MENGEJAR CINTA MURID PINDAHAN.

A Naruto Fanfiction.

By Keris Empu Gandring.

•••••

Rate :: T (mungkin bisa naik tingkat jadi T+).

•••••

Jangan merasa sungkan untuk memberikan Review (^,~)

•••••

Warning :: AU, OOC, Typo, Miss Typo, dan kekurangan lainnya.

•••••

A/N ::

Okeh~ mari kita saksikan kembali perjuangan Naruto dalam menggapai cinta Hinata.

MENGEJAR CINTA MURID PINDAHAN.

A Naruto Fanfiction.

By Keris Empu Gandring.

•••••

Seorang Gamer macam Namikaze Naruto terbentur cinta, pada murid pindahan di Sekolahnya. Namanya Hyuuga Hinata, seorang gadis lemah lembut yang sangat cantik, yang mampu menyentuh cinta sang Namikaze, hanya dalam satu kali lihat.

"Cieee~ Cinta Pandangan Pertama nih!"

Kesempatan memang terbuka, bantuan pun sudah didapat. Namun kurangnya pengalaman si Namikaze Naruto ini tentang perasaan wanita, membuat Naruto selalu gagal menjalankan Petuah Cinta dari sang sohib.

Jadi ... Mampukah Namikaze Naruto ini bisa mendapatkan hati Hyuuga Hinata?. Simak kisahnya disini!.

•••••

Naruto bersama tiga sohibnya sedang berjalan bersama dalam acara berangkat bareng mereka. Namun kali ini ada yang sedikit berbeda, Wajah pemuda bersurai pirang itu terlihat bahagia. Dan ini adalah kali pertama Naruto terlihat seperti itu, setelah terbentur masalah cinta pada Hyuuga Hinata. Dan mau tidak mau, tiga Sohibnya penasaran juga tentang ini.

"Hoi pirang, kau kenapa?. Dari tadi cengengesan terus, kau belum gila kan?" tanya Kiba dengan cemprengnya. Bukannya menjawab, Naruto malah terlihat kesal. Tatapan bengis segera dialamatkan pada sohib Siluman Anjingnya, karena dirasa merusak aksi cengengesan pemuda bersurai pirang itu.

"Dia benar-benar gila ..."

"Berisik!. Aku bahagia woooyyy!. Bahagiaaaa!. Kenapa pula jadi gila?!" desis Naruto. Dan setelah mendamprat sahabat-sahabatnya, Naruto kembali senyum-senyum sendiri. Meski raut kekesalan di Wajah tampannya, belum sepenuhnya hilang.

"Terus apa yang membuatmu bahagia?" kini giliran Sai yang bertanya. Tapi Naruto masih setia bersikap acuh. Si pirang ini lebih memilih untuk senyum-senyum sendiri, tanpa memperdulikan ocehan ke tiga sohibnya.

"Biasanya sih kau senang karena dapat Equip langka di Game Online, atau—"

"Atau menang Togel!" Kiba berteriak nyaring memotong ucapan Shikamaru. Meski dugaan pemuda Inazuka ini sedikit menyimpang bin nyeleneh, tapi entah bagaimana Sai dan Shikamaru bisa mempercayainya.

Tatapan bengis pun mulai dialamatkan Sai dan Shikamaru pada pemuda bersurai pirang itu!.

"Bagi-bagi dong!"

"Iya. Jangan pelit!" desis Sai dan Shikamaru. Tangan mereka terjulur ke arah Naruto, seolah-olah seperti Preman yang sedang meminta jatah. Naruto kembali mendesis kesal, dugaan sohibnya sudah benar-benar menyimpang. Terlebih perjudian haram seperti itu dibawa-bawa dalam percakapan ini.

"Matamu menang Togel!. Aku sedang bahagia karena berhasil membuat Hinata tersipu kemarin!" desis Naruto kembali mendamprat ke tiga sahabatnya. Sementara Kiba selaku tersangka utama dalam celetukan gaje itu, mendapatkan bonus ekstra berupa sebuah jitakan manja di Kepalanya.

