==PART SEBELUMNYA==

"Aku tidak mau pulang. Aku kabur dari rumah. Aku bosan dirumah sendirian."

"Huuuff, kau penderita agoraphobia tapi kau kabur dari rumah? ini sungguh lucu."

"Memang ini sangat lucu, jadi ijinkan aku untuk ikut bersamamu. Aku mohon."

Lagi-lagi dan untuk kedua kalinya, Hinata terkejut dengan tingkah Naruto. Sekarang pria itu berlutut didepannya dan mengenggam erat kedua tangannya. Beberapa orang yang yang berjalan melewati mereka berdua terkikik dan berbisik-bisik satu sama lain. Hinata kemudian melihat-lihat keadaan sekitar, ternyata banyak orang yang memperhatikan mereka. Ini sungguh memalukan.

"Baiklah-baiklah, aku mengijinkanmu untuk ikut denganku. Ayo cepat bangun ini memalukan sekali." Hinata sudah kehabisan akal menghadapi pria aneh ini. Baru beberapa jam dia bersamanya sudah membuat tensi darahnya naik apalagi kalau seharian. Hinata benar-benar tak bisa membayangkan hal itu. Naruto terkekeh pelan dan berdiri dari pose berlututnya.

"Terima kasih banyak kau telah mengijinkanku hehehe."

JOURNEY OF SPRING/ CHAPTER 2

Author : Naragirlz
Genre : Romance, Friendship, Family

Pairing : Naruhina

Rating : T

WARNING

DON'T LIKE DON'T READ, EYD BERANTAKAN DAN ABAL. KARAKTER HINATA DISINI SANGATLAH KUAT DAN SANGAT OOC.

.

.

Setelah menempuh perjalanan dengan jalan kaki. Sampailah mereka di sebuah motel yang sangat sederhana atau mungkin kelewat sederhana. Warna cat dindingnya tak lagi berwarna putih bersih, warnanya sedikit kusam bahkan ada beberapa bagian dinding yang terlihat sedikit retak dan terkelupas. Terlihat sekali kalau motel ini sudah sangat tua. Hinata melihat jelas ekspresi wajah Naruto tampak tak senang. Dia tidak peduli salah sendiri dia ikut dengannya.

"Kau akan menginap disini?" tanya Naruto sedikit ngeri.

"Iya, kenapa? kau tak suka? kalau tak suka kau boleh mencari motel sendiri" jawab Hinata ketus. 'Siapa suruh dia mengikutiku', batin Hinata dalam hati.

"Bukan begitu maksudku. Kau ini galak sekali," protes Naruto. Hinata tak menanggapi perkataan Naruto. Dia melengos begitu saja dan bertanya kepada resepsionis perihal kamar yang kosong.

"Maaf nona, kami mau memesan dua kamar apa masih ada?" ujar Hinata.

"Sebentar nona saya check dulu," resepsionis itu mulai mengecek data yang ada di komputer. "Maaf nona, hanya ada satu kamar yang tersisa. Bagaimana apa anda jadi menginap disini?"

"Hanya ada satu kamar?" Hinata terkejut dan tak percaya.

"Kami jadi memesannya cepat berikan kuncinya." Tak disangka Naruto tiba-tiba mengambil alih pembicaraan.

"Hei apa kau sudah gila?" protes Hinata lagi.

"Kalau begitu, apakah kalian berdua sepasang suami istri?" tanya resepsionis penasaran.

"Iya kami adalah sepasang suami istri. Jadi cepat berikan kuncinya pada kami, kami ingin istirahat karena hari ini kami sudah menempuh perjalanan jauh."

"Baiklah." Resepsionis itu membuka loker kecil dan memberikan kunci nomor 08 kepada mereka. "Berapa hari anda akan menginap?"

"Hei, apa kau benar-benar gila. Apa aku harus tidur satu kamar denganmu? lebih baik kita mencari motel lain." Hinata mengatakan hal itu sambil berbisik kepada Naruto.

"Apa kau mau mati kedinginan di luar. Ini sudah malam, lebih baik kita istrahat. Jangan khawatir aku tidak akan melakukan hal-hal yang tak senonoh kepadamu. Walaupun begini, aku masih punya harga diri sebagai pria." Naruto juga ikut berbisik kepada Hinata. Hinata mendengus kesal melihat Naruto, tapi pria berambut pirang ini tak menghiraukannya. "Kami menginap satu hari satu malam," jawab Naruto lantang.

"Baik, satu hari satu malam, biaya yang harus ditanggung sebesar tiga puluh lima ribu yen," kata resepsionis dengan seulas senyuman.

"Apa? itu mahal sekali untuk motel seperti ini. Aku pikir ini motel termurah disini kalau begini mana bisa aku menginap untuk waktu yang lama," gerutu Hinata dalam hati.

"Oke aku yang membayarnya. Apa motel ini melayani pengguna kartu kredit?" tanya Naruto. Resepsionis itu mengangguk ramah.

Naruto kemudian memberikan kartu kreditnya. Sekali gesek semua beres. Hinata hanya bisa ternganga melihat Naruto. Dia tau hanya orang kaya yang memiliki kartu kredit. Pikirannya kembali bergejolak apa benar dia adalah putra dari pemilik perusahaan "Que Group". Tidak itu sangat tidak mungkin.

"Hei, apa yang kau pikirkan? kenapa kau melamun seperti itu?" tegur Naruto.

"Ti-tidak siapa yang melamun."

"Oya, siapa namamu?"

"Namaku Hyuga Hinata, panggil saja Hinata."

