'Ayo kita duet!'

"Ayo! Ini pasti menyenangkan, mau lagu apa?"

'Bagaimana kalau Chopin - Etude in E major,Op.10 No.3 ? Kita pernah memainkannya bersama-sama bukan?'

"Ah, ya betul sekali! Aku sangat suka sekali lagu itu!" Karena itu lagu yang mempertemukan aku denganmu.

'Ayo kita mulai,'

Semua kenangan ini

Tidak akan pernah aku lupakan

Dengan begitu, kau akan selalu ada di dalam hatiku

.

.

.

Memories

By: Aiodu Yuukihara

Warning: OOC

Genre: Drama and Romance

La Corda D'Oro © Yuki Kure

.

.

.

Hino Kahoko, gadis berambut merah itu adalah salah satu guru musik di Seiso Gakuen. Sebenarnya, dengan kemampuan yang ia miliki, dia bisa saja mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi daripada ini. Sayangnya ia tetap memilih menjadi seorang guru. Seorang guru yang mengajar di tempat penuh kenangan ini.

Saat ini ia sedang berada di atap sekolah Seiso pada jam istirahat. Dulu, ia sering sekali berlatih di sini ditemani dirinya. Dia selalu menyemangati dirinya dan melontarkan pujian-pujian manis untuknya.

Dia menarik nafas panjang. Meletakkan biolanya di atas bahu dan mulai menggesekkan bow pada senarnya.

Apres un Reve – Faure

Lagu yang begitu kelam dan menyedihkan. Lagu tentang seorang yang kehilangan seseorang yang sangat ia cintai di dunia ini. Orang yang mendengarkan permainan Kahoko saat ini mungkin akan ikut terhanyut dalam lantunan nada-nada biolanya. Biola Kahoko seakan-akan menjadi canvas putih tempat Kahoko melukiskan perasaanya saat ini.

*Bayangan Kahoko dalam lagu*

Gelap

Sunyi

Dingin

Kahoko berjalan di tengah ruangan yang di selimuti oleh kegelapan. Ia mencari dirinya. Ia tidak mempedulikan dengan dimana kah dia berada saat ini. Yang terpenting baginya adalah bertemu dengan orang itu.

Kemudian ia tersadar, orang itu telah tiada. Ia memohon untuk orang itu tetap di sini bersamanya. Bertanya kenapa dia harus pergi. Terus memohon untuk tidak meninggalkannya sendirian di tengah ruang gelap tanpa seorang pun yang mendengar. Terus memohon dan bertanya walau tahu itu adalah hal yang sangat tidak mungkin dan tahu kalau yang tak ada yang mendengar permohonannya itu.

*Balik kekeadaan normal*

Ia membuka matanya. Ia menundukan kepalanya dan menatap biolanya. Air matanya jatuh perlahan-lahan membasahi biolanya, corda. Mungkin terdengar sedikit kekanak-kanakkan untuk orang-orang di sekitarnya, memberi nama kepada biolanya. Tapi ia tidak pernah merasa malu. Karena orang yang memberi nama biola ini adalah dia.

Flashback – 2 SMA –

"Kau bermain biola?" tanya laki-laki berambut biru yang seumuran dengannya.

"Ya, aku sudah bermain sejak kecil..." jawab Kahoko sambil tersenyum.

"Siapa namanya?" tanya orang di depannya dengan antusias.

"Nama?"

"Ya, siapa namanya? Jangan bilang kau belum pernah memberinya nama?" Dengan itu pun Kahoko menggeleng.

"Jadi selama ini kau memanggilnya apa?"

"Bi-biola..."

"Hm, kalau begitu kau harus memanggilnya Corda mulai sekarang. Janji?" katanya sambil mengulurkan kelingkingnya.

"Tu-tunggu dulu, kenapa kau seenaknya saja memberikan namanya. Itu kan biolaku!"

"Udah, janji apa nggak?"

"Nggak mau!"

"Ah, padahal aku sudah memilih nama yang bagus untuk biolamu."

"Memangnya artinya apa?"

"Ikatan, baguskan?"

"Hm, iya juga sih..."

"Jadi?" laki-laki itu mengulurkan kelingkingnya lagi.

"Iya-iya, sekarang aku panggi dia Corda." Kahoko menyambut jari kelingking itu dengan kelingking miliknya.

"Yubukiri genman... Uso tsuitara... Harisenbon no masu.. Yubikitta!" Dia memejamkan matanya sambil tersenyum.

"Nah selseai!" senyumnya melebar saat ia sudah membuka matanya.

