TITTLE : OUR DESTINY
CAST : SHIM CHANGMIN X CHO KYUHYUN ( CHANGKYU )
GENRE : ROMANCE
LENGTH : MULTICHAPTER
RATING : T
DISCLAIMER : Semua tokoh bukan milik saya. Saya hanya meminjam untuk kebutuhan cerita.
WARNING : Cerita ini murni milik saya, dan mengandung unsur Yaoi, boy x boy, dll. Jadi bagi ada yang tidak suka baik cerita atau cast, saya sarankan jangan dibaca!
Happy Reading!
.
.
.
CHAPTER 2
Kyuhyun kini tengah berjalan-jalan menghabiskan waktu luangnya, rumah menjadi hal yang sangat membosankan baginya. Bagaimana tidak, sang kakak terus saja membahas soal sayembara pemilihan Putri Mahkota, ia selalu tak tenang jika mengingat sayembara itu akan diadakan besok. Rasanya hatinya begitu gelisah, dan yang terbayang diotaknya malah wajah sang Putra Mahkota. Memang bukan hal yang tabu lagi jika ada pasangan sesama jenis di Kerajaan Joseon, sebab Raja sendiri juga memilki Ratu yang notabene seorang lelaki.
Namun, bukan itu yang membuatnya gelisah. Ketakutan yang sebenarnya adalah bagaimana jika Putra Mahkota tidak menyukai seorang lelaki. Bisa apa ia jika memang sang Putra Mahkota ternyata menyukai seorang wanita. Kyuhyun menghela nafas, mendudukkan dirinya di rerumputan bukit samping istana. Entahlah kenapa ia malah memilih pergi ke tempat ini. Sudah beberapa hari ini ia selalu pergi ke tempat ini. Matanya tertuju pada bangunan istana yang kini menjulang di depannya. Bangunan yang menjadi tempat impiannya, secercah harapan mulai muncul di hatinya. Ia berharap sosok Putra Mahkota lewat sama seperti pertama kali ia dan kakaknya kemari, tiba-tiba saja ia ingin sekali melihat wajah sosok calon Raja Joseon itu.
Tetapi untuk beberapa menit ia menunggu tak ada tanda-tanda sang Putra Mahkota akan lewat. Seharusnya ia sadar Putra Mahkota pasti tengah disibukkan dengan urusan istana. Lalu kenapa ia malah berharap Putra Mahkota lewat? Putra Mahkota bukan sosok pengangguran seperti dirinya. Kyuhyun menunduk, memainkan dedaunan kering yang baru saja terjatuh dari pohon-pohon disekitarnya.
Tiba-tiba saja semangatnya menjadi pudar, Putra Mahkota benar-benar sudah mengobrak-abrik hatinya. "Apa yang sedang kau lakukan disini?" Kyuhyun menoleh ke sampingnya. Otaknya masih belum bekerja dengan baik, ia hanya melirik sosok di sampingnya sekilas lalu kembali kekegiatannya tadi yaitu memainkan dedaunan kering itu.
"Kau tak mau menjawab pertanyaanku?" Orang di sampingnya kembali bertanya. Kyuhyun menghentikan kegiatannya, ia diam sejenak mencoba memproses informasi yang baru saja diterima oleh otaknya. Matanya membulat secara refleks ia kembali menatap orang di sampingnya.
"Hwang-Hwangtaeja?" suaranya bahkan tersendat. Changmin tersenyum rupanya pemuda di sampingnya belum melupakan dirinya. Ia sempat khawatir pemuda ini melupakannya.
"Apa kabar?" Hah? Putra Mahkota tadi menanyakan kabarnya. Kyuhyun segera saja mengalihkan pandangannya. Pipinya bersemu merah, ia berharap Putra Mahkota tak melihat keadannya sekarang. Ia terlalu malu jika sampai Putra Mahkota mengetahui jika pipinya bersemu merah.
"Bagaimana bisa Hwangtaeja berada disini?" bukannya menjawab Kyuhyun malah balik bertanya. Changmin maklum akan hal itu, pemuda di sampingnya memang sangat unik. Belum pernah ia merasa sesenang ini bertemu dengan seseorang, bahkan bisa dibilang orang di sampingnya ini termasuk orang asing. Mereka tak pernah berkenalan secara resmi.
