.

.

.

A HunHan Fanfiction

.

Titled

"My Gundam Robot"

.

.

SEHUN LUHAN! FOREVER!

.

Gender Switch (GS)

Genre: Friendship, Romance, Love, Sweet, Fluffy

.

.

.

.

Disclaimer: Sebagian besar isi dari FF ini asli pengalaman pribadi Author, jadi bisa dibilang ini bukan keseluruhannya fiksi. Sebagian besar dari cerita ini adalah nyata, fakta dan benar terjadi di kehidupan Author. 50 persen kisah nyata dan 50 persen fiksi.

Seluruh Castnya adalah member EXO! Sehun dan Luhan sebagai Main Cast.
Mereka adalah milik diri mereka masing – masing. Milik SM. Milik Ortu mereka. Dan milik Fandom! Iya gitu! Kris dan Sehun punya Author!

.

.

.

.

Happy Reading!

.

.

.

MY GUNDAM ROBOT

Chapter II

"The Break Up Story"

.

.

.

Seoul, 10 April 2014

"Eoh… kau sudah datang? Kenapa terlambat?"

Seorang gadis imut bermata bulat menyambut sang kekasih yang baru saja masuk ke dalam apartemennya lengkap dengan senyum berbentuk hati di bibirnya.

Dia Do Kyungsoo, kekasih Jongin saat ini.

"Aku baru saja habis menemui Luhan, dia meminjam beberapa buku dariku" kata Jongin kemudian memeluk tubuh mungil yeoja kesayangannya.

"Luhan? Dimana?" tanya Kyungsoo yang diam saja dipeluk oleh Jongin, tidak ada kecemburuan dalam pertanyaan itu, yang ada malah rasa rindu menyeruak dari dalam hati Kyungsoo. Pasalnya Kyungsoo sudah lama tidak bertemu Luhan.

"Di Cafenya Jongdae Hyung. Kau cemburu?" tanya Jongin lalu melepas pelukannya dan menatap mata bundar Kyungsoo

"Ani… aku sangat merindukan Luhan" ujar Kyungsoo jujur dan kini membantu Jongin untuk melepaskan jaket, mengambil tas yang berisi buku – buku milik Jongin dan menyiapkan sepasang slipper untuk Jongin pakai, benar – benar sudah seperti istri yang baik si Kyungsoo ini.

"Anak itu sedang sibuk dengan dunianya. Sudahlah… abaikan saja sayang.." Jongin berucap santai kemudian berjalan menuju dapur kecil di apartemen itu.

"Kau masak apa?" tanya Jongin setelah perutnya sedikit protes minta diisi

"Aku masak Sup Tuna, kau suka?" Kyungoo balik bertanya

"Apapun yang kau masakkan untukku aku pasti suka!" Jongin tersenyum dan

CHUP

Mengecup bibir tebal Kyungsoo. Dan seketika pipi Kyungsoo memerah dibuatnya.

"Aku sangat beruntung memiliki kekasih sepertimu! Benar – benar beruntung!" ucap Jongin kini menakup wajah Kyungsoo, sedangkan mata tajamnya mengabsen setiap lekuk diwajah lembut itu.

"Tapi aku masih selalu merasa bersalah setiap kali aku ingat bahwa dulu aku pernah menjadi orang yang paling bahagia ketika tau kau dan Luhan sudah putus" Kyungsoo menundukkan wajahnya dan kembali merasa tidak enak akibat kejadian 4 tahun silam.

"Tapi pada akhirnya aku cukup pintar untuk tau perasaanmu kan?" tanya Jongin sambil kembali memeluk Kyungsoo

"Awalnya aku tidak enak pada Luhan karena aku akhirnya menjadi kekasihmu" Kyungsoo nampak mengenang masa lalunya.

"Gwaenchana… memang dulu Luhan tidak pernah benar – benar mencintaiku, mungkin aku juga begitu. Jika diingat waktu itu aku terlalu sibuk dengan duniaku, dan dia juga begitu. Kita berdua hanya saling menyukai saja…. Kami berdua dulu tidak pernah saling cinta. Yang Luhan cintai dari dulu sebenarnya adalah Oh Sehun!" Jongin bercerita panjang lebar tentang masa lalu riwayat percintaannya.

"Benar… dari dulu sebenarnya Luhan memang mencintai Sehun" Kyungsoo membenarkan perkataan sang namjachingu.

Dan sadar atau tidak kedua sejoli itu kembali mengingat kejadian 4 tahun lalu, saat – saat dimana Luhan dan Jongin putus.


.

.

.


November 2010

Ini sudah hampir memasuki musim dingin, hanya saja salju belum turun, tapi udara sudah benar – benar membekukan sekarang. Luhan duduk disebuah bangku di tengah gedung sekolah. Dia sedang menunggu Jongin, namjachingunya itu belum selesai rapat club biologi.

Jongin, namja manis berkulit tan itu memang sangat aktif. Walaupun dia terlihat tidak begitu pintar namun jangan pernah remehkan kemampuannya. Dia cukup ahli dibidang biologi, dia juga ketua club biologi di Hyundai High School. Dia adalah seorang striker di club sepak bola dan koordinator bidang 2 di Organisasi Siswa Hyundai. Luhan juga sebenarnya anak yang aktif, hanya saja dia bukanlah tipikal anak yang mau repot, dengan menjadi sekretaris club bahasa dan tim inti debat dari Hyundai School saja sudah cukup bagi Luhan.

"Hei… Luhan? Sedang apa disini?" sebuah suara merdu dan sangat lembut menghampiri Luhan yang hampir saja mati bosan dan membeku menunggu sang namjachingu.

"Yixing eonni!" pekik Luhan entah kenapa rasanya bahagia sekali melihat gadis berdimple itu ada di sekitarnya.

Yixing adalah siswi kelas 12. Tepat 1 tingkat diatas Luhan. Dia adalah yeoja yang cukup terkenal, siapa yang tidak kenal Zhang Yixing. Dia seorang penari yang selalu mewakili Hyundai School untuk perlombaan seni. Tidak hanya itu, saat kelas 11 dulu dia adalah ketua Klinik Kesehatan siswa di Hyundai. Dan yang membuat yeoja itu semakin terkenal adalah hubungan yang dia jalin bersama seorang pelajar bernama Kris Wu.

Kris juga ada di kelas 12 setingkat dengan Yixing. Namja itu adalah salah seorang icon sekolah yang tampan, mantan wakil ketua Organisasi siswa, mantan ketua club IT dan juga mantan kapten Tim Basket Hyundai School. Yixing dan Kris benar – benar dijuluki sebagai The Royal Couple di Hyundai Kingdom.

Yixing melirik laboratorium biologi sebentar dan melihat beberapa orang sedang mengadakan rapat disana, itu club biologi. Yixing segera menganggukkan kepalanya mengerti kemudian kembali menatap Luhan.

"Sedang menunggu Jongin atau Kyungsoo?" tanya Yixing lembut kini duduk di sebelah Luhan.

Luhan segera memasang pembatas buku pada halaman yang baru saja selesai dia baca pada novel tebalnya.

"Aku menunggu Jongin, hari ini kami pulang bersama" ujar Luhan terlihat sangat bahagia.

"Tapi kan Jongin naik motor, kau bisa masuk angin Lu… Sehun pasti marah jika tau ini" kata Yixing agak horror.

Semua orang di Hyundai High School kini tau betul bagaimana hubungan Luhan dan Sehun. Mereka bersahabat sangat dekat dan baik, bahkan Luhan terlihat lebih sering bersama dengan Sehun daripada Jongin, namjachingu nya sendiri. Kadang – kadang semua siswa sering bingung sebenarnya siapa yang pacaran, Jongin dan Luhan atau malah Luhan dan Sehun.

"Makanya eonni jangan bilang ke Sehun." Luhan mempoutkan bibirnya lucu, manis sekali anak itu.

"Tidak… aku tidak akan memberitau Sehun. Bukan karena tidak mau kau dimarah, tapi aku tidak mau mengganggu konsentrasi Sehun saat sedang mengikuti Olimpiade internasional seperti sekarang ini" kata Yixing sedikit menyipitkan matanya melirik Luhan yang masih dengan aksi merajuknya.

"Iya eonni benar… sebaiknya memang tidak mengacaukan konsentrasi Sehun. Aaaah… masih harus menunggu satu minggu lagi hingga Sehun pulang dari Swiss" Luhan menghenyakkan tubuhnya di bangku yang sedari tadi dia duduki.

"Sabar chagi… tidak hanya Sehun saja yang baru pulang seminggu lagi… Krisku juga!" Yixing mencubit pelan pipi Luhan sangking gemasnya pada hoobae yang pipinya tembem itu.

"Ah iya… Kris Sunbaenim juga ikut Olimpiade Internasional… awalnya aku tidak menyangka jika Kris sunbaenim sehebat itu, dia adalah calon programmer terkeren di masa depan!" Luhan mengangkat dua jempolnya dihadapan Yixing

"Tentu saja! Dia kan namjachinguku!" bangga Yixing dihadapan Luhan

"Yixing eonni dan Kris Sunbaenim sudah pacaran dari Junior High... aku jadi iri dengan kalian" gumam Luhan kini memandangi wajah teduh dan lembut milik Yixing, Luhan sangat menyukai sunbaenya yang satu itu. Sangat lembut dan baik.

"Suda hampir 3 tahun… lama ya?" tanya Yixing kemudian mengalihkan pandangannya ke arah ponselnya yang sedang bergetar.

"Eoh… Oppa sudah di depan? Ne aku segera kesana!" kata Yixing pada ponselnya.

"Yixing eonni sudah dijemput?" tanya Luhan sedikit kecewa, teman menunggunya pun sudah dijemput.

"Mmm… Oppaku sudah ada di depan gerbang sekolah, kau tidak apa – apa kan aku tinggal sendiri? Oppaku sedikit buru – buru" Yixing segera berdiri dan bersiap pergi.

"Neeeee… gwaenchana eonni…" belum selesai Luhan berbicara Yixing sudah langsung berlari sekencang – kencangnya menyusuri lorong dan menuju ke pintu gerbang sekolah.

