Sasuke masih tetap pada pendiriannya. Ia tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Bahkan, kini pemuda bermata tajam itu memusatkan pandangannya pada ayah Hinata dengan tatapan menantang yang tentunya dibalas dengan tatapan yang sama persis dari Hiashi.

"Apa telingamu masih berfungsi?" sindir sang direktur sambil mendengus.

Sasuke lalu mengalihkan tatapannya pada meja kerja Hiashi. Pemuda berkulit putih itu balas mendengus. Beberapa rencana kilat yang sudah disusun oleh Naruto berputar dalam benaknya. Sekilas ia tampak menghela napas dengan rencana yang akan ia jalankan.

"Aku akan keluar, tapi dengan satu syarat..."


.

-SasuHina-

.

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Cinta Kita © Me

Summary : Akankah usaha yang keras akan membuahkan hasil yang happy ending?

Warning : Typo's, AU, OOC, dan lainnya.

"bicara"

'dalam hati'

Selamat membaca!

.


Hiashi menatap ke arah Sasuke dengan tatapan tidak percaya, begitu pula dengan kedua bodyguard yang tadi menemani Sasuke menemui Hiashi.

"Apa maksudmu? Cepatlah keluar!"

Seorang bodyguard, berusaha menarik lengan Sasuke, berniat membawa pemuda itu untuk keluar. Namun, dengan keras kepala pula, Sasuke menahannya. Iris onyx miliknya, terus menatap pada Hiashi dengan tatapan menantang.

"Lepasakan, dia," ujar Hiashi tenang. Lelaki setengah baya itu menilai Sasuke dari atas sampai ke bawah. "Jadi, apa keuntungan dari syarat yang kau berikan, anak muda?"

Dengan senang hati, Sasuke memberikan senyum terbaiknya pada Hiashi yang mau menerima syarat darinya. "Tentunya akan sangat adil," jawab Sasuke tenang.

Para bodyguard yang hadir sudah memasang wajah pucat mereka. Tidak menyangka, Direktur mereka tampak tertarik dengan syarat yang diberikan Sasuke. "Hi-Hiashi-sa-"

"-Baiklah... kalau kau kalah, jangan pernah memperlihatkan wajahmu lagi di depanku!"

"-Dan kalau aku menang, Anda akan menyerahkan Hinata padaku!"

Keduanya saling tatap dalam tatapan tajam penuh tantangan.

.

.

.

Seorang gadis kecil berambut cokelat, terlihat berlari tergesa di lorong kediaman Hyuuga. Napasnya sudah mulai tidak beraturan, keringat mengucur deras dari dahinya.

Brakh!

"Nee-chan!"

"HAH?" Hinata yang tengah melamun di tepi jendela kamar langsung syok melihat kedatangan adiknya yang tanpa permisi, telah membanting pintu kamar miliknya. "Ada apa, Hanabi-chan? Kenapa pintunya dibanting?" desah Hinata menatap malang pada sang pintu.

"A-ano... ayo, sini!" Dengan cepat, Hanabi menarik tangan Hinata untuk ikut dengannya. Membuat Hinata yang masih memakai pakaian tidurnya kelabakan dan hanya bisa pasrah diseret.

"Hanabi, sebenarnya ada apa?"

"Nee-chan lihat saja, nanti!"

.

Hinata menatap pintu besar tempatnya berlatih karate itu dengan tatapan horror. Baru seminggu yang lalu ia habis babak belur oleh sang kakak saat keduanya sedang berlatih. Tangannya sedikit bergetar membayangkan dirinya akan kembali dihajar habis-habisan oleh sang kakak. "Hanabi, hari ini tidak ada latihan, aku mau mandi!" seru Hinata berusaha melarikan diri.

"Tenang, Neechan! Ini bukan pertarunganmu, tapi mantan pacarmu!" ujar Hanabi sedikit berbisik.

Amethys milik Hinata langsung melebar tidak percaya, "Sa-Sasuke-kun?"

"Ya, Sasuke-kun dan ayah."

