LUNA
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
ABO dynamics
Minyoon
.
.
.
LUNA
.
.
.
Dengan tubuh mereka yang saling menempel, Yoongi mendapat jarak yang amat dekat untuk melihat jelas tato yang nampak di bawah telinga Taehyung. Kombinasi dua nomor, kosong sembilan. Kemudian Yoongi menyadari kalau dirinya pun punya tanda yang sama. Artinya dia dan Taehyung sama-sama berasal dari area K-09. Tapi kenapa dia tak tahu? Mengapa dia merasa tak pernah melihat lelaki itu?
Ah, tidak. Dia pernah!
"Ku rasa mereka mengambil jalan yang menjauhi kita." Taehyung sedikit mengangkat kepala.
Yoongi ingat bahwa pada opening ceremony dia pernah melihat seorang lelaki yang duduk menyendiri, terpisah dari kelompoknya.
Saat itu, partisipan karantina duduk di tribun stadion berdasarkan daerah asalnya masing-masing. Mereka tidak dibagi berdasar golongan alpha, beta atau omega. Semua duduk bersama dalam kelompok-kelompok besar. Yoongi tak mengenal siapapun. Dia melirik kesana-kemari untuk mencoba mengenali wajah-wajah yang akan menjalani karantina bersamanya. Dia susuri wajah-wajah asing itu sampai ke bangku paling belakang—tribun paling atas. Ada satu orang yang duduk sendirian di sana. Tapi belum sempat menelisik, bunyi dentuman kembang api yang memekakkan telinga mengalihkan perhatiannya. Karantina resmi dibuka dan yang Yoongi ingat dari sosok penyendiri itu hanya rambutnya yang kuning keemasan.
"Mereka sudah jauh."
Taehyung bangun. Dia sempat mengendus udara dengan hidungnya untuk memastikan perkiraannya. Setelah dia merasa yakin, tatapannya jatuh pada Yoongi yang masih berbaring di atas tanah. Dia mengulurkan tangannya kemudian.
"Bangunlah. Ku pikir kita harus mencari tempat berlindung yang lebih aman."
Yoongi meraih tangan itu. Dia menatap tangannya yang dibungkus jemari Taehyung yang kasar, tapi hangat.
"Kita... berasal dari daerah yang sama," ucapnya ketika dia telah mendudukkan diri.
"Ya, dan aku tahu kau."
Yoongi mengangkat wajah ketika dia mendengar ucapan lelaki itu.
"Saat opening ceremony, aku mencium bau manis yang kental, bau yang tak bercampur dengan bau lainnya. Di area, tanpa sengaja aku lagi-lagi mencium bau itu dan ternyata kaulah yang memilikinya." tutur Taehyung. Yoongi merasakan getaran aneh di dadanya. Bau pheromone yang selalu dia benci ternyata adalah yang membuat alpha itu datang menolongnya. "Ah, dan benar kataku, baumu tak bisa bercampur dengan bau lain. Baru sebentar saja bauku sudah tak tercium lagi dari tubuhmu."
Yoongi mengendusi dirinya sendiri, lantas memegangi keningnya yang sedikit terasa pening dan panas. Taehyung benar. Kuatnya pheromone Yoongi bahkan tak mampu disamarkan lama-lama. Apalagi dengan keadaannya yang sedang heat.
"Tapi kenapa... kau nampak biasa saja kalau memang bauku begitu kentara? Kau tidak... seperti alpha lainnya." cicit Yoongi di akhir kalimat. Dia agak sangsi untuk mengatakannya, karena itu sama saja membuat traumanya pada kejadian kemarin kembali lagi.
Taehyung melempar matanya pada rerumputan sembari mengulum bibir. Dia menggeleng sekali sebelum mengulurkan tangannya lagi pada Yoongi.
"Keselamatanmu lebih penting daripada jawabanku. Boleh 'kan ku simpan ceritaku untuk nanti? Sekarang mari kita pergi dari sini. Aku sempat melihat ada lubang di akar pohon yang cukup luas untuk tempatmu beristirahat. Seperti goa."