"Mmm…. Jadi Yixing eonni punya seorang Oppa ya.." Luhan mengerutkan keningnya bingung sambil terus melihat punggung Yixing yang lari menjauh.

"Luhaniiee…" seuara berat namun lembut yang tak lain dan tak bukan adalah suara Jongin dengan lembut memanggil nama Luhan.

Luhan segera memalingkan wajahnya dari punggung Yixing yang sudah menghilang kemudian menoleh kearah sumber suara.

CHUP

Tanpa sengaja oleh Luhan dan mungkin itu memang rencana Jongin, ketika Luhan menoleh pipinya langsung tertempel di bibir Jongin yang kini sudah terbungkuk di sebelah Luhan.

"Yak! Jongin-ah… ini di sekolah! Euuhh… pabbo!" Luhan memukul bahu Jongin karena kesal, pipinya dikecup begitu saja tanpa aba – aba apapun.

"Jadi dimana aku bisa menciummu tanpa dipukul eoh?" goda Jongin masih membungkuk di hadapan Luhan.

"Duuuh… mesra sekali kalian berdua…" Kyungsoo juga datang dengan banyak sekali buku di pelukannya.

Jongin langsung bangkit dari keterbungkukannya dan Luhan juga ikut berdiri.

"Kyungiie-ahjaebal selamatkan aku dari serigala hitam ini! Aku mau dimakan Kyungie-ah!" Luhan berlari dan sembunyi di belakang Kyungsoo, meminta perlindungan pada gadis imut bermata bundar yang bahkan lebih pendenk dari Luhan. Jongin mencoba mengejar Luhan dan menangkap yeojachingunya yang terus mencoba berlari darinya.

"Ya… cukup main petak umpetnya… kata Jongin kalian akan pulang bersama, ini sudah sore, kalian naik motor… kalau tidak segera pulang nanti kau malah masuk angin Lu… aku tidak mau diamuk Sehun ketika gunung es itu pulang dari Swiss!" Kyungsoo malah mengomeli Luhan yang kini masih saling kejar – kejaran dengan Jongin.

Luhan dan Jongin memang pasangan yang sangat kekanakan. Luhan sendiri adalah yeoja yang masih sangat kekanakan, seakan – akan dia harus selalu diawasi oleh sahabat – sahabatnya jika tidak mau terjadi apa – apa pada rusa kecil itu. Jongin pun demikian, terkadang dia cepat ngambek dan emosi, dia masih seperti anak umur 7 tahun jika sesuatu sudah tidak berjalan seperti keinginannya. Dia akan mengamuk dan ngambek. Kyungsoo sendiri yang sudah sangat mengenal Luhan dan cukup mengenal Jongin selalu dibuat geleng – geleng kepala akan tingkah mereka berdua. Kyungsoo adalah gadis yang cukup dewasa di usianya. Wajar saja, dia juga anak sulung seperti Sehun, dia punya satu adik yang juga manja. Tidak seperti Luhan yang tunggal atau Jongin yang anak bungsu dengan dua noona yang sangat memanjakannya di rumah.

"Baiklah – baiklah… Kyungsoo eomma sudah marah… khajja baby aku antar kau pulang!" Jongin langsung menangkap Luhan dan menggandeng tangan yeojanya untuk mengakhiri acara kekanakan itu.

"Kau pulang dengan siapa Kyungie?" tanya Luhan sebelum meninggalkan Kyungsoo

"Appa pasti sudah didepan untuk menjemputku!" jawab Kyungsoo mantap

"Neannyeong Kyungsoo eomma… aku pulang dulu ne, sebelum anak rusa ini mencoba kabur lagi… annyeong eomma!" Jongin mengacak poni Kyungsoo sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan yeoja imut bermata bundar itu karena ditarik Luhan.

Kyungsoo terdiam sejenak, tangan kanannya terangkat untuk mengusap poni yang acak – acakan gara – gara Jongin mengacaknya tadi. Dan kini kedua mata bundar cemerlang itu masih terpaku pada punggung Jongin yang menjauh bersama Luhan sahabatnya.

"Eomma?" bisik Kyungsoo masih dengan senyum tipisnya.

.

Seminggu telah berlalu dari hari itu. Dan Luhan berani bersumpah demi pinku – pinku kesayangannya jika itu adalah 1 minggu terlama yang penah dia lewati. Akhirnya, besok sore Sehun akan tiba di Korea. Akhirnya Sehun pulang. Entah mengapa, tapi Luhan sangat merindukan sahabat jeniusnya itu. Luhan jadi merasa sangat kesepian dan sendirian karena Sehun harus meninggalkannya 1 bulan penuh ke Swiss.

Ini pukul 8 malam dan Luhan masih belum dijemput oleh supirnya. Dia baru saja selesai mendapatkan pelajaran tambahan rutin yang dijadwal setiap hari selasa untuk kelas 11.

Luhan nampak sedang bercanda dengan dua sahabat yeojanya. Kyungsoo dan Baekhyun. Mereka berdua adalah sahabat sepermainan Luhan. Tiga serangkai Kyungsoo, Baekhyun dan Luhan sudah cukup terkenal karena mereka memang sudah akrab dari Junior High School. Tapi semenjak kelas 11 mereka jadi jarang berkumpul bertiga, itu karena kehidupan Senior High School yang menuntut siswa untuk aktif. Apalagi mereka punya ketertarikan dibidang yang berbeda. Kyungsoo adalah siswa di kelas Sains, Baekhyun adalah siswa di kelas Social dan Luhan adalah siswa di kelas Bahasa. Dari aliran saja sudah berbeda. Kyungsoo adalah aktifis di Organisasi Siswa dan Club Biologi, sedangkan Baekhyun si cantik harus sibuk menjadi ketua club Vocal dan mengurus Butik bersama eommanya yang single parent.

"Aku duluan neeomma sendirian di Rumah." Kata Baekhyun setelah mereka bertiga selesai tertawa.

"Eoh? Kyuhyun Oppa dimana memangnya?" Kyungsoo bertanya dengan tangan yang masih menggenggam tangan Luhan

"Kyuhyun Oppa sedang sibuk mengurus Skripsinya, dia mungkin akan menginap di perpustakaan kampusnya lagi." Ujar Baekhyun dengan senyum manis dan eye smile cantiknya. Sekedar informasi, kakak beradik Byun Baekhyun dan Byun Kyuhyun itu cukup terkenal, mereka adalah kakak beradik bersuara emas.

"Ne… aku rasa aku juga sudah di jemput, kau pulang bersama Jongin lagi?" tanya Kyungsoo mengalihkan pandang ke arah Luhan

"Anieomma dan appaku ada di rumah hari ini, jadi aku harus diantar supir." Keluh Luhan dengan wajah tertekuk.

"Geurae kalau begitu aku dan Baekhyun pulang duluan nekhajja Baekhyun-ah… tidak usah naik taksi, kau aku antar pulang!" Kyungsoo langsung menggandeng tangan Baekhyun dan kedua gadis imut itu melambaikan tangannya pada Luhan.

"Wuhu… yeojaku yang manis sedang sindiri rupanya…"

"Jongin-ahjaebal… singkirkan smirk iblismu itu!"

Luhan berkata tegas namun senyumnya terukir begitu manis.

"Jja aku tunggu sampai kau dijemput" tawar Jongin pada kekasih manisnya yang disambut anggukan antusias.

"Lulu-ah… besok aku ada pertandingan sepak bola melawan Sugwan High School. Ini pertandingan final. Ini sangat berarti untukku. Kau datang ne…" Jongin yang baru saja mendudukkan dirinya di kursi tunggu langsung bertanya pada Luhan.

"Besok? Jam berapa?" tanya Luhan tanpa melihat Jongin yang duduk di sebelahnya, dia masih fokus pada tali sepatunya.

"Jam 5 sore" jawab Jongin singkat

"Eoh?" Luhan langsung mengangkat wajahnya kemudian menatap Jongin dengan tatapan berpikir.

"Mianhae Jongin-ah… tapi besok jam 5 sore aku juga sudah harus ada di Bandara. Besok Sehun pulang dan aku sudah berjanji akan menjemputnya" Luhan menatap wajah Jongin yang penuh harap dengan tatapan tidak enak hatinya.

"Tapi Lu… besok adalah pertandingan final dan besok juga merupakan pertandingan terakhirku sebagai kapten tim sepak bola sekolah kita!" desak Jongin yang sangat berharap Luhan akan datang

"Tapi aku sudah berjanji pada Sehun unt…"

"Aku ini namjachingumu Lu! Apa tidak bisa kau lebih mendahulukan aku daripada Sehun?" bentak Jongin yang kini moodnya jadi buruk akibat penolakan Luhan

"Ya! Kim Jongin! Tapi aku sudah lebih dulu berjanji pada Sehun untuk menjemputnya, aku tidak mau ingkar janji!" Luhan sedikit meninggikan nada bicaranya, emosinya tersulut karena Jongin lebih dulu membentaknya.

"Lu Han! Apa kau tidak sadar jika selama ini kau lebih mendahulukan Sehun daripada aku? Apa kau tidak sadar jika selama ini kau lebih mementingkan Sehun daripada aku?" Jongin mulai mengeluarkan isi hatinya, sesuatu yang sudah sangat lama dia ingin tanyakan namun dipendamnya rapat – rapat

"Sehun adalah sahabatku Jongin-ah…. Itu adalah hal yang wajar bagiku untu mendahulukannya sama seperti aku mendahulukan Kyungsoo dan Baekhyun daripada kau!" kilah Luhan sedikit menurunkan nada bicaranya namun masih kaku dengan pendiriannya.

"Aku tidak pernah melarangmu untuk berteman dengan siapapun termasuk Sehun. Tapi Sehun itu namja, wajar jika aku cemburu padanya. Apa kau tau bagaimana perasaanku ketika semua orang bilang "jika kau kenapa – kenapa Sehun pasti akan mengamuk"! Kalimat yang semua orang sering katakan itu seakan menyadarkan aku jika aku bukan siapa – siapa untukmu, seakan – akan kau adalah milik Sehun bukan aku!"

