Disclaimer : Ya iyahlah punya Bang Kishi! Saia mau pinjam aja mesti adu suit dulu!

Gila ga tuh….

Pair : SasufemNaru gitu! *kaga nahan bikin yaoi*

Zee : Makanya liat yang bener ntu pair! Dasar author dodol!

Kea : Banyak bacot luu!

Zee : Apa! Ngajak ribut lo!*nyinsing lengan baju*

Kea : Maju loo!

Bak buk bik duak doorr! KABUM!

Author : Mampuz lo be 2! Bisanya ngericuh aja! Lupain aja mereka ok? Lanjut!

Rate : T ajalah. Buat jaga-jaga…

Genre : Fantasy & Supranatural

*kasih saran gimana nentuin genre please*

Warning : OC saia keluar..

OOC akut!

Biasa aja kog! Straight gitu…

Sekarang masih Naruto man..

Notes : saya ga akan nulis di warning klo 'ga suka ga usah baca'. Alasannya? Saya percaya klo readers semua itu udah dewasa. Jadi walaupun ga ada warning gitu, klo emang ga suka ya usah aja kan. Ga usah pakai ninggalin jejak segala kaya flame gitu. Kadang saya kesel juga pas baca fic author lain ada yang ngasih flame ga mutu! Emang flamer tau gimana usaha para author buat bikin mahakarya fic-fic keren gitu!*klo saya masih amatir sie yah wajar*

Saya ga nerima flame tentang pair ya. Tapi klo story kurang memuaskan ya boleh lah di saranin bagusnya gimana ya..

Kok jadi ngerecokin gini ya. Yasudlah..

Saya lagi cari 'sansak stres' jadi beginilah adanya..

Balesan review di bawah ya. ^-^

Talk bold = Kyuubi

Let"s to go!

*ga becus English nie*

Part 2

Setelah asap tipis sirna dari pandangan, tampaklah seorang gadis yang duduk menjuntai di jendela kantor Hokage itu. Gadis itu tersenyum menatap para ninja yang melihatnya dengan waspada. Rambut cokelatnya melambai tersaput angin dari jendela. Wajahnya sungguh cantik sekali. Kulitnya putih bersih seperti salju. Mata coklatnya menatap mereka satu persatu dengan seksama hingga pandangannya berhenti pada seorang ninja berambut kuning dan berambut pantat ayam.*maksud lo!*

Gadis dengan baju menyerupai Kimono merah itu dan celana panjang serta sehelai kain panjang yang melingkari bahunya bagaikan sebuah selendang.*emang tali jemuran pake melilit segala* tersenyum lebih manis pada Naruto dan Sasuke. Sedangkan mereka yang melihat hal itu hanya bisa heran sendiri.

"Siapa kau? datang darimana?" tanya Tsunade setelah tersadar dari suasana yang bagaikan di kuburan itu.

"Nama ku Kiel De Lotta. Aku hanya seorang petualang kok," ucapnya seraya turun dari bingkai jendela dan berjalan perlahan kearah mereka.

Para ninja Konoha ini semakin menggenggam erat kunai yg teracung didepan wajah. Bersiap pada segala hal. Bahkan Tsunade pun masih berdiri dari duduknya. Suasana kembali menegang.

"Tenanglah. Aku tidak membawa permusuhan dengan datang kesini. Aku hanya datang mengantarkan pesan aja kok," ucapnya enteng tanpa takut pada sekitarnya. Matanya tetap menatap Naruto dan Sasuke.

Tsunade pun menghela nafas panjang menanggapinya. "Pesan apa yang kau antarkan?" tanyanya to the point.

"Hei..hei.. apa begini cara kalian menyambut tamu?" katanya lagi sambil berjalan dengan santainya kearah sofa empuk di pojok ruangan itu. Mereka semua melongo melihat gadis itu sudah santai di sofa.

"Kapan dia disana Teme?" Tanya Naruto pada Sasuke disampingnya yang masih lekat menatap sang gadis.

"Hn." Hanya itu yang keluar dari bibir Sasuke.

"Gahh Teme! Kau ini menyebalkan!" maki Naruto yang langsung cemberut wajahnya.

