Persetan sama makan, yang penting bisa post chapter yang baru *maklum anak kost'an kemaren baru kehabisan kuota he he
Desclaimer : Masashi Kishimoto
Matahari bersinar dengan terangnya siang itu, menyinari seluruh Tokyo dan membuat banyak orang berkeringat. Hari itu pukul 12 siang dimana matahari bersnar dan mengeluarkan panas tertingginya, Tenten dengan tenangnya menyedot Orange juice buatan Misaki sambil mengerjakan skripsinya ditengah ruang keluarga. Tiba-tiba saja Misaki datang menghampiri Tenten.
"Eh? Misaki? Ada apa?," tanya Tenten sambil menyedot minumannya.
"Nyonya ingin bertemu dengan anda, nona," Tenten sedikit tersedak mendengar ucapan Misaki, ia sedang tidak dalam mood yang baik untuk menememui Ibunya semenjak kejadian kemarin malam.
"Be-benarkah? Baiklah aku akan menemuinya sekarang," Tenten segera bangkit dari sofa yang didudukinya dan berjalan keluar dari ruang keluarga menuju keruang kerja Ibunya. Tenten sampai didepan pintu ruang kerja Ibunya, saat ia akan mengetuk pintu tiba-tiba Ibunya berkata, "Masuklah,"
Tenten pun segera masuk. Saat ia masuk terlihat Uriko sedang sibuk dengan kertas-kertas perusahaan yang membuat Tenten pusing walau hanya melihatnya saja, ia selalu berpikir 'beginikah nanti yang aku lakukan ketika sudah bekerja nanti?' Tenten tidak pernah bercita-cita untuk bekerja dikantor yang keluarganya kelola, tapi ia selalu bercita-cita untuk membangun sebuah panti asuhan dan juga menjadi guru TK, sederhana mungkin, tapi itu merupakan pekerjaan yang cukup mulia dari pada harus bekerja dikantor dan diam didalam sebuah gedung selama 12 jam atau lebih setiap hari.
"Okaasan ingin menemuiku?," ucap Tenten .
Uriko mengalihkan pandangannya dari pekerjaannya dan melihat kearah Tenten.
"Hmmhh yah,"
"Dengar keluarga kita akan mengadakan pesta besok malam dalam rangka menyambut kerja sama perusahaan keluarga kita dengan Hyuuga Corp dan juga menyambut kembali kedatangan Sakura dari Paris,"
"Pe-pesta," ucap Tenten sambil membuang pandangannya kebawah dan menghembuskan nafas. "Hanya itu?," ucap Tenten kembali.
"Aku pikir yah hanya itu saja, kau boleh keluar,"ucap Uriko dingin dan ia kembali mengembalikan perhatiannya pada kertas-kertas yang ada didepannya. Tenten pun berbalik tanpa kata-kata, saat ia akan memutar knob pintu ruangan tersebut, Uriko kembali berbicara.
"Oh yah satu lagi, jaga sikapmu baik-baik pada pesta besok malam, aku tidak ingin kau mempermalukan keluarga kita seperti yang kau lakukan pada pesta sebelumnya, berpakaian seperti warga kelas rendah," ucap Uriko dengan nada yang sedikit mengejek. Tenten hanya menganggukkan kepalanya lalu segera pergi dari ruangan tersebut.
Tenten dengan seriusnya membaca sebuah buku dengan judul "What Your Brain Can Do: Jessica Method" sementara Misaki sedang mengeringkan rambutnya serta membantu Tenten berdandan untuk pesta yang akan dilaksanakan satu jam lagi.
"Huftt, apakah tidak bisa lebih lama lagi?," tanya Tenten dengan nada yang menandakan dia sudah mulai bosan.
"Sabarlah nona, lagi pula pesta akan diadakan satu jam lagi," ucap Misaki pada Tenten sambil tersenyum.
Tenten berdiri didepan kaca. Tidak peduli sudah berapa banyak pesta yang Tenten hadiri dan berpakaian seperti perempuan pada umumnya ia selalu heran dengan penampilannya sendiri. Dan hal ini terkadang membuat Misaki tersenyum geli dengan tingkah laku nonanya.
