"Choose To Love You"
HunHan/Krishan
KrisTao
Kaisoo
ChenMin
:::::::::::::::::::::::
Genres : Romances/Drama
Rated : T
Lenght : Chaptered
Disclaimer : All cast belong to God, story is mine !
Warn Typo(s) !
GS
RnR
Happy Reading
:::::::::::::::::::::::::::
Minseok memandangi dua bocah kecil yang tengah asyik bermain dan kadang berebut boneka. Dua bocah yang baru berumur dua tahun itu terlihat sangat akrab dan serasi. Mereka kadang terlihat seperti kakak adik, kadang seperti teman, kadang seperti musuh, dan kadang terlihat saling mencintai satu sama lain. Minseok mengalihkan pandangannya pada wanita yang kini duduk didepannya dan ikut memandang bocah berbeda jenis kelamin itu.
"Kau tak berniat merusak kebahagiaan Jongsoo kan, Lu?" pertanyaan yang dipendam Minseok beberapa hari akhirnya bisa ia ungkapkan juga.
Pertanyaan itu membuat Luhan menclos seketika, ia kembali memandang sahabatnya "Maksudmu?"
"Hanya karena kau mencintai appanya"
Luhan menghela nafasnya "Apa itu kesalahanku karena aku mencintainya, Taerin eomma?"
Minseok menggeleng "Kau tak salah, hanya saja kau mencintai pria beristri"
"Aku sudah terlalu lama menahannya, bahkan demi dia aku rela menjaga anaknya"
"Perbuatannmu tidak akan membuatnya berpaling padamu, Lu! Dia menganggapmu tak lebih dari seorang sahabat dan juga dia sangat mencintai Jongsoo eomma"
Luhan terdiam, sejak ia menceritakan keluh kesahnya pada Minseok sahabatnya, Minseok selalu menyalahkannya hanya karena pria yang ia cintai dan menjadi cinta pertama Luhan sudah menikah dan memiliki bayi tampan bernama Wu Jongsoo.
"Jika kau mendekati mereka hanya karena kau masih mencintai Kris sebaiknya jangan, Lu! Itu sama saja kau mengkhianati Tao karena mempercayakan anaknya padamu tapi ternyata kau malah mencintai appanya" kata Minseok lagi. Jujur ia shock saat mengetahui pria yang dicintai oleh Luhan sejak SMA dan berhasil membuat Luhan tidak pernah dekat dengan namja lain adalah Kris. Sahabat mereka yang kebetulan kembali 2 tahun lalu dari Kanada dan menetap di Korea.
Luhan menanggapinya dengan senyum, ia tak ingin mendebatkannya lagi dengan Minseok. Sudah cukup kurang lebih 9 tahun ia memendam perasaannya, dan bukan ceramah dari Minseok yang ia inginkan saat ia telah menceritakan permasalahan cintanya.
"Akh, sepertinya Tao datang" tebak Minseok saat bel appartementnya berbunyi. Minseok beranjak dari duduknya, dan meninggalkan Luhan serta kedua bocah lucu itu.
"Jongsoo-yah...! eomma datang.." teriak Tao sambil merentangkan tangannya dan menjajarkan dirinya dengan lututnya sebagai tumpuannya.
Wu Jongsoo yang awalnya tegah sibuk dengan robot-robotannya, langsung memalingkan wajahnya ke arah eommanya. Bocah laki-laki itu berlari kedalam pelukan sang eomma.
"Eomma... bogoshippeo!" katanya manja.
Tao mengelus rambut putranya dan menghujani ciuaman-ciuman manis pada anak semata wayangnya "Eommado..." ini memang sudah kebiasaan Tao diakhir pekan untuk menitipkan Jongsoo pada Luhan dan kadang Minseok, karena dia harus melanjutkan kuliahnya yang tertunda karena kehamilannya saat di Kanada.
Luhan menatap haru pertemuan Jongsoo dan Tao, baru sehari ditinggal sang eomma, bocah itu dengan polosnya mengatakan rindu pada wanita yang melahirkannya.