Jongin mencerca panjang lebar, kali ini memang namja berkulit tan itu tak lagi bisa menahan amarahnya. Sudah terlalu lama Jongin menahan semua emosinya dan malam ini Jongin baru berani mengatakannya.

Luhan terdiam, dia sendiri sadar jika apa yang dikatakan Jongin itu benar. Sehun lebih dekat dengannya daripada Jongin sendiri. Tapi bukankah itu wajar? Bukankah itu hal yang sewajarnya jika sahabatmu dekat denganmu?

"Apa kau pikir karena aku diam selama ini terhadap kedekatanmu dengan Sehun jadi aku baik – baik saja?" tanya Jongin ketika sesaat hening.

"Kau sibuk! Kau sering meninggalkanku! Kau lebih mementingkan sepak bolamu, club biologimu dan dirimu sendiri! Kau hanya mencariku ketika kau punya waktu luang." Ujar Luhan dengan suara tenang namun terkesan sangat dingin.

Jongin diam mendengar pernyataan Luhan, hati kecilnya membenarkan apa yang Luhan katakan barusan. Dia memang sama seperti Luhan, dia memang sibuk dan jarang mencari Luhan jika dia tidak punya waktu luang.

"Ya! Kim Jongin! Apa aku hanyalah waktu luang untukmu?" tanya Luhan dengan nada yang semakin dingin dan sarkastik. Jongin diam. Dia nampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.

"Apa kau tau, kenapa aku lebih mementingkan Sehun dari apapun termasuk kau?" tanya Luhan lagi dengan nada sedikit menantang, sementara Jongin masih diam.

"Karena Sehun juga melakukan hal yang sama untukku! Dia selalu mementingkan aku dari apapun. Aku bukanlah hanya waktu luang untuknya. Aku selalu merasa dianggap ada ketika bersamanya" ujar Luhan yang berhasil meledakkan hati Jongin. Jujur saja Jongin sangat sakit mendengar kata – kata yang barusan muncul dari bibir Luhan.

Dia sadar, yang selama ini dia lakukan adalah meninggalkan Luhan karena segudang kesibukannya, Jongin bahkan sering mengabaikan ajakan makan siang Luhan ketika Luhan mengajaknya. Jongin memang selalu seenaknya datang dan pergi dalam kehidupan Luhan selama ini, wajar jika Luhan merasa bahwa dirinya hanyalah waktu luang untuk Jongin. Dan Jongin akhirnya berpikir, kedekatan Sehun dan Luhan semua berawal dari kesalahannya.

"Tapi aku membutuhkanmu Lu! Aku sangat membutuhkan dukunganmu untuk pertandingan besok. Kau masih tetap orang yang spesial dan berharga untukku! Aku…"

"Maaf Jongin-ah… aku sudah terlebih dulu berjanji pada Sehun." Luhan tetap bersikukuh

Hening. Tak ada satupun suara keluar. Jongin emosi dan begitu juga Luhan. Mereka beruda kini berada di titik dimana mereka meluapkan segala kejenuhan mereka selama hampir dua tahun berpacaran.

"Baiklah… jika kau tidak datang besok dan lebih memilih Sehun, itu artinya hubungan kita berakhir" Jongin akhirnya memberikan pilihan final.

"Maaf Jongin-ah. Aku akan tetap memilih menjemput Sehun besok. Dan sepertinya aku sudah dijemput. Aku pulang dulu…"

Luhan langsung berdiri dan meninggalkan Jongin yang duduk di bangku tunggu jemputan. Mata Jongin terus melihat mobil jemputan Luhan hingga mobil warna putih itu menghilang dari pekarangan sekolah.

Dada Jongin sesak, dia tidak tau harus bagaimana saat ini. Di satu sisi dia menyalahkan dirinya sendiri karena selama ini telah menyianyiakan waktunya bersama Luhan, namun di sisi lain Jongin merasa ini bukan sepenuhnya salahnya, Jongin merasa dia menjauh karena posisinya makin lama direbut Sehun.

.

Hujan pun turun begitu deras. Dan malam ini terasa sangat dingin, setiap butir hujan yang turun hampir sama dinginnya dengan es.

Dan seorang namja masih dengan seragam Hyundai High School tengah mengayuh sepedanya dengan perlahan. Dia adalah Kim Jongin, seorang remaja yang baru saja putus dengan kekasihnya, remaja tampan yang patah hati.

Jongin seakan mengabaikan dinginnya hujan bercampur malam hari yang tengah mengguyur tubuhnya. Seperti tanpa arah Jongin mengayuh sepeda kesayangannya menuju entah kemana dia tidak menegrti. Yang ada di pikiran Jongin hanyalah patah hati. Dan dia tidak mau pulang. Dia tidak mau kedua noonanya menjadi heboh akibat dirinya seperti ini. Dia pun hampir lupa untuk istirahat dan jaga kesehatan untuk pertandingan besok. Yang Jongin rasakan hanyalah, patah hati.

Jongin tiba di sebuah rumah sederhana dengan halaman depan yang rapi dan indah. Suasana hangat pun seakan menguar dari dalam rumah. Jongin terpaku di depan pagar berwarna hitam yang menjadi pembatas rumah itu.

Jongin bahkan sempat berdebat dengan kepalanya saat dia sudah berada di titik dia berdiri sekarang, satu tangan kanan Jongin terangkat untuk menekan bel rumah yang tersambung dengan intercom yang ada di dalam rumah itu. Namun sudah hampir 10 menit Jongin bertahan dalam posisi itu, dia juga tak kunjung menekan belnya. Tubuhnya yang sudah basah kuyup kini mulai menggigil dan rasa dingin itu sudah menyusup hingga tulang Jongin.

TEEEEET

Akhirnya Jongin memencet bel rumah itu.

"Siapa?" suara seorang yeoja yang sudah sangat akrab di telinga Jongin menyahut dari dalam rumah melalui intercom.

"Ini aku… Kim Jongin" ucap Jongin lemah.

Tak lama kemudian suara pintu depan terbuka dan kemudian, pintu pagar yang ada di hadapan Jongin juga terbuka, menampilkan seorang yeoja berambut pendek dengan mata bulat yang semakin membundar tat kala melihat Jongin berdiri di depan rumahnya dalam kondisi yang basah kuyup dan berantakan.

"YA! KIM JONGIN! ADA APA DENGANMU? KENAPA BISA ADA DI SINI DAN BASAH KUYUP BEGINI?" Pekik yeoja manis itu yang sangat jelas terkejut.

"Kyungsoo-ah…." Desis Jongin.

Sejenak hening. Jongin juga baru berpikir, kenapa bisa Jongin mengayuh sepedanya hingga ke rumah Kyungsoo. Entah apa yang ada di kepala namja bermarga Kim itu sehingga yang dia cari adalah gadis bermarga Do yang merupakan teman satu club biologinya. Jongin merasa ada yang salah dengan kepalanya kali ini. Dia bisa saja ke rumah Chanyeol sahabatnya, atau ke rumah Taemin sepupunya jika dia tidak ingin pulang seperti biasa. Tapi kenapa, di saat dia sedang rapuh seperti ini, dia malah pergi ke rumah Kyungsoo.

"Jongin-ahgwaenchana?" tanya Kyungsoo perlahan

"Kyungsoo-ah…. Aku lapar"

Itu adalah kalimat paling absurd yang pernah Jongin ucapkan sebagai alasan. Dia bilang dia lapar. Entah Jongin sudah bodoh atau gila, hanya itu yang ada di kepalanya saat ini.

Kyungsoo yang mengerti langsung mengajak Jongin untuk masuk ke rumahnya. Setidaknya mengeringkan badan kurus Jongin terlebih dulu.

.

"Keringkan tubuhmu dan ganti baju dulu. Ini baju dan celana milik Appa!" Kyungsoo menyerahkan sebuah handuk dan satu stel baju rumahan milik appanya pada Jongin.

Jongin yang tidak enak hati langsung membungkuk dan pergi ke kamar tamu yang tadi Kyungsoo tunjuk.

Setelah selesai berganti baju, Jongin langsung keluar dan mencari Kyungsoo. Gadis itu ada di dapur, menyiapkan sesuatu untuk Jongin makan karena namja itu bilang bahwa dia sedang lapar.

"Eoh… kau sudah selesai ganti baju? Duduklah, aku buat kimchi spagethi" ujar Kyungsoo sambil memunggungi Jongin yang baru saja duduk di meja makan, menurut pada apa yang Kyungsoo perintahkan tadi.

"Jja… silahkan dimakan!" Kyungsoo kemudian meletakkan sepiring Kimchi Spagethi buatannya di hadapan Jongin.

Selama beberapa saat Jongin hanya memandang makanan itu, nampak sedang berpikir haruskan dia makan atau tidak. Moodnya benar – benar buruk malam ini.

Namun setelah lama berpikir akhirnya Jongin mulai menyantap Kimchi spagethi itu. Jongin menyantapnya dengan brutal dan nampak emosi, seperti sedang memakan korban hasil mutilasinya sendiri.

"Appa dan Eommaku sedang ke Pohang, adikku juga ikut… makanya rumahku sepi malam ini, tadinya aku takut tapi sekarang kau datang aku merasa sedikit aman…" ucap Kyungsoo untuk basa – basi. Namun Jongin seakan tak peduli, dia masih sibuk dengan kimchi spagethinya.

"Kalau boleh tau… kenapa kau kemari? Apa ada hal yang…"

"Uhuk… uhukk…"

Perkataan Kyungsoo terpotong karena Jongin tiba – tiba tersedak. Dengan sigap Kyungsoo segera menyodorkan segelas air putih untuk diminum oleh Jongin.

"Pelan – pelan makannya" desis Kyungsoo kini agak ketakutan. Pasalnya Jongin yang ada di hadapannya ini terasa seperti bukan Jongin.

"Ini terlalu pedas" kata Jongin tiba – tiba. Satu bulir air matanya menetes.

