Disclaimers : Masashi Kishimoto

Warning : Ooc, miss typo(s), alur kecepatan dan masingbanyak warnig lainya.

.

Chapter 2 is up…

.

.

Seluruh murid KHS berhamburan ketika bel berdering. Hinata, Tenten, Ino dan Sakura berjalan beriringan menuju pintu gerbang. Obrolan ringan menghiasi setiap langkah mereka.

"Hei, bagaimana kalo kita jalan nanti sore?" usul Ino semangat.

"Setuju ! sudah lama kita tak jalan bersama kan?" sambut Sakura tersenyum girang.

"Boleh juga, kita kumpul di tempat biasa ya?" ucap Tenten yang disetujui oleh Ino dan Sakura. "eh Hinata, kau ikut kan dengan kami?" tanya Tenten.

Hinata hanya tersenyum. Hatinya ingin sekali ikut dengan mereka. Tapi ia sadar, ia tak punya cukup uang hanya untuk dihamburkan. Ia bukanlah teman-temannya yang selalu mendapat saku sekolah 3 kali lipat dari miliknya. Ia juga merasa sungkan bila setiap kali jalan, ia yang slalu ditraktir. Tak adil bukan? Bila ia harus merepotkan temannya itu. Walau ia tahu, temannya takan merasa direpotkan. "Ah terimakasih, lain kali saja deh." tolak halus Hinata.

"Ayolah Hina-chan, ini pertama kalinya kita pergi bareng setelah sekian lama!" bujuk Tenten setengah merajuk.

"Benar Hinata, ayolah." rajuk Ino.

"Maaf ya, sungguh kali ini aku tak bisa." Hinata menoleh ke arah jam tangan, " kalo begitu, aku duluan ya, aku harus menyiapkan makan sore buat Neji-nii, jaa." pamit Hinata, ia segera melesat pergi. Ia tak ingin teman-temanya semakin merajuk padanya hingga pada akhirnya ia luluh. Jadi, sebelum itu terjadi, ia harus kabur lebih dahulu.

"Eunggu Hina-chan!"panggil Sakura, namun sayang, panggilan itu tak digubris. Hinata tetap saja melangkah pergi tanpa menoleh ke arah belakang.

Mereka bertiga hanya bisa menghela nafas dan merelakan kepergian Hinata. Mereka tahu sebab penolakan Hinata tapi sungguh mereka tak pernah merasa direpotkan justru mereka merasa senang. Sosok Hinata bagi mereka teramat misterius. Sebab Hinata tak pernah sekalipun bercerita sedikit tentang keluarganya. Yang mereka tahu, Hinata itu memiliki seorang kakak dan ibu yang saat ini tengah bekerja di Tokyo. Bahkan Hinata tidak memiliki marga, entah memang tidak memiliki atau sengaja dirahasiakan.

Mereka saling pandang dan mengangkat bahu mereka. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan pulang mereka.

.

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

.

.

Hinata berjalan perlahan. Kaki mungilnya sesekali menendang kerikil di depannya. Beberapa kali terdengar helaan nafas keluar dari bibir mungilnya. Gemuruh kendaraan yang melewatinya tidak mampu membuatnya terbangun dari lamunanya. Ia masih saja asik melamun dan memandangi ujung sepatu miliknya.

Hinata menghentikan langkahnya tepat di depan rumah bercat putih. Rumah sederhana yang ia tempati bersama kakaknya. Hinata mengernyitkan keningnya melihat seseorang tengah berdiri tepat di pintu rumahnya. Hinata meneliti dari atas sampai bawah. Setahunya, tak banyak tamu yang datang kecuali teman Neji tapi kalaupun teman Neji, ia pasti tahu. Lantas, pria di depan rumahnya ini siapa? Hinata tak merasa mengenalnya.

"Permisi, ada perlu apa, tuan?" tanya Hinata. Pria itu menoleh, wajahnya yang tadinya seperti bosan kini mendadak sumringah.

"Akhirnya, apa nona penghuni rumah ini?" tanya pria itu tersenyum ramah.

"Iya benar, ada perlu apa tuan?" jawab Hinata diliputi rasa penasaran.

"Saya hanya ingin mengantarkan paket ini, atas nama Hinata, apa anda nona Hinata?" tanya pria itu mengangkat sebuak kotak sedang dengan bungkusan berwarna biru langit.

"Ya, saya Hinata."

"Kalo begitu ini paket anda, nona." pria itu memberikan sebuah kotak yang terbungkus rapi tersebut pada Hinata dan orang tersebut segera undur diri. Hinata segera masuk ke dalam rumahnya setelah mengucapkan terima kasih dan menunggu hingga orang tersebut meninggalkan rumahnya. Ia merasa penasaran dengan apa yang ada dalam kotak itu.

