A/N : maaf atas keterlambatan chapter ini...
Kupikir aku akan segera meng-update Chapter ini sebelum tahun baru tapi maa... terlambat huh.
Dan...
Terima kasih untuk reviewnya : ) ternayata banyak yang mendukukung fic ini hahaha saya sangat terharu membacanya /usap air mata/. Saya masih tak menyangka fic Naruto saya akan menjadi pairing HashiMada tapi saya juga sangat menyukai ide cerita ini...
ENJOY!...
PERTEMUANKU DENGAN DEWI KEMATIAN
DaN
CERAMAH SUCINYA
SEMINGGU SETELAH PERNIKAHAN MADARA...
Seperti biasanya pagi-pagi sekali sebelum suaminya bangun, Madara bangun terlebih dahulu untuk menyerami bunga-bunga kesayangannya. Bunga Lliy putih dan merah menghiasi halaman rumah barunya, setelah dia dan Hikaku benar-benar telah terhubung dengan pernikahan yang semua orang tahu, ia menjadi sering tanpa sadar menangis memandang bunga-bunga indah itu sendirian
"bukannya...aku sendiri yang menyerah?" gumamnya seraya mengusap air matanya lalu tersenyum simpul punuh kesedihan "a..aku tidak menyesalinya bukan?"
Setelah selesai menyirami bunga dan menenangkan dirinya, ia menuju ke dapur untuk memasak sarapan. Lalu setelah itu suaminya akan bangun karena mencium bau masakannya
Ini adalah kehidupan yang selalu diidamkan oleh wanita yang sudah dewasa dan matang. Menikah lalu memiliki anak, mempunyai suami yang baik, rumah besar yang tenang , benar-benar kehidupan yang damai. Wanita lain bisa iri pada kehidupannya yang mapan ini tapi dia juga boleh iri pada wanita lain yang bisa menikahi pria yang dicintainya
OXO
"kau percaya pada kehidupan selanjutnya?"
"!?"
Hari ini juga Madara ke pasar, untuk membeli kebutuhannya. Dalam perjalanan pulang ia bertemu dengan seorang gadis muda yang rupawan namun juga terlihat mengerikan. Madara menggengam erat tas anyamannya yang berisi penuh barang dengan erat, penuh ketegangan. Ia sedang waspada pada gadis muda di depannya, ia merasa sedang dalam bahaya ketika mata hitamnya bertemu dengan mata unggu gadis itu
"ne...kau percaya ada kehidupan selanjutnya?"
Gadis itu mengulangi pertanyaan anehnya lagi sambil tersenyum manis pada Madara yang sedang waspada dan tegang. Merasa heran kenapa Madara tak merespon sedikitpun pada pertanyaannya gadis itu mendekat "jangan takut" katanya "aku tidak akan membunuhmu"
Kalimat terakhir tersebut membuat jantung Madara berhenti berdetak untuk sementara waktu, ini seperti waktunya sedang berhenti! Ada apa ini? Di depannya hanya seorang gadis muda yang lebih kecil dan terlihat lemah
Tidak! Gadis itu mungkin bukan manusia, ini dugaan yang bodoh dan gila memang, tapi Madara bisa merasakan aura mengerikan keluar dari gadis itu, seperti ada tangan emosi yang menggengam emosinya, yang memaksanya untuk mengingat sesuatu yang paling menyedihkan dan menakutkan baginya, maka karna itu ia yakin sekali jika gadis itu bukan manusia. Tapi lalu apa?
Selain mata ungu yang gelap mendalam itu, gadis itu memiliki rambut perak dan kulit pucat. Memakai jubah gelap, yang hampir menutupi seluruh kulit pucatnya
"apa maumu?" tanya Madara setelah menghela nafas terpanjang dan terberat dalam hidupnya. Baru kali ini ia mengunakan seluruh pengalaman pertempurannya untuk satu orang, terlebih lagi seorang gadis yang masih sangat muda. Dalam misi tak jarang ia menemui ancaman yang bisa mencabut nyawanya, ia memiliki banyak pengalaman dalam pertempuran nyata!
Tapi tak disangka semuanya akan habis hanya untuk gadis muda di depannya ini, Madara berusaha setenang mungkin hanya untuk sebuah pertanyaan yang berisi dua kata!
"aku hanya bertanya" gadis itu memutar badannya membelakangi Madara yang masih tak bergerak dari tempatnya "mungkin atas dasar kasihan?"