"Hah! Tidak mungkin!" pekik Hinata. Ia mulai membayangkan, bagaimana bentuk Sasuke yang babak belur di tangan ayahnya. Kepala bermahkota hitam kebiruan milik Hinata bergerak menggeleng mengingat hal itu. "Tidak, Hanabi-chan, kita harus menghentikan ini! Sasuke-kun bisa terluka!" serunya gadis bersuara lembut itu panik. Ia bahkan sengaja mempercepat langkahnya demi mencapai pintu yang beberapa detik yang lalu telah menjadi sebuah momok menakutkan baginya.

"Nee-chan, kalau kau menghentikannya, Sasuke-kun akan kecewa! Karena itu adalah permintaan darinya."

Langkah Hinata langsung terhenti di tempat. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Sasuke-kun..."

.

"Ne, Hanabi-chan, kau saja yang membuka pintunya!" bisik Hinata pada sang adik saat keduanya sudah sampai di depan pintu latihan dojo milik keluarga Hyuuga.

Hanabi mengelengkan kepala tanda enggan. Ia mengarahkan jari telunjuknya pada sang kakak agar membuka sendiri pintu kayu tersebut. Wajahnya ia palingkan dari wajah memohon Hinata. "Kau saja, huh!"

"Haduh, gimana ini?" gumam Hinata ragu-ragu. Ia menggerakkan tangan untuk membuka pintu dengan perlahan. Hatinya was-was akan kejadian mengerikan yang akan dilihatnya di dalam. Bukan ini yang diinginkan Hinata. Ia bahkan tidak pernah bermimpi ataupun berharap dengan kejadian ini. Ia tahu, Sasuke melakukan ini adalah demi dirinya juga. Demi Hinata. Tapi bukan dengan cara seperti ini.

Tidak! Bukannya Hinata sudah tidak mencitai Sasuke lagi, namun ia tidak sanggup melihat kedua orang yang sama-sama ia cintai harus berkelahi hanya karena dirinya. Ia sungguh tidak menginginkan pertarungan ini.

Gadis berwajah manis itu menguatkan dirinya untuk masuk dan menghentikan semuanya. Hinata menarik napas berkali-kali sebelum benar-benar membuka pintu dan mulai menghentikan pertarungan antara dua orang yang ia cintai dalam hidup.

"Sasuke-kun, Tou-san! Henti- ...eh?"

Sasuke tengah terduduk lesu di area dojo. Tidak jelas berapa jumlah lebam yang muncul di wajahnya. Keadaan Hiashi pun sama. Ayah tiga anak itu menunduk lesu dengan beberapa lebam yang tidak kalah dengan Sasuke.

"Ambillah bagianmu seperti memetik buah dari dahannya."

Selanjutnya, lelaki setengah baya itu beranjak dari duduknya dan berjalan melewati Hinata dengan dipapah sang bodyguard.

"To-Tou-san..."

Sekilas, Hiashi melirik ke arah Hinata yang berdiri kaku di depan pintu. Ia menatap datar pada anak gadis yang sebenarnya sangat ia sayangi itu. Perlahan, telapak tangan kekarnya merayap di pipi sang putri, "Jadilah seorang istri yang baik, Hinata."

Mata Hinata langsung melebar mendengar penuturan ayahnya. Ia menatap sang ayah tidak percaya. "Tou-san..."

Sebuah senyum tipis yang sangat jarang diperlihatkan oleh Hiashi, kini bertengger manis di wajah lelaki paruh baya itu. Hinata sudah tidak dapat mengatakan apa-apa lagi. Perasaannya benar-benar campur aduk. Antara senang, terharu, dan iba melihat keadaan sang ayah yang lebam sana sini.

Tanpa permisi, gadis manis yang selalu berkata lembut itu langsung memeluk tubuh ayahnya erat.

"Arigatou, Tou-sama..."

.

.

.

"Hahaha, kalian benar-benar lucu!"

Seorang pemuda tampan berambut pirang tertawa terbahak sambil memegang perutnya. Mata sapphire miliknya tampak berkaca-kaca karena saking banyak tertawa. "Haha, aku bahkan tidak bisa berhenti tertawa. Haha!"