"Aku tahu kau ada disini. Beberapa hari ini aku memperhatikanmu sering sekali mengunjungi tempat ini" hal mengejutkan apa lagi ini, Putra Mahkota memperhatikan dirinya. Jadi selama ia berada disini Putra Mahkota tahu akan hal itu. Lalu hari ini sosok calon Raja Joseon itu menemuinya secara sengaja? Ataukah memang hanya kebetulan belaka.
"Ak- aku.." Kyuhyun benar-benar kehilangan kata-kata. Ia terlalu terkejut dengan pernyataan sang Putra Mahkota.
Changmin kembali tertawa. Jika berada di samping pemuda ini ia selalu tak bisa mengontrol dirinya. Sama seperti saat ia bersama sang Ibu. Pemuda ini dapat membuatnya nyaman, ia bisa menjadi dirinya sendiri jika bersama dengan pemuda manis ini. tidak seperti saat ia berada di depan rakyatnya, ia selalu harus menjaga imagenya demi nama baik Kerajaan.
Seorang dayang yang berada tak jauh dari mereka bergegas pergi begitu mendengar tawa sang Putra Mahkota, ia melangkah dengan cepat. Dan berharap segera sampai di tempat tujuannya, ini kabar penting ia harus segera memberitahukannya pada Jaejoong segera.
"Jungjeon.. Jungjeon" dayang itu bergegas memanggil Ratu, istana tengah yang merupakan tempat tinggal Ratu terletak tak jauh dari bukit samping istana. Dayang itu bisa dengan cepat tiba di istana tengah karena memang letaknya cukup dekat.
"Ada apa Dayang Han?" tanya Ibu asrama Choi, beliau merupakan kaki tangan dari Ratu. Dayang Han, menggeleng ia masih belum dapat bicara karena nafasnya masih tersendat-sendat. Walau jarak istana tengah dan bukit samping istana cukup dekat tetap saja hal ini membuat tenaganya terkuras. Apalagi tadi ia berlari dengan segenap tenaga untuk segera sampai disini.
"Apa Jungjeon ada di dalam?" ia baru berbicara setelah nafasnya kembali normal. Ibu asrama Choi mengangguk, ia tahu pasti ada sesuatu yang penting yang harus segera di sampaikan Dayang Han pada Ratu. Wanita yang sudah lama menjadi kaki tangan Ratu itu tak banyak bicara, ia segera menyuruh Dayang Han agar segera masuk dan memberitahukan kabar yang dibawanya segera pada sang Ratu.
"Jungjeon, Dayang Han datang dan ingin bertemu dengan anda"
"Suruh dia masuk"
.
Dayang Han membungkuk untuk sang Ratu sebagai tanda penghormatan. "Duduklah Dayang Han" perintah Jaejoong, ia meletakkan sulaman yang tadi dibuatnya ke meja di depannya. Bersiap mendengar kabar yang akan disampaikan Dayang Han untuknya.
"Sebelumnya saya minta maaf Jungjeon, tapi kabar yang saya bawa berhubungan dengan Hwangtaeja" mendengar nama sang anak mau tak mau membuat Jaejoong tertarik. Ia tak berbicara menunggu Dayang Han melanjutkan ucapannya.
"Tadi saya melihat Hwangtaeja tengah bersama dengan seorang pemuda di bukit samping istana" seorang pemuda? Sejak kapan Changmin dekat dengan seseorang. Jika terjadi sesuatu anaknya itu pasti tak pernah absen bercerita padanya. Siapa yang dimaksud Dayang Han sebenarnya, Jaejoong terlihat berpikir sejenak. Mencoba mengingat-ingat siapa saja yang beberapa hari ini dekat dengan sang anak.
