Judul: For The First And The Last Time.

Author: Rainessia Ayumu-chan.

Disclaimer: Boboiboy dkk bukan punya saya, tapi mereka punya Animonsta xD saya cuma pinjem chara doang.

Pairing: FangYing slight FangYaya.

Genre: Drama & Angst (maybe)

Rating: T (terkadang saya bingung menentukan ratingnya xD *ditendang*)

Lenght: 2/?

Warning: gaje, alur muter-muter, OOC akut, typo bertebaran, gak sesuai EYD, DE EL EL.

Summary:Jika esok tak dapat lagi ku lihat dunia ini...

Ada satu hal yang ku inginkan darimu.

Untuk pertama kalinya, aku ingin melihat senyum indah nan tulusmu hanya untukku.

Untuk pertama kalinya, aku ingin merasakan lembutnya belaian tanganmu.

Untuk pertama kalinya, aku ingin kau mengecup hangat keningku untuk mengantarku ke tidur panjangku.

Untuk pertama dan terakhir kalinya, aku ingin memilikimu.

Walau hanya satu hari sebelum aku pergi jauh dan tak akan kembali.

.

.

.

.

.

Don't like? Don't read.

This just fanfiction.

Happy reading guys ^^

.

.

.

.

.

Still Ying POV

Pagi ini, aku terbangun dari tidurku. Saat aku hendak mendudukkan diri, aku merasakan sesuatu berada di tanganku. Segera aku menoleh ke arah tangan kananku yang seperti menggenggam sesuatu itu. Dan aku sangat terkejut saat melihat apa yang ada di tanganku itu.

"Bunga Dandelion?" gumamku. Aku melihat ke sekeliling kamar rawatku. Tidak ada siapa-siapa? Bukankah semalam Yaya dan Fang di sini? Ah pasti mereka sudah pulang.

Aku kembali menatap bungan Dandelion yang berada di genggamanku. Aku kembali teringat saat kejadia aku pingsan tadi malam. Di alam bawah sadarku, aku bertemu seorang gadis manis bernama Ayane dia mengaku sebagai malaikat penjagaku dan memberiku bunga Dandelion. 'Jangan-jangan ini bunga Dandelion yang diberikannya?' batinku terkejut.

"Ya, itu adalah bunga Dandelion yang aku berikan semalam." ucap sebuah suara yang lumayan familiar di telingaku. Aku menoleh ke samping kananku, dan benar saja dia yang muncul, Ayane.

"Kau? Kenapa bisa ada di sini?" tanyaku sambil menunjuk malaikan bernama Ayane itu. Dia terlihat risih karena ditunjuk tepat di depan wajahnya. Dia menyingkirkan jari telunjukku.

"Memangnya kenapa kalau aku di sini? Aku kan guardian angelmu. Jadi, aku yang akan menjagamu dan akan membantu membuat keinginanmu terkabuk sebelum kau pergi." jelas Ayane panjang lebar. Aku hanya mengangguk. Benarkah dia bisa membantuku mengabulkan keinginanku? Kalau iya, aku sangat berharap padanya.

"Iya, aku bisa membantumu. Memangnya apa keinginanmu?" tanyanya padaku. Aku sudah menduganya pasti dia membaca pikiranku. Dasar malaikat bodoh.

"Kau mengataiku bodoh, baiklah aku tidak jadi membantumu." ucap Ayane hendak pergi dari tempatnya duduk sekarang. Aku segera menahannya.

"Aku hanya bercanda Ayane. Baiklah, aku punya satu keinginnan. Hanya satu, yaitu aku ingin jika besok aku mati. Aku ingin bisa bersama Fang, walau hanya satu hari saja sebelum aku pergi. Aku ingin bersamanya, hanya itu keinginnanku." aku menundukkan kepalaku sambil memegang dada kiriku yang terasa sesak. Bahkan hanya menyebutkan namanya saja membuatku merasa sakit.

"Kau tak apa 'kan, Ying?" tanya Ayane sambil mengelus punggungku untuk menenangkanku. Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaannya. Aku mendengar dia menghela napas.

"Lebih baik kau jangan memikirkannya dulu. Serahkan semuanya padaku, aku akan membantumu agar bisa bersamanya seperti yang kau katakan tadi." ucap Ayane menyemangatiku. Aku menatapnya ragu. Lalu kemudian aku kembali menunduk.

"Bagaimana bisa, sedangkan Fang amat sangat menyukai Yaya," lirihku. Aku semakin menundukkan kepalaku. Ya Tuhan, kenapa rasanya sakit sekali. Sekali lagi aku mendengar Ayane menghela napas.