"Kalau begitu ayo ke kamar. Capek sekali, aku ingin tidur".

ooOOoo

Di dalam kamar motel, Naruto asyik bermain game diponselnya. Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka. Dari dalam kamar mandi, keluarlah Hinata yang sibuk mengusap-usapkan handuk dirambutnya yang basah. Naruto melihat kearah Hinata sejenak tanpa erkespresi. Hinata berjalan menuju Naruto dengan santai dan duduk dikursi tepat di depan Naruto. Mereka hanya dibatasi oleh meja kayu berbentuk persegi empat. Naruto segera mengakhiri bermain gamenya. Dia berbalik memperhatikan Hinata, pria tampan ini tanpa ragu menyodorkan minuman bersoda untuk Hinata, minuman ini ia beli saat berjalan-jalan mengelilingi motel.

"Arigatou," ucap Hinata singkat.

Naruto asyik membuka minuman kaleng bersoda yang baru saja dibelinya, lalu menenguknya rakus. Suasana didalam kamar sangatlah canggung, Hinata sama sekali tak mengerti kenapa dia mau saja dipaksa oleh seorang pria yang tak dikenalnya. Hinata bingung dengan tingkah laku pria asing yang ada didepannya sekarang. Banyak sekali pertanyaan yang muncul diotaknya .

"Sebenarnya apa maksud dari semua ini?" tanya Hinata

"Maksud apa?" jawab Naruto singkat.

"Pada akhirnya kau menyewa sebuah kamar dimotel ini, padahal sebelumnya kau enggan untuk menginap disini. Kau ini aneh sekali, kau tidak punya niat buruk terhadapku kan?" tanya Hinata penuh selidik.

"Chhh, kau terlalu berlebihan menilaiku. Dari awal aku sudah katakan padamu, kalau aku tidak akan berbuat senonoh, jadi kau jangan khawatir," jawab Naruto santai.

"Apa aku bisa mempercayaimu?"

"Kalau aku sampai berbuat tak pantas terhadapmu, kau boleh telfon polisi."

Yah, sementara ini Hinata setengah percaya dengan pria asing ini dan idenya boleh juga. Naruto diam dan memperhatikan Hinata secara seksama. Hal ini membuat Hinata salah tingkah, jujur Hinata selalu salah tingkah, jika ada pria tampan yang melihatnya. Pria tampan? yup benar sekali, memang sejak awal bertemu, Hinata mengakui kalau pria asing ini tergolong pria yang tampan.

"Kau bukan penduduk Tokyo ya? dari mana asalmu? lalu untuk apa kau jauh-jauh datang ke Tokyo?" pertanyaan beruntun dari Naruto tiba-tiba ditujukan kepadanya. Hinata bingung harus menjawab yang mana dulu.

"Aku adalah penduduk asli Tokyo," jawab Hinata singkat.

"Lalu untuk apa kau mencari motel? apa kau tuna wisma?" tanya Naruto terus menerus.

"Bukan, aku kabur dari rumah."

Tawa Naruto pecah setelah mendengar jawaban dari Hinata. Menurut Naruto ini sangatl lucu ,karena tanpa sengaja dia bertemu dengan seseorang yang memiliki nasib yang sama. Dia jadi berfikir dan menerawang, ratusan warga Tokyo diluar sana, sepuluh diantaranya pasti ada yang memiliki nasib yang sama dengannya dan Hinata. Naruto jadi penasaran apa tujuan Hinata untuk keluar dari rumah.

"Kenapa kau tertawa? apa perkataanku lucu?" tanya Hinata kesal.

"Jadi apa tujuanmu kabur dari rumah?"

"Aku hanya ingin lepas dari masalah keluarga, aku ingin mencari tempat tinggal sementara dan mencari pekerjaan. Rencana awalku, aku akan menginap lama di motel ini setidaknya satu atau dua minggu, tapi ternayata motel ini sangatlah mahal. Aku pikir ini motel termurah yang ada di Tokyo."

Hinata diam sejenak, dia melihat Naruto manggut-manggut tanda ia mengerti dengan ucapan Hinata. Sekarang Hinata yang penasaran alasan dibalik kaburnya Naruto.

"Lalu kau sendiri, kenapa kau kabur?"

"Aku hanya ingin berkelana tidak lebih dari itu. Sebelumnya sudah aku katakan padamu, kalau aku bosan ada dirumah terus. Aku ingin suasana baru, tentunya jauh dari bodyguard yang menyebalkan itu," jawab Naruto santai.

"Kau punya bodyguard?" tanya Hinata tak percaya.

"Tentu, karena aku adalah putra dari pemilik perusahaan perfilman dan drama terbesar di Jepang yaitu Que Group. Percuma aku menjelaskan semuanya padamu karena kau tidak akan pernah percaya padaku."

Hinata tak mau menanggapi ucapan terkahir Naruto. Mau bagaimanapun Naruto menjelaskan, dia memang tidak akan pernah percaya.

"Kau bilang kau ingin berkelana? tapi kau penderita agoraphobia, apa itu mungkin?".

"Maka dari itu aku mengajakmu."

"Apa maksudmu?"

"Aku tahu kau ini tipe gadis pemberani dan kuat jadi aku ingn kau menemaniku pergi berkelana. Kau tau sendiri kan, aku tak bisa kemana-mana tanpa ada seseorang yang menemaniku."

"Apa? menemanimu berkelana? aku tidak mau," jawab Hinata tanpa ragu.

