AUTHOR: Itami Shinjiru
DISCLAIMER: Shingeki no Kyojin – Attack on Titan © Hajime Isayama
RATING: T for middle-rough language
.
.
.
.
SHINGEKI NO KODOMODACCHI!
.
.
.
{Yo minna! Sebelumnya terima kasih atas umpan balik, fave, dan follownya. Levi kembali lagi untuk melanjutkan pekerjaan di hari kedua!}
.
.
.
CHAPTER 2 – BECAUSE THEY ARE CHILDREN
.
.
Levi mafhum kenapa belum ada (atau tidak ada) yang mau mengambil pekerjaan sebagai pengasuh bocah di Rumah Paradis.
Farlan hampir tercekik keju chambert-nya ketika Levi menceritakan soal "kasus pembunuhan Ilsa Lagnar".
"Jadi," ucap Levi sambil menghirup aroma tehnya—yang dibelinya dengan gaji pertamanya, "Eren Jaeger adalah anak adopsi Grisha dan Carla yang pertama. Bertahun-tahun ia sendirian, kemudian keluarga mereka mengadopsi Mikasa Ackerman setelah mereka berdua membunuh tiga penculik yang mengancam nyawa mereka."
Wajah Farlan jadi pucat. "Mereka anak-anak yatim piatu? Kau yakin mereka bukan robot android SEAL?! Levi, kalau kau meneruskan kariermu bekerja di sana, kewarasanmu perlahan-lahan akan terkikis!"
"Aku juga dulu mengalami kehidupan yang menyedihkan," kata Levi. "Sebrutal apapun bocah-bocah itu, mereka butuh pengasuh."
"Yang lebih brutal lagi," sambung Farlan.
Levi menatap sahabatnya datar, kemudian kembali berfokus ke tehnya. "Iya."
.
.
.
Hari kedua di Rumah Paradis.
Berhubung tidak ada jadwal kuliah pagi itu, Levi bisa berangkat lebih awal sekitar pukul tujuh, persis saat anak-anak sudah lepas landas untuk berangkat sekolah. Ia punya banyak waktu untuk melaksanakan strategi yang sudah semalaman dipikirkannya. Ia menggembok lemari dapur (agar anak-anak tidak bisa seenaknya mengambil mi instan atau minuman sachet—itu penganan yang tidak sehat!) dan juga merantai pintu kulkas (dengan alasan yang serupa). Ia mengeprint kertas A4 bertuliskan 'LEPAS SEPATU DI SINI ATAU KULEPAS KAKIMU' di seberang semua pintu masuk, menyembunyikan remote televisi layar datar, dan mengganti sabun batangan dengan sabun cair.
Levi membuka tasnya, menyalakan laptopnya, dan menyambungkannya dengan WiFi Rumah Paradis. Ia menghela napas saat mengetahui bahwa WiFi tersebut dikunci dengan kata sandi. Papa Grisha dan Mama Carla sedang keluar, praktis hanya dia sendiri yang berada di rumah. Dia bisa saja mengacak-acak seisi rumah demi menemukan password WiFi, tapi itu berarti mengacak-acak semua yang sudah dirapikannya.
Pria tersebut mencoba mengetikkan '123456789', 'qwertyuiop', atau 09122001—tanggal Rumah Paradis didirikan (kebanyakan orang memakai password gaje macam itu) tapi tidak berhasil.
"Ya sudah," gumam Levi. Ia melanjutkan mengetik laporannya. Untuk saat ini, keadaan aman terkendali. Semua potensi bahaya sudah dirantai. Levi memutuskan untuk menyimpan kuncinya sendiri agar anak-anak tidak seenaknya melahap sesuatu di dapur.
Pada tahap ini, aku yakin kau berpikir 'IDE JELEK. NANTI PASTI ADA APA-APA'.
Kau benar.
.
.
.
"Kami pulaaaang!"
Itu bukan suara trio garang yang kemarin merisaukannya. Levi men-save pekerjaannya dan beranjak ke pintu. Tiga anak dari SD Trost, seorang lelaki berambut cokelat, seorang lelaki gundul, dan seorang gadis cilik berkucir ekor kuda. Berdasarkan informasi, mereka pasti Jean Kirschtein (ibunya meninggal karena tersedak omelet) Connie Springer (ibunya meninggal karena terpeleset kulit pisang) dan Sasha Braus (ibunya ... entahlah, aku tidak tahu keadaan ibunya, tapi yang jelas Sasha tak sengaja menewaskan ayahnya saat berlatih memanah). Bagusnya, mereka melepas sepatu di tempat yang seharusnya.