"Hh, kenapa sih laki-laki di sekelilingku kekanak-kanakkan semua..." Kahoko menggumam sendiri melihat tingkah laku orang yang ada di hadapannya.

"Memangnya kau tidak kekanak-kanakan hah?"

"Aku gak ngerasa tuh!" Kahoko menjulurkan lidahnya dan kemudian berlari bersama Corda menghindari laki-laki itu sambil tertawa lepas.

End of Flashback

"Maaf Corda, aku telah membuatmu basah..." dia menghapuskan air matanya yang jatuh pada tubuh Corda dengan saputangan merah mudanya. Setelah itu, baru ia menghapus air matanya.

*sfx: suara bel masuk*

Suara bel pun terdengar. Kahoko langsung kembali ke ruang guru dan bersiap-siap untuk mengajar karena hari ini dia ada jadwal di kelas 1-A. Saat di kantor, ia bertemu dengan seniornya dulu, Hihara Kazuki. Dia adalah pembina orkestra di Seiso Gakuen. Dia menggantikan Ousaki Shinobu, yang dulu juga merupakan pembina orkestra tersebut sekaligu alumni Seisou. Tapi berhubung dia harus menjalani karirnya sebagai pemain biola dan harus pergi keluar negri untuk konser dan hal-hal lainnya, Kazuki pun menggantikannya.

"Apa tadi itu permainanmu Kaho-chan?" Kazuki bertanya padanya.

"Hm," Kahoko mengangguk lesu.

"Seharusnya kau cuti saja hari ini, padahal kemarin kan Tsukimori-kun baru saja..." Kazuki langsung menghentikan ucapannya ketika sadar kalau lawan bicaranya terlihat begitu sedih. "Maaf, Kaho-chan..."

"Ah, Hihara-senpai tidak perlu meminta maaf seperti itu." Kahoko mengeluarkan senyum terpaksa.

"Benarkah?" Kazuki bertanya dan di balas sebuah anggukan di sertai senyum manis Kahoko. " Kalau begitu, nanti mau ke toko kue di dekat stasiun?"

"Boleh," jawab Kahoko. Mungkin ini akan bisa menghilangkan kesedihannya.

"Yahoo!" Kazuki terlihat seperti anak kecil.

"Hihara, kau itu guru tetapi masih seperti anak kecil..." suara Kanazawa terdengar. Ternyata dari tadi Kanazawa tidur di atas meja kerjanya.

"Ah, maaf Kanayan..." Kazuki menusap-ngusap ubun-ubunnya.

.

.

.

Setelah selesai makan di toko kue dan membelikan kue untuk kakak dan ibunya di rumah. Kahoko pun pulang sendiri bersama biolanya. Sebenarnya, Kazuki terus memaksa untuk mengantarkan Kahoko pulang karena seorang wanita pulang malam sendirian itu berbahaya. Tapi Kahoko terus saja mengelak dan malah lari dari Kazuki.

Padahal baru satu hari dia tiada, tapi rasa rindunya begitu besar. Ia sangat ingin bertemu dengannya lagi. Dia menghela nafas sambil berjalan. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan mencoba membuang pemikiran-pemikiran aneh. Ia menambah kecepatan berjalannya sehingga sampai di rumah lebih cepat. Sebenarnnya ia sedikit menyesal karena telah menolak ajakkan baik dari Kazuki. Namun, kalau ia bersama Kazuki, ia jadi teringat saat-saat mereka bertiga pulang sekolah bersama-sama.

.

.

.

Hari demi hari berlalu. Sudah sekitar 2 minggu hidupnya terasa hampa. Kemarin dia mendapatkan surat dari Hamai Misa beserta tiket konsernya yang akan diadakan hari Sabtu di minggu ini. bukan hanya dia saja yang diundang, Kazuki juga diundang olehnya. Dari dulu sampai sekarang, mereka berdua selalu diundang ke konser milik Hamai Misa. Dan untuk kesekian kalinya, hari ini –Sabtu sore– dia memilih-milih baju yang tepat untuk ia kenakan nanti malam. Dari dulu sampai sekarang ia selalu bingung untuk menggunakan baju apa untuk datang ke konser Misa. Setelah menghabiskan waktu sekitar setengah jam untuk memilih baju, dia pun berangkat bersama Kazuki yang sudah lama menunggunya di bawah sambil mengobrol dengan kakaknya Kahoko.

Mereka berangkat dengan mobil milik Kazuki. Dulu mereka biasa berangkat bertiga tapi sekarang mereka hanya berdua. Sesampainya di gedung konser berlangsung. Mereka berdua cepat-cepat turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam gedung. Kazuki menyalahkan Kahoko karena terlalu lama memilih pakaian dan membuat mereka berdua telat. Kahoko hanya tertawa dan meminta maaf. Sesampainya di dalam mereka langsung mencari tempat duduk yang sudah dipesan oleh Misa.