"Hentikan Naruto! Kalian semua simpan senjata kalian!" ucap Tsunade tiba-tiba menengahi debat antara keduanya yang akan mulai memanas .

"Tapi baa-chan dia.." bantahan Naruto langsung tersangkut di kerongkongannya saat Tsunade menatap tajam padanya.

"Hahahahaha… Kalian ga pernah berubah ya sejak dulu", ucapnya seraya tertawa anggun. Matanya sampai sipit menahan agar tidak lepas ketawa ngakak.

Sekali lagi ruangan itu sepi. Yang terdengar hanya kikik gadis itu yang masih menahan tawanya. Sampai akhirnya salah satu buka suara.

"Sejak dulu heh! Kau bicara seolah mengenal mereka saja dari zaman sebelumnya", ucap Shikamaru sambil menatap tajam pada sang gadis. Sedangkan yang lain hanya menatap heran. Memang mereka pernah bertemu ya.

Terlebih Naruto yang tidak mengerti sama sekali. Memang otak siputnya itu terlalu lamban dalam menganalisa ya. *rasengan*

Kiel mengalihkan pandangannya pada orang yang barusan bersuara. Ditatapnya lama pemuda itu. "Keturunan Nara memang hebat! Jenius sejati!", tuturnya seraya tersenyum dan memandang mereka bergantian.

Sekali lagi mereka semua terkejut. Bagaimana mungkin gadis itu tau nama keluarga Shikamaru, sedangkan mereka belum kenalan. Itulah yang ada dipikiran mereka semua. Seakan semua itu tertulis diwajah mereka.

"Bukan cuma putra Nara saja kok. Tapi kalian semua juga aku sangat kenal", lanjutnya lagi semakin menambah keheranan para ninja muda itu.

Tsunade yang merasa arah pembicaraan semakin tidak karuan langsung bertanya" Pesan apa yang ingin kau sampaikan?" ulangnya seraya memandang sang gadis dengan tajam.

Kiel langsung mengalihkan tatapannya kearah sang Hokage yang bertopang dagu. Sambil berdiri Kiel melangkah pelan kearah jendela tempatnya datang tadi.

"Shion-chan bilang dia akan datang pada malam bulan purnama sepuluh hari lagi. Kedatangannya untuk menjemput pulang seseorang dari Konoha", katanya sambil tersenyum kearah Naruto yang cuma melongo tidak mengerti.

Sekali lagi Kiel berjalan mendekat kearah Naruto yang tiba-tiba jadi gugup dengan wajah merona.

Seteleh berhadapan dengan Naruto, Kiel diam sejenak mengamati. "Sebaiknya kau bersiap. Benarkan Kyuubi!". Setelah berkata demikian Kiel langsung mundur kearah jendela.

Naruto langsung membeku ketika mendengar gadis itu menyebut Kyuubi. Tubuhnya gemetar seolah Kyuubi merobek tubuhnya ingin keluar.

Kakinya terasa lemas hingga tanpa sadar jatuh berlutut dilantai. Bukan hanya Naruto saja, tapi mereka semua yang mendengarnya seakan tersambar petir. Bagaimana gadis itu tau bahwa didalam tubuh Naruto ada Kyuubi.

Sasuke yang berdiri disamping Naruto memandang tajam gadis itu dengan tatapan khas Uchiha, tangannya mengepal kuat menahan kekesalannya. Giginya bergemeretuk menahan amarahnya. Jika tidak memandang ada Hokage mungkin sudah diterjangnya gadis itu.

Sama seperti Sasuke, Sakura pun mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ingin sekali dia memberikan tinjunya pada gadis itu. Beraninya dia!

Tsunade hanya mampu terdiam dan menatap tajam pada Kiel. Sedangkan yang ditatap tetep aja adem ayem. Ga ngerasa klo di ruangan itu udara terasa panas akibat ucapannya

"Ah iya… bukannya sepuluh hari lagi kau ulangtahunkan Naruto? Manfaatkan ya!". Belum dingin suasana, Kiel malah menambah suasana makin panas. Dengan entengnya dia berucap tanpa melihat efeknya.