Levi bersedekap, menghadang mereka. "Sekarang baru pukul setengah sembilan. Jangan bilang kalau kalian bolos sekolah."
"Emangnya Bang Levi, bolos sekolah buat kerja," gerutu Jean. "Guru-guru kami lagi rapat, kok."
Perempatan muncul di dahi Levi. "Dengar ya Bocah, jangan bicara apa-apa seolah kau tahu dunia perkuliahan. Sekarang cepat ganti baju kalian!"
"Namaku Jean, bukan Bocah!"
Leher Levi menegang bagai kabel suspensi, tapi seperti deja vu, kali ini si anak plontos menyelamatkan Jean dari hukuman membersihkan toilet selama seminggu (yang sebenarnya tidak perlu, mengingat Levi sudah membersihkan semua ruangan).
"Jean!" seru Connie. "Attack on Titan Season 2 tayang hari ini lo!" dia mengacungkan layar hapenya.
Levi mengangkat alis. Attack on Titan? Bukannya itu acara TV yang diberi rating PG 16+? Ngapain bocah SD bawa-bawa smartphone ke sekolah?!
"Wah iya, untung kamu ngingetin!" Jean langsung melupakan perdebatannya dengan pengasuh baru mereka. Ia mengambil alih hape milik Connie dan membaca. "Yah, tapi tayangnya diundur jadi jam 10 malam!"
Levi mengambil hape dari tangan Jean secepat kilat. "Tentu saja tayang pukul 10 malam. Itu acara untuk enam belas tahun ke atas! Acara itu bisa membuatmu mimpi buruk semalaman dan takut pergi ke dunia luar!" gerutunya. "Sekarang cepat ganti baju! Mana Sasha?" Levi baru menyadari si gadis cilik berkucir ekor kuda sudah lenyap.
KRUMPYANG
Mereka bertiga tersentak. "Suara itu datangnya dari dapur," cicit Connie. Levi segera berlari lintang pukang ke tempat tujuan. Sasha mungkin memecahkan piring dan dia bisa saja terkena serpihannya. Atau kegemarannya yang sesungguhnya adalah memecahkan gelas.
Ternyata, yang dijumpainya lebih mengerikan.
Kulkas berada dalam posisi rebah, baru saja terguling dan memecahkan beberapa piring yang tadinya berada di atasnya. Di atas kulkas yang rebah, tampak Sasha sedang menggigiti rantai yang membelenggu peti harta dingin itu, seperti zombie dan goblin yang digabung jadi satu.
"Demi jenggot Hippocrates, apa yang kau lakukan di situ?!" omel Levi. Ia berusaha menjunjung Sasha, tapi gadis cilik itu menggigit rantai kulkas seperti hiena.
"LEPASIN!" Sasha menjerit dengan sorot mata seperti harimau lapar selagi kedua tangannya mengguncang rantai yang membelit pintu kulkas. "LEPASIN! BEBASKAN PETI HARTANYA! HAOOOOMMMM!"
"Kenapa ini?!" Levi berseru meminta penjelasan.
"Dia memasuki mode lapar!" seru Jean dan Connie berbarengan. "Kalau kita tidak segera memberinya makan, dia bakal menghancurkan seisi dapur!"
"Mana mungkin?!" balas Levi. Ia menarik Sasha lebih keras, tapi tenaga bocah itu rupanya sangat besar.
"Bang Levi! Buka aja gembok kulkasnya! Itulah satu-satunya cara agar kita bisa selamat!" saran Connie.
"Kau baru sarapan dua jam lalu!" seru Levi. "Tahan laparmu sebentar, dasar perut gentong!"
GRAUK
Levi meringis, miris melihat lengan kirinya berkenalan dengan incicivus dan caninus Sasha. "Connie! Jean! Saku kiri celanaku! Kunci borgol kulkasnya ada di sana!"
Kedua anak itu cepat mengerti. Mereka segera mendekat.
"Yang mana?!" seru Jean, seperti berada di medan peperangan.
"Saku kiri!"
"Bang Levi punya selusin saku celana!" seru Connie.
"Yang paling atas! Yang berkancing warna krem!"
"KREM ITU APA?!"
"WARNA SEPERTI COKELAT, TAPI BUKAN COKELAT!"
"TAPI SEMUANYA BUKAN COKELAT! SEMUANYA KANCING!"