"Sakit kamfret!" teriak Kiba, mendamprat Naruto pasca terkena jitakan si pirang. Tapi tidak ada yang perduli pada pecinta Anjing itu. Sai, Shikamaru dan Naruto malah asyik mengobrol bertiga.

"Jadi ... Kau tidak menang Togel?" Sai kembali memastikan situasinya. Tanpa memperdulikan Kiba dengan tingkah gajenya untuk meminta perhatian.

"Tidaaakkk lah!"

"Yahhh~" entah kenapa Sai dan Shikamaru terlihat kecewa. Sebuah desahan kompak juga dikeluarkan dua sobat Naruto ini untuk menambah efek dramatis atas kekecewaan mereka.

"Tidak ada makan-makan dong?" keluh Shikamaru dengan Wajah lesunya.

"Grrrrr ..." sementara Naruto sudah benar-benar sewot saat ini, melihat tingkat sahabat-sahabatnya.

'Apa-apaan Wajah kecewa mereka?!'

SMA Konoha.

Tanpa terasa, Naruto dan tiga sahabatnya kini sudah berada di Sekolah mereka, SMA Konoha. Dan saat pertama kali memasuki Kelas, fokus Naruto langsung terarah pada Hinata yang saat ini sudah duduk manis di Bangkunya, sibuk membaca sebuah Buku tebal. Dan tanpa memperdulikan lagi ketiga sobatnya, pemuda pirang itu langsung meluncur untuk mendekati Hinata.

"Halooo~ Hinata!" sapa Naruto dengan senyum yang mengembang indah. Merasa dipanggil, Hinata menolehkan pandanganya pada sosok pemuda bersurai pirang yang berdiri disampingnya. Senyum juga terlihat menghiasi Wajah cantiknya.

"Halo Naruto" balas Hinata dengan senyumnya.

"Woooo~ senangnya Pagi ini dapat senyum cerah darimu" ucap Naruto dengan Wajah dan nada penuh antusiasnya. Dan tanpa permisi lagi, Naruto langsung duduk tepat di Bangku kosong di depan Hinata.

Kalian ingat Bangku siapa ini?.

Yap, ini Bangku gadis menyebalkan bernama Haruno Sakura. Tepat. Dimata Naruto, Sakura adalah sosok menyebalkan karena terus mengusili acara PeDeKaTenya dengan Hinata. Entah apa yang difikirkan gadis pinky itu, tapi yang pasti itu sangat-sangat mengganggu. Namun untungnya, saat ini Sakura belum datang. Jadi Naruto bisa sedikit leluasa untuk duduk berhadapan dengan sang Pujaan Hati.

" Huh~ mulai ... Gombalnya muncul!" Hinata mengumpat dalam Wajah salah tingkahnya. Ya ... Meski berakting tidak suka, nyatanya rasa senang itu tidak bisa disembunyikan di Wajah salah tingkah itu.

"Fisika lagi?. Apa kau tidak bosan membaca Pelajaran itu?" tanya Naruto, mengabaikan ucapan Hinata. Saat ini fokus Naruto teralihkan pada Buku tebal yang ada didepan gadis itu. Untuk sesaat pemuda bersurai pirang itu benar-benar takjub atas ketekunan Hinata, dalam mempelajari salah satu Mata Pelajaran membosankan itu.

"Hebat ... Kau bisa tahan dengan Pelajaran membosankan itu" sanjung Naruto dengan penuh takjubnya. Bagi pemuda malas macam Naruto, aksi Hinata itu tentu saja sangat sesuatu.

"Ini memuji apa menghina ya?"

"Ya memuji lah. Aku sangat terkejut dengan ketahananmu pada Pelajaran Fisika. Kalau aku sih mungkin sudah dadah-dadah ke Kamera" Naruto berucap demikian seraya memperagakan gerakan dadah-dadahnya yang terlihat lucu.

"Hihihi~ memangnya Uji Nyali" komentar Hinata seraya menahan senyumnya.

"Yap, seperti itulah. Sama seperti saat ini, duduk di Bangku Sakura juga seperti Uji Nyali. Kau tahu, si Sakura itu bagaikan Hantu yang datang tiba-tiba dan mengganggu kebersamaan kita" ucap Naruto lagi. Namun sialnya, tanpa Naruto ketahui, gadis pinky yang bernama Haruno Sakura itu sudah berdiri dengan indahnya dibelakang pemuda pirang itu.

