Siapa yang nungguin fic nista ini update, ACUNGKAN TANGAN!
Ya, ya, ya, cukup sodara-sodara. Silahkan tekan tombol back, dan bay bay *digaplok massa*
.
Apakah mati suri bong terlau cepat?
Oh, semoga minna memahami pasang-surut ide yang ada di otak bong.
.
Gomen, sebenarnya dasar awal pembuatan fic ini bong imajinasiin abis kelar baca prolog novel yang bong gak inget judulnya. Sebulan lalu bong iseng nangkring di toko pisang *plak* toko buku, dan baca sekilas beberapa novel yang plastiknya sobek dikit dan sobek sempurna pas ada ditangan bong, HARAP JANGAN DITIRU!. Gara-gara terus terngiang-ngiang ama kejadian di novel, bong tuangin aja ke fic.
Sankyuu buat yang udah ngasih tahu bong judul novelnya boro-boro tahu siapa authornya, judulnya aja gak inget *plak
.
Bong minta maaf karena belum bisa bales ripyu minna satu persatu. Bong bener-bener dikejer Sasuke *plak* waktu. Huhuhu. . . Padahal tinggal nunggu kelulusan, tapi malah musti belajar huruf-huruf kana lagi buat ngikutin kana kontes bentar lagi. T.T
Do'ain bong biar otaknya gak keriting kayak huruf hiragana ya, minna~.
.
Terakhir, buat yang sampe bilang I LOP YU BONG, AKU MAKIN CINTA KAMU BONG, bong ucapin makasih dan BONG LOVE YOU TOO. Yang udah ngefav story atopun bong sebagai author, sankyuu. Yang udah RnR, juga buat para silent readers ARIGATOU. .
WARNING : AU, OOC, TYPOS, etc.
.
. "Apa maumu?" Ucapku sebisa mungkin dengan suara yang tidak berdesis.
"Making love with you agai-"
"NEVER!" Teriakku histeris.
.
.
Disclimer : demi Jashin, Naruto kalo punya bong bakalan bong bikin Sasuke jadian ama Bong. Tapi sayangnya Naruto punya Masashi Kishimoto
Genre : Romance
Pair : sasuhina foeva~
Rate : T (agak rate M)
.
Second chappie
.
.
Hal-hal yang wajib kulakukan dalam hidupku saat ini dan untuk saat nanti :
1. Tidak minum minuman beralkohol lagi. (aku tidak mau ambil risiko bahwa aku akan pingsan lagi dan kejadian mengerikan seminggu yang lalu ketika aku ditemukan Uchiha Sasuke tidak terulang lagi).
2. Membakar semua koleksi komikku yang sebagian memang sedikit err..erotis. (agar pikiranku saat melihat dada bidang laki-laki tidak lagi berimajinasi yang kotor-kotor).
3. Menghapus semua file video porno di laptopku. (aku bersumpah, video itu bukan milikku. Itu milik Sakura dan Ino. Dan meskipun video laknat itu bersemayam dalam laptopku, secuil niatpun tidak ada dan TIDAK AKAN PERNAH ADA dalam benakku untuk menontonnya).
4. Melepas, bahkan MEMBAKAR semua koleksi majalah serta poster penyanyi laki-laki idolaku yang tubuhnya err.. SEKSI. (huaaah, aku tidak menyangka bahwa memandangi wajah tampan serta tubuh idolaku berhasil menyeret pikiranku untuk membayangkan diriku yang sedang dipeluk oleh seorang calon adik iparku yang sangat HOT).
5. Selalu menyerukan kalimat : HEY, SADARLAH HINATA! KAU SUDAH PUNYA CALON SUAMI! DAN TIDAK SEHARUSNYA KAU MALAH MEMIKIRKAN LELAKI LAIN YANG LEBIH HOT DARI CALON SUAMIMU!
…
Dan sepertinya hal terakhirlah yang paling ampuh menormalkan kembali pikiranku dari imajinasi-imajinasi kotorku bersama saudara seayah calon suamiku.
