.

" ini "

Jungkook yang sedang membereskan barang-barangnya ke dalam tas pun mendongak, Jimin berdiri di sampingnya dengan selembar tiket berwarna biru muda

" apa ini? "

" tiket " jawab Jimin singkat

Jungkook memutar bola matanya " aku juga tahu "

Jimin duduk di hadapan Jungkook " lalu kenapa kau bertanya jika sudah tahu? "

" itu tiket apa? "

Jimin menaruh tiket tersebut tepat di depan wajah Jungkook hingga yeoja itu bisa membaca tulisannya dengan jelas

" Miracle of Summer? Musik klasik? "

Jimin mengangguk cepat " besok, jam 7 "

" apa kau yang akan tampil? "

Jimin tertawa hingga hampir terjatuh " akan mengerikan jika aku yang tampil "

" lalu? "

Jimin menarik tangan Jungkook dan menaruh tiket tersebut " kau terlalu banyak bertanya, datang saja dan kau akan menemukan keajaiban " dia lalu beranjak dari kursi dan pergi meninggalkan Jungkook yang masih menatap tiket di tangannya

" hei "

Hoseok tidak jadi membuka pintu mobil dan berbalik " menjemput Jimin? Dia baru saja selesai "

Yonggi mengeluarkan tiket dari saku jaketnya dan memberikannya pada Hoseok

" besok, jam 7 "

Hoseok menerima tiket tersebut sembari mengerutkan kening " untukku? "

" tentu saja, kau perlu hiburan agar otakmu terpasang kembali dengan benar "

Hoseok tertawa " ya, aku juga merasa begitu. Gomawo "

" nde "

" bagaimana tanganmu? "

Yonggi mengangkat tangannya yang masih terbalut perban " sudah sedikit membaik "

" oppa " Jimin langsung mengecup pipi Yonggi

" kita pulang sekarang? "

Jimin mengangguk lalu melempar senyum lebar pada Hoseok " bye sunbae "

.

Seokjin berputar di balkon hotel tempat mereka menginap, udara pantai di malam hari menghempas ke wajahnya. Dihirup udara tersebut sebanyak-banyaknya. Seokjin dan Namjoon sudah menghabiskan waktu satu minggu di Macau untuk berbulan madu, banyak yang mereka lakukan seperti bermain di pantai, pergi ke tempat kasino dan mencoba beberapa klub malam di Macau serta berwisata kuliner karena hobi mereka terhadap makanan lezat. Hubungan mereka juga semakin dekat bahkan sekarang Seokjin tidur sambil memeluk Namjoon

" aku lapar "

Seokjin berbalik. Namjoon sedang bersandar di pintu balkon " ayo cari restoran yang enak, apa kau tidak lapar Jinnie? "

" ah, aku baru ingat jika belum makan malam. Khaja oppa " Seokjin berjalan melewati Namjoon dan langkahnya terhenti ketika Namjoon menggenggam erat tangannya dan berjalan keluar bersama. Mereka berjalan kaki mencari restoran seafood di sekitar hotel karena Seokjin yang ingin makan seafood, setelah beberapa menit mencari akhirnya mereka menemukan sebuah restoran seafood

Namjoon bergidik melihat patung kepiting raksasa yang tertempel di dinding, dia memang membenci hewan tersebut, selain bentuk kepiting yang menurutnya menyeramkan dia juga akan menderita alergi jika memakan daging hewan yang dikatakan Jimin sebagai seafood terenak nomor dua setelah lobster

" kau ingin lobster atau kepiting oppa? " tanya Seokjin

" lobster saja "

" baiklah, lobster dua, jus strawberry dua, kentang goreng dua dan satu salad "

" ada lagi nona? "

" apa hidangan penutupnya? "

" malam ini kami punya es krim vanilla berukuran besar dan white wine "

" aku pesan keduanya "

" apa ada lagi? "