Namun, setelah mencoba mengingat-ingat tak ada satupun hal yang berhubungan dengan sosok pemuda yang tengah bersama Changmin. Ia tak tahu harus senang atau sedih mendengar kini sang anak mulai menyukai seseorang. Selama ini Changmin belum pernah meminta sesuatu apapun padanya, anaknya selalu menjadi anak yang baik dan penurut. Setidaknya kali ini Jaejoong ingin membuat sang anak merasakan apa yang namanya cinta, status Changmin sebagai Putra Mahkota benar-benar mengekang sang anak.
"Tolong cari tahu tentang pemuda itu Dayang Han. Dan kumohon rahasiakan hal ini dari siapapun"
.
.
.
Changmin kembali ke Paviliun Timur begitu hari sudah beranjak sore, ia tahu Kasim Cha pasti tengah sibuk mencarinya, sepanjang perjalanan menuju Paviliun ia selalu membalas sapaan atau sekedar menebar senyum pada semua orang yang ditemuinya. Menghabiskan waktu bersama pemuda manis itu membuatnya lupa waktu. Changmin bahkan lupa jika ayahnya menyuruhnya untuk berdiam diri di Paviliun miliknya sampai pemilihan Putri Mahkota berlangsung.
Hal ini untuk mencegah kecurangan yang mungkin saja terjadi dalam sayembara nanti. Tapi tentu saja ia tak bisa berdiam diri saja melihat pemuda manis itu tengah sendiri di bukit samping istana. Terlebih wajah pemuda manis itu terlihat kusut, ada perasaan di hatinya yang membuatnya tak ingin melihat wajah pemuda manis itu sedih.
"Hwangtaeja, anda dari mana saja? Saya mencari Hwangtaeja hampir ke seluruh sudut istana. Tapi Hwangtaeja tak ada, apa anda tak tahu saya hampir mati berdiri karena khawatir" begitu Changmin tiba ia langsung dihadapkan sosok Kasim Cha, orang yang mengasuhnya sejak kecil itu benar-benar dalam keadaan kacau. Changmin menyesal membuat sosok ayah kedua baginya ini khawatir.
Dilihat dari peluh dan kusutnya hanbok yang dikenakannya pasti Kasim Cha kebingungan karena dirinya menghilang begitu saja tanpa pamit ataupun sekedar memberitahu tujuannya pada Kasim Cha.
"Maaf Kasim Cha, lain kali aku tak akan mengulanginya lagi" Kasim Cha tersenyum, ia menggeleng. Seharusnya Putra Mahkota tak perlu sampai meminta maaf segala. Anak ini tak pernah malu untuk meminta maaf ketika dia salah. Sikap inilah yang dikagumi Kasim Cha dari sang Putra Mahkota.
"Tidak Hwangtaeja, silahkan anda beristirahat karena besok pemlihan Putri Mahkota akan diadakan"
.
.
.
Dayang Han memastikan kembali rumah yang didatanginya benar-benar rumah pemuda itu, ia menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tak ada orang disekitarnya. Dayang Han tak mengenakan hanboknya yang biasa ia pakai ketika sedang bertugas. Hal itu bisa menimbulkan kecurigaan pada setiap orang yang ditemuinya nanti. Ratu memintanya untuk tak memberitahukan hal ini pada siapapun. Begitu yakin suasana aman dan sepi, ia baru memasuki rumah sederhana milik Keluarga Tan ini.
Heechul yang tengah duduk di depan rumah, mendongak ketika dirasa ada orang lain di depannya. Seorang wanita yang tak dikenalnya berjalan kearahnya, Heechul berdiri menghampiri wanita muda itu. "Maaf anda mencari siapa?" tanyanya. Sebagai tuan rumah yang baik Heechul harus selalu bersikap sopan dan ramah pada setiap orang yang berkunjung ke rumahnya.
Wanita muda itu tak berkata apapun. Ia hanya menyerahkan sebuah gulungan kertas pada Heechul, begitu Heechul sudah menerimanya ia langsung bergegas pergi. Heechul menatap heran wanita itu, pandangannya beralih pada gulungan kertas ditangannya. Karena penasaran Heechul membuka gulungan kertas itu, kata demi kata ia baca. Semakin banyak kata yang ia baca matanya semakin melebar, tangannya bergetar. Heechul menggeleng masih belum percaya dengan isi gulungan yang diterimanya. "Bagaimana mungkin ini terjadi… Jaejoong… dia benar-benar sudah gila"
"Aku pulang" ah kebetulan sekali Kyuhyun sudah datang, Heechul menarik tangan Kyuhyun mengajak anaknya untuk segera masuk. Heechul memasang wajah serius, ia tak menyerahkan gulungan itu pada Kyuhyun. Ia ingin tahu apakah nanti anaknya akan terkejut.
