Oaahhhhh…Hie kembali….! Maap semua, lama sekali updetnya. Yang penting ini semua Hie lakuin buat kalian, heheheh…dan yang terpenting HAPPY FUJOSHI INDEPENDENCE DAY! Hayhay…^^
Tapi maap skali lagi, kalo fic ini tak begitu menyenangkan buat kalian baca. Hie janji fic ini gak sealay dari yang kemarin.
Nih cerita kalau di pikir-pikir makin gaje, deh.
Itachi: "Yah biasalah, yang bikin juga orang gaje."
Hie: Uwaaaa… ngapain kamu di sini? Siap-siap gih, take pertama loh!
Itachi: (ngibrit ke ruang make-up)
N thanks banget buat Ray yang mau ngebantu cariin nama buat maple yang ada di sekolah militer kayak gini.
Disclaimer: ahhh males nulis… kalau namanya Hie, pasti bakal sering-sering aku tulis…^^
semua character n chara-chara di sini juga bukan punya Hie…hiks…hiks…
Warning: Apa yah? Baca aja nanti juga tahu! …..eh yah, maksud Hie, liat aja di prolognya…hihihi
Enjoy…
"Huahhhmmm…ngantuk!" terdengar suara seseorang di atas pohon. Ia bersender di salah satu batang pohon Sakura di belakang sekolah. Menyilangkan kedua tangannya sebagai bantal, memejamkan mata dan siap untuk tidur.
Pikk…
Seorang pemuda lain yang sepertinya baru saja tiba di situ melempar kertas ke arah kepala orang itu.
"Heh, Kyuubi! Gimana bisa kamu rubah adikku jadi kayak gitu?"
"Hm?" mata yang tadinya terpejam kembali terbuka. Ia keberatan juga kalau dilempar dengan secuil kertas sampah itu. Dan lagi, mata merahnya menyipit, sedikit kurang terbiasa dengan pertanyaan yang terlontar dari lawan bicaranya barusan. "Maksudmu, pantat ayam ingusan itu?" Ia tersenyum kecil melontarkan kata-katanya yang barusan.
Dahi seseorang di bawah sana berkerut mendengar adik kesayangannya dipanggil seperti itu. Itachi, kakaknya si 'Pantat Ayam Ingusan' atau Sasuke. "Yang bener tuh Sasuke, Sa-su-ke, ingat itu Kyuubi!"
"Yah, gue tau kok." Kyuubi menjawabnya santai, masih tak beranjak dari posisinya. "Emang, apanya yang berubah, heh? Setau gue gak ada tuh."
"Ckckckckck, kamu kan punya gelar pangkat Dallions, masa segitu aja gak tahu?"
"Hm…" Kyuubi hanya bergumam, tak tertarik dengan topik pembicaraan."
Merasa diremehkan, Itachi langsung meloncat naik ke atas pohon, menyebabkan dahan yang digunakan Kyuubi menjadi tidak seimbang. Hampir aja Kyuubi terjatuh kalau saja tubuhnya tak cepat-cepat ia kendalikan. "Heh, maksud loe apa? tiba-tiba naik ke sini, Brengsek!" teriaknya kasar.
Itachi menyeringai, ia sudah mendapat perhatian penuh sekarang. "Oh maafkan aku, aku hanya ingin mendapat perhatianmu saja," katanya kelewat jujur.
"Che… apa mau loe, Uchiha?"
Bingo, dapat….
"Mauku? Kerja sama."
"Hemh…. Kerja sama? Bukannya loe udah punya semuanya, segalanya?"
"Kyuubi, Kyuubi, hidup ini tak sesempurna seperti yang kau pikirkan," kata Itachi yang lebih mengarah ke logat guru TK.
"Lalu, apa untungnya bagiku?"
Diam sejenak….
"Kesenangan?"
Dan terukirlah seringaian masing-masing kedua belah pihak. Seringaian yang mampu membuat seluruh kingdom animalia kabur seketika, dan anehnya ini tidak berlaku bagi seluruh wanita di dunia baik yang masih bayi sampai nenek-nenek yang umurnya tinggal beberapa saat lagi. Heheh… tahu kan maksudnya?