Sejenak mereka semua terdiam, mencoba menganalisa perkataan gadis itu. Bahkan Tsunade pun menundukkan kepalanya menahan gemeretuk giginya yang saling beradu kuat. Dengan sekali sentakan seluruh manusia yang ada langsung melotot tak sadar pada sosok Naruto yang menerjang kearah sang gadis. Wajahnya merah menahan amarah dan kekesalan yang tak terkira. Berharap dengan kecepatan itu dia mampu menahan sang gadis.

Kiel hanya melihat sekilas dan tersenyum padanya sebelum hilang tertelan kabut tipis. Naruto hanya menangkap tempat kosong di samping jendela itu.

Tsunade hanya terduduk lemas di kursinya. Otaknya berputar cepat memikirkan makna ganda di balik ucapan gadis itu sebelum menghilang. Bahkan para ninja itu pun tak mampu bereaksi apa-apa. Mereka hanya mampu melongo melihat semua terjadi begitu saja.

"Kalian semua bubar. Nanti kita akan membahas masalah ini lagi. Dan ingat! Jangan biarkan para Shinobi lain mengetahui masalah ini", seru Tsunade sesaat setelah mereka kembali fokus.

Naruto melompat dengan lesu di antara pepohonan. Dia tak berniat kembali ke apartemennya melainkan terus keluar desa menuju tempat latihan yang biasa. Saat ini pikirannya sedang kacau dan sulit di ajak kompromi.

Dia ingin menenangkan diri dan bersantai sejenak di pinggir sungai. Sesampainya Naruto langsung melepas kasutnya dan merendam kakinya ke air mengalir. Sambil menghela napas panjang matanya mendongak menatap langit yang beranjak sore.

Di dalam kepalanya berputar kata-kata yang di ucapkan oleh gadis di kantor Hokage tadi. Karena terlalu serius Naruto tidak merasakan kehadiran orang lain.

"Tak perlu kau pikirkan sekeras itu. Nanti otak mu jadi semakin Dobe" ujar seseorang yang sudah berdiri di belakang Naruto dengan tangan merogoh ke saku celananya. Wajah datarnya menyiratkan rasa khawati pada orang yang sangat di sayanginya itu.

"Ne.. Teme. Apa yang akan kau lakukan jika seandainya aku menghilang?" alih-alih menjawab, Naruto malah balik bertanya pada Sasuke yang sudah duduk di sampingnya.

Sasuke kontan langsung memutar badan Naruto menghadap padanya. "Jangan pernah kau berkata seperti itu lagi! Aku tidak akan membiarkan seorangpun membawa mu pergi dari sini" dengan suara rendah Sasuke menekan kuat pundak Naruto.

Matanya memancarkan keseriusan yang dalam. Mata onyx itu menyiratkan segala bentuk emosi yang di tahannya sedari tadi di kantor Hokage.

"Ittaii.." ringisan Naruto menanggapi ucapan yang terlontar padanya. Tangannya mencengkram lengan baju Sasuke.

Sejenak Sasuke tertegun, kemudian buru-buru melepas pegangannya. Wajahnya langsung berpaling kearah lain. Setitik rona merah menempel di pipi pucatnya. Sedangkan Naruto tidak memperhatikan karena sibuk mengusap pundaknya yang perih.

'Apa tadi yang kukatakan!' inner Sasuke sambil merutuk mulutnya yang keceplosan.

Sasuke melirik Naruto yang juga sedang menatap padanya. Naruto menatap lekat mata sehitam malam itu kemudian tersenyum manis. Sedangkan yang di tatap cuma bisa mengutuk rasa panas yang menjalari wajahnya.

"Teme. Arigatou!" seru Naruto yang langsung menerjang Sasuke di depannya. Tak ayal keduanya jatuh terbaring di rerumputan sungai tersebut.