Dari sana Kyungsoo bisa menebak, Jongin sedang frustasi. Jongin sedang tidak baik – baik saja saat ini. Kyungsoo yakin dia tidak menambahkan apapun yang terasa pedas ke dalam Kimchi spagethinya, karena dia tau jika Jongin tidak suka pedas.

Air mata Jongin mulai berlomba untuk jatuh. Dia nampak sudah tak kuat lagi untuk menahan. Jujur saja, Jongin patah hati.

"Waegeurae?" Kyungsoo memberanikan diri untuk mendekat ke arah Jongin, dia sedikit membungkuk untuk memastikan Jongin baik – baik saja.

GREB

Jongin malah langsung menarik tubuh mungil Kyungsoo ke pelukannya dan tangisnya semakin pecah.

"Aku putus dengan Luhan"

Mendengar pernyataan Jongin, Kyungsoo langsung terkejut. Tubuhnya sempat menegang saat mencoba mencerna kalimat singkt itu. Sedikit percaya tidak percaya, namun di dalam keterkejutannya itu, hati kecil Kyungsoo merasa sangat lega. Kyungsoo menjadi orang yang sangat bahagia malam ini, namun sekaligus sedih di saat yang bersamaan. Kyungsoo jadi merasa bahwa dirinya adalah orang jahat karena merasa bahagia ditengah Jongin yang terluka, mungkin juga Luhan, sahabatnya.

"Hiks… rasanya sangat sakit, aku tidak suka perasaan ini…hiks" Jonging meluapkan emosinya, hati kecilnya percaya jika Kyungsoo pasti bisa mengerti perasaannya saat ini. Jongin tau Kyungsoo adalah yeoja yang cukup dewasa untuk menjadi tumpuan pada saat seperti ini.

"Gwaenchana… kau pasti bisa melewatinya… menangislah jika itu membuatmu lebih baik" Kyungsoo mengusap punggung Jongin dengan lembut, mencoba menenangkan perasaan namja bermarga Kim itu.

"Luhan tidak pernah benar – benar mencintaiku, dia lebih memilih Sehun dari pada aku Kyungsoo-ah…" Jongin kembali mengadu. Biarlah dia dibilang lemah dan manja, tapi dengan begitu, dia merasa lebih lega. Kyungsoo adalah orang yang tepat untuk Jongin saat ini.


.

.

.


Seoul, 11 April 2014

Seorang gadis bermata rusa sedang menyisir rambutnya, dia duduk di meja rias dengan sebuah cermin berbentuk bundar yang cukup besar. Gadis itu menyisir rambutnya agak sedikit tergesa dan sesekali matanya melihat kearah jam di dinding kamarnya, pukul 6.30 pagi. Dia bisa saja terlambat jika tidak segera berangkat.

Hari ini, Luhan, gadis bermata rusa itu harus menjemput seseorang di bandara. Seseorang yang berharga untuknya saat ini. Seseorang yang menjadi orang yang paling dicintainya saat ini.

"Aiiiisssshhh!"

Luhan membentak dirinya sendiri ketika eyeliner yang ia poleskan keluar dari jalurnya. Dengan sigap tangan dingin Luhan langsung mengambil tissue dan mengulang garisannya. Jujur saja, tangan Luhan sangat gemetaran saat ini, belum lagi dadanya yang berdegup kencang sangking gugupnya. Setelah berpisah cukup lama dengan seseorang yang dia cintai ini, akhirnya orang itu datang. Akhirnya orang itu pulang kembali ke Korea.

Bahkan Luhan sempat dibuat salah tingkah ketika matanya tak sengaja memandang sebuah robot berukuran sedang yang berdiri manis di meja nakasnya. Sebuah Robot Gundam Double Zeta yang ditinggalkan Sehun untuknya.

"Ya… kau mengejekku eoh? Kau sama saja seperti pemilikmu! Ahahahha…" gumam Luhan dengan kekehannya seakan dia dapat berkomunikasi dengan robot itu. Luhan memang sering melakukannya, terutama saat dia merindukan pemilik asli dari robot itu.

Ceklek

Pintu kamar Luhan terbuka, menampilkan sesosok yeoja dengan celemek di badannya.

"Agashi, mobil anda sudah siap" kata maidnya

"Eohne, sebentar lagi aku turun!" jawab Luhan tanpa membalikkan badannya, dia bisa melihat maid itu melalui pantulan cermin di depannya.

10 menit kemudian gadis itu benar – benar turun, Luhan menggunakan hot pants berwarna cream dengan kemeja berlengan panjang berwarna tosca. Rambut coklatnya yang indah dia ikat dengan rapi, wajahnya dipoles dengan make up natural. Kaki jenjangnya dibalut dengan stiletto beludru berwarna senada dengan hot pantsnya. Luhan terlihat biasa namun sangat cantik pagi ini.

Gadis manis itu tak lagi kemana – mana harus diantar supir, dia kini sudah memiliki mobil mungilnya sendiri dan menyetirnya sendiri. Sebuah minni cooper berwarna coklat muda selalu siap mengantarnya kemanapun.

Luhan menyetir mobilnya menuju ke bandara Gimpo dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil Luhan sengaja mendengarkan siaran pagi sebuah stasiun radio. Mendengarkan radio adalah kegiatan wajib yeoja itu di pagi hari, tentu saja karena yang siaran adalah Byun Baekhyun sahabatnya. Senyum manis di bibir Luhan mengembang mana kala topik yang diangkat pagi hari ini adalah persahabatan. Baekhyun menyebutkan namanya di tengah nama Kyungsoo, Jongin, Chanyeol dan Sehun.

"Dan menurutku sahabat adalah hal paling berharga di dunia ini. Aku beruntung memiliki sahabat seperti mereka yang hingga kini selalu setia bersamaku, ahahahahaha… oke lagu yang akan aku putar selanjutnya adalah lagu yang menjadi sebuah nostalgia untuk persahabatan kami, khususnya bagi dua orang sahabatku yang sangat bodoh. Luhan dan Sehun. Dimanapun kalian berada aku harap kalian mendengarkan lagu ini dan kembali bernostalgia tentang masa – masa sekolah kita dulu. And yup! bagi kalian yang memiliki sahabat dan cerita manis tentang persahabatan kalian, kalian bisa kirimkan cerita tersebut di fanpage KBS Radio di portal KBS Sweet Morning dan kalian juga bisa merequest lagu yang melengkapi nostalgia kita pada pagi hari ini. So stay tune on KBS Radio FM, Sweet Morning with Baby Baek…. Here we go, Super Junior – Happiness"

Luhan terkekeh sendiri mendengar suara merdu sahabatnya itu. Siaran radio Baekhyun memang tak pernah Luhan lewatkan. Dan kini seraya mendengar sebuah lagu yang seperti apa kata Baekhyun jika lagu yang sedang diputar ini adalah lagu nostalgia untuknya. Sebuah lagu berjudul happiness yang dinyanyikan oleh Super Junior. Selama lagu terdengar, Luhan ikut bernyanyi sambil tersenyum sendiri, mengingat lagi memori yang telah lama berlalu. Memori indah yang dia lewati bersama seseorang yang selalu ada untuknya.

Luhan bahkan tertawa sendiri saat ini, rasa rindunya pada seseorang yang berkaitan dengan lagu ini menjadi semakin besar. Seseorang yang dulu pernah menari untuknya di depan umum dengan iringan lagu ini, hanya untuk membuat Luhan tersenyum.

"Dasar, Oh Sehun bodoh!" Luhan menggumam sambil tersenyum.


.

.

.


November 2010

Seharian ini Luhan hanya murung. Baekhyun yang sedari tadi mencari topik untuk dibicarakan hampir merasa frustasi. Pasalnya tidak hanya Luhan yang diam, tapi juga Kyungsoo. Luhan dan Kyungsoo hanya menanggapi semua perkataan Baekhyun dengan anggukan, gumaman dan senyum masam. Mereka berdua seperti tidak berniat untuk mengobrol.

Baekhyun akhirnya terdiam. Dia sadar betul jika sesuatu telah terjadi pada Luhan dan Kyungsoo. Jika tidak, mana mungkin kedua sahabatnya yang juga cerewet biasanya itu diam seperti ini.

"Ada apa dengan mereka?" suara berat mengagetkan Baekhyun, langsung saja gadis bermata sipit itu menghadap ke belakang dan menemukan sosok Park Chanyeol sedang mengamati Kyungsoo dan Luhan secara bersamaan.

"Biasanya yang cerewet di kantin ini adalah kalian bertiga, kenapa hari ini cuma kau?" lanjut Chanyeol, bertanya dengan cool di hadapan Baekhyun.

"Meolla… aku merasa ada yang aneh dengan mereka saat ini" Baekhyun akhirnya merespon apa yang Chanyeol katakan.

"Kau kan sahabatnya, apa kau tau sesuatu?" tanya Chanyeol kemudian menunduk di sebelah Baekhyun, masih mengamati Kyungsoo yang sibuk dengan buku Champbellnya dan Luhan juga sibuk dengan ponselnya.

"Entahlah, padahal seharusnya mereka berdua bahagia hari ini! Sehun baru saja menang medali emas dan akan sampai di Korea nanti sore, sedangkan Jongin hari ini akan mengikuti pertandingan final. Aku tidak mengerti dengan mereka berdua, kenapa mereka malah jadi diam dan seperti mayat hidup begini. Biasanya mereka selalu merespon setiap ucapanku dengan bersemangat. Aku yakin, sesuatu telah terjadi pada mereka tapi aku masih bingung kenapa bersamaan…"

Baekhyun menghentikan celotehannya karena saat ini Chanyeol sedang menatap tajam dirinya, lengkap dengan kening berkerut dan mimik wajah yang mengisyaratkan bahwa Baekhyun adalah mahluk aneh.

"Kau cerewet sekali Byun Baekhyun!" protes Chanyeol masih dengan mode coolnya, kemudian namja itu pun seenaknya pergi meninggalkan ketiganya dan berlalu begitu saja.

"Cih! Sok cool sekali sih orang itu. Ah menyebalkan!" dengus Baekhyun dengan kekesalan yang memuncak. Ingin sekali rasanya gadis itu menancapkan kuku pada wajah sok keren Chanyeol barusan.