-Kyukei Hie Ru-
"Hey, berikan padaku!" (Kiba)
"Enak saja, aku yang lebih dulu tau!" (Chouji)
"Tapi dia temen sebangkuku." (Kiba)
"Terus?" (Chouji)
"Ya, aku duluan lah, yang nyalin!" (Kiba)
"Hah, gak nyambung." (Chouji)
"Dari pada ribut, mending gue aja!" (Shino)
"Gak bisa!" (Kiba dan Chouji)
Hampir di seluruh penjuru kelas SKHS, setiap harinya selalu terdengar adu mulut yang tak pernah melenceng dari kata 'salin'. Suatu budaya yang sedari dulu dilastarikan oleh penduduk asli siswa SKHS. Terus dan terus sampai generasi berikutnya.
"DIAM SEMUA! Kalian bisa diam tidak? Memalukan, kelas kita itu sudah dipandang baik oleh semua guru di SKHS maupun sekolah lain. Tahu diri, kek!" Sang ketua menengahi dengan lantang, Hyuuga Neji. Yang lain masih terdiam mencerna perkataan Neji. Dan… Neji lah yang pertama membuka suara. "Sakon, pinjem dong!" Ckckckck….bahkan sang ketua tak pernah luput dari tradisi itu.
Dengan itu, menggemalah 'Huuuuuuuu!' di seluruh ruangan. Seorang Hyuuga pun akhirnya cuma cengar-cengir tidak jelas.
"Hahahaha…. bagus, Neji! Sini aku ikutan."
"Ah, kau Lee. Bisanya cuma nebeng."
"Emang, tadi kamu pakai mobil siapa ke sekolah, hm?"
"Mmmm…" Neji tampak berpikir. "Mobilmu, emang napa?" tanyanya enteng.
Gubrakk…..
Semua yang mendengarkan percakapan barusan, tanpa terkecuali jatuh dengan tidak elitnya.
"Yah, aneh-aneh aja kamu, Ji."
Yang ditanya cuma cekikikan ngedenger komentar dari Tenten.
"Habis kalau gak gini, gak dapet contekan sih…" kata Neji masih setia dengan cengirannya. Tapi cengirannya berhenti saat terdengar langkah seseorang yang mendekat ke arah kelasnya.
"Ssssttt…. Sensei udah dateng!" Neji mengomando.
TAPP…TAP…TAP…
Langkah itu makin mendekat, dan berhenti di depan pintu kelas. Semua sudah bersikap wajar dan duduk manis, menanti sensei tercinta mereka.
KLEKKK…
Beberapa anak kelas menoleh dan mendapati seorang Sasuke Uchiha memasuki kelas. Mereka menarik napas lega dan kembali menyelesaikan acara salin-menyalin mereka yang belum terselesaikan.
"Huhhh… Sasuke kupikir siapa…eh, knapa kamu tadi gak masuk jam pertama sampai ketiga?" Kiba menjadi orang pertama yang menanyakan hal itu.
"Iya Sasuke, kenapa? Terus apa kau tahu Naruto juga?" Lee menambahkan.
"Diikutsertakan." Jawab Sasuke singkat.
"Ohhh…" Kiba dan Lee cuma bisa menanggapi dengan 'oh' nya. Mereka sudah bisa mengerti maksud dari Sasuke adalah melewati ujian khusus yang diadakan sekolah. Lagi pula ini bukan hal baru yang harus dipertanyakan lebih jauh.
"Naruto juga yah?"
"Hn."
Memang bukan Naruto dan Sasuke saja yang menjadi kontestan. Di kelas ini misalnya ada Neji. Tapi setiap ujian pastilah berbeda satu sama lain tergantung penguji.
Merasa puas akan jawaban Sasuke, Kiba dan Lee cuma bisa terdiam dan mendoakan Naruto agar selamat. Yah, karena mereka tidak diperkenankan ikut campur atau mengetahui info barang secuil pun. Beberapa saat kemudian bel tanda jam pelajaran selanjutnya di mulai. Waktunya pembelajaran teknik tenaga dalam yang gurunya selalu on time.
"Ohayou, anak-anak!" sapa guru Gai, pengajar untuk jam ini kelewat ceria. Sayangnya, tidak bagi anak-anak didik yang menjawab dengan intonasi 'ogah-ogahan'. Kalau Lee mah, lain lagi ceritanya.
