Let's Play The Game 2
Story by. Hitomi Shoyou
Naruto
Disclamier : Masashi Kisimoto
Genre : Crime, Humor, dan sedikit Romance (readers: mana?)
Warning: Typo, OOC, dan EYD buruk (untuk sekarang itu dulu deh. Hehe~)
"GYAAAAA!"
Setelah teriakan super kencang yang berasal dari kantor ND, para penghuni rumah di bangunan sebelah berhamburan masuk ke dalam.
BRAK
Sasori orang pertama yang membuka pintu dengan kasar. Sakura di belakangnya dan Naruto di samping Sakura masih mengigit roti sarapan paginya. Sasori dengan kemeja yang belum sempat terkancing, Sakura masih memegang hair drayernya. Mereka bertiga melihat Kyuubi yang sedang terlihat murka menginjak kepala Itachi.
"Haahhh… kukira ada apa…" Sasori kembali pergi kebangunan sebelah.
"Eerrr… apa dibiarkan begitu saja?" kata Naruto.
"Sudahlah Naruto, kau bisa ikut celaka jika Kyuubi dalam status murka seperti itu," bisik Sakura langsung menyeret Naruto.
Suara teriakan itu adalah teriakan Kyuubi. Bagaimana kau tidak berteriak saat pertama membuka matamu saat bangun tidur ada orang asing yang bahkan tidak dekat denganmu sedang tidur dengan memelukmu. Tanpa ba bi bu lagi Kyuubi segera mendorong Itachi yang masih terlihat damai dalam tidurnya dan menginjak Itachi berkali-kali. Pagi yang sial bagi Itachi…
.
.
.
Kyuubi masih terlihat tidak mood pagi ini, terlihat dari wajahnya yang terlihat menyeramkan saat sarapan. Itachi terlihat biasa-biasa saja karena ia terbangun setelah Kyuubi mengamuk dan pergi dari sana dengan sangat kesal. Bisa di katakan Itachi sudah seperti mayat jika sudah tidur, bahkan gempa sekalipun tidak mempan membangunkannya.
"Kakakmu kenapa?" bisik Itachi pada Naruto yang ada di sampingnya. Naruto hanya sweatdrop mendengar pertanyaan Itachi.
'Yang menyebabkan Kyuubi begitukan kau Itachi-nii,' batin Naruto.
"Eeerr Itachi-nii, kau sendiri tidak tahu kenapa hidungmu terluka?" tanya Naruto.
"Hmm…" Itachi mengelus hidungnya yang tertempel plester.
"Mungkin saat tidur tadi aku terjatuh karena aku bermimpi sedang terbang. Hahaha," kata Itachi
"Kau tahu Naruto? Kyuubi juga ada, dia terlihat senang sekali~" kata Itachi belum menyadari aura mematikan Kyuubi.
Berusaha mencairkan suasana yang tidak begitu 'nyaman' Sakura mempunyai ide yang memang rencananya hari ini mau dia beritahukan.
"Eto…Sasori," kata Sakura.
"Hm," kata Sasori serius membaca koran paginya di temani kopi hitam buatan Sakura seperti biasa.
"Aku..Aku…" Sakura terlihat ragu-ragu.
"Hm?" Sasori melirik Sakura dari balik korannya. Naruto terlihat penasaran juga begitu juga Itachi, kecuali Kyuubi yang masih terlihat kesal.
"Aku…Aku…Hamil," kata Sakura akhirnya menyelesaikan kalimatnya.
"Oh hamil…" respon Sasori enteng.
"HAA?! HAMIL?!" Sasori, Naruto, Itachi, dan Kyuubi berseru kompak.
Sakura mengangguk sambil tersenyum lebar.
"Yey~ aku akan jadi paman~" kata Naruto girang.
'Di umurku yang semuda ini aku jadi paman?' batin Kyuubi dengan ekspresi mendung.
"Kau tidak bercandakan?!" kata Sasori terlihat senang. Sakura menggeleng pelan masih tersenyum.
"Kalian..kalian sejak kapan menikah?" kata Itachi yang sebenarnya tertinggal hal baru lagi.
"Sekitar 1 tahun setengah yang lalu," kata Sakura.
"Oh… Selamat ya Sakura-san," kata Itachi yang mendapat balasan senyum dari Sakura.
"Kyuu, kau sebentar lagi jadi paman. Hehe~" ada makna lain dari tawa Itachi dan Kyuubi tau itu.
"Sekarang siapa yang tua eh? Paman Kyuubi~" kata Itachi.
Tepat sasaran! Ada makna lain dari tawa Itachi.
"Paman Kyuubi temani aku main~ Paman Kyuubi aku mau gendong~" Itachi berkata menirukan suara anak kecil. Tanpa Itachi sadari aura hitam menguar dari tubuh Kyuubi.
"Sa-Sasori, Sakura neechan aku berangkat duluan ya!" Naruto langsung bergegas berangkat kuliah karena dia tahu sebentar lagi pasti akan ada perang besar-besaran di rumahnya.
"Kita lanjutkan di kantor, banyak permintaan dari klien hari ini," kata Sasori menyeret Sakura. Sama seperti Naruto, ia lebih baik mencari aman.
Menyisakan Itachi yang masih berakting seperti anak kecil.