Park Chanyeol adalah ketua Osis di Hyundai High School, namja itu terkesan sangat dingin di hadapan semua orang. Terang saja namja itu sedang menjaga imagenya sebagai seorang ketua Organisasi Siswa, Chanyeol tidak mau dianggap menjadi ketua yang konyol dan penuh lelucon. Namun tak banyak orang yang tau tabiat asli Park Chanyeol, anak itu pandai berkamuflase.

Baekhyun sendiri tidak menyukai Chanyeol yang selama ini terkesan misterius, pendiam dan dingin itu. Baekhyun yang berkeperibadian ramah dan sedikit berisik tentu tidak akan sepaham dengan kepribadian Chanyeol yang dingin dan tenang.

.

Tepat pukul 4 sore jam sekolah mereka selesai. Baekhyun bersama Kyungsoo dan Luhan yang masih saling diam sedang berdiri di depan gedung sekolah mereka, menunggu jemputan.

"Hari ini Kyu Oppa akan menjemputku dan mengajakku ke sanggar musikalnya. Sampaikan salamku pada Jongin dan Sehun, ne?" kata Baekhyun yang masih mencoba ceria

"Ne…" jawab Kyungsoo dan Luhan bersamaan namun dengan nada lemah

"Oh ya Tuhan, aku sudah tak tahan lagi. Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua? Kenapa kalian saling diam dan cuek begini? Apa aku ada salah? Atau jangan – jangan kalian sedang bertengkar atau…"

"Kami baik – baik saja" ujar Kyungsoo memotong perkataan Baekhyun.

Luhan langsung mengangkat wajahnya dan menatap Kyungsoo dan Baekhyun bergantian. Dia juga baru sadar jika sedari tadi Kyungsoo sama sepertinya, hanya diam dan murung.

"Ne… kami… baik – baik saja," ucap Luhan dengan tambahan senyum masam.

"Luhan-ah…" Kyungsoo memanggil Luhan dan kedua gadis itu saling memandang dengan Baekhyun yang memandang keduanya bergantian masih tidak mengerti.

"Apa kau benar – benar tidak akan datang pada pertandingan Jongin hari ini?" tanya Kyungsoo lemah

"Ne…." jawab Luhan pelan

"Wae?" Baekhyun yang tidak mengerti apapun ikut bertanya, dia juga mau masuk dalam topik yang kedua sahabatnya ini bicarakan

"Tapi Jongin masih sangat berharap jika kau akan datang" bujuk Kyungsoo lagi, walau dalam hati kecilnya berharap Luhan menjawab tidak. Katakanlah Kyungsoo jahat dan egois saat ini, tapi jujur saja itu yang Kyungsoo inginkan.

"Aku dan Jongin sudah putus, Kyungsoo-ah" ujar Luhan secepat kilat namun masih bisa terdengar jelas

"MWO?" Baekhyun kaget namun Kyungsoo hanya diam, dia sudah tahu, bahkan sebagian hati kecilnya bersorak.

"Aku bukanlah yang terbaik untuk Jongin, kami tidak pernah sepaham untuk masalah apapun…"

"Kau lebih memilih Sehun" itu adalah pernyataan yang keluar dari bibir manis Kyungsoo dan itu sukses membuat Baekhyun dan Luhan mendelik

Luhan menghela napas berat sedangkan Baekhyun hanya celingukan tak mengerti apa.

"Aku mungkin terlihat seperti lebih memilih Sehin daripada Jongin. Tapi… ada beberapa hal yang sudah ku pertimbangkan untuk hal ini. Pertama, aku dan Jongin memang tak pernah sepaham, kedua, aku merasa selama ini hubungan kami sangat semu, Jongin lebih sibuk dengan kesibukannya dan aku dengan kesibukanku, dan yang ketiga, aku sadar bahwa aku bukanlah orang yang tepat untuk Jongin. Dan…."

Luhan menggantung kalimat panjangnya lalu menatap Kyungsoo dalam – dalam. Kyungsoo yang ditatap Luhan kini seperti menahan napas.

"Dan aku tau ada seseorang yang lebih mencintai Jongin daripada aku. Ya… Do Kyungsoo, jangan kira aku tidak tau jika kau diam – diam menyukai Jongin. Kau menulis namanya di setiap buku catatanmu, bahkan password SNSmu adalah tanggal lahir Jongin. Kau melakukannya lebih dari aku yang kekasihnya. Tapi aku berterimakasih, karena kau tak pernah mencoba merebut Jongin dariku. Kau memang sahabat yang baik"

Luhan berkata dengan tegas dan itu membuat Kyungsoo kaget. Oh ya, Baekhyun jauh lebih kaget.

"Mwo ya? Ada apa ini? Kenapa aku tidak tau apa – apa? Jadi Luhan dan Jongin putus lalu… Kyungsoo-ah… kau menyukai Jongin? Mwoya ige? Jelaskan padaku?" rengek Baekhyun meminta penjelasan.

GREB

"Lu… maafkan aku…" ujar Kyungsoo seraya menahan tangis

"Mungkin kau yang terbaik untuknya Kyungie-ahJja… kau harus ada di pertandingannya, jadilah yang terbaik untuk Jongin, aku yakin Jongin adalah namja yang baik dan dia akan tau perasaanmu jika kau menunjukkannya. Dia sudah bukan lagi milikku, dan aku harap dia bisa jadi milikmu. Aku….. aku akan tetap menemui Sehun,"

Luhan dan Kyungsoo melepas pelukan mereka. Mereka berdua sama – sama tersenyum kemudian saling menghapus air mata mereka ditengah tawa kecil yang mereka buat. Luhan kemudian sadar bahwa masih ada Baekhyun yang menatapnya dan Kyungsoo dengan tatapan yang tak bisa diungkapkan. Perpaduan antara shock, tidak mengerti, marah, sedih, senang dan sendu semua bercampur di sorot mata sipit Baekhyun.

"Masih butuh penjelasan nona Byun?" tanya Kyungsoo dengan senyum manisnya

"Dwaeseo… Sudah jelas dari percakapan kalian. Kau Do Kyungsoo, semoha berhasil menyembuhkan hati Jongin dan kau… Luhan, ada apa denganmu dan Sehun?"

.

Saat ini Luhan sudah berada di ruang tunggu kedatangan Internasional di bandara Incheon. Luhan menunggu sambil duduk, kepalanya masih mencerna pertanyaan Baekhyun barusan.

Ya… ada apa sebenarnya dengan dirinya dan Sehun?

Luhan menggeleng kepalanya, dia sendiri tidak mengerti ada apa. Yang jelas, hatinya selalu memilih Sehun. Sahabat jeniusnya itu. Mood Luhan benar – benar aneh kali ini, satu sisi dia merasa lega telah putus dengan Jongin, entahlah, ikatan yang selama ini dia jalin dengan Jongin terasa sedikit membebani akhir – akhir ini. Namun separuh hatinya juga terasa kehilangan. Tentu saja, Jongin adalah cinta pertama Luhan. Walaupun pada akhirnya kebosanan menghapus rasa cinta pertamanya, yah… tak selamanya cinta pertama bertahan lama dan selalu manis. Atau mungkin tidak sekarang terasa manisnya.

Luhan terus melamun hingga tanpa sadar, seorang namja dengan postur tinggi menjulang sedang membungkuk di hadapannya dan menatap lurus pada wajah Luhan. Namja itu sedikit memiringkan kepalanya kekanan untuk mendapatkan pemandangan yang lebih bagus. Namja berparas tampan dengan tatapan mata tajam itu sedikit tersenyum melihat hoobaenya yang cukup terkenal dari jurusan sastra itu sedang melamun seperti sedang memikirkan masalah Negara yang sangat berat.

"Woaah… apa hubungan Korea Selatan dan Korea Utara yang tengah memburuk juga ada kaitannya dengan ekspresimu hari ini?" tanya namja itu dengan nada sedikit mengejek dan seringai jahil di wajahnya.

"Eoh…. Kris Sunbaenim!" Luhan kemudian sadar dari lamunannya dan mendapati namja blasteran Cina-Korea yang tampan itu ada di hadapannya, bahkan sedang terkikik geli melihat bagaimana ekspresi Luhan yang kaget seperti tertangkap basah sedang melakukan tindak kriminal.

"Menjemput Tuan Oh Sehun si peraih medali emas Olimpiade Fisika itu?" tanya Kris kini sudah duduk di samping Luhan sambil mengotak – atik ponselnya.

"Eoh? Ne…. aku sedang menjemput Sehun. Kenapa Sunbaenim sudah keluar duluan? Dimana Sehun?" tanya Luhan mengedarkan pandangannya pada sekeliling.

"Ah… Sehun sedang sibuk di bagian pemeriksaan imigrasi" jawab Kris enteng

"Lalu Kris Sunbaenim kenapa tidak melewati bagian imigrasi?" tanya Luhan dengan polosnya

"Semua orang di Bandara ini kenal siapa aku, aku adalah…"

"Ne… Kris Sunbaenim adalah putra tunggal Mentri Perhubungan Republik Korea Selatan dan Duta Besar China untuk Korea" jawab Luhan menggebu

"Bingo! Kau memang pintar Lu Han!" jawab Kris seraya mengusak rambut Luhan

"Tentu saja! Bagaimana aku tidak tau itu jika rumah kita di China sana sangat bersebelahan?" Luhan kemudian terkekeh lucu. Ya, Luhan memang aslinya orang China, tapi kedua orang tuanya adalah pelaku bisnis di Korea.

"Oh ya… mana Yixing eonni? Kenapa tidak terlihat di sini?" tanya Luhan kemudian menatap Kris yang sibuk dengan ponselnya

"Eoh? Bukankah hari ini jadwalnya tingkat 3 untuk mendapatkan kelas tambahan? Yixing bilang dia benar – benar tidak bisa melewatkan kelas tambahannya kali ini, kau tau kan Park Songsaemnim sangat menyeramkan" ujar Kris dengan sedikit tawa di akhir kalimat.

