Hay~~!
Saya kembali! Maafkan atas keterlambatan ini, tapi saya memang membutuhkan waktu yang tepat untuk update. Dan lagi, saya terserang WB cukup lama jadi yah… *plak!* Well…saya lagi tidak punya lelucon untuk di berikan kepada readers sekarang ini jadi langsung ke cerita saja yaaa~~~ *krik krik*
Warning: Alur cerita tidak jelas, lebih banyak diskusi dibandingkan pertarungan, Slight!Crossover with another fandom, dsb.
ENJOY!
"Ukh…" Seorang gadis berhijab pink dengan seragam sekolah berwarna merah yang juga terdapat bros berlambangkan Sekolah Rendah Pulau Rintis di dada kirinya terbangun sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
"Dimana ini…?" Gumam gadis itu pelan. Meski masih merasa tatapannya berkunang-kunang, sang gadis tetap menyebarkan penglihatannya ke seluruh sudut tempatnya terbangun tersebut.
Meski hanya samar-samar, dirinya bisa melihat beberapa bangunan runtuh serta asap-asap bekas ledakan disekitarnya.
Bahkan, di tempatnya terduduk ini pun bisa tercium aroma semacam darah yang bercampur dengan tanah.
Mendadak dirinya merasa takut sekarang.
"Di-dimana ini…? K-kenapa aku bisa berada disini…?" Gumamnya lagi sambil memeluk dirinya sendiri.
Kenapa dirinya bisa berada di tempat ini?
Seingatnya tadi dia bersama teman-temannya masih bersama-sama di Pulau Rintis sampai akhirnya Adu du datang dan menembaki mereka dengan senjata barunya.
"Apa Adu du yang membuatku berpindah ke tempat ini?" Gadis berhijab pink yang bernama Yaya itu bergumam lagi. Tentu saja tidak ada yang menjawab gumamannya karena dirinya hanya seorang diri di tempat misterius yang terlihat seperti lokasi perang tersebut.
"Tunggu. Atau jangan-jangan aku memang sedang berada di tengah peperangan?" Lagi-lagi Yaya merasa takut.
Tentu saja, terjebak di tempat misterius yang ternyata merupakan arena perang seorang diri itu akan membuat siapa pun merasa takut.
Drap drap drap…
Yaya terkejut, karena tiba-tiba mendengar suara seperti langkah kaki dalam jumlah banyak.
"Kemana orang-orang sialan itu?" Salah satu dari mereka bersuara.
"Kita telah meloloskannya! Kalian semua, cari mereka dengan cepat atau Ieyasu-sama tidak akan memaafkan kita!" Sahut yang lain.
Kini sekelompok orang yang diyakini Yaya sebagai salah satu pasukan perang pun bergerak lagi.
"Hey! Lihat, ada seseorang disana!"
Bahu Yaya menegang, memang dirinya tidak begitu mengerti apa yang ucapkan oleh orang-orang tersebut.
Tapi dia yakin ucapan tadi itu di tujukan padanya.
Mengandalkan naluri, Yaya berusaha bangkit dan berlari sekuat tenaganya menuju ke arah manapun asalkan bisa selamat dari pasukan perang tadi.
"Hey! Kembali kesini! Penyusup!"
Dan benar saja, sekumpulan prajurit perang tersebut berlari mengejarnya. Yaya semakin panik dan ketakutan, lalu memutuskan untuk mengaktifkan kuasa gravitasinya…
"K-kenapa tidak bisa…?" Kaget Yaya karena daritadi dirinya berusaha untuk terbang tetapi tidak berhasil.
Kedua iris matanya pun tak sengaja tertuju pada pergelangan tangan kirinya, dan sekali lagi Yaya dilanda terkejut karena menyadari jam kuasanya tidak ada disana. Tanpa benda itu, tentu saja Yaya tidak bisa mengaktifkan kuasa gravitasinya.
"Gawat…bagaimana ini…?" Yaya semakin merasa panik sampai tidak memperhatikan jalan, dan akhirnya tersandung sesuatu membuatnya jatuh tersungkur di tanah.
"A-apa…!" Yaya membeku di tempatnya melihat bahwa yang membuatnya tersandung tadi adalah seonggok mayat manusia-yang sepertinya prajurit yang mati di pertempuran.
Yaya semakin ketakutan, apalagi kali ini bau darah dan lumpur menusuk penciumannya, karena ternyata mayat prajurit disana tidak hanya satu, tapi puluhan. Mayat bekas pertempuran yang terlihat sudah membusuk.
"Hah…akhirnya ketemu," Yaya mengangkat kepalanya, menatap panik ke arah sekumpulan prajurit yang mengepungnya.
"Dia hanya anak kecil…" Ucap seorang prajurit.
"Tidak masalah. Dia pasti adalah penyusup yang dikirim oleh pasukan Mitsunari. Kita harus menangkapnya," Sahut rekannya.
"Tapi sebaiknya jangan dibunuh. Kita bawah saja ke Ieyasu-sama untuk diintrogasi," Usul yang lain. "Benar. Tapi untuk berjaga-jaga…" Salah seorang dari mereka mencabut pedangnya dan menodongkannya ke arah Yaya yang kini sudah tidak bisa menghindar lagi.