Tenten memakai sebuah dress berwarna peach selutut dengan sepatu open toes (bener kaga'? xD) yang berwarna senada, sedangkan untuk wajahnya Tenten hanya memakai make-up sederhana dan juga rambut yang ia gerai.
"Misaki, apakah aku terlihat aneh mengenakan dress ini?," tanya Tenten sambil berputar-putar didepan kaca.
"Tentu saja tidak, kau terlihat cantik," jawab Misaki sambil mengemasi alat-alat make-up.
"Melebihi Sakura?,"
"Eh? Nani?,"
Tenten hanya tertawa melihat reaksi Misaki, "Aku hanya bercanda, tentu saja Sakura lebih cantik dari diriku,"
"Nona…,"
Tepat saat itu juga tiba-tiba Sakura masuk kedalam kamar Tenten, ia terlihat sangat cantik dengan balutan Taffeta putih yang menunjukkan lekukan tubuhnya yang sexy. Tenten agak iri melihat penampilan Sakura yang menunjukkan kalau ia sudah mulai dewasa, berbeda jauh dengan dirinya yang terlihat agak sedikit "kekanakan".
"Tenten, Ibu bilang sudah waktunya untuk pergi, ayo," ucap Sakura lalu langsung keluar dari dalam kamar Tenten.
Tenten menggigit bibir bawahnya, 'Haruskah aku selalu menjadi bayangan Sakura?'. Tenten pun melangkah keluar dari kamarnya menuju kebawah dan menemui Sakura yang sudah menunggunya didalam limosin.
"Hey, apakah kau sudah siap?," Tanya Sakura.
"Yah,"
"Baiklah, ayo kita berangkat,"
Uriko sedang sibuk mengobrol dengan istri pemimpin Uzumaki Eu De Cologne ketika dua putrinya tiba dan dengan refleks semua mata terarah memandang mereka. Uriko pun hanya bisa tersenyum bangga melihat kedua putrinya terutama Sakura.
"Aww, Uriko apakah mereka berdua putrimu?," Tanya Kushina sambil menyikut sedikit bahu Uriko.
"Yah, begitulah. Bukankah mereka terlihat cantik?," tanya Uriko.
"Tentu saja, mereka terlihat sangat menawan. Kau sungguh beruntung bisa memiliki putri-putri yang sungguh cantik," jawab Kushina.
"Terutama, Sakura," ucap Uriko membanggakan putri kandungnya.
"Ya memang, tapi menurutku Tenten terlihat lebih manis,"
Uriko memandang tajam Kushina dari ujung matanya, "Apakah kau bilang Sakura tidak cukup cantik?,"
"Oh…tidak,tidak,tidak. Tentu saja Sakura sangat cantik, kau tidak bisa mengalihkan pandanganmu darinya, mata emerald hijaunya terlihat sangat indah dan juga kulit putihnya yang menawan. Sakura terlihat seperti Cinderella masa kini…,"
Uriko tersenyum. Yah itu benar… tidak ada seorangpun yang dapat mengalahkan kecantika Saku-
"Tapi kau dapat melihat kecantikan Tenten hanya dengan melihatnya. Saat pertama melihat kau hanya akan berpikir kalau ia hanya mempunyai wajah yang biasa saja tetapi jika kau lebih perhatikan lagi…. Kau akan melihat bagaimana mata coklat indahnya bersinar, bibir yang menawan membentuk senyuman yang dapat mengambil nafasmu dan wajah cantiknya… Itu terlihat seperti sedang memandang Monalisa modern,"
Kushina meminum sedikit Sampanye-nya dan mengikuti gerak-gerik Tenten dengan matanya. Dia terlihat seperti…
"Dia mirip dengan almarhumah sahabatmu," komentar Kushina.
Uriko tidak menjawab apapun dan memandangi Tenten yang sedang mengobrol dengan para tamu biasa. Pandangannya beralih pada Sakura yang sedang menyapa satu persatu tamu-tamu penting yang Uriko undang.
Pikirannya melayang mengingat kejadian pahit beberapa tahun yang lalu...
"KAU APA?!," Uriko tiba-tiba saja meledak mendengar pernyataan sahabatnya beberapa detik yang lalu.
"Aku hamil dengan Hitoki,"
Mata Uriko mulai berair. "Ba-bagaimana kau…,"
"BAGAIMANA BISA KAU! DIA SUAMIKU!," teriak Uriko.
