"Oke, Granger … Sebenarnya aku…Aku sebenarnya ingin bilang kalau aku se—"

"—benarnya … Aku … aku sebenarnya …" sungut Hermione cukup sebal, menirukan gaya bicara Draco barusan yang hanya berputar-putar pada dua kata itu saja. Oh, sudah berapa kali kukatakan ia sebal? Ah, karena nyatanya ia memang sangat sebal!

'Tarik napas, hembuskan … Tarik, hembuskan …' Draco mencoba memberikan autosugesti pada dirinya sendiri, sebelum ia kembali membuka suara.

"Baiklah … Aku sebenarnya sudah lama ingin mengatakan ini." Hermione memicingkan matanya menunggu kelanjutan konkatenasi kata yang berusaha pemuda itu rajut dalam sekuplet kalimat yang kelihatannya begitu sulit diungkapkannya. "Kuharap kau mau mengerti kalau selama ini aku begitu sangat men—"

'TRINGGG!'

"Oh, Malfoy … Kurasa kau terlalu banyak menghabiskan waktumu dengan dua kata; 'aku dan sebenarnya'. Bel sudah berdering, sebentar lagi jam pertama dimulai. Sebaiknya kita bergegas menuju kelas sebelum profesor Snape mencabut habis bulu hidung kita berdua!"

.

.

Cintaku Tak Lekang oleh Tompel

.

.

Disclaimer :

Harry Potter © J.K Rowling

Cintaku Tak Lekang oleh Tompel © Ms. Loony Lovegood

Semua tokoh dalam fict ini adalah kepunyaan Bunda J.K. Rowling.

But all of idea and story, of course belong to me :)

Tak ada keuntungan material apapun yang saya dapatkan dengan menulis fict ini, semata-mata hanya karena kesenangan dan kecintaan saya terhadap serial menakjubkan "Harry Potter" beserta para tokoh-tokoh istimewanya!

.

Rated : T

Romance, Humor

Warning!

Hanya fic ringan, kok :)

AU, OOC, dsb.

Saya sudah berusaha untuk tidak typo

(tapi jika masih ada, saya sungguh minta maaf)

Humor kelewat garing, 0,00000000000001 % I mean

.

|Happy Reading, Guys But,don't like?Don't read! RnR please|

.

.

.

"Blaise, kau sudah tahu tugasmu, 'kan?" Draco Malfoy mengawasi sahabat berkulit gelapnya, Blaise Zabini, melalui ujung ekor mata peraknya. Yang ditanya hanya mengangguk mantap.

"Tentu saja, mate!"

"Bagus!" ujar ketua tim basket Hogwarts High School itu dengan nada puas. Seringai samar tercuat dari bibir setipis sari apelnya. "Dan kau, Theo?" Ia berpaling ke arah sesosok pemuda berkulit putih dengan surai cokelat pekat bermanik hijau botol cemerlang di hadapannya, persis di sebelah Blaise Zabini.

"Tak ada yang perlu kau ragukan terhadapku, sobat," jawab Theo dengan nada bangga, membuat seringaian Draco makin melebar. Ia yakin misinya kali ini akan berhasil.

'Sebentar lagi, Granger …'

.

.

-OoOoO-

.

.

"Hi, Granger!" Hermione mendongak dari sepiring spaghetti di depannya. Ia mengernyit sebentar sebelum menjawab sapaan tiba-tiba itu.

"Oh, hi, Zabini ... Nott." Ia kembali menyuapkan sesendok spaghetti ke bibir kecil mungilnya.

"Hari yang cerah, ya?" ujar Blaise Zabini sok ramah. Gadis hazel di hadapannya hanya menaikkan sebelah alisnya sebelum menyeruput orange juice-nya.

"Ah, maafkan dia, Granger. Kupikir otaknya sedang bermasalah." Theo mengambil alih setelah menyikut rusuk kiri Blaise, ia menampilkan senyum konyol lebar di hadapan Hermione yang kebetulan saat itu sedang makan sendirian di kantin sekolah. Tumben sekali sahabat berambut merah dan blonde-nya tak berada di sisinya. Tetapi tentu saja secara tak langsung, hal itu juga turut mempermudah misi kedua pemuda tinggi tegap itu.

"Oh, I see," Hermione berujar pendek. "Ada apa?" tanyanya kemudian.

