Finally, I've updated it..
It has taken so long time to typed this chapter..
So, I beg y'all an apologize for waited this chapter.. (padahal gak ada yang nunggu haha)
Summary:
Tidakkah ia tahu bahwa aku masih sangat mencintainya?
Apakah mereka tidak mengerti bahwa ada seseorang yang sedang menahan sakit di sekitar mereka?
Aku sudah tidak tahan lagi menahan ini semua...
SasuSaku fic.
Warning:
- OOC
- AU
Disclaimer:
- I exactly don't own Naruto, because Mr. Kishimoto does.
Note: underline as phone's show, and italic as point of view and flashback's word.
Enjoy the story! :D
-Sakura's POV-
Matahari masih setengah terbuka hidupnya di timur langit. Waktu yang terlalu dini untukku menghampiri sekolah. Ketika aku masuk, hanya lelaki berbaju biru itu yang sudah terduduk di kelas. Ia sedang membaca buku.
Aku pun duduk di tempatku. Rasanya aku menyesal telah datang terlalu pagi. Dan ini pertama kalinya aku bisa datang sepagi ini. Semalam aku sama sekali tidak memejamkan mata. Memikirkan sosoknya.
Ia sama sekali tidak berbicara sepatah kata pun-padaku. Sedangkan di ruangan ini hanya ada kami berdua. Menoleh untuk melihatku saja tidak. Aku tahu, ia sudah tidak memberi harapan lagi untukku. Tapi ini tidak tepat. Bukan begini yang ku inginkan.
Dan lagi, seseorang yang sangat tak kuingin lihat datang ke ruangan ini-ke kelasku. Si rambut pirang itu. Aku membuat kepalaku menunduk, tidak berniat untuk melihat aksinya pada Sasuke.
"Pagi, sayang." Suara Ino itu terdengar bersemangat.
"Hn," balas kekasihnya.
"Aku belum sempat sarapan. Tolong antar aku ke kantin, ya!," ujar si pirang itu lagi. Aku benci mendengar suaranya yang terlalu manja itu.
Kulirik mereka yang berjalan keluar kelas. Aku menarik nafas panjang. Merasa lega. Tidak perlu lagi membatin untuk melihat mereka bermesraan pagi ini. Namun kutahu, ini belum berakhir.
Suara bel menandakan waktu istirahat tiba. Tenten dan Hinata mengajakku ke kantin, namun kutolak. Aku lebih memilih untuk menyegarkan pikiranku. Mungkin mempercikkan air ke wajahku adalah caranya.
Lalu aku berjalan memasuki toilet wanita yang letaknya tidak terlalu jauh dari kelasku. Namun, lagi-lagi aku tidak beruntung. Di dalam ruangan toilet ini ada wanita terpopuler di sekolahku yang juga merupakan lawanku. Ino.
Kubasuh wajahku di wastafel yang menghadap ke cermin besar. Dan di sebelahku, Ino sedang berias untuk menyempurnakan wajahnya.
Ia menyodorkanku sehelai tisu miliknya. "Ini, untuk mengeringkan wajahmu," ujarnya padaku.
Aku menerimanya, dan kuusap wajahku menggunakan tisu itu perlahan.
"Kurasa persaingan kita sudah berakhir ya, Sakura?," gerutunya nampak senang. "Aku yang menjadi pemenangnya."
"Enyahlah," balasku tidak peduli. Terlalu kesal untuk bisa membalas perkataannya. Terserah ia mau berkata apa. Ia tidak mengetahui yang sebenarnya telah terjadi. Aku lebih dulu-sempat-memiliki kekasihnya.
"Bagaimana kalau sekarang kita menjalin pertemanan lagi?," tambahnya. "Percuma saja 'kan, kalau kita bermusuhan. Sasuke sekarang sudah menjadi milikku."
"Terserah kau saja," jawabku.
Lalu Ino mengulurkan tangannya padaku sambil mengujar,"Teman?" Dan setelah kupikir lagi, pada akhirnya aku menerimanya. Kami saling berjabat tangan.
Sebenarnya aku sendiri bertanya-tanya, apakah yang telah kuputuskan ini benar? Memangnya apa gunanya aku berdamai dengan Ino? Tidak ada. Nampaknya.
Jam yang terpasang di dinding kamarku menunjukkan pukul 10 malam. Namun aku belum menyempatkan diri untuk tertidur. Tugas-tugas sekolahku yang menumpuk ini menyibukkanku.
Dan ketika tugas yang sedang kugarap sedikit lagi terselesaikan, tiba-tiba telepon genggamku berbunyi.
Ino
calling..
"Halo?," ujarku membuka pembicaraan.
"Hai, Sakura! Sedang apa kau? Sudah tidur?," balas Ino semangat.