"Kita potong saja kakinya agar dia tidak bisa kabur," Ucapnya sambil menyeringai.
Pedang prajurit tersebut terangkat dan dengan cepat melayang ke arah kedua kaki Yaya, sedangkan sang gadis hanya bisa pasrah dan menutup matanya dengan takut.
"S-siapapun…tolong…"
"Pedang Halilintar!"
SIIIING!
BRAK!
Yaya membuka matanya, dan sukses terperangah melihat belasan prajurit tersebut kini jatuh tersungkur jauh dari tempat mereka berpijak tadi.
"Kau baik-baik saja?"
Yaya mengangkat kepalanya, dan langsung tersenyum lega begitu melihat seorang laki-laki seusianya dengan topi hitam-merah serta jaket berwarna senada.
Di tangannya terdapat sepasang pedang berbentuk petir berwarna merah dan dari suaranya, Yaya yakin penyelamatnya ini sedang kelelahan yang berarti baru saja berhasil kabur dari pasukan perang.
"Halilintar…" Yaya berucap lega.
Laki-laki yang dipanggil Halilintar itu berbalik, memperlihatkan sepasang mata merah menyalanya yang terlihat bersinar di tengah gelap malam tersebut. Meski tidak menampakkan ekspresi sedikit pun, bisa dilihat dari pandangannya bahwa Halilintar saat ini tampak cemas padanya.
"Kita pergi," Halilintar menarik Yaya kemudian langsung menggunakan gerakan kilat sehingga mereka berdua bisa kabur dari tempat itu.
0~0~0
Kini, Halilintar dan Yaya berada di dalam sebuah bangunan tua kosong yang sudah rusak parah, sepertinya baru saja terjadi pertempuran di tempat itu.
"Halilintar…kenapa kau ada disini…? Ah…sebenarnya dimana ini?" Tanya Yaya langsung pada salah satu pecahan Boboiboy tersebut.
"Sebelum itu, aku mau mengembalikan ini. Aku menemukannya di sampingku saat sadar tadi," Halilintar menyerahkan sebuah jam berwarna pink yang dalam keadaan tidak aktif.
"Jam kuasa ku. Syukurlah, terima kasih, Halilintar," Yaya menerima jam tersebut dengan sukacita dan lega, karena setidaknya dirinya tidak sendirian di tempat misterius dan berbahaya ini.
"Oh ya, saat ini kita tidak sedang berada di tempat dan masa kita, itu semua karena alien kotak brengsek itu," Ucap Halilintar sambil melipat tangannya di depan dada.
"Apa maksudmu bukan masa kita?" Tanya Yaya.
"Si kepala kotak itu telah memindahkan kita ke masa lalu, dimana masih terjadi peperangan," Jawab Halilintar.
"Masa lalu? Tapi kenapa tempat ini tidak terlihat seperti yang aku pelajari di buku sejarah?" Tanya Yaya.
Tentu saja, jika iya mereka terperangkap di zaman perang tetap dirinya akan menyadari hal itu karena Yaya banyak belajar tentang sejarah peperangan Malaysia.
"Ini memang zaman perang, tapi kita tidak sedang di Malaysia," Jelas Halilintar.
"Eh? T-terus ini dimana?" Kaget Yaya.
"Kau sempat dengar percakapan para prajurit tadi kan? Tentu saja, kita sedang berada di Jepang sekarang. Tepatnya tanggal 15 september seribu enam ratusan," Jelas Halilintar lagi.
"J-jepang?! Kenapa bisa sampai sejauh itu?" Kaget Yaya.
"Sstt! Pelankan suara mu, mereka masih mencari kita," Bisik Halilintar dan dibalas gumaman 'maaf' dari Yaya.
Halilintar menghela napas lalu berjalan menuju jendela terdekat, hendak memeriksa keadaan sekitar.
"Tampaknya sudah aman…tapi tetap tidak akan menjamin keselamatan kita bila keluar sekarang. Jadi sebaiknya kita berlindung disini dulu sampai pagi tiba," Ucap Halilintar.
Yaya memasang jam kuasanya pada pergelangan tangannya kemudian mengaktifkannya sekalian melihat pukul berapa sekarang.
"Jam 2…subuh?" Yaya mengernyit bingung melihat waktu yang tertera di jam kuasanya.
"Jam 2 subuh di Pulau Rintis. Jam milik mu masih menggunakan waktu Malaysia," Ucap Halilintar.
"Kalo begitu, apa kau tau jam berapa sekarang?" Tanya Yaya berharap Halilintar telah merubah waktu jam kuasanya dengan waktu Negeri Sakura tersebut meskipun Yaya sendiri tidak tau bagaimana caranya.
"Aku belum menyetelnya…tapi jika di Pulau Rintis sekarang pukul 2 subuh. Kemungkinan disini sudah pukul 3," Ucap Halilintar.
"Oh…ngomong-ngomong, kita di Jepang sekarang kan? Sebenarnya apa yang terjadi disini?" Tanya Yaya.