Dari terang, suasana di dalam gedung diganti menjadi gelap. Hanya ada satu lampu yang menyala. Lampu itu khusus untuk menyorot Misa yang ada di atas panggung. Seketika Misa menekan tuts pianonya, semua orang tidak bisa melepaskan pandangan mereka dari Misa. Mereka semua seakan-akan terhipnotis dengan musik milik Misa. Ia memainkan 3 lagu. Dan kali ini adalah lagu terakhir yang akan ia mainkan.

"Hihara-senpai, kira-kira lagu apa yang akan Hamai-san mainkan ya?" Kahoko bertanya ke arah Kazuki yang sama-sama antusias.

"Di sini gak ditulis," kata Kazuki sambil menunjukan kertas daftar lagu yang dibagikan di pintu masuk tadi. "Tapi katanya, dia akan duet dengan violinist terkenal yang juga merupakan anggota keluarganya." Tambah Kazuki.

"Ah, pasti dengan suaminya!" jawab Kahoko.

"Yap, pasti! tapi bisa saja dengan saudara Tsukimori-kun. Dia kan juga pemain biola."

"Ah benar juga," Kahoko mengangguk setuju. Kahoko tahu, kalau orang yang ia cintai memiliki saudara. Tapi belum pernah sekalipun juga ia bertemu dengannya. Padahal Kahoko sudah sering kali datang bermain ke rumah mereka tetapi ia tidak pernah bertemu dengan saudaranya itu.

"Nah sebentar lagi akan di mulai."

Misa masuk terlebih dahulu dan memberi hormat kepada para penonton. Kemudian dia mengarahkan tangannya dan para penonton melihat apa yang ingin ditunjukkan oleh Misa. Sesoarang pria berambut biru cerah dengan kulit yang pucat berjalan menuju Misa sambil membawa biolanya.

"R-Ryo-kun," Kahoko terkujut melihat sosok itu. Kazuki yang di sebelahnya sama terkejutnya dengan Kahoko.

Kahoko memperhatikan permainan mereka berdua dengan serius. Terutama terhadap orang yang tadi ia sebut 'Ryo-kun' kun itu. Dia meneteskan air matanya ketika semua orang memberikan tepuk tangan yang begitu meriah untuk penampilan terakhir itu.

Seperti biasa, mereka berdua selalu ke dressing room untuk bertemu dengan Misa. Kahoko sangat tidak sabar untuk bertemu dengan orang itu. Kazuki juga sama tidak sabarnya dengan Kahoko.

Sesampainya di ruangan yang dituju, Kahoko langsung melihat orang itu. Ia langsung berlari dan memeluk orang itu.

"Ryo-kun, ternyata kau tidak pergi..." begitu katanya di tengah-tengah pelukan erat yang ia berikan.

"..." orang yang di depannya hanya diam.

"Aku tahu, kau sebenarnya tidak meninggal bukan?" Kahoko berbicara sendiri.

"Hamai-san, apa itu benar-benar..." Kazuki bertanya pada Misa yang menatap sedih ke arah Kahoko. Misa menggelengkan kepalanya

"Kalau begitu, dia... jangan-jangan saudara kembar Tsukimori-kun?" Kazuki nyaris berteriak di kalimat terakhir itu, namun masih ia tahan. Kahoko yang mendengarnya tersentak dan berhenti berbicara.

"Kau bukan Ryo-kun?" Kahoko mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke arah mata orang yang ada di hadapannya saat ini. Wajahnya sama persis dengan orang yang ia cintai itu, hanya saja tak ada senyuman sedikit pun atau kehangatan sedikit pun. Walaupun orang yang ia cintai sama-sama memiliki wajah pucat itu, tapi masih ada kehangatan yang bisa ia rasakan. Berbeda sekali dengan orang yang ada di hadapannya saat ini.

"Jangan samakan aku dengan orang itu," Dia mendorong tubuh Kahoko dan membuatnya menjauhi dari dirinya. Untungnya Kazuki langsung menahan tubuh Kahoko sehingga ia tidak terjatuh.

"Len!" Misa langsung berjalan ke arah Len. "Kau seharusnya tidak bersikap kasar padanya,"

Len hanya diam dan duduk tanpa menhiraukan omelan dari ibunya tersebut. Ia bersikap seakan-akan tidak ada yang terjadi dan dia tidak melakukan kesalah sedikit pun.

"Kaho-chan? Kau tidak apa-apa?" tanya Kazuki.