"Paman Kyuubi~~"
"MATI KAU UCHIHA!" Kyuubi sudah pada batasnya.
BRAK JDUAR GUBRAK BRUK
Benar-benar mengerikan jika seorang Namikaze Kyuubi mengamuk. Sasori yang mendengar suara keributan dari kantor ND hanya mendoakan semoga Itachi di terima di sisi-Nya.
~Let's Play The Game 2~
Naruto sedang berjalan menuju Universitasnya bersama Lee dan juga Ten Ten.
"Sudah kubilang pembunuhan itu benar-benar misterius siapa pelakunya," kata Ten Ten.
"Sejak kapan kau tertarik dengan dunia kriminal selain olah raga bela diri?" kata Naruto sambil nyengir.
Mereka sedang membicarakan kasus yang baru-baru ini cukup menyita perhatian warga Konoha. Pembunuh misterius yang sampai sekarang belum di temukan. Pembunuh professional yang bersenjatakan pedang. Mereka menjuluki pembunuh itu dengan sebutan 'Ken' karena setiap aksinya korban tewas dengan bekas sambetan pedang.
"Kasus Ken ini membuat semangat muda para polisi berkobar untuk membekuknya!" kata Lee berapi-api seperti biasa.
'Apa hubungannya…' Naruto dan Ten Ten sweatdrop melihat teman mereka satu itu.
"Kudengar kemarin Kyuubi senpai ikut dalam penangkapan peneror bom ya?" kata Ten Ten pada Naruto.
"Iya," kata Naruto mengangguk.
"Keren lho~ aku lihat dia di televisi saat di wawancara. KYAA! Kyuubi senpai~~" kata Ten Ten terlihat senang sekali. Naruto sudah tidak heran jika temannya satu itu fans berat Kyuubi. Tapi jika Naruto sengaja mengajaknya bermain kerumah untuk bertemu dengan kakaknya, gadis bercepol dua itu tidak mau karena merasa malu. Gadis aneh, batin Naruto.
"Pagi-pagi begini mendung… Membuat semangat muda surut saja." kata Lee mendongak ke atas.
"Akhir-akhir ini sering hujan sih," kata Ten Ten.
"Saat hujan melakukan latihan lari pasti keren! Benar-benar ide yang bagus! Aku akan mengajak pamanku juga!" kata Lee.
"Maksudmu pamanmu yang sama hijaunya denganmu itu. Paman Maito Guy?" kata Ten Ten.
"Benar!" kata Lee.
"Kau bilang dia sedang ada Study Tour dengan murid-muridnya," kata Ten Ten.
"Ah benar juga. Aku sampai lupa…" kata Lee lesu.
Selagi Lee dan Ten Ten saling berbicara, awalnya Naruto hanya memperhatikan 2 temannya itu dari belakang tapi pandangannya teralih pada sosok pria bertudung jaket hitam sedang menelpon.
TIK TIK TIK
"Ah gerimis! Ayo cepat!" Ten Ten segera berlari menuju halaman Universitas yang sudah dekat di ikuti Lee.
Kedua orang itu tidak tahu jika Naruto masih berdiri memperhatikan seorang pria yang berada di tepi jalan sedang menelpon. Wajahnya agak tidak terlihat. Naruto sendiri tidak tahu kenapa dia seperti penasaran dengan pria itu.
Pria itu menoleh pada Naruto, Naruto agak tersentak tapi belum juga berpindah posisi dari sana. Pria itu menutup ponselnya dan mengantonginya dan berjalan melewati Naruto. Sekilas dia melirik Naruto dan saat bersamaan Naruto juga menoleh melihat mata kelam orang itu.
DEG
Ada yang aneh dengan perasaan Naruto. Naruto seakan tidak asing lagi dengan warna mata itu. Naruto menoleh kebelakang, melihat punggung orang itu sudah agak menjauh dan menghilang di tikungan. Dengan cepat Naruto mengejar orang itu. Sampai di tikungan orang itu sudah tidak ada. Naruto menoleh ke kanan dan ke kiri dan tidak menemukan orang itu. Rambutnya sudah basah karena gerimis tadi sudah berganti menjadi hujan dengan insentitas sedang, bahkan kaosnya sudah agak basah.
Naruto tetap berjalan perlahan sampai ia melihat ternyata ada jalan kecil dengan tumpukan kotak-kotak kayu dari sebuah toko di sana. Baru saja Naruto akan masuk ke dalam jalan kecil itu seseorang menepuk bahunya sedikit membuatnya tersentak.
"Apa yang kau cari? Cepat, jam kuliah sebentar lagi akan dimulai," kata Lee yang ternyata menyusul dan mencari Naruto saat di sadari temannya itu tidak mengikutinya dan Ten Ten berlari saat akan berteduh.
"Maaf," kata Naruto langsung menunjukkan cengiran andalannya, lalu segera mengikuti Lee.
Sedangkan di jalan kecil itu tepatnya di balik sebuah kotak kayu besar orang yang Naruto kejar tadi mendengus dan kembali menyimpan pistol yang sudah siap melesat jika Naruto datang.
"Hanya 'kucing' yang penasaran rupanya," orang itu segera pergi dari sana.
.
.
.
