.

.

GINTAMA MILIK HIDEAKI SORACHI

Typo, OOC, gaje

.

.

.

Chapter dua: Hantu

Sejak sore tadi, hujan tak henti hentinya mengguyur kota Edo. Keluarga Okita menghabiskan waktu mereka sebelum tidur dengan berkumpul di ruang tengah. Di saat saat dingin seperti ini memang lebih enak jika berkumpul ramai ramai di suatu tempat.

"Kaguya, tolong rapatkan korden jendela," pinta Soujiro pada Kaguya yang sedang bermain main boneka di samping jendela.

"Hai," Kaguya menutup rapat korden yang sedikit terbuka.

"Kaguya, tahu tidak kenapa tadi aniki meminta menutup jendela?" tanya Soujiro tiba tiba.

Kaguya menggeleng lucu. "Karena kenapa?"

Soujiro menyeringai seram. "Ada hantu yang melintas di depan jen-"

Perkataan Soujiro terpotong karena jeritan Kaguya. Buru buru Kaguya membawa sejumlah bonekanya yang tergeletak agar menjauhi jendela.

"Soujiro, jangan takut takuti adikmu, aru," kata Kagura yang sedang meninabobokan Sadomaru, anak dari Sadaharu, saat melihat Kaguya ketakutan sampai memeluk Soujiro erat erat.

Soujiro tertawa. Kaguya merengek.

"Konyol ah. Hantu itu tidak-"

PET. Seketika ruangan itu menggelap tanpa ada yang mematikan lampu. Kaguya langsung teriak teriak memanggil papinya yang tak ada di ruangan itu karena sedang ada tugas.

"Mami ada hantuuuuuuu."

"Ini cuman mati lampu, Kaguya," kata Kagura menenangkan. Walaupun sebenarnya ia juga deg deg kan karena kaget. Kagura meraba raba kegelapan, mencoba untuk mencari kedua anaknya yang berada di ujung ruangan.

"Hei Kaguya, tahu tidak," kata Soujiro dengan nada tenang tanpa memperdulikan kalau sekelilingnya gelap gulita. Bahkan ia tidak bisa melihat tangannya sendiri.

"Biasanya saat saat seperti ini hantu itu muncul dan dia akan me-." Lagi lagi teriakan Kaguya memotong ucapan Soujiro. Gadis itu memeluk erat erat kakaknya. Tampaknya ia benar benar ketakutan.

"Soujiro! Jangan takuti adikmu." Suara Kagura kian mendekat. "Kau ini, benar benar usil ya." Saat Kagura mendekat, Kaguya langsung memeluknya dan meminta digendong.

"Nah, sekarang ayo kita cari senter, aru," Kagura yang sedang menggendong Kaguya meraba raba di kegelapan dan mencoba untuk berjalan menuju kamarnya. "Soujiro tunggu di sini ya," suara Kagura terdengar agak menjauh.

Soujiro mengangkat pundaknya. "Aku kan tidak takut." Biasanya Soujiro suka pergi ke markas Shinsengumi saat malam hari, sekedar iseng. Dan biasanya juga di sana ia sering mendengar cerita cerita hantu dari para bawahan ayahnya. Jadi ia sudah tidak takut lagi dengan sesuatu yang bernama hantu.

'Memangnya aku paman Gin atau si Mayo freak itu,' gumamnya.

Sedangkan Kagura yang sudah berada di kamarnya sedang berusaha mencari senter hanya dengan menggunakan insting Yatonya karena setitik pun cahaya tak ada.

Malam itu tak ada bulan atau bintang di tengah tengah cuaca yang bisa di bilang badai seperti ini. Rintik rintik hujan menampar nampar jendela kamarnya.

"Kaguya, kau di situ, aru?" tanya Kagura untuk memastikan meski ia mendengar suara nafas seseorang.

"Iya."

"Sepertinya senter kita hilang, sudah kita pakai lilin saja malam i-."

CTAR!

"Ibu!" Teriakan Soujiro terdengar amat keras setelah suara petir menyambar.

Kagura langsung menggendong Kaguya keluar kamarnya saat mendengar teriakan Soujiro di ruang tengah. Kagura berlari tanpa menabrak apapun yang ada di samping atau depannya.

Setelah sekian lama mata Kagura melihat di kegelapan, akhirnya netranya sudah bisa menyesuaikan dengan kegelapan, meski samar.