Tubuh Sasuke membeku. Dirinya tak bergerak dari tindihan Naruto. Matanya terbelalak lebar melihat mata biru yang sepertinya tak sadar akan perbuatannya. Bibir mereka hanya berjarak setengah inci lagi untuk saling menempel. Tinggal mengangkat dagu sedikit maka akan tercipta ciuman yang basah. Tapi pada dasarnya otak Naruto yang lelet itu, ia baru sadar setelah menatap mata tajam Sasuke padanya. Tanpa melalui merona lagi, wajah Naruto langsung seperti kepiting goreng merahnya.

Bahkan saking sadarnya, Naruto langsung mundur dan kecebur ke dalam sungai tanpa ampun. Bahkan dia tak berani mengangkat kepalanya ke permukaan. Sasuke hanya melongo sesaat melihat reaksi rubah itu yang di luar dugaan. Karuan saja Sasuke langsung terbahak tanpa ingat dia itu Uchiha.

"Hahahahahaha… Baka Dobe! Lihat apa yang terjadi padamu!" kata Sasuke di sela tawanya. Tubuhnya terbungkuk menahan perutnya yang sakit karena tertawa saking kerasnya.

Naruto yang mendengar tawa keras Sasuke langsung naik ke darat dan mendaratkan sebuah ciuman manis dari kepalan tangannya di kepala ayam Sasuke. Betapa kesalnya Naruto di tertawakan hingga sebegitunya oleh Uchiha bungsu itu. Seketika dia langsung lupa sebab sampai dia nyemplung ke sungai tadi.

"Kau harus mentraktirku ramen Teme karena menertawakanku sebegitunya. Kau mesti tanggungjawab perbuatanmu ini Sasu-baka!" teriak Naruto pada Sasuke yang sibuk mengelus kepalanya aikbat tabokan Naruto tadi.

"Kau jatuh bukan salahku Dobe. Itu karena kau Dobe", ejek Sasuke dengan seringai khasnya itu. Membuat Naruto semakin kesal saja. Pipinya menggembung seperti ikan Fuugu.

"Aku tidak mau tau! Pokoknya traktir aku makan!". Naruto langsung beranjak pergi meninggalkan Sasuke yang hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya yang terkesan childish itu.

Sayang Naruto tak melihat senyuman tulus terkembang di wajah Sasuke yang mengikuti Naruto dengan santai di belakangnya.

'Kau itu manis sekali dobe' bisik hati Sasuke yang menatap lekat tubuh Naruto yang basah kuyup sehingga bajunya menempel ketat ditubuhnya. Entah sadar atau tidak tapi itulah pikiran Sasuke saat mengikuti Naruto ke Ichiraku ramen yang tetap dengan baju basahnya. Dasarnya Uchiha itu memang mesum ya!

Another place

Perbatasan Konoha dan Sunagakure dimana tempat itu sangat ketat dari jangkauan patroli para shinobi ke dua negara. Tapi tak seorangpun menyadari bagaimana bisa ada seseorang yang dengan mudahnya lalu lalang tanpa hambatan di sekitar perbatasan itu. Bahkan para ninja itu juga tak tahu tentang goa yang tersembunyi dengan apiknya di tempat yang dapat mereka jangkau dengan mudah.

Goa itu bagaikan ilusi bagi mereka yang sering melaluinya tanpa pernah menyadari bahwa tempat itu nyata. Goa yang bagaikan terowongan bawah tanah itu sungguh berkelok dan sangat panjang. Sepanjang dindingnya terpasang obor sebagai penerangan ala kadarnya. Selain itu juga dindingnya dipenuhi lumut hijau yang menjijikkan. Jika melihat kondisi demikian tak mungkin ada orang yang mau tinggal disana.

Tapi bagi orang tertentu itu adalah tempat tersembunyi yang paling aman. Bagaikan perlindungan singa didalam kawanan domba. Tinggal memoles sedikit saja maka takkan ada yang curiga kau siapa.

Di ujung lorong yang ada sebuah ruangan luas terbentang. Tampak seseorang berambut putih dan berkacamata. Dia tampak sibuk dengan berbagai bahan ramuan di mejanya. Wajahnya tenggelam dalam pekerjaannya. Saat dia mengangkat kepalanya, maka yang tampak adalah wajah yang tersenyum penuh kelicikan.