"Hufft, begini saja anggap saja kau adalah bodyguardku, jadi aku mebayar jasamu karena kau telah menemaniku selama aku pergi, bagaimana?" tawar Naruto.

Hinat diam seribu bahasa, dia tertarik dengan bayaran itu, entah berapapun, yang jelas dia punya pemasukan selama dia kabur dari rumah. Tapi berkelana itu membutuhkan biaya yang banyak, uang untuk penginapan dan uang untuk makan sehari-hari tentunya.

"Berkelana itu tak semudah seperti yang kau bayangkan. Kau membutuhkan uang yang banyak untuk menginap atau untuk makan. Memangnya kau ingin berkunjung kemana saja?"

"Masalah biaya penginapan, transport atau yang lain serahkan padaku, aku akan membayar semuanya. Bagaimana apa kau tertarik? dengarkan aku, susah-susah kau melamar pekerjaan belum tentu kau diterima. Nah, aku disini datang menawarkan pekerjaan untukmu, kesempatan tak datang dua kali. Aku tidak tahu kemana aku harus pergi, akan aku pikirkan nanti. Bagaimana apa kau mau menerima tawaranku?" Naruto semakin berapi-api merayu Hinata agar mau ikut dengannya.

"Darimana kau akan mendapat uang sebanyak itu?"

Naruto tak banyak bicara. Dia mengeluarkan secarik kertas berbentuk persegi panjang dan agak tebal lalu menyodorkannya kepada Hinata. Tanpa ragu gadis bermata lavender itu mengambilnya dan membaca setiap satu kata yang tertera dengan teliti. Hinata benar-benar tak percaya kalau Naruto adalah benar-benar putra dari pemilik perusahaan film dan drama terbesar di Jepang yaitu Que Group. Ternyata apa yang dikatakan pria itu sama sekali tak bohong. Hinata terus membaca setiap kata yang ada di kartu nama itu.

"Bagaimana, apa kau masih tak percaya padaku?"

"Bisa saja kau membuat kartu nama sendiri untuk menipu," Hinata terus berusaha mengelak bukti nyata yang telah Naruto berikan padanya.

"Kau ini benar-benar keras kepala. Kau boleh teliti dipojok kanan atas ada logo hologram perusahaan kami jadi tak ada orang yang bisa memalsukannya. Kau harus percaya padaku, aku sama sekali tak berbohong padamu."

Hinata diam sejenak dan kembali berpikir dengan penuh pertimbangan.

"Baiklah, aku menerima tawaranmu tapi jika kau menipuku aku tak segan-segan untuk melaporkanmu ke polisi," ucap Hinata penuh ketegasan.

"Aku setuju sekali dengan idemu."

"Kalau begitu segera kau tentukan kemana kita akan pergi. Aku mau tidur dan ingat kau harus tidur di sofa." Hinata berjalan menuju tempat tidurnya dan mulai melentangkan tubuhnya.

"Iya kau tenang saja, anggap saja kau lagi berekreasi dengan suamimu hahaha," Ledek Naruto. Hinata hanya bisa menggerutu dalam hati mencoba untuk menahan amarahnya.

"Jika kau memanggilku dengan panggilan istriku lagi, kau akan mati," ancam Hinata.

"Huuu menakutkan sekali ahahahaha."

Hinata sama sekali tak menghiraukan kicauan Naruto. Lebih baik dia langsung tidur daripada mendengarkan kicauan orang tak jelas yang tiba-tiba datang dalam hidupnya.

ooOOoo

Mentari pagi memancarkan sinarnya yang angkuh, bulan april seperti sekarang adalah bulan terindah bagi Naruto karena semua bunga-bunga bermekaran khususnya bunga sakura. Tadi malam Naruto browsing tentang tempat wisata yang menyuguhkan keindahan musim semi di Jepang dan dia menemukannya, dia ingin sekali berkunjung kesana. Kapan lagi bisa mengunjungi tempat wisata indah tersebut kalau tidak sekarang. Perjalanan kali ini cukup jauh, karena letak tempat wisata yang ingin Naruto kunjungi adalah Hideaki station yang tedapat di kota Nakagawa, Aichi selatan, tepatnya ada dibarat kota Nagoya.

Selain ke Hideaki station, dia juga ingin pergi ke Nagoya untuk melihat festival musim semi disana. Waktu tempuh lebih dari 3 jam perjalanan. Naruto sudah tak sabar untuk pergi kesana hari ini. Semangat yang berapi-api tampaknya tak terlihat digadis yang seharian penuh bersamanya. Sudah pukul tujuh pagi tapi Hinata masih tidur nyenyak. Naruto menghela nafas panjang. 'Dasar pemalas,' ucapnya dalam hati. Naruto berinisistiatif untuk membangunkan Hinata secara paksa.

"Hei bangun!" ucap Naruto sambil menggerak-gerakan bahu Hinata.

"Ahh, sebentar lagi," jawab Hinata malas-malasan. Bukannya bangun, dia malah meyeret selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya dan berlindung dari bawah sinar matahari yang menyinari matanya.

"Ayo cepat bangun," teriak Naruto.

"Tidur sebentar saja, satu menit," rayu Hinata.

"Tidak boleh," teriak Naruto sekali lagi.

"Iya aku mengerti," Hinata akhirnya menyerah berdebat dengan Naruto.

