Gladiolus92 presents...
Sequel of 'Terbiasa Tanpamu':
©(Tidak) Terbiasa Tanpamu
Genre: Hurt, Romance
Rate: K
Disclaimer: All cast isn't mine
YAOI | ONESHOT | NON AU | TYPO(s) | DLDR| NO PLAGIARISM!
Summary:
Ia benar. Ia memang sudah terbiasa tanpa diriku. Tapi masalahnya adalah, aku tidak terbiasa tanpa dirinya...
Seluruh lampu di tempat ini sudah padam semenjak aku menginjakkan kaki disini. Tanda bahwa penghuni tempat ini sudah berada dalam peristirahatan mereka masing-masing.
Setelah melepas alas kakiku dan meletakkannya di rak sepatu yang ada di beranda, aku berjalan pelan memasuki tempat ini.
Aku memang harus berjalan dengan hati-hati karena tempat ini sangat gelap, dan aku tidak ingin menyalakan lampu. Aku sudah terlalu lelah karena jadwal hari ini, dan aku sangat ingin tidur. Ini sudah pukul satu pagi, kalau kalian ingin tahu.
Sambil meraba-raba tembok saat berjalan, aku akhirnya tiba di depan pintu sebuah kamar yang kuyakini sebagai kamarku. Kamar yang kutempati bersama dua roommate-ku di dorm ini.
Dengan sangat pelan, aku menggerakkan handle pintu kamar itu, lalu dengan pelan pula mulai mendorong pintu itu supaya terbuka. Pintu baru terbuka sedikit ketika aku mendengar suara tawa yang begitu familiar di telingaku.
Akhirnya aku melihat dari celah pintu yang sedikit terbuka itu. Rupanya lampu di kamar masih menyala. Tanda bahwa penghuni kamar itu belum terlelap.
Mataku kini bisa melihat dua sosok yang tadi suara tawanya menyergap telingaku. Aku melihat sosok Chanyeol hyung dan Jongin sedang berbaring di atas ranjang mereka masing-masing dengan kepala yang saling berhadapan. Dua teman sekamarku itu saling bercerita dan tertawa.
Saling bercerita dan tertawa. Dua hal itu adalah dua hal yang biasa aku lakukan bersama Jongin sebelum tidur.
Ya, dua hal itu adalah kebiasaan kami, setidaknya sampai Jongin mengakhiri hubungan kami secara sepihak beberapa hari lalu. Aku tidak tahu tepatnya berapa hari. Pikiranku terlalu berkabut karena hal itu, dan aku masih belum percaya hubungan kami berakhir begitu saja.
Lamunanku terpecah ketika aku menyadari mata dua roommate-ku kini mengarah padaku. Chanyeol hyung tersenyum lebar padaku, sedangkan Jongin segera mengalihkan pandangannya ke arah si jangkung bermarga Park. Aku bisa mendengar bahwa mantan kekasihku itu berpamitan untuk tidur, dan Chanyeol hyung juga sepakat untuk tidur.
Chanyeol hyung setelahnya berpamitan padaku. Aku hanya bisa mengangguk kaku, dan lelaki tertua di kamar kami itu segera memejamkan mata.
Aku mendesah sedih ketika tak mendengar ucapan selamat malam dari Jongin. Lelaki yang usianya setahun lebih muda dariku itu langsung terlelap ke alam mimpinya begitu saja tanpa bicara padaku. Padahal dulu ia tidak bisa tidur tanpa mendengar suaraku, tapi kini semua sudah berubah.
Aku hanya bisa pasrah dan mulai berjalan memasuki kamar. Aku meletakkan ransel hitamku di atas kasurku, lalu berjalan menuju lemari baju. Mengambil pakaian ganti, lalu berjalan lagi menuju kamar mandi yang terletak di luar kamar tidur.
Sesampainya di dalam kamar mandi, aku langsung melucuti seluruh pakaianku, lalu berdiri di bawah guyuran shower yang membasahi seluruh tubuhku. Seharusnya aku merasa hangat karena guyuran air hangat ini, tapi nyatanya tidak. Aku masih merasa dingin.
