Ah benar"

Mingyu memberikan ponselnya pada Soonyoung. "Ambil sendiri dan masukkan juga nomormu disana"

"Ne"

Soonyoung mengetik nomornya dan menyimpannya. Lalu menghubungi nomornya itu untuk mendapatkan nomor Mingyu. Setelah selesai dia mengembalikan ponsel itu pada Mingyu.

Mobil itu berhenti di depan rumah Soonyoung. Mereka berdua turun dari mobil dan masuk ke dalam pekarangan. Mingyu terpaksa turun karena dia merasa tidak sopan jika langsung pulang. Bisa-bisa dia dibunuh ummanya karena mengantar Soonyoung sampai di depan pagar lalu dia pulang.

Heechul menyambut mereka dengan cengiran khasnya yang lebar.

"Aku pulang"

"Selamat datang. Apa makan malammu menyenangkan Youngie?"

"Ne umma"

"Syukurlah. Ah Mingyu-ah"

"Malam ahjumma"

"Aish, panggil umma saja. Kau akan menjadi menantuku"

"A-ah ne"

"Mau masuk dulu?"

"Tidak usah umma, aku langsung pulang saja"

"Begitu? Sayang sekali"

"Lain kali saja"

"Baiklah. Hati-hati di jalan ya"

"Ne umma"

Mingyu berbalik setelah berpamitan pada Heechul.

"Soonyoung! Kau tidak mengucapkan terima kasih eoh?"

"A-ah ne umma. Mingyu!"

Mingyu berhenti dan berbalik. Soonyoung berjalan mendekatinya.

"Gomawo sudah mengantarku pulang"

"Tidak masalah"

"Hati-hati di jalan ne"

"Hm"

Lalu Mingyu berbalik dan pulang.

.

.

Mingyu menatap tampilannya di cermin dengan wajah kusut. Tuxedo berwarna hitam itu membalut tubuh tingginya dengan indah. Sejujurnya ia terlihat sangat tampan. Hanya saja hatinya tidak menerima jika dia harus memakai ini di pernikahannya dengan Soonyoung.

Harusnya dia memakai ini untuk pernikahannya dengan Wonwoo. Bicara tentang Wonwoo, sudah beberapa hari ini Mingyu tidak mendapatkan kabar darinya. Pesan-pesan Mingyu tak pernah dibalas. Telepon juga tak pernah diangkat. Apa Wonwoo kesal karena Mingyu akan menikah?

Mingyu menghela nafas berat. Kenapa segalanya harus rumit begini?

"Mingyu-ah apa kau belum selesai juga? Perlu umma bantu?" terdengar suara umma nya memanggil dari luar bilik ganti ini.

Saat ini dia, Soonyoung, dan kedua umma mereka sedang berada di salah satu butik ternama milik sahabat Heechul. Mereka sedang fitting baju pengantin.

"Tidak perlu" jawabnya. Dia menghela nafas lagi sebelum memutuskan untuk keluar dari bilik ganti itu.

Bisa dirasakannya tatapan terpesona Jaejoong dan Heechul kepadanya yang baru saja melangkah keluar.

"Omo! Kau tampan sekali Mingyu-ah!"

"Anakmu sangat tampan Joongie!"

"Tentu saja, siapa dulu appa nya" jawab Jaejoong bangga.

Mingyu memutar kedua bola matanya menanggapi pembicaraan kedua namja centil itu. Dia sudah tidak sabar ingin membuka pakaian ini.

Tak lama pintu bilik sebelah terbuka, menampakkan Soonyoung yang terlihat malu-malu keluar dari sana. Tubuh namja itu terbalut tuxedo berwarna putih gading yang terlihat sangat bagus padanya. Kulitnya yang memang pucat itu seakan mendukung warna putih gading itu dan terasa sangat serasi. Soonyoung menjadi berkali lipat lebih manis.

"Omo Soonyoung-ah! Kau manis sekali" pekik Jaejoong senang.

Keduanya mengelilingi Soonyoung dan memutar-mutar tubuhnya depan belakang.

"Anak umma memang yang paling manis" teriak Heechul.

"Aku tampan umma" protes Soonyoung yang tenggelam dibalik pekikan heboh duo umma itu.