Seokjin menggeleng lalu menyerahkan daftar menu pada sang pelayan

" terima kasih telah memesan. Pesanan anda akan tiba 20 menit lagi " pelayan tersebut membungkuk sopan

" oppa "

" nde? "

" kau takut pada benda itu? " Seokjin menunjuk patung kepiting raksasa di dekat pintu masuk, rupanya dia menyadari perubahan wajah Namjoon

Namjoon menyengir " aku tidak menyukai mereka "

" benarkah? Rasa mereka sangat enak "

" lalu kenapa kau tidak memesan kepiting saja? "

Seokjin menggeleng pelan " karena aku melihat jika oppa tidak menyukainya maka aku tidak memesannya lagipula lobster juga cukup enak "

Namjoon mengacak gemas surai Seokjin membuat sang pemilik surai protes karena dia akan terlihat jelek jika surainya berantakan

" setelah ini kita langsung pulang? " tanya Seokjin setelah merapikan surainya padahal Namjoon berkata jika dia tetap terlihat cantik meskipun surainya berantakan, perkataan Namjoon sontak membuat wajahnya memerah

Namjoon menggeleng " tidak, kita akan berjalan-jalan di sekitar pantai. Mereka akan menyalakan kembang api yang banyak malam ini "

" baiklah "

.

" wuah.. " Seokjin mengagumi kembang api yang menghiasi langit malam, meski sering melihat pertunjukkan kembang api seperti ini namun Seokjin merasa kali ini lebih istimewa

Namjoon mengeratkan genggamannya pada jemari Seokjin dan menariknya ke tepi pantai untuk bermain dengan ombak

" dingin oppa " keluh Seokjin setelah hampir setengah jam bermain dengan ombak

Namjoon lalu berbalik memunggunginya dan sedikit membungkuk " naiklah "

" eh? "

" naiklah, aku akan menggendongmu sampai ke hotel "

Seokjin lalu naik ke punggung Namjoon dan memeluk leher si namja Kim, dia juga meyandarkan kepalanya di bahu Namjoon yang menggendongnya sampai ke kamar hotel

" aku lelah sekali " ujar Seokjin saat dirinya sudah berbaring di ranjang

" aku tahu "

" darimana oppa tahu? "

Namjoon berbaring di sisi Seokjin " kau baru saja memberitahuku "

" jaljayo oppa " Seokjin menutup matanya

Namjoon terus memandangi wajah Seokjin yang sedang tertidur, sesekali dia tersenyum dan mengelus pelan pipi Seokjin

" gomawo " bisik Namjoon lalu memejamkan mata

.

Jungkook menyusuri deretan bangku untuk mencari tempat duduknya, dia langsung duduk begitu menemukan bangku bernomor A-22

" panggung yang indah " puji Jungkook, dia mengeluarkan ponsel dan mulai memotret

" Kookie? "

Jungkook mendongak " oppa juga datang? "

Hoseok bergumam lalu duduk tepat di samping Jungkook " temanku memberikan tiketnya untukku, kau datang sendiri? "

Jungkook mengangguk, sekarang dia tahu kenapa Jimin begitu ingin dia datang hingga yeoja itu terus menelponnya siang tadi. Rupanya ini 'keajaiban' yang dimaksud Jimin, Jungkook akan membelikan Jimin 3 porsi ttupoki berukuran besar besok siang

" oppa juga datang sendiri? "

" begitulah, kau suka musik klasik? "

" mendiang ibuku sering memutar musik klasik di rumah saat aku masih kecil "

" ibuku juga "

" bagaimana jika setelah ini kita makan bersama? Itu kalau oppa tidak sibuk "

Hoseok tersenyum lebar " baiklah "

Jungkook segera memalingkan wajahnya yang sudah memerah, beruntung pertunjukkan akan segera dimulai jadi penerangan di kursi penonton dipadamkan jika tidak Hoseok pasti sudah melihat wajah memerah Jungkook yang menyebar hingga telinga

.