"Eonnidull, mianhae! Aku terus menganggumu di akhir pekan" kata Tao pada Luhan dan Minseok, ia duduk di samping Luhan.
"Tak apa, Tao-yah! Jika Luhan sibuk, kau bisa menitipkannya padaku, atau pada Kyungsoo. Kami senang bermain dengan Jongsoo" balas Minseok.
Tao menggeleng, Jongsoo tenang dipelukan sang eomma "Aku tak ingin merepotkan Kyungsoo eonnie! Aku tak ingin menambah kesalahapahamn antara Kris oppa dan Jongin!" jawabnya sambil mengenang cerita antara KaiSoo dan suaminya dimasalalu.
"Yah, kau benar. Sekarang bukan saatnya lagi membuat kesalapahaman. Kyungsoo baru saja meluruskan kesalahpahaman diantara mereka" sambung Luhan.
"Ah, eonnie! Aku harus pulang, sebentar lagi Kris oppa pulang" katanya sambil menggendong Tao dan membereskan peralatan putra semata wayangnya.
"Biar ku antar , Tao-yah!" Luhan menawarkan diri.
"Terimakasih eonni, tapi aku sudah memesan taksi"
"Ah, geure? Baiklah, hati-hati di jalan"
"Ne..."
Luhan melangkahkan kakinya gontai setelah keluar dari lift yang mengantarnya ke lantai appartementnya. Tangan kanannya menenteng kantong plastik putih berisi bahan makanan, sepulang dari rumah Minseok, Luhan memutuskan untuk mampir ke store untuk membeli bahan makanan untuk kebutuhannya seminggu ke depan.
Langkah Luhan terhenti sekitar 3 meter dari pintu appartementnya, mata rusanya menatap pria bercoat tebal yang tengah memencet bel appartemenntanya berkali-kali. Luhan mendecih kesal, pria ini pria yang tengah Luhan hindari.
"Jika kau terus memencetnya kau akan diusir pihak keamanan karena mengganggu kenyamanan penghuni lain" tegur Luhan sinis.
Pria itu membalikkan badanya dan tersenyum manis saat melihat gadis yang dicarinya berdiri manis di depannya.
"Ada apa kau kemari?" tanyanya lagi.
"Aku ingin menemuimu, nunna!"
"Aku tahu, tapi urusannya apa?"
Pria itu terdiam, ia sendiri tak tahu kenapa ia ingin sekali bertemu dengan wanita yang lebih tua 6 tahun darinya itu. Merindukannya, mungkin?
"Pulanglah, Oh Sehun! Jangan menemuiku lagi"
"Tapi..."
"Kita tidak memiliki alasan untuk tetap bertemu, kan?"
"Nunna..." lirihnya sambil memandang sendu wanita yang lebih pendek darinya.
"Aku lelah!" Luhan berjalan melewati Sehun yang mematung, Luhan memasuki appartementnya dan meninggalkan Sehun yang masih berdiri di luar.
"Jika begitu, aku akan mencari alasan agar kita bisa bertemu, nunna!" katanya pelan.
Tao memandangi bayi mungil yang tengah terlelap. Ia membenarkan selimutya dan mengecup kening putra semata wayangnya itu. Setelah itu ia keluar dari kamar Jongsoo dan mendapati suaminya tengah menyaksikan acara bola.
"Chagi, Jongsoo sudah tidur?"
Tao duduk disamping suaminya, ia mengangguk "Mau ku buatkan kopi?" tawarya.
Kris menggeleng "Jika aku minum kopi sekarang, nanti aku malah lembur, apa kau siap?"
"Siap apa?"
"Membuat adik untuk Jongsoo"
Tao menepuk dada suaminya pelan "Kau ini"
Kris merengkuh kepala istrinya "Bagaimana kuliah mu?"
"Baik oppa, aku menikmatinya"
"Maafkan aku, karena kau kau harus pindah kuliah dan mengurus Jongsoo"
Tao tersenyum "Itu sudah tugasku sebagai istri, oppa! Lagipula itu keputusanku untuk menikah muda dengan mu" Tao memainkan jemari suaminya.