"Yosh, kita akan memasuki bab baru tentang 'Aturan Jam Tubuh Biologis Manusia'….buka halaman 333, baca sampai halaman 444, pahami! Satu jam lagi kita praktek," kata Gai-sensei langsung ke inti.
"Baik, Gai-sensei!" Lee berkata lantang dan dapat kita duga yang lain cuma mendengus.
Acara paham-memahami berlangsung dengan hikmat. Terkecuali Sasuke yang sedang memikirkan Naruto. Memang saat dia meninggalkan Naruto sendirian di Rugon Kussi, Naruto sudah sadar dan agak baikan, tapi ia masih khawatir kalau saja Kyuubi secara diam-diam menyiksa Naruto lagi. Sasuke benci membayangkan kejadian itu. Ia tak habis pikir kenapa harus ada orang sekejam Kyuubi, yang tanpa sungkan menyakiti otouto kandungnya sendiri. Ya, alasan inilah yang menyebabkan Sasuke masuk ke dalam sekolah ini juga. Satu yang menjadi tujuannya, melindungi teman terdekatnya sedari kecil.
-Kyukei Hie Ru-
"Hey bangun Shikamaru! Kenapa kerjaanmu hanya tidur?"
"Mhh…hoahhhhmmm…Gaara, emang ada apa lagi? Semua tugas udah beres, kan?"
"Nih, barusan ada kabar kalau adiknya Kyuubi-senpai dari kelas Matchi, terluka!" Gaara melempar selembar kertas gulungan pada Shikamaru yang menjabat sebagai anggota ANBU.
"Che, mondekusei."
Gaara hanya diam saja mendengar keluh kesah Shikamaru yang memang sudah sering kali ia dengar. Sementara Shikamaru mengumpulkan dan mengolah informasi, Gaara pergi ke tempat markas Akatsuki. Gaara adalah salah satu anggota Akatsuki tingkat dua. Dia masih ingat bagaimana dulunya ia disegani oleh semua kalangan siswa. Yah dulu,… dulunya ia menyandang nama Dallions tapi karena suatu tragedi, terpaksa ia harus rela melepaskan gelar kebanggaan SKHS itu.
Slashh…slash…slash…
Dengan bergaya ninja, Gaara melombat dari satu gedung ke gedung lain, hal ini memang bukanlah rahasia. Dan lagi bukanlah sebuah rahasia apabila banyak kecelakaan yang terjadi saat mereka menjalankan misi.
"Hwaa… awass!"
BRUAKKK….DUAKKK…
Badan Gaara bisa terhuyung ikut jatuh ke bawah kalau saja tak ada tiang kokoh di dekat jendela gedung yang bisa menjadi pegangannya. Sedangkan orang yang ditabrak atau menabrak Gaara, jatuh menembus sela antara bangunan tua. Benar, baru saja terjadi tabrakan antar ninja yang disebabkan oleh…oleh…sebuah kecerobohan. Seorang yang terjatuh tadi tampaknya bisa bangkit kembali. Berumtung ia telah diselamatkan oleh kardus-kardus yang tertumpuk di bawahnya, tapi sekarang sudah tak berwujud. Gaara pun turun memeriksa keadaan teman 'tabrak duet'nya tadi.
"Ah, gomenassai. Anda tidak apa-apa?" tanyanya ramah.
"Uhh…," pemuda yang satunya lagi meringis, " tak apa, seharusnya aku juga minta ma….GAARA!" pemuda itu mengubah alur kalimatnya setelah tahu orang di depannya adalah Gaara.
"Eh, Naruto?"
"Gaara!" teriaknya memeluk pemuda berambut merah yang ada di depannya. Kemudian mengajak pemuda itu bersembunyi di antara gedung-gedung tinggi yang menjulang.
"Kau sudah sembuh? Bagaimana bisa?" Gaara mengawali pembicaraan.
"Nani? Tau dari mana kalau aku sakit emh, maksudku terluka?" tak menghiraukan pertanyaan Gaara sebelumnya.
"Hm, aku ini salah satu anggota Akatsuki Naruto, wajar kan?"
"Oh iya, aku lupa." Naruto hanya bisa meringis mendapati otaknya yang rada error.
