Halo! Sori lama updatenya!
ok, gak basa basi lagi ya, banyak bacot nanti dilempar sama para pembaca :p
thnks buat semua pembaca yang bersedia membaca, kasih review, fave, alert story ini!
thnks to...
SARUWATARI YUMI
RENTON NAMIKAZE MUALANK INSIDE
DEIDEI RINNEPERO13
MUGIWARA 'YUKII' UZUMAKISAKURA
MIYA-HIME NAKASHINKI
LADYAVRIL HARUKI
YOGENSHA
SIMPLE PLAIN
SARAPHIENA
POYOPOYOPOYO
DATTEBAYO
RIDHO UCIHA
RISUKI TAKA
RAIN 4.00 AM
HIZUKA HAULIYUSTELA
LOLLYTHA-CHAN
HARUNOZUKA
HARU
HIKARU KIN
WI3NTER
ANDRY
NARA AIKO
MEG CHAN
FUYU-YUKI-SHIRO
AND ALL SILENT READERS! :D
THNK YOU VERY MUCH!
SEKEDAR NOTE: Buat para pembaca yang nebak kalau Naruto berasal dari dimensi atau dunia lain, kuberikan ucapan selamat sebesar-besarnya! :D
ok, enjoy this chapter!
WARNING! ALUR CEPAT! OOC! TYPO! DONT LIKE DONT READ!
CHAPTER 2
.
.
.
.
.
Aku menatap lelaki berambut pirang jabrik misterius yang dengan lahap memasukkan ramen ke dalam mulutnya. Meski pun sekarang wajahnya dipenuhi bercak-bercak sup ramen, aku masih bisa menemukan ketampanan yang bersembunyi di balik sifatnya yang konyol ini. Matanya yang berwarna biru sapphire menatapku dengan bersinar-sinar, seakan-akan aku adalah dewi penyelamat baginya.
"Ah! Enak! Aku selamat, dattebayo…" dia menghela napas bahagia sambil menepuk perutnya. Aku mengerutkan kening ketika menatap lima bungkus ramen yang berceceran di meja makanku. Sampai sekarang aku masih tidak mengerti kenapa aku membiarkan lelaki yang kuduga sebagai ketua geng mafia ini makan dengan santai di rumahku. Memang… dia tidak terlihat berbahaya. Tapi, aku tidak boleh mempercayai seseorang melalui penampilan saja.
"Ini pertanyaan terakhirku. Kau sebenarnya siapa?" tanyaku sambil mengacungkan pisau dengan garang. Pisau pemotong kertas tadi sudah kubuang jauh-jauh dan yang ada ditanganku sekarang adalah pisau super tajam yang sengaja diimpor dari luar negeri. "Kalau kau tidak jawab, akan kutusuk kau sekarang juga!"
"Sudah kubilang. Namaku Naruto Uzumaki," jawabnya santai. Dia sama sekali tidak terlihat takut meski pun jarak pisau ini dengan wajahnya hanya beberapa senti saja.
"Dari mana asalmu?" tanyaku lagi. "Apa tujuanmu ke sini? Mengapa kau bisa masuk ke dalam rumahku dengan mudah? Kenapa kau bisa muncul tiba-tiba di dalam gudang?" tanyaku beruntun.
"Sudah kubilang! Aku tidak ingat apa-apa!" Dia merengut ke arahku. "Oh ya! Aku ingat sesuatu!" serunya tiba-tiba. Dia mengerutkan kening dengan keras. Aku mulai menatapnya dengan serius. Jangan-jangan… dia memang seorang anggota geng mafia? Bagaimana kalau dia ingat kalau dia harus membunuhku. Aku meneguk ludah, mulai menyesal karena memaksanya mengingat. "Aku ingat! Aku ingat!" dia berseru lagi sambil menyeringai. "Umurku dua puluh tujuh, dattebayo!"
Nyaris saja aku pingsan mendengar ucapannya. Pada saat ini aku berada di ambang kematian dan dia malah memberitahu umurnya padaku?
"Peduli setan dengan umurmu!" aku menjerit. Namun, dalam hati aku merasa sedikit lega. "Kau berasal dari mana?" aku mendesaknya lagi.