"Mmh, begini," Theo memulai, menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tak gatal.

"Kau ingin menanyakan shampo yang cocok untuk rambutmu?" tebak Hermione asal yang sukses membuat Blaise Zabini terkikik-kikik geli.

"Ah, Granger … Kurasa Theo memang kutuan." Blaise menyengir kelewat lebar yang dibalas senyum tipis oleh Hermione. "Iya, kan, Theo?" Blaise menaik-turunkan kedua alisnya. "Hahahaha…Aaauuuww! Apa-apaan kau?! Sadis sekali!" Tiba-tiba saja Blaise melotot garang sembari mengelus-ngelus kakinya yang ternyata baru saja diinjak oleh Theodore Nott.

"Err, maafkan aku, guys. Tapi kurasa aku harus pergi sekarang. Aku ada kelas musik setelah ini." Hermione berdiri, merapikan tasnya sebelum melenggang pergi meninggalkan kantin. Untuk sesaat Blaise maupun Theo hanya saling berpandangan satu sama lain sebelum akhirnya menyadari sesuatu bahwa mereka gagal menjalankan misinya.

"Granger! Tunggu!"

.

.

-OoOoOo-

.

.

'Hah, dasar bodoh! Misi yang sudah kupaparkan jelas-jelas ternyata tak cukup berguna ketika sudah berada di tangan si Dongkol Duo Troll!'

Inner Draco Malfoy tak henti-hentinya mengumpat kesal ketika Theo dan Blaise datang di hadapannya dengan hanya berbekal tampang polos penuh umbaran cengiran lebar. Dalam sedetik, Draco sudah dapat menebak hasil kerja dari kedua teman berotak udangnya itu.

Coba tebak?

Tentu saja misinya gagal! Hell!

"Maafkan kami, Draco … Tapi Granger itu pergi begitu saja, padahal kami sudah mengatakan 'tunggu'," jelas Theo berusaha meyakinkan.

"Lalu?"

"Lalu dia mengabaikan kami dan berjalan penuh lenggok keluar kantin!" tambah Blaise—yang sama sekali tak menambah pengaruh apa-apa.

Dua sundulan cukup keras melayang bebas di kepala keduanya.

"Kalian memang tak pernah lepas dari kata payah!" geram pemuda pirang bermarga Malfoy itu. Dalam keadaan seperti ini, seolah-olah tompel pekatnya pun berkedut-kedut menahan amarah. Ia menarik napas sejenak dan menghembuskannya kasar.

"Well." Seringai tipis mencuat melalui bibir tipisnya. "Kalau begitu, aku yang akan terjun langsung untuk menangani Granger."

.

.

-OoOoO-

.

.

"Granger …" Rambut bergelombang Hermione berhenti bergoyang, seirama dengan langkahnya yang terhenti di tengah koridor.

"Ya, Malfoy?" jawabnya setengah tak peduli.

"A..aku ingin mengatakan sesuatu padamu."

"Katakan saja."

"Tak bisa di si—"

"DI sini atau tidak sama sekali," potong Hermione kalem.

"Kumohooon." Draco Malfoy membuat gerakan memohon yang begitu kentara dibuat-buat. Hermione memutar bola mata karamelnya jengah.

"Oh, jangan menangis di sini, Malfoy! Orang-orang akan menuduhku yang tidak-tidak!"

"Kalau begitu kita bicara di perpustakaan. Bagai—"

"Baiklah," dnegus Hermione tak sabar.

.

.

-OoOoO-

.

.

"Jadi apa yang mau kau bicarakan, Malfoy?" todong Hermione ketika mereka sudah berada tepat di dalam tengah-tengah perpustakaan. Mereka duduk di kursi sudut ruangan, di bawah bayang-bayang rak-rak buku yang menjulang tinggi.

Draco tak menjawab, ia hanya memandang Hermione dengan senyum tak wajar yang terkembang di wajahnya.

"Oh, please. Berhenti meanatapku seperti itu! Kau membuatku ketakutan!" Jemari gadis itu dengan secepat kilat mengambil asal salah satu buku dari rak kemudian menutupi setengah wajahnya. Namun seolah tak terusik, Draco tetap menjalankan aktivitasnya memandangi wajah cantik Hermione tanpa berkedip. Senyumannya bahkan tak kendur ditelan bentakan seorang Hermione Granger. Gadis itu akhirnya jengah dan menghembuskan napas keras dari lubang hidungnya.

