Seijuurou bersandar pada kaca jendela Benz yang ia tumpangi. Mencoba menghabiskan waktu tiga puluh menit menempuh perjalanan. Kepalanya terasa sakit, seakan ada paku besar yang menancap. Sial, ia pikir pria tua itu tidak akan pernah kembali lagi. Seharusnya Seijuurou tau ketika tua bangka sialan itu memberikan sesuatu, maka ia akan meminta lebih. Mengapa? Kenapa harus di saat ia ingin menghirup udara kebebasan.
"Hufftt..." Seijuurou menghela napas, mengubah sandarannya pada sofa kulit kecoklatan. Tangan kirinya memberi pijatan ringan di dahi. Ah, dasar bodoh. Ia lupa hari ini ada kegiatan klub sepulang sekolah. Sekarang ia harus memikirkan alasan untuk membolos klub nanti.
Apa dia harus mengatakan, 'hari ini si pria tua sialan itu datang dan mengancam kebebasanku jika aku menolak'. Atau mungkin, 'senpai kalau aku tidak membolos hari ini entah lusa atau esok dirimu akan menemukan mayatku'. Mayat? Memang ia akan tewas jika melawan sang ayah? Ya, setidaknya jiwanya-lah yang mati.
Seijuurou kembali berganti posisi, salah satu tangan diletakkan pada lengan pintu. Kemudian ditopangkan kepalanya pada tangan tersebut. Matanya melirik keluar jendela. "Berhenti, Hideo." si pemuda memerintahkan sang supir untuk menghentikan mobil. Akan tetapi, seakan tidak mendengar ucapannya sang supir terus saja melaju.
"Aku bilang berhenti!" digebraknya pintu mobil sebagai pelampiasan amarah pada si supir yang tak mendengar perintah. Sang supir melihat sang tuan dari kaca depan, kedua manik heterochromatic itu menatap tajam kepadanya.
"Maafkan saya, tuan muda. Saya ditugaskan mengantar anda sampai ke sekolah." mendengar jawaban yang diterimanya, Seijuurou menggebrak kembali pintu di sampingnya dan memelototi sang supir.
"Diam, turuti perintahku!" Hideo tau betul remaja berusia lima belas tahun ini memiliki karakter yang tidak berbeda jauh dengan sang ayah, keduanya tidak dapat ditolak dan absolut. Dengan setengah hati Hideo menyanggupi permintaan si tuan muda dan menepikan mobil yang ia kendarai.
Hideo beranjak turun dari mobil dan membukakan pintu untuk sang tuan. Tak lama, remaja berambut fiery red keluar dari Benz yang ditumpanginya tanpa ekspresi.
"Dirimu boleh pergi, Hideo." mendengar perkataan sang tuan, Hideo yang tengah membungkuk menegakkan tubuhnya. Kedua alis sang supir saling bertautan. Merasa keberatan dengan permintaan sang tuan ia pun mencoba membujuk.
"Tuan muda, sudah menjadi tugas saya mengantar anda ke sekolah. Apabila ayah an..." belum selesai pria empat puluh tahunan ini berbicara, Seijuurou memotong kalimatnya.
"Aku bisa dan berhak memerintahmu. Setiap perkataanku adalah mutlak dan sudah jadi tugas dirimu untuk mematuhinya." terdengar sangat egois memang, tapi mungkin jika kalian menjadi Seijuurou pasti mengerti. Ia sudah muak selalu hidup bagaikan burung dalam sangkar. Muak dengan segala persyaratan yang ada.
"Mulai besok dirimu tidak perlu mengantar atau menjemputku ke sekolah."
"Tapi ayah tuan..."
Seijuurou beranjak meninggalkan si supir tanpa menoleh kembali ke arah pria tua tersebut. Dengan nada suara yang berat dan tegas dirinya berkata,
"setidaknya berikan aku kebebasan untuk bernapas di tempat ini."
.
.
.
.
S.M.L
© Nyankoii
Un-Beta
Words Count : 3210
All credit belongs to
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
AU, Gender Bender, Fem!Kuroko, OOC, OC, Alur tidak jelas Tata bahasa aneh, Typo bertebaran, dan lain-lain.
.
.
Chapter 1 - Twist Pt. 2
.
.
Seijuurou berjalan melewati pintu gerbang Teiko gakuen. Melangkah dengan gagah dan elegan, membuat seluruh mata melirik kepadanya - terutama para wanita. Secara samar ia dapat mendengar beberapa murid saling berbisik. Tak mau ambil pusing, dirinya terus berjalan. Walau ia tidak terlalu menyukai sekelilingnya tapi Seijuurou merasa beruntung berdiri di sini. Minimal di tempat inilah ia dapat merasakan kebebasan. Bersyukur negosiasi panjang yang ia lakukan dengan sang ayah berhasil.
Sang ayah yang selalu mengekang, menyutujui permintaannya untuk berada di sini. Tentu saja dengan perjanjian selama ia mematuhi kedua tua bangka tersebut. Walau pun semua ini harus dilalui dengan perjanjian - menurut dia - konyol, tapi tidak pernah ia sesali. Buat Seijuurou, menjadi murid teladan di sekolah tidaklah susah. Sejak dulu, dia memiliki riwayat akademis yang baik dan selalu nomor satu. Tidak sulit baginya mengikuti pelajaran di sekolah.
Jika kalian bertanya siapa itu Seijuurou? mereka pasti akan menjawab, ia adalah pangeran idaman bagi para gadis. Tidak hanya nilai akademis yang bagus tapi mahir dalam olah raga juga. Ditambah wajah rupawan dan kekayaan melimpah. Sempurna sudah, hingga wajar jika banyak gadis yang memujanya. Namun, bagi para pria, ia adalah Marty-sue yang menyebalkan - walau tidak dipungkiri mereka juga menghormatinya - dalam cerita dongeng.
"Hey, apakah itu Akashi-sama?" salah seorang murid wanita berbisik kepada temannya.
"Oh, Kami-sama. Hari ini pun ia terlihat tampan." kagum murid wanita yang lain.