"Dari yang aku dengar dari pembicaraan para tentara tadi…sepertinya peperangan ini terjadi untuk memperebutkan kekuasaan dalam pemerintahan Negara. Dan juga…kini kita sedang berada di tahun seribu enam ratusan…yang berarti sekarang masih Sengoku Jidai," Jawab Halilintar.
"Sengoku…Jidai?" Yaya memiringkan kepala bingung.
"Lebih tepatnya Era Sengoku. Zaman dimana Oda Nobunaga berkuasa bersama Toyotomi Hideyoshi…sebelum akhirnya Nobunaga tewas dibunuh oleh kaki tangannya sendiri, Akechi Mitsuhide," Jelas Halilintar.
"Apa…Oda Nobunaga itu adalah orang yang berbahaya?" Tanya Yaya cemas.
"Begitulah…seingatku, di zamannya dia di juluki Demon King atau Raja Iblis. Jadi kurasa dia memang berbahaya," Jawab Halilintar tanpa sedikit pun merubah mimic wajahnya yang sama sekali tidak menunjukkan ekspresi itu.
"Tapi jangan khawatirkan itu. Oda Nobunaga sudah tewas saat ini…karena kita sekarang berada di tengah pertempuran Sekigahara," Ucap Halilintar lagi.
"Pertempuran Sekigahara? Jadi masih ada yang berperang setelah Oda Nobunaga tewas ya?" Tanya Yaya.
"Begitulah. Pertempuran Sekigahara atau Sekigahara no Tatakai adalah perang antara Ishida Mitsunari melawan Tokugawa Ieyasu dalam memperebutkan pemerintahan Negara. Ini terjadi setelah Toyotomi Hideyoshi wafat," Jelas Halilintar.
Yaya mengangguk-angguk paham, meski sempat heran bagaimana Halilintar sampai bisa mengetahui sebanyak ini padahal era Sengoku sendiri belum pernah-atau mungkin memang tidak akan dipelajari oleh mereka di Sekolah Rendah Pulau Rintis.
"Kemungkinan besar kita tidak akan bertemu dengan Ishida Mitsunari atau Tokugawa Ieyasu…tapi tetap saja keberadaan kita pasti akan ditemukan oleh mereka. Kurasa pasukan Tokugawa tadi berpikir kau adalah penyusup yang dikirim oleh pasukan lawan…aku juga sempat di tuduh begitu tadi," Ucap Halilintar panjang lebar.
"Jika sekarang sudah pukul 3 subuh…artinya kita akan menunggu disini selama sekitar 4 jam?" Tanya Yaya.
"Begitulah. Setidaknya sampai matahari terbit agar kita bisa lebih mudah bergerak," Jawab Halilintar yang masih menatap keadaan di luar yang tampak menyeramkan.
Yaya yang sudah tidak tau lagi mau membicarakan apa hanya memilih untuk diam sambil memikirkan cara untuk menghindari serangan dadakan dari para prajurit perang.
Meskipun memiliki kekuatan super, bagaimana pun yang akan mereka hadapi sekarang adalah tentara terpilih yang terdiri dari samurai ahli pedang dan ninja yang memiliki teknik dan gaya bertarung yang sulit di tebak.
Tentu saja memiliki kekuatan super tapi tidak memiliki pengalaman bertarung serius-Adu du tidak usah dihitung-hanya akan membuang-buang tenaga.
"O iya, sebaiknya kita tidak usah melawan mereka. Jika para tentara itu menemukan kita, yang harus kita lakukan adalah lari sejauh mungkin," Halilintar kembali bersuara.
"Eh? Kenapa?" Tanya Yaya bingung, padahal dirinya saat ini sedang sibuk memikirkan cara seandainya mereka akan melawan para tentara tersebut.
"Kita saat ini terjebak di masa lalu. Dan masa yang kita datangi ini adalah saat dimana salah satu peperangan paling bersejarah di Jepang terjadi. Jika kita mempengaruhi sedikit saja apa yang telah terjadi disini, sejarah bisa berubah. Dan itu tentu saja akan mempengaruhi Jepang-yang ironisnya hal itu disebabkan oleh orang yang bukan berasal dari Jepang atau pun Negara Asia Timur," Jelas Halilintar.
"Aku mengerti. Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa tau sebanyak ini tentang peperangan di Jepang?" Yaya akhirnya menyuarakan hal yang terus berputar di pikirannya tersebut.
"Yah…belakangan ini aku agak ketagihan dengan game bertema peperangan Sengoku Jidai yang pernah di rekomendasikan Gopal dulu," Jawab Halilintar sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Yaya hanya tersenyum menanggapinya.
Tentu saja yang Halilintar maksud 'aku' pada pernyataannya tadi adalah Boboiboy.
Tapi tetap saja, melihat Halilintar yang merupakan elemen paling pemarah dan ambisius itu berbicara seperti tadi benar-benar sesuatu yang langka.
"Emm…Halilintar, jika hanya kita berdua yang terjebak di tempat ini…lalu apa yang terjadi pada yang lain? Terlebih lagi…kau juga terpisah sangat jauh dengan pecahanmu yang lain," Ucap Yaya dengan mata yang menatap Halilintar cemas.