Hinata beringsut duduk dengan mata setengah terpejam. Rambutnya masih acak-acakan dan kusut. Naruto tiba-tiba duduk disebelah Hinata dan menyodorkan sebuah kertas. Sejenak Naruto melihat Hinata, entah kenapa Naruto merasa kalau Hinata tampak lebih cantik jika ia baru bangun tidur. Benar kata orang, kalau wanita terlihat cantik saat ia bangun tidur. Hinata terlihat sangat imut. Naruto jadi penasaran berapa umur Hinata. Naruto kemudian menggelengkan kepalanya cepat-cepat. Dia tak mau lamunan membawanya terlalu jauh.

"Apa ini?" tanya Hinata polos.

"Ini adalah surat kontrak kerjamu, kau harus menandatangani ini."

Hinata langsung merampas kertas itu dari tangan Naruto tanpa menelitinya terlebih dahulu. Naruto bingung. terkejut dengan tingkah Hinata tapi syukurlah karena Hinata masih dibawah sadar, gadis ini sepetinya tak menyadari jika urat kontrak kerja ini banyak sekali syaratnya. Tentunya ini sangat menguntungkan Naruto. Setelah selesai menanda tangani surat kontrak kerja, Hinata menyodorkan kertas itu kepada Naruto penuh keyakinan. Naruto pun meraihnya dengan perasaan girang, ia kemudian melipat dan memmasukan kertas itu kedalam saku jumpernya. Jika Hinata protes, Naruto tidak mau tahu karena itu kesalahan Hinata sendiri, kenapa tidak diperiksa terlebih dahulu sebelum tanda tangan.

"Sekarang kau mandilah, perjalanan pertama kita cukup jauh. Kita akan pergi ke bekas stasiun Hideaki yang terletak di Nakagawa, barat kota Nagoya," ucap Naruto.

Mendengar ucapan Naruto, Hinata tiba-tiba membelalakan mata, ia pun tersadar dari alam bawah sadarnya. Nagoya? apa dia tidak salah dengar? perjalanan Tokyo ke Nagoya cukup jauh. Tiga jam waktu tempuh dengan menggunakan kereta dan subway.

"Na..Nagoya? apa kau serius?" tanya Hinata, Naruto pun mengangguk tanpa ragu. "Kenapa kau tidak berkeliling Tokyo saja, aku yakin masih banyak tempat di Tokyo ini yang belum kau kunjungi."

"Ingat, kau disini bekerja untukku jadi kemanapun kita pergi aku yang menentukannya. Lagipula, kau tadi sudah menandatangi surat kontrak kerjamu."

"Surat kontrak kerja? kapan aku menandatanganinya," tanya Hinata bingung. Naruto kembali mengeluarkan kertas dari dalam saku jumpernya. Dia membentangkan kertas itu tepat didepan wajah Hinata. Jari telunjuk Naruto menunjukan tempat tanda tangan surat kontrak.

"Lihat, bukankah ini adalah tanda tanganmu? kau baru saja menanda tanganinya, apa kau benar-benar lupa atau kau tidak menyadarinya tadi?" tanya Naruto pura-pura tak tahu.

Hinata mencoba merebut kertas itu dari tangan Naruto. Namun usahanya tidak berhasil, karena Naruto lebih sigap daripada Hinata. Naruto kembali memasukan kertas itu disaku jumpernya.

"Lebih baik kau mandi sekarang, aku akan menunggumu."Naruto melemparkan handuk putih tepat di depan tubuh Hinata. Gadis itu hanya bisa meringis dan mengumpat dalam hati. Tatapan tajam matanya mengisyaratkan kemarahan yang luar biasa.

ooOOoo

Naruto dan Hinata berjalan beriringan tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Udara musim semi terasa sedikit hangat. Di musim semi ini, banyak sekali orang pergi berlibur bersama keluarga. Naruto tampak modis dengan baju yang dikenakannya. Jumper putih dengan tulisan sebagai coraknya, jaket hitam yang menempel diatas jumpernya, serta celana jeans hitam panjang membuat penampilannya terlihat sempurna. Sesekali Hinata melirik kearah Naruto, kalau diperhatikan terus menerus pria asing disebelahnya ini memang sangatlah tampan dan sepertinya umurnya lebih muda darinya. Hinata tertawa kecil, dia menertawakan dirinya sendiri yang mudah sekali memuji seorang pria. Hinata menggelengkan kepalanya agar pikiran-pikiran anehnya hilang. Sayangnya, tawa kecil Hinata sempat dilihat oleh Naruto.

"Kenapa kau tertawa? apa kau menertawakanku?" tanya Naruto penasaran.

"Tidak, aku sama sekali tidak menertawakanmu."

Mereka berdua berjalan menuju ke balai kota untuk naik subway. Dari subway balaikota menuju ke Stasiun Tokyo dengan waktu tempuh selama dua menit. Mereka tak langsung sampai ke stasiun namun harus berjalan kaki, kurang lebih waktu yang ditempuh menuju ke stasiun Tokyo adalah tiga menit. Setelah sampai di stasiun, baik Naruto maupun Hinata duduk tenang menunggu kereta datang. Lagi-lagi tak ada pembicaraan sama sekali diantara mereka. Satu menit kemudian kereta datang.

Kereta yang dinaiki mereka adalah kereta KTX dengan nomer 111. Mereka tanpa ragu memasuki kereta cepat yang akan membawa mereka ke Nagoya. Semua kursi didalam kereta hampir penuh. Tersisa satu kursi, yang cukup diduduki oleh dua orang saja. Mau tak mau mereka harus duduk bersebelahan dan berdekatan. Perjalanan dengan kereta api dari Tokyo - Nagoya cukup lama. Tepat didepan mereka, tampak sepasang suami istri yang sudah tua. Umur mereka berdua sekitar enam puluh tahunan. Sepasang suami istri itu tersenyum ramah kepada mereka. Naruto dan Hinata membalas senyum mereka tak kalah ramah. Naruto duduk didekat jendela, terdiam sambil melihat pemandangan diluar sedangkan Hinata terdiam sambil sesekali melihat orang-orang disekitarnya.

