Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I do not take any profit from this story, :D it's just for fun guys.
Warning: Boys Love hardcore, Multi Chapter, Out of Character, Typo, Alternate Universe, Sequel. KakaNaru anak-anakku.
Naruto © Masashi Kishimoto
Siapa Pacarmu?
A Sequel of Friends With Benefits
Chapter 2 of 4
"Kenapa kamu tidak membuktikan pada mereka?" tanya Gaara ketika dia masuk melewati pintu depan apartemen usang mereka.
"Itu tidak terlalu penting, lagipula aku tidak ingin menjadikan Kakashi seperti sebuah piala yang harus dibangga-banggakan. Dia pacarku, bukan penghargaan," balas Naruto.
Gaara mengangguk kecil. Naruto ada benarnya tentang hal itu. Saat orang biasa pacaran dengan orang terkenal resikonya terlalu besar. Tapi bukan kah dalam setiap hubungan terdapat suka-duka. Kalau Naruto bersikap dewasa seperti ini, nampaknya dia sudah melewati banyak hal dengan pacarnya tersebut. Ah benar, mereka sudah bersama selama satu setengah tahun. Rasanya baru kemarin Gaara meminta temannya itu mengganti dirinya untuk sesi wawancara dengan Hatake Kakashi.
Ada satu hal yang mengganggu Gaara sih sebenarnya. Sampai sekarang dia tak pernah bertemu dengan pacarnya Naruto, sekali pun. Mungkin pacarnya ingin menjaga hubungan mereka tetap di bawah radar. Aneh sih, tapi itu bukan masalah Gaara. Selama sahabatnya masih bisa mengurus hubungannya sendiri, Gaara tidak akan mencampurinya. Tapi dia akan selalu ada untuk Naruto, dan Naruto tahu akan hal itu.
"Ini headphonemu," kata Gaara melepas headphone Naruto dari lehernya dan meletakkannya di atas meja.
Naruto sendiri dalam proses membaringkan dirinya ke atas sofa mereka. Itu merupakan sofa baru yang dibeli Naruto, sofa yang jauh lebih nyaman daripada sofa lama mereka dan merupakan satu dari beberapa barang baru yang ada di apartemen mereka. Melihat dari kualitasnya, sofa itu sepertinya menghabiskan banyak uang.
Tidak ada jawaban dari temannya itu, dia terlalu sibuk mengurus ponselnya. "Aku akan berada di kamarku jika kamu butuh sesuatu."
Dengan itu Gaara berjalan menuju kamarnya, mendengar Naruto menjawab, "Ya, ya," sebelum dia menutup pintu.
Melepaskan tas miliknya di lantai, Gaara berbaring di tempat tidur. Apartmen ini telah menjadi sebuah rumah untuknya, begitu juga untuk Naruto. Mereka sudah tinggal di tempat ini selama tiga tahun, dan akan segera meninggalkannya saat mereka wisuda nanti. Dia ingat saat mereka mengadakan pesta di tempat ini, dan dia tidur dengan seseorang—entah siapa, dia tak ingat lagi—namun saat pagi menjelang dan realita menghantam, rumah mereka seperti kapal pecah.
Memori itu adalah mimpi buruk. Dia dan Naruto menyeret semua teman mereka untuk membersihkan apartemen ini, padahal mereka masih kena efek mabuk semalam. Semua itu Gaara tak sanggup dengan bau di dalam apartemen mereka. Gaara tertawa kecil mengingatnya.
Dia akan merindukan tempat ini nanti. Satu tahun lagi menuju gelar akademik yang dia kejar dari dulu.
Dia baru saja memejamkan matanya saat Naruto mengetuk pintunya. "Apa?" teriaknya keluar.
"Aku akan pergi ke apartemen Kakashi, tapi aku baru saja memesan pizza. Ada uang di meja, jadi tolong bayarkan nanti ya. Kau bahkan boleh menghabiskannya kalau kau mau. Sepertinya aku tak kembali sampai larut, dan makan di sana."