Matanya menyala penuh ambisi dan dendam. Seringai puas tertuang dalam wajah bengis itu. " Sebentar lagi Konoha akan tamat. Kalian akan rasakan pembalasanku. Impianmu akan segera terwujud Orochimaru-sama". Lalu yang terdengar setelah itu hanyalah tawa kejam yang sanggup membunuh burung sekalipun hanya dengan mendengarnya saja.

Keykeykeykeykeykeykey

Saat malam datang menyapa Konoha, yang terlihat hanyalah sunyi sepi. Warga lebih memilih berkumpul dalam kotatsu yang hangat dan berbagi cerita dengan keluarganya. Ditiap rumah terdengar tawa yang berderai bahagia. Bagi mereka masa ketakutan dan kegelapan telah sirna. Saat ini yang terasa adalah masa depan yang cerah dan ceria. Semua karena Naruto, pahlawan mereka yang telah memusnahkan biang dari ketakutan dan kecemasan warga Konoha.

Melalui jendela kantornya Tsunade memandang jauh kedepan. Matanya menatap awas kejauhan Konoha. Segala hal telah terjadi sampai saat ini pada desa kebanggannya ini. Bermacam kenangan silih berganti mampir di ingatannya dan tak satupun yang terlupakan olehnya.

Tsunade tersenyum miris mengingat kenangan demi kenangan dengan orang-orang terkasihnya. Ia ingat Jiraiya, Sennin mesum itu. Yang tak pernah absen menggodanya juga keusilannya yang selalu berakhir dengan benjol di sana sini akibat pukulan Tsunade. Juga Dan, kekasih yang sangat di cintainya itu.

Andai mereka masih ada dan ikut menikmati apa saja dan bagaimana Konoha sekarang. Setitik airmata menetes pelan dari pelupuk matanya.

"Apa yang anda pikirkan Tsunade-sama?" Shizune menegur pelan Hokagenya itu. Hatinya miris seolah merasakan rasa kesepian dari nona besar itu. Dia sangat tahu bagaimana perasaan Tsunade saat ini. Rasa takut dan cemas akan kehilangan lagi orang yang disayanginya.

"Tak ada apapun Shizune. Bagaimana? Apa kau temukan apa yang aku katakan padamu waktu itu?" Sahut Tsunade seraya kembali duduk dikursinya dan menyandarkan kepalanya di kursi empuk itu. Matanya menatap nyalang pada langit-langit ruangan.

"Tidak sama sekali. Aku telah mencari di perpustakaan umum hingga ruang penyimpanan berkas dan buku rahasia,tapi tidak menemukan apapun tentang wanita petualang itu", jawab Shizune dengan nada kecewa. Seharian ini dia telah menggeledah semua perpustakaan Konoha tapi tak menemukan apapun.

"Gadis itu sangat misterius. Aku hanya takut dia seorang mata-mata dan membahayakan Konoha serta Naruto. Aku cukup lelah sekarang jika harus berperang lagi. Saat ini Konoha sudah sangat damai". Tsunade mendesah panjang sambil mengurut keningnya yang tiba-tiba saja berdenyut sakit.

Shizune hanya mampu menghela nafas pasrah. Dia sungguh tak tahu harus berbuat apalagi sekarang. Pernyataan Hokage barusan cukup membuatnya takut untuk membayangkan sesuatu yang akan terjadi nanti.

Sementara mereka bergelut dengan pikiran masing-masing, tanpa mereka sadari beberapa hari telah berlalu. Bulan dilangit hampir bulat sempurna. Hanya tinggal dua hari lagi dari waktu yang telah dijanjikan. Mereka semakin tenggelam dalam kegelisahan tanpa tahu harus berbuat apa dan bagaimana.

Purnama malam pertama

Bulan indah menggantung dilangit. Malam ini cuaca sangat cerah seolah awan gelap terhapus begitu saja. Bintangpun memancar seterang kunang-kunang malam menemani bulan yang tak mau sendiri. Dibalik keindahan yang tampak oleh mata, tak satupun manusia mampu melihat apa yang tersembunyi didalam bulan itu sendiri.