"Apa kalian berdua akan pergi ke Nagoya?" tanya nenek itu secara tiba-tiba.

"Ehh iya, kita berdua akan pergi ke Nagoya nek," jawab Hinata ramah.

Gadis itu menyikut tangan Naruto agar dia juga ikut berbicara kepada sepasang kakek nenek ini. Tidak sopan jika yang berbicara hanya satu orang. Naruto pun menoleh dan tersenyum kepada sepasang kakek nenek yang ada di depannya.

"Apa gadis ini kekasihmu?" tanya nenek itu kepada Naruto. Naruto bingung harus menjawab apa. Tentu saja Naruto akan menjawab yang sebenarnya. Tak hanya Naruto yang terkejut dengan pertanyaan itu, Hinata pun juga demikian.

"Ti-tidak nek, dia hanya temanku," jawab Naruto terbata-bata.

"Jangan malu seperti itu. Anak muda jaman sekarang selalu malu jika harus mengakui kekasihnya didepan umum," sekarang giliran kakek yang angkat bicara.

"Kakek,kami berdua memang bukan sepasang kekasih, kami hanya berteman," ucap Hinata

"Apapun hubungan kalian menurutku, kalian berdua ini sangatlah serasi. Gadis ini sangat cantik dan kau juga begitu tampan anak muda."

Hinata dan Naruto hanya tersenyum mendengar ucapan kakek itu. Sesekali mereka saling melirik namun detik berikutnya mereka saling melengos. Dari jauh Hinata melihat seorang wanita setengah baya membawa makanan ringan dengan kereta dorongnya menuju kearah mereka.

"Tunggu sebentar, aku beli dua telur rebus," ucap kakek penuh semangat.

Ibu setengah baya itu memberikan dua telur rebus sesuai pesanan kemudian mereka berdua saling menyuapi. Benar-benar terlihat romantis. Hinata merasa bahwa dihadapannya sekrang adalah bukti dari cinta sejati, walaupun mereka sudah tua, walaupun ketampanan dan kecantikan mereka sudah memudar namun mereka masih saling mencintai.

Hinata menyunggingkan senyumannya, Naruto tak sengaja melihat Hinata tersenyum dengan tulus dan terlihat sangat bahagia. Dimata Naruto senyum Hinata sangatlah indah dan seolah hatinya terasa nyaman. Deg—deg, tiba-tiba detak jantung Naruto terdengar jelas dan Naruto bisa merasakan detakan Jantungnya semakin cepat. Entah kenapa Naruto ingin sekali melakukan sesuatu untuk Hinata.

"Bibi, aku juga beli dua telur rebus," ucap Naruto. "Makanlah, aku tau kau sangat lapar lagipula kita belum sarapan saat akan berangkat. Ini masih panas, sini aku tiupkan biar kau bisa makan saat telur dalam keadaan hangat."

Telur rebus yang Naruto bawa masih panas. Maka dari itu bibi penjual telur rebus tadi memberi Naruto sebuah kain agar telur bisa dipengang. Naruto meniup-niup telur rebus Hinata tanpa malu. Wajah Naruto tepat ada disamping Hinata, jadi dia bisa melihat wajah Naruto dari dekat. Matanya yang tajam, hidungnya yang mancung, bibirnya yang berwarna merah muda, bahkan sedikit noda kecil dipipi Naruto terlihat jelas dimata Hinata. Entah kenapa dan darimana datangnya hal yang bisa membuat detak jantungnya berdegup kencang. Dia tak henti-hentinya melihat wajah tampan Naruto yang polos.

"Aku rasa telurnya sudah hangat. Ini untukmu," ucap Naruto sambil memberikan telur hangat itu kepada gadis yang ada disampingnya. Hinata mengambil telur itu, sedikit ragu dan malu. Hinata tersenyum ramah kepada Naruto, sebagai tanda terima kasih atas perhatian yang Naruto curahkan kepadanya.

"Terima kasih, Naruto-kun," ucap Hinata malu.

Baik Hinata maupun Naruto tak sadar, jika sedari tadi sepasang kakek nenek yang berada didepannya memperhatikan mereka sambil tersenyum bahagia bahkan senyum itu terkesan meledek kepada mereka.

"Kalian ini memang sepasang kekasih tapi kenapa kalian malu untuk mengakuinya?" tanya nenek dengan senyum ramahnya.

Sepersekian detik Hinata dan Naruto saling pandang setelah itu mereka berdua tertawa kecil. Mereka tertawa , karena sepasang kakek nenek ini selalu menganggap mereka sepasang kekasih padahal Hinata dan Naruto sebelumnya sudah menjelaskan tentang hubungan mereka sebenarnya.

ooOOoo

Sudah dua jam tiga puluh menit waktu tempuh perjalanan dari Tokyo ke Nagoya. Dan tibalah mereka di statsion Nagoya pada pukul 10.00 waktu Jepang. Semua orang dalam kereta berbondong-bondong menuju pintu keluar gerbong kereta masing-masing. Seperti halnya tadi saat berangkat, baik Naruto maupun Hinata sama sekali tak berbicara. Untuk menuju tempat wisata Hideaki station yang terletak di kota Nakagawa, mereka berdua harus menempuh perjalanan selama satu jam dengan menggunakan Bus. Untung saja jarak antara stasiun dan terminal tak begitu jauh, hanya membutuhkan waktu selama lima menit untuk sampai ke terminal dengan berjalan kaki.