Hinata meletakan kotak itu dengan hati-hati di atas ranjangnya. Sedangkan ia meletakan tasnya ke meja belajarnya. Hinata begitu ragu-ragu untuk membuka kotak itu. Apa ia harus menunggu kakaknya untuk membuka kotak ini? Tapi ia begitu ingin tahu. Masa bodoh dengan rasa tak enaknya. Rasa penasarannya lebih menguasainya.

Hinata terperangah tak percaya dengan apa yang ada dalam kotak itu. Matanya membulat, bibirnya terbuka dengan sepasang tangan yang menutupinya. Di hadapanya kini terpampang jelas sebuah laptop yang selalu diimpi-impikanya. laptop berwarna lavender, warna yang sangat disukainya. Dengan wajah penuh kekaguman, Hinata membuka laptop itu. Ternyata ada sebuah surat yang terselip di sana. Perlahan Hinata meraih surat itu dan mulai membacanya.

Dear Hinata,
Bagaimana kabarmu, sayang? Semoga kamu dan kakakmu baik-baik saja. Seperti halnya kaasan. Kaasan di sini baik-baik saja. Maaf ya sayang, kaasan belum bisa pulang bulan ini. Jangan marah dengan kaasan yah?

Bagaimana hadiahnya, sayang? Apa kamu suka? Kaasan harap kamu suka. Ini hadiah dari kaasan dan tousan untukmu, karna kata Neji kamu mendapat nilai sempurna berturut-turut. Neji juga mengatakan bahwa kau sering mengeluh saat ada tugas yang membutuhkan fasilitas komputer. Maaf ya, kaasan baru bisa membelikanmu sekarang.

Kaasan sangat merindukan kalian. Tapi kaasan tak bisa pulang saat ini. Maaf yah. Oh iya, Apa kamu masih manja kepada kakakmu atau kakakmu yang slalu memanjakanmu? Apa kau masih menyimpan kebiasaanmu yang sering bereksperimen dengan dapur? Ibu dengar, kamu menggosongkan panci rumah saat memasak air, hati-hati ya sayang. Bila kau memasak jangan di tinggal terlalu lama.

ahahaha masih banyak yang ingin kaasan sampaikan, tapi sepertinya waktu tak memungkinkan. Lain kali kaasan akan sambung lagi. Kaasan dan tousan sangat menyayangi kalian. Kami harap kalian tetap sabar menjalani ini. Kaasan menyayangimu, nak.

Salam cinta,
kaasan dan tousan

Air mata Hinata tak henti terurai, setelah selesai membaca surat dari ibunya. Isak tangis kerinduan itu, benar-benar tak bisa dibendung.

"Kaasan, Hinata merindukan kaasan, cepatlah pulang, kaasan!"

.

.

Chimi Wila chan

.

.

Makan malam kali ini sangat hening. Tidak ada obrolan yang keluar untuk memecahkanya. Neji menatap Hinata. Ada yang salah sepertinya dengan imoutonya ini. Tidak biasanya, Hinata begitu pendiam? Dan lagi, kenapa aura di sekitar Hinata begitu suram? Sepertinya, adiknya ini dalam mood yang kurang baik.

"ehm" Neji berdehem, berusaha memecah keheningan yang tidak mengenakan ini. Dilihatnya Hinata menoleh sekilas, sebelum kembali sibuk dengan makanannya. Neji menghela nafas. Sungguh, ini keadaan yang paling membuatnya kesal. Lebih baik ia mendengar Hinata yang mengoceh ataupun mengeluh daripada diam seperti ini.

"Kau kenapa, Hinata?" tanya Neji.

"Menurut niisan?" jawab singkat Hinata.

Neji mengerutkan keningnya. Ia bingung, dari nada bicara Hinata sepertinya adiknya ini sedang marah, tapi dengan siapa? Seingatnya ia tidak melakukan kesalahan hingga membuat Hinata sampai seperti ini.

"Kau marah pada niisan?" Hinata tetap bungkam tidak menjawab. Hingga Neji menarik kesimpulan bahwa Hinata memang marah padanya.

"Hey, kenapa tidak dijawab? Memangnya niisan salah apa hingga kau diam seperti ini, Hinata?"

Hinata menghentikan aktifitas makannya dan menatap Neji tajam.

"Niisan tidak tahu, apa kesalahan niisan sendiri?" ucap Hinata.

"Bagaimana niisan tahu, kalo kau sendiri diam seperti itu." jawab Neji.

Hinata menghela nafas, "Tidak sepantasnya niisan merahasiakan telfon dari Kaasan! Hinata kan juga ingin bicara dengan Kaasan." kata Hinata menyendu.

Oh, ternyata hal ini yang membuat Hinata marah. Kini Neji menjadi tahu. Dan ia akui bahwa dirinyalah yang bersalah."Bukan maksud niisan merahasiakan, hanya saja kau saat itu tengah tidur." ucap Neji.

"Harusnya niisan membangunkan Hinata!"