Braakkk!.

Dengan kasarnya, Sakura membanting Tasnya di Meja. Selain untuk menarik perhatian Naruto, itu juga dilakukan untuk mengexpresikan kekesalannya karena disebut Hantu. Dengan insting seorang Gamer yang cukup terlatih, Naruto jelas merasakan sesuatu yang tidak beres dibelakangnya. Dan alangkah terkejutnya pemuda pirang itu karena sosok yang disebut Hantu itu sudah berdiri dibelakangnya.

Dengan tampang yang sangar Sakura menatap Naruto tanpa ampun!.

Tidak perlu lagi Naruto bertanya kau mendengarnya atau kalimat serupa, karena dari mimik kesal gadis pinky itu, bukankah sudah pasti Sakura mendengar kalimat Naruto dari awal hingga ahir. Dengan Wajah bercampur ketakukan dan gugup, Naruto berusaha berbasa-basi dengan gadis pinky itu.

"He ... He ... He ... Pa-pagi Sakura ..." ucap Naruto, mencoba berbasa-basi dengan gadis pinky itu. Disela tawa hambarnya.

"Hehehe. Pagi Sakura!" ulang Sakura dengan nada meledek. Dan sedetik kemudian sebuah jitakan mendarat dengan sempurna di Kepala pirangnya.

"Makan nih. Jitakan Hantu!" teriak Sakura seraya memberikan jitakan mautnya.

"Awwww~" Naruto mengeluh, sementara Hinata yang tertawa terbahak-bahak melihat pertengkaran lucu dua temannya.

"Dasar Naruto ..."

MENGEJAR CINTA MURID PINDAHAN.

A Naruto Fanfiction.

By Keris Empu Gandring.

•••••

Tanpa terasa, Sebulan sudah acara PeDeKaTe Naruto berlalu, dengan hasil yang cukup memuaskan. Yap, Hinata kini semakin dekat dengan Naruto. Lalu percaya atau tidak, Hinata sudah tidak gagap lagi saat berbicang dengan pemuda bersurai pirang itu, yang menandakan jika Naruto sudah berhasil membuat Hinata nyaman bersamanya.

Dan saat ini seperti biasa, Naruto bersama tiga sohibnya, sedang bersantai sejenak di Kantin Sekolah, sepelas Bel Pulang berbunyi.

"Kulihat kalian sudah semakin dekat ... Jadi, kapan kau akan menembak Hinata?" tanya Kiba disela makannya.

"Iya sih, aku memang setingkat lebih dekat. Tapi ... Aku takut untuk menembaknya. Bagaimana jika aku ditolak dan malah menjadi jauh denganya?" tanya Naruto mengungkapkan keluh kesahnya.

"Kalau tidak dicoba, bagaimana kau tahu?"

"Lagi pula aku berani menjamin Hinata mulai tertarik denganmu" Sai mulai melengkapi ucapan Kiba.

"Eumh~ tapi ... aku masih ragu" ucap Naruto.

"Ragu?. Kenapa lagi?. Aku juga yakin kau tidak bodoh untuk menyadari ketertarikan Hinata padamu kan?" Sai kembali mencerar Naruto dengan pertanyaannya. Pemuda Namikaze itu memang tidak menjawab, tapi dari mimiknya terlihat jelas jika Naruto pun menyadari ketertarikan Hinata padanya. Dan sudah tentu Sai mampu membaca expresi itu.

"Lalu tunggu apa lagi?" tanya Sai kembali mendesak Naruto.

"Ehhh~ Ahhhh~" hanya ucapan aneh itu yang keluar dari Mulut Naruto, saat didesak sedemikian rupa untuk menembak Hinata.

"Nanti Hinatanya diambil orang loh?" kini giliran Kiba yang mendesak Naruto.

"Jangan donggg!" Naruto berteriak seperti itu seraya menggebrak Meja. Dan mau tidak mau, Shikamaru yang sedang tidur pun mulai terganggu dari acara sakralnya.