Itachi sekarang berada di sebuah rumah sakit di mana dia dulu juga pernah di rawat saat di tusuk orang dalam menjalankan misi mendampingi anak-anak sekolah dari salah satu klien Konohamaru 2 tahun silam. Ah… ngomong-ngomong Konohamaru, dia baru ingat tentang bocah jenius itu.
"Apa sekarang masih angkuh seperti dulu ya? Xixixi…" kata Itachi tertawa sendiri.
Rasanya bosan juga sendiri di kamar rawat itu. Salahnya juga membuat Kyuubi mengamuk dan menghajarnya habis-habisan. Beruntung Sakura segera menengahi dan membawa Itachi kerumah sakit. Sebenarnya tidak di bawa kerumah sakit pun Itachi juga tidak masalah karena baginya lukanya hanya luka kecil.
Itachi menurunkan kakinya dari ranjang dan keluar dari kamar untuk sekedar jalan-jalan menghilangkan bosan.
"Tidak ada yang berubah dengan rumah sakit ini," Itachi melihat sudut demi sudut rumah sakit itu tanpa sadar karena tidak melihat jalan dia menabrak seseorang.
BRUAK
"Pakai matamu paman!" teriak orang yang di tabrak Itachi.
CTAK
Sudut perempatan kecil muncul di kepala Itachi saat di panggil paman.
'Memangnya aku setua itu apa?!' batin Itachi sinis. Tapi dia tahu mau marah pun saat ini yang berada di posisi salah adalah dia.
"Maaf ya anak kecil," kata Itachi membalas perkataan anak itu dengan menekankan pada kata anak kecil.
"Kau bilang aku apa?!" anak itu mulai mendongak dan merenggut baju Itachi.
"Keriput?"
"Konohamaru?"
Kedip… kedip… kedip…
Kedua orang itu masih belum ada respon selanjutnya.
"Konohamaru!" Itachi langsung mengangkat Konohamaru tinggi-tinggi dan berputar lalu melemparkan Konohamaru. Lempar tangkap lempar tangkap.
"Jangan perlakukan aku seperti anak kecil! Dan panggil aku Presdir!" Konohamaru menjitak Itachi berkali-kali. Tapi karena senang Itachi mengabaikan jitakan Konohamaru. Setelah puas melempar-lemparkan Konohamaru seperti balita, dia menurunkan Konohamaru ke lantai.
"Kemana saja kau selama ini?" kata Konohamaru dengan nada angkuh seperti biasa.
"Kau merindukan bodyguard terkerenmu ini kan Presdir~" kata Itachi narsis.
"Cih, jangan harap," kata Konohamaru memalingkan wajahnya.
"Tidak berubah. Aku juga merindukanmu kok Presdir~" Itachi memeluk Konohamaru seperti boneka beruang.
"Aku sudah tahu semuanya mengenai kau, rubah itu, dan kak Naruto 2 tahun yang lalu. Apa hanya karena kak Naruto kembali kepada keluarganya kau pergi tanpa jejak eh? Mendramatisir sekali. Mengelikan…" kata Konohamaru dengan sinis. Itachi ke mode santai dan berekspresi tenang.
"My..My.. tidak juga. Aku ingin merefresingkan tubuhku saja setelah permainan seru 2 tahun lalu," kata Itachi tersenyum.
"Permainan eh? Aku bukan anak rubah itu yang bisa kau bodohi. Kau memang menjaga kak Naruto sampai pada saatnya Kyuubi berhasil menemukan kak Naruto. Alasanmu karena kau sudah menganggap kak Naruto seperti adikmu sendiri, makanya kau tidak menyerahkan kak Naruto begitu saja pada keluarganya," kata Konohamaru mengeluarkan apa yang ada di pikirannya.
"Presdir yang jenius seperti biasanya," kata Itachi.
"Baiklah…sepertinya pertemuan ini tidak untuk membahas tentangku bukan?" lanjut Itachi.
"Siapa juga yang mau tahu tentangmu. Siapa peduli," kata Konohamaru. Di pikir-pikir Konohamaru sudah mirip seperti Kyuubi saja, batin Itachi.
"Jadi…apa yang kau lakukan di sini Presdir? Mengantarkan bodyguard yang terluka karena bertugas?" kata Itachi.
"Bukan. Tapi kakekku," kata Konohamaru.
"He?"
.
.
.
Itachi dan Konohamaru sampai di sebuah kamar rawat VVIP yang sudah pasti hanya kalangan elite yang menempatinya. Karena di sana terbaring Presiden Direktur Hokage Corp. Pusat dari Hokagemaru Corp. yang di jalankan Konohamaru.
"Kakekmu sakit apa?" kata Itachi.
"Dia tidak sakit hanya saja terkena serangan dari aksi percobaan pembunuhan," kata Konohamaru tersirat dendam dari kata-katanya.
"He?! Percobaan pembunuhan?!" kata Itachi.
"Ya. Entahlah aku sendiri juga tidak tahu siapa pelakunya masih dalan proses pencarian dan sangat sulit mencari orang itu," kata Konohamaru.
"Apa alasannya orang itu menyerang kakekmu?" kata Itachi sudah mulai seperti wartawan.
"Entahlah. Aku menduga bisa saja itu saingan bisnis kakek," kata Konohamaru.