"Niisan tidak tega membangunkanmu," ucap Neji meyakinkan. Namun Hinata tetap diam tak menjawab. Manik ametysnya berkunang-kunang karna air mata yang dibendungnya. Hal yang paling dibenci Neji adalah melihat adiknya menangis.

"Oke, niisan minta maaf, niisan janji takan mengulangi lagi tapi ku mohon jangan menangis, Hinata!"

Hinata mengusap air matanya yang merembes dari sudut matanya. Sesegukan kecil keluar dari bibir mungilnya dan memandang Neji seolah mencari kebenaran akan ucapan kakaknya tersebut.

"Janji?" Hinata mengacungkan kelingkingnya ke arah Neji, meminta Neji untuk berjanji padanya. Cara kuno yang sering ia lakukan ketika meminta seseorang berjanji padanya.

"Janji" jawab Neji mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Hinata. Ia melihat adiknya mengukir senyum, membuat ia mendesah lega. Baginya, senyum Hinata adalah harta yang paling berharga baginya. Neji pun ikut tersenyum.
,

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto
.

.
Hinata duduk di atas ranjangnya. Menatap layar komputer di hadapannya dan membuka akun facebook miliknya. Walaupun dulunya Hinata tidak memiliki laptop, ia telah memiliki akun facebook. Eits, kalian salah, kalau menilai Hinata tidak pandai dalam memainkan laptop barunya. Ia sudah terbiasa, karena dulu ia sering dipinjami dari sahabat=sahabatnya.

Hinata terheran menemukan sahabat-sahabatnya online semua. Setahunya, mereka jarang sekali membuka akun facebook mereka. Yah, karena sekarang sudah banyak aplikasi yang menjamur dan tentunya lebihyang seru seperti twiter, BBM dan masih banyak lainya.

Hinata tersenyum melihat inbox dari Tenten yang disambung dengan Sakura dan Ino juga. Yah, mungkin kita bisa menyebutnya GC (Grup Chat).

Tenten: woyyy, Hinata online, woyy :v
Ino: tumben nih anak satu on :/
Sakura: Online dimana? Udah malem loh! Ntar di marahi Neji-nii
Tenten: Ah, Neji-nii mau dong di marahi dia kyaaaa
Hinata: Sorry yey, eike sudah tidak lagi online di warnet n_n oi... Oi Tenten, Neji itu kakaku, awas ya! Hihihi
Sakura: wow, ceritanya sudah punya sendiri nih :) (ikut seneng)
Ino: asyiikk yang punya laptop baru, boleh tuh, nanti pinjem?
Tenten: ah selamat ya Hinata, memangnya kenapa kalau Neji kakakmu, aku ga takut tuh. Mendaki gunung pun, aku lakuin buat Neji-kun hwahaha
Hinata: iya nih, baru dikirim ibu tadi sore.. :) , Ino, boleh saja, satu menit 100 yen hahaha :p, Tenten, memangnya ninja hatori mendaki gunung? Urusi tuh, Lee fans berat itu loh, dan seribu kalipun aku takan memberikan Neji padamu ! :p
Sakura: oi, bener kata Hinata tuh, urusi si cacing kepanasan itu hahaha :v (highfive Hinata)
Ino: huwaa TT Hinata pelit sekali, menyaingi Kakuzu sensei hwahaha, ehm aku setuju deh sama hinata, poor u Tenten #tendang_tenten :v :v
Tenten: huwaa tega sekali kalian, main keroyok. Oi,,, oi aku tak ada apa-apa dengan cacing kepanasan itu. Tega sekali kalian huwaaa TT (nangis guling-guling)
Sakura: hwahaha poor u Tenten
Ino: poor Tenten ^.^b
Hinata: poor u Tenten khukhukhu (tawa evil)

Dan begitulah, malam hinata begitu terasa seru saat bisa chattingan dengan teman-temannya. Tertawa lepas, sejenak melupakan beban hidupnya.

.

.

Kriiiinnnggg

Hinata yang tengah tertidur pulas itu harus terusik oleh alarm dari jam bekernya. Dengan enggan, ia meraih jam yang berada di atas meja kecil dekat ranjangnya itu. Hinata mengucek matanya, mencoba mengusir rasa kantuk yang bergelayut manja. Perlahan ia mengerjapkan mata untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya.

Hinata tidak sadar jika ia semalam ketiduran saat chattingan bersama temannya, hingga ia lupa untuk mematikan laptop miliknya. Untung saja Neji tidak mengetahui ini. Ah tak bisa dibayangkan , kalau sampai Neji tahu. Pasti ia akan mendapat ceramah yang super panjang tentang sifat ceroboh yang tidak bias lepas dari dirinya.

Hinata hendak mematikan laptop miliknya, namun ia urungkan. Kala matanya tertuju pada sebuah inbox.