Jika kalian berpikir hanya para siswi yang memperhatikan, kalian salah. Dirinya pun tidak pernah luput dari pandangan para siswa. Seijuurou dapat mendengar salah satu siswa bertanya pada siswa lain, apakah benar dirinya yang sedang berjalan saat ini. Bagi Seijuurou itu adalah pertanyaan terbodoh yang pernah ia dengar. Apa mata siswa itu sudah rabun sampai tidak bisa mengenali orang? Lalu dia kira siapa yang berjalan di hadapannya sekarang? setan? hantu? jin? dedemit atau doppleganger?
"Aku enggak lihat Benz yang biasa ia naiki. Aneh sekali ia berjalan kaki ke sekolah." ucap siswa lainnya. Satu lagi kalimat bodoh yang terdengar ditelinga Sejuurou. Memang salah jika ia berjalan kaki. Bukannya bagus, ia membantu pengurangan gas buangan karbon dioksida dalam udara. Anggap saja yang ia lakukan ini sebagai aksi peduli lingkungan.
"Mungkin keluarganya sedang terjerat masalah keuangan." canda salah seorang siswa dengan tertawa dan mendapatkan sikutan dari sang teman.
"Psttt, jika ia mendengarmu. Kau enggak pernah tau, apa yang akan terjadi dengan masa depanmu." omel teman si siswa.
"Itu juga kalau dia masih bisa lihat hari esok. Jangan-jangan dia enggak bisa buka mata lagi setelah hari ini." tawa siswa lain di antara mereka berdua sebelum mendapatkan pukulan di kepala dari remaja yang ditertawakannya.
"Sial, kamu nyumpahin aku mati." kesal cowok berambut kehitaman. Ya, hentikanlah omong kosong kalian sebelum singa terbangun dari tidurnya.
Beruntung Seijuurou lagi tidak ingin menanggapi segala omongan minor para minion. Walau jujur, dia sedang mencoba mengendalikan diri untuk tidak membumi hanguskan tempat ini. Dia sangat benci kumpulan sampah yang mencoba mendekati dan mengorek-orek masalah pribadinya. Oleh karena itu, ia benci pagi hari saat dirinya harus bersekolah. Selalu saja ada kumpulan babi bodoh dan sampah yang menyambutnya setiap pagi.
Dengan dipenuhi rasa dongkol, ia terus berjalan dengan gagah dan elegan. Bagaimana pun juga ia harus menjaga image sebagai murid teladan. Semunya harus sesuai perhitungan dan tidak boleh ada kesalahan sekecil apa pun. Lebih baik dia berpura-pura tidak mendengar gunjingan yang berkumandang atau menatap makhluk-makhluk menyebalkan ini. Menulikan kuping sudah menjadi kebiasaan sejak dia memasuki sekolah umum ini.
Seijuurou terus berjalan menuju gedung sekolah. Namun, langkahnya terhenti ketika menangkap sosok gadis yang berjalan agak jauh darinya. Tentu saja ia mengenal siapa gadis yang sedang berbicara dengan siswi lain di sana. Ah, sial. Mengapa dirinya harus bertemu dengan cewek itu. Saat ini cewek itulah orang yang paling terakhir ingin ia temui. Semoga saja 'dia' tidak menyadari kedatangannya.
Sayang beribu-ribu sayang, anak perempuan yang bersama si gadis menoleh ke belakang dan melihatnya. Siswi itu tersenyum kepada Seijuurou dan memberitahu gadis di sampingnya perihal keberadaan si rambut fiery red. Sang gadis pun menoleh kepadanya dan tersenyum.
"Sial" sepertinya Seijuurou tidak dapat menghindar lagi.
Gadis berambut beige pendek, berdiri menunggu Seijuurou berjalan mendekati dirinya. Gadis berkulit putih dengan tinggi lebih pendek sepuluh senti darinya menyapa, "Ohayou, Akashi-san."
"A- Ohayou." Seijuurou memaksakan senyuman dan memberikan salam singkat.
Kemudian bersama sang gadis - mau tidak mau - mereka berjalan berdua. Tidak ingin berlama-lama bersama si gadis, Seijuurou sengaja mempercepat langkah kaki. Akan tetapi, sang gadis masih bisa mengikuti ritme-nya. Cewek itu sangat gigih mendekatinya dan ia tidak pernah suka akan hal tersebut. Alasan itulah mengapa Seijuurou tidak berbicara satu kata pun dan memilih suasana hening.
Berkali-kali gadis berambut beige itu mencuri pandang dari dirinya. Seijuurou tau itu dan memilih berpura-pura tidak tau. Dilihatnya gadis tersebut tersenyum kecil, dengan pipi kemerahan sang gadis membuka kedua labia-nya.
"Nee, Akashi-san. Apakah kamu ada waktu usai latihan klub sore ini?" sang gadis memulai percakapan di antara mereka.
Sebenarnya Seijuurou cukup malas menjawab pertanyaan si gadis tapi ia tidak bisa menghancurkan image-nya begitu saja. Apalagi hanya dikarenakan seorang gadis bodoh macam ini. Seijuurou memutuskan menjawab pertanyaan tersebut dengan senyum setengah hati, "Ah, maaf aku tidak ikut latihan sore ini. Aku harus menemui ayahku seusai sekolah." Kemudian diperlihatkannya raut wajah sedih dan kecewa karena tidak dapat menemani si gadis. Tentu saja semua hanya pura-pura, dirinya tidak benar-benar sedih melainkan senang.
"Sangat disayangkan kalau begitu, tapi kabar baik ayahmu telah kembali ke Jepang. Kamu pasti senang." gadis itu tersenyum bahagia seolah ia ikut merasakan kebahagiaan Seijuurou. Gadis tersebut berkata bahwa dirinya bahagia, namun Seijuurou tau betul ia tengah kecewa. Tampak jelas dari sorot matanya. Betapa bodoh gadis ini, bahkan berpura-pura senang saja tidak bisa.
"Ah, ya tentu saja aku senang." Seijuurou tersenyum tapi dalam hati berkata lain, "cih, senang? persetan dengan itu." Lebih baik ia melompat ke jurang terdalam dari pada menemui sang ayah. Lalu gadis itu terus mencari topik pembicaraan lain hingga membuat dirinya kesal sepanjang jalan.