Akhirnya Yoongi bangkit berdiri dibantu oleh Taehyung. Lelaki itu memungut jaketnya yang sempat dilempar Yoongi tadi. Dia menepuk-nepuk sisa tanah yang masih menempel di kain itu, lantas menyampirkannya di pundak Yoongi.
"Pakailah, untuk menyamarkan baumu. Juga membuatmu lebih hangat. Matahari belum benar-benar nampak. Masih dingin." lelaki itu menyunggingkan sedikit senyum seraya melangkah untuk mengambil tas dan perlengkapannya. Yoongi melihat bagaimana Taehyung menggendong tasnya dan menoleh kembali.
Dia menunggu.
Yoongi segera membereskan barangnya dan sedikit berlari menyusul Taehyung yang mulai berjalan menjauh. Jaket Taehyung yang dikenakannya membuat dia bisa mencium bau alpha itu. Bau yang... entah mengapa seolah bisa menenangkannya. Juga meyakinkannya bahwa dia tak perlu takut pada lelaki itu. Lalu, saat telah selangkah di belakang Taehyung, Yoongi meraih tangan besar itu untuk digenggamnya. Taehyung menoleh dengan gumaman tanya.
Hanya saja Yoongi tidak mau bicara apa-apa. Dia menunduk menyembunyikan senyum yang terukir di wajah cantiknya.
"Aku belum tahu siapa namamu."
"Aku Yoongi."
Mereka berjalan bergandengan tangan, dan Yoongi mulai bertanya dalam hatinya, apakah debaran yang dia rasa adalah pertanda bahwa Taehyung adalah mate-nya?
.
.
.
LUNA
.
.
.
Mereka bertemu di padang rumput itu. Jimin dan Jungkook dengan seorang lelaki berambut merah muda yang menyeret kijang yang telah mati. Keadaan kijang itu masih bagus, kulitnya tak terlihat membusuk dan lukanya masih segar menganga. Seperti memang didapat dari hasil berburu, sama seperti milik Jimin dan Jungkook.
Hanya saja yang unik, lelaki yang menyeret kijang itu Jimin yakin adalah seorang omega. Dari baunya yang tercium, ada manis getir seperti bunga.
"Aku yakin kalau kijang itu adalah pasangan dari kijang satu ini. Aku melihatnya kabur ke arah berlawanan ketika aku mengejarnya," ujar si rambut merah muda itu.
"Mungkin kau benar. Terimakasih karena sudah membuatnya berlari ke arah kami." jawab Jimin, memasang senyum tipisnya yang sedikit sinis.
"Sama-sama." lelaki omega itu pun membalas Jimin dengan cara yang sama.
Keduanya bertutur dengan bahasa yang baik, beradab, dengan acara 'terimakasih-sama-sama' yang berulas senyum tipis. Mereka satu tipe. Jungkook yang melihatnya jadi berpikir bahwa mungkin saja omega itu sama juga terlahir dari golongan aristokrat seperti Jimin. Tapi yang jadi pertanyaan, mengapa seorang omega seperti si rambut merah muda itu bisa berburu?
"Di mana kelompokmu?" tanya Jungkook yang tak yakin kalau kijang itu hasil buruan si omega seorang diri.
"Tidak ada, aku tak berkelompok, adik kecil." seulas senyum sinis terukir lagi di wajah cantik yang anggun itu. Mungkin dia sedikit tak suka dengan nada bicara Jungkook yang terkesan tak ramah padanya.
"Kalau begitu apa kau sendirian?" giliran Jimin yang bertanya, tapi jelas nada bicaranya berbeda dengan Jungkook tadi.
"Yap. Betul sekali." jawab omega itu singkat.
Jungkook lagi-lagi dibuat heran, mengapa mereka terlihat cocok? Satu tipe. Satu tipe gelagatnya, satu tipe bicaranya, dan satu tipe sinisnya.
Jungkook melirik Jimin yang sedang memandang omega itu. Pandangannya terlihat tak biasa.
"Ku rasa aku harus pergi. Kijang ini masih harus ku potong-potong untuk persediaan makananku beberapa hari ke depan." lelaki itu menyungingkan senyum yang sama lagi, pun dengan senyum Jimin yang membalasnya. Tapi, sebelum langkahnya banyak dia ambil, Jimin memanggil.