Saat ini di dalam bulan, tampaklah Istana yang megah berdiri kokoh layaknya batu karang. Istana yang terbuat dari ribuan kristal bening kaca itu menjulang disangga oleh pilar tiang yang sangat seni sekali. Bahkan sanggup membuat perancang bangunan ternama sekalipun akan memohon untuk mempelajarinya.

Di halaman Istana Kesejukan Abadi ini, beberapa orang terlihat duduk melingkar pada sebuah meja yang ditata bagaikan meja bundar Romawi itu. Mereka duduk di kursi tinggi yang berdiri tegak di tengah-tengah ice flower.

"Malam ini bulan terang sekali ya, seakan berbahagia sekali", salah seorang pemuda bersurai hitam legam yang diikat rapi itu memecah keheningan malam. Mata cokletnya menatap satu-persatu wajah para rekan dan saudaranya itu.

"Ya. Kau benar Ushi-oni. Aku merasa sangat nyaman sekali sekarang. Apa karena Oujo-sama akan segera kembali ya", sahut seorang wanita lain yang duduk di ujung. Rambut abu-abunya melambai lembut tertiup angin malam. Bibirnya menyeruakan senyum menawan. Namanya ialah Nibi no Nekomata.

"Aku tak sabar menunggu besok lusa. Akhirnya Kyuubi akan kembali,kami bisa melanjutkan pertarungan kami yang tertunda dulu", timpal pemuda lain di samping Ushi-oni. Mata emasnya bercahaya cemerlang dengan semangat yang menggebu-gebu. Tangannya saling terkepal satu sama lain.

"Hanya itukah yang selalu kau pikirkan ehh Shukaku! Tentang battle konyol yang tak pernah kau menangi. Huhh..", cibir Nanabi. Matanya mengerling bosan menatap pemuda yang bernama Chibi no Shukaku itu dengan seringai mengejek.

Shukaku langsung berdiri dan langsung mengirimkan gelombang angin pada gadis bermata biru itu. Serangannya langsung buyar saat tangan seseorang melambai pelan menghentikan jurusnya.

"Cukup Shukaku. Simpan tenagamu untuk melawan Kyuubi nanti. Itupun jika kau masih berniat loh", potong gadis yang duduk disisi ujung lainnya. Mata ungunya menatap lembut semuanya.

Shukaku langsung duduk dan menggerutu sendiri. Wajahnya seketika jadi masam bagai jeruk perah(?).

"Nee Miko-sama, apakah persiapan untuk menjemput Oujo-sama telah selesai? Apa Pangeran brengsek itu masih belum menyadari jati dirinya juga?" tanya Isonade no Sanbi pada gadis disampingnya itu. Pemuda itu tampaknya yang paling tenang diantara mereka semua.

Saat itu juga semuanya langsung memfokuskan perhatian mereka pada pembicaraan keduanya. Menghentikan segala tingkah konyol mereka.

"Jangan khawatir. Semua telah siap, kita akan datang pada saat bulan purnama merajai malam. Semua telah disiapkan oleh Dewi Petualang disana. Akan dipastikan pula bagaimana keadaan Pangeran Kegelapan oleh kita semua disana pada saat yang tepat", jawabnya dengan lembut di iringi senyum memukau. Rambut pirang pucatnya terbang dipermainkan angin malam.

Senyumnya bertambah lebar saat dilihatnya mereka juga ikut tersenyum. "Tunggulah kami Naru-hime. Sebentar lagi kami akan datang menjemputmu ke tempat seharusnya kau berada". Lantunan suaranya bagaikan hembusan angin yang terbang jauh hingga ke Konoha.

Skip time

Gubrakkk..

Lagi-lagi Naruto terjatuh dari tempat tidurnya. Punggungnya menghantam lantai tatami dengan keras. Naruto hanya bisa mengeluh panjang pendek karena untuk kesekian kalinya dia jatuh hanya karena mimpi.

Hanya saja mimpinya kali ini terasa sangat nyata sekali. Seolah itu bukan hanya mimpi belaka. Dan lagi ia sepertinya familiar dengan suara yang memanggilnya Naru-hime itu.