" menurut oppa Hoseok oppa akan datang? "

Yonggi yang sedang memainkan surai Jimin yang tertidur di pahanya hanya menggumam " Hoseok itu pencinta musik klasik jadi dia akan datang "

" seandainya Hoseok oppa benar-benar datang, Jungkook pasti sangat bahagia semoga saja dia bisa melancarkan berbagai aksi disana "

" aku juga berharap seperti itu "

" ah.. Namjoon oppa dan Seokjin unnie pasti akan melewatkan banyak hari romantis di Macau. Aku jadi iri " Jimin menyindir Yonggi yang jarang mengajaknya pergi berlibur

Merasa disindir Yonggi pun menyentil dahi Jimin " aku sibuk bekerja agar memiliki cukup uang untuk membahagiakanmu saat kita menikah nanti "

" tapi aku tetap butuh perhatian "

Yonggi melumat kedua belah bibir Jimin " jika aku mengabaikanmu aku tidak mungkin berada disini dan menemanimu tidur "

Jimin menarik tengkuk Yonggi untuk memperdalam ciuman mereka

.

Wajah Jungkook memanas saat Hoseok menggandeng tangannya ketika mereka menyebrang. Mereka sengaja meninggalkan mobil mereka di parkiran teater dan berjalan kaki mencari makanan

" kau ingin makan apa? " tanya Hoseok

Mata Jungkook memandang ke sekeliling " ramyun "

" aku tahu restoran ramyun yang enak di sekitar sini. Khaja " lagi, Hoseok kembali menggenggam tangan mungil Jungkook dan membuat yeoja itu mati-matian berusaha agar wajahnya tidak terlihat memerah

.

" bagaimana kencan kalian? "

Wajah Jungkook memerah saat ditanya Jimin " siapa? jangan bicara sembarangan "

Jimin menusuk lengan Jungkook berulang-ulang " eishh.. kau dan Hoseok oppa, kalian pasti berkencan semalam "

Jungkook meletakkan tasnya " a..apa.. kami hanya makan malam "

" itu artinya kalian berkencan, aigoo.. pasti sangat romantis. Ceritakan padaku "

Wajah Jungkook menjadi lebih merah mengingat malam hangat yang dia lewati bersama Hoseok, dia bahkan tidak bisa tidur hingga pagi menjelang

" kau memerah artinya terjadi sesuatu, apa kalian berciuman? "

Tuk.. Jungkook menyentil dahi Jimin dengan spidol di tangannya " jangan berbicara sembarangan, kami tidak melakukan apapun selain berpegangan tangan. Aku tidak seperti dirimu dan Yonggi oppa "

Jimin menggosok bagian yang disentil Jungkook " sebentar lagi kalian akan menjadi seperti kami "

Mata Jungkook berbinar, dia lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil tertawa pelan

" tiket itu direncanakan olehku " sebenarnya bukan Jimin yang merencanakan tapi Yonggi hanya saja Jimin yang membeli tiket tersebut jadi dia merasa bahwa dia yang merencanakan rencana membuat Hoseok dan Jungkook nonton bersama

" aku akan mentraktirmu ttupoki siang ini "

Jimin memukul mejanya tiga kali " Jeon Jungkook sudah berjanji "

.

Luhan masuk ke ruangan Namjoon untuk meletakkan beberapa dokumen yang akan dibaca atasannya saat kembali nanti. Dia dipercaya untuk mengurus perusahaan selama Namjoon pergi. Dia berhenti dan menatap foto Namjoon dan Seokjin saat acara pernikahan berlangsung, foto tersebut diletakkan oleh Jimin kemarin

" saya senang melihat anda bahagia seperti ini sajang-nim "

.