"Apa salahnya jika kita coba dulu? Aku yakin pasti bisa, serahkan semuanya padaku, Ying." mendengar ucapan Ayane yang begitu yakin, aku mengangkat kepalaku yang menunduk. Dan aku mendapatinya sedang tersenyum tulus, aku ikut tersenyum. Kurasa ada bagusnya jika mencoba.

"Baiklah, aku percaya padamu, Ayane."

Ying POV End.

.

.

.

.

.

Saat ini, Ying sedang duduk di kasurnya. Ia terlihat sedang menulis sesuatu di sebuah buku notes kecil. Karena terlalu serius ia tidak sadar kalau ada seseorang yang masuk ke kamar rawatnya.

"Ying?" seseorang itu memanggil Ying. Sadar ada seseorang yang datang, Ying segera memasukan bukunya ke dalam laci meja di samping kasurnya.

"Eh, Yaya ada apa?" Ying menampilkan senyumnya kepada Yaya yang berdiri di samping kanan kasurnya. Yaya juga ikut tersenyum melihat senyum Ying.

"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Yaya kepada Ying. Terlihat sekali bahwa ia benar-benar khawatir pada Ying.

"Aku sudah merasa lebih baik dari sebelumnya." jawab Ying sambil tersenyum cerah. Melihat itu Yaya bernapas lega, ia ikut tersenyum melihta senyuman secerah mentari pagi yang ditunjukkan Ying itu.

"Syukurlah, nah sekarang ayo kita jalan-jalan ke taman." Yaya mengajak Ying untuk ke taman. Namun, Ying terlihat agak ragu. Ia takut nantinya akan merasakan sakit yang ia rasakan kemarin.

"Apa tidak apa-apa?" Ying berusaha mencari alasan agar dapat menolak secara halus ajakan Yaya tadi. Karena ia tidak ingin melukai perasaan Yaya.

"Tidak apa-apa, ayo!" seru Yaya semangat sembari menarik tangan Ying. Ying hanya bisa pasrah dan mengikuti ke mana sahabatnya itu akan membawanya. 'Semoga hari ini tidak akan menyakitkan,' batin Ying.

.

.

.

.

.

Ying dan Yaya sudah sampai di taman rumah sakit. Mereka duduk di bangku bernaungkan pohon besar yang rindang. Sebenarnya Ying ingin duduk di dekat kumpulan bunga Dandelion di taman ini, namun Yaya memaksa untuk duduk di bawah pohon rindang ini. Mau tak mau, Ying harus mengikutinya.

Kalian tahu kenapa Ying ingin duduk di dekat kumpulan Dandelion itu? Sebenarnya Ying juga tidak mengerti kenapa ia ingin duduk di sana. Semenjak ia bermimpi tentang malaikat bernama Ayane itu, ia jadi menyukai bunga Dandelion.

"Ying?" panggilan Yaya membuat Ying tersadar dari lamunannya. Ia menoleh ke arah Yaya yang tengah tersenyum kepadanya.

"Ya?" sahut Ying. Melihat senyuman Yaya, entah kenapa hatinya menjadi terasa sakit. Sungguh, ia tidak tahu itu.

"Aku ingin memberitahukan sesuatu padamu," senyuman Yaya semakin lebar dan itu membuat Ying semakin sesak. Ia berpikir hatinya akan terasa sakit lagi.

"Fang, ia menyatakan cinta padaku." lanjut Yaya dengan nada girang tak terkira. Seketika Ying merasa tubuhnya kaku. Hatinya benar-benar terasa perih, matanya panas siap untuk menjatuhkan kristal-kristal bening dari mata indahnya. Namun, ia harus menahannya.

"Benarkah? Kau menerimanya?" tanya Ying. Ia menampilkan senyum palsu di wajah manisnya itu. Sakit, sungguh sangat sakit hatinya saat ini.

"Tentu saja. Dia itu baik, dan aku juga sudah lama menyukainya." jawab Yaya semangat. Benar-benar sangat semangat sampai ia tak menyadari bahwa Ying tersenyum pahit di sampingnya.

"Yaya!" dan lagi-lagi Ying harus merasakan sakit yang ia rasakan kemarin. Baru saja mereka membicarakannya dan dia sudah datang.

"Ah, Fang!" Yaya menyahuti panggilan Fang sambil melambaikan tangan. Fang berlari mendekati Yaya dan Ying. Saat telah berjarak 1 meter di depan Yaya dan Ying, Fang sedikit melirik ke arah Ying. Ia sadar bahwa Ying tengah tersenyum pahit saat itu. Namun, ia tak memperdulikan itu, ia terus berjalan ke arah Yaya.

