Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

Warning : Cliche!Canon-setting. UlquiHime. Minim-deskrip.


two

re a s on s

Ulquiorra


Tangan pucat itu membuka pintu dan membawakan masuk makanan. Tanpa ada basa-basi, langsung ke tujuan, ia berkata, "Makananmu. Sekarang, makan."

Sepasang permata kelabu memandangnya bersemangat seraya berucap, "Akhirnya~" sebelum duduk di sofa dan memulai rutinitas yang menjadi kewajiban bagi espada pucat ini. Pastikan baik-baik saja. Perintah dari satu-satunya orang yang ia patuhi. Tentu tanpa ada beban apapun, sebagai espada dengan tingkat keloyalan tinggi, ia mematuhi. Dialah yang mengantarkan langsung gadis manusia yang tengah bersantap ini ke hadapan mantan shinigami yang menciptakan dirinya. Dia jugalah yang memberitahukan kemampuan si gadis, melaporkan itu, hingga diserahi tugas menjaga.

Awalnya tidak ada pikiran sedikitpun tentang tugas ini. Hanya salah satu misi yang biasa dia terima dari beliau. Ya. Awalnya. Hingga perlahan espada terkuat keempat ini tanpa disadari menganalisis perbedaan antara tugas kali ini dengan yang sebelum-sebelumnya dimana dia hanya menerima tugas mengumpulkan informasi, menghabisi, atau menghukumi. Berbeda. Jauh. Bahkan, tak pernah. Menjaga seseorang.

Dia adalah arrancar. Cuatro Espada. Menjaga?

Tidak heran Quinta kerap kali bersuara tak menyenangkan mengenai hal itu. Bahkan arrancar manapun mungkin tertawa mendengar kata "menjaga". Tidak ada kata itu dalam kamus arrancar. Mereka hollow. Tercipta untuk melakukan hal yang tidak dilakukan manusia atau shinigami. Jika Quinta ataupun bahkan Sexta tertawa mendengar tugasnya kali ini, dia tidak. Bahkan tak pernah ada rasa ataupun ekspresi dalam diri Cuatro. Ini perintah. Harus dilaksanakan. Selama ini, tak pernah sedikitpun dia berpikir misi yang ia lakukan berat atau ada pemikiran lebih akan misi tersebut. Tak sekalipun. Namun, sekarang berbeda.

Gadis manusia… Inoue Orihime.

"Terima kasih," ucap gadis itu sambil tersenyum ke arahnya setelah selesai bersantap. Senyum. Itu perbedaan hasil analisisnya.

Gadis ini sangat berbeda dengan Tres Espada, mengingat hanya itu satu-satunya hollow yang sama dengan si gadis di Hueco Mundos. Manusia ini pendek. Suaranya kecil, matanya bulat kadang menatap dirinya dengan tatapan yang sama sekali tak bisa dimengerti. Perbedaan paling mencolok. Ekspresi. Gadis ini… makhluk hidup. Dan inilah yang sering menjadi beban pikiran akhir-akhir ini. Pemilik zanpakuto murcielago ini menegaskan diri sendiri bahwa karena gadis manusia itu merupakan tanggung jawabnya, adalah hal yang wajar jika sering memikirkannya.

…benar, bukan?

"Tidak perlu berterimakasih kepadaku. Tak bagus untuk Aizen-sama jika kau kelaparan. Itu tugasmu untuk tetap hidup."

Mata itu. Kelabu kembar milik gadis itu kembali menyiratkan tatapan yang seperti apapun analisisnya, tetap sulit diketahui. Suara gadis itu mengutarakan, "Tapi… kau satu-satunya yang datang dan membawakan makanan sementara aku tidak dibolehkan keluar. Jadi, sudah seharusnya aku berterimakasih kepadamu."

Pemikiran manusia. Ck.

"Ini tanggung jawabku karena kau dibawah penjagaanku. Tapi percuma menjelaskannya kepadamu. Terserah."