Untunglah selama seminggu ini aku berhasil mengenyahkan pikiran-pikiran kotorku saat mengerjakan pekerjaanku sebagai desainer gaun pengantin. Tidak, bukan aku yang membuat gaun pengantin untuk diriku sendiri. Aku hanyalah pembuat desainnya dan yang akan membuat gaunnya adalah Sakura dan Ino. Sudah hampir lima tahun aku menyelami bisnis ini dengan dua sahabatku itu. Dari kami bertiga, hanya akulah yang paling awet berpacaran. Ya, aku pacaran dengan Sai sejak lulus dari SMU. Sakura dalam waktu dekat juga akan bertunangan dengan Naruto. Sedangkan Ino, dia masih betah berlama-lama dengan status singlenya.
"Hey, kenapa terlihat tidak bersemangat begitu?" Aku terkejut karena tertangkap basah telah menghela napas lelah oleh Sakura. Kami bertiga sedang berada di butik. Aku sendiri sedang menyibukkan diri dengan mendesain sebuah gaun pesta. Ino sedang melayani pelanggan, sedangkan Sakura sedang duduk di sebelahku dengan layar laptopnya yang masih menyala. Kulirik sejenak, ah ternyata dia sedang membuka blognya yang mempromosikan gaun-gaun produk kami.
Gaun-gaun yang kami buat bukan hanya terbatas pada gaun pengantin, tetapi juga jenis gaun pesta yang memang sangat diminati kaum hawa.
Kulemparkan senyuman manisku pada Sakura lalu kembali berkutat pada kertas desainku.
"Hanya lelah, semalam aku tidak bisa tidur." Jawabku datar.
"Oh, tidak bisa tidur karena ingin cepat-cepat bertemu dengan calon suamimu ya, nyonya Uchiha?" kurasakan panas menjalari kedua pipiku. Walaupun faktanya tiga bulan lagi aku resmi menjadi seorang 'Nyonya Uchiha' tetap saja aku belum terbiasa dengan panggilan semacam itu. Aku hanya tersenyum sambil tersipu. Kulihat Sakura tertawa melihat ekspresi wajahku. "Bukankah, hm-" dia mengangkat pergelangan tangan kirinya untuk melihat sekilas jam tangannya lalu menoleh kearahku, "Dua jam lagi dia sampai di Narita Airport?" tanyanya dengan mata membulat. "Kau tidak menjemput calon suamimu pulang, hah?" Serunya.
Aku hanya menggeleng pelan lalu berkata, "Sai itu tidak pernah mengizinkanku menjemputnya. Entahlah, dia memang aneh." Aku kembali menggoreskan pensil ke atas desainku.
Kudengar Sakura tertawa pelan membuatku mau tak mau menoleh kearahnya untuk menanyakan apakah ada kata-kataku yang lucu.
"Calon suamimu memang aneh." Ucapnya sambil menepuk-nepuk bahuku. Aku memicingkan mata seolah siap menerkamnya.
"Calon tunanganmu juga aneh." Tukasku sambil terkekeh pelan.
"Hey, Hinata." Bisik Sakura membuatku menghentikan tawaku.
"Hm?"
"Kenapa kau tidak memakai cincinmu?"
Deg
.
Jantungku berdebar keras.
Segera kupeluk jemari tangan kiriku sambil menatap gugup kearah Sakura. Aku tersenyum manis padanya sambil mencoba untuk mencari kata-kata yang layak dan juga memberikan intonasi yang santai pada kalimatku.
"Aku meninggalkannya di laci kamar, hehe.." kurasakan tatapan curiga pada wajah sahabatku itu, lalu buru-buru aku lanjutkan. "Aku hanya takut hilang." Dan rasanya ingin kucekik leherku sendiri karena telah mengatakan alasan yang sangat luar biasa payah. Aku nyengir lagi dan saat Sakura hendak protes lagu Crush milik David Archuleta mengalun lembut dari ponsel di saku jeansku.