"Mm, aku kembali ke kamar ku dulu ya? Aku merasa sedikit tidak enak badan." ucap Ying dan segera pergi dari tempat itu. Yaya ingin mengejar Ying, namun ia ditahan oleh Fang.

"Biarkan saja dulu, mungkin dia butuh istirahat." ucap Fang dan menyuruh Yaya untuk duduk kembali. Yaya hanya mengangguk dan menuruti keinginan Fang.

Sedangkan Ying, ia terus berlari melewati koridor rumah sakit dengan kristal-kristal bening mengalir di pipinya. Berulang kali ia berucap maaf kepada orang-orang yang ia tabrak saat berlari.

Saat ia sampai di kamar rawatnya, ia langsung menutup dan mengunci pintunya. Tubuhnya jatuh merosot bersandar pada pintu. Menekuk lutut dan membenamkan kepalanya. Ia menangis dengan isakan penuh kepedihan dan keputus asaan. Sakit. Sungguh sakit sekali hatinya saat ini.

Ayane, sang guardian angels-nya hanya bisa diam terpaku melihat Ying yang sedang menangis dengan isakan yang begitu pilu. Ia berpikir bahwa ia tak berguna. Ia merasa bahwa ia telah gagal.

Perlahan, Ayane berjalan mendekati Ying. Ia menyentuh lembut pundak Ying yang benar-benar terasa rapuh saat ini.

Ying mengangkat kepalanya dan mendapati Ayane sedang menunduk di depannya. Ia tersenyum pahit, sekarang ia benar-benar merasa sedih dan kecewa. Kecewa pada sang guardian angels yang tak dapat menepati janjinya,

"L-lupakan tentang harapanku. I-itu semua, hiks, h-hanya sia-sia, hiks." ucap Ying dengan isakan yang begitu memilukan. Kali ini, Ayane benar-benar merasa bersalah. Ia sungguh tidak berguna.

"Pergilah. Tidak ada yang perlu kau lakukan lagi, Ayane-chan." perkataan Ying sungguh menusuk hati Ayane. Sekali lagi Ayane merasa tak berguna. Perlahan ia mengangkat wajahnya yang tertunduk dan menatap wajah Ying yang telah basah akan air mata.

"Tidak. Aku tidak akan pergi, ini masih belum berakhir." ucap Ayane tegas. Ia yakin, pasti harapan Ying akan terwujud. Itu pasti.

"Tapi-" ucapan Ying terhenti saat melihat Ayane berdiri.

"Yakinlah. Jangan menyerah dengan mudah Ying," Ayane mengepalkan tangannya. Ia sangat bersungguh-sungguh kali ini. Ia sudah berjanji, dan itu akan ia tepati.

"Kau harus yakin." lanjut Ayane yakin. Ying menatap Ayane sebentar, kemudian ia ikut berdiri. Menghapus air matanya dan tersenyum. Kali ini bukan senyum palsu, tapi senyum manis yang ia tunjukkan tulus dari hatinya.

"Baiklah, aku tidak akan menyerah." ucap Ying semangat.

.

.

.

.

.

Malam ini, Ying kembali duduk di kasurnya sambil menatap langit malam. Malam ini langit begitu indah dengan hiasan kemerlap bintang. Sejenak Ying memejamkan matanya merasakan sejuknya angin malam yang masuk melalui jendela kamarnya.

CKLEK!

Mendengar pintu kamarnya terbuka, Ying langsung membuka matanya dan menoleh ke arah pintu. Di ambang pintu tampak seorang gadis manis beriris safir dengan rambut berwarna coklat madu.

"Eh? Mayu-Nee?" Ying terkejut melihat siapa yang datang. Yah, yang datang adalah Mayume Yuuki, sepupu Ying. Seharusnya nama panggilannya adalah Yuuki, tapi Ying lebih senang memanggilnya Mayu.

"Iya, ini aku." sahut Yuuki dengan senyuman manis terpatri di wajah manisnya. Ying segera berdiri dan berlari memeluk sepupu kesayangannya itu.

"Kenapa Nee-chan baru datang?" tanya Ying sambil terus memeluk Yuuki. Ia menangis sambil memeluk Yuuki.

"Aku sangat sibuk di Jepang dan baru bisa datang sekarang. Sudah jangan menangis, ne?" jawab Yuuki. Ia melihat Ying yang masih saja menangis. Mencoba menghapus air mata adik tersayangnya itu. Namun, Ying terus saja menangis.

"Ying?" panggil Yuuki. Ia khawatir pada Ying. Di dalam benaknya banyak pertanyaan tentang mengapa Ying menangis dengan isakan yang begitu pilu.