"Mwo? Tapi… kelas tambahan untuk tingkat 1, 2 dan 3 sudah ditiadakan karena ini adalah minggu pekan olah raga dan seni untuk pelajar seluruh Seoul. Tidak ada kelas tambahan apapun, Sunbaenim" kata Luhan kemudian memiringkan kepalanya

"Mmm? Jinjja?" mimik wajah Kris hanya datar. Tak berubah dan tetap menatap ponselnya.

"Sunbaenim…"

"mmm?"

"Gwaenchana?" tanya Luhan takut – takut.

"Gwaenchana… mungkin Yixing sedikit marah karena selama sebulan ini komunikasi kami berantakan. Aku tau yeojaku itu sangat suka sekali ngambek. By the way, tidakkah kau ingin memberiku selamat atas keberhasilanku meraih medali perak dalam Olimpiade Young Scientist and Programer? Bagaimanapun medali perak adalah suatu pencapaian yang penuh usaha…" Kris mengunci ponselnya kemudian menatap Luhan meminta ucapan selamat.

"Chukae Sunbaenimnim! Kau adalah calon programmer terbaik untuk masa depan! Sekali lagi… Congratulation!" ujar Luhan dengan senyum terbaiknya

"Gomawo… ah… Lu, sepertinya orang yang kau tunggu sudah datang. Sana, sambut Sehun dengan pelukan hangat. Dia dalah kebanggaan Korea untuk tahun ini!" Kris menunjuk ke arah Sehun yang sedang mendorong troli nampak celingukan, sepertinya namja bermata sipit itu tengah mencari sahabatnya.

Luhan kemudian berpamitan pada Kris untuk menghampiri Sehun. Setelah Kris mengangguk Luhanpun berdiri dan pergi menuju Sehun.

.

"SEHUN-AH!"

Luhan berteriak nyaring dan melambaikan kedua tangannya.

"LU!"

Senyum Sehun langsung mengembang dan mempercepat jalannya menuju ke arah Luhan.

"Chukahae, kau mendapat medali emas." Luhan segera memeluk Sehun dengan cukup erat.

"Chukahae, kau adalah kebanggaan Korea. Sahabatku benar – benar jjang!" kata Luhan lagi masih dalam pelukan Sehun.

"Gomawo, uri pinku – pinku… terimakasih sudah mau menjemputku ke bandara!" ujar Sehun dan balas memeluk Luhan. Jujur saja, dia merindukan sahabatnya itu. Sangat.

Luhan kemudian teringat pada Jongin, entahlah, hanya saja dia ingat ini adalah sebab dia dan Jongin putus. Luhan sendiri tidak mengerti, apa yang membuat dia lebih memilih untuk menjadi orang pertama yang memeluk Sehun dibanding menjadi orang terdepan yang mendukung Jongin. Luhan memejamkan matanya dan menghela napas panjang.

Sesaknya baru terasa sekarang. Dia baru merasa benar – benar kehilangan Jongin sekarang. Terutama setelah mata rusanya tak sengaja melihat jarum jam menunjuk pukul 17.30 sore, pertandingan Jongin pasti sudah dimulai. Dia benar – benar kehilangan Jongin. Baru sekarang dia merasa ada yang sakit di dadanya.

"Lu? Gwaenchana?"

Suara rendah Sehun membawanya lagi ke dalam alam nyatanya. Dan disinilah dia sekarang, memeluk Sehun. Pilihannya. Dan baru sekarang juga Luhan sadar, bahwa dia benar – benar memilih Sehun.

Luhan melepaskan pelukannya dan menatap wajah Sehun yang masih penuh senyum dan binar bahagia. Luhan sejenak menatap wajah bahagia itu, kedua mata Luhan langsung berubah sendu. Di kepalanya terdapat banyak sekali pertanyaan dan perdebatan.

Inikah yang dia pilih? Mengapa dia lebih memilih Sehun? Benarkah dia mampu melepas Jongin untuk Kyungsoo? Tidakkah Jongin lebih berharga dibanding Sehun? Tapi mengapa dia memilih Sehun? Apa ada yang salah dengan dirinya?

"Lu…"

Sehun memanggil lembut nama Luhan, kedua tangan Sehun kini mencengkram lembut kedua bahu sempit Luhan.

Tes

Satu persatu airmata Luhan tiba – tiba jatuh. Badannya mulai bergetar, dan ketika kedua matanya saling bertaut dengan mata Sehun. Disinilah dia sadar.

Dia mencintai Sehun.

"Wae? Kenapa menangis, eum?" Sehun mengalihkan kedua tangannya ke pipi Luhan, mencoba menghapus air mata yang membasahi pipi putih sahabat kesayangannya.

Sehun tak mengerti kenapa reaksi Luhan jadi seperti ini, tidakkah seharusnya dia bahagia jika dirinya membawa pulang medali emas?

"Aku…. Aku dan Jongin sudah putus"

Sehun tercekat. Kaget. Tentu saja. Sehun tak menyangka setelah dia pulang dari Swiss dia mendapatkan kabar seperti ini. Bukankah kemarin Luhan masih bilang dia dan Jongin baik – baik saja?

Tapi nampaknya ini bukanlah saat yang tepat untuk bertanya mengapa. Sehun juga tidak mau bertanya apa alasannya. Yang Sehun tanyakan adalah…

"Apa kau yakin? Apa ini benar – benar keputusanmu?" tanya Sehun menatap kedua mata rusa cantik itu

Sejenak Luhan terdiam, nampak meyakinkan hatinya akan pilihan yang terus jadi pikirannya. Ya. Sehun adalah pilihan Luhan, itu nyatanya.

Luhan mengangguk.

Setelah itu Sehun langsung memeluk Luhan dan mengusap punggung yeoja cantik itu. Nampaknya mereka berdua tidak peduli banyak pasang mata memperhatikan mereka, sang yeoja menangis dan sang namja memeluk dengan penuh kasih sayang. Termasuk Kris, yang ternyata daritadi masih duduk di tempat yang sama. Kedua mata tajamnya menatap Sehun dan Luhan sedari tadi. Senyum manis tersungging di bibirnya.

"Kapan sih kalian akan sadar jika kalian berdua sebenarnya saling mencintai, huh?" gumam Kris pada udara hampa di sekitarnya. Seraya menggeleng kepala melihat tingkah kekanakan dua hoobaenya itu.

.

Kini Sehun dan Luhan berada dalam sebuah mobil yang merupakan mobil milik orang tua Luhan. Mobil itu adalah mobil yang biasa mengantar jemput Luhan. Dan kali ini Luhan menggunakannya untuk menjemput Sehun. Bukan tanpa alasan, Sehun memang tidak memiliki siapapun untuk menjemputnya kebandara. Kedua orang tuanya sibuk. Sangat sibuk. Orang tua Sehun nampak hanya perlu tau anak itu memenangkan medali atau tidak. Hanya itu. Sedangkan adik – adik Sehun? Oh yang benar saja, Orang tua sehun walaupun tidak pernah di rumah, tapi mereka adalah orang tua yang sangat ketat. Tak satupun dari anak – anak mereka boleh bolos dari segala macam bentuk les privat mereka.

Di perjalanan, Sehun dan Luhan tak banyak bicara. Mereka berdua hanya diam, Luhan sendiri menengok ke sisi lain untuk mencari pemadangan indah. Namun Sehun, namja tampan itu hanya memperhatikan Luhan sedari tadi.

"Apa kau merasa kehilangan?" tanya Sehun akhirnya

Luhan mendengar pertanyaan Sehun, dia memalingkan pandangannya dari jendela dan beralih ke Sehun.

Setelah beberapa saat Luhan nampak berpikir dan jawaban gadis itu adalah, "Meolla"

"Semua akan baik – baik saja. Kita sudah bukan anak – anak lagi. Jika kau masih mencintainya kau bisa memintanya untuk berbaikan lagi" Sehun mencoba memberi saran yang dia sendiri rasanya ingin mengutuk mulutnya karena berkata demikian

"Tidak! Aku tidak akan melakukannya."

Satu hembusan napas lega Sehun keluarkan. Luhan benar – benar serius kali ini. Dia yakin. Namun memang dasar Sehun orang yang kritis, dia selalu ingin bertanya.

"Lalu kenapa kau begini? Terlihat kosong dan…. Kehilangan…" ujar Sehun kemudian

"Ahahahahaha…" Luhan tertawa, dan Sehun mengerutkan alisnya.

"Walau bagaimanapun, aku dan Jongin bersama sudah hampir dua tahun. Dia adalah cinta pertamaku, jadi… rasa kehilangan itu pasti ada! Tapi entahlah, disamping rasa kehilangan aku juga merasa lega…. Lega karena aku sudah memilih pilihan yang tepat."

Luhan berucap panjang lebar dan itu berhasil menciptakan senyum tipis di bibir Sehun.

"Aigooo… uri pinku – pinku sudah bisa berpikir dewasa, eoh?" tanya Sehun kemudian mengusap kepala Luhan pelan

"Ya! Gundam Robot! Maukah kau menemaniku bersedih hari ini? Aku janji lain kali aku akan menemanimu bergembira atas kemenanganmu" pinta Luhan dengan sneyum lemah tapi sangat manis di wajahnya.

"Geurae! Jja… kita ke Hongdae!"

.

Dan di sinilah mereka sekarang, di daerah pusat sosialita Seoul, Hongdae. Sehun memang cukup akrab dengan daerah ini, mengingat kakak kesayangannya memiliki sebuah cafe di sana. Kini Café milik Jongdae dan Minseok sudah semakin terkenal saja, bahkan tak jarang hanya untuk menikmati kopi atau pasta para pelanggan harus rela antri lebih lama.

Sehun memang mengajak Luhan untuk ke Café itu, tapi tidak menjalankan rutinitas mereka seperti biasa jika sedang ke sana – minum buble tea atau makan pasta – begitu masuk Sehun langsung menitipkan Luhan pada Jongdae yang sedang menjaga mesin kasir. Namja berkulit seputih susu itupun tak menanggapi sambutan ramah suami dari sepupunya itu, dia malah langsung pergi, entah kemana. Luhan juga tidak tau.