Fyuuh, selamat…. Selamat…. Aku mengucapkan beribu-ribu syukur dalam hatiku. Dan aku bersumpah akan mencium siapapun yang sekarang meneleponku sehingga dapat menyelamatkanku dari tatapan curiga Sakura. Benar. Aku bersumpah akan menciumnya.
Kulirik nomor yang tertera pada layar ponselku.
Unknown number.
Sakura sedikit mengerutkan dahinya karena aku tidak kunjung menjawab si penelepon. Merasa dihujani tatapan curiga sejak tadi, buru-buru aku menjawab telepon itu sambil bangkit untuk mencari tempat yang aman untuk berbicara dengan si penelepon.
"Ini siapa?" Sapaku tanpa basa-basi karena pada dasarnya aku memang tidak suka jika ada orang yang tidak dikenal meneleponku.
"Hime."
Deg
.
Kurasakan darahku mendadak mendidih dan segera kuperintahkan jemariku untuk mereject teleponnya.
Demi Tuhan. Selama seminggu ini aku lelah dihantui olehnya di setiap waktuku. Cukup. Aku lelah. Pikiranku jadi terkontaminasi gara-gara dia. Pikiranku jadi kotor dan selalu membayangkan hal-hal menggairahkan yang akan terjadi apabila tubuhnya yang HOT itu merengkuh tubuhku, membaringkan tubuh mungilku, menanggalkan seluruh pakaian, lalu..
Aaarrgghh!
IBLIS! IBLIS! KENAPA KAU KEMBALI LAGI KE PIKIRANKU?
Iblis! Benar. Aku yakin bahwa Uchiha Sasuke adalah keturunan iblis sehingga hanya dengan satu kecupan bibirnya di leher serta bibirku sukses membuat pikiranku terus melayang pada sosoknya yang terlalu HOT.
Astaga. Sudahlah, Hinata. Kau calon istri kakak laki-laki iblis itu. Tidak sepantasnya kau terus menerus memikirkan dia beserta tubuhnya.
Setelah beberapa kali berusaha menenangkan detak jantungku yang selalu kelewatan berdebar kencang, akhirnya kuputuskan untuk kembali ke meja kerjaku. Namun, baru selangkah ponselku berbunyi lagi.
Tetap unknown number.
Sialan.
Mau tidak mau aku harus menjawabnya karena Sakura menatapku tajam dari tempat duduknya.
"Apa lagi?" Desisku kasar.
"Kasarnya," balas suara berat itu dengan nada suara yang terdengar jahil. "Jika kau kasar begitu, maka aku tidak akan sudi mengembalikan cincinmu."
Deg
.
Ja-jadi, cincin yang kukira hilang seminggu lalu itu ternyata ada padanya? Cih, aku tidak percaya ini. Apa mungkin aku meninggalkan cincinku di hotel yang waktu itu. Keh, sia-sia aku mencarinya berhari-hari di kamar apartemenku dengan perasaan bersalah tingkat tinggi. Dan akupun sudah berencana untuk membuat duplikat cincin tunanganku besok.
Astaga.
Apa aku pernah menyakiti hati orang lain sehingga aku harus menderita begini? Atau ada orang yang membeciku tanpa sebab dan menyumpahi agar hidupku menjadi sial? Jika benar begitu, maka aku akan memutilasi orang itu kecil-kecil, menyimpannya di karung, lalu membuangnya ke lautan agar tubuhnya musnah di makan ikan paus, ikan hiu, bahkan ikan asin sekalian. Tapi jika dipikir-pikir lagi, masa iya gadis selugu dan serbaik aku bisa disumpahi orang. Hm, atau memang kesialanku ini berasal dari pertemuanku dengan iblis itu. Hm, sepertinya aku harus pergi ke dukun. Mungkin saja ada orang yang mengirimiku tuyul, kuntilanak, atau bahkan pocong setelah pesta pertunanganku berakhir. Dan kupastikan akan kubunuh orang yang berani sekali mengirimkan dedemit semacam itu padaku.