Halilintar berbalik menatap Yaya masih dengan wajah tanpa ekspresi, "Itu bisa dipikirkan nanti. Tapi jika memang benar akan berdampak, seharusnya itu sudah daritadi. Karena sekarang sudah lebih dari 3 jam semenjak kami terpisah dan belum ada tanda-tanda aku melupakan sesuatu. Seharusnya itu sudah terjadi daritadi mengingat jauhnya jarak kami satu sama lain sekarang," Jelas Halilintar.
Yaya mengangguk paham, entah sudah berapa pertanyaan yang dia lontarkan pada temannya yang bertopi hitam-merah tersebut, Halilintar menjawabnya dengan panjang lebar, sedikit mengingatkan Yaya pada Gempa yang sekarang Yaya tidak tau ada dimana.
~0~0~0~
"Hish! Sialan si Boboiboy itu. Padahal aku sudah menyerang mereka semua dengan senjata ku, tapi kenapa tidak semua dari mereka yang terkena serangannya?" Rutuk seorang (atau seekor?) alien hijau berkepala kubus yang terdapat memar disekitar wajah tanpa hidungnya, serta perban yang membungkus atas kepalanya yang terdapat sedikit benjolan.
"Sudahlah Incik Boss. Setidaknya pecahan Boboiboy yang lain ada di dimensi lain, jadi mungkin mereka akan hilang ingatan," Hibur sebuah robot berbentuk piring terbang berwarna ungu.
"Benar juga sih…tapi kita sudah membeli senjata mahal ini, tapi hasilnya tidak begitu memuaskan," Incik Boss atau lebih sering di panggil Adu du masih menggerutu.
Sang robot pendamping, Probe teringat akan perkataan Bago go, si alien penjual senjata haram yang entah sudah berapa kali menipu mereka itu, tentang senjata yang baru dibeli mereka ini.
Memang, berkat kartu Plutonium pemberian Ibu Adu du, kini harga di toko senjata Bago go tidak lagi menjadi masalah. Tetapi tetap saja, mereka-lebih tepatnya Probe masih sering tertipu atau salah membeli senjata yang mengakibatkan kekalahan telak mereka.
"Incik Boss, Bago go bilang padaku tadi, senjata itu masih harus disempurnakan," Ucap Probe.
"Apa? Kapan dia bilang begitu?" Kaget Adu du.
"Hmm…setelah Incik Boss kegirangan dan berlari keluar sambil berteriak 'Akan kuhapuskan kau, Boboiboy!'…kurasa," Jawab Probe sambil menirukan kalimat andalan bossnya tersebut.
"Tch! Kalo begitu apanya yang harus disempurnakan?" Tanya Adu du.
"Seingatku sih, senjata yang Bago go berikan itu bukan sepenuhnya senjata. Itu semacam…alat teleportasi portable yang dapat memindahkan seseorang ke dimensi lain," Jelas Probe.
"Hah?! Jadi mereka masih hidup?!" Kaget Adu du.
"Begitulah…tapi kurasa mereka saat ini sedang ada di belahan dunia lain…bahkan bisa juga dunia lain. Dan kemungkinan mereka bisa kembali kesini sangat kecil," Jelas Probe lagi sedikit takut kalau bossnya itu akan melemparinya dengan gelas lagi.
"Hmm…boleh lah. Setidaknya mereka terjebak di dunia lain sekarang. Tapi aku harus tetap menyempurnakan senjata ini, dan kemudian kembali ke kedai Tok Aba dan melenyapkan Boboiboy Gempa!" Seru Adu du penuh ambisi.
"Kalo begitu, kita hubungi Bago go sekarang saja, Incik Boss," Usul Probe yang ikutan bersemangat.
"Hmm…ide bagus!" Adu du beralih menuju monitornya dan mulai menghubungkan kontak dengan alien penjual senjata haram tersebut.
Kedai Tok Aba
Tok Aba dan Boboiboy Gempa-yang merupakan satu-satunya Boboiboy yang selamat dari serangan senjata Adu du tersebut-terdiam mendengar penjelasan sang Sfera kuasa berwarna kuning tersebut.
"Tunggu dulu…maksudmu…dimensi, ruang dan waktu itu…apa?" Tanya Gempa.
"Hmm…seperti teman-temanmu beserta keempat pecahanmu yang lain itu di pindahkan ke dimensi lain. Atau mungkin waktu yang lain, seperti masa depan atau masa lalu," Jelas Ochobot.
"Hah?! Itu jauh sekali! Bagaimana nasib pecahan-pecahan Boboiboy yang lain kalo begitu?!" Tok Aba mulai berteriak panik.
"Entahlah, Tok…jika memang seperti itu, artinya mereka akan sulit di hubungi," Jawab Gempa cemas.
"Apa ada cara untuk menyelematkan mereka?" Tanya Tok Aba.