Naruto Uzumaki mengerutkan kening lagi. "Mmm… mungkin aku akan ingat kalau aku makan lagi, dattebayo…"
Sambil menggeram penuh akan amarah, aku membuka bungkus cup ramen instan yang keenam dan menuangkan air panas dengan kasar. Ingin rasanya menyiram lelaki gila ini dengan air panas. Tapi, aku tidak boleh gegabah. Dia memang tidak terlihat kuat. Dia juga tidak terlihat ingin membunuhku. Namun, bisa jadi dia akan membunuhku kalau aku membuatnya marah. Apa pun yang terjadi, aku harus mengambil informasi darinya sebisa mungkin tanpa membuatnya melukaiku. Siapa tahu informasi yang dia berikan ada hubungannya dengan kematian keluargaku.
"Jadi, asalmu dari mana?" tanyaku lagi, kali ini dengan nada yang lebih lembut. Lelaki ini mulai menerawang sambil mengunyah ramennya.
"Mmm… oh ya! Aku ingat! Aku berasal dari Konohagakure!"
Aku langsung melongo ketika mendengar ucapannya.
Hah? Tempat apa itu?
"Hei, jangan main-main dong," aku memaksakan sebuah senyuman. "Tidak daerah dengan nama Konohagakure di Jepang. Selain itu, tidak ada negara dengan nama seperti itu di dunia ini!"
"Memangnya ini di mana, sih?" Dia malah bertanya balik. "Ini pertama kalinya aku berada di tempat aneh seperti ini!" Dia menoleh sekeliling ruangan makan sambil mengerutkan kening. "Itu apa?" tanyanya sambil menunjuk ke arah piano.
"Jangan bercanda, dong!" aku nyaris menjerit. "Itu piano!"
"Piano?" dia mengerutkan kening. "Tidak ada benda seperti ini di Konoha! Lalu, itu apa?" tanyanya lagi, kali ini menunjuk ke arah televisi. "Lalu, lalu! Ini apa?" tanyanya, menatap iphone yang terletak di meja makan.
"… iphone…" jawabku, hilang harapan. Sudah kuduga. Dia bukan pembunuh bayaran dari geng mafia. Dia ini orang gila.
"Apa? Ai… fon…?" tanyanya dengan tatapan bingung. Aku menepuk dahiku. Entah aku yang sudah tidak waras lagi atau memang lelaki yang ada di depanku ini bukan berasal dari planet bumi.
"Oke… begini ya, Naruto Uzumaki-san, tempat ini adalah Tokyo, oke? Dan Tokyo ada di Jepang! Dan Jepang ada di dalam planet bumi!"
"Tokyo? Jepang?" Kali ini Naruto yang terbengong-bengong. "Aku tidak tahu tempat itu, dattebayo!" dia kembali menyeruput ramennya dengan santai. "Ah! Aku ingat lagi!" dia tiba-tiba berseru.
"Kau ini… kau hanya bisa ingat kalau kau memakan ramen?"
"Hehehe," dia meringis. "Aku tidak bisa berpikir kalau aku lapar!" dia meneguk sup ramennya. "Aku ingat. Sebelum aku mendarat di tempatmu, aku… sedang bertarung," dia mengerutkan keningnya. "Aku ingat kalau ada lelaki jahat yang… mmhh… yang…" Kerutan di keningnya semakin dalam. "Ah… aku tidak bisa ingat dia itu siapa! Aku hanya bisa ingat kalau dia membentuk sebuah segel. Kalau tidak salah itu segel pemindah dimensi…"
"Hah! Kau bicara apa, sih!" aku menjerit lagi.
"Pokoknya, aku yakin kalau aku sekarang sudah berpindah dimensi…" dia bergumam. "Tunggu… jadi… aku ini shinobi, kan? Mmm, ya. Aku ini shinobi… aku juga hokage di Konoha…" dia terus bergumam dengan kerutan di keningnya. "Ah… tapi kenapa aku tidak bisa mengingat apa-apa tentang teman-temanku? Apakah… aku memang mempunyai teman? Mungkin aku tidak punya… Apakah aku punya teman? Aku tidak bisa mengingat siapa-siapa yang berasal dari Konoha…"
Hokage? Konoha? Shinobi? "Hah? Apa maksudmu?" Aku menatapnya dengan bingung. Kasihan… dia pasti memang sudah gila…
"Yah, misalnya selain desaku, Konohagakure, masih ada Sunagakure, Iwagakure, Kumogakure, Kirigakure, dan masih banyak lagi," Naruto menyeringai ke arahku. "Konohagakure adalah yang terkuat dari semuanya! Selain itu, akulah pemimpin tempat tersebut! Lihat, ini buktinya!" Dia beranjak dari kursinya sambil menunjukkan kanji 'Hokage Keenam' yang ada di punggungnya.