"Ada apa?" tanya Kagura panik.

Terdengar penjelasan Soujiro dengan suara agak terbata bata, "ta..tadi saat ada petir aku liat han-, maksudnya o..orang di depan jendela." Soujiro menunjuk ke arah korden yang setengah terbuka.

...

Akibat dari perkataan Soujiro, Kaguya merengek hebat meminta maminya mengizinkannya tidur di kamar mami. Katanya kalau tidak, ia akan pergi sendiri ke markas Shinsengumi untuk menemui papinya atau pergi ke paman Gintoki atau rumah bibi Tae daripada tidur bersama hantu.

Sebenarnya Kagura tertawa dalam hati. Ke kamar mandi saja minta ditemani, apalagi pergi keluar rumah saat malam hari dan cuacanya badai begini. Akhirnya Kagura pun mengizinkan putrinya untuk tidur di kamarnya.

"Soujiro mau tidur bareng, aru?" tanya Kagura sambil membawa lilin di atas wadahnya.

Soujiro hanya menggeleng. "Tidak." Meskipun ia sebenarnya ingin sekali. Mana mau ia diledek ayahnya hanya gara gara takut hantu begitu. Lagian hantu itu tak ada kan?

'Terus aku liat siapa tadi?'

Langkah kaki Kagura yang terdengar menjauh membuat Soujiro memanggil ibunya tiba tiba.

"Kenapa?"

"Ka..kalau bisa, pintu kamar ibu ja..jangan di tutup ya," kata Soujiro sedikit malu. Laki laki harusnya tidak boleh takut dengan yang seperti itu!

Kagura tersenyum. "Hm." Kamar Soujiro dan kamar Kagura berhadapan, jadi kalau tidak ditutup akan terlihat dari kamar Soujiro.

Soujiro masuk ke kamar sambil membawa lilin. Diam diam dia mengecek dalam lemari, di balik pintu, dan di kolong kasur. Ia sudah seperti orang paranoid karena ada stalker mesum saja.

Merasa tak ada 'makhluk lain' yang menumpang di kamarnya yang gelap itu, Soujiro memutuskan untuk tidur saat ia mendengar dengkuran dari kamar ibunya.

...

"Hantu?" Sougo mengulangi perkataan Kaguya saat mereka sedang sarapan. "Hantu seperti apa yang kau lihat?"

Kaguya menggeleng. "Bukan aku yang melihat. Tapi aniki," katanya sambil menyuapkan sarapannya ke mulut mungilnya.

"Hoo," Sougo terdiam sebentar. Mungkin ini bisa jadi bahan ledekan untuk anaknya yang sama menyebalkan dengannya. "Dimana Soujiro?" tanya Sougo pada Kagura yang sedang sibuk mengupas apel.

"Entah. Biasanya anak itu memang selalu telat untuk sarapan, aru," kata Kagura. Kemudian ia merebus air untuk membuatkan susu untuk Sadomaru kecil.

"Mami, lihat boneka pandaku dari paman ngak?" tanya Kaguya.

Kepala Kagura meneleng, mencoba mengingat. "Mami, tidak ingat, aru. Mungkin di-, oh, masih ada di jemuran!" pekik Kagura teringat boneka pemberian Kamui masih tergantung di jemuran di luar. Boneka itu sudah terguyur air huja semalaman pastinya.

"Ah, mamiii," Kaguya menatap maminya dengan kesal. Sedangkan Kagura hanya bisa meringis meminta maaf.

"Ck, aku pergi sehari saja, rumah ini tak terkontrol. Kau kan seorang istri, China," Sougo mendesah bosan.

Kagura menyambar tempat sendok dan garpu tersedia. "Jadi kau bilang aku istri tak bertanggung jawab, aru?!" ia melempar secara bergantian sendok dan garpu ke arah suaminya.

Dengan mudah, Sougo menghindari lemparan istrinya yang sudah profesional itu. "Memangnya sejak kapan kau becus melakukan sesuatu?" kata Sougo datar sambil menyesap kopinya di antara sendok dan garpu yang melayang ke arahnya.

Sedangkan Kaguya sudah terbiasa melihat hal itu, hanya memakan apel yang baru ibunya sodorkan padanya. Kagura dan Sougo memang bukan contoh orangtua yang baik. Karena bosan melihat adegan seperti itu, Kaguya memilih keluar dari dapur sambil menyeret Chokie, boneka kelincinya.