Entah betapa bahagia Seijuurou saat melihat papan bertuliskan kelas 1-C menggantung di atas sebuah pintu. "Ah, sudah sampai." ucapnya saat berdiri di depan kelas si gadis. Akhirnya bisa juga dia terbebas dari cewek bodoh ini.
Raut wajah si gadis berubah sendu melihat papan kelas, "Umm... ya..."
Secepat mungkin Seijuurou mengucapkan salam perpisahan kepada sang gadis dan beranjak pergi. Namun, baru tiga langkah berjalan sesuatu menahannya. Seijuurou menghela napas singkat, ia tahu benar apa yang menghambatnya. Ia pun menoleh dan melihat tangan si gadis memegang erat blazer yang ia kenakan. Semburat merah mewarnai wajah sang gadis yang tengah menunduk. Tingkah laku sang gadis membuatnya berpikir, apa ini salah satu cara perempuan terlihat imut di mata pria.
'Mendokusai.'
Seijuurou menautkan kedua alisnya, "Ya?"
"Eh?" gadis tersebut tampak kebingungan melihat kedua tangannya yang tengah memegang erat blazer Seijuurou.
"A- ah! Maaf!" panik si gadis dan secepat mungkin melepaskan genggamannya. Gadis itu terdiam, wajahnya semakin memerah. Dengan ragu sang gadis berulang kali melirik ke arah si pemuda.
Seijuurou hanya terdiam menunggunya untuk berbicara.
"Ti- tidak. Tadi- hanya... umm..." gadis itu kembali menutup rapat kedua bibirnya.
Seijuurou mencoba untuk tidak memijat kening atau menghela napas. Ia tau sekali apa yang diinginkan si gadis. Haruskah ia memberikan kata-kata manis atau membiarkannya berlalu - berpura tidak mengerti. Dengan penuh - ekstra - kesabaran, dirinya menunggu sang gadis berbicara.
Selang tiga menit sang gadis belum berbicara juga. Ya, Tuhan apa ia harus menunggu sia-sia seperti ini dan membuang waktu secara percuma? cukup, habis sudah kesabarannya. Ia pun membelai kepala sang gadis, "... kalau mau kita bisa makan bareng saat istirahat."
Gadis tersebut terkejut dengan apa yang dilakukannya. Tidak pernah satu kali pun tersirat dalam benaknya bahwa Seijuurou akan bersikap seperti ini - apalagi terhadap dirinya. Wajah gadis itu pun memerah, mendapat belaian dari sang pangeran. Dengan terbata-bata ia menjawab ajakan pangeran hatinya, "Y- Ya."
Seijuurou tersenyum puas, akhirnya ia bisa membebaskan diri dari sang cewek menyebalkan. Dia menghentikan belaiannya dan mengecup pipi si gadis. Membuat beberapa pasang mata di sekeliling mereka, merasa iri. Tanpa mempedulikan pandangan sekitar, Seijuurou mengelus pipi sang gadis.
"Sayang aku harus meninggalkanmu." sekali lagi manik ruby itu seakan menyiratkan kesedihan namun kenyataannya tidak sama sekali.
"Akan kutemui kamu jam istirahat, tunggulah." usai memberi pemanis pada si gadis, Seijuurou beranjak meninggalkannya yang masih berdiri terdiam. Gadis itu telah terjerat pesona palsu si rambut fiery red . Jantung si gadis berdetak lebih cepat dari kondisi normal sebagai efek samping. Sang gadis hanya bisa menekan dada, mencoba memperlambat kerja jantungnya sembari menatap sang pangeran berlalu.
Tanpa menoleh ke belakang, Seijuurou terus berjalan elegan menyembunyikan rasa penasaran. Siapa nama gadis tadi? ia tidak bisa mengingatnya sama sekali. Ia hanya tau kelas sang gadis. Sudahlah, buat apa dirinya peduli jika sejak awal tidak pernah ada niatan untuk mengingat. Bahkan, ia tidak pernah menyimpan alamat email cewek tadi. Buat apa menyimpan alamat email yang nantinya akan Seijuurou hapus. Lagi pula gadis itu selalu menghubunginya terlebih dahulu.
Seijuurou melihat waktu di jam tangannya. Untung masih ada waktu tersisa sebelum bel masuk berbunyi. Kesempatan ini harus ia pakai untuk menemui senpai di tim basket, mengingat saat jam istirahat ia akan disibukkan oleh gadis menyebalkan tadi. Dirinya berjalan menaiki tangga menuju lantai empat menuju kelas 3-B.
Sepanjang lorong lantai empat ia merasa banyak mata memandang ke arahnya. Secara samar telinganya dapat menangkap suara yang saling berbisik. Kami-sama, apakah salah junior berjalan di lorong senior? seaneh itukah jika seorang anak kelas sepuluh berada di lantai anak kelas dua belas? dasar kakak kelas menyebalkan.
Lirikan matanya sesekali menangkap beberapa senior perempuan tersenyum dan melambaikan tangan kepadanya. Salah satu siswi terlihat sedang berkaca mengecek dandanannya, satu lagi sibuk mengoleskan lip gloss pink berkilauan dibibir. Yang paling aneh tertangkap oleh pandangan matanya adalah seorang cewek yang sibuk bercermin membersihkan sela-sela gigi.
Please, yang benar saja. Membersihkan sela gigi di lorong sekolah? Itu hal yang amat tidak sopan menurut Seijuurou. Apa cewek itu tidak pernah diajari tata krama oleh orang tuanya? dia tau kan kalau di toilet ada kaca besar untuk bercermin? Kalian bisa dengan leluasa membersihkan gigi kalian di sana. Lagian tuh cewek sarapan apaan sampai segitunya. Dasar gadis bodoh.
"Tsk, inilah kenapa cewek selalu membuat sakit kepala." tidak habis pikir mengapa para cewek itu bertingkah laku seperti itu di depannya.
Dia bukanlah aktor atau model, juga bukan penyanyi atau olahragawan ternama di Jepang. Ia hanya murid biasa sama seperti mereka - kecuali kenyataan kalau dia adalah salah satu pewaris perusahaan besar. Seijuurou mempercepat langkah kakinya. Muak sudah dirinya menyaksikan ketololan di pagi hari para siswi tersebut. Dia sudah cukup dibuat sakit kepala sedari tadi dan ia tidak berminat memparahnya kembali.