"Dunia bisnis memang kejam. Ck ck ck ck.." Itachi jadi ngaco sendiri.
"Kulihat kau jadi gelandangan setelah kembali ke sini," kata Konohamaru.
'Ge-gelandangan?' kata Itachi sweatdrop.
"Aku tidak semalang itu tahu!" bela Itachi.
"Terserah... Kau mau uang?" kata Konohamaru.
"Siapapun pasti mau Presdir!" kata Itachi senang.
"Sudah kuduga. Cari dan bawa orang yang berusaha membunuh kakekku dan imbalannya kau bisa dapatkan 10 kali lipat dari biasa aku berikan padamu saat menjalankan misi," kata Konohamaru enteng.
"HEE?! YANG BENAR?!" Itachi bahkan meragukan dia sekarang dalam dunia mimpi atau dunia nyata.
DUK
"Itaaiiii!" Itachi melompat-lompat karena kesakitan. Kakinya di tendang Konohamaru karena berisik.
"Kuharap kerjamu cepat seperti biasa," Konohamaru pergi dari sana.
"Siap Presdir!" Itachi memberi hormat dan tertawa senang. Sudah membayangkan akan di buat apa saja uang sebanyak itu.
~Let's Play The Game 2~
Malam hari seperti ini biasanya kantor ND sudah tidak ada orang. Tapi pengecualian bagi sang Namikaze yang satu ini. Kyuubi masih serius membaca berkas-berkas yang masih membuatnya penasaran dan tertantang di bandingkan penasarannya dulu siapa Itachi sebenarnya. Sesekali ia mencorat-coret sesuatu di kertas dan mengamatinya.
KRIIEETTT
Pintu terbuka perlahan.
"Kyuubi kau masih di dalam?" kata Naruto.
"Ya," sahut Kyuubi masih tidak mengalihkan pandangannya dari berkas di depannya sambil sesekali mengigit apel yang tinggal setengah bagian.
"Itachi-nii kemana ya? Aku tidak melihatnya," kata Naruto mulai duduk di sofa.
"Ku tendang ke neraka," jawab Kyuubi seenaknya. Naruto hanya sweatdrop.
Suasana menjadi hening sampai suara deritan kursi yang Kyuubi duduki membuat Naruto menoleh padanya.
"Aku lapar. Bagaimana kalau makan ramen?" kata Kyuubi. Seketika Naruto langsung bersemangat.
"Ayooo!" Naruto langsung menyeret Kyuubi. Kyuubi hanya tersenyum singkat di sudut bibirnya.
Jika di pikir-pikir masa-masa seperti ini yang dulu sempat ia rindukan saat Naruto menghilang bertahun-tahun. Dan ternyata Naruto berada pada Itachi. Mengingat namanya kembali membuatnya kesal, rasanya ingin membotaki kepalanya agar benar-benar seperti paman-paman dengan keriputnya itu dan lengkaplah sosok Itachi yang sempurna dipandangan Kyuubi. Di lain sisi Kyuubi terkekeh sendiri membayangkan gambaran Itachi seperti itu. Membuat Naruto mengira kakaknya 'sedikit' tidak waras karena tertawa sendiri.
.
.
.
Naruto dan Kyuubi sampai di kedai ramen langganan mereka sejak kecil. Karena sejak umur 5 tahun Naruto selalu senang makan ramen di tempat ini.
"Wah wah wah… para Namikaze rupanya sedang lapar," kata paman Teuchi.
"Hehehe… paman seperti biasa ya," kata Naruto.
Dalam kedai itu banyak yang memperhatikan Kyuubi dan Naruto. Untuk Kyuubi terutama pengunjung wanita, itu sudah tentu saja.
"Kenapa pengunjung wanita di sini semakin banyak saja?" kata Kyuubi.
"Itu karena mereka tahu kau dan Naruto sering makan di sini. Bisa di bilang kalian keberuntungan juga bagi kedai kami," kata Ayame tersenyum di barengi tawa dari ayahnya. Kyuubi hanya cemberut, Naruto sendiri hanya ikut tertawa.
"Ini dia pesanan kalian,"
2 mangkok ramen yang masih mengepul panas terhidang di depan Kyuubi dan Naruto.
"Itadakimasu!" seru keduanya.
Sementara itu di tepat lain seorang pria berambut panjang dengan berpakaian formal memasuki mobilnya tidak lupa pengawal setianya juga mengikutinya.
"Kali ini di mana lokasi tua bangka itu?" kata pria berambut panjang itu pada pengawalnya.
"Rumah sakit Konoha tuan," kata pengawalnya.
"Kerja bagus," pria itu menyeringgai. Mata kuningnya yang tajam seperti ular sudah menambah sifat seperti apa pria itu.
"Apa tidak sebaiknya S saja yang mengurus ini semua tuan?" kata sang pengawal membetulkan posisi kacamata bundarnya.
"Tidak perlu Kabuto. Aku ingin sekali menghabisi tua bangka itu dengan tanganku sendiri," seringgainya semakin melebar.
"Berangkat ke lokasi sekarang," perintahnya.
"Sesuai perintahmu Orochimaru-sama," Kabuto langsung tancap gas menuju rumah sakit yang akan menjadi tujuan mereka.
Kembali ke kedai ramen di mana duo Namikaze sudah menghabiskan ramen mereka masing-masing.