.

"Jadi kau ikut dalam rombongan Drama Musikal ini?" tanya seorang yeoja bermata sipit dengan eyeliner tipis pada seorang namja yang sedang duduk memeluk gitarnya.

"Mmm… Appaku adalah pengaransemen lagu dan eommaku penulis naskah, bisa dibilang aku adalah anak yang tumbuh di dalam drama musikal, panggung adalah rumahku" ujar namja tampan namun bertelinga lebar itu dengan santainya, nampak masih sibuk menyetel kunci – kunci gitarnya.

"Woah… aku tak menyangka ternyata orang sepertimu menyukai seni Drama Musikal juga…" gumam Baekhyun si yeoja ber eyeliner itu yang kini duduk di depan Chanyeol si namja bertelinga peri itu.

"Mmm… memangnya aku orang seperti apa?" tanya Chanyeol kemudian menghentikan kegiatannya dan menatap Baekhyun yang sedang kedapatan menyebar pandangannya ke setiap sudut ruang latihan drama musikal

"Eng? Kau? Mmm…" Baekhyun nampak memikirkan apa yang akan dia katakan. Pasalnya Chanyeol bukanlah orang yang menarik perhatian Baekhyun, bahkan justru menyebalkan di matanya.

"Namja cuek, menurut pada peraturan, seorang ketua osis yang selalu datar, membosankan…. Lalu apa lagi?" tantang Chanyeol menebak isi kepala Baekhyun

"Kau… kau terlalu kaku dan tidak ramah!" ujar Baekhyun jujur.

"Aaa… begitu ya?" Chanyeol bertanya singkat dan dijawab anggukan oleh Baekhyun.

"Sering – seringlah datang kemari, kata Kyuhyun hyung suaramu juga bagus, jika kau mulai belajar akting… mungkin kau juga bisa menjadi pemain drama musikal" ucap Chanyeol enteng

"Benarkah?" tanya Baekhyun antusias

"Aku bisa mengenalkanmu pada eommaku kalau mau, selain penulis naskah dia juga pelatih vokal" Chanyeol menawarkan seraya kembali menyetel kunci gitar

"Apa tidak masalah jika seperti itu?" Baekhyun bertanya agak canggung

Chanyeol mengangguk namun tak memandang Baekhyun.

"Apa aku mengganggu?"

Sebuah suara menginterupsi percakapan canggung antara yeoja bermarga Byun dan namja bermarga Park itu. Suara yang asalnya dari pintu masuk ruang musik.

"Oh Sehun, kenapa bisa di sini?" Baekhyun melongo melihat sahabat dari sahabatnya itu ada dihadapannya sekarang

"Eoh… kau sudah kembali?" sedangkan Chanyeol, masih dengan santainya bertanya sambil memetik beberapa kunci di gitar yang dia pegang, memastikan suaranya sesuai.

"Aku butuh bantuanmu Chanyeol-ah…. Ah Ani… aku butuh bantuan kru dancermu!" ujar Sehun sedikit tergesa.

"Wae? Kau mau mengajari mereka fisika atau apa?" kini Chanyeol menatap Sehun

"Aku serius, aku membutuhkan mereka untuk melakukan suatu flash mob, aku pernah lihat mereka melakukannya di perempatan dekat café noonaku" ujar Sehun mantap.

Ya. Sanggar seni milik orang tua Chanyeol tempat dimana Kyuhyun latihan drama musikal memang terletak di Hongdae, tak terlalu jauh dari Café milik Jongdae dan Minseok.

Sehun kemudian menjelaskan maksudnya mengadakan flash mob, untuk Luhan tentu saja. Dan entah bagaimana, Baekhyun yang setuju dengan ide Sehun ikut meminta Chanyeol mengabulkan permintaan Sehun yang notabene tidaklah begitu dekat dengannya. Hubungan antara Chanyeol dan Sehun adalah hubungan antara teman sekelas. Chanyeol sekelas dengan Sehun, itu artinya… Chanyeol adalah namja yang pintar, diatas rata – rata.

.

Sudah hampir 2 jam Luhan menunggu Sehun. Tentu saja gadis bermata rusa itu jadi sangat khawatir. Apa kabar namja berkulit pucat itu, kenapa lama sekali meninggalkannya. Luhan pun tak bisa menghubungi ponsel Sehun. Entah kemana perginya anak itu, Luhan jadi khawatir.

"Mau kemana Lu?" tanya Minseok ketika Luhan hendak beranjak dari kursi yang ada di barnya.

"Mencari Sehun, ini sudah hampir dua jam dan…"

"Eoh, itu Sehun" Minseok memotong perkataan Luhan dan menunjuk ke arah tengah perempatan yang ada di depan Cafenya.

Benar saja, sosok Sehun sudah berdiri dengan santainya di sana. Oh, jangan lupakan sebuah microphone bertengger di pipinya. Luhan mengernyit kemudian melihat Sehun menedikkan tangannya, tanda memanggil Luhan.

Luhanpun langsung keluar, bersama Minseok yang juga penasaran kenapa Sehun bisa ada di sana. Begitu gadis cantik itu keluar café, terdengar musik yang cukup familiar di telinganya. Dan yang menakjubkan adalah, Sehun mulai menari.

-Super Junior – Happines-

Dan begitu bait pertama seharusnya dinyanyikan, dia jelas – jelas mendengar suara Sehun yang menyanyi.

[Sehun]
Hambo nanen narel ij jobon jo kobso
Ojik gede manel seng gak kenen gol
Gereon Naneun Moya Nal Jiteon Geoya
Jigem ne no neson nomul heloh basing ga

Baru satu bait saja sudah terdengar aneh memang, dengan suara yang terbilang tidak begitu baik dalam urusan menyanyi, Sehun tetap melakukannya. Siapa peduli, melihat wajah Luhan terkejut dan menganga seperti sekarang ini saja membuat Sehun semakin semangat untuk melakukannya. Menyanyi padahal dia sama sekali tidak bisa menyanyi dengan baik. Bahkan ketika masuk ke bagian rap, Sehun masih menyanyikannya.

[Sehun]
Nol ca ja gal ga senggak kesoh
Nan nan jal more gesoh
E sesangi dol goin nen jigem
Nan nuh bak ke ubji

Hal mare obso gal sodo obso
Non moldo obso nuk kimdo obso
Ne ape suh inen nal bara bwa

Noh wihe sara inen nal

Tepat setelah bagian rap selesai, suara Sehun menjadi sedikit tersengal. Namun nampaknya namja tampan bermarga Oh itu tetap melanjutkan nyanyiannya ditambah dengan gerakan tari yang cukup membuat Luhan tersenyum lebar. Kini semua orang yang kebetulan ada di daerah itu sedang melihat ke arah Sehun yang tengah menyanyi dan menari di tengah perempatan, menghadap ke seorang yeoja bermata rusa yang kini tengah terdiam tak mengerti harus berekspresi bagaimana, yang jelas air mata Luhan kini sudah terhapus dan berganti jadi senyum.

[Sehun]
Yak sok dwen sigani wasoyo gede ape
Isoyo duryo wome wolgo ijiman
Non morel dak kajo woso yo gede ne
Son jaba jyo iru nal goya

Hamke hejon gede ege heng bogel

Sehun menunjuk tepat kearah Luhan ketika menyanyikan baris terakhirnya tadi. Yang artinya memberikan orang yang berada di sampingnya kebahagiaan. Yang dimaksud Sehun tentu saja Luhan. Luhan harus bahagia, dan kini Sehun mulai masuk ke bagian Reff dimana Sehun memang benar – benar menyanyi sambil menari tepat hanya 5 meter di depan Luhan.

[Sehun]
Nun gam go gedel geryo yo mamsok
Gedel caja jyo narel bal kyo junen
Bici boyo yong wonan
Heng bogel no cil son ob jyo
Gede nabo ina yo norel bulo joyo gede yokte

Isel goya norel saranghe hamke heyo gedewa yong woni

Sehun sengaja membentuk hati dengan menyatukan kedua tangannya diatas kepala. Memberikan hati itu pada Luhan.

Dan sesaat kemudian musik berubah menjadi bagian dance break, saat itu tiba – tiba saja beberapa orang ikut menari sirama dengan Sehun, Sehun terlihat sangat baik saat menari dengan beberapa orang di belakangnya, itu benar – benar membuat Luhan terkesima.

Namun masih ada hal lain yang mengejutkan Luhan, ketika baian Dance break berakhir, muncullah seorang gadis manis bereyeliner di mata sipitnya, dia adalah Byun Baekhyun, sahabatnya tersayang.

[Baekhyun]
Hambo nanen narel ij jobon jo kobso
Ojik gede manel seng gak kenen gol

Tidak hanya Baekhyun. Kakak kesayangan Baekhyun juga ikut menyumbangkan suara emasnya di sana. Ya, Byun Kyuhyun juga ikut.

[Kyuhyun]
Gereon Naneun Moya Nal Jiteon Geoya
Ne non nesun non mul heloh basing ga

[Baekhyun]
Yok sok dwen sigani wasoyo gede ape
Isoyo duryo wome wolgo ijiman

[Kyuhyun]
Non morel dak kajo woso yo gede ne
Son jaba jyo iru nal goya

[Sehun]
Hamke hejon gede ege heng bogel

Lagi, pada baris itu Sehun menyanyikannya sendiri dan benar – benar dia tujukan kepada Luhan. Bagaimana dia ingin memberikan kebahagiaan kepada sahabatnya itu. Dan dibagain reff kedua, semua penari yang ikut dalam flash mob mulai turun dan menari mengitari Luhan.

[All]
Nun gam go gedel geryo yo mamsok
Gedel caja jyo narel bal kyo junen
Bici boyo yong wonan
Heng bogel no cil son ob jyo
Gede nabo ina yo norel bulo joyo gede yokte
Isel goya norel saranghe hamke heyo gedewa yong woni

[Baekhyun]
Jo parang sederi jon hajo nen
Heng bogi ran nen goh

[Kyuhyun]
Nel wori gyot te gak kai inen go jyo

"Ayo ikut menari dan menyanyi, kau pasti menyukainya… ayo.." Sehun mengulurkan tangannya dan mengajak Luhan untuk ikut menari dan menyanyi bersama. Luhan awalnya malu – malu, tapi akhirnya Luhan menyambut uluran tangan itu dan masuk ke dalam kerumunan. Mulai ikut menari seirama dan menanyi bersama.