Akhirnya Seijuurou berhasil mencapai kelas yang ia tuju. Terlihat tulisan bertuliskan 'kelas 3-B' tergantung di atas pintu. Belum sempat dirinya menengok ke dalam kelas, seorang siswa memanggilnya.
"Akashi-san? ada keperluan apa kau ke kelasku?" tanya siswa berkacamata dengan rambut kecoklatan.
Seijuurou memperhatikan siswa senior yang lebih tinggi tujuh senti darinya. Kalau tidak salah orang ini adalah Nakajima Haru, senior di tim basket. Baguslah ada seniornya ini, jadi ia tidak perlu repot memanggil senpai yang ia cari di dalam kelas.
"Nakajima-senpai, aku ingin bertemu Nijimura-senpai. Bisakah senpai memanggilnya?" pinta Seijuurou sesopan mungkin walau masih terdengar seperti sebuah perintah.
"Shuuzou? Oke, tunggu sebentar." Nakajima membuka pintu kelas, seketika terdengar suara berisik percakapan para siswa di dalam kelas. Sang senpai mencoba mencari si target dan meneriaki yang bersangkutan, "oi, Shuuzou!"
"Apa?!" jawab seorang siswa dengan galak.
"Akashi-san mencarimu nih."
"Ou... Uph... #$%*&%#$$!" Seijuurou dapat mendengar suara dentuman meja dan kursi terjatuh dengan keras, disusul suara tawa dari beberapa siswa.
Seijuurou menatap senpai yang berdiri di hadapannya. Dari tatapan siswa tersebut, ia tau sang senior sedang merasa penasaran akan sesuatu dan ingin mencari tau lebih lanjut. "Tumben kau ke kelas kami. Apa ada hal yang penting?" pemuda berkacamata mencoba memulai pembicaraan.
Tentu saja ada hal penting yang ingin ia sampaikan. Kalau tidak untuk apa ia ke lantai senior dan melewati lautan absurd para siswi yang tidak jelas tadi. Asal tau saja, Seijuurou bukan tipe orang kurang kerjaan yang akan menemui senior hanya untuk bertegur sapa. Ia pun menatap sang senpai dengan tatapan 'bukan urusanmu'. Nakajima yang mengerti maksud tatapan tersebut mencoba mencari topik lain. Bagaimana juga siswa itu masih ingin melihat hari esok.
"Aa, ku dengar kau sudah dapat cewek baru. Man, baru saja satu semester berlalu kau sudah berganti pacar yang ke- lima."
Seijuurou mengangkat salah satu alisnya, "lalu?"
"Aku kagum padamu. Terlebih lagi kekasihmu sekarang adalah Kotone. Akashi-san, you lucky bastard! bisa mendapatkan Koto- Uphh!" Nakajima segera menutup mulutnya ketika sadar apa yang baru saja ia katakan. Sial, dia terlanjur mengatai adik kelasnya ini keparat. Sekarang ia hanya bisa berdoa agar Seijuurou tidak langsung membunuh dan mencacah dirinya.
"Apa?" Seijuurou mengerutkan dahi, membuat tatapannya terlihat semakin menyeramkan.
Nakajima mulai diliputi rasa takut, dia pasti akan mati. Kenapa ia tidak bisa mengerem mulut kotornya ini. Nasi sudah jadi bubur tidak mungkin balik lagi jadi beras. Dirinya hanya bisa meratapi penyeselan yang datangnya selalu di akhir. Dengan keringat dingin mengucur di dahi, secara terbata-bata ia mencoba meminta pengampunan. "Ma- ma- maafkan aku, Akashi-san. A- a- ku tidak bermaksud untuk - "
"Siapa?"
Nakajima yang telah siap mengalami hal terburuk dalam hidupnya, berubah kebingungan. Tidak ada pukulan atau lemparan gunting keramat dari juniornya yang dijuluki si iblis merah. Dia pun menurunkan kedua tangan yang digunakan untuk menutupi wajah. Dilihatnya Seijuurou tampak kebingungan dan kembali berkata. "Ko- to- siapa?"
"Eh? maksudmu Kotone? Pacarmu Kotone, kan?" Nakajima merasa bingung dengan pertanyaan Seijuurou. Untuk apa pemuda merah itu bertanya nama kekasihnya sendiri pada orang lain, kecuali ...
"Akashi-san, jangan bilang kau enggak tau nama pacarmu sendiri. Man, enggak kusangka rumor mengenaimu itu benar." sang senpai menggaruk-garuk kepalanya sendiri walau tidak merasa gatal.
"Hmm... Kotone? Dirimu mengenalnya, senpai?" Seijuurou memegang dagu, berpikir. Tampaknya ia tidak mendengar Nakajima mengatakan kata 'rumor'.
"Tentu saja, ia salah satu cewek kelas satu terpopuler. Hampir semua siswa tau si imut Kotone." jawab Nakajima menatap Seijuurou dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa si rambut fiery red ini tidak tau perihal gadis yang tengah dikencaninya saat ini. Terlebih lagi sang gadis terkenal di kalangan para siswa.
"Hanya siswa cupu dan kuper yang tidak mengenalnya." lanjut Nakajima.
Seijuurou menyeringai, "heh? kalau begitu aku termasuk golongan cupu dan kuper tersebut senpai."
Sial, lagi-lagi Nakajima salah berbicara. Ia pun mengatup rapat kedua bibirnya, memutuskan untuk tidak berbicara apa-apa lagi. Entah mengapa Nakajima langsung merasakan perubahan suhu ruangan di sekitarnya meningkat. Akhirnya mereka berdua saling terdiam canggung, ia berdoa agar bisa terbebas dari situasi ini. Siapa saja tolonglah dia dari si iblis merah di depannya?!
Tidak berapa lama kemudian doa Nakajima terkabulkan, "Akashi, kau mencariku?" Baik Nakajima mau pun Seijuurou refleks melihat asal suara yang menginterupsi. Seorang siswa berambut onyx telah berada di antara mereka. Tampak siswa tersebut berlagak sok keren dengan bertolak pinggang - sebenarnya sih sedang menahan sakit encoknya.