"Bagaimana kalau kita menemui Itachi-nii. Kau pasti tahu kan dia di mana?" kata Naruto.
"Untuk apa menemuinya," kata Kyuubi cuek.
"Ayolah…kau mulai kejam seperti Sasori," celetuk Naruto.
"Tidak mau," kata Kyuubi.
"Ayolah ayolah ayolah Kyuubi niisan~ aku akan mentraktirmu sekantung besar apel nanti," bujuk Naruto plus dengan embel-embel 'niisan' di nama Kyuubi.
'Tawaran yang menarik,' batin Kyuubi.
"Kalau bukan karena kau yang membujuk aku pasti tidak akan mau menemui keriput bodoh itu," kata Kyuubi mulai berjalan.
"Eh? Jadi mau ya? Tunggu Kyuubi!" panggil Naruto menyusul Kyuubi.
Ayame dan ayahnya hanya geleng-geleng kepala melihat kepolosan Naruto. Padahal yang membuat Kyuubi berubah pikiran karena tawaran apel yang dia ajukan bukan karena bujukannya.
.
.
Rumah Sakit Konoha
Saat sedang asik-asiknya Itachi berkutat dengan laptopnya ada suara ketukan pintu yang membuatnya mendongak untuk melihat siapa yang menjenguknya malam-malam begini.
"Itachi-nii!" seru Naruto langsung menghampiri Itachi. Berbeda sekali dengan Kyuubi yang terlihat ogah-ogahan dan malah mengambil begitu saja buah apel di sebuah parsel dekat Itachi lalu duduk di sofa, mengangkat kedua kakinya. Benar-benar seperti bos dan tidak melihat sekitar.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Naruto pada Itachi.
"Tidak apa-apa kok. Tapi aku tidak menyangka saja Kyuubi bisa sekejam itu…" Itachi menunduk dalam membuat Naruto prihatin juga. Dengan sifat terlampau polosnya, Naruto bisa bersimpati dan mengusap-usap bahu Itachi bermaksud menghibur Itachi.
"Maafkan dia ya Itachi-nii, Kyuubi sebenarnya baik kok kalau tidak di ganggu," kata Naruto.
"Tapi dia…Uh..kejam sekali…" Itachi membuat tubuhnya sedikit bergetar agar terlihat seakan sedang menangis. Karena ia menunduk jadi Naruto tidak tahu Itachi menangis atau tidak.
"E-Eh? Sudah ya Itachi-nii," Naruto semakin bingung harus menenangkan Itachi bagaimana.
Kyuubi yang dari tadi melihat hanya mengeryitkan dahinya, 'Pandai berakting sekali orang satu ini,'
KRUSZ KRUSZ KRUSZ
Batin Kyuubi sambil memakan apel dengan kasar. Sedangkan Itachi dalam hati jingkrak-jingkrak senang.
"Oh kejamnya…" kata Itachi lagi.
"Kyuubi minta maaflah pada Itachi-nii," kata Naruto.
"Cih, sampai keriputnya hilang sekalipun tidak akan pernah aku meminta maaf padanya," kata Kyuubi.
Itachi semakin menjadi dengan aktingnya.
"Kyuubi!" Naruto mendelik tajam pada Kyuubi.
"Aku tidak dengar~" kata Kyuubi bersenandung pura-pura tidak dengar suara Naruto.
Untuk saat ini Kyuubi harus bisa menenangkan dirinya jangan sampai suasana menikmati apelnya itu rusak cuma gara-gara aktingnya Itachi.
'Keriput itu benar-benar telah meracuni Naruto. Naruto saja tidak menggunakan embel-embel 'nii' atau 'niisan' padaku. Sedangkan keriput itu? grrr…' batin Kyuubi ngedumel sendiri. Padahal alasan Naruto memanggil kakaknya itu dengan nama langsung karena dia kesal dengan Kyuubi yang selalu menjahilinya yah walaupun kadang-kadang, begitu juga dengan Sasori yang kadang berbuat licik padanya.
CTIK
"Eh? Mati lampu?" kata Naruto.
BIP BIP BIP
Suara ponsel Itachi berbunyi. Panggilan masuk dari Konohamaru.
"Ya Presdir?" jawab Itachi.
"Baiklah," Itachi segera menutup ponselnya dan langsung meloncat dari ranjang dan melesat berlari entah kemana.
Tadinya Kyuubi hanya heran Itachi sedang berbicara dengan siapa. Dari suara Itachi menjawab telpon terlihat serius. Kyuubi akhirnya menyeret Naruto yang ia yakini masih tidak jauh darinya dan berlari mengikuti Itachi. Di keadaan gelap seperti ini bukan terlalu sulit bagi Kyuubi untuk berlari sekalipun. Berbeda dari Naruto yang menyalakan aplikasi senter dari ponselnya.
Berkat aplikasi senter ponsel Naruto juga mereka melihat Itachi bersama seorang anak kecil yang tidak asing lagi bagi Kyuubi dan Naruto.
"Konohamaru?" kata Naruto.
"Kak Naruto? Kau di sini juga?" kata Konohamaru.
"Iya. Aku menjenguk Itachi-nii. Kau?" kata Naruto.