"Hei. Tidakkah kau mau bergabung dengan kami? Setidaknya menggunakan api unggun bersama tak akan membuatmu repot untuk mencari ranting sendiri, bukan?"
Jungkook hanya tak sangka Jimin akan menawarkan hal itu pada seorang omega. Dia masih ingat betul bahwa Jimin tak ingin berkelompok dengan omega karena berbagai alasan. Lalu lelaki itu sekarang seolah punya keinginan untuk menjadikan omega itu sebagai anggota kelompoknya. Yang benar saja! Aneh betul. Jimin menelan ludahnya sendiri kalau begitu? Lalu apa alasannya?
"Kau yakin, hyung?" tanya Jungkook dengan sedikit berbisik kasar.
"Sekadar berbagi api unggun ku pikir tak ada salahnya." Jimin masih memandang omega itu. "Jadi, bagaimana?"
Yang ditanyai hanya menggedikkan bahu satu kali, lantas menjawab, "Hm. Boleh."
Mereka pun berpindah dari padang rumput yang terbuka, ke tengah hutan yang lindungan pohonnya rapat. Jungkook diminta Jimin untuk memunguti ranting, sementara lelaki itu mengurus daging kijang yang akan mereka bakar dan asapi. Si omega berambut merah muda itu pun sama pekerjaannya seperti Jimin, mengurusi buruannya.
"Aku heran kenapa ada dua alpha yang berburu bersama, kalian adik-kakak?" tanya omega yang baru saja melempar jauh kepala kijang yang tak diinginkannya itu.
"Sebelum menanyakan hal itu tidakkah kau ingin memperkenalkan dirimu? Namamu, misalnya?"
"Oh! Ahahahah!"
Jungkook yang tak jauh memungut ranting itu mendengar si omega tertawa. Dia tak begitu memerhatikan apa yang mereka bicarakan sebelumnya. Tapi tawa itu menarik perhatiannya.
"Maafkan aku. Namaku Seokjin. Dari area K-16. Kau?"
"Jimin. K-07."
"Lalu adikmu?"
"Jungkook, dia bukan adikku. Hanya seorang alpha muda yang mengekoriku kemana-mana. Dan ya, dia satu area denganku."
Jungkook menoleh lagi. Ya, Jimin memang kasar tapi Jungkook sudah maklum. Sepuluh hari berteman dengan ucapan Jimin dan perilakunya yang dingin membuat Jungkook terbiasa. Dia memilih kembali memungut ranting, acuh tak acuh.
"Ku kira dia adikmu?"
"Bukan." geleng Jimin.
"Kalau dilihat-lihat kalian memang tak mirip."
Sekali lagi Jungkook mengintip lewat ekor matanya, memerhatikan mereka yang tak lagi bicara. Omega bernama Seokjin itu kembali sibuk menguliti kijangnya dan Jimin diam dalam lamunan. Matanya terarah pada sosok berambut merah muda itu dengan lamat.
Satu pertanyaan yang muncul di kepala Jungkook.
Apakah Jimin telah terpikat?
Atau...
.
.
.
LUNA
.
.
.
CONTINUED
Akhirnya bisa lanjut! Makasih ya atas dukungannya... saya gak nyangka responnya keyen banget. Terharoe. Beidewei chapter dua ini tadinya punya cerita yang jauh sekali dari yang saya tulis sekarang. Ini gara-gara laptop rusak lagi dan data belom sempet di back-up, jadinya chapter dua yang udah hampir selesai itu harus dibikin ulang dan saya agak lupa-lupa inget sama jalan ceritanya. Kadang, saya males nulis ulang apa yang sudah ada, jadi saya bikin baru supaya nggak stres mikirin susunan kata atau tektekbengeknya itu.
Duh, pokoknya gitu lah. Laptop rusak sayanya galau. Untung masih ada laptop temen yang bisa dipinjem hahah *menangis*
Gitu aja deh, sampai jumpa di chapter selanjutnya.