" Jinnie apa kau melihat kausku yang berwarna merah? "

Seokjin yang baru saja selesai mandi menatap Namjoon yang sedang membongkar kopernya

" aku memasukkan dua kaus merah "

Namjoon menghempas tubuhnya ke ranjang " dan tidak ada satu pun "

Seokjin mengeringkan surainya " pakai saja yang lain, kita akan membelinya nanti "

Namjoon lalu berguling-guling sebentar sebelum beranjak ke kamar mandi

" hari ini kita akan kemana? " tanya Seokjin saat Namjoon keluar dari kamar mandi, namja blonde pucat itu mengenakan handuk di pinggangnya

" terserah kau saja "

" aku bosan keluar "

Namjoon memakai kaus berwarna hitam yand disediakan Seokjin, dia pun melepas handuknya dan membuat napas Seokjin tertahan lalu memakai celana pendek berwarna peach

' kenapa dia memakai underwear? Ah, apa yang kau pikirkan Seokjin? '

" aku juga, kita di sini saja. Aku akan memesan makanan " Namjoon berjalan keluar

Seokjin menyetel saluran drama pagi kesukaannya ketika Namjoon membukakan pintu untuk staf hotel yang mengantar pesanannya " apa yang oppa pesan? "

Namjoon duduk di sampingnya, meletakkan beberapa nampan dan merangkul Seokjin " ayam goreng, kentang goreng dan salad "

" oppa akan mati muda jika terus memakan makanan seperti itu terus " Seokjin menatap berbagai makanan tidak sehat yang dipesan Namjoon kecuali salad, dia menyesal membiarkan Namjoon yang memesan

" lalu kau akan menjadi janda Kim lebih cepat " Namjoon mencubit pipi Seokjin

" sakit oppa, kenapa harus dicubit " Seokjin mengelus pipinya

Namjoon kemudian mengecup kedua pipi Seokjin " jika tidak ingin kucubit maka akan kucium saja "

" oppa "

Namjoon tertawa " kau tahu, rasanya nyaman sekali seperti ini "

" aku juga " Seokjin menyandarkan kepalanya di dada Namjoon

" I think I'm in love with you " perkataan Namjoon membuat Seokjin mendongak, dia menatap mata tajam Namjoon dalam. Entah siapa yang memulai namun sekarang bibir mereka telah bertautan dengan lelehan saliva di sekitar bibir

Lidah Seokjin membelai lidah Namjoon lembut sambil sesekali dia menggigit bibir bawah Namjoon. Satu tangan Namjoon telah masuk ke dalam kaus tanpa lengan milik Seokjin dan meremas pelan payudara Seokjin hingga yeoja itu mendesah perlahan, dan satu tangan kiri Namjoon menahan dan menekan belakang kepala Seokjin. Seokjin membelai perut berabs Namjoon dan menggerakkan jarinya sensual disana hingga Namjoon merasa seperti tersengat listrik

Bibir Namjoon beralig ke pipi, ujung hidung, dagu lalu berakhir di leher Seokjin. Dihisap lembut leher jenjang tersebut hingga Seokjin meremas surai Namjoon

" I love you " bisik Seokjin

" I love you too "

Namjoon tidak dapat lagi menahan gairahnya yang memuncak, beberapa hari ini Seokjin terus mengenakan pakaian yang membuat beberapa bagian tubuhnya terekspos dengan jelas terutama leher dan dada Seokjin yang sukses membuat Namjoon tercekat setiap kali melihatnya. Dia lalu menurunkan celana beserta dalaman Seokjin dan dirinya. Seokjin lalu menarik lagi leher Namjoon dan mempertemukan bibir mereka, dijilat, dihisap dan digigt bibir kenyal Namjoon yang membuat Seokjin menjadi ketagihan sementara kedua tangannya sibuk membuka kaus Namjoon dan kausnya dan melemparnya ke lantai

" kita akan memulainya? " tanya Namjoon saat Seokjin menyudahi ciuman mereka

Seokjin mengangguk. Namjoon lalu mengarahkan miliknya ke milik Seokjin setelah sebelum itu mencium kedua paha Seokjin dan menggigitnya sedikit. Seokjin mendesah tertahan saat seluruh milik Namjoon tertahan, Namjoon mengulum bibir Seokjin sebelum menggerakkan pinggulnya

" anhh.. "