Hm, tapi setelah kupikir-pikir lagi sepertinya dedemit yang sedari tadi memenuhi isi kepalaku ini telah menjelma menjadi seorang pangeran-ralat-iblis tampan yang LUAR BIASA HOT.
Gyaaaa! Lagi-lagi pikiranku ngaco.
Bukan ke dukun, tapi aku harus pergi ke pawang setan, psikiater, atau malah ke rumah sakit jiwa. Hiieey..
"Hime?" Terdengar suara Sasuke yang memanggilku dengan nada tidak sabaran.
"Hn?" gumanku asal. Kurasakan peluh telah membanjiri keningku. "Hey, kembalikan cincinku!" Seruku.
"Barter?" Tawarnya dengan suara yang OH MYGOD, sangat HOT. Dukun, aku benar-benar membutuhkan jasa dukun untuk mengusir aura-aura gelap nan kotor dari sekitarku.
"Tanpa barter." Ucapku sedatar mungkin. Jangan sampai dia menangkap nada gugup dalam ucapanku.
"Baiklah, cincinmu akan langsung kuserahkan pada Sai dan jika dia bertanya kenapa benda itu ada padaku, maka akan kujawab seadanya. Kau telah making love denganku di malam setelah pertunanganm-"
"STOP! STOP! STOP!" seruku panik lalu berusaha sebisa mungkin meredakan emosiku. Iblis ini memang iblis seiblis-iblisnya. Mengancamku? Cih. "Apa maumu?" Ucapku sebisa mungkin dengan suara yang tidak berdesis.
"Making love with you agai-"
"NEVER!" Teriakku histeris. Dan hal tersebut sukses membuat Sakura kembali menoleh kearahku dengan tatapan yang semakin tajam. Tuhan, tolong aku. Jangan sampai sahabatku tahu tentang tragedi yang kualami bersama dedemit ini.
"Make out?" Tanyanya membuatku mengerutkan dahi tanda tidak mengerti maksud ucapannya.
"Make out?" Ucapku dengan nada tanya.
"Like a kissing? Hm, deeply kissing?"
"JANGAN SEMBARANGAN!" Teriakku lagi dan kali ini aku harus benar-benar meminta bantuan dukun untuk membunuh iblis ini.
Kenapa permintaannya selalu berhubungan dengan fisik. Apa mungkin dia maniak sex?
"OK, lets say goodbye to your ring."
"OKE! OKE!" Seruku frustasi lalu menghembuskan napas lelah.
"That's mygirl."
"I am not your girl." desisku kesal. "But without make out, deeply kiss or whatever. Just a kiss di pipi mungkin."
"Hime-"
"Jangan panggil aku Hime! Namaku Hinata!" Seruku lagi dengan nada kesal.
"Of course. Kita making love atau just a kiss dan aku boleh memanggilmu 'Hime'?" BRENGSEK!
"TERSERAH!"
Kini aku benar-benar harus mengutuk ilmuan yang telah menemukan ponsel sebagai alat komunikasi.
.
.
0o0
.
.
Tiga jam setelah aku menerima telepon mengerikan dari si iblis, kini aku tengah dalam perjalanan menuju rumah keluarga Uchiha untuk makan malam bersama. Aku mengenakan rok mengembah warna hijau selutut yang dipadukan dengan satu set kamisol beserta blazer putihku. Malam ini aku sedang tidak mood untuk memakai sepatu hak tiga senti, lima senti, tujuh senti, maupun berapa sentipun. Malam ini aku hanya memakai sandal motif cherry didepannya yang tentu saja berwarna putih dan tanpa hak. Sedangkan Sai, calon suamiku ah, sepertinya julukan seperti itu kurang keren. Jadi aku memilih memberikan julukan 'tunanganku'. Sai mengenakan celana jeans hitam dan juga memakai kaus putih yang dilapisi sweather hitam.