"kasihan? Siapa yang kau kasihani?" Madara mengigit bibirnya sendiri sampai merasa sakit dan agak mengeluarkan darah, dia kesal sudah cukup ia menderita karena takdirnya tidak perlu ia dikasihani gadis cilik yang bahkan tak ia ketahui namanya "asal kau tahu, aku tak pernah mengasihani diriku sendiri . anggap saja aku adalah makhluk tersial!"
"maaf..maaf, aku lupa meskipun kau membawa bayi di dalam perutmu kau masih seorang ksatria desa ini" gadis itu menoleh ke belakang lalu tersenyum sungkan setelah melihat wajah marah Madara yang tersingung "tapi...aku hanya ingin mengatakan ini—"
"—dalam ajaran Buddha, kita tahu yang nemanya reinkarnasi bukan?"
"lalu? Apa? Kenapa seseorang yang memliki aura mengerikan macam kau mengatakkan sesuatu tentang Buddha?"
"nasibmu yang sekarang adalah buah dari kehidupanmu yang lampau, jika kau ingin kehidupan yang lebih layak dari pada saat ini di kehidupan selanjutnya maka karna itu kau harus banyak berbuat amal Uchiha Madara"
"bagaimana kau tahu namaku?"
"bahkan aku membaca pikiranmu" jawab gadis itu sambil tersenyum sekali lagi membuat Madara merinding setengah mati "sesuai tebakanmu aku bukan manusia tapi jangan pernah berpikir jika aku dewa atau malaikat, aku bukan makhluk sesuci itu. Kau tahu dari auraku, Madara" saat ia memanggil nama Madara sekali lagi ia berhenti tersenyum lalu membuka mata ungu tajamnya, menatap dalam-dalam wanita di depannya
"setidaknya perkenalkan dirimu, monster" kali ini Madara tak membeku di tempat, ia membalas tatapan tajam itu dan diam-diam ia mengeluarkan kunai dari saku belakangnya "apa yang kau inginkan? Kau tidak datang kesini hanya untuk menceramahi seperti kau adalah orang suci bukan"
"tentu tidak, Jika aku adalah seorang yang suci tidak mungkin aku memiliki penampilan yang begini cantik" gadis itu memutar badannya lalu mendekati Madara yang siap menyerang tapi ketika tangan pucat gadis itu mengulur kearahnya, ia diam lebih tepatnya tangan gadis itu lebih cepat darinya
Tangan pucat itu menepuk pelan pundaknya "terdengar tidak adil memang tapi ,aku tidak bisa mengatakan namaku sampai kau kedunia selanjutnya Madara. Karena aku adalah makhluk yang bertugas untuk membawamu ke neraka"
.
.
.
.
.
iblis?
.
.
.
.
.
.
Apakah di kehidupan sebelumnya...
Aku berbuat sangat jahat?
Sampai aku harus menerima takdir seperti ini?
.
.
.
.
.
Tidak..
Jika aku sejahat itu
Tidak mungkin saat ini aku menjadi seorang manusia dan memiliki kehidupan mewah di rumah Uchiha
.
.
.
.
.
Bukan material?
Mental?
Apa dewa sedang menghukumku dengan ujian mental?
.
.
.
.
.
.
.
OXO
Sementara aku sibuk berkutat dengan pikiranku, gadis itu menghilang entah kemana. Sama sekali tak menimbulkan jejak keberadaannya, seolah dia tidak pernah ada di hadapanku...
Stress? Mungkin iya...
Akhir-akhir ini ia makan dengan porsi yang sangat kecil, terkadang juga ia melewatkan jam makannya. Setelah bertemu dengan gadis itu, ia pulang lalu duduk dan meletakkan seluruh belanjaan di meja makan. Ia merenung sesekali menghela nafas ketika ingat betapa rindunya ia pada Hashirama
.
.
.
.
.
.
.
.
Tak disangka waktu cepat berlalu, belum sempat ia memulihkan pikirannya hari sudah menjelang malam. Hikaku sudah kembali dan menemukannya sedang berbaring di atas sofa ruang tamu, wajah Madara pucat terlihat seperti sedang membawa beban yang sangat berat dalam hati maupun pikirannya.