" moans my name "

" Namjoonh.. ah.. "

Tubuh Seokjin terguncang hebat seiring permainan Namjoon, dia menyeringai dan memainkan jarinya di punggung Namjoon

" nnh.. oppa mencintaiku? "

" ndehh.. aku mencintaimu Kim Seokjin "

Seokjin memeluk erat tubuh Namjoon, kedua kakinya dilingkarkan di pinggang Namjoon. Namjoon menunduk untuk mengecup dan menghisap payudara Seokjin yang berukuran besar, dia meninggalkan banyak tanda kemerahan disana

" Namjoonh.. " erang Seokjin

" aku akan mengeluarkannya Jinnie " ujar Namjoon setelah lebih dari tiga jam bergumul dengan Seokjin, tubuh mereka penuh peluh hingga surai keduanya basah, poni Namjoon menempel di dahinya

" nde "

Beberapa saat kemudian Seokjin merasakan sesuatu yang hangat keluar di dalam miliknya, dia lalu menutup matanya untuk menikmati setiap sensasi yang dia rasakan, saking banyaknya cairan tersebut menetes keluas hingga mengenai sofa. Namjoon menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Seokjin, mengatur nafasnya lalu mencium lembut dahi Seokjin dan kedua matanya yang menutup

" aku lelah "

" sleep tight baby " bisik Namjoon di telinga Seokjin lalu menggendong istrinya seperti koala menuju ke kamar. Dengan perlahan Namjoon membaringkan Seokjin lalu menutup tubuh mereka dengan selimut

.

" aigoo.. apa mereka sangat sibuk hingga tidak mengangkat telepon dariku? " sungut Jihoo, suami Hyuna itu menggerutu di balkon kamarnya

Hyuna yang baru saja selesai mandi menatap heran pada suaminya yang hanya mengenakan boxer berdiri di balkon

" ada apa yeobo? "

" Jinnie tidak mengangkat telepon dariku "

Hyuna membuka handuk yang membungkus surainya hingga surai setengah basah itu tergerai, dia melonggarkan bathrobenya kemudian memeluk suaminya dari belakang

" sudahlah, mereka sedang berbulan madu jadi mereka akan sangat sibuk "

" tapi aku merindukan Jinnie, ini sudah satu minggu lebih dan dia hanya menghubungiku sekali saat mereka tiba di Macau "

Hyuna memutar tubuh Jihoo lalu mengambil ponsel dari tangan suaminya, dia menghisap bibir Jihoo sensual " jangan mengganggu acara mereka, dia akan pulang beberapa hari lagi. Sebaiknya kita tidur "

" benar ingin segera tidur? "

Hyuna tersenyum nakal seraya memainkan jarinya di dada Jihoo, dia pun menjerit saat Jihoo tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan berjalan menuju ranjang

.

Hoseok menatap pigura berisi foto Seokjin yang selalu dia letakkan di bawah bantal, air matanya jatuh perlahan. Hoseok memang merelakan Seokjin menikah dengan Namjoon namun hatinya tetap saja selalu merasa sakit. Berulang kali Hoseok berusaha menghilangkan Seokjin dari pikirannya namun semakin dia mencoba semakin ingatan tersebut tidak bisa menghilang dan malah terus menempel

" apa kelebihan Namjoon hingga kau lebih memilih Namjoon dibandingkan aku Jinnie? Rasanya sakit sekali " dipeluk pigura tersebut dan mulai menangis hingga dirasakan kepala dan matanya menjadi berat. Hoseok pun tertidur setelah kelelahan menangis

.