"Mungkin satu-satunya cara adalah dengan menggunakan mesin teleportasi Adu du tadi. Aku tidak sempat memindai mesin itu, tapi sekilas aku merasa mesin teleportasi itu masih belum sempurna. Jadi kemungkinan kita bisa bertemu lagi dengan yang lain itu sangat kecil," Jelas Ochobot yang semakin membuat Tok Aba panik.
"Bagaimana ini? Kalo cucu Atok hilang ingatan lagi bagaimana?" Ucap Tok Aba cemas.
"Jangan khawatirkan itu, Tok. Buktinya aku masih bisa mengingat kalian. Ini sudah cukup lama…tapi aku belum melupakan apapun, jadi aku rasa Halilintar, Taufan, Blaze, dan Ais juga mungkin tidak mengalami hilang ingatan," Ucap Gempa sambil mengelus tangan Atoknya yang mulai berkeringat.
"Jadi, Gempa…apa rencanamu?" Tanya Ochobot.
"Aku sebenarnya tidak mau melakukan ini…tapi aku rasa aku harus menemui Adu du untuk hal ini," Ucap Gempa serius.
~0~0~0~
"Uhuk…uhuk…apa…yang…tunggu dulu…dimana ini?!" Seorang gadis berwajah oriental dengan kacamata bulat dan bando kuning yang menghiasi kepalanya berteriak panik.
"Uh…Ying? Kau kah itu? Kau baik-baik saja?" Seorang laki-laki bertopi biru miring menyambung dengan lirih karena terjatuh dengan punggung mendarat duluan.
"Taufan! Syukurlah…kita saat ini dimana?" Gadis Cina yang dipanggil Ying itu menjawab lega.
"Entah…tapi aku rasa ini bukanlah Malaysia…karena aku pikir hutan di Malaysia tidak seperti ini," Jawab Boboiboy Taufan sambil mengelus punggungnya.
"Kau benar…" Ying menebarkan pandangannya ke seluruh sudut hutan asing tersebut.
"Entah kenapa…aku merasa sangat kecil deh setelah melihat hutan ini," Gumam Taufan setengah bercanda. Tapi memang benar, karena pohon-pohon yang mengelilingi mereka rata-rata adalah pohon berbatang lurus dan lebar, dengan tinggi paling kurang 10 meter, dan dedaunan yang lebat, hingga hampir menghalangi bias cahaya matahari yang mungkin sekarang sudah hampir berada di ufuk barat.
"Dimana pun ini, firasatku bilang tempat ini bukanlah tempat yang aman. Kita harus pergi, Taufan," Ucap Ying cemas.
"Ah…aku mengerti. Ini pasti kerjaannya si kepala dadu itu. Haah~aku heran, nggak punya kerjaan lain kali ya, sampai gangguin kita mulu," Desah Taufan yang akhirnya sudah bisa mengatasi sakit pinggungnya.
"Tidak ada waktu untuk mengeluh. Kita masih harus…," Ying tidak jadi melanjutkan kata-katanya.
"Kenapa, Ying? Ada yang salah?" Tanya Taufan yang ikut merasa cemas.
"Hey…kau tidak merasa ada yang aneh…?" Tanya Ying pelan.
"Aneh…?" Taufan terdiam.
Keduanya pun tidak bersuara dalam beberapa menit, dan saat itulah Taufan bisa merasakan getaran aneh yang membuat tubuhnya ikut terguncang.
"Apa yang terjadi? Jangan bilang ada gempa bumi, atau memang golem tanahnya Gempa ada disini," Ucap Taufan gemetar.
"Aku tidak tau…dan sepertinya tidak mau tau…" Jawab Ying semakin takut karena getaran tanah itu terasa semakin kuat dan dekat.
Suara getaran itu lama kelamaan terasa semakin dekat, dan suara dentumannya juga semakin jelas memasuki pendengaran kedua superhero cilik tersebut.
"T-taufan…a-apa yang akan k-kita lakukan…?" Tanya Ying ketakutan.
"Untuk sekarang tenang dulu. Aku akan mencoba untuk-"
SRAK!
Suara dedaunan dari pohon yang tingginya tidak wajar itu tersibak, dan Taufan juga Ying kini bisa melihat jelas sesosok makhluk yang daritadi menyebabkan bumi bergetar itu.
"Hiii! Apa itu?!" Ying sontak langsung bersembunyi di belakang Taufan yang kini mematung menatap sesosok asing bertubuh lebih tinggi dari pohon itu, sedang menatap keduanya dengan tatapan yang aneh, sulit diartikan.
Awalnya hanya kepala dan wajahnya yang terlihat, namun kini makhluk berukuran kira-kira 15 meter itu berjalan menerobos pepohonan dan kini tampaklah seluruh tubuhnya yang tampak sangat aneh sekaligus menjijikan, karena makhluk itu mirip dengan manusia pada umumnya, tetapi tidak memiliki kulit, tidak berbusana, dan tidak memiliki kemaluan.
Makhluk besar tersebut menatap Taufan dan Ying-yang kelihatan seperti tikus-tersebut dengan intens.
Ying semakin gemetaran, sedangkan Taufan menelan ludahnya paksa melihat keseraman raksasa di depannya yang bahkan lebih besar dibandingkan golem tanah Gempa tersebut.
