Dua puluh enam abjad. Dua puluh enam cerita.


ABJAD

F-J


Fajar

"Bagus kan, Jin? Nyesel kan selama ini kamu molor terus?"

Beberapa menit yang lalu, Jihoon memisahkan Woojin secara paksa dari tempat tidurnya. Ini hari pertama mereka berada di Jeju untuk liburan akhir semester mereka dan tentu saja Jihoon tidak mau kelewatan satu hari pun untuk melihat terbitnya fajar. Setelah beberapa menit bergulat (like, literally, bergulat macam pemain WWE), dengan ogah-ogahan Woojin bangun ketika sahabatnya itu meniupkan udara berkali-kali ke telinganya karena demi apapun itu sungguh menyebalkan.

Kemudian disinilah mereka sekarang. Duduk berdempetan diatas pasir lembut dengan selimut yang melapisi tubuh mereka berdua. Pagi di Jeju ternyata cukup dingin dan piyama tipis mereka berdua tentu tidak akan melindungi mereka dari dinginnya angin laut. Jihoon merapatkan tubuhnya lebih dekat pada Woojin ketika angin berhembus terlalu kencang menembus sela-sela selimut mereka.

"Kedinginan? Kubilang juga apa! Lebih baik bergelung saja tadi dengan selimut dan kasur yang hangat." ledek Woojin yang terlihat nyaman dengan balutan sweater dan mantel di badannya.

Jihoon memandang Woojin sebal dan mencubit perutnya.

"Tidak mau! Kau sudah terlalu banyak tidur. Apa gunanya kita jauh-jauh pergi ke Jeju kalau kau hanya akan tidur seperti di rumah?"

Angin kembali masuk melalui celah-celah selimut mereka. Tanpa sadar Jihoon bergidik, Woojin refleks mengusap telapak tangan Jihoon.

"Lagipula kamu belum lihat pertunjukkan utamanya. Fajar akan muncul..." Jihoon melirik jam tangannya. "Satu menit lagi."

Melihat Jihoon yang jelas-jelas kedinginan dengan mata terpaku pada kanvas kemerahan di depannya membuat Woojin ingin tertawa. Baginya, Jihoon yang sedang bersemangat karena hal yang disukainya adalah Jihoon yang paling ia suka.

Ia tahu Jihoon sangat menyukai fajar. Hampir setiap pagi Jihoon selalu memanjat atap rumahnya untuk melihat pendar kemerahan di ufuk timur itu. Ia tahu alasan Jihoon selalu menggambar gunung dan matahari terbit setiap ada tugas kesenian dari SD hingga SMA sekarang. Selain karena Jihoon memang tidak bisa menggambar, tapi karena itu memang salah satu hal yang paling disukainya.

Satu menit berlalu dan akhirnya sesuatu yang ditunggu sedari tadi pun menampakkan dirinya.

Suara deburan ombak yang memecah ke pantai menjadi satu-satunya pemecah keheningan kala Jihoon terdiam menatap pemandangan di depannya dengan takjub.

"Indah ya, Jin." bisik Jihoon.

Begitu hanyutnya Jihoon hingga ia tidak menyadari bahwa sedari tadi, pandangan Woojin tidak pernah ke arah yang dimaksud Jihoon.

Woojin benar-benar merasa situasi ini sangat klise, tapi ia tidak peduli. Adegan seperti ini sering dilihatnya pada film-film romantis kesukaan adiknya, dimana pemeran utama wanita sedang mengagumi sesuatu tanpa mengetahui bahwa pemeran lelakinya malah memperhatikan sang wanita.

Disini Jihoon sibuk mengagumi keindahan fajar, tapi Woojin berpikiran lain.

Tanpa Jihoon ketahui, kata 'indah' bagi Woojin sekarang bukan diperuntukkan kepada pendar keemasan yang terbentang di ufuk timur itu.