"Ibu, ada apa?" Heechul menghela nafas, ini hal yang cukup mengejutkan untuknya. Ia yakin sang anak juga akan terkejut atau bahkan lebih terkejut dari dirinya.
"Besok kau dan kakakmu akan ikut sayembara pemilihan Putri Mahkota" tak ada reaksi berlebihan yang didapati Heechul dari sikap Kyuhyun. Diluar dugaannya anaknya tak berteriak padanya bahwa ia gila, Atau mengatakan jika ia berbohong. Kyuhyun hanya diam, kerutan didahinya pertanda bahwa sang anak masih memproses ucapannya.
"Apa ibu berbohong, katakan jika ibu tengah berbohong" justru Ara lah yang berteriak histeris. Kyuhyun dan Heechul menoleh bersamaan. Ara tiba-tiba saja datang. "Apa?" Heechul bertanya balik, ia memasang wajah pura-pura tak tahu.
Pandangan Ara beralih menatap Kyuhyun, adiknya itu terus bergumam apakah ini mimpi? Ara mendecih kesal menjitak kepala sang adik agar tersadar dari hal yang menurut Kyuhyun itu mimpi. Kyuhyun mengaduh kesakitan. "Baiklah, ayo kita bersaing dalam pemilihan Putri Mahkota nanti Tan Kyuhyun!"
.
.
.
Ara terus menggedor pintu kamar Kyuhyun, hari sudah beranjak siang namun adiknya tak kunjung keluar juga. Ia takut terlambat dalam pemilihan Putri Mahkota, Ara tak ingin sampai ia didiskualifikasi karena terlambat dan penyebab keterlambatannya pasti adalah sang adik yang tak mau keluar juga dari kamarnya.
"TAN KYUHYUN CEPAT KELUAR! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN DI DALAM SANA?" Ara berteriak, teriakannya itu membuat telinga akan iritasi seketika. Tak tahan denga kebrutalan anak perempuannya Heechul akhirnya turun tangan juga, ia menyuruh Ara untuk bergeser sebentar.
"Kyunie keluarlah, kau mau diseret Ibu atau Nunnamu?" Ok, Heechul memang mengatakannya dengan nada yang lembut, namun tak selembut dengan ucapannya. Pintu kamar akhirnya terbuka juga, Kyuhyun keluar dengan wajah manyunnya. Bagaimana tidak jika saat ini ia harus mengenakan hanbok khas seorang wanita. Harga dirinya benar-benar jatuh jika begini.
Ara terpukau melihat sang adik, ia tak menyangka Kyuhyun bisa secantik ini. apa ini benar adiknya? Sebenarnya Kyuhyun itu laki-laki atau perempuan? Kenapa seorang lelaki bisa secantik ini. heechul menatap puas penampilan Kyuhyun, butuh usaha keras untuknya mendadani sang anak. Apa boleh buat peraturan dalam sayembara itu mewajibkan pesertanya mengenakan hanbok wanita tanpa terkecuali. Tidak peduli itu laki-laki atau perempuan, semuanya harus mematuhi aturan itu.
.
.
.
"Hwangtaeja, sebentar lagi pemilihan Putri Mahkota akan dimulai, Ratu memerintahkan agar anda juga ikut menghadiri sayembara ini" Changmin menghela nafas. Jika boleh jujur ia malas sekali datang ke acara sayemabara itu. Ibunya pun tahu tentang hal ini lalu kenapa sang ibu masih memaksanya untuk mengikuti jalannya sayembara yang membosankan.
"Hwangtaeja.."