"Mm..belum. Aku masih mengerjakan tugas," jawabku. "Ada apa kau meneleponku malam-malam begini?"
Ino menertawakanku,"Haha.. Memangnya masih musim ya mengerjakan tugas apalagi sampai larut malam begini?"
"Untukku? Iya," balasku agak kesal. Kurasa sifatnya itu memang belum saja berubah. Ino memang agak lancang jika berbicara, tidak pernah memikirkan sebelumnya apakah kata-katanya itu baik atau tidak. Tak kusangka Sasuke lebih memilih wanita dengan tipe seperti ini daripada aku.
"Oh,ya. Sebenarnya aku ingin menanyakan pendapatmu," sahut Ino membuka topik. "Tentang Sasuke."
Sasuke? Pendapat apa? Mengapa ia harus meminta pendapat padaku?
"Hah?," refleksku.
"Kau tidak keberatan, 'kan?," ujar Ino. "Jadi begini, selama kami berpacaran sebenarnya ia tidak pernah sekalipun mengajakku kencan. Menyatakan perasaannya saja ia lakukan lewat sms. Dan lagi ia tidak pernah memberikan apapun padaku, walaupun hanya setangkai bunga saja-ia sama sekali tidak pernah memberikannya. Sebenarnya dia itu sayang padaku atau tidak, menurutmu?"
"Entahlah," jawabku. Di balik telepon yang kugenggam, aku tersenyum. Apa yang Sasuke perlakukan padaku jauh lebih baik dari yang ia lakukan pada Ino. Pertama, ia menyatakan cintanya padaku secara langsung dan di tempat favoritku. Kedua, ia sering mengajakku kencan. Dan ketiga, ia pernah memberikan sesuatu padaku yang akan selalu menjadi objek curhatku. Boneka itu, tentunya.
Lalu aku meneruskan,"Mungkin ia memang bertipe seperti itu. Gengsi, mungkin."
Kudengar Ino menghela nafas. "Yah," gerutunya. "Nampaknya kau benar. Ya sudah, terima kasih ya! Aku mau tidur dulu, dadah!"
"Ok," balasku. Setelah kututup teleponnya, aku membereskan alat-alat tulisku yang baru saja selesai kugunakan untuk mengerjakan tugas. Kemudian aku tidur sambil mendekap boneka pemberian Sasuke dulu.
1 message
received
-Sasuke-
Hubungan kita sudah cukup.
Maaf..
"Ah?," refleksku saat membaca isi sms tersebut. Ada apa ini? Mengapa pagi-pagi begini Sasuke mengirim sms yang isinya seperti ini? Apa maksudnya?
Aku terus bertanya-tanya tentang maksud dari sms itu. Dan ketika kubalas untuk bertanya apa maksudnya, nomornya di non-aktifkan. Jantungku berdebar kencang, merasakan sesuatu yang buruk sepertinya akan menimpa hubunganku dengan Sasuke.
Di sekolah, aku datang lebih pagi. Maksudku untuk menemui Sasuke dan membicarakan sms yang baru saja dikirimnya. Aku menghampirinya yang sedang berdiri di koridor tepan di depan kelas.
"Sasuke..," ujarku lirih.
"Hn?"
"Sebenarnya maksud sms yang kau kirim tadi itu apa?," tanyaku tegang.
Sasuke tetap dingin. Ia berdiri sambil menyandar pada tiang koridor. Kedua tangannya dilipatkan pada dadanya. "Kurasa kau pasti mengerti," sahutnya.
Perasaanku makin tak enak. "A..aku..tidak mengerti," balasku. "Sebenarnya, ada apa?"
"Hubungan kita sudah cukup, Sakura." Jawabannya itu mengejutkanku. Apakah itu artinya..Sasuke..
Tanganku gemetar. Air mata-yang tadinya kupikir tidak akan tergerak keluar-berkumpul di balik kelopak mata ini. Namun seberat apapun aku tetap berusaha untuk bicara. "Kau..mau meninggalkanku?," tanyaku dengan pandangan kosong.
"Iya," jawabnya. Sasuke. Tega sekali dia. "Aku tidak bisa menyakitimu lagi. Jika aku mempertahankan hubungan ini, kau akan terluka."
"Atas dasar apa kau melukaiku jika hubungan kita berlanjut?," ujarku. Dan pada akhirnya, air mata ini sudah tidak tertahankan lagi. "Berkali-kali aku sudah bilang padamu, aku tidak pernah peduli pada anggapan orang lain yang akan menyudutkanku! Aku sudah menurutimu untuk menyembunyikan hubungan kita. Lantas apa lagi yang harus dipermasalahkan?"