"Hmm," Ying hanya berguma sebagai sahutannya. Masih terus menangis dengan isakan yang begitu menyakitkan.

"Kau kenapa? Jika ada masalah, ceritakan padaku." ucap Yuuki lembut. Ia memegang kedua pundak Ying dan menatap Ying lembut.

"Aku... Akhhh, M-Mayu-Nee, s-sakit. K-kepalaku sakit..." Ying merintih kesakitan sambil memegangi kepalanya. Lagi, sesuatu yang berbau amis kembali ia rasakan keluar dari hidungnya. Ia tak sanggup menopang berat badannya dan jatuh terduduk.

Yuuki sangat panik melihat keadaan Ying saat ini. Ia segera membantu Ying untuk bangkit dan berbaring di kasurnya. Setelah itu ia langsung keluar untuk memanggil dokter.

Ying merasakan tubuhnya semakin lemah. Perlahan kesadarannya mulai hilang seiringan dengan seruan yang memanggil namanya.

.

.

.

.

.

Ying terbangun. Dan ia kembali menemukan dirinya berada di sebuah padang rumput dengan kumpulan bunga-bunga Dandelion. Ia sudah tahu ini di mana.

"Ying, masih ingat 'kan bunga Dandelion bisa membawa pergi kesedihanmu?" tanya sebuah suara yang sudah begitu familiar di telinga Ying. Yah, itu adalah suara Ayane, sang guardian angels.

"Ya, aku ingat." jawab Ying singkat. Ia memetik satu tangkai bunga Dandelion.

"Selain itu, Dandelion juga bisa membawa harapanmu kepada Tuhan, dan semoga saja Tuhan mendengarnya dan mengabulkannya." jelas Ayane sambil menatap Ying yang tengah memegang bunga Dandelion. Ying mengalihkan pandangannya dari Dandelion itu ke arah Ayane.

"Benarkah? Kalau begitu akan aku coba, semoga bisa terkabulkan." perlahan Ying mulai menutup matanya dan mengangkat bunga Dandelion itu ke depan wajahnya. Ia mulai menyebutkan kesedihan dan harapannya dalam hati.

'Tuhan, bawalah semua rasa sedihku ini. Dan aku mohon kabulkan satu harapanku ini, aku ingin bisa bersama Fang. Walau hanya satu hari sebelum aku pergi tuk selamanya,' batin Ying menyuarakan harapannya. Lalu ia meniup bunga Dandelion itu dan perlahan membuka matanya.

"Ying?" panggil sebuah suara saat Ying sudah membuka matanya. Ia menoleh dengan perlahan ke arah samping kanannya.

"Mayu-Nee?" lirih Ying. Yuuki segera memeluk Ying dengan air mata yang mengalir di pipi mulusnya.

"Ying, kau tak apa kan?" tanya sebuah suara lagi. Dan Ying sudah terlalu hafal suara siapa itu.

Kembali ia merasakan sesak di dadanya saat mendengar suara itu. Dengan perlahan air mata jatuh dan membasahi pipinya.

'Sampai kapan aku harus seperti ini?'

.

.

.

.

.

TBC

A/N: Yeeyyy! Akhirnya chap 2 selesai juga hufftt *lap keringat* hueee! Maafkan saya yang telat apdet T.T ada yang menunggu fic ini kah? (Readers: gak ada!) yasudahlah. Maaf nih kalau chap 2 nya gaje xD

Dan itu Touzaku Ayane sama Mayume Yuuki itu adalah OC saya, nyahahaha xD (Readers: gak ada yang nanya woy!)

Dan ohya, kenapa saya memilih bunga Dandelion? Karena saya menyukai bunga itu *dihajar* lagian juga ntuh bunga unik XD kalau ditiup bisa berterbangan biji-bijinya...

Ying: Wahai Author yang kelewat gaje. Kenapa aku semakin disiksa di sini! *nimpukin Ayumu*

Ayumu: Maaf mbak, ini demi kelangsungan fic ini.

Ying: Tapi kenapa aku yang disiksa?

Ayumu: Gak papa mbak sekali-sekali napa, saya kan pengen gitu bikin sesuatu yang menyiksa batin chara xD

Ying: Ya tapi nggak aku juga kalee yang disiksa *nangis ketjeh*

Ayumu: Iya maaf deh mbak. XD

Oke abaikan kegajean gak nyambung di atas. Dan sekali lagi saya minta maaf karena telat apdet mana ficnya makin gaje lagi T.T *nangis di pojokan* Dan kelanjutan fic ini tergantung pada para readers sekalian.

Saya pamit dulu oke!

Tertanda,

Rainessia Ayumu-chan.

Mind to review?