pertama-tama

makasi atas reviewnya.

GintokiNotKintoki

iya iyun akan berusaha.

yosh semangat!

ai lavender

iya iyun berusaha update cepat hehe

sasuke udah muncul tapi,belum keliatan

nanti di chapter lanjutan pasti banyak :-)

Lollytha-chan

salam kenal jugaa :-)

jangan bosen baca fic ini ya

K. Haruna

arigatou gozaimasu

saranya.

iyun akan berusaha lebih baik

baca fic nya terus ya,biar bisa kasih saran lagi hehehe

makasi


Discalimer: Kishimoto Masashi

Warning: AU. OOC

Genre: General/Romance

Rate: PG-13/T

Sasuhina

Aku memasuki kelas perlahan,membuka pintunya.

aku berjalan ke tempat duduk ku yang ada di pojok kelas.

Mempersiapkan buku yang akan di pelajari nanti.

Murid yang lain berceloteh ramai. Sedangkan aku lebih suka melihat dan ikut tertawa kecil.

Aku tidak begitu suka menarik perhatian.

Pintu di buka dan anak-anak lain kembali ke tempat duduknya.

Kakashi sensei masuk dan siap untuk memulai pelajaran.

Aku menengadahkan kepalaku dan mendengarkan baik-baik.


Bel berbunyi nyaring menandakan jam istirahat telah berbunyi.

Aku menarik bento dari tasku dan siap menyantapnya lalu-

"hina-chan"teriaknya.

Aku menengadahkan wajahku melihat sosok sahabat ku.

Aku melambaikan tanganku dan tersenyum sebagai jawaban.

"ayoo kita keluar di kelas sebelah sedang ramai sekali."

"ma-maaf ten ten chan ta—

"iya iya aku tau,kau tidak menyukai kebisingan kan?" potongnya.

"ayo kita makan disini saja,siapa peduli dengan sasuke itu."

Aku menatapnya bingung. Tapi,aku sedang tidak ingin memperdulikanya. Aku tersenyum melihat cara ten ten makan,sangat lahap.

Aku harap tidak ada hal yang buruk yang terjadi.

Hatiku bergemuruh aneh,aku punya firasat yang tidak baik. Untuk urusan firasat aku cukup beruntung.

Tapi,kali ini aku harap tak ada hubunganya denganku. Toh,kelas diruang sebelah selalu ribut. Naruto kun,sasuke dan sakura disana,pasti mengundang perhatian.

Begitu kelas masuk. Banyak anak yang berbisik-bisik satu sama lain.

aku merapikan buku-buku dimejaku.

"kau tau,aku tak pernah melihat sasuke bertindak seperti itu?"

"ya kau benar kasihan sekali,anak yang menulis surat cinta itu,dia pasti malu sekali."

Aku menangkap pembicaraan mereka perlahan.

Aku hanya dapat menangkap beberapa kata 'sasuke' dan 'surat cinta'.

dingin menjalari tubuhku. Apa mungkin surat cinta itu telah diketahui satu sekolah?

Ta-tapi pasti akan ada yang tau kalau itu tulisan tanganku. Bagaimana kalau ada sampai yang salah sangka,apa yang harus kulakukan?

Aku menundukkan kepala perlahan.

Ta-tapi aku sudah berjanji pada sakura-chanuntuk tidak mengatakan kepada siapapun. Aku tak mungkin mengecewakan sakura,aku tidak bisa.

Tenanglah hinta kau hanya terlalu cemas. Tidak akan ada yang terjadi.


Nyaring bel pulang mengagetkanku dari lamunan. Aku menghela nafas panjang.

Percayalah hinata tidak aka nada apa-apa.

Tapi,dari tadi aku merasakan tatapan curiga dari teman-teman di sekelilingku.

Aku hanya menunduk lebih dalam

Aku bangkit berdiri.

Aku berusaha memperlambat langkahku.

Aku berharap benar-benar hilang sekarang,aku sangat takut akan tatapan itu.

Aku berharap ten ten akan ke kelasku. Namun,aku justru mendengar keributan lagi dari luar kelas.

Aku menggeser pintu perlahan.

Murid murid berdesakan di lorong.

Aku memandang ke sekeliling.

Kakiku tak mampu bergerak.

Kakiku mati rasa.

Darahku mendesir cepat.

Aku mendekatkan langkahku perlahan masih dengan ketakutan yang sama.

Di dinding lorong telah di tempel copy dari satu lembar kertas.

Aku mengenali kertas itu,tulisan itu.

Itu puisi cinta ku.

APA YANG TERJADI?

Mengapa puisi ku bisa tersebar di seluruh sekolah.

Lututku lemas tak berdaya tak mampu lagi bergerak.

"hina-chan,bukankah ini tulisanmu?"ucap ten ten.