"Ada yang ingin kubicarakan senpai." Seijuurou melirik ke arah Nakajima sebagai kode 'pergi dari sini atau kuhabisi dirimu'. Tidak perlu orang pintar untuk tau maksud Seijuurou, otak Nakajima yang sebesar biji kacang pun bisa mengerti.
"Kalau begitu aku duluan. Aku baru ingat ada keperluan lain ha... ha... ha..." tawa siswa berkacamata dengan canggung dan pergi meninggalkan mereka. Ia lebih mementingkan keselamatan diri dari pada rasa ingin tahunya.
Nijimura menyilangkan kedua lengannya di dada, "Jadi, ada keperluan apa kau mencariku?"
"Nee, senpai. Senpai tau Kotone?" jawaban Seijuurou membuat Nijimura menaikkan salah satu alisnya.
"... maksudmu anak kelas satu yang populer itu? memang kenapa?"
Seijuurou terdiam dan berpikir ternyata cewek itu idola sekolah, dia baru tau sekarang.
Siswa berambut onyx tersebut mulai mengeluarkan aura gelap, "A- ka- shi. Jangan bilang kau mencariku hanya untuk hal bodoh seperti itu." Seijuurou yang tersadar, berkeringat dingin melihat sang senpai berada dalam kondisi devil mode on.
"I- ie... aku ingin memberitahu, diriku hari ini tidak bisa ikut latihan klub." segalak-galaknya si iblis merah, tetap saja ia ketakutan menghadapi raja iblis di depannya.
"Hoo... rupanya kau sudah mulai berani seperti Shougo, huh. Kalian anak kelas satu terlalu banyak alasan untuk membolos." kedua manik onyx Nijimura menampakkan kilatan cahaya.
"Tidak, senpai. Hanya untuk hari ini saja. Aku ada sedikit urusan penting."
'Menyangkut kebebasanku.' ucap Seijuurou dalam hati.
"Urusan, hah? Urusan penting macam apa yang mungkin dimiliki oleh bocah kelas satu sepertimu?!"
"Uhmm... ya, aku tidak bisa mengatakannya padamu. Ini masalah personal."
'Aku juga tidak ingin bertemu si tua bangka sialan itu.'
Senior dan junior itu pun saling bertatapan. Sang senior mencoba mendeteksi kebohongan juniornya. Ayolah, bukankah si senior pernah berkata bahwa ia sangat percaya kepada juniornya ini hingga memberikannya posisi sebagai wakil kapten.
"Aku tidak berbohong." Seijuuro menatap kedua manik onyx secara langsung.
'Sial, memang tampangku seperti para tikus maling yang suka makan duit rakyat itu apa?!'
"Oke, aku percaya. Akan kuberi tau pelatih nanti.
Ah, tapi jika ternyata kau berbohong hanya untuk bermalas-malasan." sebuah seringai tampak dikedua sudut bibir Nijimura.
"Aku tidak akan segan melipat gandakan latihanmu menjadi empat kali lipat." senyum sang senpai kepada juniornya.
'Sudah ku duga. Dirimu memang suka melihat seseorang menderita.' Seijuurou menghela napas melihat kelakuan si kapten tirani. Setidaknya di mata Seijuurou dia masih termasuk orang yang patut dihormati. Dirinya sendiri juga tidak lebih baik dari sang senior dan ia tahu itu.
"Jadi, apa yang ingin kau katakan lagi?"
"Tidak, terima kasih senpai. Aku akan kembali ke kelas." Seijuurou membungkukkan badannya lalu beranjak pergi. Tak selang berapa lama suara bel tanda kelas dimulai terdengar, dengan terpaksa ia mempercepat langkah kakinya. Dirinya pun berhasil sampai di kelas terlebih dahulu sebelum wali kelas mereka.
.
.
.
.
Break time,
Bel penanda jam istirahat telah berdentang. Seluruh murid mulai beranjak meninggalkan kelas, berlari menuju kantin sekolah. Jam makan siang sekolah merupakan waktu teriuh, para siswa dan siswi saling berebut antrian dalam membeli makanan. Beberapa makanan di kantin akan habis dalam waktu sekejap sehingga mereka tidak boleh terlambat. Namun, Seijuurou masih santai membereskan buku di atas meja. Untuk apa dia harus repot berebut antrian. Toh, dirinya hanya akan membeli roti, sebotol air mineral dan sekaleng kopi. Semuanya masih banyak bersisa hingga akhir istirahat.
Selesai merapikan, dengan malas Seijuurou beranjak pergi menuju kantin. Kakinya terasa berat sekali untuk dijalankan. Dia hanya bisa menghela napas mengingat dirinya telah melakukan janji konyol tadi pagi. Sekarang ia pun harus rela waktu istirahatnya dihabiskan bersama cewek yang menyebalkan.
Usai membeli makan siangnya, Seijuurou segera menuju kelas 1-C. Rupanya Kotone telah menunggunya di depan pintu kelas membawa sekotak bento dan botol minum. Baguslah, ia jadi tidak perlu merepotkan diri memanggil cewek itu. Seijuurou menyapa Kotone, meraih tangannya dan berjalan bergandengan. Wajah Kotone bersemu padam, senyum kecil menghiasi paras manisnya sepanjang jalan menuju taman sekolah.
Sang gadis menentukan bahwa mereka akan duduk dan makan di bangku taman. Tak mau ambil pusing, Seijuurou menuruti kemauan si gadis. Baru beberapa menit berlalu tapi dirinya sudah merasa lelah seakan berjam-jam. Mengapa ia tidak bisa menikmati makan siangnya sendiri saja? mengapa semua cewek selalu ingin makan bersama cowok mereka? atau mungkin ini salah satu cara menunjukkan bahwa cowok itu adalah milik mereka? posesif - benar-benar melelahkan.
Kotone membuka penutup bento lalu menaruhnya kembali untuk menuangkan minuman pada penutup termos yang ia bawa. Disodorkannya penutup termos pengganti cangkir itu kepada Seijuurou.
"Tidak, terima kasih. Aku tidak terlalu suka teh." Seijuurou menyodorkan tangan sebagai tanda penolakan.