Naruto sepertinya sudah tahu kemana mereka akan pergi dan bus yang akan dinaikinya. Hinata hanya mengikuti kemana Naruto pergi. Mereka berdua masuk kedalam bis berwarna putih lalu menempati tempat duduk masing-masing. Hinata sengaja untuk tidak satu bangku dengan Naruto. Dia lebih nyaman sendirian. Hinata memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela dan terletak disebelah kiri bangku Naruto. Namun nampaknya Naruto tak suka dengan pilihan Hinata.

"Hei, kenapa kau duduk disana?" protes Naruto.

"Memangnya kenapa? aku lebih nyaman disini," jawab Hinata singkat.

"Kau lupa kalau tugasmu adalah menemaniku dan menjagaku jadi kemarilah." perintah Naruto namun Hinata melengos dan tak peduli dengan perkataannya. "Cepat!" intonasi bicara Naruto sudah meninggi. Ini pertanda kalau dia marah.

"Iya aku mengerti, kau ini menyebalkan sekali." Dengan terpaksa Hinata menuruti kemauan Naruto. Seumur hidup dia belum pernah bertemu dengan pria seperti ini. Hinata juga tidak tahu Naruto akan membawa dirinya. "Sebenarnya apa yang kau cari di stasiun Hiedaki?"

"Saat bulan april dan musim semi seperti ini, jalur kereta api disana akan berubah menjadi terowongan bunga sakura. Apa kau tidak tahu kalau tempat ini sangatlah indah saat musim semi?"

"Aku pernah mendengar cerita terowongan sakura di Hideaki temanku tapi aku belum pernah mengunjunginya."

"Kalau kau sudah tahu kenapa kau masih bertanya padaku?" tanya Naruto.

"Aku pikir kau tidak tertarik dengan hal-hal semacam itu."

Bus pun bergerak perlahan, tak banyak orang yang akan berkunjung ke kota Nakagawa. Mungkin karena hari ini bukan akhir pekan. Satu jam perjalanan adalah waktu yang lumayan lama. Hinata ingin menghabiskan waktu perjalanan dengan tidur. Jujur sebenarnya dia masih mengantuk, tapi karena kicauan Naruto dipagi hari membuat Hinata terpaksa bangun.

Naruto mengeluarkan ponselnya, dia ingin mendengarkan daftar lagu-lagu yang sudah lama tak dia dengarkan. Hinata melirik sedikit kearah ponsel Naruto. Di kunci screen saver ponsel terlihat jelas foto seorang gadis yang imut dan cantik. Gadis itu mengenggam lima balon berwarna biru dan putih berdiri sambil tersenyum ditengah-tengah padang rumput dibawah langit biru.

"Wah, apa itu pacarmu?" tanya Hinata, hal ini spontan membuat Naruto kaget. Naruto cepat-cepat menggeser kunci screen saver dan beralih ke layar mp3nya.

"Itu bukan urusanmu, lebih baik kau tidur saja," jawab Naruto.

"Kau ini kasar sekali. Aku jadi berfikir apa gadis itu bisa bertahan lama saat menjjalin hubungan asmara denganmu," oceh Hinata. Naruto tak mengatakan apapun dia hanya menatap tajam kearah Hinata. "Baik..baik aku mengerti, aku akan tidur. Apa kau puas."

Naruto sama sekali tak menghiraukan Hinata. Matanya beralih melihat pemandangan indah diluar jendela. Bunga-bunga warna kuning bermekaran dihamparan lahan kosong berumput hijau. Di saat musim semi ini pula Naruto teringat kenangan pahit yang pernah dialaminya. Erika, adalah seorang gadis yang sangat ia cintai. Hubungannya dengan gadis itu terjalin selama empat tahun. Awal ia mengenal Erika saat awal masuk sekolah dibangku sekolah menengah pertama. Awalnya mereka adalah sahabat namun lama kelamaan perasaan cinta tumbuh diantara mereka.

Tiga tahun kisah asmara mereka baik-baik saja namun selama satu tahun terakhir hubungan itu agak sedikit retak karena Erika harus keluar negeri untuk sekolah musik dan acting di London. Mereka lost contact, karena alasan ini pula Naruto memutuskan untuk berkunjung ke London hanya untuk sekedar melihat keadaan kekasih hatinya. Namun ketika sampai di apartement Erika, Naruto melihat Erika berciuman dengan pria lain. Bukan pria asli London namun pria berkebangsaan Jepang sendiri. Melihat hal itu perasaan Naruto hancur, ibarat kaca hancurnya hati Naruto berkeping-keping.

Saat itu pula Naruto memutuskan untuk mengakhiri kisah asmara mereka yang sudah berjalan empat tahun. Naruto merasa dirinya adalah pria bodoh. Iya, benar-benar bodoh, jelas-jelas Erika sudah menghianatinya tapi dia masih saja mencintainya. Naruto ingin sekali Move On, dia ingin segera menemukan gadis pengganti Erika tapi kapan? dimana? dan siapa dia?. Naruto tersentak, tiba-tiba kepala Hinata sudah bersandar dibahu sebelah kirinya dengan mata terpejam. Naruto mengeluh kesal dan menjauhkan kepala Hinata darinya. Tapi sayang usahanya tidak berhasil karena kepala Hinata selalu kembali bersandar dibahunya. Naruto akhirnya menyerah dan membiarkan Hinata menyandarkan kepalanya.