Tentu Gaara tak habis pikir, gimana bisa Naruto diikutsertakan dalam ujian tahun ini. Kalau otaknya saja seperti itu kemungkinan besar ia akan lulus adalah tiga puluh persen. Yang bisa membantunya hanyalah kekuatan fisiknya saja. Atau mungkin juga sesuatu hal yang tak terduga.
"Lalu, kenapa kau malah keluyuran tak jelas begini?"
"Eh, yah aku tak betah berada di Rugon Kussi, selain tak ada teman juga baunya nggak enak, iekkkhhh…" katanya sambil menjulurkan lidah, menghayati peran yang sedang ia lakukan.
BLETAKK…
"Ittai, kenapa kau menjitak kepalaku?" Naruto memegangi kepala kuning itu dan mengelusnya sendiri.
"Dengar ya, kalu sampai terjadi apa-apa denganmu, sementara pihak sekolah diketahui hanya berdiam diri saja, itu dapat memperburuk citra nama baik sekolah tahu!" Gaara memang selalu terlihat bijak di depan semua orang.
"Lalu kenapa menjitak kepalaku segala? Kan bisa diberi tahu baik-baik."
"Biar processor di otakmu lebih cepet loadingnya." Gaara hanya tersenyum kecil, tak sampai terlihat, bahkan oleh Naruto.
"Aaa…ada-ada aja, aku kan bukan komputer atau sejenisnya…weeekkk," balasnya memasang tampang mengejek.
"Hhhh…" Gaara hanya bisa menghela napas.
"NARUTO…!"
Dari jarak kurang dari dua puluh meter seorang wanita, Anko-sensei tepatnya berteriak sambil melemparkan sebuah kunai, cepat.
SYUT….JLEBB…
Dua helai rambut Naruto sebelah kiri terpotong dengan manisnya, sontak membuat Naruto mundur beberapa langkah sambai membentur tembok di belakangnya.
"Kalau kau bergerak lagi, kunai ini akan menancap di leher tan-mu yang mulus itu…heheheheh," terangnya sambil menjilat kunai seperti biasanya.
"TIDAAAAAAAAAAAAAKKKK….!"
Naruto mencoba berlari tapi sayangnya ia tersandung bola tenis yang memang di sekitar area itu digunakan untuk bermain tenis.
"Woaaa…!"
BUAK….
Tubuh bagian depan Naruto membentur lantai di bawahnya. Cukup keras karena ia berlari kencang namun juga tak terlau sakit. Gaara yang melihatnya cuma geleng-geleng dan tak mau melihat adik kelasnya itu tersiksa, lagi.
"Gaa…Gaara tolong aku! Aku mohon!" masih tetap dalam keadaan yang sama tak bergerak se-inchi pun karena ia sudah kaku lebih dulu.
"Kau tidak akan bisa ke mana-mana, jabrik." Anko menyeringai dan mulai mendekati mangsanya barunya.
Gaara jadi kasihan juga melihat Naruto diperlakukan seperti itu. "Anko-sensei, biarkan aku yang mengurusnya. Aku janji tak akan mengecewakanmu."
"Heh, apa kau yakin, kepala merah?" tanyanya selidik setelah secepat kilat menghampiri Gaara. Tangannya merangkul pundak lelaki itu dengan membawa kunai, siap menyerang leher Gaara.
"Ya, aku yakin," jawab Gaara datar dan diikuti oleh Anko yang melepas rangkulannya.
"Menarik. Akan aku perhatikan tindakanmu, kepala merah." Anko melirik Naruto yang sedari tadi menatapnya dengan pandangan ngeri, membuatnya ingin tertawa. "Kita akan bertemu lagi, jabrik, " ucapnya sebelum meninggalkan Naruto dan Gaara.
-Kyukei Hie Ru-
"Ino Pig. Kau berani menantangku?"
"Kenapa tidak, Billboard Brow?"
"Ergh… awas kau!"
"Apa? Mau melawanku, ayo sini maju!"
"Cu…cukup, hentikan. Sasuke-kun… tak kan senang melihat kalian seperti ini." Seorang wanita muncul untuk menjadi penengah, melarang mereka melanjutkan aktivitas dengan nada yang kurang tepat. Alhasil yang didapatnya hayalah dua buah death glare yang membuatnya terdiam, sangat.