Karena sejata lempar sudah habis, Kagura terduduk lelah di atas kursi makan sambil menatap Sougo kesal. "Hei. Kemarin kata Tsukki kau pergi ke Yoshiwara ya? Untuk apa, hah?" tanya Kagura, mencoba terdengar normal agar Sougo tidak menyadari ia sedang cemburu. Walaupun tampaknya ia gagal.

"Ada tugas di sana, China," jawab Sougo sambil menyingkirkan sendok yang tergeletak di hadapannya. "Kenapa? Cemburu?" tanya Sougo terdengar agak geli.

"Tugas, aru? Tapi untuk apa bersama Nobume-chan?" nada Kagura terdengar menyelidik. Tentu saja sebagai seorang istri, ia harus curiga kalau suaminya pergi ke tempat pelacuran bersama wanita.

Sougo mendengus geli. "Aku baru tau kau cemburuan. China, aku dan Imai bertugas ke sana. Memangnya aku tertarik dengan wanita yang memiliki wajah datar," Sougo menatap geli Kagura yang sedang menatapnya dari seberang meja. "Yah, walaupun tidak dengan da-"

"TEMEEEEE," dengan gerakan maut khasnya, Kagura melempar tubuh Sougo ke arah pintu masuk dapur. Entah bagaimana caranya ia melakukannya.

Bruakkkk, tubuh Sougo mendarat di lantai dengan sempurna.

Di dalam dapur yang sudah acak acakan seperti bekas peperangan itu, berdiri Kagura dengan aura yang mencekam sambil mengibas ngibas tangannya seolah olah ia baru selesai beres beres.

"Memangnya aku tak tahu apa yang mau kau katakan, HAH?"

Pagi hari di kediaman ini memang tak bisa tenang walau hanya sehari.

...

"Soujiro-kun, habiskan bekal mu ya," kata Kagura sambil menyodorkan sekotak bekal berisi makan siang pada Soujiro yang ada di hadapannya. Soujiro mengambilnya dan memasukkannya dalam tas kecil.

"Aku pergi dulu," katanya. Sebelum ia sempat melangkah pergi, Soujiro merasa pelukan di kedua kakinya. Soujiro menoleh kebelakang dan mendapati Kaguya sedang memeluk kakinya.

"Aniki, cepat pulang ya. Kaguya takut ada hantu di rumah," kata Kaguya sambil melepaskan pelukannya. Soujiro membalikkan tubuhnya dan menghadap Kaguya.

Sebenarnya Soujiro sendiri agak takut untuk pulang ke rumahnya sendiri. Bayangkan saja kalau kau baru saja menakut nakuti adikmu lalu hantu itu sendiri datang kepada mu.

"Hei, jangan takut. Hantu itu tak ada," kata Soujiro sambil mengelus kepala adiknya sekilas. Di sisi kirinya, Sougo dan Kagura sedang berciuman sekilas. Kalau mau bermesraan di kamar saja! Ada anak kecil di sini!

Kaguya yang tak melihat adegan barusan, langsung memeluk papinya. "Papi pulang malam?"

Sougo menggeleng. "Tapi papi ada pekerjaan di Yoshi-"

Hantaman di rusuk kiri Sougo membuatnya bungkam seketika. "Papi, sudah jam segini. Nanti telat loh," kata Kagura sambil menggendong Kaguya kecil yang awalnya berada di pelukan Sougo.

Sougo meringis kesakitan. "Ya aku pergi. Ayo Soujiro."

Selagi Kaguya melambai lambai ke arah Soujiro dan Sougo yang mulai menjauh, Kagura melakukan gerakan pantonim memotong lehernya sendiri, isyarat untuk Sougo kalau ia berani menginjakkan kakinya ke tempat laknat itu.

Sougo mati matian menahan diri untuk tidak membalasnya dengan mengancungkan jari tengahnya ke istrinya yang biadab itu, kalau saja putri polosnya sedang tak melambai lambai ke arahnya dan putranya.

"Soujiro," panggil Sougo ketika mereka di tengah jalan.

"Hm?"

"Kau melihat hantu tadi malam?"

'Tumben kau menanyakan hal remeh seperti ini, ayah,' batin Soujiro. "Hantu itu tak ada. Jangan konyol!"

"Lalu apa yang ada di dekat jemuran itu, hm?"