"Gah. Berisik!" keluh Shikamaru dalam Wajah kantuknya.

"Jangan bilang kau tidak mengerti caranya menembak?" tanya Shikamaru yang masih setia menampilkan expresi kantuknya. Sebuah nguapan manja pun menghiasi kalimat pemuda Nanas itu.

"Ehhhh~" Naruto kembali tidak bisa menjawab, agaknya pertanyaan Shikamaru benar-benar tepat sasaran.

"Hei!. Aku yang mau menembak Hinata, kanapa malah kalian yang repot sih?!" teriak Naruto mencoba mengalihkan perbicangan. Namun upayanya gagal, karena Shikamaru masih kekeh dengan pertanyaanya.

"Jawab pertanyaanku!. Kau mengerti tidak cara menembak wanita?!" desis Shikamaru. Wajah kantuknya kini berganti Wajah menyeramkan bak Preman Pasar yang sedang meminta jatah. Dan pada ahirnya Naruto mengaku, pemuda bersurai pirang itu ahirnya mengakui kebodohanya dalam hal ini.

"Astaga ..."

"Apa kami perlu membantu?" tanya Shikamaru setelah puas meledek Naruto dengan tatapannya. Tiga sohibnya langsung terkejut seketika, pasalnya Shikamaru ini tipe orang yang malas. Dan kini, pemuda malas itu menawarkan bantuannya tanpa perlu dipinta!.

Bukankah itu aneh?.

"Apa kau sakit?" Kiba tiba-tiba bertanya seperti itu, seraya menyentuh Kening pemuda Nara itu. Tapi buru-buru ditepis Tangan Shikamaru sebelum Tangan menyebalkan Kiba hinggap di Keningnya.

"Ck!" Shikamaru mendecak kesal seraya menepis Tangan Kiba.

"Kurasa Kepalanya terbentur akibat gebrakan Meja Naruto tadi" timpal Sai yang ikut mengomentari keanehan Shikamaru.

"Ya sudah, abaikan soal itu. Mau dia sakit kek~ mau hilang ingatan kek~ masa bodo!. Yang penting Mahluk Malas ini mau membantu" ucap Naruto menengahi perdebatan ini.

"Jadi apa yang harus aku lakukan?"

"Huh!" Shikamaru masih sempat untuk mendengus, mengexpresikan kekesalannya. Sebelum ahirnya menjawab pertanyaan sahabat pirangnya.

"Yang perlu kau lakukan hanyalah berlatih mengungkapkan isi hatimu. Kau harus menghilangkan rasa malumu saat akan menembak Hinata ... Yakinlah jika dia akan menerimamu" Shikamaru memulai petuahnya.

"Dan sisanya biar aku yang urus. Aku akan buat sebuah rancangan dengan nuansa romantis dengan biaya sekecil mungkin, untuk pria kere sepertimu" lanjut pemuda berkuncir itu. Kini giliran Naruto yang mendengus, kata Kere Shikamaru terasa menusuk hatinya. Meski Naruto termasuk anak orang kaya, tetap saja jatahnya sebagai anak SMA tetap dibatasi.

"Terimakasih atas kejujuranmu" desis Naruto. Shikamaru tidak ambil pusing, pandangannya malah menatap sosok Kiba dan Sai yang masih santai dengan hidangan mereka masing-masing. Hingga ucapan Shikamaru mengacaukan aksi mereka.

"Kalian akan membantu Naruto berlatih menembak Hinata" ucap Shikamaru santai.

"Loh kok?!"

"Kenapa kami dibawa-bawa?. Bukankah kau yang turun Tangan?" Sai dan Kiba menyampaikan keluhan mereka secara bersahutan. Namun bukan Shikamaru yang menjawab, melainkan Naruto dengan tampang pembunuh berdarah dinginya. Sebuah gebrakan Meja kembali terdengar untuk menambah kesan horor dalam ancaman si pirang.

"Jadi kalian tidak mau bantu?" tanya Naruto dengan nada yang tak kalah menyeramkannya. Dan dengan sangat terpaksa, Sai dan Kiba mengangguk untuk menghindari amukan Naruto. Sementara Shikamaru hanya tersenyum senang.