"Menemani kakek. Dia di rawat di sini tapi sekarang…" Konohamaru tidak melanjutkan kalimatnya, pandangannya ke depan. Naruto mengarah di mana pandangan Konohamaru tertuju. Sebuah ruangan khusus VVIP yang dindingnya terbuat dari kaca yang kuat dan sudah di pastikan tidak mudah rusak itu pecah meninggalkan lubang besar.
'Bagaimana mungkin?' batin Naruto.
"Kakek…"
"Dia diculik," lanjut Konohamaru.
Naruto terkejut. Naruto juga sudah menganggap kakek tua itu seperti kakeknya sendiri karena ternyata kakek itu guru dari neneknya sewaktu muda dulu. Itu baru ia ketahui saat Naruto sering ke lab milik neneknya 2 tahun lalu. Dan jadi sering bertemu dengan kakek itu dan kadang dengan Konohamaru juga.
Entah sejak kapan Kyuubi sudah masuk ke dalam ruangan itu dan meneliti ruangan itu hanya menggunakan aplikasi senter dari ponselnya.
'Bisa ku perkirakan mati lampu ini juga kesengajaan. Penculikan…memakai apa biasanya penculik membawa korbannya dari tempat aman dengan cepat?' kata Kyuubi lalu menyeringgai.
'Parkiran mobil!' Kyuubi segera melesat berlari, refleks Itachi juga menyusul.
"Kau tahu sesuatu?" kata Itachi.
"Yah sepertinya begitu. Kuharap lukamu itu tidak menghambat perkelahian nanti," kata Kyuubi.
"Aku suka bagian ini," Itachi tersenyum.
.
.
.
Lampu rumah sakit sudah menyala. Naruto mencoba menenangkan Konohamaru yang terlihat mondar-mandir khawatir akan kakeknya.
"Mereka pasti bisa menyelamatkan kakek," kata Naruto.
Sementara itu di parkiran Itachi dan Kyuubi berpencar untuk mencari kakek Konohamaru. Sebelumnya Itachi sudah memberitahukan petugas agar mencegah kendaraan apapun keluar dari wilayah rumah sakit. Dan kini mereka mencari.
Sebuah ambulan berhenti di depan pintu loby rumah sakit. Naruto melihat itu, entah apa yang menyuruhnya ia menghampiri mobil itu.
"Kenapa berhenti di sini pak?" kata Naruto. Sang sopir hanya tersenyum sekilas, tidak ada kecurigaan yang Naruto rasakan. Tapi sorot mata sopir itu yang membuatnya bertanya-tanya. Tanpa pikir panjang Naruto meninggalkan mobil ambulan itu.
Sedangkan di loby seorang pria berpakaian dokter berkacamata bundar memakai masker dan mendorong seseorang di kursi roda. Orang di kursi roda itu memakai masker.
Saat Naruto berpapasan dia melihat keanehan dengan pasien yang berada di kursi roda itu.
"Tunggu," kata Naruto.
Dokter itu berhenti tanpa menoleh ke belakang. Naruto menghampiri dokter itu.
"Sepertinya yang di kursi roda itu orang tua. Kenapa kau memakaikannya masker? Bukankah akan berat baginya untuk bernafas?" kata Naruto pada dokter di sampingnya. Dokter itu menoleh dan terlihat tersenyum terlihat dari matanya yang menyipit dan melengkung.
"Tapi virusnya bisa menyebar jika dia tidak memakai masker," kata Dokter itu.
"Begitu… lalu mau dokter bawa kemana pasienmu ini?" tanya Naruto.
"Keluarganya meminta pihak rumah sakit agar beliau di rawat di rumah," kata Dokter berambut putih itu.
"Emm…baiklah," kata Naruto baru saja akan melangkah saat melihat tangan orang yang di kursi roda. Tangan dengan cincin yang rasanya pernah Naruto tahu.
"Kakek-"
CKRIK
Naruto bisa merasakan suatu benda keras dan bisa dia tebak itu sebuah moncong pistol. Dokter itu merapatkan tubuhnya pada Naruto untuk menutupi pistol yang dia todongkan.
"Kau menganggu juga rupanya. Jalan seperti biasa maka kau dan kakek sialan ini aman dari pistolku," bisik sang Dokter. Naruto menelan ludah dengan paksa lalu mengangguk tanda mengerti.
Dari kejauhan Konohamaru melihat Naruto sedang bersama seorang Dokter dan berjalan bersama.
"Mau kemana kak Naruto?" gumam Konohamaru.
"!" Konohamaru melihat gerakan jari tangan kiri Naruto yang ia sembunyikan di belakang.
Sebuah sandi dan itu sandi yang di ciptakan Naruto saat bermain dengan Konohamaru. Dan hanya Konohamaru yang tahu apa maksudnya.
"Gawat!" lalu Konohamaru segera menelpon Kyuubi.
Parkiran Mobil
"Kau menemukannya?" kata Itachi.
"Tidak. Tapi Konohamaru iya dan Naruto dalam bahaya," Kyuubi menutup ponselnya dan segera bergegas ke pintu gerbang di mana semua kendaraan keluar-masuk.
"Kau sudah menyuruh petugas agar kendaraan apa pun jangan masuk maupun keluar dulu kan?" kata Kyuubi.
"Iya," kata Itachi.