"Oh, begitu…" ujarku sambil menatapnya dengan penuh keprihatinan. Kasihan… dia pasti baru kabur dari rumah sakit gila… "Tunggu ya, aku pasti akan memulangkanmu ke Konohagakure-mu itu," aku dengan cepat meraih iphone-ku dan menelpon ke nomor yang belum pernah kuhubungi sebelumnya. "Halo, ini Rumah Sakit Jiwa Fukitsu?"
"Hei, sebagai rasa terima kasih karena sudah memberiku ramen, bagaimana kalau aku ikut menunjukkan sesuatu dari tempatku?" Naruto mulai meraih tas pinggangnya yang berwarna kecokelatan.
"Ya, nama saya Haruno. Ya. Dari keluarga Haruno. Saya mau melaporkan kalau ada seorang lelaki bernama Naruto Uzumaki di rumah saya. Sepertinya dia punya gangguan jiwa," aku mengabaikan Naruto dan terus berbicara. Aku ingin menyingkirkan lelaki ini secepat mungkin.
"Uh… tidak ada barang bagus yang bisa kutunjukkan…" Naruto Uzumaki mengerutkan kening. "Hanya ada kunai dan bom kertas…" dia mengeluarkan beberapa kertas dengan simbol aneh dan pisau hitam dengan bentuk yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
"Orang ini mengaku kalau dia berasal dari Konoha-apalah. Lalu dia juga sepertinya mengalami sedikit amnesia tadi," aku mengabaikan dia lagi, meski pun pisau hitam itu sempat membuat mataku terbelalak. "Apa? Tidak ada record akan Naruto Uzumaki? Anda yakin?"
Naruto menoleh sekeliling. Dia sama sekali tidak sadar kalau aku sedang berusaha mengirimnya ke rumah sakit jiwa. Dia melirik ke arah foto keluargaku yang dipajang di tembok ruang makan. "Ah, oke! Akan kutunjukkan itu saja!" dia menyeringai sambil berjalan ke arahku.
Aku masih tidak memperhatikan Naruto. Pikiranku terfokus kepada pegawai yang berbicara denganku ini. "Apa! Tidak! Tidak! Aku tidak gila! Aku memang kehilangan keluargaku, tapi aku sama sekali tidak gila!" emosiku mulai muncul ketika pegawai tersebut mulai mengira bahwa ada yang salah dengan otakku. "Lelaki bernama Naruto Uzumaki ini memang nyata! Dia sekarang sedang berdiri di depanku dan sedang memainkan jarinya dengan kecepatan tinggi!"
"Kage bunsin no jutsu!"
"Nah! Sekarang dia malah mengucap mantra aneh dan… Oh My God!" Nyaris saja iphone ini jatuh untuk kedua kalinya.
"Halo? Ada apa, Haruno-sama?"
Mulutku megap-megap dan aku sama sekali tidak bisa menjawab pegawai di seberang telepon ini. Aku hanya bisa terpaku menatap tiga orang Naruto Uzumaki yang menyeringai di depanku. Otakku seakan-akan berhenti beroperasi sehingga aku tidak bisa berpikir apa-apa.
"Hehe, ini belum apa-apa, dattebayo!" dia meringis ketika menatap wajahku yang sudah sepucat mayat. Dia kembali memainkan jarinya dengan kecepatan kilat sehingga aku mengira kalau tangannya menghilang sesaat. "Henge no jutsu!"
Tiba-tiba, tiga orang Naruto itu berubah wujud dalam sekejab. Kalau mataku bisa melompat keluar dari rongganya, tentulah sekarang kedua bola mataku sudah menggelinding di lantai. Dengan jari-jari bergetar, aku menunjuk ke arah Naruto yang menyeringai.
"Itu…" aku meneguk ludah, mencoba untuk mengeluarkan suaraku yang sudah tercekat. "Mama?" aku menatap wanita setengah baya yang mengenakan kimono panjang bewarna merah. Sosok Mama yang berada di depanku ini persis sama dengan Mama yang ada di dalam foto keluarga. "Papa?" Mulutku terbuka semakin lebar ketika Naruto yang sudah berwujud Papa itu menyeringai ke arahku. " S-Sato?"