Black prince:
bias senyumu laksana langit jingga
indah dan menentramkan

Hanya sekelumit memang, tapi tetap saja Hinata merasa heran. Ia tidak merasa memiliki teman dengan akun black prince. Atau mungkin akun itu salah mengira? Alias salah kirim.

Dengan lincah, Hinata mengklik nama akun itu. Mencari tahu dari sang pemilik. Nihil, tidak ada apa-apa yang ia kenali. Detail infonya sangat terbatas dan rahasia. Apalagi foto yang ada, hanya sebuah hitam dan ada pula pemandangan sore hari yang menampakan langit jingga yang begitu indah. Ah, memang benar, mungkin akun itu hanya salah kirim. Hinata kan, di dunia ini ada banyak' pikirnya.

Ding dong

Tanda ada inbox baru masuk.

Black prince say:
Ohayou hime

Inbox itu benar-benar membuat Hinata merinding. Secepat kilat ia mematikan laptopnya dan bergegas menuju kamar mandi.

.

.

My little star

.

.

Di sebuah tempat yang berbeda dari Hinata, tepatnya di sebuah kamar bercat dark blue. Seorang pemuda tengah tersenyum memandangi layar komputernya.
"Ohayou, hime-chan." gumam pemuda itu.
.

.
My little star

.

.

Hinata berjalan di antara rentetan loker murid KHS. Niatnya ia ingin mengambil kaos olahraga yang akan di kenakan pada jam pertama. Sekolah masih sedikit lenggang. Hinata tidak mau berdesak-desakan di loker hanya untuk mengambil kaosnya. Belum lagi mengantri untuk ganti baju. Itu adalah hal menyebalkan.

Hinata memasukan kunci ke dalam pintu loker miliknya.

"klek" dan lokernya pun terbuka.

Alangkah kagetnya dirinya mendapati ada setangkai bunga di dalam lokernya. Ia menengok ke kanan dan ke kiri berharap tidak ada satupun yang melihat ini. Karena bisa gawat, bisa dipastikan, hidup Hinata akan dipenuhi oleh gosip.

Tidak memperdulikan keberadaan bunga itu, ia mengambil kaosnya secepat kilat. Saat ia menarik kaosnya, selembar kertas melayang tepat di hadapanya dan terjatuh tidak jauh dari kakinya. Hinata kembali menengok kanan-kiri. Setelah dirasa aman, ia segera mengambil kertas itu. Dan pergi meninggalkan lokernya. Ia tidak ingin ada hal ganjil lainya hingga diketahui siswa lain.

Di perjalanan Hinata membaca kertas berwarna soft purple itu. Matanya mengamati keadaan sekitar penuh waspada.

Kau tahu..?
Ku melihatmu dari dinding yang tak kau lihat...
Ku perhatikanmu dari sisi yang tak terfikir olehmu...

Setiap langkahmu, ku memandang...
Setiap tingkahmu, ku abadikan...

Senyumu... Tawaku...
Lukamu... Sakitku...

Tetaplah tersenyum, untukku.
My little star

from: black prince

Hinata hampir saja lupa cara bernafas saat selesai membaca isi kertas itu. Ia bingung, ia heran. Siapa sebenarnya pengirim puisi ini? Black prince, sepertinya ia pernah melihat nama itu. Hmm, ah iya hampir saja Hinata lupa. Bukankah black prince itu akun yang mengirimkan inbox dirinya? Jika ia bisa mengirim ini sampai di loker Hinata,pasti orang itu memang mengenal Hinata dan dugaan Hinata yang hanya salah kirim itu ternyata salah. Lantas, yang jadi pertanyaan, siapa black prince?

Hinata kembali melangkahkan kakinya. Mungkin ia akan berkonsultasi dengan teman-temannya. Dan siapa tahu temannya itu bisa membantunya. Yosh, Hinata menggenggam kertas itu dan mempercepat langkahnya.

Dari kejauhan, seorang pemuda tengah mengamati setiap langkah Hinata. Bibirnya tidak henti menyunggingkan senyum. Setelah Hinata lenyap dari pandangannya, ia segera pergi sebelum ada siswa yang mengetahui keberadaannya.

.

.

.

Memeluk kehampaan dalam kesendirian
Bertemankan sepi dalam kelam
Diam membisu tanpa kata
Terasa ngilu sesak di dada

Kau datang hadirkan pesona
Temaniku dengan sebuah pelita
Mengajaku mengenal berjuta warna
Hadirkan rasa yang berbeda

Apa kau mengerti?
Apa yang dikatakan oleh hati
Apa kau pahami?
Apa yang ku ingini?

Aku ingin kau tetap di sini... di sisiku

from: Black Prince.

.

.

disclaimer: Masashi Kishimoto

.

.

"Seriuuussss?" pekik Ino setelah mendengar penuturan Hinata tentang puisi yang didapatkan tadi pagi dari orang yang tidak di kenalnya.

Hinata mengangguk.