Keduanya diam sesaat sebelum keheningan dipecahkan suara gadis itu dengan pelan, "Maaf kalau aku tidak mengerti…"

Ini. Ini yang menjadi pemikiran dirinya sebagai penjaga beberapa waktu belakangan ini. Atau mungkin sejak awal? Dia tidak pernah bisa mengerti arti tatapan, nada suara, perkataan si gadis kepadanya. Dan itu cukup mengganggu. Membuatnya kepikiran bahkan sampai menganalisa dalam diam. Cukup. Espada satu ini sudah muak menganalisa sendiri. Maka, sekarang, dia bertanya, "Kenapa kau selalu melakukan itu?"

"… melakukan apa?"

"Itu. Kau selalu menaruh perasaan di setiap kata yang kuucapkan, atau yang kau ucapkan. Kenapa kau tidak berpikir tanpa perasaan?"

Jawaban cukup meyakinkan terdengar, "Kau satu-satunya yang selalu bicara padaku di kastil ini. Tentu saja aku memikirkan perkataanmu dengan perasaanku."

Manusia.

"Ini menyebalkan. Aku melakukan karena perintah. Bisakah kau berhenti menganggap bahwa aku berbicara denganmu karena keinginanku sendiri?" Ada penekanan dalam, "Itu bodoh."

Terdiam. Gadis itu kaget. Jelas. Bisa dilihat dari wajah yang dipalingkan seolah berusaha menyembunyikan genangan bercahaya dari permata kelabunya saat berkata, "Aku tahu itu. Maaf karena kebodohanku…"

Melihat kejanggalan dari jejak bening yang mengalir di pipi si gadis tak terelakkan dari pengamatan, "Kenapa dengan matamu?"

"Eh?" Menyadari usaha menyembunyikan gagal, si gadis segera menghapus jejak-jejak di pipinya secepat mungkin. "Ti-tidak." Kali ini dirinyalah yang terdiam. Bisa dibilang kaget. "Kau…" walau dia tak pernah melihat jejak itu diantara para hollow, tapi dia cukup tahu itu apa disebut oleh para manusia, "…menangis."

Ada pemikiran tidak percaya bahwa gadis manusia ini menangis. Sejak si gadis datang ke Hueco Mundo dan tinggal di ruangan ini, selalu dalam pengawasan dirinya, tak peduli sebagaimanapun dinginnya tekanan di dalam kastil atau para espada, belum pernah dia melihatnya menangis. Apa yang harus dikatakannya dalam laporannya nanti? Gagalkah ia menjaga? Gagalkah ia melakukan tugasnya?

"Kenapa kau menangis?" Mata espada ini mencurigai piring di depan si gadis, "Apa ada yang salah dengan makanan tadi?"

Si gadis menatapnya, "Tidak, tidak ada yang salah dengan makanan tadi."

"Kalau begitu kenapa kau menangis kalau tidak ada yang membuatmu sakit?"

Tangan pucat sedikit bergetar ketika si gadis menunduk sambil menyatakan, "Ada… yang membuatku sakit…"

GAGAL. Dia sudah gagal menjaga. Gadis manusia yang sangat penting bagi penciptanya. Mengharuskan dia baik-baik saja. Apa yang salah? Dimana dia gagal dalam menjaga? dalam melakukan tugas ini? Dia sudah memastikan gadis ini tetap hidup dengan mengawasinya setiap kali dia makan. Memastikan semua baik-baik saja dengan bertukar kata. Kenapa? Di bagian mana dia melakukan kesalahan?

"Apa itu? Kau seharusnya memberitahuku apapun yang menyakitimu. Itu salah satu tugasku."

Adakah yang menggagalkan kesempurnaan yang sudah dia lakukan selama ini? Bahkan hal langka bagi seorang hollow menjaga seseorang. Apalagi seorang gadis manusia. Jadi, apapun itu akan dia singkirkan.