Tapi sekali lagi karena otaknya yang sangat lelet itu, jadi Naruto hanya menganggap itu hanya mimpi karena merindukan seseorang saja. *Sepertinya author ingin sekali di bakar ehh!Rasengan double! Tepar*Mampuz kau author dodol! Enak saja aku di leleti teruz*

Naruto melihat jam weker yang berbentuk ayamnya itu. *Duh Naru kok ayam sie!*Woi Zee daritadi ngerecokin aja sie!Keluar!* okeh back to story,dari tadi tangan author kepleset mulu*

Sekarang masih jam 5 subuh. Tapi Naruto yang sudah terlanjur bangun sungguh tak berniat lagi melanjutkan tidurnya. Akhirnya dia langsung menghilang ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian, Naruto sudah rapi dengan pakaian ninjanya. Hanya saja hari ini dia tak ada misi hingga besok karena telah menyelesaikan misinya untuk beberapa hari ke depan, jadi Naruto hanya bisa melamun dan melongo ria di kamarnya.

Karena teringat tak ada misi, Naruto lantas mengganti bajunya dengan kaos biasa dan celana panjang hitam kesayangannya. Di tambah sebuah jaket kulit biasa maka penampilannya perfect. Perfect dalam arti yang berbeda tergantung dari berbagai sudut pandang orang.

Naruto lantas melompat keluar dari jendela. Dia ingin menghirup udara segar di luar. Beberapa hari ini pikirannya terlalu penuh akan hal yang tidak dimengerti olehnya. Naruto terus melompat di atap beberapa rumah hingga sampai di tempat pemakaman Hokage ke-4. Naruto berdiri menatap makam kedua orangtuanya itu.

Setiap ada masalah dia pasti pergi kesini untuk menenangkan diri dan berpikir.

"Ohayou tou-san, kaa-san. Gomen ne aku tidak membawa apa-apa saat menjenguk kalian. Saat ini toko bunga Ino masih belum buka, jadi aku tak bisa membeli bunga", suara Naruto terdengar lembut dan terbang bersama angin.

"Hari ini sangat istimewa untukku. Andai saja kalian masih ada,mungkin setiap hari pasti istimewa. Tapi kali ini aku tidak akan melewati ulangtahunku sendirian lagi, karena aku punya banyak teman yang menemani. Terimakasih telah mengijinkanku melihat dunia ini tou-san, kaa-san. Domo arigatougozaimasu". Naruto berlutut hingga kepalanya menyentuh tanah saat mengucapkannya. Kepalanya tetap tertunduk untuk menutupi airmatanya yang telah meleleh di pipinya.

"Otanjoubi omedetto Naru-hime. Orangtuamu pasti bangga padamu", satu suara disertai uluran tangan yang menggenggam sapu tangan terjulur pada Naruto. Dia berdiri disamping Naruto dengan tangan yang tetap terulur.

"Kau!

Naruto langsung berdiri tegak. Tangannya segera menghapus sisa airmatanya dengan kasar. Matanya menatap tajam pada gadis yang mengaku bernama Kiel itu.

"Mau apa kau disini?' geram Naruto dengan tangan terkepal.

Tiba-tiba saja moodnya langsung berubah dratis. 'Sial aku tidak membawa perlengkapan ninjaku' batin Naruto. Dia jadi tambah kesal saja sekarang.

Kiel hanya tersenyum adem saja menghadapi orang di depannya. Baginya naruto itu sangat imut kalau sedang kesal begini. Coba saja lihat pipinya yang menggembung itu semakin memperjelas garis halus pipinya. Apalagi matanya yang melotot itu, seperti ikan tercekik saja dia. Ckk.. itu memuji atau mengejek ya.

"Hei bocah! Kenapa kau tak juga sadar sie! Waktu kita semakin sempit bodoh!" suara kyuubi tiba-tiba menggaung di kepala Naruto.