"SUDAH KELUARKAN SAJA SEMUA ISI SAKUKU! BIAR AKU YANG MEMILIHKANNYA!"
Jean dan Connie menguras isi saku celana Levi.
"Hei, ada kupon Burger King!" cetus Connie.
"FOKUS CONNIE, FOKUS!" umpat Levi.
Jean menjatuhkan setumpuk kunci dan menggelarnya. "Yang mana? Yang mana?"
Sasha mengguncang rantai makin keras. "GRROOAARR!"
"Itu, yang berwarna akuamarin!" tunjuk Levi dengan dagunya.
"AKUAMARIN ITU APA?!" jerit Connie sengsara.
"BIRU MUDA DENGAN SEDIKIT KOMPOSISI HIJAU!"
"OTAKKU MAU MELEDAK!"
"Minggir sana!" Jean mendorong Connie. "Yang mana, Bang Levi?"
"Itu di kanan!"
"Yang ini—"
"KANANMU, BODOH!"
Jean menggerutu. "Udah ditolong kok malah ngejek. Gak jadi ah."
"JEAN KIRSCHTEIN!" umpat Levi. "Kemarikan kuncinya!"
"Nggak mau! Bang Levi jahaaaadd!" Jean berseru sambil berlari menjauh. Levi meringis. Gigitan Sasha sepertinya hanya setingkat di bawah aligator. Levi penasaran berapa banyak krim penghilang luka yang harus dioleskannya—tunggu. Bagaimana cara melepaskannya, yang lebih penting?
Levi berpikir cepat. "Sasha, kalau kau mau melepaskan gigitanmu, aku akan memberikan kupon Burger King itu padamu."
Sasha melepeh dan melepaskan cengkeramannya pada rantai kulkas. "Sungguh?"
Levi meringis menahan sakit. Ya, batin Levi. Seandainya kau punya empat kupon lagi, kau bisa makan di Burger King. Tapi, membohongi bocah cilik yang masih naif memang selalu gampang.
"Sungguh?" tagih Sasha lagi.
"Iya."
"Yeay!" Sasha jingkrak-jingkrak sambil menerima kupon itu. "Aku makan di Burger King!"
(*Note: penulis tidak menerima keuntungan apapun dalam pembuatan fanfic ini)
.
.
.
Setelah membersihkan lukanya dan mengoleskan cairan antiseptik (meskipun tentu saja, karena Levi tangguh, gigitan seperti itu tidak berpengaruh pada tubuhnya, tapi yang namanya tindakan antisipasi itu pasti diperlukan!) serta membuka kunci borgol kulkas, Levi kembali ke ruang tengah untuk meneruskan pekerjaannya yang tertunda.
"Itu bukan lagu, Connie! Itu musik klasik, makanya nggak ada liriknya!"
"Ah, nggak asyik."
"Itu memang musik lawas. Aku juga nggak tahu kenapa para orang dewasa menyukainya. Coba klik folder yang ini."
"Ini juga musik klasik!"
"Oi, Bocah. Apa yang kalian lakukan dengan laptopku?"
Jean dan Connie meringis. "Nyari lagu Om, eh, Bang."
PLETOK
Kedua sohib itu meringis sambil memegangi kepala mereka yang berasap—secara harfiah—setelah menerima polesan Levi. "Minggir sana! Aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Carilah kegiatan yang bermanfaat seperti membuat herbarium atau mengumpulkan serangga. Itu cara yang bagus untuk mengisi jam sekolah kalian yang kosong."
"Hei, lihat ini!" Jean menggeser mouse. "Bang Levi punya lagu-lagunya Linked Horizon!"
Levi menghela napas, kemudian menepukkan tangannya seperti hendak menyalakan lampu bersensor gerak. "Sasha!"
"Siap, Bang Levi!" Sasha tiba-tiba nongol di balik pintu.
"Waktunya membuang sampah."
"Siap, Koprol!"
"Kopral."
"Ya itu deh," balas Sasha santai sambil menggaet Jean dan Connie, menyeret kedua lelaki itu ke luar ruangan. Rupanya Levi sudah berjanji memberinya satu kupon lagi (Levi ingat Isabel punya satu yang seperti itu) asalkan Sasha menuruti semua perintahnya.