Soujiro tersentak. 'Darimana ia tahu tempat lokasi si hantu itu berada?'

"Soujiro, jangan menakut nakuti adikmu. Ia masih kecil. Lagipula itu benda yang melambai yang berada di jemuran itu, boneka panda adikmu yang tertiup angin tadi malam," kata Sougo saat mereka sudah berada di depan gerbang Shinsengumi.

Soujiro merasa wajahnya memanas. Ja..jadi, hanya karena boneka panda sialan itu, ia begadang semalaman. Bahkan matanya sendiri sudah sehitam panda karena kurang tidur.

"Aku tahu kok itu boneka!" Soujiro besusaha berkilah walau tak berhasil. Rasa malu sudah menyerangnya.

Sougo menoleh ke arah putranya saat ia sudah memasuki area markas Shinsengumi. Soujiro masih berdiri di sana, terpatung.

"Oh, lalu catatan apa yang ada di kamarmu itu?" Sougo menyeringai sekilas lalu pergi masuk ke dalam markas Shinsengumi.

Soujiro menatap nanar punggung ayahnya sebelum ia kembali melanjutkan perjalanan ke sekolah. 'Bagaimana orang tua itu tahu ia menulis sesuatu tadi malam?'

Sebenarnya, karena Soujiro sudah teralu bosan tadi malam dan tidak bisa tidur, ia menulis kejadian tadi beserta opini opini tentang keberadaan hantu itu. Memang terdengar konyol, tapi menurut Soujiro daripada ia mati kebosanan lebih baik ia melakukan hal itu.

Toh, kalau listrik menyala, ia ingin menonton tv saja.

Telinga dan leher Soujiro memanas hanya dengan membayangkan ayahnya yang arogan itu masuk ke dalam kamarnya dan membaca catatan konyolnya sambil tertawa.

Dibanding dengan Kaguya, sifat Kagura justru lebih banyak diturunkan pada Soujiro. Termasuk juga sifatnya yang cepat malu dan tsundere itu. Kecuali fisiknya, karena Soujiro sendiri bisa dibilang kopian dari ayahnya.

Soujiro sudah membayangkan hal yang tidak tidak.

Bagaimana sikapnya nanti di hadapan ayahnya? Bagaimana kalau ayahnya meledeknya habis habisan?

Yang terpenting adalah, apa Kaguya masih menghormatinya?

Soujiro mengerang frustasi. 'Harusnya aku tidak menakuti Kaguya waktu ituuu.'

.

.

Tbc

.

.

A.N

Udah lebih dari satu bulan kubiarin fict ini jamuran di documen. Teralu malas buat lanjutin, maaf. Tapi, mungkin kali ini aku bakal rajin ngetik. Dan maaf atas kekurangan fict abal ku ini. Aku cuman author bawah yang mati matian untuk naik /bungkuk.

Terima kasih bagi para reader baik yang sudah mereview, mem fav, mem follow, atau pun sekedar membaca. Dibaca aja udah seneng kok #serius

Aku bales review dulu ya:

ATHAYPRI: Makasih Taya buat review annya. Karena kamu, aku semangat lagi buat lanjutin fict potato ini. Thanks buat fav nya ya :)

Okita-shi: Iya, nih kulanjutin. Makasih buat reviewnya.

Rabie no cherry: Setelah kubaca ulang, memang pendeskripsian mereka bener bener kurang. Makasih udah ngingetin. Aku memang minim untuk hal begini. Dan ini chap barunya, maav juga ya kalau suami kita #ehm, kurang banyak scenenya. Terima kasih untuk sarannya :)

Yonaka Alice: #ngosektanah. A..anu, makasih atas semua sarannya. Aku memang lemah dengan EYD dan pendeskripsian. Aku berusaha pake diksi yg sederhana banget di chap ini biar ngak keliatan hancur kayak di chap lalu. Makasih ya buat review dan favnya, Yona senpai #bungkuk

Paramay: Beneran sampe blush bacanya. Aw, makasih ya :)

Aoi: Sudah dilanjutkan kok. Makasih ya untuk reviewnya

Okikagu: Terima kasih atas dukungannya. Ini chap selanjutnya

Chikara Hoshi: Ini udah lanjut say :)

Guest: Maaf hanya segitu. Rencananya saya bakal nilik masalah itu di chap mendatang nanti.

Bellwen: Terharu banget bilang ada yang suka. Makasih ya :)