"Apa kau memiliki kecurigaan pada seseorang yang mungkin saja pelakunya?" tanya Tenten.

Hinata menggeleng.

"Ini aneh, setelah ku telusuri teman-teman facebookku, tak ada satupun yang bernama Black prince. Jika benar, orang itu berasal dari sekolah kita, pasti aku memilikinya, kecuali..." ucap Sakura memberi jeda.

"Kecuali orang tersebut memiliki 2 akun, iya kan!" sambung Tenten.

"Yups, tepat sekali. Karna hampir semua murid, aku memiliki akunnya," kata Sakura, tanganya bergerak lincah di atas keyboard netbook miliknya.

"Kau bilang hampir, berarti tidak semuanya bukan?" tanya Tenten.

"Memang benar, aku hanya tidak memiliki akun siswa kelas 10," jawab Sakura.

"Atau jangan-jangan, yang mengirimkan ini semua berasal dari kelas 10." ucap Ino sembari memandangi 2 buah kertas puisi itu. "Ciyee Hinata, brondong tuh." goda Ino. Hinata hanya mendengus kesal.

"Bukan, bukan kelas 10. Aku sudah mengecek akun anak-anak kelas 10 dari akun Konohamaru tapi nihil, tidak ada satupun akun seperti itu," kata Sakura, ia menunjuk ke arah deretan nama-nama yang tertera di layar komputernya.

"Hah, benar-benar misterius." Tenten menghela nafas.

"Aku bilang apa, kan? Susah sekali mencari celah untuk mengetahui siapa sebenarnya Black prince itu." ucap Hinata dengan wajah serius.

"Ya, anggap saja itu penggemarmu, Hinata-chan." ucap Ino enteng.

"Mana mau aku memiliki penggemar misterius seperti itu," bantah Hinata.

"Eits, hati-hati loh, kau bisa jatuh cinta dengan orang misterius itu loh," goda Ino.

"Mana mungkin? Kenal saja tidak!" tepis Hinata.

Hinata dan Ino masih saling goda dan membantah, membuat Tenten memutar kedua bola matanya, melihat pertengkaran yang sangat kekanakan menurutnya.

"Hei, temen-temen coba lihat ini!" seru Sakura.

Tenten, Ino dan Hinata segera menghampiri Sakura. Mereka merasa bingung dengan Sakura. Kenapa mereka harus melihat gambar suasana senja. Apanya yang menarik?

"Hei Sakura, jangan mempermainkan kami, apa maksudmu? Kenapa menyuruh kami mengamati gambar itu." kata Ino.

"Iya, apanya yang menarik." tambah Tenten.

"Bukanya gambar ini, gambar yang ada di akun Black prince?" tanya Hinata.

Sakura tersenyum kemenangan, rupanya teman-temannya tidak melihat dengan jeli, padahal ada poin penting untuk kasus Hinata ini. "Kau benar Hinata, ini memang gambar di dalam akun Black prince, memang terlihat tidak ada yang menarik, tapi... Coba lihat ini!" Sakura mengklik mousenya, memperbesar ukuran gambar itu. "See.. Kalian lihat!" ucap Sakura, menunjuk ke suatu titik.

"Eh ada orang?"

Mereka bertiga terperangah melihat titik yang di tunjuk Sakura. Bagaimana mereka bisa tidak memikirkan ide untuk meng'zoom gambar itu.

"Siapa dia?" tanya Ino heran.

"Coba perhatikan baik-baik!" perintah Sakura.

Mereka bertiga pun memperhatikan seseorang, tepatnya seorang gadis di gambar itu. Gadis yang tengah duduk di sebuah bangku dengan menatap indahnya cakrawala senja.

Tenten dan Ino sangat mengenali perawakan gadis itu. Meskipun tidak terlihat wajahnya. Tenten dan Ino pun sama-sama memandang ke satu orang.
"Hinata"

Hinata yang merasa terintimidasi itu hanya bisa diam.

"Hinata, apa kau ingat, kapan kau berada di tempat itu dengan waktu yang sama seperti gambar?" tanya Tenten memulai sesi interogasi.

"Seminggu yang lalu." jawab Hinata pelan.

"Apa kau lihat, ada seseorang selain dirimu?" kali ini giliran Ino yang bertanya.

"Tidak, tidak ada. Lagian kalian apa-apaan sih, aku ini bukan nara pidana yang harus diinterogasi." racau Hinata tisak terima."dan mungkin saja itu hanya lukisan." lanjutnya.

"Lukisan?" beo Ino.

"Ya, ya lukisan." ucap ulang Hinata.

"Tak mungkin, jikalau lukisan, gambar akan terlihat seperti dibuat-buat, dan mungkin saja sang pelukis akan menambahkan efek hingga lebih menarik, tapi gambar ini tampak nyata tanpa di buat-buat," jelas Sakura. Temannya hanya manggut-manggut membenarkan ucapan Sakura.