Levi melirik arlojinya. Jadwal kuliahnya sebenarnya masih satu jam lagi, tapi karena dia orang yang lumayan perfeksionis, dia berniat datang lebih awal. Levi hendak menutup laptopnya ketika menyadari peringatan dari antivirusnya berbunyi. Levi mengernyit, kemudian menyadari ada flashdisk yang tertancap di salah satu port USB. Sepertinya kedua bocah itu berniat meminta beberapa lagu dari laptopnya, tapi sialnya flashdisk mereka sudah tercemar virus.
Levi mencoba mengutak-atik laptopnya. Kursor tetap bergeming. Layar berkedip-kedip beberapa kali, kemudian seluruh screen menjadi gelap. Levi mengepalkan tangan. Ia kurang mahir mengenai komputer dan tetek-bengeknya. Masalah ini akan lebih gampang jika saja Gunther atau Oluo berada di sampingnya.
Bukan itu! Yang lebih penting lagi, laporannya ada di laptopnya dan dia belum sempat menyalinnya ke mana pun!
.
.
.
"Jangan tersinggung ya, Levi, tapi pertama kali kudengar kau mengambil pekerjaan sebagai pengasuh anak-anak, aku ingin sekali memastikan saraf auditoriku tidak salah tangkap," ujar Petra sembari memperhatikan pemuda yang masih nanar mengetik di laptop putihnya. Gunther baru beberapa menit lalu melapor bahwa laptop Levi mungkin butuh beberapa hari supaya bisa kembali normal.
Levi hanya menggumam tidak jelas. Kedua lengan bajunya digulung sampai sebatas siku. Seluruh perhatiannya dipusatkan pada layar dan sesekali melirik catatan di bukunya.
"Laporannya bisa dikumpulkan besok lusa, 'kan," kata Petra. "Bilang saja pada Pak Pixis, laptopmu bermasalah. Beliau pasti akan mengerti."
"Kesalahan terbesar yang bisa diperbuat oleh seorang dokter—atau calon dokter," balas Levi, "adalah menunda sebuah pekerjaan yang bisa diselesaikan saat itu juga."
Petra kicep. "Ya deh."
Mereka berdua terdiam. Ruang kuliah itu hanya disemarakkan oleh suara keyboard.
"Levi."
"Hmm."
"Kau pasti capek. Biar aku saja yang ketik. Tinggal bagian analisis dan kesimpulan serta referensi, bukan?"
"Ini laporanku," bantah Levi keras kepala. "Maka aku yang harus menyelesaikan semua bagiannya dan hanya aku."
Petra hanya diam (lagi) dan memperhatikan. Ketika Levi sudah selesai menulis daftar referensi (berbeda dengan sebagian besar dari kita, manusia itu mampu menyelesaikan sebuah laporan dalam waktu kurang dari setengah hari—dengan seluruh fokus dan atensi yang dipusatkan pada pekerjaannya. Tak heran banyak mahasiswa dan dosen Universitas Stohess yang menjulukinya prajurit terkuat umat mahasiswa), gadis berambut sewarna karamel itu menyempatkan diri bertanya.
"Levi."
"Terima kasih laptopnya," Levi memindah filenya ke flashdisknya yang bebas virus, kuman, jamur, dan film-film colongan. "Apa?"
"Kenapa kau mau bekerja di sana?"
Levi hanya diam.
"Apa karena kau butuh uang?" selidik Petra. "Kau bukan tipe orang yang seperti itu, 'kan. Aku tidak percaya kau mau melakukan sebuah pekerjaan yang bertentangan dengan idealismemu, misalnya, hanya karena godaan uang. Pasti ada sesuatu yang memicumu."
"Mereka itu anak-anak," tak disangka, Levi melontarkan jawaban. "Apa kau pernah mendengar pepatah bahwa anak-anak adalah kaisar?"
Petra mengangguk.
"Kalau begitu, otakmu seharusnya bisa mengetahui relevansinya," sambar Levi cepat kemudian berlalu.
"Mau ke mana?"
"Rumah Isabel."
.
.
.
Rumah Paradis ternyata sudah ramai. Sebagian karena anak-anak sudah pulang sekolah. Sebagian karena Eren dan Jean kedengarannya sedang cekcok. Sebagian sisanya karena ...
"Ya ampun!" Levi menjerit tertahan. Televisi layar datar menampilkan gambar lapangan sepakbola dengan orang-orang berlarian, beserta kursor di atas kepala mereka. Reiner dan Bertolt menggenggam joystick. Eren dan Jean sedang adu gulat, yang Levi tafsirkan sebagai siapa-yang-menang-dapat-giliran-main-selanjutnya. Connie, Marco, dan Armin hanya menonton.