Dari kejauhan Kyuubi bisa melihat ambulan yang berhenti. Saat Kyuubi datang dia hanya menemukan Naruto yang mencoba membopong kakek Konohamaru.
"Naruto!" (Kyuubi).
"Beberapa petugas mengejar orang-orang itu. Mereka 2 orang- Keh!" Naruto hampir saja ambruk.
"Naruto kaki dan lenganmu tertembak?!" kata Itachi.
"Tidak apa-apa. Sebaiknya cepat selamatkan kakek dulu," kata Naruto.
"Keriput, kuserahkan Naruto dan kakek ini padamu," Kyuubi segera berlari ikut mencari pelaku penculikan.
"Kyuubi!" teriak Itachi percuma. Lalu dia meminta bantuan para medis yang baru saja datang bersama Konohamaru.
Kyuubi berlari sampai meninggalkan kawasan rumah sakit dan kali ini masuk ke area bangunan yang sedang dalam masa proyeksi.
"Orang jahat kenapa selalu memilih tempat seperti ini sih," kata Kyuubi.
Langkahnya terhenti saat melihat petugas-petugas penjaga rumah sakit tergeletak dengan darah kemana-mana. Bekas tembakan, brutal sekali penyerangannya, batin Kyuubi. Dan di ujungnya melihat seorang tersungkur memakai baju dokter.
"Sepertinya hanya satu yang berhasil tertangkap, yang satu lagi pasti sedang di kejar petugas lainnya," kata Kyuubi baru saja akan membalikkan tubuh orang berpakaian dokter berambut panjang hitam itu.
BUAGH
Pukulan telak mengenai tengkuk leher Kyuubi. Kyuubi ambruk tapi kesadarannya masih ada walaupun tipis.
Kyuubi merasakan salah satu di antara mereka menarik dagunya sehingga samar-samar dia bisa melihat orang di depannya tapi tetap saja buram karena pukulan tadi.
"Ah! Pantas aku tidak asing dengan wajah ini," kata orang itu, matanya meneliti jelas wajah Kyuubi.
"Detective swasta muda itu rupanya,"
Kyuubi tidak tahu tangan satu lagi orang itu sedang mengarahkan pistol di keningnya.
CKRIK CKRIK
"Cih, sial! Peluruku habis kau bawa?" kata salah satu dari dua orang itu.
"Tidak tuan. Tapi saya membawa ini, aku belum menguji cobanya tapi apa salahnya jika di coba padanya," kata salah satunya lagi. Seringgai tercetak di bibir yang di panggil tuan.
"Terserah kau saja." orang itu mendorong Kyuubi sampai Kyuubi meringgis kesakitan karena kepalanya terbentur lagi dengan lantai.
"Cepat bereskan anak ini dan kita kembali," pria yang di panggil Tuan itu pergi terlebih dahulu menyerahkan Kyuubi pada rekannya.
Kyuubi bisa merasakan kepalanya sangat pusing dan kesadarannya makin menipis. Sesuatu yang tajam dan menusuk bisa dia rasakan di lengan kirinya. Kyuubi di suntikkan sesuatu. Hal terakhir yang Kyuubi lihat hanya seringgai dari si rambut putih yang langsung pergi bersamaan dengan kesadarannya yang menipis dan dia pingsan dengan kepala berdarah di antara para petugas tidak jauh darinya.
~Let's Play The Game 2 ~
Kyuubi melihat sekitarnya gelap dan sunyi. Tiba-tiba dia merasakan sakit yang amat sakit di kepalanya. Ingin sekali dia membenturkan kepalanya.
"ARRGGHHH!" teriakan Kyuubi membuat semua yang berada di kamar rawat tersentak.
Kyuubi yang tadinya masih terlelap karena pingsan tiba-tiba membuka matanya dan berteriak sambil memegang kepalanya.
"Kyuubi!" Naruto menghampiri Kyuubi yang masih meronta kesakitan sambil memegang kepalanya.
"Apa yang terjadi padanya?!" kata Naruto melihat Itachi. Karena Itachi yang menemukan Kyuubi pingsan di sebuah bangunan proyeksi.
"…." Itachi hanya diam. Dia sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi pada Kyuubi.
Dokter yang baru datang segera menyuntikkan sesuatu pada Kyuubi sehingga Kyuubi terlelap kembali.
Sakura sangat sedih melihat adik iparnya seperti itu, seperti bukan Kyuubi yang biasanya. Dia berada di dekapan Sasori.
Sudah hampir seharian ini Kyuubi seperti itu sejak kejadian dia pingsan. Bangun tiba-tiba dan berteriak kesakitan sambil memegang kepalanya. Tidak ada yang mengerti apa yang terjadi kecuali menunggu hasil penelitian yang di lakukan oleh neneknya sendiri, Tsunade.
Minato, Kushina, dan Tsunade masuk ke dalam kamar rawat Kyuubi.
"Minato, Kushina karena kalian sudah tahu kalian bisa bergantian untuk menjaga rubah ini. Kalian," Tsunade menunjuk Sasori, Itachi, dan Naruto bergantian.
"Ikut aku," Tsunade mulai berjalan.
Konohamaru melihat Kyuubi yang terbaring, terlelap tidur. Merasa bersalah juga karena masalah kakeknya, Kyuubi jadi seperti sekarang.