Oleh karena itu, pada akhirnya aku memeluk tubuhku sendiri. Memejamkan mata, berusaha meresapi setiap tetes air hangat yang membuat tubuhku sepenuhnya basah.
Jongin benar. Kini ia memiliki Chanyeol hyung untuk saling bercerita sebelum tidur. Jongin bisa tertawa karena Chanyeol hyung begitu lucu dan menyenangkan.
Jongin benar. Ia kini sudah terbiasa tanpa diriku.
Tapi masalahnya adalah, aku tidak terbiasa tanpa dirinya...
Hari sudah malam ketika sutradara memberiku waktu istirahat. Sekarang mereka sedang mengambil gambar tanpa diriku. Sebelumnya aku sudah menjalani shooting selama beberapa jam untuk beberapa adegan, dan kini giliranku untuk break.
Jongin benar. Aku memang selalu memiliki waktu break disela proses shooting. Dan, waktu break itu juga bukan hanya beberapa menit. Minimal aku mendapat waktu break selama sepuluh menit, dan maksimal aku mendapat waktu dua jam. Kali ini waktu break yang kuperoleh adalah satu jam.
Kini aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Kenapa selama break aku enggan membalas pesan singkat dari Jongin? Kenapa pula aku tidak mau menjawab panggilan teleponnya? Padahal selama break aku selalu memegang ponselku. Iya, memegang ponselku dan sibuk chatting dengan orang lain selain Jongin.
Aku tahu. Aku yang salah. Aku yang sudah melukai perasaan Jongin. Ia sangat sering mengirimiku pesan yang menunjukkan perhatiannya. Ia sering bertanya padaku "Kau sudah makan belum, hyung?" atau "Jangan lupa minum vitamin yang sudah kubelikan, ya!"
Semua pesan itu aku abaikan begitu saja. Seolah kalimat yang sarat akan rasa perhatian itu tidaklah penting bagiku.
Aku akhirnya hanya bisa menghela nafas penuh rasa bersalah. Iya, ini adalah kesalahanku.
Saat ini aku duduk di atas single sofa yang ada di sudut ruangan. Lokasi shooting kami saat ini adalah di sebuah rumah, dan aku sekarang menempati ruang tamu karena ruangan ini sedang tidak dipakai untuk shooting.
Seperti biasa, aku sibuk dengan ponselku seolah dunia di sekitarku hanya abu-abu dan tak menarik bagiku. Mataku tak pernah lepas dari layar benda persegi panjang ini.
Biasanya aku sibuk chatting dengan orang-orang tertentu, tapi sekarang aku tak melakukan hal itu. Aku justru log in pada akun Twitter-ku, dan fokus pada timeline akun media sosialku itu. Ya, aku memang memiliki akun Twitter rahasia yang tidak diketahui oleh fans.
Di halaman timeline kini banyak foto dari fan site kami yang diambil dari acara Fan meet yang digelar oleh Lotte Pepero—yang sepertinya sudah usai beberapa menit atau beberapa jam yang lalu.
Hanya ada tiga member yang hadir di acara itu. Tiga member itu adalah Jongin, Joonmyeon hyung, dan Baekhyun hyung.
Dari foto-foto yang kulihat, Jongin tampak baik-baik saja di acara itu. Padahal Jongin dulu selalu merasa bosan tiap kali ia menghadiri acara fan sign ataupun fan meet. Ia selalu mencariku untuk menghilangkan rasa bosannya.
Tapi kali ini tidak ada aku disana, dan Jongin tetap terlihat baik-baik saja. Bahkan ia mau menyanyikan sebuah lagu. Sebuah lagu berjudul 'Love Me Again'. Sepertinya lagu itu ia nyanyikan untuk seseorang, dan aku yakin orang itu bukan aku. Aku sudah terlalu banyak menyakitinya, jadi untuk apa ia mengharapkan cintaku lagi?
Lagipula ia sudah bahagia. Di event itu ada Baekhyun hyung. Jongin bilang, Baekhyun hyung bisa membuat rasa bosannya hilang. Baekhyun hyung akan mengajaknya mengobrol, dan Jongin tidak lagi menginginkan kehadiranku di acara itu.