Mingyu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat adegan itu dan kembali memperhatikan Soonyoung dari atas hingga bawah. Warna tuxedo itu sedikit lebih gelap dari kulit pucat Soonyoung. Tetapi malah terkesan eksotis dimata Mingyu. Soonyoung terlihat…bersinar. Mingyu tersentak dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Wonwoo lebih cantik..Wonwoo lebih manis..Wonwoo lebih-

"Ahh aku jadi ingin menikahkan kalian sekarang juga!" kata Heechul.

"Kau benar. Aku tak sabar ingin melihat mereka menikah" kata Jaejoong.

"Umma, boleh aku membukanya sekarang?" tanya Soonyoung.

"Ne, aku juga gerah" kata Mingyu.

"Bukalah. Lagipula sepertinya tidak ada yang perlu diperbaiki. Keduanya terlihat pas di badan kalian"

Mereka kembali masuk ke bilik ganti dan mengganti dengan baju yang mereka kenakan sebelumnya.

"Setelah ini umma akan pergi bersama Heechul. Kau pergi bersama Soonyoung ne"

"Benar. Kalian juga belum makan kan? Lebih baik makan dulu lalu antarkan Soonyoung ke tempat mengajar dance nya ya"

"Ne umma"

Kedua namja berbeda tinggi itu mulai berjalan keluar meninggalkan dua umma yang masih asyik berceloteh ria di dalam butik itu.

"Kau mau makan dimana?" Tanya Mingyu. Perutnya sudah berbunyi dari tadi dan dia hanya ingin makan saat ini.

Soonyoung mengangkat kedua bahunya pelan. "Terserah saja. Aku makan apapun selagi itu bukan seafood"

"Kau alergi seafood?"

Soonyoung menggeleng.

"Lalu?"

"Hanya tidak suka rasanya, dan makanan laut itu terlihat menjijikkan"

"Terserah kau saja. Burger dan kentang goreng, bagaimana?"

Soonyoung mengangguk-angguk antusias. Siapa yang bisa menolak makanan penambah lemak yang sangat lezat itu?

"Dan segelas cola, large cup!"

"Kau bisa sakit perut saat mengajar dance nanti bodoh"

Soonyoung mengerucutkan bibirnya tanpa sadar. "Aku tidak bodoh"

Mingyu memutar kedua bola matanya malas. Mereka berjalan menuju mobil dalam diam.

Mingyu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan standar ke salah satu restoran fast food terdekat. Dia memarkirkan mobilnya dan turun tanpa menunggu Soonyoung keluar dari mobil. Soonyoung mendengus kesal.

Dia mengikuti Mingyu dari belakang. Namja tinggi itu sedang berdiri di salah satu counter.

"Dua cheeseburger, dua kentang dan dua cola ukuran sedang"

"Large, colanya ukuran large"

Soonyoung mengoreksi ucapan Mingyu, membuat Mingyu menoleh kepadanya. Soonyoung hanya memberikan cengiran imut yang tidak ditanggapi sama sekali oleh Mingyu.

"Medium saja" katanya kepada yeoja di balik counter yang menatap mereka berdua dengan senyuman khas pelayan namun dengan tatapan bingung.

"Large"

Soonyoung masih bersikeras ingin mendapatkan cola ukuran besar. Mingyu mendelik tajam ke arahnya yang langsung membuatnya menunduk karena sungguh tatapan Mingyu itu menakutkan sekali.

"Medium" kata Mingyu final.

Soonyoung mendengus kesal saat Mingyu membayar makanan mereka dan langsung mencari tempat duduk. Itu artinya dia yang harus membawa semua makanan itu kan?

Dia tersenyum manis kepada waiter itu dan membawa nampan penuh berisi pesanan mereka ke arah meja dimana Mingyu duduk sambil memegang ponselnya.

Mingyu menoleh sejenak namun kembali menatap ponselnya. Soonyoung memutar kedua bola matanya dramatis. Dia memutuskan untuk mulai memakan burgernya. Dan sepertinya dia terlalu asyik makan hingga tak menyadari tatapan yang diberikan Mingyu padanya.

"Ck, apa kau yakin umurmu 23?"

Soonyoung mendongak dari makanannya dan menatap Mingyu dengan alis terangkat.

"Makanmu berantakan sekali, membuatku malu"

Soonyoung merasa wajahnya memanas. Dia menelan sisa kunyahannya dan mengelap bibirnya dengan tisu yang tersedia.

"Makanku baik-baik saja!"