"Hinata… kalau Naruto direbut siswi lain, apa kau mau merelakannya begitu saja?"
"Ino, itu…emhh…itu…ano…" katanya, disertai muka yang berubah menjadi merah padam.
"Sudahlah, ini adalah urusan kami, Hinata. Biarkan kami yang menyelesaikannya." Yang berambut pink itu memberi usul.
BLAM…
Seseorang membuka pintu dengan keras, memasuki ruang kesenian yang ditempati ketiga gadis itu dan sukses membuat mereka kaget. "Hinata-sama, jangan dekat-dekat mereka! Berbahaya."
"Ah, Neji."
"Ayo kita cepat pulang. Paman Hiashi sudah menunggu."
Takut-takut Hinata melihat ke arah duo sahabatnya. Tapi teman-temannya memberikan tanda seolah menyuruh Hinata cepat pergi dari situ. Akhirnya ia hanya menjawab perkataan Neji dengan mengangguk pelan dan menunduk dalam.
Neji langsung mengajak Hinata keluar ruang kesenian. Sesaat mereka bertemu Sai yang sedang berlari menuju ruang yang tadinya ia masuki. Dan diakhiri dengan terlemparnya Sai ke luar hingga membentur tembok. Mungkin Sai datang di waktu yang kurang tepat. Neji yang melihatnya pun langsung panik dan memperhatikan badan Hinata.
"Hinata-sama, kau tak pa?"
"Hm." Hinata menganguk cepat.
"Baiklah mari kuantar sampai parkiran."
Mereka berjalan melewati lorong yang lumayan luas. Sisi-sisinya dikelilingi dengan berbagai ornament langka dan patung para alumni yang sangat mereka segani hingga sekarang, menampakkan bangunan dengan arsitektur mewah nan megah.
Keluar dari lorong kesenian, Hinata berhenti sejenak. Ia melihat sesuatu yang bergerak cepat, sangat cepat. 'Apa itu?' Tapi kata itu tak meluncur dari bibirnya.
"Hinata-sama?"
Bayangan itu melintas lagi, mata Hinata tak sekalipun berkedip. Ia merasa mengenal orang itu. Tapi siapa, ia tak tahu pasti. Neji yang biasanya sangat terlatih untuk hal ini nampak kebingungan.
"Hinata!"
SETT…
Dengan gerakan sekejab seseorang muncul tepat dihadapan Hinata. Orang itu menatap raut muka Hinata dalam jarak yang bisa dikatakan sangat dekat, lima senti mungkin. Neji yang sudah sadar dengan apa yang terjadi segera membelalakkan mata.
"Kyuubi-senpai!" teriaknya histeris. Mau melindungi Hinata tapi lawannya kakak kelas. Mau ngebiarin tapi kasian juga Hinata kalau sampai rumah pasti dihajar Paman Hiasi.
"Hmm…tenang aja, gue cuma mau ngeliat dia lebih deket, " Kyuubi menyeringai sambil menyentil dahi Hinata. Tentu hal ini membuat Hinata sadar akan jaraknya dengan Kyuubi dan hanya bisa ber-blush-ria. "Lumayan, akan gue pertimbangin elo sama anggota lain." Kyuubi melangkah pergi saat Hinata kehilangan kendali. Ya, Hinata hampir pingsan kalau saja Neji tak menghampirinya dengan segera.
"Kyu..Kyuubi-senpai, " kata hinata pelan, masih dengan muka memerah dan dalam hati ia melanjutkan 'mirip sekali'. Rasanya Hinata ingin segera menangis di situ juga. Ia merasa sangat malu.
"Hinata-sama, Hinata-sama!" walaupun Neji sudah biasa menangani kasus sama seperti ini tiap kali bertemu dangan Naruto, tetap saja keadaan Hinata tak bisa dibilang baik-baik saja.
-Kyukei Hie Ru-
Di ruangan lain yang berjarak tak kurang dari empat puluh meter dari tragedy antara KyuuHinaNeji. Beberapa orang sedang berdiskusi. Tempat itu tak begitu terang karena cahaya terhalang oleh beberapa tirai yang cukup besar nan tebal, memungkinkan mereka untuk berkspresi bebas.
"Seandainya ia ikut, bisa menambah jumlah kandidat bukan?"