Benar. Jongin memang sudah terbiasa tanpa diriku.
Tapi masalahnya adalah, aku tidak terbiasa tanpa dirinya...
Hari-hari kembali berlalu, dan hari ini adalah waktunya bagi kami untuk pergi ke Chengdu. Kami memiliki jadwal konser solo disana.
Aku cukup senang hari ini karena aku bisa berangkat ke luar negeri bersama member EXO lainnya. Sudah beberapa kali aku tidak berangkat bersama dengan mereka, tapi hari ini manajer mengatur jadwalku supaya aku bisa pergi bersama member yang lain.
Seperti biasa, kami selalu berjalan dalam diam ketika memasuki bandara. Kami juga berjalan sendiri-sendiri supaya bisa menembus kerumunan fans. Kami tidak saling bicara karena suara fans terlalu keras, jadi sia-sia saja kalau kami ingin mengobrol. Lebih baik nanti saat di ruang tunggu saja kami baru mengobrol.
Dan benar saja. Setelah kami selesai check in, kami langsung berjalan menuju waiting room, dan kami segera mengobrol satu sama lain. Di tempat ini memang relatif sepi, tidak ada fans yang histeris meneriakkan nama kami.
Aku duduk di samping Chanyeol hyung, memperhatikan roommate-ku itu melakukan selca sambil tersenyum lebar dengan v-sign yang menempel di sebelah matanya. Itu adalah pose andalannya. Lelaki berwajah konyol itu memang paling hobi mengambil foto wajahnya sendiri. Sebut saja ia sebagai lelaki narsis.
Setelah bosan memperhatikan roommate-ku yang aneh, aku akhirnya menoleh ke tempat lain. Mataku terpaku pada Jongin yang kini mengobrol dan sesekali tertawa dengan Sehun.
Sehun, seseorang yang katanya bisa mengusir rasa sepi Jongin ketika berada di bandara tanpa diriku. Ternyata Sehun memang selalu ada di dekat Jongin dan mampu menghibur Jongin. Aku tahu bahwa Jongin dan Sehun memang bersahabat, tapi sekarang aku merasa Sehun sudah mengambil tempatku dalam hidup Jongin.
Padahal dulu aku lah yang selalu bersama Jongin saat kami di bandara. Kami selalu mencari tempat yang relatif tersembunyi dan mengobrol tanpa gangguan fans maupun member lain. Kami seolah tenggelam dalam dunia kecil kami. Apapun topik obrolan kami, tak sekalipun ada rasa bosan yang berani menyelinap.
Tapi kini semua itu tinggal kenangan. Jongin sudah tidak kesepian lagi meskipun tidak ada diriku di sisinya. Aku terlalu sering pergi meninggalkannya, dan sekarang Jongin benar-benar sudah terbiasa tanpa diriku.
Tapi masalahnya adalah, aku tidak terbiasa tanpa dirinya...
Sudah dua hari semenjak konser kami di Chengdu. Hari ini kami memiliki jadwal lagi. Ya, jadwal pembuatan video untuk acara 'I AM KOREA' yang akan diselenggarakan pertengahan Agustus nanti.
Kami sudah berada di sebuah lokasi outdoor dengan kostum kemeja putih yang dipadukan dengan celana panjang berwarna blue-gray. Outfit ini sebenarnya merupakan outfit yang kami pakai di MV 'Love Me Right', hanya saja, kami tidak memakai denim jacket yang biasanya kami pakai.
Beberapa jam kami menjalani pengambilan gambar yang melelahkan, dan akhirnya kami menyelesaikan pekerjaan kami.
Saat ini kami berada di ruang ganti yang disediakan oleh staff dan berada di dekat lokasi shooting. Beberapa member sudah selesai berganti pakaian, termasuk aku dan Jongin.
Kami duduk saling berjauhan dalam diam. Sejak ia memutuskan hubungan denganku, kami memang tidak pernah saling bicara. Kami masih berbagi kamar di dorm, tapi kami benar-benar tak pernah membuka suara satu sama lain. Chanyeol hyung lah yang berperan sebagai perantara komunikasi kami.