Setelah sempat melepas rindu padaku satu jam yang lalu dengan beberapa kali pelukan dan ciuman, akhirnya Sai mau juga melepaskanku.
Entah mengapa sejak Sai mengajakku makan malam di rumahnya untuk merayakan kepulangannya, dadaku tidak henti-hentinya berdebar kencang. Bukan. Bukan karena Sai. Tapi ini justru karena adiknya, Uchiha Sasuke.
Sepanjang perjalanan dari apartemen menuju rumah keluarga Uchiha, tidak henti-hentinya aku berteriak dalam hati 'Ya Tuhan, ya Tuhan. Yang tadi siang itu, maksudku yang waktu berjanji akan mencium orang yang meneleponku saat aku hendak akan diintrogasi oleh Sakura, tidak serius. Sekali lagi kutegaskan bahwa janji itu TIDAK SERIUS. Aku tidak mungkin mencium orang sepertinya-ralat-Uchiha Sasuke bukan termasuk dalam golongan manusia, golongan, hewan, maupun golongan tumbuhan sekalipun. Uchiha Sasuke itu golongan dedemit. Iblis. Makhluk terkutut dari neraka yang akan menyeretku ke dalam penjara neraka apabila aku terus menerus berpikiran kotor tentangnya.
"Hinata? Mau sampai kapan duduk disitu? Kita sudah sampai." Tanya Sai menyadarkanku. Aku segera mengangguk lalu mulai melepaskan sabuk pengamanku. Sembari menuruni mobil, pikhranku masih saja tidak keruan.
"Sai, kalau ada orang yang bersumpah dalam hati dan tidak terdengar siapapun, jika tidak ditepati tidak apa-apa, kan?"
"Hah?" Kata Sai dengan ekspresi bingung.
"Itu cuma main-main saja, tidak serius." sahutku lagi. "Jadi aku tidak akan kena karma jika tidak ditepati, kan ya?" Desakku sambil menggoyang-goyangkan bahunya. Aku tidak mau ambil risiko apapun. Sudah cukup aku dikutuh Tuhan dengan diteror terus oleh si iblis dedemit itu setiap malam.
"Ng, mungkin." Katanya masih dengan wajah bingung. Meskipun jawaban tunanganku ini sedikit menggantung, tapi aku sudah cukup merasa lega.
Kubiarkan Sai menyeretku masuk ke dalam rumahnya. Saat aku dan Sai tiba di ruang makan, kurasakan jantungku hampir copot karena tiba-tiba saja debaran jantungku seolah hendak meledak. Astaga. Aku berdosa. BERDOSA. Disaat jemariku tengah digenggam erat oleh tunanganku, aku malah berdebar sehebat ini hanya karena bertemu mata dengan Sasuke.
.
Malam ini ada yang aneh pada diriku.
Oke, oke. Aku akui diriku memang jadi aneh sejak kejadian di hotel seminggu kemarin.
Makan malam berjalan lancar, hanya saja aku yang biasanya terlihat ceria malam ini memilih untuk banyak diam dan hanya bicara seperlunya saja. Sai sempat berkali-kali menanyakan apa aku baik-baik saja. Selama makan malam berlangsung, kuakui aku dan Sai kerap berbisik-bisik untuk merundingkan sesuatu. Dan alhasil, berkali-kali kami mendapat teguran agar tidak bermesraan selama makan malam berlangsung. Di meja makan ini cukup banyak yang hadir. Ada kedua orang tua Sai, paman Itachi beserta istri dan kedua putrinya, kakek Madara, Sai, aku, dan juga iblis jahanam yang selalu saja menatapku dengan tatapan membunuh setiap kali aku tertangkap basah berbisik-bisik dengan Sai.