Aku membalikkan tubuhku ke arah suara.

Dari balik kerumunan orang-orang aku melihat ten ten sedang memegang kertas yang sama.

Melihatku dengan tatapan bingung dan penuh pertanyaan.

Aku memfocuskan ke kertas yang telah di pegang oleh semua orang.

Puisi ku,tulisan tangan ku,karya ku.

Aku berlari menjauh dari kerumunan. Pikiranku meneriakan perintahnya untuk berlari menjauh.

Namun,aku merasakan sebuah tangan menarikku,menghentikanku.

Dingin dari tangan itu menyentakku. Berkebalikan dengan perintah pikiranku.

Tubuhku berhenti.

"ini tulisanmu?"Tanya suara dingin itu.

Aku berharap aku tidak tau,aku tidak mengenal suara itu.

Ya aku mengenal suara itu.

Aku sangat mengenal suara itu.

uchiha sasuke

Ia menyentuh pundakku dan menarikku menghadap ke arahnya.

Aku menutup mataku dalam-dalam.

Aku tidak dapat merasakan apapun kecuali bunyi detakan jantungku yang berdebar sangat cepat dan

rasa dingin yang dialirkan tanganya ke sekujur tubuhku

"lihat aku."ucapnya.

Aku dapat merasakan hembusan hangat napasnya,aku memaksakan menatapnya.

Aku menengadahkan wajahku.

Aku melihat mata onyx nya menatapku dalam.

aku menyusuri kesempurnaan garis wajahnya.

Kulit pucatnya terlihat sangat indah dibawah rambut gelapnya.

Matanya kini menunjukan emosi,emosi yang tidak ku kenali.

Marah,kecewa,sedih dan ada sedikit bahagia.

Ia menarik tanganku menjauhi kerumunan.

Aku merasakan tanganya yang menarikku kasar.

"sa-sasuke kun maa—"

Kata-kataku terpotong oleh tatapan naruto yang menatapku dengan sedih.

Aku melihat sosoknya,yang berlalu.

"maafkan aku naruto."batinku.

Ia menarikku ke halaman belakang sekolah.

Aku tidak dapat berkata apa-apa.

Aku tidak tau harus berkata apa.

Sekarang ia bersandar pada pohon oak besar.

Kakinya melipat santai.

Namun,matanya tak pernah lepas dari ku.

Aku menarik napas dalam.

Menunggunya bicara.

Aku menghitung perlahan,menggerakan kakiku gugup.

Aku tak berani menatap sosoknya.

Tapi aku yakin sedari tadi ia tak berhenti menatapku.

setelah hening yang cukup lama.

Ia menghela nafas berat dan memulai bicara.

"kenapa kau tidak pernah bilang kalau kau mencintaiku?"ucapnya.

Aku tersentak mendengar ucapanya. Aku menatapnya bingung.

"a-aku—"ucapku perlahan.

"aku mengira kau menyukai naruto." Potong sasuke.

Aku menatapnya dan melihat luka di wajah indahnya.

Aku menunduk gugup,aku tidak percaya aku telah melukainya.

Kami,apa yang harus aku lakukan!

"a-aku – "

"kau tidak perlu membuat surat cinta seperti itu,kau cukup—"

ia bergerak mendekat,menundukan kepalanya ke arah ku.

Jarak antara wajahku dan wajahnya hanya beberapa sentimeter.

Ia membisikannya pelan—

"katakan kau mencintaiku."lanjutnya.

Ia menyunggingkan senyum iblisnya.

Suara tawanya. Mengirimkan getar ke seluruh tubuhku.

Jantungku berdetak diluar kendali.

Ia hanya tertawa kecil melihat reaksiku.

Aku mulai menyusun pikiranku yang berteberan berantakan.

Perlahan aku mengatur nafasku.

Namun sekarang ia sudah berjalan menjauh.

Aku berbalik untuk memanggilnya.

Namun,sekarang aku kehilangan kata-kata.

Aku hanya melihat sosoknya berjalan menjauh.

Melihat bayangan dirinya,kesempurnaanya.

Oh tidak!sadar hinata!

Aku mencintai naruto-kun,kan?

"ya aku mencintainya,menurutku aku mencintainya."batinku.

Namun mengapa jantungku berkata lain.

Aku menyentuh dadaku perlahan.

Semakin aku membayangkan sosoknya.

Jantungku tak mau berhenti berdetak liar.

Aku tak mungkin mencintainya.

Iya kan?


terima kasih review nya.

ayoo review lagi

biar iyun bisa benerin fic ini.

oia,fic ini beberapa bagian berasal dari true story hehehe.

jangan lupa review ya

buat spoiler next chapter will be sasuke's pov

yoosh

Reviewnya please please nyuu~~

ありがとう