"Hehehe," Mama tiba-tiba meringis. Suara yang keluar dari mulutnya bukanlah suaranya melainkan suara Naruto. "Bagaimana? Apakah kalian bisa melakukan perubahan sosok seperti ini di Jepang? Di tempatku ini adalah hal yang sangat biasa!"
"Halo? Halo? Nona Haruno? Apakah anda masih ada di sana?"
Belum sempat aku menjawab pertanyaan itu, aku sudah terjatuh di lantai marble yang dingin. Tanpa kukehendaki, kegelapan seakan-akan menghantamku, menyeretku ke alam bawah sadar.
.
.
.
.
.
"Sakura-chan! Sakura-chan!"
Mendengar panggilan tersebut, kelopak mataku perlahan-lahan terbuka. Aku pernah mendengar suara itu sebelumnya. Suara lelaki dewasa namun terdengar sedikit kekanak-kanakkan.
"Sakura-chan!"
Suara itu memanggil lagi, membuat mataku terbuka sepenuhnya. "Hah… syukurlah! Kenapa kau pingsan tiba-tiba? Aku tidak tahu harus bagaimana tadi, dattebayo!"
Mata emerald-ku menatap sekeliling. Aku menemukan diriku terbaring di sofa lebar yang terletak di ruang keluarga. Aku tidak mengerti mengapa aku bisa terbaring di sini. Aku masih ingat dengan jelas kalau aku berada di ruang makan sebelumnya. Aku memutar leherku dan menatap menatap Naruto Uzumaki yang menyeringai lebar dan kejadian tidak masuk akal tadi mulai muncul di kepalaku. "Tadi… kau berubah menjadi…" suaraku perlahan-lahan menghilang dan aku menggelengkan kepala cepat-cepat. Jangan-jangan aku memang sudah gila? Batinku dalam hati. Mana ada manusia yang bisa memecahkan dirinya dengan mudah seperti itu. Sama persis lagi, Kalau ada orang yang bisa melakukan itu, tentu para ilmuan sudah tidak perlu repot-repot menciptakan mesin kloning. Selain itu, kenapa dia bisa merubah sosoknya dengan sesuka hati? Bukan hanya wajahnya yang berubah. Bentuk tubuh, rambut, dan pakaiannya pun dapat berubah dalam sekejab!
"Oh, kau mau bertanya kenapa aku bisa merubah sosokku?" tanyanya sambil menyeringai. "Tadi itu aku menggunakan jurus henge no jutsu. Aku bisa merubah sosokku menjadi apa pun yang aku mau,"
"Omong kosong," aku cepat-cepat membantah. "Hal seperti itu tidak pernah terjadi di muka bumi ini!"
Naruto menghela napas. "Keras kepala juga kau. Hal ini adalah hal biasa di duniaku. Anak kecil saja bisa melakukan ini di Konoha!"
Aku kembali menggelengkan kepala, masih tidak menerima kenyataan. Aku tahu bahwa aku keras kepala. Tapi, siapa yang bisa memasang wajah tenang setelah melihat seorang manusia berubah sosok menjadi manusia lain sekaligus membelah diri?
"Ah, aku memang sudah gila…" gumamku sekali lagi.
"Kau ini bicara apa, Sakura-chan?" Naruto mengeluh lagi. Aku mendelik ke arahnya dan hendak bertanya mengapa dia bisa melakukan semua hal yang tidak masuk akal ini. Namun, sebuah pertanyaan yang lebih penting melesat masuk ke dalam otakku.
"Kau…" aku mengerutkan kening. "Kapan aku pernah memberitahuku namaku?"
Naruto langsung terdiam ketika mendengar pertanyaanku. Wajahnya perlahan-lahan berubah menjadi serius. Aku terpaku, memperhatikan perubahan raut wajahnya yang tiba-tiba. Aku ingat dengan jelas kalau aku sama sekali tidak menyebutkan namaku di depannya. Ketika menelpon di rumah sakit jiwa itu juga aku tidak menyebutkan nama depanku. Aku menyebutkan nama 'Haruno' saja. Darimana Naruto bisa tahu namaku?
Keningku berkerut. Jangan-jangan… dia memang tahu sesuatu tantang diriku dan dia berada di sini untuk menghabisiku?