Sasuke berjalan meninggalkanku. Langkahnya ringan sekali. Ia bahkan tidak menggubris pertanyaanku. "Kita jalani saja hidup kita masing-masing," sahutnya dingin. Perlahan aku melihatnya menjauh. Dan semakin jauh dariku.
"Sasuke..," lirihku sambil menangis.
"Sasuke..," ujarku sambil membuka mata perlahan. Kurasakan saat ini tubuhku terbaring, dan masih mendekap boneka pemberian seseorang yang sangat kucintai itu.
Aku memimpikannya. Kejadian itu. Kejadian ketika ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya denganku.
Kupaksa tubuh ini untuk beranjak duduk. Hati ini rasanya perih sekali. Kenapa aku harus memimpikannya? Aku menangis. Tertunduk. Terluka.
-Sasuke's POV-
"Hey, Sasuke!"
Tidak salah lagi. Suara si rambut kuning itu. Naruto. Menyebalkan sekali.
"Bagaimana hubunganmu dengan Ino? Lancar, 'kan? Hehe..," ujarnya.
"Hn."
Ia menambah ocehannya,"Ingat, ya!" Lalu ia memperlihatkan tangan kanannya yang terbuka lebar, menandakan angka 'lima'.
-FLASHBACK-
"Dasar pecundang," ujarku pada si rambut kuning yang menantangku untuk bertanding basket. Tentu saja ia pasti akan kalah. Aku dijadikan maskot tim basket sekolah, sedangkan anak itu..tidak. Menjadi anggota tim basket saja tidak.
Naruto berperingai padaku. "Huh, terserahlah!," gerutunya. "Aku akan mengalahkanmu, Sasuke."
Aku tertawa kecil. Lucu sekali dia. Berkali-kali menantangku bertanding, namun tidak pernah sekalipun ia bisa memenangkannya.
"Kali ini, jika aku kalah aku akan melakukan apapun yang kau ingin kulakukan," sahutnya. "Tapi jika kau yang kalah, kau harus memenuhi permintaanku."
"Ok," balasku.
Di lapangan basket sekolah yang cukup luas, aku dan Naruto bersiap-siap untuk bertanding. Dan kami memilih sore hari agar tidak banyak yang melihat.
"Kau siap?," ujar Naruto bersemangat.
"Hn."
Dan kami memulai pertarungan. Di koridor yang mengelilingi lapangan, segelintir siswa menyaksikan kami bertanding.
"Kau kalah, Sasuke," ujar Naruto sambil terengah-engah karena kelelahan.
Sial. Aku kalah. Untuk pertama kalinya aku dapat dikalahkan oleh anak seperti itu. "Baiklah, apa yang kamu mau dariku?," ujarku.
"Aku ingin kau sedikit saja menghapus image sebagai lelaki yang akan menjadi single seumur hidup," jawab Naruto.
Aku mengerutkan dahi. "Maksudmu?"
Naruto pun menjelaskan,"Kau harus memacari salah satu siswi yang menyukaimu di sekolah ini. Jika kau bingung memilih karena banyak sekali siswi yang memujamu, diantara Ino dan Sakura saja."
Sakura adalah pilihan yang tepat, karena ia memang sudah menjadi milikku sebelumnya. Aku merasa sedikit lega.
"Eh, tapi..," potong Naruto yang kembali membuyarkanku. "Aku tidak mungkin mengijinkanmu untuk berpacaran dengan Sakura. Karena aku juga menyukainya. Hehe.."
"Jangan banyak basa-basi, katakan saja siapa yang harus kupacari," sahutku kesal.
Naruto tersenyum lebar. "Ino," ujarnya. "Dan kau harus memacarinya lima bulan."
Apa? Naruto lancang sekali. Tidak mungkin aku menduakan Sakura. "Kurang ajar kau!," gerutuku. Aku mendekati Naruto dan bersiap-siap akan memukulnya. "Aku tidak mau."
"Berarti kau yang pengecut," balasnya. "Hanya lima bulan, Sasuke. Ingat ya, minggu depan kau harus jadian dengan Ino. Kalau tidak, seumur hidup di mataku kau hanyalah seorang pengecut."
Tangan kiriku menarik kerah Naruto, dan tangan kananku sudah dilayangkan untuk memukulnya.
"Tapi aku.." Aku menghentikan perkataanku yang tadinya akan mengatakan bahwa aku sudah jadian dengan Sakura. Tidak mungkin aku mengatakannya. Aku menurunkan tanganku. Lalu meninggalkan Naruto.
Kupikir, jika aku berkata yang sebenarnya pada Sakura dan menduakannya-itu tidak mungkin. Bagaimanapun ia pasti akan terluka. Kuputuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya-semoga saja sementara.
-FLASHBACK ENDS-
"Lima bulan," ujar Naruto.
-TBC-
Thanks for read!
Gimme a review, please? ;)
xoxo