"Apa aku harus mengerjakan babby sitter agar ada yang merawat Jongsoo? Aku tak ingin kau terlalu lelah, sayang"
"Gweanchana oppa, lagipula kan kuliahku hanya sabtu dan minggu, sabtu Jongsoo bisa ku titipkan pada Luhan dan Minseok eonni, minggu kan ada dirimu yang tidak bekerja. Tinggal dua semester lagi kuliahku akan kelar"
Kris mengguk "Ada Kyungsoo juga yang akan membantu kita"
"Aku takut jika kita menitipkan Jongsoo pada Kyungsoo eoninie?"
"Wae?"
"Kurasa Jongin masih belum menerima kita,"
"Itu hanya perasaanmu saja sayang, dia baik sebenarnya. Dan juga dia sangat menyukai Jongsoo"
"Mendengar nama Jongsoo seolah dia anak Kyungsoo eonni dan Jongin"
Kris tersenyum lalu mengeratkan pelukannya "Dia kan lahir diacara pernikahan Kyungsoo dan Jongin. Lagipula aku sangat menyukai mereka" jawabnya.
Tao hanya mengangguk.
Keduanya kembali hening, Kris melanjutkan acara menonton bolanya. Sedangkan Tao tengah sibuk dengan pikirannya.
"Oppa..." panggilnya pelan.
"Emmm..." balas Kris tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.
Tao mendongkakkan kepalanya, ia melihat suaminya yang tengah fokus pada acara favoritnya. Tao menelungsupkan kembali kepalanya pada dada bidang suaminya ia menggelengkan kepalanya disana.
"Kenapa sayang?"
"Aniya..." balasnya. Oppa, apa kau masih akan terus menyembunyikan hubunganmu dengan Luhan eonni dari ku? Sampai kapan? Aku masih akan menunggu hingga kau mengungkapkan semuanya – Zi Tao
"Kau sepertinya sakit, eonni?" tanya Kyungsoo yang mamasuki ruang UKS dan melihat Luhan yang tengah memijat kepalanya.
"Eoh! Anni... hanya pusing saja, aku minum obat juga nanti sembuh kok"
Kyungsoo duduk di depan Luhan yang hanya terpisah dengan meja kerja Luhan "Apa hari ini banyak siswa yang beralasan sakit?"
Luhan menggeleng "Tidak, hanya beberapa saja"
Kyungsoo mendengus "Huft... aku tak tahu harus bagaimana lagi menghadapi mereka, mereka menggunakan alasan sakit agar menemuimu" kata Kyungsoo kesal, ia sangat tahu trik-trik beberapa muridnya yang menggunakan sakit sebagai alasan agar bisa menemui Luhan. Sekedar informasi, Luhan si petugas UKS di SM High School menjadi primadona dikalangan siswa-siswa Kyungsoo. Karena sikap Luhan yang ramah dan didukung dengan parasnya yang cantik, pria mana yang akan menolak pesonanya apalagi sebagian siswa SM High School dalam masa pubernya.
"Sebaiknya kau menerima tawaran Jongin untuk menjadi salah satu dokter umum dirumah sakit SM group, kuliah profesimu bisa di biayi perusahaannya,"
"Kau sedang menyombongkan kekayaan suamimu, nonyah Kim?" goda Luhan.
"Anniyo..." Kyungsoo berbicara dengan cepat "Maksudku gelar dokter mu bisa kau manfaatkan di rumah sakit besar bukan sebagai petugas UKS disini"
"Kau belum dewasa ternyata, aku tidak pernah memanfaatkan kecerdasan dan gelarku untuk mendapat posisi lebih tinggi, aku bekerja karena aku menikmati dan menyukainya termasuk disini, entahlah aku hanya senang bekerja disini, tidak terlalu berat, gajinya juga lumayan dan juga pekerjaan ini pula yang bisa membuatku menggelar title dokter sekarang" kenang Luhan, ia membiayai kuliahnya di bidang kedokteran dari pekerjaannya yang menjadi petugas UKS setelah lulus sekolah dari SM high school beberapa tahun lalu.