Ayumu memeluk kaki Uriko. "Maafkan aku, tapi aku mencintai Hitoki,"
Uriko mulai dipenuhi dengan emosi. Dia mendorong Ayumu dan menamparnya dengan keras.
"Kenapa?... Kenapa?...KENAPA AYUMU?! KAU SAHABATKU! KAU…,"
Ayumu menyentuh pipi kanannya, rasanya sangat sakit.
"Ada apa ini?," tanya Hitoki yang tiba-tiba muncul dari balik pintu ruang tamu. Dua sahabat itu pun mengalihkan penglihatannya memandang Hitoki.
Uriko memandang suaminya, "...apakah itu benar?,"
"Apanya yang benar?," Hitoki berjalan mendekati istrinya.
"APAKAH ITU BENAR BAHWA AYUMU MEMBAWA ANAK SIALANMU?!," Uriko berteriak sambil meneteskan air matanya.
"U-Uriko, tenanglah, i-itu hanya sebuah kasalahan. A-aku tidak pernah bermaksud...," ucap Hitoki terbata-bata.
"Apakah kau membeciku?," Uriko tersedu.
Hitoki memeluk istrinya, "Uriko...,"
Uriko menolak pelukan Hitoki, "Apakah kau membenciku karena aku belum bisa melahirkan seorang anak, sehingga kau sampai meniduri wanita lain?,"
"Apa? Tidak...Uriko,"
"Aku belum bisa memberikanmu seorang anak, jadi kau berpaling pada sahabatku,"
"Uriko, kumohon...,"
"Jadi itu hanya hanya sebuah kesalahan?," tanya Ayumu.
Hitoki memandang Ayumu, "Ayumu, maafkan aku...saat itu aku sedang mabuk,"
Ayumu terkejut.
Akhirnya mereka membuat sebuah keputusan. Hitoki akan bertanggung jawab atas bayi tersebut, namun sayang Ayumu meninggal saat melahirkan. Putrinya selamat dan mereka menamainya dengan nama Tenten.
Tenten memandang Sakura yang sedang berbincang dengan saudara sepupunya. Tenten tidak terlalu dekat dengan sanak saudaranya, terutama dari pihak Ayahnya. Ia selalu berpikir kenapa Paman dan Bibinya selalu menghiraukannya.
Tenten menghela nafasnya lalu ia mengedarkannya kesuluh penjuru tempat dan pandangannya terhenti pada pintu masuk, ia melihat Bibi dari pihak Ayahnya, Bibi Chieko.
Bibi Chieko berjalan kearah Sakura dan memberinya ciuman dipipi.
"Sakura, astaga lihatlah dirimu, kau sudah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik," Bibi Chieko memeluknya dengan erat.
"Aww, terima kasih," Sakura memberi senyuman satu-juta-dollar kepada Bibinya.
Mereka berdua berjalan kearah kemana Tenten sedang berdiri, ketika ia mengetahui itu adalah Tenten, senyum Bibi mereka langsung berganti menjadi wajah memberengut dan menunjukkan ketidaksenangan.
"Senang bisa bertemu denganmu lagi disini, Bibi Chieko," sapa Tenten.
"Yah, aku juga," itulah sat-satunya respon yang ia berikan sebelum ia kembali lagi pada Sakura.
"Ngomong-ngomong Sakura, aku dengar keponakan Bibi yang satu ini sudah bertungan, siapa laki-laki yang beruntung itu, eh?," tanya Bibi Chieko penasaran.
"Namanya, Neji, Hyuuga Neji," ucap Sakura sambil tersenyum.
Tenten yang merasa dihiraukan langsung pergi dari tempat Sakura dan Bibi Chieko berbincang dan pergi menuju taman dibelakang gedung. Sesampainya disana ia langsung melepas sepatu high heelsnya dan berjalan sambil bertelanjang kaki merasakan sedikit kegelian ketika kakinya menginjak rerumputan yang berwarna hijau duduk. Ia lalu duduk dibangku taman tersebut. Sunyi, hanya itulah yang menemaninya. Tenten melepas kalungnya dan membuka liontin yang berisi foto Ibunya sambil tersenyum.
"Okaasan...,"
TBC...
Like it? hate it? lemme know, review please?