"Iya, Hoon." Woojin memandang lembut semarak perpaduan jingga dan merah yang menyirami wajah Jihoon.

"Indah banget."

.

.

.

Guanlin

Bukan rahasia lagi kalau Guanlin itu menganggap Jihoon sebagai panutannya. Bocah yang masih SMP itu merasa kalau Jihoon itu keren banget. Sudah ganteng, pinter, baik hati, tidak sombong...

"Jihoon pinter dari mananya sih, Lin?" keluh Woojin gerah melihat pemandangan di depannya.

Kedua orang yang sedang sibuk main uno tanpa mengundangnya itu tetap melanjutkan permainan mereka tanpa mengacuhkan Woojin.

"Ganteng juga gantengan aku perasaan." kata Woojin sambil menguap.

Tiba-tiba Jihoon menoleh dan menatap Woojin tidak terima.

"Sirik aja bisanya, Jin. Ngaca dulu sana."

"Udah kok setiap hari. Ganteng banget."

"Ngaca di cermin cembung?"

"Siala-"

"Stop! Disini yang anak SMP siapa sih? Kayak anak kecil aja deh kalian."

Guanlin cemberut. Harusnya kan Guanlin main berdua aja sama Jihoon, tapi tiba-tiba Woojin ngikut aja.

Woojin selalu begini sih setiap Guanlin mengajak Jihoon ke rumahnya. Sebenarnya Guanlin tidak memberatkan masalah Woojin jadi 'orang ketiga' karena Guanlin juga suka sama Woojin soalnya menurut Guanlin, Woojin itu lucu dan dance-nya keren banget. Tapi masalahnya, setiap Jihoon dan Woojin disatukan, mustahil kalau mereka tidak saling ribut. Akhirnya setiap kali mereka berkumpul pasti ada saatnya Guanlin akan ngambek. Kemudian berujung pada Jihoon dan Woojin yang sibuk membujuk Guanlin agar mood-nya membaik. Rasanya jadi seperti sedang mengasuh bayi besar saja.

"Hehehehe maaf ya, Lin. Kita berdua emang sama-sama salah kok–"

"Enak aja! Kamu yang mulai duluan ya!"

"Loh kok berantem lagi?!"

"–nah kan, ngalah dikit aja kenapa sih Hoon?"

"Ya kamu tuh, kalau salah ya salah aja sendiri kenapa jadi nyeret-nyeret aku?!"

"Heh, sorry aja nih ya, aku nggak kuat kalau mau nyeret kamu. Berat!"

"HA–"

"KAK WOOJIN KAK JIHOON PULANG AJA SANAAAA!"

.

.

.

Hangat

Malam itu hujan turun mengguyur. Awalnya gerimis pelan, tapi lama kelamaan semakin deras. Ini adalah malam minggu biasa dimana Jihoon dan Woojin menghabiskan waktu terjaga bersama hingga subuh nanti. Udara dingin dari luar mulai merambat masuk ke dalam hangatnya kamar Jihoon, membuat Woojin tanpa sadar mendekatkan tubuhnya ke sumber kehangatan terdekat.

Jihoon mengernyit ketika ia merasakan siku kanan Woojin berbenturan dengan siku kiri Jihoon.

"Kamu kedinginan ya?" tanya Jihoon yang lebih terdengar seperti suatu pernyataan.

Sedari tadi mereka fokus bermain nintendo diselingi dengan beberapa kata makian disana-sini. Entah karena suara latar dari game itu yang terlalu keras atau mereka yang terlalu larut ingin mengalahkan satu sama lain, tapi mereka tidak menyadari bahwa diluar hujan sedang turun dengan derasnya. Kehangatan yang perlahan menyelinap pergi lah yang membuat mereka tersadar dan menghentikan sejenak permainan mereka.

"Ya." jujur Woojin. Tidak ada gunanya sok bersikap tangguh. Jihoon bukan teman perempuannya yang biasa ia pinjami jaket ketika hujan turun di sekolah walaupun ia sendiri merasa kedinginan.