Meskipun hubungan kami semakin buruk, tapi kami berusaha tampil seolah kami baik-baik saja saat di depan fans. Aku mendengar fans merasa haus akan moment 'KaiSoo', jadi aku memutuskan untuk membuat sedikit moment saat konser di Chengdu tempo hari. Untungnya Jongin saat itu bersikap kooperatif sehingga moment kami terlihat natural. Semoga saja itu bisa menjadi pelepas dahaga bagi shipper setia kami.
Walaupun sebenarnya moment kecil itu tidak berarti apa-apa bagiku, karena itu hanyalah sebuah kepura-puraan. Sebuah kepalsuan.
Padahal dulu kami selalu menikmati kebersamaan kami saat di panggung. Kami selalu mencari celah sekecil apapun agar bisa bersama. Itu bukan fan service. Itu murni keinginan kami.
Tapi semua itu kini hanya bisa dikenang. Kenangan manis memang selalu terasa pahit saat diingat. Rasanya sangat sedih ketika mengingat semuanya.
Apa aku salah karena aku terus diam seolah menyetujui keinginan Jongin untuk berpisah? Apa aku salah karena aku kalah begitu saja? Apa aku salah karena aku sempat meragukan perasaanku sendiri?
Begitu banyak pertanyaan yang menggelitik batinku. Begitu banyak kesalahan yang kulakukan, dan aku tak berani memperbaiki kesalahanku itu.
Aku kini sadar. Aku tak perlu merasa takut dan ragu. Aku seharusnya selalu yakin pada jalan yang sudah lama kupilih, bukannya malah ragu dan memilih berbelok. Bodoh. Aku benar-benar bodoh.
Seluruh pemikiranku tiba-tiba buyar tatkala aku melihat Jongin berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan keluar dari ruang ganti. Aku sadar, inilah kesempatanku untuk memperbaiki semuanya.
Dan akhirnya aku bergegas menyusul langkah Jongin. Kaki panjang Jongin membuatnya bisa cepat berlalu begitu saja dan aku nyaris kehilangan jejak. Tapi pada akhirnya, aku menemukan Jongin berdiri di dekat mobil van kami. Tempat ini relatif tersembunyi, jadi kurasa tak masalah jika kami bicara disini.
"Jongin-ah..." aku memanggilnya dengan ragu. Ini adalah kali pertama aku memanggil namanya lagi sejak kami putus.
Jongin sedikit terkejut saat melihat aku menyusulnya, tapi kemudian ia kembali memasang ekspresi datarnya dan bertanya padaku, "Ada apa?"
Suaranya begitu dingin, seolah ia sengaja ingin membekukan perasaanku. Membunuhnya, supaya ia tak lagi ada di hatiku.
Tapi kali ini aku tak ingin menyerah begitu saja. Sudah cukup beberapa hari aku tersiksa oleh rasa bersalah dan menyesal.
"Maafkan aku..." aku memulai lagi sambil terus menatap Jongin. "Aku yang salah, Jongin. Aku egois, dan aku tidak memikirkan perasaanmu."
Aku tak mendapatkan balasan meskipun aku sudah selesai bicara. Jongin terus menatapku dalam diam, seolah berusaha menelisik arti tatapan mataku.
Aku berusaha terus menatapnya meskipun ia kini seolah mengulitiku. Aku berusaha jujur lewat kedua mataku.
"Sudah terlambat, hyung..." akhirnya Jongin bicara sembari mengalihkan pandangannya dariku. "Kau mengambil waktu yang terlalu lama untuk berpikir. Aku berhasil menyembuhkan luka hatiku selama kau berpikir dalam waktu yang terlalu lama itu."
Aku tertegun. Belum genap dua minggu kami berpisah, tapi apakah waktu yang kurang dari empat belas hari itu terlalu lama? Apa sebenarnya, Jongin menungguku bicara selama ini? Apa sebenarnya, Jongin masih memberiku kesempatan, tapi aku terlalu lama menyadari kesalahanku?
Aku merasa sangat bodoh. Seharusnya aku langsung saja bicara pada Jongin tanpa harus menunggu waktu. Seharusnya aku tidak hanya diam selama ini. Aku benar-benar bodoh...