"Sudahlah, anggap saja dirimu artis, Hinata. Hingga memiliki seorang fans," ucap Tenten yang sudah pusing memecahkan kasus ini.

"Ah, sudahlah, besok kita lanjutkan pemecahannya, sekarang ayo masuk kelas." ajak Ino.

Mereka pun akhirnya beranjak dari taman belakang sekolah menuju kelas mereka karna bel tanda masuk sudah berdering.

.

.

.

Hinata tengah berjalan sendirian melewati koridor-koridor yang ramai di penuhi siswa-siswi yang hilir mudik berlawanan arah dengannya. Hinata mendengus kecil, merasa kesal pada sahabatnya yang seenaknya sendiri menyuruhnya mengantar buku tugas ke meja Iruka sensei. Tega sekali mereka, membiarkan Hinata mengangkut sendiri. Seharusnya ia sudah berada di bus, pulang menuju rumahnya. Apalagi buku yang dibawanya tidak begitu ringan alias lumayan berat.

Ia melangkah dengan penuh hati-hati.

Bruuuuggg

Hinata tidak bisa menyeimbangkan badannya saat ada seseorang yang menubruknya mendadak. Hingga ia jatuh terjerembab. Kakinya sedikit terkilir karenanya. Belum lagi, buku yang harus diantarkanya sudah melayang kemana-mana. Sial sekali nasib Hinata hari ini. Sudah dapat surat misterius, ditinggal teman-teman dan sekarang ia harus terjatuh. Oh Tuhan...

Hinata menatap tajam sosok stoic yang masih berdiri dihadapanya. Sasuke tetap berdiri dengan angkuhnya. Tangan kanannya ia masukan ke dalam saku, sedangkan tangan satunya memegang tali tas yang di sampirkan pada bahunya.

"Bantu aku!" ucap Hinata dengan nada memerintah, tanganya terulur meminta Sasuke agar membantu ia berdiri.

"Untuk apa aku membantumu? Kau yang berjalan tak memakai matamu!" tolak Sasuke ketus.

"Aduduh, enak sekali tuh mulut bicara, memangnya siapa yang menabraku? Aku kan tengah membawa buku banyak? Pokoknya kau harus bantu aku!" kata Hinata tidak mau kalah.

"Bukan urusanku." setelah berkata seperti itu, Sasuke mulai melangkahkan kakinya, meninggalkan Hinata sendiri.

Hinata hanya mendesis, mengumpat pada Sasuke. Benar dugaannya bahwa prince of school hanya berisi orang-orang menyebalkan minus Naruto tentunya. Dengan sekuat tenaga, Hinata mencoba bangkit. Rasa linu itu begitu terasa di sendi kakinya. Hinata berhasil bangkit, tapi sayangnya tidak berlangsung lama. Ia kehilangan keseimbangannya kembali, hingga tubuhnya oleng ke samping. Hinata siap untuk merasakan sakit yang kedua kalinya. Matanya terpejam berharap ia takan merasa kesakitan. Namun aneh, ia tidak terjatuh. Melainkan ia merasakan ada sebuah lengan yang melingkari pinggangnya. Dengan perlahan, Hinata membuka matanya.

Kedip

kedip

kedip

'hah' Hinata terperangah memandang seseorang di hadapanya dan sangat dekat. bukankah tadi Sasuke sudah meninggalkanya, kenapa sekarang dia ada di hadapannya dan menolongnya? Entah Hinata harus bersyukur atau apa? Yang jelas, ia telah di selamatkan oleh pemuda itu.

Sasuke melepaskan pelukan lenganya dari pinggang Hinata dan ia berjongkok di depan gadis itu.

"Naiklah!" ucap Sasuke datar.

"Eh?" Hinata masih belum memproses perintah Sasuke, ia bingung dengan apa yang dilakukan si stoic itu.

"Ck,,, cepatlah naik ke punggungku!" Sasuke merasa kesal karna Hinata tidak peka apa maksudnya.

"Tapi bukunya?" tanya Hinata.

"Sudahlah, ayo cepat naik!"

Dengan ragu-ragu ia naik ke punggung Sasuke. Tanganya mencengkram pundak Sasuke untuk ia jadikan sebagai pegangan. Dan ia menyamankan posisinya.

Sambil menjaga keseimbangannya, Sasuke memunguti buku-buku yang berserakan. Ia memanggil penjaga sekolah yang kebetulan lewat, untuk mengantarkan buku itu ke ruang guru. Sedangkan ia akan mengantarkan Hinata pulang ke rumahnya.

Waktu terasa berjalan sangat lambat. Perjalanan pulang yang seharusnya 1 jam, terasa satu tahun. Perasaan gelisah dan tidak nyaman itu menjadi hal yang semakin memperlambat waktu. Hah, Hinata menghela nafas.