Kahoko terlihat begitu kaget. Jantung berdetak begitu cepat. Dan matanya tidak bisa lepas dari Len. Air matanya perlahan-lahan mengalir. Dan tubunya menjadi lemas.

Kaget? Jelas sekali ia kaget. Bagaimana tidak, bisa melihat seseorang yang sangat ia rindukan setiap harinya. Seseorang yang benar-benar sangat ia sayangi dan ia cintai.

Senang? Tentu dia senang. Bagaimana bisa ia tidak merasa senang melihat orang itu.

Sedih? Ya, dia merasa sedih. Ternyata itu bukan oang yang ia cari. Wajahnya memag sama, tapi ia bisa merasakan perbedaan yang sangat jauh dari orang yang ia cari-cari.

Seharusnya dia ingat. Seseorang yang telah tiada tidak pernah bisa kembali lagi. Walaupun dia hiduo di dunia di mana sihir itu benar-benar ada. Hal yang sangat tidak mungkin itu tidak akan pernah bisa terjadi. Itu sesuatu yang sangat-sangat tidak mungkin untuk terjadi. Tetapi tetap saja, walaupun ia tahu itu tidak akan pernah terjadi. Ia masih terus memohon untuk bertemu dengan orang itu sekali lagi.

"Hamai-san, kami pulang dulu..." Kazuki membungkuk dan menahan tubuh Kahoko agar tidak terjatuh.

Saat sudah berada di dalam mobil, Kahoko terus melihat ke arah jendela.

"Ternyata, memang tidak mungkin ya..." Kahoko tersenyum lesu.

"Kaho-chan..." Kazuki melirik ke arah Kahoko.

"Aku benar-benar bodoh... beranggapan kalau dia masih hidup..." Kahoko memejamkan matanya.

"Itu wajar... kau benar-benar mencintainya bukan?" Kazuki melihatnya sedikit tersenyum,

.

.

.

Kini Kahoko sudah berada di kamarnya dan juga sudah mengganti pakaiannya.

"Hh," akhir-akhir ini Kahoko menjadi sangat sering menghela nafas.

Ia merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya. Semoga malam ini ia mendapatkan mimpi indah.

.

.

.

"Apa Kaho-chan akan baik-baik saja ya?" Kazuuki bertanya-tanya sambil menatap langit-langit kamarnya. Ia sudah sampai dirumahnya. Setelah makan malam dan melakukan perebutan jatah lauk-pauk yang ada bersama kakaknya –seperti biasa–, ia langsung bersiap-siap untuk tidur.

"Dan pria itu..." Kazuki mengingat kejadian barusan. Dia sudah tahu kalau Tsukimori Ryoutaro, sahabatnya, memiliki saudara. Dan seingatnya, Ryo pernah bercerita kalau orang itu adalah saudara kembarnya. Walaupun mereka kembar, hubungan mereka sangat tidak baik. Tapi berhubung saat itu Kazuki sedang asyik menghabiskan bentonya, ia pun tidak mendengar cerita Ryo dengan serius dan dengan mudahnya melupakan hal-hal itu.

"Seharusnya aku mendengarkan Tsukimori-kun dengan serius..."

"Hh, waktu berjalan begitu cepat ya..." katanya sambil menengok ke arah foto yang berada di atas meja kecil di sebelah tempat tidurnya. Foto mereka bertiga –Kahoko, Kazuki, Ryo– saat ia lulus SMA.

"Semoga kau bisa mendukungnya untuk selalu kuat dari sana..." katanya sebelum memejamkan matanya.

Untuk Kazuki sendiri, kehilangan seorang sahabat dekat sangat begitu berat. Jangankan seorang sahabat, ia saja sangat tidak kuat saat anjing berharganya meninggal dunia. Walaupun mungkin rasa sakit yang dirasakan olehnya dengan Kahoko jauh berbeda, tapi tetap saja yang namanya kehilangan itu memang menyakitkan walalu kalian mencoba untuk mengelak.

Sebelum Ryo meninggal, tepatnya dua hari sebelum malam tahun baru. Ryo berkata padanya saat di warung ramen, ia ingin melamar Kahoko saat malam tahun baru di bawah langit malam yang penuh dengan warna –Kahoko belum mengetahui hal ini sama sekali–. Seingat Kazuki –ia terlalu sibuk menghabiskan ramen jadi hanya melihat sekiilas–, wajah Ryo saat itu sangat bahagia. Walaupun sudah sering Kazuki melihat Ryo tersenyum atau tertawa, untuk pertama kalinya ia melihat Ryo terlihat senang sekaligus malu-malu seperti saat itu. Dia turut senang dengan niat Ryo itu. Lagi pula sudah 3 tahun mereka menyandang status pacaran.