Gaara mengangkat kepalanya. Saat dia keluar, Naruto sudah pergi. Dia berbaring di sofa, kemudian memilah-milah acara televisi yang akan dia tonton. Sepuluh menit kemudian, seseorang mengetuk pintu. Dia mengambil uang yang ada di meja dan pergi membuka pintu. Ternyata bukan pengantar pizza yang mengetuk pintu, melainkan Yamanaka Ino.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Gaara dengan dahi mengerut.
"Aku ingin tahu kebenarannya," kata Ino langsung menerobos masuk. "Oke, aku tahu kalau Naruto pacaran dengan orang kaya, tapi apa benar dengan Hatake Kakashi? Aku sudah mencari-cari informasi tentang Kakashi sebelum datang kemari, dan dari semua artikel bilang bahwa pria itu tak melakukan hubungan romantis dengan orang lain. Jadi aku masih tak percaya kalau Naruto bisa pacaran dengan pria tersebut." Dia duduk dengan anggun di atas sofa, yang baru bukan yang lama.
Gaara hanya menatapnya.
"Jadi?" tanya Ino.
Gaara terus menatapnya.
Ino memejamkan matanya lalu membanting kepalanya di bantalan belakang sofa. "Astaga, jadi benar ya. Ini benar-benar sulit dipercaya."
Gaara tak ragu untuk memutar matanya. "Kenapa tak dapat dipercaya?" tanyanya agak ketus.
Mungkin Ino merasakan perubahan nadanya atau apa, tapi dia membuka matanya lalu memperbaiki duduknya. "Bukan begitu, hanya saja—bagaimana mereka bisa ketemuan? Hatake Kakashi adalah pebisnis kelas atas, dan Naruto itu mahasiswa tingkat atas. Jangan bilang kalau mereka ketemuan lewat situs cari jodoh, karena ew, derajat Hatake langsung terjun bebas di mataku."
Gaara menggaruk belakang kepalanya. "Kau ingat artikel dari koran kampus tentang Hatake Kakashi, hampir dua tahun yang lalu?"
Ino mengigit bibirnya lalu melihat ke arah lain. Kemudian wanita itu mengangguk perlahan, "Yang ditulis olehmu—astaga! Jangan bilang kalau—"
"Iya, Naruto yang melakukan wawancaranya." Saat Ino menatapnya dengan tak percaya, Gaara melipat tangannya. "Apa? Aku sakit waktu itu jadi tak mungkin aku datang. Tak mungkin juga aku melewatkan kesempatan untuk dapat mewawancarai seorang Hatake Kakashi."
Ino hanya menggeleng lalu menyandarkan kepalanya. "Kisah cinta Naruto benar-benar terdengar seperti drama-drama percintaan impian semua wanita."
"Hah, kau harus melihatnya saat dia kembali waktu itu. Kukira dia dikeroyok satpam."
Seseorang berdehem di belakangnya. "Permisi. Pizza?"
"Oh." Gaara berbalik dan mengambil pizza yang ditawarkan sang pengantar. Setelah dia membayarnya, dia kemudian menatap Ino sambil mengangkat kotak pizza. "Pizza?"
"Aku sedang diet." Tapi Ino menggeleng. "Persetanlah dengan diet. Berita ini membuatku lapar."
Gaara tertawa lebar.
XxX
Naruto membaringkan kepalanya di atas perut Kakashi. Dia biarkan Kakashi dengan bermain dengan tabletnya beberapa saat, kemudian berkata, "Teman-temanku bertanya sesuatu pagi ini."
"Hm ...," jawab Kakashi. Saat Naruto memiringkan kepalanya untuk menatap Kakashi, pacarnya masih memerhatikan tabletnya.