Ini semua gara-gara Sasuke yang menabraknya, hingga ia susah berjalan dan terjebak dalam gendongan pemuda itu. Sebenarnya apa yang di pikirkan Sasuke, bukannya ia terkenal tidak peduli, sekalipun ia yang salah. 'Ta-tapi mengapa si stoic ini mau repot-repot menggendongnya?"'raung Hinata dalam hati.

Harusnya pemuda itu meninggalkannya saja. Tidak usah peduli, seperti halnya yang dia lakukan kepada yang lainya. Sifat Sasuke yang seperti ini, benar-benar membuat Hinata ketakutan. Hinata sungguh tidak mengerti jalan pikiran Sasuke. Tidak mengerti, mengapa Sasuke rela bersusah payah mengantarnya. Padahal Hinata bisa pulang sendiri, ia hanya perlu menelpon sang kakak untuk menjemputnya, dengan begitu masalah beres,kan?

Yah, kalo saja pemuda ini tidak bersikeras mengantarnya sampai rumah. Dengan sedikit tidak rela. Akhirnya Hinata setuju saat Sasuke memaksa mengantarnya. Hah, mengingat kejadian tadi sungguh membuat Hinata banyak menghela nafas.

"Berhenti!"

"Hah, apa?" tanya Hinata bingung.

"Berhenti menghela nafas, mengganggu!" ucap ulang Sasuke.

Hinata merona malu, ketahuan menghela nafas terlalu banyak membuat Hinata grogi.

"K-kau yang membuatku seperti ini," bela Hinata.

"Seperti apa?" tanya Sasuke.

"Ya-ya seperti ini, menghela nafas terlalu banyak," jawab Hinata gugup.

"Memangnya aku berbuat apa?" pancing Sasuke, matanya menatap jahil.

" Ya seperti ini.."

"Seperti apa?"

"Aiih, kau menyebalkan, berhenti bersikap aneh kepadaku!1" racau Hinata.

Sasuke tersenyum tipis melihat Hinata salah tingkah tiap kali ia goda.

"Menolong teman memangnya suatu hal yang aneh?" tanya Sasuke.

"Tidak, tidak aneh jika itu orang lain, helooo semua orang juga tahu kalau kau tidak mau melakukan ini, itu yang membuatku merasa aneh!" seru Hinata.

"Berarti kau termasuk orang yang beruntung, seharusnya kau bersyukur, karna kau menjadi yang pertama, yang ku perlakukan aneh seperti ini." goda Sasuke lagi.

"Hah" Hinata berkedip berulang kali, apa ia tidak salah dengar, sekali lagi APA IA TAK SALAH DENGAR! Sasuke mengucapkan kata terpanjang yang pernah di dengarnya. Dan pemuda itu bilang bahwa Hinata harus bersyukur menjadi yang pertama di perlakukan seperti ini. Huft, narsis sekali nih orang.

"Huft, narsis sekali kau, ini hanya perlakuan sebuah tanggung jawab, tau!" dengus Hinata sebal.

"Hahaha..." Sasuke tertawa kecil dan lagi-lagi membuat Hinata terperangah.

"Kau bisa tertawa?" tanya Hinata dengan polosnya. Kali ini, Sasuke yang mendengus kesal.

"Tentu saja, bodoh, aku juga manusia." jawab Sasuke.

"Ku kira beruang kutub." celetuk Hinata.

"Kau mengatakan sesuatu?"

"Ah tidak, aku hanya mengantuk." kata Hinata pura-pura menguap. Bisa gawat kalau sampai Sasuke dengar celetukanya itu.

"Oh... Kalau begitu, tidurlah." ucap Sasuke enteng.

"Rh,,, t-tak perlu, aku bisa menahannya sampai rumah," tolak Hinata, wajahnya merona malu.

"Tak apa, kalau sudah sampai, akan ku bangunkan,"

"Umm, baiklah," akhirnya Hinata mengalah daripada ketahuan bohong. Ia mulai menenggelamkan wajahnya pada punggung lebar milik Sasuke. Tidak berlangsung lama, dengkuran halus keluar dari bibir mungil hinata. Sasuke sendiri tersenyum lembut, merasakan nafas teratur yang menerpa punggungnya.

.

.

. "engh" Hinata menggeliat di dalam tidurnya. Sebelah tanganya menggaruk rambutnya lembut. Bergerak ke kanan-kiri, berusaha mencari posisi yang lebih nyaman. Keningnya berkerut, sepertinya ada sesuatu yang ia lupakan. Bukankah tadi, ia tidak bisa bergerak bebas seperti ini? Tapi mengapa, ia kini dengan leluasanya bergerak ke kanan-kiri?

Perlahan ia membuka ametysnya, mencari tahu apa yang membuatnya terasa begitu janggal.