"Maafkan aku..." hanya itu yang bisa kuucapkan padanya.
Jongin kini kembali menatapku, tapi aku justru tak berani menatapnya. "Apa kau benar-benar sudah menyadari kesalahanmu?"
Aku mengangguk, lalu menjawab pertanyaan Jongin, "Aku terlalu sibuk dan mengabaikanmu. Padahal kau sangat membutuhkanku, tapi aku tidak pernah ada di sampingmu. Aku selalu jauh darimu."
"Hanya itu?" Jongin bertanya lagi. Tapi aku tak mengerti pada maksud pertanyaannya, jadi ia kembali bicara, "Apa hanya itu kesalahanmu padaku? Apa kau tidak merasa memiliki kesalahan yang lain?"
Aku terdiam. Jongin memang selalu bisa tahu semua yang aku pikirkan. Bahkan hanya lewat tatapan mata, tapi ia bisa membacaku seolah ia sedang membaca sebuah buku cerita.
Jongin itu terlalu sensitif. Terlalu peka pada apapun, utamanya terlalu peka pada setiap hal yang menyangkut diriku. Harusnya aku tahu bahwa aku tak bisa menyembunyikan apapun dari Jongin.
"Aku sempat ragu pada perasaanku..." aku kembali bicara sambil memberanikan diri menatap matanya. "Akhir-akhir ini aku sangat ingin menjadi lelaki sejati. Aku berolah raga untuk membentuk tubuhku supaya aku terlihat lebih pantas disebut sebagai lelaki. Dan saat itu aku menyadari sesuatu."
"Apa yang kau sadari?"
"Aku menyadari bahwa aku ingin benar-benar menjadi laki-laki, Jongin. Selama ini aku menjalin hubungan denganmu, dan aku menjadi uke. Aku berpikir bahwa semua itu salah. Tidak seharusnya aku menjalin hubungan dengan sesama pria."
Jongin terdiam. Dengan jelas aku melihat luka dalam tatapan matanya. Aku tahu, kejujuranku hanya akan menambah luka di hatinya.
Tapi ceritaku belum selesai, dan aku melanjutkannya, "Aku mendekati beberapa wanita setelahnya. Aku ingin menjadi normal, Jongin. Aku ingin bisa memberi cucu untuk orang tuaku."
Jongin tampak semakin terluka. Ia pasti tidak menduga semua yang aku katakan.
Tapi semua yang aku ucapkan adalah kejujuran. Aku memang meragukan jalan hidupku. Aku menilai bahwa hubunganku dengan Jongin adalah kesalahan, dan aku ingin kembali meluruskan jalanku.
Dengan alasan itu, aku mulai mendekati beberapa idol wanita yang aku kenal. Aku sering mengobrol dengan mereka lewat aplikasi chatting di ponselku. Aku berusaha mencari pengganti Jongin. Seseorang yang bisa mencuri perhatianku.
Sebenarnya rumor itu benar. Rumor yang mengatakan bahwa aku mengencani seorang idola wanita. Iya, hanya sekedar mengencani. Kami pernah pergi berkencan, dan kami kerap mengobrol lewat ponsel. Tapi kami tidak berpacaran. Ia BUKAN kekasihku.
Aku tahu, aku memang berselingkuh di belakang Jongin. Aku menghalalkan segala cara supaya aku bisa menemukan sosok pengganti Jongin. Lagipula, kupikir Jongin akan kembali bersama Krystal atau malah merangkai hubungan baru dengan Taemin.
Tapi ternyata aku salah. Pikiranku terlalu sempit. Aku sudah berusaha melepas Jongin dan membuka hatiku untuk orang lain, tapi...
"Tapi aku tahu bahwa aku salah, Jongin. Cinta tidak bisa memilih. Aku hanya mencintaimu. Meskipun kau berubah menjadi sampah sekalipun, kau tetap berharga bagiku. Tak peduli kau pria ataupun wanita, hatiku hanya memilih hatimu. Maafkan aku karena aku terlalu bodoh, Jongin..."