Kotone hanya bisa menarik kembali teh yang ia tawarkan dan menaruhnya. Raut wajahnya terlihat sedih, "maaf, aku tidak tau." kedua tangannya meremas rok yang ia kenakan.
"Tidak apa." Untuk apa juga cewek itu tahu tentang dirinya? toh pada akhirnya ia akan meninggalkan si cewek jika bosan. Sama seperti sebelumnya, baginya cewek ini tidak menarik sama sekali.
Tidak mau menyerah terhadap sikap dingin Seijuurou, Kotone mengambil sepotong tamagoyaki dengan sumpit. Sang gadis pun menyodorkan tamagoyaki di depan mulut sang kekasih. Maksud hati ingin menyuapi sang pacar tapi sekali lagi Seijuurou menolak. Beralasan telah membeli makan siangnya sendiri.
Seijuurou pun menunjukkan kantong plastik putih yang ia bawa. Kotone hanya bisa tertawa seperti orang bodoh, seharusnya ia tau isi plastik yang sedari tadi dipegang oleh kekasihnya berisikan makanan. Haa... betapa bodohnya ia. Sekarang, ingin sekali diri Kotone menangis.
Mengapa selalu saja gadis ini gagal mendapatkan perhatiannya? Apa yang harus ia lakukan agar Seijuurou melihatnya. Bahkan setiap hari ia akan datang ke sekolah dengan dandanan terbaik. Memoles wajah dengan make up senatural mungkin. Meluruskan rambutnya agar terlihat lurus sempurna dan mengenakan jepitan sebagai aksesoris. Mungkin jika di hadapannya bukanlah Seijuurou, dapat dipastikan pria itu akan jatuh kepelukannya. Apa Seijuurou benar-benar menyukainya? mereka berpacaran, kan?
Kotone mengeratkan pegangannya pada kotak bento, "a- ano... Akashi-san. "
"Hm." jawabnya datar tanpa melihat ke sang gadis.
"A- apa benar kamu tidak masalah denganku?" tampak keraguan terlukis jelas di wajah sang gadis.
Seijuurou terdiam sejenak, 'drama hari ini, ya. Dasar menyusahkan.' Dibukanya penutup botol air mineral, "tentu saja, bukankah aku berjanji padamu tadi pagi." diteguknya air mineral tersebut.
Kotone menggelengkan kepalanya, "mmm... bukan... bukan itu. Maksudku, apa kamu yakin tidak masalah menjadikan aku sebagai pacarmu?" Kotone menundukkan kepala, air matanya terasa sudah tidak dapat dibendung lagi. Satu kalimat yang salah bisa membuatnya menangis.
Sekarang, gadis itu benar-benar mendapat perhatian Seijuurou. Gadis bodoh ini mengapa mengajukan pertanyaan tolol semacam itu kepada dirinya. Bukankah gadis itu sendiri yang - memaksa - mengajaknya berkencan.
'Dasar bodoh.'
"Mengapa bertanya seperti itu?" Saking larut dalam perasaannya sendiri, si gadis bahkan tak sadar tatapan merendahkan dari Seijuurou.
Gadis berambut beige membuka mulut tapi mengatupkannya kembali. Ada keraguan tersendiri saat ingin menjawab pertanyaan sang kekasih. Dia bingung, apakah ia harus mengatakan segala perasaan dan pikirannya mengenai Seijuurou atau tidak. Bagaimana jika cowok itu terang-terangan menolak? tapi, jika ia terus berdiam diri...
Mana mungkin ia tahu perasaan Seijuurou sesungguhnya. Dia bukanlah seorang peramal. Selain itu, dialah yang pertama kali mengajak sang kekasih berkencan. Sejak awal, ini adalah hubungan sepihak. Kotone-lah yang tergila-gila dengan pemuda itu, bukan sebaliknya.
"Umm... Akashi-san tau. Rumor tentang dirimu yang selalu bermain dengan cewek lain ...
Apa itu benar?"
Seijuurou menatap bosan, sepertinya gadis ini punya level otak yang lebih rendah dari seekor keledai. Si bodoh ini sama saja dengan bertanya pada maling, apakah si maling adalah maling atau bukan. Please, deh. Mana ada maling mau ngaku maling. Kalau ada,mungkin penjara sudah penuh sesak.
Seijuurou tersenyum kecut, "kamu lebih percaya rumor dibanding diriku?"
"Bu- bukan... bukan begitu... tapi...
bukankah Seijuurou selalu berganti pasangan setiap bulannya? jadi kupikir ..."
Dasar gadis aneh, tidak dia atau yang lain. Semuanya sama saja, mereka mengajak - memaksa - dirinya berkencan. Memaksa meminta kesempatan selama satu bulan untuk mendapatkan hatinya. Jadi, bukan salahnya jika satu bulan berakhir ia memutuskan hubungan dengan mereka.
Sejak awal Seijuurou memang tidak pernah menyukai mereka. Urusan ia melakukan sesuatu dengan perempuan lain juga bukan urusan mereka. Seijuurou tidak pernah melarang cewek itu jalan bersama lelaki lain. Hubungan ini hanya untuk kesenangan semata.
"Seandainya benar, apa itu jadi masalah untukmu?" gadis itu tersentak dan menoleh ke arah Seijuurou. Tetesan air mulai terlihat di kedua ujung matanya.
'Bukan jawaban yang kamu mau, huh.'
"Masalah, kah?" Seijuurou menekankan kembali pertanyaannya.
"Ta- tapi, dirimu bilang... " air mata mulai menjalar di pipi sang gadis.
Seijuurou menghela napas, 'dasar bodoh, inilah kenyataan. Apa kamu pikir semua yang kamu inginkan akan terkabul? egois.' perlahan dibelainya kepala si gadis.
'Sial! Berhentilah menangis, dasar bodoh."
Kotone terkejut akan tindakan Seijuurou, kembali menatap si pemuda. Dilihat sang kekasih tersenyum lembut kepadanya. Air mata yang sempat terjatuh pun, terhenti seketika.
'Bagus, berhentilah menangis. Jangan buat aku terlihat buruk karenamu.' Seijuurou menyeka mata si gadis dengan ibu jarinya.
"A... kashi... -san." panggil si gadis dengan nada tak percaya.