"Dia licik!" bisik Kiba pada Sai. Pandangannya menatap Shikamaru yang masih tersenyum senang. Seolah-olah menikmati tatapan bengis Kiba yang dialamatkan padanya.

"Kau benar. Dia yang dapat nama, kita yang repot!. Mengajari Mahluk Pirang ini kan merepotkan!" desis Sai dalam bisiknya.

Namun apa daya, tugas sudah disepakati dan Sai maupun Kiba harus rela merepotkan diri mereka untuk untuk membuat Naruto PeDe saat menembak Hinata nanti. Dan seperti itulah, karena tanggung jawab itu, Kiba dan Sai saat ini harus rela singgah dulu di Rumah Naruto sebelum pulang ke Rumah mereka sendiri.

Kamar Naruto.

"Jadi bagaimana kita memulai latihan kali ini?" tanya Naruto. Sai dan Kiba berpandangan sejenak sebelum ahirnya mengucapkan sesuatu.

"Sini, Kertas dan Pulpen" ucap Sai.

"Tuh~ di Tas kalian" balas Naruto acuh tak acuh. Dan respon yang sangat diluar dugaan diterima Naruto. Karena celetukan asal itu membuat Telinganya pengak mendengar teriakan kompak dua Sahabatnya.

"Modal dong!" teriak mereka dengan kompaknya. Dan seketika itu juga, membuat Naruto jiper. Dengan berbagai keluhan, pemuda bersurai pirang itu pada ahirnya memberikan Kertas dan Pulpennya.

"Heran deh~ kau yang mau jadian sama Hinata, tapi tidak mau mengeluarkan modal!" desis Sai seraya mengambil Kertas dan Pulpen yang diserahkan si pirang.

"Iya!. Mentang-mentang kita minta Kertas, diberinya juga cuma Kertas satu lembar!" timpal Kiba seraya mengacung-acungkan selembar Kertas yang tadi diberikan Naruto pada Sai.

"Kau fikir mau buat Kapal-Kapalan hah!" damprat pemuda pecinta Anjing itu.

Dan setelah perdebatan itu selesai, latihan tampaknya sudah dimulai. Kiba dan Sai, saat ini sedang sibuk berdua, berbincang sesaat lalu Sai mulai menulis. Berbincang lagi sejenak, lalu Sai kembali menulis. Begitu berulang-ulang hingga ahirnya tiga puluh Menit berlalu. Dan selama itu, Naruto hanya duduk manis di Ranjangnya menyaksikan tingkah kedua sobatnya.

"Selesai. Ini" ucap Sai seraya menyerahkan selembar Kertas yang kini sudah penuh dengan coretan Kiba dan Sai.

"Apa ini?. Cerpen?" tanya Naruto seraya melihat kumpulan kata yang penuh sesak bertumpukan di Kertas itu.

"Itu rangkaian kalimat yang akan kau ucapkan saat menembak Hinata!" desis Kiba dengan kesalnya. Naruto masih bingung saat ini, namun kebingungannya semakin menjadi karena dua sohibnya mulai mengambil posisi.

"Hey!. Kalian mau apa?" tanya Naruto.

"Melatihmu lah!. Kau fikir apa lagi?"

"Sai akan berperan sebagai Hinata, jadi ... Bayangkan dia adalah—"

"Hoi~ Inazuka kamfret!. Perjanjiannya kan kau yang berperan jadi Hinata?!" Sai berteriak kesal seraya memotong ucapan Kiba. Pasalnya ini beda dari kesepakatan sebelumnya. Yap, sebelum ini mereka sepakat jika Sai yang menulis kalimat menembak Naruto, itu artinya Kiba yang nanti berperan jadi Hinata. Tapi sekarang?!.

"Ayo mulai Naruto" ucap Kiba dengan santainya. Tanpa memperdulikan kekesalan pemuda murah senyum itu.

Naruto mengangguk, lalu mendekati Sai yang masih berexpresi kesal karena merasa dikorbankan saat ini. Tapi si Naruto Namikaze pun memperdulikannya, pemuda bersurai pirang itu mulai bersiap untuk mengatakan rangkaian kalimat hasil kreasi kedua sahabatnya.