Seokjin mengecup kedua kelopak mata Namjoon yang masih tertutup rapat sebelum beranjak dari ranjang, dia menahan senyum saat melihat pantulan tubuhnya yang hampir keseluruhannya dipenuhi bekas merah karya Namjoon di cermin besar, mereka kembali melakukannya beberapa kali hingga Seokjin menyebut kemarin adalah hari seks bersama Namjoon karena namja itu sama sekali tidak berhenti. Dilangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk membersihkan diri

Drrt.. drrt..

ponsel Namjoon yang bergetar dua kali sama sekali tidak membuat sang pemilik ponsel terbangun jadi Seokjin memutuskan untuk membuka ponsel Namjoon yang terdapat beberapa pesan

from : Luhan

saya sudah meng-handle rapat dengan para investor beberapa hari ini dan berjalan sukses, saya akan mengirimkan hasil rapat melalui email

Seokjin mengangguk membaca pesan dari sekretaris Namjoon, menurut cerita Jimin yeoja bernama Xi Luhan ini sangat dapat diandalkan hingga membuat Namjoon begitu menyayangi yeoja yang masih berstatus single ini. Seokjin juga memuji sikap ramah Luhan saat menghadiri acara pernikahannya, dia dapat mengetahui jika Luhan adalah yeoja yang cerdas dan sopan

" akan kukenalkan pada Sehun " putus Seokjin saat mengingat sepupunya yang sekarang menetap di China. Dia lalu membaca pesan lagi

From : uri sarang Jiminie

Kapan oppa akan kembali? Aku sangat merindukan oppa. Pastikan untuk membawa Kim junior setelah kalian selesai berbulan madu

Seokjin menahan tawanya membaca pesan dari adik iparnya namun dia mengerutkan kening saat mengetahui ada nomor asing yang mengirim pesan

From : 021-235-448-72

Selamat untuk pernikahanmu, aku senang mendengarnya. Hubungi aku segera setelah kau membaca pesan ini

XOXO

" siapa ini? aneh, kuhapus saja " Seokjin segera menghapus pesan tersebut setelah membuat hatinya merasa kesal

" XOXO? Bullshit! " dia lalu meletakkan kembali ponsel Namjoon dan menelpon layanan kamar untuk memesan sarapan

Namjoon memasang tampang enggan saat melihat menu sarapan yang didominasi sayuran bahkan Seokjin memesan jus wortel untuknya dan Namjoon

" bisa aku memesan lagi? "

" tidak, duduklah dan habiskan sarapan oppa. Setelah ini kita akan berjalan-jalan di pantai "

" ini membuatku mual Jinnie, kenapa tidak memesan ayam goreng saja? " gerutu Namjoon

" makanlah makanan yang sehat oppa "

Namjoon memakan sarapannya dengan terus menggerutu dan menahan mual, Jimin bahkan tidak pernah berbuat seperti ini padanya

" sudah membaca pesan dari Luhan? "

" dia mengirim pesan? Aku belum membacanya "

" dia hanya melapor kalau rapat dengan para investor berhasil dan dia akan mengirimkan hasil rapatnya melalui email "

" dia memang selalu bisa kuandalkan "

" Jimin juga bertanya kapan kita akan kembali, dia sangat merindukanmu ahh.. aku jadi iri padanya? "

" apa yang membuatmu iri pada Jimin? "

Seokjin berdecak kecil " kalian sangat dekat, aku yakin Yonggi oppa juga iri padamu oppa "

Namjoon hanya tertawa menanggapi Seokjin

" gomawo " ucap Seokjin

" untuk? "

" yang kemarin, aku menyukainya " Seokjin menunduk menyembunyikan warna merah di wajahnya

Namjoon mengelus pipi Seokjin " aku juga, bagaimana jika kita melakukannya lagi? Tubuhmu membuatku ketagihan "

Seokjin menyentil ujung hidung Namjoon " Kim byuntae " dia lalu beranjak menuju kamar dan bersiap pergi ke pantai sementara Namjoon masih menertawainya

.