Bruakh!

"Hmm, sekarang kau sudah tidak tertawa lagi, Dobe, heh!" Sasuke menampilkan seringai terbaiknya melihat sang sahabat kini tengah terdiam dengan mulut merenggut kesal.

"Kau tidak asyik, Teme, huh!" sungut Naruto sambil melemparkan sebuah karangan bunga ke arah Sasuke dan ditangkap dengan mulus oleh Sasuke. "Selamat!"

Sasuke melirik ke arah sahabat yang selalu bersama dengannya itu datar. Kenangan akan saran-saran Naruto sebagai bekalnya sebelum menginjakkan kaki ke kediaman Hyuuga kembali berputar di memorinya. Walaupun terkesan konyol, tapi dari sanalah ia berhasil seperti sekarang ini. Berhasil membuka hati seorang Hyuuga Hiashi yang sangat keras dan kuat. Juga berhasil menjadi suami bagi Hinata yang ia cintai.

"Arigatou..." ujar Sasuke yang telah merubah seringainya tadi menjadi sebuah senyum tipis. Pipinya yang biasa putih, kini terlihat sedikit berwarna.

"Sama-sama, Teme! Kita sahabat, jadi harus saling tolong menolong!" Naruto langsung menepuk pundak Sasuke sambil tersenyum lebar. "Doakan aku biar cepat menyusul, hehe..."

"Hn."

"Hey, aku tahu kau memang selalu tidak sabaran, tapi aku tidak menyangka, dalam hal menikah pun kau sangat arogan, Teme! Lihat, lebam bekas kelahi yang ada di wajahmu saja belum sembuh, kau sudah tidak sabaran untuk menikah sece-"

Bruakh!

"Berhenti mongoceh, Dobe! Atau kau akan kubuat lebam di hidung!"

"Waa, aku sangat ketakutan!"

.

.

.

"Ne, Hinata, suamimu tampan ya," ujar Sakura sambil meminum jus alpukat di tangannya. Ia menatap ke arah dua orang pemuda yang tengah berdebat di lantai bawah aula kediaman Hyuuga. "ternyata dia juga anak orang kaya!"

"Huh!" Hinata hanya memalingkan wajahnya malu. Sedari pagi tadi, sejak awal mulainya acara pernikahan ia dan Sasuke, garis-garis merah tidak pernah lepas dari wajahnya yang cantik. Untung saja ia tidak pingsan saat duduk berdua dengan Sasuke tadi.

Saat diadakan pertemuan keluarga dua minggu yang lalu, akhirnya semua menjadi jelas. Sasuke ternyata anak dari sahabat dari kedua orang Hinata sewaktu sekolah dulu. Dan keluarga Uchiha ternyata sangat kaya. Sasuke sengaja tidak memberi tahu tentang keluarganya pada Hiashi. Karena ia ingin berjuang sendiri dengan harga dirinya sebagai seorang uchiha.

Mengingat itu, mata Hinata selalu berkaca karena haru. Ia merasa telah menjadi wanita paling beruntung sedunia, mendapatkan suami seperti Sasuke.

"Sasuke-kun..."

.

Kini, para tamu sudah tidak sebanyak pagi tadi. Tubuh gadis Hyuuga itu sudah mulai terasa lelah akibat menunggu dan menyalami para tamu sejak pagi hingga malam ini. Berkali-kali sudah ia mendesah lelah. Namun, bibirnya kembali tersenyum saat ada seorang tamu yang menyalaminya.

"Ne, Hinata, kalau pemuda yang berambut pirang itu, siapa?"

"Oh, d-dia itu sahabat Sa-Sasuke-kun. Namanya Naruto."

"Oh," sahut Sakura pendek. Gadis berambut merah muda itu menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Hinata. "Dia juga tampan," tambah Sakura sembari menatap ke arah Naruto dengan sebuah senyuman aneh. "Ne, Hinata, apa dia sudah punya pacar?"