"Hinata ..." ucap Naruto mulai berakting menembak Hinata. Pandangannya lalu beralih pada selembar Kertas yang ada digenggamannya. Namun saat membaca kalimat awal dari Kertas itu, Naruto mengeryitkan Dahinya.

'Apa ini ... Kau adalah bidadari, gadis tercantik yang mampu menggetarkan hatiku' batin Naruto membaca sebuah kalimat pembuka yang ada di Kertas itu.

'Gila apa?!. Ini kan terlalu lebay?!' komentar Naruto masih dalam batinnya.

"Euhhh~ apa kalian yakin aku harus mengatakan ini?" setelah cukup lama terdiam, ahirnya Naruto menanyakan itu, seraya mengacungkan selembar Kertas berisi kalimat penuh kelebayan yang ditulis Kiba dan Sai.

"Yap, apa ada masalah?" tanya Kiba.

"Errrr ... Kurasa kalimat itu terlalu—"

Ting!.

Ting!.

Kalimat Naruto terhenti karena tatapan bengis dua sobatnya. Agaknya baik Kiba atau pun Sai mengerti lanjutan kalimat yang diucapkan Naruto. Dengan masih menatap bengis pemuda bersurai pirang itu, Sai yang memang sudah kesal sedari tadi, mulai mengucapkan sesuatu.

"Apa kau mau bilang kalimat yang kami tulis, lebay?" desis Sai dengan sangarnya. Sepertinya pada poin ini pemuda murah senyum itu mulai hilang kontrol. Sementara Naruto, langsung terlihat gugup, ditatap sedemikian rupa oleh sohibnya. Melihat gelagat marah itu, Naruto berusaha memperbaiki situasi. Si pirang cukup tahu, jika sohibnya yang satu ini sudah marah, sesuatu yang berbahaya akan terjadi!.

Dengan sedikit gagap, Naruto berusaha meralat kalimatnya.

"Bu-bukan. Bukan seperti itu ... Hanya saja, a-aku sedikit ka-kaku untuk mengatakannya" ucap Naruto mencoba mencari pembenaran untuknya. Dan beruntung bagi Naruto, karena Kiba dan Sai mengerti, mereka mangut-mangut dan expresi kesal itu hilang entah kemana.

"Humh!. Humh!. Kalau begitu, katakan saja isi hatimu, akan buruk juga kalau kau merasa tidak nyaman. Nanti aku yang akan membenarkannya" ucap Kiba.

"Ayo kita mulai lagi. Eksen~" lanjut Kiba bak Sutradara handal.

Dan Drama aneh ini pun kembali dimulai. Naruto dengan sendirinya mengikuti instingnya. Tanpa ada yang menyuruh, pemuda bersurai pirang itu bersimpuh seraya menggenggam kedua Tangan Sai yang saat ini berperan sebagai Hinata. Senyum manis pun diberikan si pirang pada Hinata palsu itu. Namun aksi Naruto sedikit ternoda saat melihat Wajah Sai terasa menjijikan dipandangannya.

Tapi saat mengingat ini demi mendapatkan Hinata, pemuda bersurai pirang itu mencoba bertahan!.

"Hinata ... Aku sangat senang bisa mengenalmu. Kau adalah gadis yang baik juga lembut. Aku merasa beruntung bisa merasakan kelembutan sifatmu"

"Dan entah bagaimana, aku selalu bahagia saat berada didekatmu. Tertawa bersamamu sungguh membuatku bahagia. Melewati Hari bersamamu sungguh terasa spesial untukku"

"Hingga ahirnya aku menyadari sesuatu ... Sebuah perasaan cinta telah tumbuh dihatiku. Jadi ... Maukah kau menjadi pacarku, aku—" Selama mengatakan itu, Naruto memejamkan Matanya, mencoba mengungkapkan semua isi Hatinya. Namun saat Indra Penglihatan si pirang terbuka, yang terlihat adalah expresi super menjijikan dari Sai.

Ya ... Apa-apaan expresi malu dan bersemu merah yang ditunjukan Sai?!.