"Y-ying…aku beri tanda, kita bergerak perlahan ya…satu, dua, ti-"
"HWAAA! TOLONG!"
Ying dengan kecepatan supernya langsung lari melewati si raksasa yang masih dalam keadaan cengo, meninggalkan Taufan yang kini melongo bodoh dengan jari membentuk 'peace'.
Raksasa tersebut menoleh ke arah larinya Ying tadi, sebelum kembali menengok ke arah Taufan dengan wajah yang lebih mengkerut.
"A-anu…maafkan kelancangan temanku…" Ucap Taufan kikuk dengan tangan gemetar.
Tepat setelah itu, raksasa tersebut mengaum lalu dengan cepat menghantamkan tangan kirinya ke arah Taufan yang dengan cepat juga menghindar sehingga yang dihancurkan raksasa tersebut adalah tanah dan dahan pohon di sekitaran Taufan.
Raksasa itu kembali menggeram dan terus mencoba untuk menangkap Taufan yang kini sudah terbang menjauh dengan hooverboardnya.
"Duh, dimana Ying sekarang sih? Kan kalo dia tertangkap bisa ngerepotin…" Desah Taufan panik.
Dengan cepat, Taufan terbang menuju arah kaburnya Ying tadi, dengan mata yang terus memperhatikan setiap sudut hutan yang bisa dicapai penglihatannya, dan ngomong-ngomong makhluk raksasa tadi masih berusaha untuk menangkap Taufan bagai manusia yang mencoba menangkap lalat.
"Ah! Ketemu!" Taufan dengan lincah meluncur turun dengan hooverboardnya ke arah sebuah batang pohon yang memiliki lubang yang cukup besar. Dan di dalam lubang tersebut, ada Ying yang sedang duduk meringkuk dengan tubuh gemetar.
Taufan turun tepat membelakangi Ying. Melihat Ying yang meringkuk ketakutan seperti kucing yang tersiram air itu, sisi jahil Taufan pun bangkit.
Pelan-pelan tapi pasti, Taufan mengendap-endap mendekati sahabat Cina nya tersebut-yang entah kenapa sama sekali tidak menyadari keberadaan dirinya.
Setelah berada cukup dekat, Taufan pun menjulurkan tangannya kemudian…
"Boo!"
"Hwaa!"
Ying sukses ambruk, sedangkan Taufan tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.
"Taufan! Itu sama sekali tidak lucu!" Bentak Ying dengan mata merah karena hampir menangis.
"Hahaha! Itu salahmu sendiri, kan aku bilang tunggu aba-aba dariku baru kita bergerak. Eh, kau malah langsung lari kayak orang kesetanan begitu. Padahal tadi ketika aku terbang dengan hooverboard, aku bisa melihat kalo lokasi kita tadi cukup dekat untuk kabur keluar hutan," Jelas Taufan.
"Huh…iya deh, maaf. Habis aku tadi panik sekali…" Ucap Ying sambil menundukkan kepalanya.
"Hmm, sudahlah. Ngomong-ngomong, kurasa makhluk aneh tadi tidak berhasil menemukan ku," Sahut Taufan sambil mengalihkan tatapannya.
"Ah yah…Taufan, kurasa makhluk seperti tadi itu tidak hanya satu saja. Perasaanku bilang, mereka ada lebih…bahkan, mungkin saja ini tempat tinggal mereka," Ying mengeluarkan opininya.
"Kurasa kau benar. Untuk sekarang kita cari tau dulu cara untuk keluar dari hutan ini," Ucap Taufan yang akhirnya berbicara serius.
Ying membalasnya dengan seulas senyum dan anggukan kepala, namun kemudian senyum itu sirna begitu merasakan getaran tanah untuk yang kedua kalinya.
"S-sial…sepertinya mereka mendekat!" Ucap Ying panik.
"Oke, kali ini kau dengarkan aku. Kita lari ke arah sana, karena kurasa tadi itu adalah jalan kita menuju kesini. Jadi kita keluar perlahan dulu," Ucap Taufan. "U-um…baiklah," Jawab Ying sedikit gugup.
BRAK!
Sesuai dugaan, makhluk raksasa itu kini muncul lagi.
Tapi kali ini dia tidak sendirian, karena kini raksasa tersebut bersama dengan sesosok makhluk sejenis yang sedikit lebih pendek, dengan rambut panjang dan gigi yang terlihat-atau lebih tepatnya tidak memiliki bibir.
"Hiii! Dia membawa temannya!" Ying berteriak histeris.
"Baiklah…Ying, kurasa jika kau gunakan kecepatan larimu saja tidak akan menjamin kita tidak akan tertangkap. Sekarang, naiklah ke hooverboardku dan pegangan yang erat," Komando Taufan.
Ying tidak melakukan apapun selain menurut, dan dengan perlahan memindahkan kedua kakinya ke hooverboard milik Boboiboy pengendali angin tersebut.
Salah satu dari dua raksasa tersebut bereaksi, dan kemudian bergerak untuk meraih Taufan dan Ying dengan tangan besarnya, diikuti raksasa satunya yang lebih kecil.