Hinata kaget mendengar pertanyaan dari Sakura. "A-ano... aku tidak tahu."

"Yahh, padahal kalau belum, mau aku jadikan pacar langsung..." desah Sakura kecewa.

Sebuah senyum manis terkembang di bibir Hinata. "Semoga saja kau dan Naruto-kun berjodoh, Sakura-chan..."

"Hehe, semoga..."

Amethys Hinata kembali menatap ke arah sang suami dengan pandangan lembut. Seulas senyum manis terpatri jelas di wajahnya. "Sasuke-kun..."

.

.

.

Hinata duduk di atas ranjang pengantinnya sambil menunduk. Lima menit yang lalu, ia dipaksa oleh kerabatnya untuk menunggu di dalam kamar. Jantung gadis berambut indigo itu sudah tidak terdeteksi lagi degupannya. Ia bahkan lebih gugup daripada saat pertama kali Sasuke mengajaknya menikah dulu.

Pintu dari kamar sehari-hari Hinata yang sudah disulap menjadi seperti kamar istana itu berderit tanda ada yang membukanya. Jantung gadis itu berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Tangannya pun tidak kalah bergetar dan dingin. Seperti seorang atlit yang akan memulai pertandingannya di babak final. Benar-benar menegangkan.

Sasuke masuk dan menutup pintu kamar tersebut serta tidak lupa untuk menguncinya. 'Hah, dikunci?' batin Hinata yang entah kenapa mulai ketakutan. Telapak tangan gadis itu sudah basah karena keringat dingin yang tidak juga berhenti. Pikirannya mulai liar dengan berbagai macam adegan khas ala pasutri.

Sejak Sasuke masuk, mata amethys itu tidak luput dari si pemuda. Bahkan sampai Sasuke membuka jas yang ia kenakan pun, mata Hinata juga tidak luput memandang. Semuanya bagaikan adegan slow motion bagi Hinata. Membuat pikirannya yang masih labil, bertambah liar dengan sendirinya.

Sasuke pun merasa risih di pandangi seperti itu oleh Hinata. Ia yang sebelumnya terlihat sangat tenang (baca: berusaha tenang), akhirnya menyerah dipelototi terus seperti seorang pelaku yang tengah tertangkap basah oleh Hinata. Sasuke lalu mengarahkan wajah tampannya pada Hinata, yang membuat wajah Hinata semakin memerah dan mata yang semakin melebar.

"Hinata, sampai ka-"

"-Tidaaakkk!"

Brukh!

Dengan sekali lompatan, Sasuke telah berhasil menangkap tubuh Hinata yang mulai ambruk. Wajah pemuda itu terlihat sangat panik dan khawatir.

Tampaknya, malam pertama bagi pasangan ini harus ditunda lain hari.

.

.

.

"Huh, kenapa jam segini sudah sepi, sih!" gerutu Sakura yang baru saja pulang dari kediaman Hyuuga setelah membantu membereskan pestar sebentar. Hari sudah larut, gang-gang yang menuju ke jalan raya pun sudah mulai sepi. "Mana aku tidak sempat kenalan lagi, dengan orang cakep tadi, huh!"

Gadis berambut merah muda itu, terus saja menggerutu hingga tanpa sadar, sebuah ferrary warna hitam campur orange telah berhenti tepat di belakangnya.

Tin!

"Waa!" Secara lefleks, Sakura langsung menjauhkan dirinya dari mobil. Jantungnya berpacu cepat, wajahnya juga memerah malu karena tanpa sadar telah jalan tengah-tengah gang perumahan. "Ano... gomenne!" ujarnya cepat sambil membungkuk pada seorang wanita berambut merah yang baru saja turun dari mobil.

Sakura pun bergerak mundur dan mulai ketakutan saat sang wanita berjalan mendekat padanya. Keringat dingin mengucur deras dari pori-pori kulitnya.

"Haha, ternyata ini rambut asli!" Wanita itu tertawa puas sambil memegang rambut Sakura. Membuat Sakura yang sudah mati ketakutan langsung berubah menjadi terheran. "Ne, Naruto-kun, besok kau harus memasak, membersihkan apartemen, dan jangan lupa, memijit tubuh Kaa-san, oke!"