"Jangan pasang Wajah menjijikan begitu dong!" teriak Naruto dengan kesalnya. Dengan cepat Naruto melepas genggaman Tangan Sai. Sementara Sai langsung menutup Wajahnya dengan kedua Tangannya, seraya menenangkan sebuah detak Jantungnya yang tak biasa.

"Aku normal ... Aku Normal ..." gumam Sai yang sibuk sendiri. Hingga tepukan Tangan dari Kiba mengambil alih perhatian dua sobatnya.

"Hebat ... Kurasa kau cukup berbakat untuk menjadi seorang pemain!. Ucapanmu memang biasa dan tidak terlalu romantis. Tapi dibalik itu, kau bisa membuat Hati seseorang berbunga-bunga. Pujianmu sepertinya memiliki daya magis tersendiri" puji Kiba, yang masih bertepuk ria.

"Buktinya, pujianmu bahkan berpengaruh pada sesama jenis tuan murah senyum itu!" lanjut Kiba, sedikit meledek Sai. Dan saat itu juga Naruto mendelik tajam lawan aktingnya. Pandangan super, super, super jijik dialamatkan si pirang pada sahabat murah senyumnya.

"Aku normal loh!"

"Aku juga normal kamfretttt!. Aku bukan tersipu malu, tapi merasa jijik dipuji laki-laki!" desis Sai yang juga mendelik tajam.

Satu Jam kemudian.

"Aku cinta padamu Hina—" ucap Naruto terhenti kembali untuk kesekian kalinya. Karena lagi-lagi Sai memperlihatkan expresi yang sama.

"Hah~ ini sia-sia ... Hinata tidak mungkin memasang Wajah menjijikan seperti itu" keluh Naruto. Dan lagi-lagi keluhan Naruto membuat Sai kesal.

"Mau bagaimana lagi, aku bukan Hinata. Lagi pula sudah untung aku mau membantu" balas Sai dengan sengitnya. Lalu dua pemuda tampan itu menatap Kiba, dengan pandangan yang sulit diartikan. Membuat yang ditatap berkeringat dingin.

"A-apa?"

"Giliranmu!" desis Sai.

"Maaf a-aku ada urusan. Jadi—" alasan Kiba untuk menolak gilirannya menjadi korban rayuan maut Naruto, terhenti oleh tatapan bengis kedua sohibnya.

"Jangan bilang tidak mau membantuku!" kini giliran Naruto yang mendesis.

MENGEJAR CINTA MURID PINDAHAN.

A Naruto Fanfiction.

By Keris Empu Gandring.

•••••

Ke Esokan Harinya.

Seperti biasa, saat Bel Pulang berbunyi, empat sekawan ini selalu menghabiskan Waktu mereka di Kantin untuk sejenak. Namun Hari ini ada yang berbeda, jika biasanya si Nara Shikamaru ini tidur, kini pemuda malas namun pintar itu belum sedetik pun melakukan ritual itu. Pasalnya, cerita yang diceritakan tiga sahabatnya cukup menggelikan. Membuat si pemuda dari Clan Nara itu tertawa terbahak-bahak.

"Ahahahaha~ jadi Wajah Sai memerah saat kau rayu?" Shikamaru tertawa disela pertanyaannya pada sahabat pirangnya, yang bernama Namikaze Naruto.

"Hati-hati loh~ jangan-jangan—"

"Aku nomal!" ledekan Shikamaru terhenti oleh teriakan nyaring Sai. Expresi kesal bercampur malu yang diperlihatkan pemuda murah senyum itu, membuat Naruto, dan Kiba ikut tertawa sama seperti Shikamaru.

"Yang lebih parah sih si Kiba. Gayanya saat berperan sebagai wanita benar-benar natural. Kurasa ini alasannya, kenapa Kiba masih menjomlo meski cukup terkenal!" balas Sai mulai melancarkan serangan baliknya.

"Maksudmu?"

"Yap, kurasa yang tidak menyukai wanita itu Kiba. Kau tahu, Kiba mengatakan Aku Juga Cinta Kamu, Naru Sayang~ dari Lubuk Hatinya"

"Iya benar juga, aku bahkan sampai merinding saat Kiba mengatakan itu kemarin" timpal Naruto. Dan kini giliran Kiba yang terlihat kesal juga menahan malu, dan yang tertawa adalah Sai, bersama Shikamaru, dan Naruto.