Saat malam tahun baru, Kazuki yang memiliki niat untuk pergi makan karena banyak toko yang memberikan diskon besar-besaran saat malam tahun baru. Tapi saat ia sedang mengemudikan mobilnya, banyak orang-orang yang berjalan bahkan berlari menuju satu titik yang mungkin juga adalah penyebab kemacetan ini. Karena penasaran dengan apa yang terjadi, ia pun keluar dari mobilnya dan melihat sebuah mobil hitam yang ia kenali. Saat ia melihat plat mobilnya, ia langsung terkejut dan berlari mendekat.

Dugaannya benar, sahabatnya menjadi korban tabrakkan. Mobilnya menabrak truk yang ukurannya berkali-kali lebih besar di bandingkan dengan mobil yang dikendarai oleh sahabatnya itu. Ia tidak membuang banyak waktu utuk terkejutt. Ia langsung menelpon salah satu kouhai-nya di SMA, Kaji Aoi yang memiliki rumah sakit terbesar di sini –bahkan di seluruh Jepang–. Ia meminta beberapa orang untuk membantunya membawa Ryo masuk ke dalam mobilnya. Orang-orang yang berada di dalam mobil lainnya memberikan ruang untuk membiarkan mobil milik Kazuki berjalan.

Ia terus berdoa di dalam hatinya agar semuanya masih belum terlambat. Sesampainya di rumah sakit, ia memanggil para perawat untuk membawa Ryo ke ruang UGD. Kazuki menunggu kepastian dari dokter yang menangani Ryo. Ia menunggu di sana bersama Aoi sambil menjelaskan apa yang terjadi. Beberapa saat kemudian dokter pun keluar. Dan menyatakkan kalau Ryo mengalami luka dalam yang sudah tidak bisa dihindari lagi efek kelanjutannya –kematian–. Ia pun langsung menghubungi Keluarga Ryo dan mengabarkan bahwa Ryo telah meninggal dunia. Ia juga melakukan hal yang sama pada Kahoko.

Ia baru ingat kalau hari ini seharusnya menjadi hari yang indah untuk mereka berdua. Dan ia juga baru ingat kalau saat ini Kahoko sedang menunggu Ryo sendirian. Ia sudah mendapatkan gambaran apa yang terjadi pada Kahoko saat ini sesaat mendengar suara Kahoko tadi di telepon. Dengan segara ia pergi mencari Kahoko di pusat kota.

Tak lama kemudian, ia menemukannya. Kahoko yang sedang meringkuk dengan iringan suara kembang api sekaligus tawa dari sekitarnya. Ia merasa sedikit kesal dengan suasana saat ini. suasana ini pasti membuat Kahoko menderita. Yang harus ia lakukan saat ini adalan membawa Kahoko pergi dari tempat ini. Ia berencana membawanya ke rumah sakit, tapi mengetahui tubuh Kahoko yang sudah lemas dan kedinginan itu, ia berinisiatif untuk membawa Kahoko pulang ke rumahnya.

Sepanjang perjalanan pulang setelah mengantarkan Kahoko, Kazuki terus berkata pada dirinya.

'Andai aku turun dari mobil lebih awal untuk mengecek apa yang terjadi, mungkin semuanya bisa berubah.'

Tapi walaupun dia turun dari mobil lebih awal atau bahkan tahu kalau hari itu Ryo akan mengalami kecelakaan kemudian meninggal dunia, dia tidak akan bisa menghindari Ryo mengehadapi kematiannya. Dan mungkin itu lebih menyakitkan untuknya, tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolong sahabatnya padahal sudah tahu apa yang akan terjadi.

"Argh... Aku tidak bisa tidur!" Kazuki membuka matanya.

"Hanya Tsukimori-kun yang satunya yang bisa membuat Kaho-chan tidak sedih... andai saja sifat mereka sama.."

"Aku harus tidur! Bisa-bisa besok aku kesiangan," Kazuki memejamkan matanya dan memaksa dirinya untuk tertidur.

.

.

.

A/N: Chappie dua udah selesai... Untuk typo dan sebagainya bakal diperbaiki di chapter kedepan. Thx banget buat yang udah baca dan juga ngeriview. Yah, untuk lebih mengahayati aja, coba dengerin lagu Apres un Reve-nya aja sekalian. Tapi jangan yang versi Kanalulu-sensei, bukannya sedih malah bawaannya mau ketawa. Kritik dan saran sangat w terima dengan senang hati. Jaa!