Naruto mencolek perutnya beberapa kali sampai Kakashi meletakkan tablet tersebut, dan menatapnya. Dia nyengir. "Jadi temanku bertanya tentangmu hari ini." Kakashi melarikan jari-jarinya ke rambut Naruto. "Dan mereka tak percaya kalau kau itu pacarku."
Dahi Kakashi tiba-tiba mengerut. "Mereka tak percaya?" Naruto mengangguk. "Ah, pasti mereka tidak percaya karena mereka kira orang dengan wajah pas-pasan sepertimu tidak bisa pacaran dengan orang setampan aku kan."
"Hey!" Naruto menyikut perut Kakashi. Dengan keras. Ketika Kakashi tertawa lepas, Naruto ikut tersenyum. "Kau suka dengan wajahku ini."
"Ya, aku suka wajah pas-pasanmu. Kemari."
Naruto mengangkat kepalanya kemudian menerima ciuman Kakashi. Dia masih tidak percaya kalau Kakashi bisa jatuh cinta padanya. Bahkan hubungan mereka sudah berjalan sampai satu setengah tahun. Rasanya seperti keajaiban.
"Naruto?"
"Hm?" jawabnya dari sisi Kakashi. Dia mundur sedikit ketika Kakasih memiringkan badan ke arahnya.
"Aku tiba-tiba kepikiran sesuatu."
"Apa itu?"
"Kau mau jalan-jalan denganku di taman hari minggu nanti? Kita bisa lanjut ke karnaval di pinggir kota malamnya."
Naruto mengerutkan dahinya. "Kenapa kau tiba-tiba kepikiran hal ini? Apa ini karena pertanyaanku? Oh Kakashi, kau tak perlu melakukannya."
Kakashi menggeleng. "Bukan begitu. Setelah kupikir-pikir tadi, aku sadar kita tak pernah jalan-jalan di luar karena aku sibuk. Jadi kita seringnya menghabiskan waktu bersama di apartemenku. Kebetulan minggu nanti aku bisa menghibahkan pekerjaanku ke orang lain, jadi kita bisa jalan-jalan bersama."
Naruto tak sampai hati mengatakan pada Kakashi bahwa rencana awalnya adalah menghabiskan akhir pekan dengan menggarap skripsi. "Sejak kapan kau jadi seperti ini," tanya Naruto cekikikan. "Siapa kamu dan apa yang kamu lakukan pada pacar sadistikku?"
Kakashi tiba-tiba bangun dan mengurung Naruto di bawahnya. "Oh Sayang, aku adalah pria jahat yang telah menculik Kakashi dan berencana mengambil alih perusahannya. Dan aku beruntung menemukanmu, rubah kecil jinak di kamarnya." Kakashi menyeringai lebar.
Naruto tak tanggung melepas tawanya sekeras mungkin. Lututnya yang kebetulan sedang dilipat, tanpa sengaja menendang perut Kakashi hingga orang itu menarik napasnya kaget dan jatuh bebas ke samping Naruto. Tawa Naruto tambah keras tapi dia berusaha untuk menengok Kakashi yang belum berhenti memegang perutnya. Dia tambah tertawa.
Ketika dia bisa mengontrol dirinya kembali untuk tidak tertawa, Kakashi sudah bersandar di kepala tempat tidur sambil melipat tangannya. "Sudah puas? Ingin minta maaf?"
Naruto menyeringai lebar.
XxX
Semuanya dimulai saat Naruto bangun, berpelukan dengan Kakashi di bawah selimut tebal. Otaknya mulai bekerja, membawa ingatan demi ingatan tentang kejadian semalam. Bersama dengan ingatan itu, datang pula tanggung jawab yang mengetuk neuron syarafnya―
SIALAN!
Naruto bergerak dengan cepat, tak peduli kalau dia―sekali lagi―menendang Kakashi di perut bagian bawah hingga pria tersebut tersentak dari mimpinya. Oh tidak, Naruto tidak peduli. Dia lebih mementingkan ponselnya saat ini. Dia melihat catatan yang sudah dibuatnya, dan benar saja, jam delapan dia ada janji untuk bertemu dengan dosen pembimbing skripsinya. Dan sekarang sudah jam tujuh lewat.