"Berhenti bicara Kasim Cha, lebih baik kau persiapkan kuda untukku. Kita akan melakukan observasi pasar" Changmin segera memotong ucapan Kasim Cha. Bukannya tidak mau menghadiri sayembara, ia hanya merasa takut dan tidak siap terhadap siapa yang akan memenangkan sayembara dan menjadi Putri Mahkotanya. Changmin benar-benar belum siap.
"Tapi Hwangtaeja, Ratu-"
"Cepat siapkan Kasim Cha" Perintah seorang Putra Mahkota adalah mutlak. Kasim Cha tak punya kekuasaan yang lebih untuk menolak, ia hanya menuruti perintah Changmin tanpa banyak bantahan.
.
.
.
Halaman istana sudah ramai dipenuhi gadis-gadis yang akan mengikuti sayembara, semuanya terlihat antusias. Ratu tersenyum pada semua yang hadir, ia tak bisa membuka sayembara sebelum Putra Mahkota datang. Dan ngomong-ngomong soal sang anak, kemana perginya Changmin? Waktu terus beranjak. Semakin siang, suasana semakin ramai dan panas saja, kekhawatiran mulai muncul dihati Jaejoong.
"Jungjeon" Jaejoong menoleh ketika ia dipanggil salah seorang dayangnya. Dayang itu mendekat kearah Jaejoong berbisik menyampaikan kabar bahwa Putra Mahkota tidak dapat menghadiri sayembara. Jaejoong mendesah kecewa, ia menatap Yunho mengisyaratkan sang suami agar segera membuka sayembara.
"Terimakasih untuk kalian semua yang sudah datang dan mengikuti sayembara kali ini. Kami akan membuka sayembara sekarang, silahkan kepada para peserta untuk duduk ditempat yang sudah disediakan"
Ara menarik tangan Kyuhyun, walau sang adik sekarang berstatus sebagai rivalnya ia harus tetap menjaga Kyuhyun seperti pesan heechul. Mereka duduk ditempat yang bersebelahan. Wajah Kyuhyun terlihat gugup, ia meremas rok hanbok miliknya melampiaskan rasa gugupnya. Ara tersenyum pada Kyuhyun, ia mengepalkan tangannya memberi semangat pada Kyuhyun. Meskipun sebenarnya ia juga gugup setengah mati.
"Perlombaan pertama adalah merangkai bunga, seorang Putri Mahkota harus bisa merangkai bunga sebagai tanda bahwa ia sanggup mendampingi Putra Mahkota kelak menjadi pemimpin Kerajaan"
Dayang-dayang satu per satu masuk membawa berbagai bunga untuk para peserta. Masing-masing peserta boleh memilih bunga apa yang ingin dirangkainya. Babak yang pertama ini akan menyisihkan 25 peserta yaitu setengah dari peserta yang mengikuti sayembara.
Kyuhyun menatap bingung bunga-bunga di depannya. Ia tak tahu harus memilih bunga yang mana, padangannya tertuju pada Bunga Teratai, tanpa ragu Kyuhyun langsung mengambilnya mungkin ini agak sedikit aneh. Lihat saja semua peserta tidak ada satupun yang mengambil Bunga Teratai. Akan tetapi ia merasa bunga ini memilki keindahan tersendiri.
Jaejoong menatap Kyuhyun dari kejauhan, ia tersenyum tak sabar mendengar alasan pemuda itu memilih Bunga Teratai, sementara peserta lainnya lebih memilih bunga mawar, aster, tulip dan sebagainya.
Hanya 15 menit waktu yang diberikan pihak Kerajaan bagi para peserta untuk merangkai bunga. Ratu mulai berdiri dari tempatnya ia mengaba-aba pada semua peserta untuk menghentikan kegiatan merangkai mereka karena waktu sudah habis, kini waktunya bagi para peserta untuk mengatakan alasan dibalik pemilihan bunga yang mereka pilih.
"Han Jungmin, anak bungsu dari keluarga Han silahkan maju"
Seorang gadis yang mengenakan hanbok berwarna kuning dengan corak bunga berjalan ke depan dengan anggun. Tangannya membawa bunga hasil rangkaiannya. "Kenapa kau memilih bunga mawar sebagai bunga pilihanmu?" gadis itu tersenyum, meletakkan bunga itu di depan meja Ratu juga Raja.