"Apa yang kalian lakukan?!" Levi menghambur masuk.
"Ya main PS lah!" Eren yang pertama menanggapi. "Bang Levi nggak tahu PS yah?"
"Aku lebih tua daripada permainan kacangan seperti itu, dasar Bocah."
"Bang Levi pernah main PES?" kini Reiner yang bertanya, meskipun matanya masih lengket ke layar.
Levi mendecih. "Waktuku terlalu berharga untuk dihabiskan konsol konyol seperti itu."
"Ah, bego!" umpat Reiner.
"Apa kau bilang?" Levi naik darah.
"B-bukan! Aku lagi ngata-ngatain kiperku kok, bukan Bang Levi! Beneran!"
"GOAAALL!" si komentator mengumandangkan suara virtualnya. Tim sepakbola yang dipilih Reiner kalah dengan skor 4-3 oleh Bertolt.
"AAARRRGGHH, SIAL!" Reiner menggerung. Ia meremas joystick sampai remuk. "BEDA TIPIS!"
"Reiner, itu sudah yang keempat kalinya, lo," Bertolt memperingatkan. "Aku nggak yakin Bunda Carla mau kasih kita uang buat beli satu lagi."
Nih bocah anarki juga ya, pikir Levi. "Main game seperti ini tidak baik untuk kesehatan kalian. Terlalu lama duduk dan memperhatikan layar berposisi tinggi seperti itu bisa menyebabkan kesemutan dan otot leher kalian pegal! Lagipula, permainan ini terlalu dini untuk kalian. Kenapa tidak bermain sesuatu yang lebih sederhana seperti sembunyi-sembunyian atau kejar-kejaran?"
"KYAHAHAHAHA!" Eren dan Jean tertawa berbarengan. "Bang Levi kuno banget!"
Levi menggeram. "Dasar bocah-bocah tak tahu diuntung! Permainan seperti itu akan membuat kalian lebih banyak bergerak! Permainan itu bisa mengasah ketrampilan motorik kasar kalian! Anak-anak zaman dulu sering melakukannya daripada dimanjakan oleh gadget seperti kalian, hasilnya tubuh mereka berkembang lebih sehat!" Levi mengambil sepasang joystick yang barusan mereka pakai. "Ini kusita!"
"JANGAN!" Reiner, Eren, Jean, dan Connie merengek. "APAPUN ASAL JANGAN JOYSTICKNYA!"
Levi menggeleng. "Mulai sekarang, kalian hanya boleh main PS di hari Sabtu dan Minggu, satu jam untuk hari Sabtu dan satu setengah jam untuk hari Minggu. Sekarang hari Sabtu, dan kuasumsikan kalian sudah melewati satu jam. Pergi dan lakukan kegiatan yang lebih bermanfaat! Omong-omong, di mana anak-anak perempuan?"
"Mereka sedang di dapur," ucap Marco. "Sebentar lagi makan siang. Mereka sedang menyiapkan makanan."
"Kembalikan joysticknya, Bang Levi!" Eren meratap. "Gimana kalo peraturannya mulai diberlakukan minggu depan aja?"
"Tidak ya tidak, Bocah. Sekarang pergilah, bantu anak-anak perempuan atau lakukan permainan yang lebih berguna lain seperti—"
"TUSBOL MAXX!"
JDOORRRR
Connie tertawa puas. Kedua tangannya masih berada dalam posisi seperti pistol-pistolan. Eren, Reiner, dan Jean mengikuti teladannya—tertawa.
Levi menggerung sambil memegangi titik lemahnya. "BERANI KAU YA, KEPALA PLONTOS?!"
"Nah, ini permainan yang lebih seru!" kata Jean. "JANGAN SAMPAI TERTANGKAP TITAN LEVI!" Jean meniru adegan Attack on Titan.
Levi mengambil sapu terdekat, sementara anak-anak itu segera berhamburan. Mereka tidak perlu berlari cepat, karena si pengejar—untuk sementara ini—tidak akan bisa melangkah dengan normal.
.
.
.
"Annie, kau dengar sesuatu?" tanya Mikasa sambil mengoleskan krim keju ke atas kue.
Annie mengedikkan bahu. "Kayaknya Reiner menghancurkan satu joystick lagi."
"Aku penasaran, apa Bang Levi bisa memasak ya?" gumam Christa.
.
.
.
To be continued.