Lagi-lagi ia mengkerutkan keningnya. Saat menemukan dirinya tengah berada di tempat tidur. Bukankah, terakhir kali saat dirinya terjaga, ia masih berada dalam gendongan Sasuke? Tapi kenapa saat ini ia berada di kamarnya? Jika memang benar, ia telah sampai, kenapa Sasuke tidak membangunkannya? Bagaimana ia bisa masuk? Yang tahu letak kunci rumah kan, hanya dirinya dengan Neji? Jika memang Sasuke tahu letak kuncinya, berarti... Sasuke yang mengantarkan ke kamar dan meletakanya di atas ranjang. Whattt!

Hinata sontak membelalakan matanya saat sebuah pernyataan terakhirnya terlintas. Tangannya menangkup dadanya, mengecek bahwa ia dalam kondisi aman. Dengan takut-takut, ia menunduk. Ia mendesah lega, melihat pakaiannya masih utuh bahkan ia masih mengenakan seragam sekolahnya. Namun tetap saja, itu membuat wajahnya merah padam. Seumur hidupnya, tidak ada seorang lelaki yang memasuki kamar pribadinya kecuali Neji, itupun hanya untuk menengok keadaan Hinata. Dan sekarang, si Sasuke itu telah berani menapakkan kakinya di ruang privasinya. Bahkan dia bukanlah jejeran orang yang terlalu ia kenal, hanya sebatas teman kelas.

Di tengah rasa frustasi dan malunya, ia menolehkan kepalanya ke arah jarum jam. Waktu menunjukkan pukul 19.00. Berarti ia telah tertidur selama 4 jam, hingga ia melewati makan sorenya bersama Neji. Makan? Neji? Oh tidak, ia melupakan tugasnya untuk memasak. Dengan segera, ia bangkit dari tidurnya. Hal yang pertama ia rasakan adalah kakinya tidak terasa sakit lagi. Syukurlah kalo begitu. Ia mulai beranjak pergi. Berjalan tergesa-gesa, ia menuju dapur rumahnya.

"sudah bangun?"

Deg...

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Hinata memandangi makanan yang tersaji dan Neji bergantian. Sesampainya ia di dapur, ia langsung disapa oleh suara dingin kakaknya. Ia kira Sasuke masih di sini. Untunglah tidak ada. Tapi sepertinya kakaknya ini sedang sedikit dingin dan acuh. Ia tidak menemukan Neji yang sering menggodanya atau mengomelinya. Yang ia temukan, sosok Neji yang menjadi senpainya waktu ia masih kelas 10. Neji yang sekarang membuatnya merinding. Dengan perlahan Hinata memasukan suap demi suap nasi ke dalam mulutnya. Ia terdiam seribu bahasa.

"Apa kakimu masih sakit?" tanya Neji dengan datar. Yah setidaknya Neji masih peduli di sela-sela sifat dinginya yang kambuh.

"Sudah tidak terasa, niisan,"

"Oh, baguslah,"

"Darimana niisan tahu, kalo Hinata sakit?" tanya Hinata heran. Ia kan belum bertemu Neji sejak pulang sekolah sebelum ini. Dan ia juga belum menceritakan apapun. Lantas, Neji tahu dari siapa? Ia mendapati kakaknya itu mendengus kesal. Apakah ia salah melemparkan pertanyaan? Sepertinya, Neji kurang suka dengan pertanyaan ini. Hei, ia kan hanya penasaran.

"Bagaimana niisan tak tahu? Saat dengan seenaknya orang itu masuk ke dalam rumah, bertanya dengan nada memerintah. Dan apa-apaan itu, sifat dinginya?" ucap Neji kesal.

"Ma-maksud niisan, Sasuke?" tanya Hinata kikuk.

"Kau sudah tahu sendiri, tak perlu aku menyebutkan namanya," jawab Neji, "Ia benar-benar membuatku kesal, dia pikir hanya dia yang bisa bersikap dingin,huh?" .

Hinata tersenyum. Kakaknya ini adalah pemuda terdingin di angkatannya. Namun, tidak di depan Hinata. Neji hanya bersikap dingin kepada orang yang tidak dikenalnya ataupun kurang disukainya.

"Ada hubungan apa, kau dengan dia?" tanya Neji mengintimidasi.

"Em... Tak ada apa-apa, niisan," jawab Hinata tetap sibuk dengan makananya. Ia memasukan potongan tempura ke dalam mulutnya..

"Benarkah? Kau tidak menyembunyikan sesuatu dari kakakmu ini?" .

"Aku tidak berbohong, ia hanya membantu mengantarkan pulang karna kakiku terkilir, itu saja! Tidak lebih!" ucap Hinata tegas.

"Baiklah, niisan percaya, sekarang lanjutkan makan kita1" ajak Neji mengakhiri perdebatan tidak berujung bila tak ada yang mengalah. Semua tenggelam dalam menu yang tengah disantapnya. Hanya terdengar dentingan sendok dan piring beradu.

.

.

.

to be continued..