Jihoon menarik selimut di atas kasurnya ke bawah tempat mereka sekarang yang terduduk di karpet Jihoon. Dengan lembut Jihoon menutupi seluruh tubuh Woojin dengan selimutnya yang memiliki aroma samar sabun yang dipakai biasa Jihoon. Sekarang Woojin sudah terlindungi oleh selimut hingga hanya wajahnya saja yang menyembul.

Jihoon tertawa kecil melihat kondisi Woojin.

"Sudah hangat?" tangannya terulur untuk membenarkan letak selimut supaya lebih menutupi bagian leher Woojin.

Woojin hanya menggumam mengiyakan, sibuk menikmati kehangatan yang langsung menjalari tubuhnya.

"Jangan sok kuat melawan dingin. Nanti sakit lagi seperti waktu itu."

Lagi-lagi hanya gumaman yang menjadi jawaban Woojin, meskipun kali ini gumaman itu terdengar sedikit malas.

"Bilang saja kamu kangen kalau aku tidak masuk sekolah. Iya kan?" goda Woojin sambil terkekeh.

Woojin kira, Jihoon akan langsung membalasnya dengan bantahan yang tegas, dan memprediksi selanjutnya mereka akan terjebak dalam adu mulut seperti biasanya. Namun, nyatanya malah keheningan yang menyelimuti mereka karena Jihoon hanya terdiam dan menatapnya lurus.

Mendadak suasananya berubah menjadi kaku. Woojin berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain, kepada apapun selain Jihoon yang berada di depannya. Ia tidak pernah menerima pandangan seperti itu dari Jihoon, ia juga tidak tahu apa maksud dari sorot mata itu.

Dan Woojin juga memilih untuk tidak mau tahu.

Woojin heran kenapa lidahnya terasa kelu untuk mengucapkan sepatah kata pun, apapun agar keheningan ini terpecah. Mereka tidak pernah terjebak pada situasi secanggung ini sebelumnya. Sehingga ketika Jihoon akhirnya membuka suara, Woojin menghembuskan napas yang tanpa sadar sejak tadi ia tahan.

"Iya."

Tunggu.

A-apa?

"I-iya... apanya yang iya?" tanya Woojin sambil mengeluarkan tawa canggung. Apa-apaan Jihoon ini?

Woojin menunggu Jihoon untuk segera berhenti melakukan hal aneh ini dan tertawa karena telah berhasil mempermainkan dirinya. Namun Jihoon hanya kembali menatapnya sekilas lalu beranjak menuju pintu kamarnya.

"Aku akan membuatkanmu teh."

Kemudian suara pintu tertutup terdengar dan kamar itu menyisakan Woojin yang terdiam dengan degupan di jantungnya yang tiba-tiba berpacu cepat.

.

.

.

Iri

Sedekat apapun Jihoon dengan Woojin, Jihoon bukanlah satu-satunya orang penting dalam kehidupan Woojin selain keluarganya.

Ada tiga orang lainnya–Lee Daehwi, Im Youngmin, dan Kim Donghyun.

Bersama dengan Woojin, mereka mendeklarasikan diri mereka sebagai BNM Boys. Dengan bangga Woojin menceritakan sejarah kuartet tersebut bermula dari mereka yang bertetangga di Busan. Youngmin menyaksikan kelahiran Donghyun, Youngmin dan Donghyun menyaksikan kelahiran Woojin, hingga ketiganya menyaksikan kelahiran Daehwi dan selanjutnya ikatan persahabatan itu muncul. Seperti itulah, mereka lebih merasa seperti saudara sedarah dibandingkan hanya sekedar teman main masa kecil.

Sayangnya kebersamaan mereka tidak lama. Saat Woojin berumur 7 tahun keluarganya harus pindah ke Seoul karena pekerjaan ayahnya. Tak lama, keluarga Daehwi juga pindah ke Seoul. Berdua mereka meninggalkan Youngmin dan Donghyun di Busan.