"Sudah... sudah... aku hanya bercanda. Kenapa kamu malah nangis." senyum Seijuurou seolah semua hanyalah candaan semata.
'Cewek menyebalkan.'
"Ha- habis... kamu...
Aaa, kamu jahat! bercandamu tidak lucu sama sekali." Kedua tangan Kotone memukul dada bidang si pacar, sebagai bentuk kekesalan. Seijuurou tertawa kecil mencoba menghalangi pukulan sang gadis, "gomen... gomen..."
Kotone menghentikan serangannya dan merajuk, "ini semua salah Seijuurou."
"Hei , kok begitu. Kan, dirimu duluan yang memulainya Kotone."
'Selalu membuatku sakit kepala.'
"Tapi, tidak perlu sa... barusan kamu memanggilku apa?" kedua manik amethyst sang gadis terbuka lebar.
"Kotone." Seijuuro berpura malu memanggil nama sang gadis. Kotone tersenyum lebar mendengar namanya dipanggil untuk pertama kali.
'Selalu ingin dinomor satu, kan.'
"Kalau begitu, aku akan memanggilmu 'Sei'." Dengan penuh kebahagiaan Kotone memeluk dirinya. Seijuurou hanya tersenyum simpul mendengar ucapan sang gadis. Dia tidak terlalu menyukai gadis ini merasa akrab dengan dirinya.
'Menjijikkan.'
"Sei, katakan kamu suka padaku."
Seijuurou menyandarkan kepala sang gadis di dadanya, "Aku menyukaimu."
"Panggil namaku kembali." pinta sang gadis.
'Memaksakan kehendak.'
"Kotone." panggil Seijuurou selembut mungkin.
"Aku harap, Sei selalu bersama diriku." Seijuurou menyandarkan kepalanya di atas kepala si gadis. Ia memejamkan mata dan memberikan jawaban 'ya' untuk sang kekasih.
"Egois."
"Jangan melihat cewek lain selain diriku." setengah hati Seijuurou kembali mengiakan.
'Selalu meminta lebih.'
"Mulai besok selalu makan siang denganku." kali ini Seijuurou hanya berdeham sebagai jawaban.
'Menekanku.'
"I love you, Sei." Kotone menyatakan perasaannya setulus hati.
'Kamu tidak berarti apa pun untukku.'
Kotone melepaskan dirinya dari pelukan Seijuurou. Kedua manik amethyst menatap manik carminedan gold di hadapannya. Perlahan gadis berambut beige tersebut menutup kedua matanya. Permintaan si gadis pun di sambut sang kekasih. Seijuurou menjulurkan tangannya, memegang salah satu daun telinga sang gadis. Mendekatkan wajah si gadis dengan dirinya hingga kedua bibir mereka bertemu satu sama lain.
'Hubungan kita tidak lebih dari take and give.'
Kedua sejoli berciuman tanpa mempedulikan sekeliling mereka. Sebuah ciuman singkat namun berkesan bagi sang gadis. Ini pertama kalinya mereka berciuman, ditambah itu adalah ciuman pertama si gadis. Gadis itu berpikir ia telah berhasil mendapatkan hati si pemuda.
Akan tetapi, pada kenyataannya tidak sama sekali. Seijuurou tidak pernah menyukainya sejak awal. Ia terpaksa, berpura-pura memasang topeng layaknya pangeran. Menjalankan perannya dalam panggung drama yang disebut kehidupan.
Kotone memeluk Seijuurou, "aku janji kamu tidak akan pernah menyesal bersamaku."
Mendengar ucapan sang gadis, Seijuurou hanya tersenyum tipis. "Dan aku membenci orang sepertimu dari lubuk hati yang paling dalam."
"Saat bulan ini berakhir, kamu akan jadi milikku Sei."
'Kamu tak akan pernah membuatku jatuh hati.'
"Aku menantikannya." bisik Seijuurou.
'Saat bulan ini berakhir aku akan menyingkirkanmu.'
Seijuurou menepuk kepala Kotone dan melepaskan pelukannya, "sekarang habiskan makan siangmu. Sebentar lagi jam istirahat berakhir."
"Nnn." angguk si gadis dengan bahagia. Kotone mengangkat kotak bento dan mengambil sepotong karagee.
"Sei, aaaa..." Kotone membuka mulut sebagai peraga agar pemuda itu ikut membuka mulutnya.
Seijuurouhanya bisa menghela napas dan mengikuti kemauan si perempuan. Sang kekasih menatap dengan penuh tanya bermaksud menanyai rasa masakan tersebut.
"Enak."
Kedua manik amethyst tampak berbinar-binar, "benarkah? Syukurlah, aku takut kamu tidak menyukai masakanku." sang gadis pun tersenyum lega.
Seijuurou memuji dan mengusap rambut beige si gadis hingga berantakan. Kotone pun kembali merajuk, menggembungkan kedua pipi chubby-nya.
"Mou, Sei. Kamu merusak tatanan rambutku." Kotone memukul pelan sang kekasih agar berhenti merusak rambutnya. Seijuurou tertawa melihat sang gadis mencoba merapikan tatanan rambutnya sambil cemberut. Ia tertawa bukan karena tingkah laku atau wajah lucu si gadis. Melainkan karena kebodohan perempuan itu. Gadis itu bahkan tidak tau kebodohannya sendiri - ironi.
Seijuurou mengambil jepitan rambut yang tersangkut di antara rambut beige si gadis, "sini aku bantu." Dengan jari jemari tangannya, ia membantu merapihkan rambut si gadis dan memasangkan jepit rambutnya kembali. Kotone tersenyum lembut, "thanks, kamu baik sekali Sei."
'Tentu saja, memang itu yang aku inginkan.'
"Aku beruntung bisa mendapatkan Sei..."
'Anggaplah aku segalanya.' kegelapan diri Seijuurou pun tertawa.
"Sei si pangeran berkuda putih."
Seijuurou mengerutkan kening dan mengangkat salah satu alis, "julukan macam apa itu?"
"Loh, memang Sei tidak tau? itu julukanmu di kalangan wanita."
Apa? bercanda cewek ini. Bisa-bisanya ia mendapat julukan aneh bin ajaib dan terkesan garing. Mengapa harus pangeran berkuda putih? apa karena dia hobi berkuda dan kuda kesayangannya - Yukimaru - berwarna putih? seenak udelnya saja para wanita itu.