[All]
Nun gam go gedel geryo yo mamsok
Gedel caja jyo narel bal kyo junen
Bici boyo yong wonan
Heng bogel no cil son ob jyo
Gede nabo ina yo norel bulo joyo onjerado
Gede mamel el yoro boayo
Apen nega iso yo
Narel bolo joyo gede yokte

[Sehun]
Isel goya norel saranghe
Hamke heyo gedewa yong woni.

Lalu pada bagian terakhir, sehun seperti berbicara pada Luhan. Entah kenapa Luhan jadi benar – benar yakin jika…. Kebahagaiaannya adalah Sehun. Ya, Oh Sehun.


.

.

.


Seoul, 11 April 2014

Beberapa saat sebelum Luhan sampai di Bandara, akhirnya lagu penuh kenangan bagi Luhan itu telah selesai di putar, suara Baekhyun sahabatnya kembali terdengar menghidupkan suasana, Luhan kembali menggelengkan kepalanya yang sudah terlalu lama berjalan – jalan mundur ke masa lalu dan akhirnya kembali fokus ke jalanan, fokus ke masa sekarang dan masa depannya.

Luhan telah sampai di Bandara Gimpo. Gadis berkaki jenjang itu sudah berada di terminal kedatangan internasional dan bersiap memberi pelukan hangat kepada seseorang yang sudah dinantinya, seseorang yang sangat dia rindukan, seseorang yang dia cintai, kekasih hatinya.

Ditangan Luhan kini sudah ada satu medium cup greantea frappucino, sambil menunggu Luhan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang tunggu penjemput, beberapa dari para penjemput membawa papan nama untuk menandai dirinya. Ada juga seorang ibu yang bersama anaknya, sang anak nampak sangat antusias untuk menjemput appanya. Luhan kembali tersenyum melihat anak itu sangat antusias menunggu appanya.

Tak lama kemudian Luhan mendengar bahwa pesawat yang membawa seseorang yang ditunggunya sudah mendarat. Luhan tadinya sempat tersenyum, namun senyumnya perlahan pudar ketika dia melihat sebuah tayangan di salah satu TV besar di ruangan itu tentang sebuah bencana badai.

Luhan beranjak dari tempatnya menunggu dan beralih menghampiri TV tersebut, Luhan dengan seksama mendengar informasi tentang hujan badai yang diberitakan. Keningnya berkerut dan dia mulai cemas.

.

Dari pintu keluar, seorang namja tampan dengan postur tubuh yang tinggi berkulit pucat namun aura dingin terpancar dari ketampanannya yang sebenarnya imut itu, namja itu mengedarkan pandangan tajamnya yang terbingkai sebuah kaca mata hitam kesekitaran areal bandara, hal yang selalu dia lakukan setiap dia memasukki terminal kedatangan di Korea, manik mata itu mencari kekasihnya, Luhan.

Namja tinggi berambut coklat kemerahan itu kemudian tersenyum begitu melihat seorang gadis berambut coklat madu dengan kemeja tosca dan sebelah tangannya menenteng satu medium cup greantea frappucino, kesukaannya. Namja tampan beraura dingin itu menarik sudut bibirnya. Itu adalah yeoja yang dia cari. Yeojanya. Sedang menatap ke sebuah layar TV. Entah apa yang menarik kekasih cantiknya itu kesana, langsung saja ide jahil terlintas di kepala namja ber pakaian casual itu.

CHUP

Namja itu langsung mengecup pipi Luhan. Luhan pun seketika terkejut dan langsung berbalik untuk melihat siapa pelakunya.

"Kau merindukanku?" tanya namja bersuara berat itu dengan senyum tipis yang membuatnya jadi sangat – sangat tampan. Kombinasi imut dan tampan.

Luhan pun mengembangkan senyum terbaiknya melihat sang kekasih kini sudah berada di hadapannya. Sudah lama Luhan menahan rasa rindunya, dan hari ini akhirnya mereka berdua bertemu, kekasihnya sudah pulang.

GREB

Luhan langsung memeluk kekasihnya, hanya itu yang dia bisa lakukan untuk mengekspresikan seberapa rindunya dia pada namja tinggi dan tampan itu.

Sang namja pun membalas pelukan Luhan dan membenamkan wajahnya ke ceruk leher Luhan, menghirup aroma wangi tubuh yeoja yang berstatus kekasih yang dirindukannya itu.

"Aku sangat merindukanmu Lu," ujar namja itu dengan penuh kejujuran

"Mmm…. Na doo! Rasanya sangat lama sekali dari saat terakhir kita bertemu!" jawab Luhan masih setia memeluk tubuh tegap sang namja.

"Mmm… 3 bulan rasanya terlalu lama. Aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi Lu, aku akan mengajakmu kemanapun aku pergi setelah ini" ujar namja itu mantap.

"Oh ya… Yixing eonni akan menikah tiga hari lagi, aku baru mendapatkan undangannya pagi ini. Undangan itu untuk kita" kata Luhan saat pelukannya sudah terlepas, namun tangan kanan sang namjachingu kesayangannya itu masih sibuk membelai surai lembut yeojanya.

"Akhirnya mereka menikah juga… So! It's perfect timing! Kita berdua akan hadir ke sana!" kata namja itu kemudian mengecup kening Luhan dengan penuh kasih sayang, membuat Luhan merasa hangat dan nyaman.

"KRIS SUNBAENIMNIM!"

Tiba – tiba seorang namja lain meneriakkan sebuah nama dan itu membuat Luhan terpaksa menarik keningnya dari sang kekasih. Kris Wu, kekasih Luhan langsung menoleh ke sumber suara.

"Chanyeol-ah!" Kris langsung tersenyum summringah mendapati Hoobae nya yang tampan itu mendekat. Dan akhirnya dia juga memeluk Chanyeol

"Uaah…. Sunbaenim baru datang dari Cannada?" tanya Chanyeol setelah mereka lepas berpelukan

"Mmm… baru hari ini, urusan pekerjaanku sudah selesai di sana. Kau sedang apa di sini?" tanya Kris yang masih dengan senyum bahagianya.

"Menjemput appa dan eomma yang baru pulang dari New York, kemarin mereka menjenguk noonaku. Dia baru saja melahirkan" ujar Chanyeol dengan tawa lebarnya.

"Yura noona? Waaah… selamat! Kapan kau akan menyusul noonamu?" tanya Kris dan wajah Chanyeol langsung memerah

"Aku harus menunggu Baekhyunku siap dulu" Chanyeol tersenyum manis

"Sunbaenim sendiri kapan akan menikahi Luhan?" tanya Chanyeol kemudian melirik gadis manis yang kini mengaitkan tangannya di lengan Kris itu

"Yak! Park Chanyeol… kau ini bicara apa eoh?" Luhan mendeath glare Chanyeol, kemudian semu merah merona di pipinya.

"Aku akan segera menikahinya. Tunggu undanganku ne!" kata Kris seraya menepuk bahu Chanyeol

"Ne Sunbaenim… pastikan kau menikahi Luhan secepatnya sebelum dia menikahi semua robot gundam koleksi Sehun!" canda Chanyeol yang mengundang tawa Kris dan cubitan dari Luhan.

Dan yaaah… inilah kenyataannya sekarang. Saat ini Luhan adalah kekasih yang sah seorang namja tampan bernama Kris Wu. Mereka sudah menjalin hubungan sekitar hampir 1 tahun. Setelah sebelumnya melalui proses yang panjang dan lama, akhirnya Kris mampu memenangkan hati Luhan. Hampir setahun bisa dibilang cukup lama, walaupun tak selama Jongin dan Kyungsoo yang sudah hampir 4 tahun.

Melihat kenyataan masa sekarang Luhan bersama dengan Kris pasti membuat kalian semua bertanya – tanya, apa kabar sang pecinta robot Gundam Oh Sehun? Kenapa bisa dia tidak menjadi kekasih Luhan, padahal dulu keduanya sudah sama – sama sadar bahwa mereka saling mencintai, tapi apa ini? Kenapa Luhan malah bersama Kris? Sementara Sehun dan Luhan?

Sehun dan Luhan memang dua orang bodoh, mereka saling mencintai dan menyayangi. Tetapi karena satu hal yang berbeda pada prinsip dasar mereka dimasa lalu, tak satupun mau mengalah untuk bersatu. Mereka… nampaknya "masih" lebih nyaman untuk jadi "sahabat".

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

Hai… aruna akhirnya update FF ini nih. Dulunya ini judulnya My Gundam Robot, tapi kayaknya itu kurang menjual jadi Aruna ganti jadi "It has to be YOU!". Jahahahaha… di chapter ini masih tetep berdasar cerita pribadi aruna loo, terutama flashbacknya. Kekekekeke…. Apa ada yang nunggu cerita ini? Apa ada yang penasaran sama kelanjutan ceritanya?

Well…. Silahkan tinggalkan jejak di kotak review.

Dan bagi yang nunggu The Heirs dan Overdose... semuanya update barengan hari Sabtu 6 September 2014. Tepat pas TLP. Kenapa pas tanggal itu? Itu FF special buat nemenin kalian yang gak bisa nonton TLP. Sama kayak Aruna. kekekekeke...

Oh ya, aruna mau tanya… gimana pendapat kalian kalau seandainya aruna pindah ke Wattpad? Masalahnya ini FFN udah gak nyaman lagi, gak semua provider bisa mengakses FFN. Entah kenapa. Aruna lupa nanya sama namchin aruna yang ahli IT. (ehem…gak penting)

Okay mohon dijawab ya pertanyaannya ini penting banget.

Setuju atau enggak kalo aruna pindah ke wattpad?

Akhir kata aruna ucapkan….

AUUUUU….. AH! SARANGHAEYEO!

RnR juseyeo!