"Jangan melebih-lebihkan kejadian yang sebenarnya!. Kalian berdua juga tahu kan saat itu aku sedang berakting!" ucap Kiba mendamprat Naruto, dan Sai. Tangannya teracung dengan sadisnya, menunjuk-nunjuk Wajah mereka secara bergantian.

"Akting?. Bukannya sungguhan dari Hati ya?" ledek Shikamaru.

"Gezzzzz ... Jangan sok tahu Nanas. Kau bahkan tidak ada kemarin!" kini giliran Shikamaru yang mendapatkan dampratan, juga tunjukan sadis dari Kiba.

"Hahhh~ gara-gara masalah Mahluk Kuning ini, reputasiku dan Sai hancur ..." keluh Kiba dengan tidak semangatnya. Sementara Sai hanya mengangguk seraya mengeluarkan desahannya tanda menyetujui keluhan yang diucapkan Kiba.

"Kok aku yang salah?" tanya Naruto. Pemuda bersurai pirang itu sepertinya tidak terima jika ujung-ujungnya adalah Naruto yang berdosa, kerena berperan menjadi sumber masalah.

"Tentu saja!. Andai kau lebih pintar sedikit, kami tidak akan serepot ini, pirannnggg!" Sai dan Kiba mendesis dengan kompaknya.

"Sudah-sudah ... Hari ini aku akan ikut melatih Naruto. Lagi pula observasiku tentang tempat nyaman dan gratis sudah kutemukan" ucap Shikamaru menjadi penengah.

"Nyaman dan gratis?" beo ketiga sahabatnya.

"Tentu saja, kita akan membuat acara penembakan Naruto seperti halnya film-film romantis!. Jangan bilang kalian selama ini berfikir Naruto akan menembak Hinata di Kelas?!" dan ucapan si pemuda Nara itu membuat yang lainnya tertawa hambar. Pasalnya, apa yang dikatakan Shikamaru benar. Trio sobatnya itu berfikir demikian.

"Hah!. Selera kalian payah!" ledek Shikamaru.

"Memangnya rencanamu bagaimana?"

"Kita bicarakan hal ini saat ada di Rumah Naruto"

BERSAMBUNG!.

Note ::

Okeh~ seperti biasa saya akan menyampaikan sedikit keluh kesah saya. Saat ini saya mulai kepincut Game Online. Dulu sih sebenernya juga suka Game Online, cuma Game yang dulu dimainkan sudah mulai bosen. Nah sekarang saya dapet lagi Game baru yang menarik minat saya.

Jadi ... Untuk waktu menulisnya sedikit terganggu. Dan efeknya, update akan semakin santai.

Oh iya karena dulu ada PM masuk yang bilang saya Muna karena pake alasan sibuk di Duta, mari kita lihat kegiatan saya.

Senin-Jumat saya kerja disalah satu Perusahaan yang ada ditempat saya. Berangkat Pagi pulang Sore. Kalau lagi dikejar target, kita ngelembur sampai Malam. Sabtu-Minggunya saya Kuliah.

Sibuk?. Emang!.

Tapi kalau bilang gak sempet buat nulis, itu bohong. Saya masih punya Waktu nulis (buktinya saya masih bisa update) hanya saja, waktunya gak banyak.

Saat di Rumah, saya masih harus menyiapkan File dan Dokumen Kantor, ditambah panggilan Rapat yang kadang datang tiba-tiba (meski sudah ada di Rumah), ditambah belajar Materi Kuliah, ditambah main Game Online, ditambah main sama temen atau pacar.

Ayolah~ jangan perotes untuk dua terahir. Saya juga butuh refresing kan?.

Nah loh. Sibuk kan?.

Masih mau bilang Muna?.

Terserah sih, itu hak saya rasa, orang yang memiliki pekerjaan yang sama seperti saya, pasti mengerti.

Okeh~ sekian keluh kesah saya. Keris Empu Gandring Out.