"Baiklah, kalau kau hanya mengajakku ke sini untuk menatapku dengan pandangan menjijikan seperti itu, sebaiknya aku per—"

"Tu…tunggu!" Seolah tersadar akan Hermione yang sudah hendak beranjak, jemari pucat Draco menggaet pergelangan mungil gadis itu, membuat sang empunya hanya bisa menyalurkan beliakan mata tanda protes.

"Tunggu sebentar. A…aku akan mengatakannya." Draco terlihat menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Terus berulang-ulang hingga manik peraknya kembali menangkap gelagat Hermione dengan satu alis terangkat, seolah menuntut penjelasn.

"Umm, okay … Hey! Jangan menatapku seperti itu! Kau membuatku gugup!" tuding pemuda bersurai platina itu sesaat, Hermione kembali melakukan hobinya—memutar bola matanya sebal.

"Err, baiklah … Se…sebenarnya aku ingin bertanya sesuatu padamu. Mmh …"

"Ya?" Hermione memotong tak sabar.

"Err, maksudku, MAUKAH KAU MENJADI PACARKU?!" tanya sekaligus bentak Draco. Ia menutup mulutnya begitu menyadari kalau nyatanya ia justru terkesan marah-marah ketimbang mengutarakan perasaannya.

Hermione membeku, tercengang. Sama halnya dengan Draco yang kini merasa lidahnya seolah kelu. Dan tiba-tiba saja gadis itu justru berlari pergi meninggalkan pemuda tompel itu. Draco tak tinggal diam, kaki-kaki panjangnya pun melangkah cepat dan membawanya untuk mengejar Hermione, namun bak leopar, gadis itu sangat kencang dan cepat larinya.

"Hosh … Hosh …" Draco berhenti sejenak untuk mengumpulkan sisia-sisa nyawanya yang masih tercecer entah di mana. Ia membungkuk, menopang dirinya dengan kedua tangan yang bertumpu lutut. Namun hal tersebut sama sekali tak mengendurkan tekad seorang Draco Malfoy.

.

.

-OoOoO-

.

.

"Hermione?" Ia melongokkan kepala pirangnya ke dalam kelas—yang masih kosong, mencari-cari sosok keberadaan Hermione Granger. Kaki panjangnya kemudian masuk perlahan, menelisik setiap sudut ruangan.

"Hermione …. Where are you?"

Hening. Tak ada jawaban.

"Baikla kalau kau mau bermain-main dulu denganku." Pemuda bersorot kelabu itu menyeringai, sebelum kembali menjejali setiap sudut ruangan yang belum tersentuh.

"Aha!" pekiknya girang tatkala dilihatnya sejumput sesuatu—yang entah apa—namun diasumsikan rambut megar Hermione oleh Draco.

"Dapat kau!" Ia berteriak dan sedetik setelahnya merasa bodoh luar biasa. Ternyata itu hanya sapu ijuk! What the fuckin' hell! Draco mendengus kesal. Namun langkahnya tak goyah meskipun ia heran setengah mampus karena jelas-jelas ia tak dapat menemukan gadis itu di mana-mana, padahal dirinya sangat yakin kalau tadi Hermione jelas-jelas berbelok ke kelas sini.

Hah, satu tempat lagi yang belum ia kunjungi dalam ruangan itu. Dengan lagkah hati-hati …

Krieeettt … Brak!

"Granger!"

"Aaaarrrgghh!"

"Skakmat! Ah, kenapa aku tak terpikir kau bersembunyi di balik pintu?" Draco terkekeh sendiri.

"Le … Lepaskan aku, Malfoy!" Hermione meronta meminta Draco melepas cengkeraman tangannya.

"Tak akan aku lepaskan sebelum kau menjawab pertanyaanku!" Gadis itu mendelik. "Oh, cepatlah, Granger … Tingglal katakan 'Ya' atau 'Tidak'. Selesai."

Hermione bimbang, merasa sangat ragu untuk menjawab 'Ya' atau 'Tidak'. Meskipun hanya sesimpel itu yang harus ia lecutkan dari karotidnya.