Mingyu menyeringai mengejek menampakkan taringnya yang khas. Dia mulai mengunyah makanannya dengan pelan. Giliran Soonyoung yang menatap Mingyu makan. Berbeda sekali, terlihat lebih berwibawa dan elegan. Soonyoung merengut dalam hatinya. Kenapa dia bisa kelihatan sekeren itu bahkan saat makan?

What? Keren? Aku pasti sudah gila!

Soonyoung menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menepuk pipinya pelan.

"Kau kenapa?"

Soonyoung mendongak dan mendapati Mingyu menatapnya dengan alis terangkat sebelah dan mulut menyeruput cola. Soonyoung yang salah tingkah dengan cepat berkata 'tidak ada apa-apa' dan mengambil kentang goreng lalu mencelupkannya..

...ke dalam cola.

Dan memakannya.

Wajahnya mengernyit lucu merasakan rasa aneh di lidahnya. Lidahnya sedikit terjulur keluar. Tangannya dengan cepat mengambil tisu dan membuang apapun itu yang sedang berada di mulutnya.

Suara kekehan pelan membuatnya tersadar dengan apa yang telah dilakukannya. Mingyu sedang menertawakannya. Soonyoung merengut kesal.

"Yah! Jangan menertawaiku!"

Mingyu tetap saja tertawa dengan satu tangan memegang perut dan tangan lain menutup mulut.

"Yak! Mingyu!"

Soonyoung merasa sangat kesal. Salah siapa coba dia sampai mencelupkan kentangnya ke dalam cola? Salah siapa coba dia bisa salah fokus seperti itu? Tentu saja salah Mingyu dan wajahnya yang tampan itu dan- apa?

Aku pasti sudah gila..

Mingyu menyeka matanya yang mengeluarkan sedikit air mata karena puas tertawa. Dia menatap wajah Soonyoung yang memerah cemberut dan memutuskan bahwa mungkin hidupnya tidak sepenuhnya sial. Dia bisa memulai hobi baru. Seperti mengerjai namja pucat itu misalnya. Kedengarannya akan mengasyikkan. Lihat saja reaksinya yang lucu itu. Pipi gembil memerah yang kelihatannya sangat kenyal untuk di- astaga.

Mingyu menghentikan tawanya ketika pikirannya sudah mulai melenceng. Dia berdehem pelan dan mulai menghabiskan sisa makanannya.

"Kau juga, cepat makan makananmu! Nanti aku bisa terlambat ke kantor"

Kali ini Soonyoung mengerutkan alisnya. Baru saja namja tinggi itu tertawa, yang kali ini diakui Soonyoung memang sangat tampan saat dia tertawa, sedetik kemudian dia sudah bersikap dingin lagi. Soonyoung tidak mengerti. Dia hanya menurut dan menghabiskan makanannya dengan patuh.

.

.

Soonyoung menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan keras.

"Katanya jika kau menghela nafas keras seperti itu umurmu akan berkurang selama setahun"

Soonyoung menoleh dan mendapati Seungchol berdiri dengan senyum lebar dan tatapan teduhnya yang khas. Soonyoung bisa merasakan wajahnya sedikit memerah, entah karena melamun atau karena sesuatu yang lain.

"Yah! Jangan mendoakanku mati cepat"

Namja tadi tertawa dan duduk di samping Soonyoung yang duduk selunjuran di lantai. Dia habis mengajar dance dan mengambil istirahat sejenak sebelum memutuskan untuk pulang.

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Tidak ada. Hanya hal tidak penting"

Yah.. Pernikahan yang akan berlangsung kurang dari dua minggu itu sama sekali tidak penting.

Tetapi, tidak mungkin rasanya jika ia tidak memberitahu Seungchol jika dia akan menikah. Tetapi lagi, bagaimana cara memberitahu hal semacam ini?

'Hey Seungchol, aku akan menikah kurang dari dua minggu. Maukah kau membawaku lari bersamamu?'

Konyol.

Tiba-tiba ponsel Seungchol berdering, menandakan ada panggilan masuk. Namja itu tersenyum menatap layar dan mengangkat panggilan itu dengan cepat.

"Ne, Jihoon-ah"

Soonyoung tersenyum kecut menyaksikan bagaimana Seungchol begitu bahagia mendapatkan panggilan dari Jihoon, yang notabene adalah salah satu teman Soonyoung, juga merupakan guru vokal di tempat ia mengajar dance. Seungchol berdiri dan berjalan sedikit menjauh.