"Bunga Mawar adalah bunga berlambang cinta, saya memilih bunga ini sebagai bukti tulus saya mencintai Putra Mahkota" alasan yang klasik. Jaejoong berpura-pura tersenyum ia mempersilahkan gadis itu kembali ke tempatnya.
"Sung Bokmin, Putri tunggal keluarga Sung, silahkan maju" kali ini gadis berhanbok merah maju. Ia melakukan hal yang sama dengan peserta pertama tadi.
"Saya memilih bunga Tulip karena Tulip bunga yang sangat cantik. Tulip yang saya pilih adalah Tulip Orange, mungkin bagi kebanyakan orang Bunga Tulip Orange tidak begitu menarik, warnanya terlalu mencolok. Namun dibalik itu semua Tulip Orange itu bermakna kebahagiaan. Saya menginginkan agar Putra Mahkota selalu mendapat kebahagiaan"
Ara mendecih, ia tak suka senyum gadis itu, memang gadis itu cantik dan terlihat pintar namun entah kenapa ia tak begitu suka melihat gadis itu. "Tan Ara Putri pertama keluarga Tan, silahkan maju" Ara terkejut, ia segera berdiri tak ingin sampai membuat imagenya buruk di depan Raja dan Ratu.
Kyuhyun menyemangati sang kakak, ia berharap kakaknya dapat melakukannya dengan baik. "Saya memilih Bunga Anggrek karena bunga ini tak memerlukan perawatan yang rumit, bunga ini dapat hidup di pohon sekalipun. Selain itu Bunga Anggrek merupakan bunga yang memilki jenis yang beragam, makna bunga ini adalah keindahan, perhatian dan ketulusan. Saya akan berusaha menjadi Anggrek untuk Putra Mahkota" Ara tersenyum pada Kyuhyun. Ia kembali ke tempatnya setelah dipersilahkan sang Ratu.
"Sekarang Tan Kyuhyun putra bungsu keluarga Tan silahkan maju" jantung Kyuhyun berdegub kencang. Semua mata tertuju padanya, mungkin karena ia memilih Bunga Teratai. Bunga yang sangat jarang atau tidak pernah dijadikan sebagai bunga rangkaian.
"Teratai berarti kesucian. Meskipun bunga ini tumbuh dilumpur namun tidak mengurangi sedikitpun kecantikan yang dihasilkannya. Dia dapat tumbuh dengan baik di dalam lumpur yang kotor, karena alasan bunga ini tumbuh di lumpurlah orang-orang jarang yang tertarik pada bunga ini. Mereka hanya belum tahu kecantikan dan manfaat yang ada di dalam teratai. Teratai bunga yang tidak akan mati ketika musim kemarau sekalipun. Keunikan yang jarang dimilki bunga-bunga yang lain. Saya rasa itu saja alasan yang bisa saya sampaikan"
Jaejoong menatap puas penjelasan Kyuhyun, ia melirik sang suami yang kini juga tampak memperhatikan Kyuhyun. "Apa kau sependapat denganku Yunie?" Yunho menoleh, ia mengangguk. Inti dari perlombaan ini bukan makna bunga yang terdengar picisan namun setiap pesrta harus menunjukkan ketulusan disetiap jawaban mereka.
.
.
.
Putra Mahkota sudah mengganti hanbok kebesarannya, jika melihat dirinya secara sekilas orang asing pasti tak akan dapat mengenalinya sebagai seorang Putra Mahkota. Ia menaiki kuda yang sudah disapkan Kasim Cha, ia menarik pelana kuda miliknya, kudanya mulai berlari menjauhi Paviliunnya. Tak ada satupun pengawal atau dayang yang menemaninya, ia memang tak ingin diikuti bagai seorang bangsawan. Memperhatikan rakyatnya adalah salah satu tugasnya, Changmin ingin semua rakyatnya dapat hidup dengan layak. Dan dengan didampingi orang sebanyak itu membuat Changmin tak bisa berkonsentrasi memperhatikan kehidupan rakyatnya.