Satu jam perjalanan sudah terlewati. Akhirnya tibalah mereka di tempat tujuan. Bus berhenti perlahan di statsiun Nakagawa. Semua penumpang sudah keluar dari dalam bis, hanya dirinya dan Hinata yang belum turun.

"Hinata bangunlah, kiita sudah sampai," Naruto mengangkat-angkat bahunya agar Hinata cepat bangun dari tidurnya. Hei, cepat bangun, kau membuat bahuku terasa sakit."

Hinata pun terbangun. Sesekali dia mengucek matanya. Naruto mendahului Hinata turun dari bis. Hinata berjalan setengah malas menuju tempat tujuan mereka. Bis yang dikendarai mereka perlahan pergi ke tempat tujuan lainnya. Angin semilir nan sejuk menerpa setiap jengkal pori-pori diwajahnya. Kantuknya tiba-tiba hilang setelah ia melihat keindahan mekarnya bunga sakura yang ada disekitarnya.

Jalan raya dibagi menjadi dua yaitu sisi kanan dan sisi kiri. Ditengah-tengah jalan terdapat aliran air kecil dengan lebar kurang lebih dua meter. Dipinggir sisi jalan baik kanan maupun kiri dipasang sebuah penghalang yang terbuat dari kayu. Yang membuat tempat ini indah adalah bunga sakura yang ditanam disetiap sisi penghalang kayu. Hinata merasa tak asing dengan pemandangan ini, dia yakin dia pernah melihat tempat ini sebelumnya ditelevisi tapi dia lupa dicara apa.

"Hinata ayo ikut denganku jangan diam saja," teriak Naruto.

"Iya aku mengerti," jawab Hinata ketus. Gadis itu berlari-lari kecil mendekati Naruto. Saat dirinya berhenti tepat disamping Naruto, dia merasakan sesuatu yang hangat ditelapak tangan kanannya. Naruto menggandeng tangan Hinata tanpa sungkan. "Hei, kenapa kau menggandeng tanganku?"

"Kau lupa kalau kau adalah bodyguardku, kau juga lupa kalau aku adalah penderita agoraphobia jadi hanya ini jalan satu-satunya agar rasa takutku hilang. Ingat aku sudah membayarmu untuk semua ini. Ayo pergi!" tak banyak yang bisa dilakukan Hinata kecuali menuruti pria asing ini.

"Dasar menyebalkan," gerutu Hinata.

ooOOoo

Mereka berdua berjalan dengan santai menyusuri jembatan berkayu dengan pohon sakura yang mekar sebagai hiasannya. Festival bunga sakura di Aichi tepatnya di daerah Nakagawa memang terkenal sangat indah. Awalnya Naruto berfikir tidak akan banyak pengunjung yang datang, namun sepertinya dugaannya salah. Naruto tersenyum senang melihat keindahan bunga sakura yang sudah tersaji didepan matanya.

Sudah lama dia ingin mengunjungi tempat ini namun apa daya, kondisinya yang tak memungkinkan untuk melakukan ini. Naruto benar-benar sangat menikmati semuanya. Lain dengan Hinata yang terus berusaha mengingat dimana dia pernah melihat tempat ini. Mereka tampak seperti sepasang kekasih yang dimabuk asmara, genggaman tangan mereka seolah tak bisa dilepaskan. Jika orang tak tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka pasti semuanya akan berpikiran kalau mereka adalah sepasang kekasih yang ingin menikmati festival sakura di Nakagawa. Keheningan yang menggelayuti Hinata membuat Naruto penasaran apa yang menyebabkan gadis disampingnya ini diam saja.

"Hei, Hinata, kenapa kau diam saja?" tanya Naruto penasaran.

"Aku sedang berpikir, dimana sebelumnya aku pernah melihat tempat ini? sepertinya tempat ini pernah dijadikan lokasi syuting sebuah drama."

"Romance," ucap Naruto. Hinata berbalik memandang Naruto tak mengerti. "Drama yang kau maksud adalah Romance. Ini adalah lokasi dimana chae won dan Kwan Woo bertemu untuk pertama kalinya disebuah festival bunga desa pantai pedesaan. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama. Drama korea yang bersetting di Jepang"

"Ahh, iya aku ingat Romance. Drama itu mengisahkan tentang cinta terlarang antara guru dan muridnya. Chae Won adalah ibu guru dan Kwan Woo adalah muridnya. Keduanya saling bebohong dengan usia masing-masing saat awal perkenalan. Kwan Woo mengatakan kalau dia adalah seorang mahasiswa padahal dia adalah seorang murid SMA dan Chae Woon pun juga melakukan hal yag serupa. Usia mereka terpaut jauh. Apa didunia ini masih ada orang yang mempermasalahkan umur dalam cinta ?" ucap Hinata.

"Ada, bahkan akupun juga tidak akan pernah mau menjalin hubungan asmara dengan wanita yang usianya jauh lebih tua dariku," jawab Naruto singkat.

Hinata tak mengatakan apapun karena dia juga tidak mau menjalin hubungan asmara dengan pria yang usianya jauh lebih muda darinya. Mereka kembali menikmati perjalanan. Pemandangan di Nakagawa sangatlah indah. Jembatan kayu kecil yang menghubungkan kedua jalan terpisah ini sering disebut dengan jembatan asmara. Dibawah jembatan kecil itu, terdapat parit kecil yang dialiri oleh air. Kabarnya di Nakagawa terdapat sekitar seribu pohon sakura yang tumbuh di sisi kanan dan kiri diantara sungai kecil. Panjang jalan yang ditanami pohon sakura sekitar 1,5 kilometer yang tersebar.