Kakashi menatapnya dengan tatapan kotor, yang dibalas Naruto dengan juluran lidah dan cekikikan kecil. Persetan dengan Kakashi, skripsinya sangat teramat penting saat ini. Berkas untuk bab kedua masih ada di apartemennya, artinya dia harus mampir di sana dan datang tepat waktu di ruangan dosen tersebut.
Naruto berlari ke kamar mandi. "Maaf Sayang, tapi aku ada janji jam delapan dengan dosen."
Naruto yakin Kakashi tengah memutar bola matanya sekarang. "Sayang sekali, sepertinya aku harus mengurus kebutuhanku sendirian."
Naruto menjulurkan kepalanya dari dalam kamar mandi, kemudian melempar tatapan remeh pada Kakashi. "Jangan bohong. Kebutuhanmu sudah hilang tadi saat aku menendang perutmu. Kau pikir aku tak bisa merasakannya?"
"Oh aku bisa membangkitkannya lagi dengan segera. Terutama dengan kau berdiri di hadapanku dan melakukan salah satu keahlian yang sudah kuajarkan padamu," kata Kakashi sambil menyeringai.
Naruto memutar matanya. "Bukankah kau punya pekerjaan yang harus diselesaikan."
Kakashi tertawa lebar. "Itulah gunanya menjadi boss, Naruto. Saat tak ada hal krusial yang terjadi, kau bisa bermalas-malasan untuk sementara waktu."
"Ah sudahlah, aku harus siap-siap sekarang. Aku perlu ijazah untuk mencari pekerjaan." Dia lalu menutup pintu kamar mandi. Beberapa menit berselang, dia sudah berada dalam shower. Lalu pintu kamar mandi terbuka, dan Kakashi masuk tanpa sehelai kain pun. Naruto hanya meliriknya. "Jangan mengalihkan perhatianku. Aku serius Kakashi."
Kakashi berdiri di belakangnya, kemudian berbisik di telinganya. "Aku hanya ingin mandi, Sayang. Karena kau sangat kejam meninggalkanku di saat gairahku memuncak, jadi aku hanya ingin mandi dan berangkat kerja." Naruto bisa merasakan dua hal dari Kakashi. Satu, senyum puasnya di leher Naruto. Dan dua, ereksinya yang menyentuh bokong Naruto.
Oh ya, kalian salah besar kalian pikir Naruto tidak bisa mengendalikan nafsunya seperti lelaki mesum di belakangnya ini. Lihat saja, di akhir hari nanti siapa yang menggila duluan.
TBC
Maaf ya kelamaan. Wkwkwk, semua karena praktikum terlalu banyak jadi tambah sibuk dan gak punya waktu luang. Lebih lagi karena aku kena writer block dan sumpah jadi bingung mau nulis apa. Adegan-adegan ini aja kucoret berkali-kali karena rasanya kurang pas dengan perasaan. Bahkan sampai aku nyesel ngelanjutin ini karena rasanya pengen kisah FWB berakhir sampai di situ aja. Rasanya gak ada konflik atau apalah di cerita ini, makanya jadi malas. Tapi ya karena udah publish bakal diselesaiin (dan dibikin-bikin konfliknya).
Chapter berikutnya agak lama, mungkin rentangnya juga segini, wkwkwk, karena sibuk jadi mahasiswa tuh gini. #sedih. Btw, yang gak review di FWB, gak apa kok, ;).
Doakan saja semoga ini selesai dalam empat chapter. Dadah.
ps... Naruto semester 7 ya. kuhitung-hitung kemarin dapatnya semester segitu dari awal FWB. ... (kemarin hampir bikin dia semester empat selamanya...)