Sayembara diistirahatkan selama Raja dan Ratu mengambil keputusan untuk memilih siapa saja yang akan lolos ke babak selanjutnya. Selama itu Ara tak bisa duduk diam, ia mondar-mandir berusaha meluapkan kegelisahannya. Tak ingin bertambah kacau dengan memperhatikan Ara, Kyuhyun menatap kearah gerbang istana. Matanya menatap sosok yang tak asing baginya, Putra Mahkota. Mau kemana Putra Mahkota? Seharusnya calon Raja Joseon itu ada disini ikut memutuskan siapa yang akan menjadi Putri Mahkota untuk mendampinginya.
Pantas saja ada yang kurang, ternyata sang Putra Mahkota tak ikut hadir. Mata Kyuhyun tak lepas menatap sosok Putra Mahkota sampai Putra Mahkota menghilang dibalik gerbang yang kini mulai tertutup.
"Kyu, lihat pengumumannya sudah dipasang" Ara berseru membuyarkan Kyuhyun dari lamunannya. Kyuhyun menoleh mengikuti arah yang ditunjuk Ara. "Nunna saja yang mengecek, biar aku menunggu disini"
Ara mengangguk ia berjalan kearah papan pengumuman ikut berdesak-desakkan bersama gadis-gadis yang lain. Kyuhyun hanya terlalu takut melihat hasilnya. "KYUNIE KITA LOLOS!" teriakan Ara menjawab ketakutannya. Sekarang Kyuhyun bisa bernafas lega, masih ada 2 babak lagi untuk dapat menempati posisi sebagai seorang Putri Mahkota.
.
.
.
Changmin mengikat tali kudanya pada batang pohon dekat pasar. Ia berjalan dengan santai melihat-lihat kondisi pasar yang cukup ramai. Changmin tersenyum begitu ada seorang anak kecil yang tersenyum padanya. Sepanjang ia berjalan di pasar, masih banyak rakyatnya yang ternyata hidup tak berkecukupan. Changmin merasa miris sekaligus iba, tatapannya beralih pada seorang anak yan diusir pemilik kedai karena ketahuan mencuri.
Changmin bergegas menuju kedai itu, ia menatap anak berusia sekitar 5 tahun itu lalu pandangannya beralih menatap si pemilik kedai. Changmin menghela nafas sebelum mengeluarkan sebendel uang koin lalu melemparnya pada si pemilik kedai, dengan cepat si pemilik kedai dapat menangkapnya. "Berikan roti itu pada anak itu, apakah uang yang kuberikan kurang?" si pemilik kedai menggeleng.
Changmin kini menunduk mensejajarkan tingginya dengan si anak yang tadi sudah diusir si pemilik kedai. "Pulanglah dan bawa roti-roti itu, lain kali kau tak boleh mencuri lagi. Kau bisa mengantri besok, istana akan mengadakan pembagian bubur gratis"
Anak itu hanya menatap Changmin diam, ia mengangguk lalu menerima roti yang diberikan Changmin. Anak itu membungkuk lalu berlari meninggalkan Changmin yang masih menatapnya. Pandangannya beralih pada si pemilik kedai, ia kembali memberikan sebendel uang koin. "Pastikan kau memberikan roti milikmu pada orang-orang seperti anak tadi, dan jangan sampai kejadian tadi kau ulangi atau aku akan melaporkanmu pada Raja" si pemilik kedai itu mengangguk takut-takut, ia berjanji untuk tak mengulangi perbuatannya lagi.
.
.
.
Perlombaan selanjutnya adalah cara beretika, dari mulai makan, berjalan sampai cara berbicara. Dayang-dayang kembali masuk kali ini menyajikan makanan-makanan yang semuanya terlihat lezat. Jaejoong berdiri ditengah-tengah mereka, penilaian kali ini akan lebih ketat dari sebelumnya. "Silahkan nikmati hidangan kalian" Jaejoong mempersilahkan, satu per satu gadis-gadis itu mulai makan, dari kebanyakan peserta yang dilihatnya banyak yang mencoba untuk menjaga imagenya dengan memakan hidangan yang dihidangkan dengan porsi yang sedikit.