"Tapi kalau mereka gagal, hanya akan membuang waktu dan energy saja."
"Hm, benar apa kata Kakuzhu, Hidan. Dewa Jashin-mu tak kan banyak menolong." Perkataan Tobi berhasil membuatnya mendapatkan death glare dari Hidan, tentunya. Dan ia hanya bisa sembunyi di balik kursi Kakuzhu. Malang nasibnya, si empunya kursi melarang Tobi untuk bersembunyi di situ.
Lagi, beberapa orang mulai berpasang-pasangan, berdiskusi menentukan siapa saja yang pantas menjadi kandidat Akatsuki maupun Dallions nantinya. Untuk sementara ini beberapa siswa yang terpilih ialah Haruno Sakura, Yamanaka Ino, dan Karin dari kelas Fungeki, Sai, Kankuro, dan Deidara dari kelas Geijutsu, Uciha Sasuke, Namikaze Naruto, dan Neji dari kelas Kuzusu. Sedangkan yang lainnya masih dalam proses.
"Hei Itachi, dimana Kyuubi?" tanya Pein.
"Hmmm…" Itachi mengelus dagunya sebentar, sok berpikir keras, "mungkin mencoba hal-hal baru, "katanya dengan tidak memandang ke arah Pein.
"Apa-apaan dia? Beraninya menentang kebijakan Leader, memangnya siapa dia?" Zhabusa mulai naik pitam. Sedari tadi ia menahan amarahnya saat ia tak melihat Kyuubi di ruangan ini untuk yang ke sekian kalinya.
"Hei, hei, hei pangkatnya itu di atasmu tahu, " kata Hidan santai.
"Ya, aku tahu, aku tahu." Zhabusa mengangkat kedua tangannya, mengalah sejenak. "Tapi Kyuubi bukan Leader, ia hanya wakil di sini." Ia menunjukkan seringaian di balik perban yang menutupi mulut dan gigi-gigi tajamnya.
"Itachi, kalau kau tahu di mana Kyuubi, kenapa tak memperingatkannya untuk ke sini?" Pein kembali melanjutkan pertanyaan.
"Oh, itu…memangnya dia mudah diajak ke tempat membosankan seperti ini?" bukannya menjawab, ia malah membalikkan pertanyaan. "Lagian kalau aku tetap ngotot, yang ada, sekolah inilah yang akan hancur…hehhemmm," lanjutnya sambil terkekeh pelan.
Pelan-pelan Itachi menginagat kejadin itu. Tepat dua tahun lalu, saat Kyuubi hendak dijadikan salah satu dari anggota Akatsuki. Kyuubi mengamuk…ia tak menginginkan hal seperti itu. Itu sama halnya dengan menjadi seorang budak. Seorang budak yang takkan bebas melakukan apapun. Mungkin yang akan dia lakukan jika menjadi Akatsuki nantinya adalah menjalankan tugas, misi, melawan musuh dari luar sekolah atau membantu pihak kepolisian menuntaskan kejahatan. Memang sih, Kyuubi suka bertarung tapi ia juga tak suka kalau harus diperintah ini dan itu oleh Leader.
Karena semakin lama Kyuubi malah semakin dipaksa, maka ia memilih bertarung dengan semuanya. Kyuubi tak kan pernah mau pasrah oleh tindakan senpai-senpainya yang tidak bertanggung jawab, itu yang dipikirkannya. Awalnya sih, dia yakin akan bisa menang tapi di tengah pertarungan seseorang menggagalkan rencananya. Kyuubi telah dikalahkan seseorang, mungkin bisa jadi dua orang kalau Pein ikut andil bagian…sayangnya tidak. Jadi cukup satu orang…
Hasil yang ia peroleh, Kyuubi mendapat pangkat Dallions dan masih tetap bertahan hingga sekarang. Bahkan mendapat pangkat sebagai wakil Leader. Kenapa dia mau menjadi Dallions? Padahal Kyuubi tak mau diperintah. Jawabannya hanya Kyuubi sendiri 'orang itu' yang mengetahuinya. Oh ya DJ, jangan lupakan dia. Namanya saja Dewa.
Semua masih tak bergeming, mengingat kalau dulunya Kyuubi pernah mencekik leher senpainya sampai pingsan dan berlanjut pada senpai-senpai beruntung lainnya.