" Seokjin "

Seokjin yang baru saja akan memesan minuman berbalik begitu mendengar namanya dipanggil

" omo! Hyosang! Lama tidak bertemu " Seokjin langsung memeluk namja di depannya

" bagaimana kabarmu? Kudengar kau sudah menikah "

Seokjin melepaskan pelukannya " ya, aku baru saja menikah. Bagaimana denganmu? Apa kau sudah memiliki kekasih? "

Hyosang menggeleng " aku masih belum bisa menyingkirkan dirimu "

Seokjin tersenyum salah tingkah mendengar perkataan Hyosang. Dia dan Hyosang menjalin hubungan selama 7 bulan

" dimana suamimu? "

" dia sedang menungguku mengambil minuman "

" ah.. aku masih punya urusan lain. Senang bertemu denganmu lagi "

" aku juga "

" nomormu belum diganti? "

Seokjin menggeleng " tidak, wae? "

" aku akan menghubungimu nanti, tenang saja aku tidak bermaksud macam-macam "

.

" lama sekali " gerutu Namjoon saat Seokjin datang dengan dua gelas bir dingin

Seokjin memberi segelas pada Namjoon lalu duduk disamping suaminya " banyak orang yang mengantri "

" kita kembali besok "

" eh? Bukankah waktu bulan madu kita masih beberapa hari lagi? "

Namjoon mengecup dahi Seokjin " mian sayang, rapat dengan para investor dari luar negeri dimajukan jadi aku harus segera pulang "

Seokjin memajukan bibirnya " apa mereka tidak tahu jika kita baru saja menikah? "

" sekali lagi aku minta maaf sayang, aku harus professional. Akan kuajak kau liburan lain waktu lagipula berapa banyak tawaran pemotretan yang kau tolak untuk bulan madu kita? "

" aku sudah tidak menjadi model lagi, sehari sebelum kita menikah aku mengundurkan diri dari manajemenku "

" eh? Lalu bagaimana tanggapan mereka? "

Seokjin menyingkirkan beberapa helai merah di wajahnya " mereka kecewa namun tetap menghargai keputusanku lagipula aku bukan model yang punya nama besar "

Seokjin tertawa keras

" aku tidak bermasalah selama itu membuatmu senang, lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini? "

" mendirikan tempat kursus untuk para calon model, aku juga ingin mendirikan tempat kursus tari "

Namjoon mencubit gemas pipi Seokjin " istriku akan jadi pebisnis, kau butuh ban? "

" aku sudah mendapat bantuan dari Hyuna unnie dan aku juga akan menggunakan tabunganku untuk modal awalnya "

" beritahu aku jika kau butuh sesuatu "

.

" jadi kalian akan kembali besok? " Hyuna yang sedang menyetir sedikit terkejut, yang dia ketahui adiknya akan menghabiskan waktu dua minggu bersama suaminya di Macau

" nde unnie, oppa punya beberapa kesibukan mendadak di kantor "

" bukankah ada sekretarisnya yang mengurus? Ah.. unnie lupa namanya "

Seokjin tersenyum menerima segelas jus jeruk dari Namjoon " nona Xi Luhan, ini rapat penting unnie jadi tidak bisa diwakilkan "

" ah.. terserah kalian saja. Ingin kujemput besok? "

" tidak perlu unnie, Luhan yang akan menjemput "

" apa kalian sudah melakukannya? "

" melakukan apa? " Seokjin duduk di pangkuan Namjoon

" seks setelah menikah "

Uhuk.. Seokjin tersedak jus jeruknya

" pelan-pelan Jinnie " Namjoon meraih tisu di atas meja

" unnie! "

Hyuna tertawa " pasti sudah, bagaimana? Apa Namjoon hebat? Miliknya bagaimana? Kau puas? "

Seokjin segera bangkit setelah mengetahui jika Namjoon sedang menahan tawa, suaminya itu mendengar pembicaraannya bersama Hyuna

" akan kuceritakan nanti, bye unnie " PIP

" tertawa saja oppa "

Namjoon bangkit dan memeluk Seokjin " Hyuna noona lucu, apa kau akan menceritakannya pada noona setelah kita kembali? "

Seokjin mengangguk dan membalas pelukan Namjoon " aku tidak bisa menyembunyikan apapun dari unnie "

.

.

TBC