Kepalaku langsung berputar dengan cepat. Sekarang, teknologi di dunia sudah berkembang. Bisa jadi semua hal tidak masuk akal yang kulihat tadi hanyalah ilusi yang dibuat oleh sebuah alat canggih yang tak terlihat. Bisa jadi aku sudah dihipnotis sejak awal olehnya tanpa kusadari.
Aku meneguk ludah. Keringat dingin mulai bercucuran di keningku. Dadaku berdetak dua kali lebih kencang ketika aku menatap Naruto yang tiba-tiba memperhatikan wajahku dengan seksama. Mata birunya yang sejak tadi menatapku dengan penuh kejahilan sekarang menatapku dengan tajam.
Celaka… Jangan-jangan dia memang…
"Aku pernah melihat wajahmu," ujarnya tiba-tiba. "Entah kenapa, aku tidak bisa mengingatmu…" Dia perlahan-lahan menggaruk kepalanya dengan bingung. "Ketika melihatmu, nama 'Sakura' langsung muncul di kepalaku, tapi aku benar-benar tidak bisa mengingatmu!" Dia tiba-tiba menjerit frustrasi. Naruto Uzumaki kembali menatapku. "Aku merasa kalau aku sudah mengenalmu dalam waktu yang lama… tapi entah mengapa, aku tidak bisa mengingat apa pun, dattebayo!"
"Hah?" aku hanya bisa melongo ketika mendengar penjelasannya. Jelas-jelas aku belum pernah bertemu dengan lelaki ini. Tidak mungkin aku bisa melupakan lelaki heboh sepertinya. "Memangnya kau berasal dari mana? Mungkin kau salah sangka. Aku mungkin bukan 'Sakura' yang kau kenal…"
Dia terdiam sesaat dan kembali mengerutkan kening. "Mungkin juga… Aku ini dari berasal dunia ninja, tapi aku tidak bisa mengingat wajah teman-temanku sama sekali. Aku hanya ingat Konoha, namaku, statusku sebagai ninja, jurus-jurus yang kupelajari, umurku, lalu makanan kesukaanku, lalu…"
"Iya! Iya! Intinya kau tidak ingat apa-apa tentang manusia yang berada di sekelilingmu!" Aku memotongnya dengan kesal.
"Hehehe," dia menyeringai. Sampai sekarang, aku masih bingung kenapa dia bisa menyeringai santai begitu. Padahal dia lupa akan keluarga dan teman-temannya… Aku menghela napas. Haruskah aku mempercayainya? Memang, ceritanya terdengar sangat aneh. Tapi… sepertinya aku harus mempercayainya… Untuk saat ini.
"Oke, jadi kau berasal dari dimensi lain?" tanyaku lagi.
"Sepertinya begitu, dattebayo…" jawabnya, lemas.
"Dan kau pasti tidak punya tempat tinggal."
"Iya juga, dattebayo!"
"Yah…" aku bergumam. "Aku tidak akan sekejam itu mengirimmu ke rumah sakit jiwa… Jadi untuk saat ini mungkin kau bisa menetap di rumahku dulu…" ujarku. Dalam hati, aku masih berpikir-pikir tentang keputusanku ini. Aku sebenarnya tidak ingin menerima lelaki yang sama sekali tidak kukenal ini. Tapi, saat ini dia sendirian dan aku juga…
"Yoshaa!" dia menjerit girang. "Sakura-chan memang yang terbaik!"
Aku tersenyum lemah. Mungkin dengan adanya dia di rumahku, suasana hatiku yang gelap ini akan berubah. Aku hendak beranjak dari sofaku ini sampai ketika aku menatap raut wajah Naruto yang tiba-tiba berubah menjadi serius. Aku terpaku dan menatapnya dengan bingung.
"Naruto?" gumamku. Namun, Naruto tidak mempedulikanku. Dia menatap tajam ke arah kaca jendela. Rahangnya tiba-tiba mengeras dan tangannya perlahan-lahan meraih ke arah tas mungil yang bersandang di pinggangnya. Jari-jarinya dengan gesit meraih pisau baja hitam dengan bentuk aneh yang kulihat tadi. "Naruto, apa…"
Ucapanku terhenti ketika tangan Naruto yang satu lagi membekap mulutku.
"Psst," dia berdesis tanpa memalingkan matanya dari jendela tersebut. "Aku merasakan hawa membunuh dari luar sana."
