DIA

Naruto © Masashi Kishimoto

Uchiha Sasuke X Hyuuga Hinata

OOC, TYPO (S) , DLL. DONT LIKE DONT READ!

Please, putus!

.

.

.

Hinata cemberut berat. Ia sudah tak tak tahu lagi harus bagaimana agar bisa lepas dari si berandalan tak berguna-sebutan Hinata- pasalnya ia sudah lelah hati, pikiran, bahkan harus berkali- kali mengecek tekanan darah. Okey, yang terakhir itu terlalu berlebihan. Kurasa. Tapi memang harus memiliki hati kuat sekeras baja untuk menghadapi kekasihnya. Bahkan ia harus pontang panting sekarang demi menjauhi Sasuke. Sulit. Sangat sulit. Jika seluruh murid sekolah memata mataimu dengan dikomandoi. Sangat sulit untuk bersembunyi tepatnya!

Di kantin ada chouji . Di uks ada Sakura. Di perpustakaan ada Karin. Di ruang musik ada Orochimaru. Di ruang kesenian ada Sai. Di atap ada Gaara. Di pelosok tempat sepi selalu ada Shikamaru yang tengah terlelap dengan nyamannya. Pokoknya dimana-mana ada. Dan orang-orang itulah yang langsung membawahi Sasuke.

Hinata tak bisa mempercayai siapapun di sekolah. Ia frustasi!

.

.

.

"Hinata. Sasuke-senpai mencarimu tuuuh!"

WHAT THE-!

Glek

Hinata panik. Lagi-lagi sinyal bahaya itu menyala dengan nyaringnya.

"Aduh aduh euuu bagaimana ini? Aku harus bersembunyi dimana!" orang yang menyampaikan kabar buruk itu hanya terkekeh melihat tampang Hinata yang sudah semerawut. berhubung ia sedang berbaik hati sebuah ide terlintas di kepal pemuda bertato segita merah terbalik itu.

"Disana saja!" Hinata mengikuti arah telunjuk teman sekelasnya itu. Sebut saja dia Kiba. Inuzuka Kiba.

"T-tapi gelap..."
"Sudahlah. Daripada ketahuan" Hinata mengangguk patuh bak anak anjing kepunyaan pemuda itu. Gadis itu bersembunyi diruangan sempit tempat penyimpanan segala peralatan pembersih kelas! Yah, memang bersih. Tapi pengap. Bahkan Hinata harus meringsek agak ukuran tubuhnya mampu menyelip diantara sapu, pel, ember dan sejenisnya.

Poor Hinata.

Bukankah kau sendiri yang mengatakan untuk tak mempercayai siapapun di sekolah itu?

Mari kita lihat keadaan di luar persembunyian Hinata.

.

.

.

Kiba mengangguk pada sang 'pemimpin' sambil menunjuk kearah ruangan sempit itu. Seketika si pemimpin itu menampilkan smirknya yang begitu di takuti, disegani tapi juga dipuja. Siapa lagi kalau bukan oleh kaum hawa. Tapi menurut Hinata itu adalah tanda malapetaka.

Akhir baginya.

Tok tok tok

Hinata menelan ludahnya dengan susah payah. Ia jelas tahu siapa di luar. Meski tak melihatnya secara langsung. Oh. Ia yakin sekali Sasuke amat berbakat menjadi seorang pembunuh yang mampu membuat mangsanya dilanda kegelisahan dan ketakutan luar biasa.

"Hime.. Kau ingin disitu terus?" para murid yang sudah diungsikan keluar kelas lebih memilih menonton pertunjukan lewat jendela sambil memakan cemilan.

"Ya!" jawaban Hinata di sambut kekehan geli dari Sasuke.

"Nanti kau mati bagaimana. Aku- tak bisa hidup tanpamu..."

"Itu lebih baik!" Sasuke mendadak cemas.
"Yah jangan, Hinata. Kau tak serius kan?" tak ada sahutan lagi dari dalam. Mendadak kecemasan itu makin menjadi.

Dor dor dor

Sasuke menggedor pintu agar dibukakan. Pasalnya gadis itu menguncinya dari dalam.
"Hinata? Jangan membuatku takut, ayolah! Keluar!"

"Aku mau keluar asalkan kita putus!"

Jedder

Bagai petir yang bersahut-sahutan menjadi latar Sasuke sekarang. Ini pilihan yang begitu sulit.

"Kita sudah membicarakan ini milyaran kali kan? Aku tak akan memutuskan hubungan ini. Begitu juga denganmu"
"Baiklah, aku akan disini terus!"
Sasuke memutar siasat. Ia harus mendapatkan keduanya. Hinata keluar dari sana dan hubungan mereka tetao sama. Ia jelas tak mau mengorbankan salah satunya. Ingat? Dia seorang Uchiha.

"Baikalah. Kita putus... Kau bolwh keluar sekarang!" seketika Hinata terkejut luar biasa. Begitu juga para penonton.

"B-benarkah?"
"Umm." Hinata kegirangan. Perlahan ia membuka pintu lewat kunci yang ia genggam dan ia remas sejak tadi.

Pintu terbuka dan menampilkan wajah Hinata yang berkeringat. Sasuke susah payah menahan hasratnya untuk tak menyerang gadis itu sekarang juga.

"Benarkah, Sasuke-kun?" Sasuke mengangguk lesu. Hinata membulatkan mata pucatnya begitu sempurna. Ia rasa ia akan tidur nyenyak mulai malam ini. Karna si pengirim mimpi buruk akan musnah.

"Yeaaaaa-"

Teriakan Hinata terhenti. Sejak kapan? Sejak kapan Sasuke sudah berdiri di belakang tubuhnya dan dengan santainya memeluk tubuh Hinata begitu mesra. Oh lihatlah para penonton tengah menjerit Histeris. Padahal mereka sudah hapal dengan duo sejoli tikang pengumbar kemesraan itu. Tepatnya Sasuke yang selalu mengumbar kemesraan yang membuat para jomblo gigit jari.

"K-Kau bohong, Sasuke-Kun!"
"Aku seorang Uchiha. Ingat?" seketika bulu tengkuk Hinata meremang mendapatkan sentuhan nafas hangat sang kekasih." aku tak akan melepaskanmu, Hinata. Tak akan pernah. Camkan itu."

Glek

Inilah yang membuat Hinata ingin putus. Sasuke selalu seenaknya. Entah itu memeluk, merangkul maupun mencium. Ia malu! Tentu saja ia malu...

Tamat.

hehehehe. ini fic lama yang sebelumnya sudah saya publish di grup Fb. gomen banyak typo. kembali status sebagai Newbie menjadi alasan utamanya. Arigatou ^^