Mata Jaejoong beralih pada sosok Kyuhyun, anak itu walau cara makannya tidak sesuai tata cara istana tetapi tak merasa malu atau berusaha menjaga imagenya. Ia menyukai sikap Kyuhyun yang terlihat apa adanya. Jaejoong memerintahkan untuk mengangkuti makanan itu kembali, lomba akan semakin berat terserah pada gadis-gadis itu jika tak mau makan.
Kini para peserta mulai mempraktekkan cara berjalan dan berbicara, sama seperti tadi para gadis itu melakukannya dengan sempurna. Banyak juga peserta yang pingsan karena kurang energi, tentu itu bukan salah Jaejoong. Mereka sendiri yang memilih untuk tak makan dengan porsi sesedikit itu. Kyuhyun menjadi peserta yang terakhir, ia berusaha berjalan dengan baik namun karena tak biasa mengenakan hanbok wanita ia terserimpat. Kyuhyun meringis mendengar para peserta lain tertawa. Hanya Ara dan Sung Bokmin yang tidak ikut tertawa juga.
Ratu berjongkok mengulurkan tangannya bahkan sampai membantunya berdiri. Kyuhyun membungkuk berterima kasih. Semua peserta seketika diam, menatap Kyuhyun dengan pandangan iri.
"Baiklah sudah kuputuskan untuk menentukan peserta yang akan lolos dibabak selanjutnya. Orang-orang yang menertawai Tan Kyuhyun silahkan beranjak dari sini, sementara sisanya tetap bertaha disini untuk mengikuti sayembara babak berikutnya"
Di belakang, Yunho tersenyum melihat tingkah Jejoong, istrinya itu tidak pernah main-main. Ia tidak akan segan melakukan hal seperti ini jika orang-orang yang disayanginya diremehkan. Rupanya Jaejoong sudah benar-benar menyayangi pemuda manis itu.
.
.
.
"Silahkan jawab apa yang saya tanyakan dengan jawaban yang jujur" ketiga peserta yang bertahan mengangguk.
"Sung Bokmin apa arti posisi Putri Mahkota untukmu?"
"Itu berarti posisi yang sangat penting selain Putra Mahkota juga Raja dan Ratu. Sosok Putri Mahkota akan menjadi Ratu dimasa depan, jadi menurutku posisi itu haruslah ditempati oleh orang yang benar-benar pantas dan layak" gadis bernama Bokmin itu menjawab dengan begitu mantap.
"Seperti apa orang layak untukmu?" Jaejoong kembali melontarkan pertanyaan.
"Orang yang sempurna dalam segala hal" Jaejoong beralih menatap Ara, gadis itu menunduk tak ingin menatap mata Jaejoong.
"Bagaimana menurutmu Tan Ara?"
"Aku tak terlalu mengerti tentang itu, tapi yang kutahu Putri Mahkota haruslah selalu ramah dan baik kepada rayatnya"
"Bagaimana menurutmu Tan Kyuhyun?" kini pandangan Jaejoong tertuju pada sosok Kyuhyun.
"Eum aku pikir Putri Mahkota adalah sosok yang harus selalu ada dan mencintai Putra Mahkota sampai kapanpun"
"Meskipun Putra Mahkota mungkin saja berpaling dari dirinya?"
"Iya, karena jika kita mencintai seseorang dengan tulus maka kita seharusnya dapat menerima orang yang kita cintai walaupun mungkin orang itu lebih bahagia bersama orang lain" Jaejoong tersenyum puas, ia berdiri dari tempatnya. Menatap ketiga peserta secara bergantian.
"Kalian sudah menjawabnya dengan baik. Aku akan mengumumkan pemenangnya besok"
TBC
Agak sulit buat update cepat, thanks yang sudah menyempatkan review dichap kemarin. Rasanya saya begitu terharu membaca review kalian semua. Terimakasih atas semangatnya juga. Semoga chap ini cukup memuaskan, oh iya sekedar bocoran aja chap depan itu akan ada pernikahan Putra Mahkota dengan Putri Mahkota yang sudah terpilih kalian pasti tahu siapa. Thanks buat yang review foll, fav dan hanya sekedar baca aja. Salam hangat dari saya #Bow