"Yosh! Ini saatnya, pegangan yang erat ya," Itulah ucapan terakhir Taufan sebelum menerbangkan hooverboardnya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan para raksasa yang berteriak mencoba menangkap mereka.
Taufan pun menaikkan hooverboardnya hingga ketinggian lebih dari 20 meter, karena firasatnya berkata bahwa dengan tinggi ini kemungkinan dirinya dan Ying untuk keluar dari hutan dengan selamat akan lebih besar.
"Kita harus cepat Taufan, sebelum kita dimakan!" Seru Ying dengan suara yang timbul tenggelam akibat deru angin yang deras.
"Aku mengerti-tunggu dulu, bagaimana kau tau kalo mereka akan memakan kita?" Tanya Taufan.
"Aku sempat melihat ada mayat manusia setengah badan tidak jauh dari lokasi pertama kita tadi. Itulah yang membuatku merasa sangat takut," Jawab Ying sambil menguatkan cengkramannya pada lengan jaket Taufan.
"Ck! Sudah kuduga mereka berbahaya," Decih Taufan.
Ying terdiam sebentar karena tidak tau lagi harus mengatakan apa, dan hanya terus mencengkram jaket Taufan agar tidak terjatuh.
"Hmm…setelah semua ini, aku pikir sepertinya kau bisa juga serius seperti Halilintar dan Gempa ya," Komentar Ying setelah hampir 10 menit terdiam.
"Hah? Apa?!" Tanya Taufan karena suara Ying sebelumnya terhalang suara deru angin.
"Ah…aku hanya mau bilang…" Ekspresi Ying yang tadi tampak tenang, kini kembali tegang dan panik.
"TAUFAN! DI DEPAN!"
Taufan yang terkejut dengan teriakan tiba-tiba Ying itu langsung menoleh ke depan dan dengan sigap menghindar dari mulut raksasa ukuran 15 meter yang melompat dari pohon.
Karena terlalu terkejut, Taufan kehilangan keseimbangannya dan akhirnya jatuh di antara dedaunan pohon sebelum akhirnya mendarat di tanah.
"Taufan, kau baik-baik saja?" Tanya Ying cemas Karena barusan bocah bertopi biru tua tersebut sempat tergores ranting pohon di bagian wajah.
"Uhh…aku tidak apa-apa…tapi sepertinya hooverboardku tidak bisa digunakan untuk sementara…" Jawab Taufan sambil memandangi hooverboardnya yang kipas angin (maaf saya lupa apa namanya) di bawah hooverboard yang kini tertutup lumpur dengan miris.
Setelah itu, keduanya pun terdiam karena kali ini mereka di datangi 3 raksasa sekaligus.
Dua dari mereka berukuran 15 meter, dan satu lagi berukuran sekitaran 12 meter.
Ying dengan cepat mendekatkan dirinya dengan Taufan karena ketakutan melihat salah satu raksasa ukuran 15 meter tersebut tampak lebih menyeramkan, dengan sepasang telinga runcing mirip kurcaci, mata hijau yang tajam, rambut bergaya emo yang berantakan, dan gigi-gigi besar yang terlihat jelas di wajah raksasa tidak berbibir tersebut.
"T-taufan…apa yang akan kita lakukan…?" Bisik Ying dengan suara tercekat.
Taufan sendiri tidak menjawab, karena juga ketakutan dengan tiga raksasa di depannya.
Dua dari mereka mulai bergerak maju, dan Ying reflek memeluk lengan Taufan dan menutup matanya rapat-rapat sedangkan Taufan sendiri masih diam mematung dengan mata yang tak sedikitpun berkedip.
Namun, yang terjadi selanjutnya adalah di luar prediksi mereka.
Ketika mendengar suara kasak-kusuk dan batang pohon yang hancur, Ying perlahan membuka matanya, dan syok melihat dua raksasa kini jatuh tersungkur di dekat dahan pohon yang hancur dengan kondisi yang mengenaskan.
Yaitu kepala keduanya lenyap-terlempar entah kemana-dan terdapat uap asap yang asing disekitar tubuh mereka, seperti air panas yang menguap.
"A-apa yang terjadi?" Tanya Ying tidak percaya.
"Taufan?" Ying menatap bingung teman bertopi birunya yang masih diam tak berkata apapun itu.
"Taufan, kau melihatnya kan? Apa yang terjadi?" Desak Ying.
"M-mereka diserang…" Taufan akhirnya bersuara.
"Diserang? Oleh siapa?" Tanya Ying lagi.
Taufan tidak menjawab, dan hanya menunjuk satu-satunya raksasa yang tersisa-raksasa berambut emo dengan telinga runcing, tengah berdiri dengan tangan terkepal dan salah satu tangannya terulur, seperti habis memukul sesuatu.
"Jangan bilang…raksasa itu menyerang sesamanya?" Kaget Ying.
"Ah…begitulah yang aku lihat. Kau harusnya tidak menutup matamu karena tadi itu keren sekali," Sahut Taufan yang mulai kembali normal.