Bisa kurasakan pipi kananku basah. Lagi-lagi aku menangis karena Jongin. Padahal aku adalah lelaki yang sangat jarang menangis, tapi Jongin selalu bisa membuat air mataku menetes karena sesal.
Tapi tiba-tiba saja aku merasakan hangat di sekujur tubuhku. Aku mengangkat kepalaku, dan aku sadar bahwa kini aku berada di dalam dekapan Jongin.
"Sudahlah...tak perlu dibahas lagi tentang semuanya. Aku mengerti, hyung. Aku mengerti jika kau sempat ragu pada perasaanmu. Aku benar-benar mengerti. Jangan menangis lagi, hyung..." suara Jongin mengalun lembut di dekat telingaku. Akhirnya Jongin bicara dengan nada lembut lagi padaku, dan hal itu membuat hatiku menghangat.
Dengan segera aku membalas pelukan Jongin. Memeluk erat tubuh besar Jongin, karena aku tak ingin kehilangan pelukan ini lagi. Pelukan ini terlalu berharga untuk dibuang begitu saja.
Aku terus melantunkan kata maaf, tapi Jongin terus berkata bahwa tak ada hal yang perlu dimaafkan.
Selama beberapa menit kami berpelukan, sebelum akhirnya aku melepas pelukan kami, lalu menatap Jongin dengan mataku yang masih basah. "Apa kau mau bercerita denganku lagi sebelum kita tidur? Apa kau mau mencari sosokku lagi selama acara fan sign ataupun fan meet? Apa kau mau berjalan dan mengobrol denganku lagi saat di bandara?"
Jongin tersenyum mendengar pertanyaanku, kemudian ia menjawab, "Asal kau mau kembali menjadi kekasihku, aku juga mau melakukan semua yang kau minta. Kau tahu, hyung? Sebenarnya aku tidak terbiasa tanpa dirimu..."
Ternyata kami sama. Kami sama-sama tidak terbiasa untuk hidup sendiri-sendiri. Kami terbiasa hidup bersama.
Tapi kalau memang begitu, artinya selama ini Jongin berpura-pura bahwa ia baik-baik saja tanpaku? Oh, ayolah! Kau berhasil menipuku, Kim Jongin!
Dan begitulah akhir dari cerita kami...
Siapa bilang 'KaiSoo' adalah pasangan yang selalu melewati jalan mulus tanpa lika-liku? Siapa bilang 'KaiSoo' adalah pasangan paling adem ayem?
'KaiSoo' adalah pasangan yang rumit. Pasangan yang terdiri dari dua insan yang memiliki sifat berbeda. Tentu tak mudah untuk menyatukan dua hati kami di tengah perbedaan-perbedaan kami.
Tapi meskipun kami harus melewati jalanan yang berliku, kami akan tetap ada karena perasaan di hati kami tidak pernah sirna. Dan lagi, kami memiliki shipper yang selalu setia mendukung kami meskipun banyak yang bilang... 'KaiSoo is not real'.
Hanya kita yang tahu tentang kebenaran 'KaiSoo'. Biarkan saja shipper lain mengoceh sesuka hati mereka. Yang jelas, kalian harus tetap percaya pada kami. Aku mencintai kalian...
END
Glad's note:
Annyeong! Aku sebenernya gak punya rencana buat bikin sequel secepat ini. Aku awalnya pengen bikin sequel yang happy ending pas moment kaisoo balik kayak dulu lagi. Tapi selanjutnya aku mikir, harus nunggu berapa lama sampai mereka balik kyk dulu lagi? Kok kayaknya terlalu lama ya? Haha, jadinya aku memutuskan buat bikin sequelnya hari ini.
Sejak awal aku emang punya rencana buat bikin sequel dari sudut pandang Kyungsoo, dan itu terwujud. Semoga sekarang udah gak pada baper ya? Kita doain aja semoga kaisoo akan berakhir bahagia juga.
Oh ya. Aku baru sadar kalau aku salah nulis W Korea jadi W Style. Gak tau deh pas nulis lagi mikirin apa kok jadi salah gitu. Mana telat banget pula sadarnya. Hehe. Maafin yaa..
Ok, makasih buat yang udah support FF ini. Mind to review, again?
With love,
Gladiolus92
