crownacre, 2015
TWIN: OFFEND
"Terlahir kembar memang menyulitkan."
Lee Jihoon, Lee Woozi
Brothership with T rated
everything in the story is mine except the cast
don't like one or all of the story? don't read.
note: hanya di part ini Woozi kekasih Seungcheol. Seungcheol hanya mentioned.
Jika orang mengatakan bahwa kembar itu semacam pinang dibelah dua, maka Jihoon akan dengan senang hati berteriak tidak pada yang mengatakan hal itu. Jihoon bersumpah dirinya bukan orang yang semacam Woozi, seseorang dengan senyuman dan penuh aegyo manis jika berada di dekat orang yang disayang. Dirinya dan Woozi hanya dua anak dengan waktu kelahiran yang sama dan memiliki wajah yang seperti cloning namun memiliki sifat yang berbeda jauh—meski banyak yang mengatakan mereka memiliki hati yang sama namun cara yang berbeda untuk menunjukkan sesuatu.
"Kalian mirip sekali."
"Pasti banyak yang akan tertukar jika melihat kalian."
"Bagaimana bisa aku sulit membedakan kalian?"
"Apa kalian bukan satu orang yang sama?"
Jihoon masih ingat itu, semua rentetan kalimat yang dikatakan orang saat pertama melihat mereka. Namun nyatanya itu nihil, tidak terbukti setelah semua orang berada dalam satu dunia dengan Jihoon dan Woozi. Dua saudara kembar yang benar-benar mirip ini sekaligus menjadi saudara kembar yang berbeda jauh. Meski berwajah sama, semua orang akan langsung tahu siapa yang ada di hadapan mereka jika sudah disapa, mengeluarkan suara, atau melakukan gerak-gerik khas yang masing-masing dari mereka miliki.
Tapi, bukan pendapat orang tentang kemiripan mereka dan perbedaan mencolok yang menjadi masalah Jihoon. Kali ini masalah Jihoon adalah saudara kembarnya.
Jihoon terlahir sebagai kakak dan memiliki sifat yang nyaris mirip ayahnya, seorang laki-laki sungguhan. Ia mahir bela diri dan melindungi orang-orang terdekat. Woozi? Woozi benar-benar menuruni sifat ibunya yang sangat lembut dan penyayang.
Bukan, bukan suatu sifat lembut yang membuat Jihoon kesal, yang membuat Jihoon kesal adalah betapa penyayangnya Woozi!
Woozi adalah kekasih dari Choi Seungcheol, seorang berandal sekolah yang satu tingkat lebih sangar dibanding Jihoon. Beberapa kali jika dirinya dan Woozi pulang bersama, beberapa siswa sekolah sebelah akan menghalangi mereka dan menertawakan dua laki-laki bertinggi sederhana dan wajah imut tengah berjalan hanya berdua. Woozi ketakutan, tentu saja, tapi Jihoon yang ahli bela diri tidak merasa takut, ia siap memukul dan menghajar habis orang yang ingin menyalurkan dendam mereka lewat adik kembarnya. Sayangnya, tiap dirinya akan memukul, Woozi yang bersembunyi di belakangnya akan berteriak 'jangan' dan memberi tahu Jihoon bahwa melukai orang tidaklah baik.
"Kalau begitu cara apa yang perlu aku lakukan?" Jihoon mengerang frustasi saat melangkah bersama Woozi setelah sukses membuat orang-orang yang mengusik mereka pergi waktu itu. Jihoon tidak habis pikir dengan jalan pikir si-baik-hati-Woozi.
Woozi akan mengatakan bahwa Jihoon seharusnya menyerang dengan cara mengelak, bukan melukai. Woozi pikir Jihoon hanya perlu mendorong orang-orang itu menjauh, bukan menghantam habis sampai semuanya terpental jauh.
Jihoon saat itu menatap Woozi kesal dan menarik napasnya, "Kalau begitu belajarlah teknik bela diri dan lindungi dirimu sendiri!"
Jihoon bersumpah dirinya menemukan kilatan takut dan kaget dalam mata Woozi, tapi Jihoon menahan dirinya agar tidak langsung panik. Sialnya, niat untuk tidak paniknya justru membuat hati lembut Woozi tergores dan lelaki itu melangkah lebih cepat menuju apartemen.
Woozi tidak menangis ataupun menunjukkan tanda-tanda air mata di wajahnya, hanya saja sifatnya berubah menjadi lebih dingin pada Jihoon setelah pulang. Jihoon pikir Woozi hanya merajuk, tapi nyatanya sifat lebih diam Woozi berlanjut sampai esok hari.
"Bukan itu maksudku," Jihoon mengerang, menatap layar komputernya kesal karena kosentrasinya bermain game terganggu oleh Woozi yang masih merajuk padahal telah menginjak hari ke tiga. Jihoon bukan tipikal seseorang yang akan mengatakan maaf dan Woozi biasanya bukan seseorang yang mengharapkan kata maaf yang justru dengan senang hati memaafkan orang lain.
"Jihoon," suara tenang yang rasanya sudah lama tidak merambat lewat syaraf pendengarannya membuat Jihoon reflek menoleh dengan sumringah. Benar saja, Woozi tengah berdiri dengan tatapan lebih normal dan membawa dua susu kotak berbeda rasa.
Yang tengah duduk itu tersenyum, memberi kode pada kembarannya untuk masuk saja dan menepuk bangku kosong yang sudah ia tarik agar lebih dekat. Woozi menerima sambutan Jihoon dengan senyuman simpul dan menyamankan posisi pada bangku sebelah Jihoon.
"Susu," Woozi dengan manis mengulurkan satu kotak susu coklat di tangan kanannya pada Jihoon. "Untukmu."
"Kenapa?"
"Huh?"
Yang lebih tua tertawa kecil, "maksudku—kenapa memberiku susu?"
"Permintaan maaf."
"Permintaan maaf?"
"Iya," Woozi memutar matanya malas. "Jangan membuatku kesal, Lee Jihoon."
Jihoon tertawa, "Aku yang maaf."
"Aku yang mendiamkanmu, jadi aku yang maaf."
"Tapi aku—"
"Sudahlah! Ini susu coklat untukmu."
"—aku membuatmu sakit hati."
Woozi terdiam, ia mengerjap kecil saat mendengar pernyataan Jihoon. "Eoh," ia mengangguk kecil sambil menggaruk tengkuknya gugup. "Kau memang menyakiti hatiku—tapi aku terlalu berlebihan jika aku sampai mendiamkanmu. Aku meminta maaf karena tidak segera meminta maaf."
"Hey," sang kakak menatap adiknya dengan tatapan penuh arti. "Sudahlah, aku hanya terlalu khawatir padamu waktu itu" —karena aku pikir jika aku tidak menyakiti mereka, mereka akan dengan berani menyakiti adik kecilku yang begitu penyayang macam Lee Woozi, aku pikir aku seharusnya melindungimu dengan cara apapun.
Fin.