"Tapi kini pangeran itu hanya milikku seorang." ucap Kotone riang.
'Karena itu aku menginginkan hadiahku.' Seijuurou mengambil sekaleng kopi dari dalam kantong plastik.
"Nee, Sei. Beritahu aku, apa makanan favoritmu."
"Favorit? Hmm... mungkin tofu soup."
"Heh, tofu soup. Tidak ku sangka dirimu suka makanan sesimpel itu."
'Justru otakmu yang lebih simpel dari sebuah tahu.'
"Begitulah." singkat Seijuurou sebelum meminum sekaleng kopi yang dibelinya.
"Padahal rumor yang beredar kamu menyukai full main course masakan perancis."
'Membuatku ingin segera melumatnya.'
Lagi-lagi rumor, rumor dan rumor. Sudah lelah pemuda itu mendengar segala omong kosong tentang dirinya. Apa mereka pikir Seijuurou itu seorang super hero? memang keluarga 'Akashi' selalu menuntut kesempurnaan tapi ia tetaplah manusia biasa. Bahkan seorang Bruce Winnie hanya manusia biasa saat tidak mengenakan kostum pria bercelana dalam di luar itu. Bruce Winnie pun pernah melakukan kesalahan.
"Ee... to... ada yang bilang, kalau kamu ..." si gadis terus membicarakan segala rumor yang ia dengar. Seijuurou bosan mendengar segala omong kosong tentang dirinya. Tau apa mereka tentang hidup Seijuurou. Kalau orang kira, ia hidup seperti pangeran dalam buku bergambar. Mereka salah besar.
Seijuurou membungkam kedua bibir Kotone dengan bibirnya. Ini satu-satunya cara agar cewek itu berhenti bicara. Tatapan kecewa terlukis dalam dua manik heterochrome, "Jadi, kamu lebih percaya rumor dibanding perkataanku."
"Walau tidak semua rumor tersebut salah."
Kotone yang terkejut akan aksi tak terduga sang kekasih, tertawa kecil. Ternyata kekasihnya ini bisa merajuk juga. Sang gadis melingkarkan kedua tangannya pada leher si pemuda, "dasar bodoh, tentu saja aku lebih percaya Sei." Dirinya memberikan kecupan singkat kepada sang pemuda.
'Semoga Dirimu tidak menyesal di esok hari.'
Perempuan tersebut menarik kedua sudut bibir Seijuurou menggunakan telunjuk, "ayo, tersenyum. Sei paling ganteng kalau tersenyum." candanya.
'Kamu pikir siapa dirimu sok dekat denganku, dasar jalang.'
"Oh, jadi maksudmu aku tidak ganteng kalau tidak tersenyum." dicubitnya kedua pipi Kotone.
'Beraninya membuatku lelah mengikuti alur permainanmu.'
"Hahist, Sheiy. Ghoomenh." - (Sakit, Sei. Gomen.)
"Sudah cepat lanjutkan makan siangmu. Aku tidak mau tahu kalau kamu kelaparan nanti." Seijuurou melepaskan cubitannya dan menyentil hidung si gadis.
"Hidoiinee." protes Kotone sembari mengusap hidungnya.
Mereka kembali melanjutkan makan siang sambil berbincang. Kotone terus menerus bertanya mengenai kesukaan Seijuurou. Membuat pemuda tersebut kelelahan menanggapinya. Sesekali gadis itu masih menyinggung soal beberapa rumor. Membuat Seijuurou bertanya, siapa orang kurang kerjaan yang menyebarkan berita mengenai dirinya. Jika ia berhasil menemukan si pelaku, hukuman gantung terlihat menarik tapi menculik si pelaku lalu membuangnya ke laut juga terdengar menarik.
Tapi sekarang, yang menarik baginya adalah cewek bodoh di sebelahnya. Cewek ini menganggap dirinya sempurna. Mengira segala keramahan dan kehangatan yang ia beri adalah nyata. Sayang si gadis tidak tau, kalau ia cuma seorang pemuda brengsek. Memanfaatkan kepintaran, tampang, dan kekayaan sang ayah, menipu semua orang. Senyum baginya adalah sebuah bisnis. Berpikir bahwa dirinya telah luluh dalam dekapan sang gadis?
'Jangan mimpi.'
Diotaknya saat ini, hanya ada bagaimana cara menghancurkan si gadis hingga tak bersisa.
'Hei, apa kamu akan menangis meraung-raung? terjun ke bawah? atau memotong urat nadimu?"
Aah, tidak sabar dirinya melihat seperti apa ekspresi si gadis pada akhirnya. Akankah menyedihkan dan menjijikan seperti yang lain? atau berpura-pura tegar layaknya Wander Woman? tapi, jika gadis itu mengiba maka permainan ini tidak menarik.
Seijuurou menyeringai, 'aku tidak sabar menantikan bulan ini berakhir.'
.
.
"Akankah ada seseorang yang bisa memuaskanku?"
.
.
.
.
Tanpa keduanya sadari, seorang pemuda berambut turquoise berdiri di atap sekolah memperhatikan kedua sejoli dari balik teropong. Kedua bibir si pemuda membentuk lekukan berfokus pada pemuda berambut merah.
.
.
"Mi- tsu- ke- ta."
.
.
.
TBC
Mohon maaf sebelumnya, bukannya melanjutkan fic yang lain malah menambah utang. Jujur entah mengapa An lagi mau majang story ini. Ini sebenarnya fanfic pertama yang An buat. Kalau ada yang merasa pernah baca sebelumnya, ini adalah revisi dari story tersebut. Storynya main stream, nothing spesial, just a crap, trash n unworthed 2 read. Tema yang diusung cuma berisi orang-orang stress hahahaha.
Balasan review 08Diandra sudah saya balas lewat PM :)
Walau main chara satu lagi cuma nongol jadi kaya cameo semata, tapi telah disebut di atas. Rencananya next chap main chara satu lagi baru ikutan nimbrung ngegosip. Teehehehehe XD
Thanks for reading.
Sekarang An benar-benar tewas hingga akhir tahun.
Regards,
Nyankoii.