"Itu. Yang membuatku sakit. Kata-katamu," kembali genangan air di permata kelabu terjatuh melintasi wajah si gadis. Membuat espada ini bungkam hanya bisa menyaksikan dan mendengarkan isakan dari bibir yang selalu tersenyum. Ini yang selalu menjadi beban pemikirannya. Enggan mengakui, tapi tugas menjaga si gadis jauh lebih merepotkan dibanding dia harus menyerang Soul Society sendirian dan mengahadapi para shinigami. Berhadapan dengan manusia yang kini menangis hanya karena kata-katanya… Jika si gadis hanyalah manusia biasa ataupun arrancar bahkan espada sekalipun, dengan tidak segan ia akan menghabisinya sekarang. Tidak, itu tidak bisa dia lakukan. Dia harus menjaga si gadis. Memastikan manusia ini tak tersakiti apapun. Dia hanya bisa—

"Aku tidak mengerti,"—bertanya, "Kenapa kata-kata-ku menyakitimu? Apa kau mau aku berhenti bicara padamu?"

Si pemilik rambut jingga itu menggelengkan kepala, "Tidak… Bukan berarti aku mau kau berhenti…" dia menghapus air matanya sendiri, "tapi… mungkin kau bisa…" Helaan nafas keluar bersamaan pernyataan, "Aku tidak tahu… aku juga tidak mengerti."

"Dengarkan aku." Ada nada menekan dalam pertanyaan, "Aizen-sama tidak akan suka jika aku tidak bisa memastikan kau baik-baik saja. Sekarang, katakan. Apa yang kau inginkan?"

Jawaban membingungkan lagi yang diperdengarkan si gadis, "Itu… bukan sesuatu yang bisa kau lakukan hanya dengan perintah." Senyuman kembali diparas si gadis, "Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Bukan masalah…" Bisikan menyusul,"…mungkin."

Keheningan kembali diantara mereka. Namun, nada berat milik espada ini yang mengakhirinya, "Jika itu keinginanmu. Aku akan melapor pada Aizen-sama sekarang. Jangan melakukan apapun untuk membahayakan dirimu dengan sengaja atau aku akan menolong."

Anggukan disertai senyuman sekaligus tatapan aneh menjawab, "Aku tidak akan melakukan apapun. Jangan khawatir…"

"Aku akan mengawasimu," ucapnya sebelum berbalik dan menghilang.

TBC


Chapter ini dari sudut pandang Ulquiorra :) Chapter ganjil=Orihime dan genap=Uqluiorra :P Kenapa? Karena sesungguhnya sudah banyak fic UlquiHime dengan setting canon. Jika tidak kulakukan seperti ini, takutnya pembaca bosan ^^ Rating kuganti karena menurutku conversation UlquiHime tidak mudah dimengerti . Kata yang digaris miringkan serta di-bold itu berkaitan dengan judul tiap chapter :)) Terima kasih sudah mau baca~ Jika ada yang ingin disampaikan, aku terima apapun itu ^^

Balesan Review~

Hitsugaya Bintang Zaoldyeck: Yay~ review pertama~ Hehe~ maaf, pendek :P Chapter ini rada panjang kan? #halah

RPMUlquiorra: Nih, yang kedua kubuat dari sudut pandang Ulquiorra nih. Nebak mati-matian nih =3= Udah semampuku niiiiih :'P Soal Orihime yang rada emo itu... dirimu inget gak sih waktu main itu situasi yang kamu ciptain kayak mana? Ulquiorra-mu tuh ngabarin temen-temen Orihime datang, ya mana mungkinlah Orihime tetap ceria. Galaulah dia, antara teman yang datang dengan Ulquiorra =_=''' Makin ke belakang makin perasa? Orihime memang perasa lho =w='' Makasih udah suka :') terharu lho dirimu bilang suka deskripnya X')

Toyama Ichiru: Sama, aku juga nostalgia moment mereka :') Suka? Ah, makasih :') Ajarin? Ahahahaha gak jamin ya~ Boleh kok~ Silahkan follow~

Moku-Chan: RP itu Role Playing. Oh, bukan. Aku sama sekali tidak berniat menjadikan ini angst :)