Raksasa tersebut diam sebentar, lalu merubah posisinya kembali menjadi biasa, dan tubuhnya yang tadi menyamping kini menghadap sepenuhnya ke arah Taufan dan Ying.
Ying kembali mencengkram erat lengan Taufan, sedangkan sang pemilik lengan sendiri hanya tersenyum, "Ying, sepertinya dia berbeda dengan raksasa yang kita temui sebelumnya," Ucap Taufan yakin.
"Eh?" Belum sempat Ying bertanya, kali ini muncul sosok lainnya dari balik asap mayat raksasa-yang Taufan yakini bahwa sosok itu adalah manusia.
Dan benar, sosok yang keluar dari balik asap tersebut adalah seorang pria (dengan tinggi yang mungkin tidak jauh berbeda dengan tinggi anak SMP) memakai pakaian yang cukup aneh, yaitu sepatu boot berwarna cokelat, celana berwarna cokelat muda dengan tali pengikat berwarna hitam di bagian paha, di pinggang kanan dan kiri terdapat benda asing berbentuk persegi panjang berwarna abu-abu, dan juga sebuah jubah berwarna hijau tua menutupi pakaian atas yang dipakai pria itu. Di kedua tangannya juga terdapat senjata yang mirip gabungan pedang dan pisau cutter.
"S-siapa…?" Gumam Ying.
"Oy, bocah, apa yang sedang kalian lakukan di hutan berbahaya ini sendirian, huh?" Pria asing tersebut berucap dengan suaranya yang datar dan dingin.
Taufan dan Ying hanya bisa diam.
Keduanya terjebak di dunia asing penuh makhluk berukuran lebih dari 10 meter, dan juga pemakan manusia, lalu bertemu dengan salah satu dari makhluk tersebut yang malah menyelamatkan hidup mereka, dan kini mereka bertemu dengan manusia-yang entah berapa umurnya-asing yang kini menatap mereka dengan dingin.
Dan yah…kali ini harus Taufan akui, hal yang dia alami ini sungguh tidak akan pernah dia jadikan bahan lelucon atau bahan untuk menjahili Halilintar.
T
B
C
Berakhir dengan sangat tidak jelas. Hah…maaf atas plotnya yang ga bener, minna-san…udah lama update, chapter kali ini pun benar-benar tidak memuaskan sama sekali…*sigh* okay, saya sudah dapet untuk plot di chapter berikutnya. Readers yang minat sama filmnya mungkin sudah bisa menebak di dunia mana Taufan dan Ying terperangkap sekarang *wink!* *di bantai* all right, saya mau bales review dulu ya~
Hafila
Terima kasih sudah menunggu dan mereview, ini udah ada lanjutannya semoga memuaskan ya~!
Delia Angela
Ini udah lanjut. Thanks udah review~!
Famelshuimizu chan
Chapter dua udah selesai! Maaf lama ya. Terima kasih atas review nya!
Lily
Thanks for waiting! I hope you like this new one! ^^
Guest
New chapter is up! Thanks for review!
Twilight
Ehm, okay…berdasarkan informasi yang saya peroleh(?) di official twitter Boboiboy dan trailer Boboiboy the movie, evolusi Api memang lava, tapi sebutannya Blaze…hmm, mungkin juga karena kedengarannya lebih keren yak? *di tendang* dan soal evolusi Air, juga sama saya peroleh dari trailer Boboiboy the movie. Air evolusinya Es atau Ice, tapi karena saya pake sebutan bahasa Melayu, jadi tulisannya Ais deh. Sudah mengerti kah? Maaf atas penjelasan gaje saya. Ini udah lanjut, terima kasih sudah mereview~!
Melia
Ah, terima kasih yah sudah mereview! Semoga suka chapter yang ini ya! ^^
Dindha
Yep! Saya juga sama, suka genre adventure, tapi maaf kalo fic ini abal soalnya belum pengalaman nulis cerita adventure sebelumnya. Lanjutannya sudah ada nih, terima kasih sudah review ya!
DMTS
Hmm…hmm…Adu du itu memang hobinya nyusahin Boboiboy dkk mulu, ah…ini udah lanjut. Thanks for review!
IceCandy03
Duh, maaf ya atas keterlambatan update. Tapi sekarang sudah ada, jadi silahkan dibaca! Terima kasih sudah mereview ya! ^^
Princess04
Chapter 2 sudah di publish! Thanks for review!
Felisitasmo
Yep! Chapter ini udah mulai masuk dunia lain, meski yang muncul baru Halilintar&Yaya serta Taufan&Ying, dan juga adegan bertarung belum ada di chapter ini. Ngomong-ngomong MLP itu apa? Kalo saya tau mungkin akan saya pertimbangkan untuk dimasukkan ke fic ini. Okay, thanks udah review! ^^
Ruka
Ini lanjutannya udah di publish. Maaf atas keterlambatannya ya! Dan terima kasih atas reviewnya!
Okay, saya nggak yakin bisa update cepat, tapi akan saya usahakan untuk update. Baiklah, saya Harukaze Kagura undur diri dulu, jaa matta ne~!
Review please~