Sejujurnya, dia sudah lama menyukai Seungchol. Sejak awal dia bekerja sebagai guru dance disini, namja itu telah mencuri perhatiannya. Senyumnya yang manis, sikapnya yang bersahabat, terutama tatapan matanya yang teduh itu, membuat dunia Soonyoung terasa jungkir balik.

Tidak hanya kupu-kupu, seluruh isi kebun binatang bisa ia rasakan saat ia bersama Seungchol. Dan ini sudah tiga tahun dia memendam perasaan itu.

Jihoon.

Satu-satunya saingan yang tak akan pernah diakuinya karena Jihoon hanyalah anak manis yang tidak tahu apa-apa tentang perasaannya dan namja mungil itu juga merupakan teman dekatnya selain Jongin dan Taemin.

Dan Seungchol menyukai Jihoon.

Lebih lama dari yang Soonyoung tahu karena keduanya telah lebih dulu bersahabat. Dan sebagai pihak pendatang, dia merasa tidak punya hak sama sekali untuk ikut ke dalamnya. Ke dalam apa yang seharusnya tidak boleh dia jenguk.

Soonyoung lagi-lagi menghela nafas berat. Tanpa sadar bahwa Seungchol sudah duduk lagi di sampingnya dan menatapnya dengan pandangan aneh.

"Oke beritahu aku apa masalahmu"

"Huh? Apa?"

"Kau terus menghela nafas seperti itu. Ada masalah apa?"

"Ti-"

"Dan jangan bilang tidak ada apa-apa karena aku sudah lama mengenalmu"

Soonyoung tersenyum kecut.

Kalau begitu seharusnya kau tahu tentang perasaanku, bodoh.

"Aku akan menikah"

Seungchol menatapnya kaget. Soonyoung sendiri juga kaget kenapa dia tiba-tiba mengatakan masalah yang ingin ditutupinya tadi? Tanpa disadari tangannya juga ikut menutup mulutnya.

"Mwo?"

Soonyoung tersenyum bingung dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, tak yakin apakah sebaiknya memberitahu Seungchol atau tidak.

"Katakan sekali lagi-"

"Umm, aku akan menikah, kurang dari dua minggu lagi"

"Kau bercanda!"

Soonyoung menggelengkan kepalanya sedih.

"Umma menjodohkanku"

"Lalu kau setuju?"

"Umm" Soonyoung mengangguk, sedikit melirik Seungchol untuk melihat reaksi namja itu. Entahlah, wajarkah jika dia berharap Seungchol akan sedikit melarang atau tidak rela?

Tetapi Seungchol tetap berwajah tenang, hanya menampilkan ekspresi kagetnya seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda cemburu atau apapun itu.

Tentu saja, bodoh. Dia menyukai Jihoon.

"Kenapa?"

"Entahlah, aku hanya tidak ingin mengecewakan umma"

Seungchol menyipitkan matanya. "Apa kau menyukainya?"

"Mwo? Tentu saja tidak! Aku bahkan baru mengenalnya beberapa hari yang lalu"

"Lalu apa yang akan kau lakukan?"

"Entahlah. Semuanya terasa berputar dan bergerak begitu cepat. Aku bahkan tak sempat berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Dan sejujurnya..aku takut."

"Sshh- tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja. Aku disini, kami semua ada disini dan aku akan membantumu jika namja itu menyakitimu, ne?"

Seungchol memeluk Soonyoung dan mengusap-usap punggung namja sipit itu dengan pelan.

Apa boleh menangis sekarang? Seandainya saja kau tahu bahwa kaulah yang menyakitiku...

Soonyoung menahan air matanya sekuat mungkin. Jika ia menangis, akan lebih susah menjelaskan alasannya karena satu-satunya alasan ia menangis saat ini hanyalah Seungchol...dan perasaan tak terbalasnya.

.

.

To be continued.

.

.

3.5+K words! Whoaa~ *tebar confetti*

Sorry kalo alurnya kecepatan yaa, gak sabaran pengen bikin mereka nikah. :3

Sorry juga kelamaan karena sempat lupa kalo aku lagi ngetik cerita ini, terlalu fokus sama ff di fandom lain hehe *bows*

.

Reviewnya please? : D