Mata Sakura pun semakin melebar tatkala mendengar sebuah nama yang tadi sempat disebutkan oleh Hinata. Hingga tanpa sadar, bibir Sakura sudah menggumamkan nama Naruto dengan sendirinya, "Naruto?"

"Ya, kau kenal dengan Naruto? Wah, itu sesuatu yang bagus. Perkenalkan, aku adalah ibunya! Ayo, sini biar diantar sama Naruto saja! Ayo!" Tanpa ragu-ragu, wanita yang mengaku sebagai ibunya Naruto itu langsung menyeret Sakura untuk segera memasuki mobil

"Eh, bu-buka-"

Kushina tetap menarik tangan Sakura dan langsung membuka pintu mobil bagian belakang. "Nah, nanti setelah ini, kau antarkan, gadis ini pulang, oke, Naruto!" ujarnya sambil mendorong pelan tubuh Sakura masuk ke dalam mobil.

"Hn."

"Jawab yang benar, Naru-chan! Atau hukumanmu akan-"

"Iya-iya! Oke, my Kaa-san yang cantik dan belum terkalahkaaan!" ujar Naruto malas-malasan. Wajahnya ditekuk dengan tidak minat. Bibirnya mengerucut pasrah.

.

"A-ano... maafkan Kaa-san yang sudah berbuat seenaknya," ucap Naruto di tengah perjalanan ia mengantarkan Sakura pulang.

Sakura hanya dapat mengangguk singkat. "Jadi, apa aku telah menjadi taruhan?" gumam gadis berambut merah muda tanpa dapat menyimpan nada kecewa dari suaranya.

Naruto pun menjadi gugup. Ia melirik ke arah Sakura, lalu mengalihkan perhatiannya kembali ke depan. Tidak tahu harus memberikan jawaban apa. "Emm... yah, maksudku... aku dan Kaa-san-"

"-Tidak apa-apa."

Sekilas pemuda bermarga Namikaze itu tampak menelan ludah saat perkataannya di potong oleh Sakura. Ia memang tidak dapat mengelak. Tadi, ia dan ibunya sengaja mengadakan taruhan dengan rambut Sakura sebagai bahan.

"Aku benar-benar minta maaf."

"Ya, tidak apa."

"Tapi kau marah."

"Aku tidak marah."

"Kau marah!"

"Tidak!"

"Marah!"

"Tidak!"

"Marah!"

"Ti-" Sakura langsung tersadar dan tidak melanjutkan perkataannya.

Naruto pun tampaknya mulai sadar diri. Ia menarik napas dalam-dalam. "Sebenarnya, itu bukan taruhan yang serius. Sewaktu pertama kali melihatmu masuk ke dalam kediaman Hyuuga, Kaa-san langsung tertarik dengan rambutmu, ia mengatakan kalau rambutmu asli. Namun aku membantahnya dengan mengatakan kalau rambutmu pasti palsu. Tapi Kaa-san tidak percaya."

"Lalu?"

"Ia pun ingin membuktikannya sendiri. Dan dia benar," jelas Naruto sambil menghela napas. "Sejak dulu, aku selalu bermain tebak-tebakan seperti ini dengan Kaa-san. Dan bila ia yang menang, aku harus menuruti perintahnya. Bila aku yang menang, ia juga harus memenuhi permintaanku. Itu semua tidak memerlukan perjanjian."

Sakura tertegun mendengar penjelasan Naruto. 'Aku tidak menyangka, akan ada keluarga yang aneh seperti itu,' batin Sakura heran. "Lalu?"

"Yah, kalau kau masih tidak rela dengan kejadian tadi, aku minta tolong, maafkanlah Kaa-san..."

"Lalu, kau tidak meminta maaf?"

"Tentu saja tidak. Bukan aku yang menginginkan ini."

Sakura memukul lengan Naruto dengan kesal. "Padahal aku berharap kau akan memohon maaf padaku, huh!"