Seketika Naruto terpekur, dia sungguh lupa akan hal yang terjadi beberapa waktu lalu. Memang tidak salah jika author bilang otak Naru itu lelet ya.*Kok dingin ya?*

"Ne Naru-chan,malam ini pesta ulangtahunmu kan. Datanglah ke bukit Hokage untuk merayakannya. Aku telah menyiapkan semuanya untukmu. Semuanya!". Setelah itu suara Kiel yang mendayu menghilang dari hadapannya. Yang tersisa hanyalah kicau burung pagi yang tengah bergembira menyambut hari baru.

Hutan terlarang

Jauh di tengah hutan terlarang seorang pria bertudung dan berjubah hitam berdiri tegak di sebuah pohon yang tinggi. Matanya menatap licik desa Konoha di kejauhan yang sebentar lagi akan tinggal nama baginya.

"Bersiaplah Konoha. Ini adalah saat terakhir bagi kalian semua. Ini waktu yang tepat untuk membalasmu Uzumaki Naruto. Aku datang membawa kado terindah untuk ulangtahunmu", ucap pria itu seraya tertawa lebar. Tawa keji itu bergaung di dalam hutan kematian.

Burung-burung langsung terbang menjauh dari hutan tersebut, seakan merasakan bahaya yang tiada tara.

Bagai menyambut badai, bahkan di pagi hari yang cerah tiba-tiba suara guntur dan petir bersahutan terdengar. Suara itu bagai gaung perang yang segera di mulai.

Kantor Hokage

Saat ini Tsunade tengah berhadapan dengan tamu dari Sunagakure. Tamu yang datang tadi malam untuk memenuhi undangannya untuk merayakan ulangtahun Naruto. Tamu yang sangat penting bagi Naruto dan juga Konoha.

Saat sedang memegang gelas tea, dan ingin meminumnya bersamaan dengan petir gelas itu hancur berkeping-keping. Semua tampak panik. Bukan karena gelasnya, tapi sikap aneh sang Hokage yang tiba-tiba gemetar tanpa sebab.

"Anda baik-baik saja Hokage-sama?" suara dalam itu mampu mengusir ketegangan tapi tak cukup menghentikan gemetar Tsunade.

"Shizune! Bawa Naruto padaku. Cepat!". Teriak Tsunade dengan wajah panik. Shizune langsung pontang panting keluar.

"Apa yang terjadi disini Tsunade-sama?" sekali lagi suara dalam yang tegas itu bertanya. Nadanya naik menjadi resah.

"Gaara. Ada apa kau kemari?" Naruto tiba-tiba muncul dari pintu dan menyapa ceria teman baiknya dari Suna itu. Di belakangnya Shizune terengah-engah mencari nafasnya.

"Baa-chan.. kau kenapa..

To be continue!

Teparrrrrrrrrr!

Tanganku keriting ngetik non-stop. Maaf minna jika kurang memuaskan ya! Ide nya lagi pada liburan entah kemana nie. Cape nangkapnya. Segini dulu yahhh.

Saatnya balas repiu nihh! Zee akan tulis balasannya ya. Kea kamu yang baca! Balas yang bener ya, author mau istirahat dulu.

Zee : Dasar author berisik! Yoo minna..

Nanao yumi :

Salam kenal juga. Makasih atas sambutannya buat fic perdana ku ya. Yang bakal muncul nanti itu oc saia. Kenapa Naru-hime? Klo saia jawab sekarang berarti fic nie tamat ya. Doubel review yaa..

Disini pairnya femNaru kok. Tapi belum di chap nie. Update kilat? Tunggu saia buat petir dulu ya..

Akira Ezakiya phantomthief :

Makasih udah suka. Pair nya femNaru kok. Ga mampu buat yaoi..

Di usahakan kilat yaa..

Namikaze Trisha :

Arigatou udah baca. Di usahakan yaa..

Mudahan petir mau kerjasama supaya kilat..

Hehehehehe…

Rose :

Makasih udah penasaran. Pair femNaru kok. Oc diusahakan ya..

Kenapa sasu batal marah, mngkin lagi puasa kali ya..*becanda*

Itu nanti klo ada celah aku masukin di story yaa..

Update di tunggu yaa..

Okehhh! Thanks minna udah repiu. Author seneng banget banyak yang nanggapi fic abal ini. Jangan lupa repiu lagi yaaaa..

Arigatou!