Hikaku tersenyum masam lalu mendekati Madara dan menguncang pelan tubuh lemas istrinya. Madara tampak sedikit terkejut dengan kedatangannya, mungkin tanpa sadar ia ketiduran "ma..maaf, aku lupa menyiapkan makan malam" ucapnya pelan penuh peyesalan
ini hanya makan malam rasanya tak perlu sampai diambil pikir sampai seperti itu bukan? Pikir Hikaku. "naa...beristirahatlah, hari ini aku yang akan masak. Okay?" tapi dia tak membahasnya dan mendorong pelan tubuh istrinya untuk kembali berbaring "kudengar wanita yang sedang hamil memiliki kondisi yang sangat rapuh" katanya seraya tersenyum sebelum menuju ke dapur dan memasak.
Setelah Hikaku benar-bena r menghilang dari hadapannya. Madara melemaskan syaraf-syarafnya dan menyamankan dirinya diatas sofa. Ia menatap langit-langit yang bersinar karena air matanya yang tak terbendung "terima kasih" ucapnya lirih sekali di tutupi isakan pelan
...
"makanlah, itu buruk untuk kesehatanmu dan tentu juga untuk bayimu"
Madara mengangguk lalu mengambil sumpitnya, berlahan ia menggerakannya untuk mengambil lauk di atas piringnya. Hikaku tersenyum kecil saat lauk itu masuk ke mulut istrinya yang dia tahu benar kalau dia tak mencintainya. Dia tahu ketika Madara menyirami bunganya terkadang ia menangis, dia juga jarang makan dan kadang tidak konsen
ia masih belum menyentuh istrinya sendiri, bayi dalam kandungan istrinya juga bukan bayinya. Tapi dia tidak marah dan sabar menanggapi semua ini, mau bagaimana lagi? Dia juga yang menerima wanita yang sedang hamil dan mencintai pria lain, tentu dia tidak akan meyalahkan Madara bukan?
"jika segala sesutu dari dirimu berhubungan dengan Hashirama" mulai Hikaku "seperti perasaanmu padanya, bayinya. tapi setidaknya...bisakah kau hidup untukku?" tanyanya, menatap tajam mata Madara yang setelah mendengarkannya pupil itu membesar "aku menerimamu apa adanya berarti juga menerima dirinya yang memiliki perasaan mendalam pada Hashirama, aku tak memintamu untuk jatuh cinta padaku..." lanjutnya sebelum mengunyah sayurannya "aku juga tak akan merebutmu darinya. Aku hanya ingin melindungimu jadi jangan lakukan hal bodoh seperti menyakiti dirimu sendiri"
"..."
cukup lama ruangan itu hening. Hikaku melanjutkan makan malamnya dengan tenang setelah mengatakan semua tentang perasaannya dan itu sangat memalukkan baginya, sedangkan Madara diam memperhatikan suaminya yang ternyata begitu peduli padanya
beberapa detik kemudian, uangan itu di penihi galak tawa dari seseorang, seseorang yang seharian tadi bermuram durja; Madara "pfft...hahaha..kau terlihat meyakinkan Hikaku"
"a..apa!?" seketika itu juga wajah Hikaku merah padam, dia sedang di tertawakan setelah semua perkataannya yang serius dan seharusnya bukan sesuatu yang di tertawakan namun diharukan! "ja,jangan tertawa!"
Setelah meredakan gejolak tawanya Madara menutup mulutnya tapi masih cukup untuk dia mengatakan "maaf, maaf habisnya" pundaknya masih bergetar, ingin melanjutkan tawanya tapi melanjutkan kalimatnya lebih penting dari pada itu "kau selalu bisa membuatku tenang Hikaku, terima kasih. Dan juga, bisa jangan katakan apapun mengenai Hashirama? Karena...aku akan berusaha..."
"..."
"berusaha untuk mencintaimu Hikaku"
.
.
.
.
.
.
.
.
Tentu saja...
Karena tidak mungkin, aku menginginkan sesuatu yang mustahil bukan?
.
.
.
.
.
.
Seperti...
Sesuatu yang tak bisa kumiliki
.
.
.
.
.
.
.
Sesuatu yang tak bisa kudapatkan
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan...
Yang sudah dimiliki seseorang
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be Continue...
A/N:
Di sini terlihat lebih ke Hikaku x Madara ya? Maa...kalian bisa melihat apa yang terjadi selanjutnya di Chapter selanjutnya setelah saya membuat kelanjutannya : ) /entah kenapa di sini kebanyakan kata kelanjutannya/
Aah saya masih senang sekali karena semua review positive mendukung cerita ini : ) dan saya terus menunggu review para readers sekalian meski itu negative
THX FOR READING AND HAPPY NEW YEARS ! (meski telat sehari :p)