Naruto terus mengenggam tangan Hinata dan mengajaknya duduk sebentar dikursi jalan yang berjejer rapi dibawah pohon sakura. Hening, situasi itulah yang bisa menggambarkan keadaan mereka sekarang. Hinata melihat Naruto tersenyum puas. Senyum yang tampak indah, tulus dan terlihat tak punya beban. Kalau begini Naruto terlihat begitu polos. Sejujurnya Hinata merasa sangat canggung jika Naruto mengenggam tangannya seperti ini secara terus menerus.

"Ehm, Naruto-kun bisakah kau melepaskan genggaman tanganmu?"pinta Hinata. Naruto melihat tangannya sebentar lalu melepaskannya.

Naruto sibuk merogoh tas ranselnya. Seulas senyum manis terpancar dibibirnya saat dia sudah menemukan apa yang sedari tadi dicarinya. Sebuah kamera DSLR siap digunakan untuk memotret keindahan mekarnya bunga sakura di Nakagwa. Tiupan angin yang kencang membuat kelopak bunga sakura berguguran.

"Wah, indah sekali" puji Hinata yang kagum akan ciptaan Tuhan.

Hinata menengedahkan tangannya. Senyum bahagia terkembang dibibirnya. Satu persatu kelopak bunga sakura berjatuhan ditelapak tangannya. Belum pernah Hinata menikmati musim semi seperti ini. Dia selalu menghabiskan liburan musim semi di rumah untuk membantu ibunya berjualan. Naruto sibuk dengan kameranya, dia memotret objek apapun yang dianggapnya indah. Matanya tak sengaja melihat Hinata tersenyum senang dengan menengadahkan wajahnya keatas sambil memejamkan mata. Naruto iseng mengambil gambarnya beberapa kali tanpa sepengetahuan Hinata.

"Hei. kau memotretku ya?" tanya Hinata penuh selidik.

"Siapa yang memotretmu. Kau ini terlalu percaya diri," bantah Naruto. Hinata yakin sekali kalau dia sekilas mendengar bunyi jepretan kamera.

"Naruto-kun apa kau tak ingin pergi ke jembatan kecil itu?" ucap Hinata sambil menunjuk jembatan kecil yang berada ditengah-tengah sungai kecil.

"Aku tidak mau. Aku lebih suka disini."

"Ayolah kita kesana, aku bosan disini terus," bujuk Hinata.

"kalau begitu pergi saja sendiri."

"Benarkah? apa kau benar-benar tidak apa-apa jika aku tinggal sendirian?"

"Aku akan baik-baik saja jika aku tidak ada dalam kerumunan orang-orang yang berlalu lalang dijalan raya dan tak ada orang yang mengepungku. Kalau hanya berdiri seperti sini dan memotret aku akan baik-baik saja. Jadi pergilah."

"Terima kasih, Naruto-kun."

Hinata berlari-lari kecil menuju jembatan asmara. Hinata bisa melihat sungai kecil lebih jelas. Ternyata dipinggiran sungai terdapat daun-daun yang berbunga kuning. Benar-benar pemandangan yang indah. Berada ditengah-tengah terowongan sakura merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Dari tempat Hinata berdiri barisan pohon sakura terlihat jelas. Ranting bunga sakura sisi kanan dan Kiri saling bertemu. Sama sperti jembatan ini. Hinata melihat Naruto sibuk memotret tiap sudut Yeojwacheon.

"Naruto-kun!" panggil Hinata sambil melambai-lambaikan kedua tangannya. Namun sayang Naruto hanya melengos dan kembali memotret obyek yang lain. Senyum Hinata yang terpancar cerah sekejap hilang karena ulah Naruto. "Dasar pria menyebalkan!"

Buuuk!Tiba-tiba seorang laki-laki menabrak Hinata. Benturan keras membuat Hinata tersungkur Jatuh. Naruto hanya terdiam melihat kejadian yang menimpa Hinata. Dia berdiri sambil mengibas-ngibaskan kotoran yang ada di lututnya.

"Maafkan aku," ucap pria itu beberapa kali.

"Tidak apa-apa," ujar Hinata. Hinata sama sekali tak menyadari kalau pria itu sekarang sedang memperhatikan dirinya secara detail.

"Hyu..Hyuga Hinata" ucap pria itu sambil menunjuk kearah Hinata.

"Iya? apa kau mengenalku? kau ini siapa?" tanya Hinata bingung.

"Jadi kau benar Hyuga Hinata. Akhirnya kita bertemu juga, apa kau ingat denganku? ini aku Aburame Shino. Apa kau ingat? teman sekelasmu saat dibangku sekolah menengah atas yang dulu sering menggodamu. Sering mencari gara-gara kepadamu. Aburame Shino si pembuat onar, apa kau ingat?"

Hinata melihat wajah pria itu secara seksama sambil mengingat kembali masa-masa SMA-nya. Iya benar, sekarang dia ingat siapa pria ini. Aburame Shino, si pembuat onar, Shino yang selalu menggodanya setiap hari dan Shino yang pernah menyatakan cinta padanya disaat upacara kelulusan sekolah.

"Ya tuhan, Aburame Shino!" pekik Hinata.

TO BE CONTINUE