Soo Dana

Naruto©Masashi Kishimoto

COFFEE

Warning : masih sama seperti kemarin, dnt like dnt read

.

.

.

Seperti kopi di pagi hari, pahit! Seperti ketika rindu tidak terobati

Quote by Raditya Dika

Sakura Haruno, gadis cantik berambut pink panjang yang tergerai indah sepunggung itu menatap sebuah pigura. Pigura yang memperlihatkan dua orang—sepasang— yang tengah berpelukan mesra. Si pria yang berambut raven dan bermata onyx tajam itu memeluk dirinya dari belakang sambil meciun pipi nya, sedangkan Si gadis menjulurkan lidah nya dan membetuk tangan nya dengan bentuk V.

Sakura mendesah pelan. Di foto itu ia terlihat sangat bahagia. Begitu pula dengan si pria.

Si pria—Uchiha Sasuke seminggu ini sibuk dengan kuliah kedokterannya. Kini Sasuke-kunnya sedang disibukkan dengan praktik-praktik mengenai hal-hal yang berbau medis—mengingat ia kuliah di bidang Kedokteran.

Sebenar nya Sasuke sering menghubungi Sakura ditengah-tengah kesibukan nya. Tapi itu hanya sebentar saja. Barang 5-10 menit dan itu tidak mengobati rasa rindunya akan sosok pria bertubuh tegap dan gagah itu. Sakura selalu membayangkan wajah Sasuke yang sedang mengobati pasien-pasien wanita nya yang terkadang genit padanya. Uuuhhh! Memikirkan nya saja sudah membuat Sakura ingin mengamuk saking kesal dan panik nya.

Sebentar-sebentar ia mengecek handphone nya. Berharap barang ada SMS dari sang kekasih atau setidaknya sebuah missed call dari sang kekasih. Ia berguling kesana-kemari di kasurnya. Entah untuk apa ia melakukan itu. Kadang ia keluar kamar nya untuk sekedar mengambil air minum. Lalu kembali ke kamar untuk mengecek handphone, kemudian turun lagi menyetel televisi untuk membunuh rasa bosannya, lalu kembali ke kamar untuk mengecek handphone lalu turu sambil mendesah dan kembali ke dapur, dan begitu seterusnya. Namun, tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya.

'Aku akan mengunjungi Sasuke-kun untuk membawakan nya makan siang ah."

.

.

.

Sakura memakai rok biru muda rimple dan atasan khusus wanita dengan renda di sekitar lengan dan juga memakai syal dan mantel nya yang hangat, membuat nya tampak manis pagi itu. Ia juga telah siap dengan bentoo yang dibawanya untuk makan siang dengan Sasuke. Rambut nya sudah ia tata rapih dengan jepit dan diikat kuda. Membuat nya tampak manis dan cantik pagi itu.

"Ah! Gawat! Sudah jam 10. Aku harus bergegas!" ucap nya kemudian berjalan ke arah stasiun bawah tanah untuk menuju Rumah Sakit tempat Sasuke melakukan praktik.

Sakura melangkahkan kaki nya dengan riang dan kemudian berhenti di kedai kopi untuk menghangatkan badanya. Cuaca saat itu sangatlah dingin. Namun, memesan kopi tidaklah baik untuk pikiran nya. Kopi itu melambangkan Sasuke. Membuat rasa rindunya semakin menjadi-jadi.

"Sasuke-kun, apa kau juga rindu padaku?" gumam nya kemudian melanjutkan kembali perjalan nya.

.

.

.

Pukul 12.25 siang

Sakura memasuki Rumah Sakit tempat Sasuke praktik. Sakura mencoba bertanya pada perawat yang sedang piket.

"Maaf, apakah saya bisa bertemu dengan Uchiha Sasuke? Dia adalah mahasiswa yang praktik disini," terang Sakura. Si perawat tersenyum ramah.

"Oh, Uchiha-san sedang makan siang bersama nona Shion. Mungkin sebentar lagi ia akan datang," ucap si perawat. Sakura bagai ditusuk jarum. Hatinya sakit kala tahu sang kekasih sibuk makan siang bersama gadis lain yang bahkan Sakura tak mengenalnya.

Sakura duduk di pinggiran taman di Rumah Sakit sambil menatap bentoo nya. Air matanya menetes perlahan.

"Sayang kan kalau bentoo ini tidak dimakan," gumamnya kemudian membuka perlahan bentoo itu dan memakan nya.

Sasuke menatap siluet gadis berambut pink di taman Rumah Sakit tempat nya bekerja. Ia kemudian menyusul gadis yang sepertinya tengah berbicara sendiri itu. Sasuke mendekatinya perlahan.

"Kalau tahu dia tidak ada, aku tidak akan datang!" ucap nya lagi sambil menyuapkan bentoonya ke mulut. Sasuke mendengarkan penuturan si gadis yang sibuk mengomel.

"Apalagi ketika tahu dia makan siang bersama si Shion Shion itu!" gumam nya kesal sambil kembali menyuapkan sesumpit (?) nasi ke mulut nya.

"Kalau tahu begitu, aku tidak akan repot-repot merindukan nya dan membuatkan nya bentoo!" gumam Sakura namun bisa didengar Sasuke. Mendengar penuturan Sakura, Sasuke segera mendudukkan diri di samping Sakura dan merebut bentoo miliknya.

"Kalau mau kasih, kenapa harus dimakan sendiri?" Tanya Sasuke. Membuat Sakura semakin sedih melihat Sasuke dan membayangkan yang tidak-tidak antara Sasuke dan Shion.

"Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan nya," jelas Sasuke kemudian menyumpitkan(?) nasi ke dalam mulutnya seakan mengerti apa yang dibayangkan Sakura.

"Kau merindukan ku?" Tanya nya pada Sasuke. Sakura hanya mengangguk pelan.

Sasuke menarik Sakura ke dalam pelukannya. Mencoba menghirup aroma sang kekasih dengan dalam.

"Aku juga merindukan mu. Dan aku tidak menyangka kau akan kesini. Aku mencintaimu Sakura," ucap Sasuke sambil mengeratkan pelukannya. Begitu juga dengan Sakura, ia mengeratkan pelukannya pada Sasuke dan membiarkan aroma maskulinnya menusuk-nusuk indera penciumannya. Karena itulah rasa rindunya dapat tersalurkan.

Seperti kopi di pagi hari, pahit! Seperti ketika rindu tidak terobati.

FIN

Romantis kah? Kurang kah?

Mohon maaf ya readers kalau masih banyak kekuarangan.

Kritik dan Saran tuangkan di kotak Review, sekalian maksud nya. Hehehe

Words : 804