"Haha! Baiklah Sakura, aku minta maaf!"

Sakura hanya tersenyum. Tidak apa-apa ia dijadikan taruhan, kalau dengan hal itu, ia akan menjadi dekat dengan Naruto.

"Permintaan maaf diterima!"

.

.

.

Hinata terbagun dan merasa sesuatu yang berat tengah menghimpit perutnya. Ia berusaha menjauhkan benda berat tersebut karena menyangka itu adalah sebuah bantal guling. Namun, ametyhs miliknya langsung mebulat saat menyadari kalau yang tengah ia pegang bukanlah sebuah guling, namun benda lain yang hidup. Tiba-tiba, keringat dingin mulai bermunculan di dahinya.

"Kau sudah bangun?"

"Ah... ya."

Sasuke lalu mengangkat lengannya dari tubuh Hinata. Pemuda Uchiha itu berusaha duduk sambil bertumpu pada kedua tangannya. "Apa tidurmu nyenyak? Kau pingsan tadi malam."

Gadis Hyuuga itu hanya diam. Ia melirik ke arah Sauke yang kini tengah menyandar di sisi ranjang dengan dada terbuka. Sekilas, mata Hinata menangkap warna kebiruan di bagian dada sebelah kiri Sasuke. "Eh, dadamu, kenapa?" tanya Hinata spontan. Pertanyaan yang diajukan Sasuke sebelumnya, ia biarkan lenyap begitu saja. Jemari lentik gadis itu bergerak menyentuh sesuatu yang membuatnya penasaran.

"Bukan apa-apa," jawab Sasuke singkat. Bibirnya sedikit terangkat pada senyuman tipis. Dengan cepat, ditariknya tubuh Hinata agar masuk dalam dekapannya. "Akh!"

"Sasuke-kun, kau tidak apa-apa?" tanya Hinata khawaitr. Ia sempat kaget saat tiba-tiba Sasuke memeluknya, tapi ringisan dari pemuda tersebut mau tidak mau, mengalihkan kekagetan yang ia alami. "Apa ada yang sakit? Yang mana?"

Sasuke diam dengan telapak tangan yang menyentuh dada. "Sedikit sakit."

"Oh, tunggu sebentar, biar aku obati!"

Gerakan Hinata langsung terhenti seketika saat tangan kekar Sasuke menahan lengannnya. "Tidak perlu. Ada obat lain yang akau perlukan," ujar Sasuke sambil menatap pada mata Hinata intens.

"Apa?" tanya Hinata cepat. Berharap dengan itu, Sasuke tidak kesakitan lagi.

"Kau."

"Hah? Aku?"

"Ya, kau."

"Apa yang harus aku lakukan?"

Sasuke mendengus mendengar pertanyaan Hinata. Wajah polos setengah bodoh yang diperlihatkan sang kekasih, terkadang membuatnya tidak dapat menahan diri. "Cium aku!"

Wajah Hinata tiba-tiba memerah mendengar perintah dari Sasuke. "A-aku..."

Sasuke yang tidak tahan dengan kelambana Hinata pun langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Hinata. Keinginan tertahannya malam kemarin, kini bangkit dengan sangat cepat. Membuat Hinata kelabakan dan mengap-mengap menerima ciuman dari Sasuke.

"Nah, bagaimana? Asyik, bukan? Mari kita lanjutkan!"

Kedua pasangan pengantin baru itu, kembali mempertemukan kedua bibir mereka untuk suatu permulaan. Tidak ada ketakuan dan kekhawatiran. Karena mereka adalah pasangan yang sudah sah. Tidak ada siapapun yang dapat menggugat apa yang kini mereka lakukan.

.

Cinta adalah perjuangan.

.

.

END


.

Hahaii, saya telah berhasil menamatkan fic ini dalam dua chap. Semoga readers suka.

Terima kasih banyak pada readers yang sudah menyempatkan diri untuk mereview chap pertama. Saya sangat senang. Maafkan saya tidak dapat membalas review satu-satu. Thanks Full! Hehe, XD

Mau review?