"Jangan merasa bersalah ne? Konohamaru. Kyuubi pasti akan baik-baik saja," kata Kushina menyamakan tingginya dengan tinggi Konohamaru dan memeluk anak itu. Tubuh Konohamaru bergetar, Kushina tahu anak itu mulai menangis dan semakin mempererat pelukannya. Minato hanya diam melihat anaknya yang terbaring di ranjang.
'Kyuubi…' batin Minato.
Kini Sasori, Itachi, dan Naruto duduk menghadap Tsunade. Saat ini mereka sedang berada di ruang kerja Tsunade. Karena Tsunade adalah salah satu dokter di rumah sakit yang merawat Kyuubi saat ini.
"Saat kejadian ada yang memasukkan sesuatu pada tubuh Kyuubi dan itu berefek pada otaknya," kata Tsunade.
"…." ketiga pemuda di depan Tsunade hanya diam.
"Apa…efeknya sangat parah?" kata Naruto dengan suara serak karena sebenarnya dia ingin berteriak murka siapa yang melakukan hal ini pada kakaknya.
"Sepertinya mengacaukan otaknya sehingga dia bisa merasakan sakit yang luar biasa. Sisi baiknya rasa sakit itu tidak selalu menyerang tapi bisa terjadi sewaktu-waktu, tidak bisa di tebak kapan datangnya. Sisi buruknya…"
Semuanya seakan bersikap tegang, bahkan Itachi yang biasa terlihat santai bisa terlihat dia juga tegang mendengar kalimat Tsunade selanjutnya.
"Jika hal ini terus berlangsung otaknya akan kacau dan mungkin mengalami hal fatal seperti kematian," ucap Tsunade.
"!" ketiganya tercekat.
.
.
.
Naruto terlihat duduk dalam diam. Entah apa yang sedang dia pikirkan, bahkan pandangannya tidak bisa di tebak. Itachi melihatnya karena dia duduk di tempat duduk di sebrang Naruto, di samping Itachi ada Konohamaru.
"Jika hal ini terus berlangsung otaknya akan kacau dan mungkin mengalami hal fatal seperti kematian,"
Kata-kata Tsunade seperti alunan kematian menyeramkan yang terus terngiang di kepala Naruto.
'Apa yang harus aku lakukan?' kata-kata itu yang terus Naruto pikirkan sampai melupakan bahwa tidak hanya dirinya di meja kantin, tapi ada Itachi dan Konohamaru di depannya.
"Aku tidak suka melihatmu seperti itu, seperti tidak ada harapan," kata Itachi terdengar dingin berbeda dari biasanya.
Naruto langsung mendongakkan kepalanya.
"Yang ada rubah itu akan semakin lemah jika kau bersikap seperti itu. Bersemangatlah seperti biasa," kata Itachi.
"Tapi bagaimana aku bisa? jika melihatnya seperti itu-"
BRAK
"Aku tidak pernah mengenalmu seperti itu Namikaze!" seru Itachi setelah mengebrak meja membuat Naruto dan Konohamaru yang hanya diam ikut terkejut.
"Kita semua memiliki tugas yang sama sekarang, membuatnya tetap seperti biasa dan mencari penawar untuknya. Bersikap lemah tidak akan membantu sama sekali," kata Itachi.
"Maaf… maaf maaf…" kata Naruto mengepalkan tangannya.
"Kali ini aku akan mengerahkan semua anak buahku untuk menemukan orang-orang itu," kata Konohamaru.
"Aku ikut," kata Naruto.
Itachi dan Konohamaru menoleh kearah Naruto.
"Aku akan mencari orang itu juga," (Naruto).
"Itu berbahaya kak Naruto!" (Konohamaru).
"Aku tidak peduli asal Kyuubi bisa mendapatkan penawarnya," kata Naruto dengan tekad yang tinggi.
Konohamaru maupun Itachi hanya diam. Mereka tidak tahu harus mencegah Naruto seperti apa, mereka tahu betul sifat Naruto. Mereka juga tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya setelah ini.
To Be Continue
Yo minna~
Maaf updatenya lama. Hohoho
saya tidak mau banyak komentar langsung balas review aja oke?
Ehem yg pertama ini dari KirikaNoKarin, sepertinya anda pengemar anime Kamichama Karin saya juga lho~ *buak* oke lanjut, hayo kamu nebak siapa nih. Kalau salah saya hukum nanti *lho?*
oke ikuti terus ceritanya ya~ arigatou atas reviewnya dan salam kenal ^^
Next dari Azusa thebadgirl, Azusa-san...! halo kita ketemu lagi. Hehe
janji saya sudah ditepati ya.
kekeke... memang sekarang Itachilah yang akan menderita *diamaterasu sama Itachi*
Dan mengenai Sasuke bisa Azusa-san temukan jawabannya dari kelanjutan cerita ini. Arigatou reviewnya
Terakhir dari Ryuu, wooaahhh arigatou gozaimasu sudah di bilang seru cerita ini.
Sasuke hidup kembali karena Naruto setia menunggunya~ *dihajar SasuNaru*
Oke daripada penasaran itu Sasuke asli apa Sasuke-Sasuke-an ikuti terus kelanjutannya. Arigatou reviewnya