POOF…
Mendadak muncul asap putih di atas meja. Beberapa memberikan ekspresi terkejut. Ada yang malah memberi cengiran ke arah kumpulan asap itu. Lain lagi dengan Kakuzhu yang dengan cepat merapikan uang yang baru dihitungnya untuk yang ke tujuh belas kali pada siang hari ini. Ckckckck….
Terlambat. Sebuah tongkat dengan sebilah pedang panjang di ujungnya dan sehelai kain sutra berwarna merah menjadi pembatas sekaligus aksesoris. Tongkat itu tetancap sempurna di semua selebaran harta karun milik Kakuzhu. Sontak si pemilik harta karun tercengang. Melebarkan mata ke arah uangnya sendiri dan cepat-cepat beralih ke sesuatu yang berada pada asap yang masih berkemul di hadapannya. Kakuzhu enatap horror pada makhluk yang ada di balik ini semua dan yang ditatap dengan pandangan itu malah….
-TSUZUKU…..LAGI…HEHEHEHHEH-
maap mutus adegannya….wkwkwkwk..(readers: serius kaga sih lo minta maap?)
Hie kaga nyangka bakal sepanjang ini…ehm, maksudnya rada pendek…sebenernya dulu mau lebih pendek lagi tapi temen Hie ada yang protes makannya aku tambah…dikit. Hie kaga mau banyak-banyak ntar yang baca bosen, lagi. Ceritanya muter-muter gak? Oh ya, apa penempatan genrenya udah tepat? Tolong kasih tau Hie lewat review yah, pliiiiiiissss….!
Tulis aja keluh kesah kalian lewat review, kaga usah malu…(siapa juga yang malu?)
Orang yang bersedia mereview fic ini pasti cakep….^^ *rayuan no jutsu*
Balasan review…
Aika Ray Kuroba: mkasih udah review…Hie seneng bangett…
Heheheh…oh ya slesein fic reg Hie yang My School, My Disaster dong….Hie kangen banget ama grimmjow….
Ntar Hie review yang buanyak deh….
Oh yah, satu lagi….RAY, NAPA LOE KAGA LOG IN, SIH? *nendang Ray ampe Sunagakure* WKWKWKWK….
Gummy Cherries: iya makasi baget yah udah disempetin buat nge-review, maap Hie baru updet…kmaren bayak pelajaran yang musti diulang sampe nyita waktu….(bohong, jangan dipercaya!) n maap juga kalo critanya makin jelek….m(_ _)m
Kucing Perak: senpai makasih udah review…nih Hie udah munculin Gaara, pas banget karna Hie emang mau ngluarin Gaara….hihihi.. v
QQ: wah mau dibikin merana lagi? Sadis…tapi kali ini adegan itu lewat, cukup satu kali…er…atau mungkin laen kali?...*taboked* makasih udah review…QQ-san
Secret: wah ini siapa yah? Apa Hie mengenalmu? Apa kita berteman akrab?
Maap yah updetnya lama, Hie juga udah usaha kok…(secret: gw tau loe bohong!)
Fi suki suki: Iya, makasih udah dibilang keren segala….tpi mungkin sekarang kaga keren lagi….T.T
Untuk pairnya emh….tadi kelihatan gak, kalau masih belum yah hie kasih tahu deh, pairnya ada sasunaru dan naruhina, tapi untuk saat ini kayaknya gak ada pairnya, habis ini genre friendship, sih….ehehhehe…
Matsuo Emi: Wah ya makasih… untuk yang kesekian kali reviwier bilang fic Hie keren….senengnya. Eh, tulus kaga ngomongnya? Hehehe…kidding…
errr...perasaan dari tadi minta maaf melulu, mungkin karena lebaran udah deket hihihi jadi skalian Hie mau minta maaf untuk segala tindakan yang telah kulakukan...arigato...(_ _)
ALL…REVIEW PLEASEEEE….! REVIEW PLEASEEEE….! REVIEW PLEASEEEE….! REVIEW PLEASEEEE….! REVIEW PLEASEEEE….! REVIEW PLEASEEEE….! REVIEW PLEASEEEE….! REVIEW PLEASEEEE….! REVIEW PLEASEEEE….! REVIEW PLEASEEEE….! REVIEW PLEASEEEE….!