Namun, semua itu tidak membuat hubungan mereka menjadi perlahan menjauh.

Saat itu teknologi belum banyak berkembang, jadi mereka hanya bisa saling berkirim surat atau berkomunikasi melalui telepon rumah. Hampir setiap minggu keluarga Woojin maupun Daehwi juga berkunjung ke Busan. Dengan usaha seperti itu, kuartet mereka tetap bertahan hingga saat ini. Meskipun tiga tahun setelahnya Daehwi pindah ke Jepang hingga ia kembali lagi 3 tahun setelahnya, BNM Boys tetap sama seperti dulu.

Jihoon ikut tersenyum melihat Woojin dengan antusias menceritakan tentang Daehwi yang pernah terjepit ayunan ban. Jihoon menyadari binar mata Woojin berbeda setiap ia membicarakan tentang mereka–bahagia, lembut, dan benar-benar diperuntukkan untuk mereka.

Jihoon senang ketika Woojin terlihat ceria seperti ini. Seolah Woojin kembali menjadi Woojin kecil yang polos setiap ia menceritakan tentang BNM Boys.

Namun, terkadang Jihoon merasakan sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia rasakan ketika mengingat kedekatan mereka. Perasaan ini–Jihoon benar-benar membencinya.

"Mereka benar-benar membuatmu bahagia." ucap Jihoon ketika Woojin selesai tertawa karena memori akan Daehwi.

Masih ada sisa-sisa tawa yang tertinggal dari Woojin sehingga ia masih tersenyum lepas ketika menatap Jihoon.

Lagi, perasaan itu muncul lagi.

Woojin melanjutkan memakan keripiknya yang tertunda karena cerita tentang Daehwi tadi.

Jihoon mengepalkan tangannya untuk mencegah agar perasaan itu tidak semakin berkembang pada dirinya.

Jihoon sadarlah, mereka sudah seperti keluarga bagi Woojin. Kau tidak pantas bersikap kekanakan seperti ini.

Woojin mengunyah keripiknya dengan suara yang keras seolah untuk meredam gejolak yang sedang terjadi pada diri Jihoon saat ini.

"Kau juga."

Ia mengunyah lagi dengan lebih keras.

"Membuatku bahagia."

Dan seperti itulah, perasaan buruk itu lenyap dari hati Jihoon–dan tak pernah kembali lagi.

.

.

.

Jaehwan

Jaehwan adalah tetangga dari Woojin dan Jihoon. Rumahnya hanya berjarak 3 rumah dari rumah Woojin. Kalau Woojin sedang tidak bersama Jihoon, biasanya dia langsung main ke rumah Jaehwan. Dia akan masuk dan langsung duduk di teras rumah Jaehwan tempat Jaehwan biasa berkencan dengan gitarnya.

Woojin sibuk mengunyah kacang goreng di toples sambil mendengarkan Jaehwan yang menyanyi lagu Ed Sheeran. Suara Jaehwan bagus, Woojin jadi merasa ia sedang berada di live cafe.

"Eh, Jin kamu nggak mau belajar main gitar?" tanya Jaehwan sambil memetik senarnya.

Woojin menggeleng, mulutnya penuh.

"Ngghak bwang, nanti makhin banyhak yang naksir."

Jaehwan melempar kacang ke arah Woojin yang langsung menghindar.

"Yeee pede amat!"

Kemudian Jaehwan menghela napas. "Aku udah jago gitar gini kok nggak ada yang naksir ya, Jin."

Petikan gitarnya berubah menguntai nada galau.

Tawa Woojin pecah melihat raut wajah Jaehwan yang tiba-tiba berubah menjadi melankolis.

"Ada kok, bang." kata Woojin teringat pada wajah lembut Minhyun.

