Polaris

Cast: BTS Suga, J-Hope, Rap Monster, Jin, Jungkook

Rate: T

Warn: OOC, serius OOC.

Note: A/B/O tapi bukan Wolf!AU, Omega!Yoongi, Beta!Hoseok, Beta!Namjoon, Alpha!Jin, Alpha!Jungkook. Mungkin bisa dibilang agak membahas A/B/O, tapi mungkin tidak.

XXX

Jungkook punya hidung yang sensitif. Debu dan serbuk sari adalah contoh dari beberapa hal yang menyulitkan Jungkook karena bisa membuatnya pilek mendadak, tapi ketika dia tidak pilek indera penciumannya sangat tajam.

Setiap orang punya bau yang berbeda beda dan Jungkook bisa mengenali orang dari bau itu. Kadang bau itu tidak bisa dideskripsikan dan cuma bisa Jungkook sebut dengan 'bau seseorang'.

Contohnya saat ini, Jungkook sedang naik sepeda dengan santai ke rumah, dia fokus pada jalan tapi hidungnya mencium bau seorang gadis; rumahnya tidak jauh dari rumah Seokjin dan lebih muda dari Jungkook. Jungkook langsung menambah kecepatan sebelum gadis itu menyapanya.

"Siang, Oppa!"

Jungkook tidak berbalik ke belakang ke arah gadis itu, dia terus mengayuh sepedanya menuju rumah.

Rumah yang dia tinggali adalah rumah milik Kim Seokjin, baunya seperti makanan dan asap, karena memang lantai satunya adalah restoran. Lantai duanya baunya sudah lebih seperti manusia.

Jungkook masuk lewat pintu belakang yang langsung tembus ke dapur, memarkir sepedanya asal asalan di depan pintu bersama beberapa sepeda yang lain.

"Hyung! Aku lapar!" Serunya.

Seokjin datang, masih pakai celemek, "Harusnya kau itu salam dulu, jangan langsung minta makan." Katanya. Jungkook cuma terkekeh, Seokjin cerewet mirip ibu ibu. Baunya hari ini seperti makanan dan itu membuat Jungkook makin lapar, tapi dibalik bau makanan asin itu Jungkook bisa mencium bau Seokjin yang sangat Seokjin, bau yang seperti menempel di tembok lantai dua dan walaupun Jungkook sudah lama tinggal dengan Seokjin tapi bau Seokjin masih dominan di rumahnya.

Sebenarnya bau yang ada di rumah bukan bau Seokjin dan Jungkook saja, ada bau Hoseok juga; tipis karena dia jarang di rumah, ada bau Yoongi juga, dan ada bau Namjoon juga yang mengingatkan Jungkook pada kayu dan buku.

Jadi, begitu Jungkook mencium bau yang mirip seperti bau kayu dan buku dia tahu Namjoon juga pulang siang ini.

"Aku pulang." Namjoon menenteng tas dan pakai setelan jas. Dia duduk di meja makan yang ada di dapur, di ssbelah Jungkook duduk, "Bagaimana kelasmu hari ini, Kook?"

"Biasa, Hyung. Membosankan."

Dua piring nasi goreng muncul di depan mereka, Seokjin yang membawanya, "Hari ini adanya nasi goreng karena Yoongi minta nasi goreng."

Namjoon dan Jungkook dua duanya tidak ada yang protes karena mereka kelaparan dan bersedia makan apapun yang Seokjin siapkan.

Bau nasi gorengnya seperti nasi goreng kimchi dengan tuna, sesuatu yang enak dan sesuatu yang sering Yoongi minta akhir akhir ini.

Indera penciuman Jungkook dipenuhi bau nasi goreng, tapi karena dia sangat sensitif jadi Jungkook masih bisa menangkap bau lain; bau Seokjin, bau Namjoon, dan bau Hoseok.