Merasa tidak tahan dengan tatapannya, akhirnya aku memutuskan untuk menghindar. Saat ini aku berada di dalam toilet. Membasahi wajah adalah hal yang mampu membuat pikiranku kembali jernih. Setelah mengeringkan wajahku dengan sapu tangan, aku segera beranjak untuk memutar kunci dan membuka pintunya untuk keluar dari sana. Baru selangkah kakiku bergerak, aku terdorong kembali ke dalam toilet. Astaga. Siapa yang berani mendorong-
"Hime."
Deg
.
Aku membulatkan mata tidak percaya. Dadaku kembali berpesta. Debaran luar biasa yang lagi-lagi terjadi saat mataku melihat sosok rupawan sang iblis, Uchiha Sasuke.
"Mau apa kau?" Ucapku takut ketika melihat dia mencengkeram tanganku.
"Hanya mengembalikan ini." Sasuke memperlihatkan sebuah kalung yang melingkari lehernya, dan disanalah kulihat cincinku berada.
"Kembalikan!" Seruku.
"Kau yang ambil sendiri." Kulihat Sasuke menyeringai. Astaga. Sesuatu. Dia pasti sedang merencanakan sesuatu. Dan benar saja dia melesat menyerbu tubuhku, mengangkatnya, lalu mendudukanku di sisi wastafel sehingga posisiku lebih tinggi dari dirinya. Dia sejenak tersenyum padaku sambil membelai kedua pipiku.
Oh, GOD. He is very HOT.
TIDAAAK! IBLIS ITU MEMBUATKU AKAN MASUK KE NERAKA JAHANAM! Hm, atau mungkin aku malah sudah masuk neraka.
Sebisa mungkin aku menunduk untuk melepas kaitan kalung yang dipakainya sehingga kepalaku dan kepalanya sangat dekat.
"Hime?" aku menggerakkan ekor mataku untuk melihat matanya. Dia sedang menatapku dengan tatapan yang tidak dapat kudeskripsikan. Saat aku mulai berhasil melepaskan kaitan kalungnya, dia berkata. "Boleh aku menciummu?"
IYA BOLEEEHHH! Teriakku dalam hati. Dan segera kugigit bibir bawahku keras-keras. IBLIS, KUMOHON! LENYAPLAH DARI PIKIRANKU!
Dan entah dedemit apa yang merasuki tubuhku, aku yang seharusnya segera menampar laki-laki dihadapanku ini berkali-kali karena bisa-bisanya dia berkata seperti itu pada wanita yang akan menjadi kakak iparnya, malah diam saja tanpa mencoba untuk menggeleng.
Detik selanjutnya berlalu dengan agak kabur. Kurasakan bibir Sasuke menyerang bibirku dengan ganas. Satu tangannya sudah meremas kuncir kudaku dan memaksaku untuk mengangkat wajahku kearahnya agar dia punya akses lebih mudah pada bibirku. Tangannya yang satu lagi telah menyusup ke punggung memasuki blazerku. Setan-setan dalam tubuhku berbisik agar aku membuka mulutku supaya Sasuke dapat menyerangku lebih ganas lagi.
TIDAAKK!
Di luar sana calon suamiku sedang menungguku. Sadarlah, Hinata. Kau berciuman dengan calon adik iparmu di toilet yang bahkan pintunya saja tidak tertutup sempurna. Baru ketika aku mencoba untuk menjauhkan kepala Sasuke dari kepalaku, ekor mataku menangkap sesuatu yang dapat membuat jantungku berhenti berdetak selamanya.
"APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN?"
Sai.
Sai memergoki kami ah, maksudku dia memergoki aku yang notabene tiga bulan lagi menjadi mempelainya sedang berciuman-bahkan lebih-dengan adiknya.
Tuhan, aku mau mati saja.
.
~tbc~
.
Wew~
Apakah bong ngasih 'tbc'nya di tempat yang salah?
Ah, sudahlah.
Minna~ berharap aja semoga bong mati surinya gak lama-lama *plak*
.
SEE YOU NEXT CHAPPIE. . .