"Err .." Gadis itu memandang gelisah ke arah jam dinding di pojok ruangan, hazelnya membulat terkejut. Sebentar lagi akan masuk jam pelajaran ketiga sementara dirinya masih berada dalam kelas ini berdua HANYA DENGAN MALFOY! Rasanya ia ingin segera kabur keluar sebelum Profesor Minerva McGonagall—guru fisikanya beserta seluruh teman sekelasnya memergokinya dalam keadaan seperti ini.

"Ya atau tidak?" desak Draco lagi.

"Ba…baiklah, AKU MAU MENJADI PACARMU MALFOY!"

BRAAAK! Pintu menjeblak terbuka.

"Cieeeeeeeeee Cieeeeee ….." Seluruh teman sekelasnya ternyata sudah menguping sejak tadi. Hell! Hermion mengumpat sebal. Wajahnya semerah bunga geranium sekarang.

"WOY! GRANGER DAN MALFOY JADIAN!" Dean Thomas menjerit tak tahu malu, membuat wajah Hermione semakin memerah.

'Oh, seseorang … Bunuhlah aku sekarang.'

.

.

-OoOoO-

.

.

Tiga hari berlalu atas insiden 'naas' yang menimpa Hermione Granger. Tiga hari tercetusnya waktu jadian mereka. Dan selama tiga hari itu pula Hermione terlihat berusaha keras menjauhi dan menghindari kekasih tompelnya—Draco Malfoy.

Draco berulang kali mencoba berbicara bahkan berkomunikasi via telepon dengannya, namun sama saja. Hasilnya nihil.

Dan entah angin apa gerangan yang berhembus siang ini hingga membawa gadis hazel itu untuk bertemu muka dengan sang kekasih yang tengah sibuk bermain gitar bersama si dongkol Theo dan si idiot Zabini di dalam ruangan kelas.

"Ekhem …" Gadis itu berdeham sebentar, meminta perhatian. Sontak Draco menghentikan permainannya lantas mendongak penuh binar bahagia di matanya.

"Oh, my lovely Granger! Akhirnya hatimu terbuka juga!" Draco menyapa kelewat senang, sementara Hermione hanya memasang ekspresi salah tingkah seraya tersenyum kecut.

"Aku mau berbicara sesuatu."

"Katakan saja, Hermione dear …" ujar Draco masih tersenyum.

"A…aku …."

"Ya?"

"A…aku …"

"Hmm?"

"A…aku. Mak…maksudku kita—"

"Selalu bersama dan saling mencintai!" sambung Draco tak jelas, Hermione hanya meringis sesaat. Jelas bukan hal itu yang ingin dikatakannya.

"Mak—maksudku, KITA PUTUS!"

DEG!

Draco merasa seolah dadanya mendung seketika, hujan deras sebentar lagi akan mengguyur hatinya yang mulanya telah dipenuhi bung-bunga cinta. Pemuda itu terlihat syok, rahangnya seolah tumpah ke lantai.

"Mak..maksudmu? ujarnya tergagap.

"Kau mengerti maksudku, Malfoy … Kita—putus. Aku memang menyukaimu, tapi …. Aku tak bisa jadi pacarmu, sungguh! Maafkan aku …" Seiring dengan perkataan menyakitkannya itu, gadis itu segera berlari keluar kelas dengan setitik air mata yang berhasil menerobos kelopaknya.

Yah, gadis itu pergi meninggalkan sang Pangeran Tompel nan tampan dengan menitipkan sejuta perih yang membekas di hatinya.

.

.

TAMAT

.

.

Terima kasih sudah membaca :) Ini 90 % diilhami dari kisah nyata, haha :3 … Awalnya niat pengin 'discontinued' fict ini. Tapi saya punya prinsip yang sudah saya tanamkan sejak awal semenjak terjun ke dunia fanfiction, sekali sebuah cerita sudah saya publish, maka saya akan menyelesaikannya hingga tamat apa pun yang terjadi (meskipun lama update hingga jamuran, prinsip saya yang jelas gak discontninued). Hehe, dan taraaaa! Akhirnya selesai juga fict ini.

Maaf ya kalau terkesan sangat abal, ini sebenarnya hanya fict ringan, kok … Jadi gimana? REVIEW? :)

.

.

Salam,

MissLoony