Pintu tiba tiba terbuka, Hoseok datang dengan terburu buru, baunya seperti sesuatu yang segar, jadi Jungkook suka suka saja, kalau divisualisasikan bau Hoseok punya kesan yang sama dengan matahari terbit di hari Minggu, santai dan segar, tapi -Jungkook bingung menjelaskannya, mungkin anggapan kalau Hoseok sama dengan matahari terbit di hari Minggu banyak dipengaruhi karena Hoseok paling sering ada di rumah di hari Minggu, jadi Jungkook sering mencium baunya di hari itu.

Seokjin panik, "Kenapa pulang sekarang? Kantormu kan jauh, Hoseok."

"Kotak bekalku ketinggalan." Kata Hoseok.

Kotak bekal itu ada di hadapan Jungkook dan Namjoon, Jungkook tahu bukan karena kotak itu berbau seperti Hoseok, tapi karena Jungkook hapal kotak bekal ini adalah kotak bekal Hoseok, lagipula siapa juga yang masih bawa bekal kecuali Hoseok.

"Hyung, ini." Jungkook menunjuk kotak bekal di hadapannya.

"Oh, makasih, Kook. Aku pergi, ya."

"Iya, sana cepat, jangan sampai istirahat siangmu habis di jalan." Kata Seokjin, panik dan berisik seperti ibu ibu.

Jungkook paham Seokjin jadi seperti itu karena dia yang paling tua, dia kakak semua orang dan dialah yang harus memastikan kalau adik adiknya baik baik saja. Jadi Jungkook melanjutkan makan dengan tenang.

"Ada Hoseok?"

Jungkook tidak menjawab, dia cuma melirik pada siapa yang bertanya; Yoongi.

Namjoon minum dulu sebelum bicara, "Tadi pulang sebentar soalnya bekalnya tertinggal."

Yoongi cemberut.

Seokjin datang, menarik kursi dan mendudukan Yoongi di kursi itu, "Kan sudah aku bilang jangan turun, aku baru mau bawa jatah makanmu ke atas. Kalau kau jatuh dan terjadi sesuatu yang tidak kita berdua inginkan, aku yang paling sedih."

"Iya, Hyung. Aku cuma mau bertemu Hoseok tapi dia sudah pergi lagi." Kata Yoongi.

"Kau bisa bertemu Hoseok nanti, sekarang makan dulu." Kata Seokjin, dia membawa nampan yang berisi sepiring nasi goreng ke hadapan Yoongi.

Dan Yoongi malah bilang, "Hyung, kira kira es krim cokelat tapi warna pink ada tidak, ya?"

Jungkook berusaha tidak tersedak, apalagi tertawa. Bisa kena damprat dia, apalagi sekarang Yoongi pindah ke samping Jungkook, jadi Jungkook duduk diapit Yoongi dan Namjoon.

"Kenapa?" Tanya Yoongi, dia mungkin sadar muka Jungkook jadi aneh.

"Tidak." Kata Jungkook, dia optimis Yoongi itu menyayanginya jadj dia tidak mungkin kena damprat, "Bau Hyung seperti bayi.

Yoongi tersenyum, bahasan tentang bayi selalu membuatnya jadi lunak akhir akhir ini.

XXX

Note(Pertanyaan): Ada yang berpikir sama denganku tentang Yoongi dan siapa polaris-nya? Juga soal keadaan Yoongi di chapter ini?

Note: sebenarnya ini penjelasan yang tidak jelas soal chapter sebelumnya.

XXX

(+)

XXX

Bau bayi dari Yoongi adalah bau yang menyenangkan, lembut dan membuat tenang, dan membuat Jungkook ingin menjaga Yoongi. Maka Jungkook pikir normal kalau tadi Jin seprotektif itu pada Yoongi.

Makanya begitu muncul bau orang lain, Jungkook langsung merangkul Yoongi; memastikan Yoongi aman aman saja dari orang lain yang tidak dekat dengan Yoongi.

Katakanlah Jungkook terlalu menuruti instingnya. salahkan Yoongi soal itu.

pintu terbuka lagi, salah satu pegawai Seokjin datang sambil membawa belanjaan. Dia panik, pasti ada sesuatu, "Jungkook, sepedamu dibawa lari orang."

"Apa!?"

Jungkook punya hidung yang sensitif, tapi tingkat ketajaman penciumannya juga ada batasannya.