"Hah?! Siapa, Jin?!"

Telinga Woojin langsung berdengung akibat suara dahsyat Jaehwan.

"Gila, biasa aja dong, bang! Nggak pernah ada orang yang naksir ya sampai reaksinya begitu amat?"

"Bocah kurang ajar. Buruan siapa orangnya, Jin?"

Sekali lagi Woojin teringat wajah bersemu Minhyun ketika Jaehwan berlatih lagu You are So Beautiful di depannya. Ia tertawa dalam hati.

"Ada deh. Makanya peka dong."

Karena Woojin tidak mau Jaehwan penasaran terus-terusan, ia memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan.

"Tadi kenapa, bang, kok nanyain mau belajar gitar? Menawarkan diri jadi guru lesku, bang?"

Tampaknya jurus pengalihan isu Woojin berhasil karena Jaehwan kembali memetik senar-senar gitarnya.

"Itu si Jihoon udah seminggu ini belajar gitar sama aku. Makanya heran kok kamu nggak ikutan. Biasanya kan kalian berdua nempel terus kayak kacang dalam kulit."

Woojin menghentikan kunyahannya.

Jihoon belajar gitar? Sejak kapan?

"Jihoon lumayan cepet belajarnya. Kemarin dia main I'm Yours bareng aku di depan kelas. Gila, fansnya makin cinta semua."

"Emang kamu nggak lihat kemarin, Jin?" lanjut Jaehwan karena Woojin diam saja.

Woojin menggeleng pelan.

"Nggak, bang. Dua minggu ini tiap istirahat aku latihan di studio."

"Jihoon kalau udah suka sama orang dedikasi banget ya, Jin. Sampai bela-belain belajar gitar dari nol."

Tangan Woojin terhenti untuk menggapai toples astor.

"Suka sama orang?"

Woojin terkejut. Jihoon suka siapa? Sejak kapan? Kenapa Woojin tidak tahu?

"Iya. Sama Mark kan? Mark lumayan jago gitar juga. Jadi sekarang Jihoon jadi ada alasan deh buat main bareng Mark."

Diam menyelimuti Woojin, alisnya mengerut. Jaehwan menyadari hal itu.

"Kalian lagi sama-sama sibuk ya akhir-akhir ini? Kompetisi dance mu juga makin dekat kan? Mungkin Jihoon merasa nggak enak buat curhat pas kamu lagi capek."

Dibalik gejolak yang sedang ia rasakan sekarang, Woojin cukup takjub dengan Jaehwan yang tumben peka. Ia menghargai Jaehwan yang berusaha menenangkannya, tapi sekarang ia butuh segera pergi dari sini.

"Gitu kali ya, bang." jawab Woojin sekenanya. Ia harus segera pergi dari sini.

Lalu Woojin keluar dari rumah Jaehwan tanpa pamit sama seperti ketika ia datang.

Di perjalanan menuju rumahnya, Woojin mengingat jelas kegiatan mereka seminggu ini sekalipun Woojin sibuk latihan.

Woojin mendengus sambil menendang jauh-jauh kerikil di depannya.

"Padahal kita main Battleground tiap malem bisa, tapi buat sekedar cerita nggak bisa ya, Hoon?"

.

.

.


Note:

Sumpah kenapa sih aku itu sukanya menganggurkan fanfic T_T

Maaf sekali ya aku semakin sibuk sudah semakin dekat dengan semester-semester akhir huhuhu. Oiya dan maaf juga ya kalo kerasanya kadang mereka pake bahasa baku terus yg lainnya kayak non-baku. Aku nulis ini sesuai moodku hahah.

Semoga aku bisa menyelesaikan ini sebelum Wanna One bubar :')

Thank you so much for your kind reviews aaaa seriously guys aku bukan merendah atau apa tapi aku bener-bener ngerasa aku kurang banget dan ngerasa ini sampah :')

Once again, thank you so much!