Dadaku berdetak kencang seketika. Darahku seolah-olah berhenti mengalir dan membeku ketika aku mendengar suara tembakan yang nyaring. Naruto mengayunkan lengannya dengan secepat kilat. Mataku sama sekali tidak bisa menangkap kecepatan tangannya. Mata birunya yang tajam masih menatap ke arah kaca jendela yang sekarang sudah dihiasi dengan lubang-lubang bekas tembakan peluru. Tubuhku bergetar tanpa kusadari. Aku sangat yakin kalau tembakan tadi diarahkan ke arahku. Tapi, kenapa aku tidak merasakan sakit sama sekali?
"Apa tadi itu?" Naruto kembali mendesis. "Bunyi apa itu? Baru kali ini aku mendengar bunyi seperti itu."
"I-itu suara tebakan…" suaraku bergetar. Air mata ketakutan meluncur dari mataku. "Ada orang yang mau membunuhku!"
"Membunuhmu?" Naruto menatapku dengan bingung. Dia menatapku seolah-olah aku sedang mengatakan sesuatu yang lucu. "Membunuhmu dengan itu?" Matanya melirik ke arah tiga buah peluru yang terbelah menjadi dua di dekat kakinya. Mulutku terbuka lebar ketika aku melihat peluru yang bisa membunuh manusia terbelah-belah menjadi beberapa bagian. "Jangan bercanda. Itu kan hanya batu! Yah… mungkin lebih susah dibelah daripada batu, tapi mana mungkin benda itu bisa membunuh orang!" Naruto mendengus, membuatku melongo semakin lebar.
"Kau… memotong peluru yang meluncur dengan kecepatan tinggi dengan…" Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika melihat Naruto yang menekan-nekan pisau yang katanya 'kunai' itu.
"Kalau mau membunuh, setidaknya pakailah senjata seperti kunai ini!" Lelaki berambut pirang ini mendengus lagi. "Payah sekali sih, orang itu!" Dia beranjak dan dengan santai berjalan ke arah jendela. "Hoi! Pembunuh payah! Keluar kau!" Tanpa berpikir lagi, Naruto melayangkan tinjunya ke arah jendela, membuat kaca tersebut pecah berkeping-keping. Dengan kecepatan yang tak terlihat lagi, dia mengulurkan tangannya dan aku bisa mendengar suara yang mengaduh kesakitan dari balik jendela tersebut. "Tertangkap kau, dattebayo!"
Lagi-lagi, aku hanya bisa melongo ketika melihat Naruto melempar lelaki yang menembak tadi dengan sebelah tangan. Memang, sepertinya Naruto berasal dari dunia lain. Kalau dia berasal dari sini, tentu nama dia sudah bukan Naruto Uzumaki lagi, melainkan 'Naruto-man' atau 'Naruto-super' dan semacamnya.
"Ukh!" Erangan kesakitan lelaki tadi membangunkanku dari lamunan. Aku meneguk ludah dan mencoba untuk menenangkan debaran jantungku. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena punggung Naruto menutupi pandanganku. Rahangku mengeras. Sebenarnya, aku ingin sekali lari pada saat ini juga. Tapi, bisa jadi dia adalah pelaku pembunuhan keluargaku. Apa pun yang terjadi, aku harus mengingat wajahnya baik-baik. Dengan kaki bergetar, aku melangkah maju dan aku mulai bisa melihat sosoknya dengan jelas.
Tubuh lelaki itu tegap. Dia mengenakan pakaian hitam dengan yang menutupi lengannya. Aku bisa menatap darah yang merembes dari jeansnya. Sepertinya dia terkena pecahan kaca jendela. Aku memalingkan mataku dari tubuhnya dan perlahan-lahan, aku beralih ke wajahnya. Rambutnya bewarna hitam raven. Matanya bewarna hitam kelam dan dia menatap Naruto dengan penuh kebencian. Paras wajahnya tampan, bisa dibilang lebih tampan dari Naruto. Mataku langsung terbelalak ketika sadar siapa pelaku penembakan tadi.
Aku mengenal lelaki ini.
Aku mengenal lelaki tampan yang kukira pembunuh ini.
"S-Sasuke-kun?"
TBC
sori ya kalau jelek... agak ngebut buatnya...
sekali lagi makasih buat para pembaca! Makasih banyak ya! :D
arigatou!
mind to review? :)