Kyungsoo mengangguk "Kau benar eonnie, kita bekerja karena menyukai pekerjaan kita, sepert aku" Kyungsoo tersenyum, setelah vakum kurang lebih satu tahun ia akhirnya bisa kembali mengajar di sekolah yang di pimpin oleh suaminya itu. Karena masalalunya dulu, Kyungsoo memutuskan untuk berhenti sejenak dari sekolah tersebut.
"Kau sudah mau pulang?"
"Em.. sudah waktunya, eonnie sendiri?"
"Sebentar lagi, Soo! Ada beberapa berkas yang harus ku urus"
"Geure, kalau begitu aku pulang duluan, mungkin Jongin sudah menungguku"
Luhan tersenyum sambil melihat sahabatnya keluar dari ruangannya dan menghilang.
Kyungsoo bersenandung sambil keluar dari gedung sekolah tersebut, ia melangkah menuju tempat parkir. Ia akan menunggu Jongin disana. Ketika ia baru beberapa langkah memasuki halaman parkir, langkahnya terhenti karena sesorang memanggilnya.
"Kyungsoo nunna..."
Kyungsoo membalikkan badannya ke arah suara, ia tersentak ketika melihat pria berkulit putih tersenyum dan berjalan menghampirinya. Dia... laki-laki itu. Kyungsoo mundur beberapa langkah saat pria itu menghampirinya.
"Senang bertemu denganmu kembali, Kyungsoo nunna.."
Kyungsoo tak bisa menyembunyikan rasa takutnya, wajah itu mengingatkannya pada kejadian dua tahun lalu, kejadian yang ia alami dua kali dengan pria yang berbeda. Wajah dan senyum itu yang menakutkan bagi Kyungsoo. "Sehun-ah... jebal... jangan mendekat..." titah Kyungsoo dengan terbata. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya.
Sehun langsung menghentikan langkahnya, ia baru sadar jika setiap langkahnya untuk menghampiri Kyungsoo, Kyungsoo juga langsung berjalan mundur. Sehun menyadari ketakutan dari Kyungsoo saat ia mendekati gadis mungil itu.
"Jebalyo... jangan mendekat"
"Nunna... maafkan aku! Bukan itu maksudku..."
Kyungsoo menetralkan nafasnya ia menatap Sehun yang lebih tinggi darinya. Rasa takut itu harus dilawan, jika Sehun kembali macam-macam padanya ia bisa berteriak sekarang, lagi pula keadaan halaman sekolah tidak terlalu sepi. Ada beberapa siswa yang berlalu lalang, Kyungsoo tidak memiliki alasan untuk takut pada pria berkulit pucat itu.
"Kyungsoo nunna... maafkan aku! Aku tidak memiliki niat buruk padamu, percayalah"
Kyungsoo mengangguk "Maafkan aku, Sehun-ah! Aku hanya terkejut melihatmu kembali"
"Bagaimana kabarmu, nunna?"
"Baik sangat baik,,,," Kyungsoo masih gugup menghadapi Sehun, dalam hatinya ia merutuki kesalahannya karena tidak menghampiri Jongin untuk bersama ke tempat parkir. Ia juga mengumpat suaminya yang tidak kunjung datang, tidak tahukah dia jika saat ini istrinya tengah ketakutan.
"Kejadian itu, aku mi.."
"Aku sudah memaafkanmu!" potong Kyungsoo cepat.
Sehun mengangguk "Aku kemari untuk mencari Luhan eonnie"
Kyungsoo menatap Sehun lagi, "Mwo? Ada apa kau mencarinya?"
Sehun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sebenarnya "Hanya memiliki beberapa urusan, apa dia masih disini?"
Kyungsoo mengangguk "Tunggulah disini, sebentar lagi dia pasti akan turun"
"Gomawo nunna, sudah mau memaafkanku"
"Sebaiknya tidak perlu diungkit lagi, sehun-ah!"
Sehun mengangguk.
Tanpa mereka sadari, Jongin tengah menatap mereka dengan geram. Ia geram karena Sehun, pria yang pernah mencintai istrinya itu datang kembali setelah dua tahun menghilang. Jongin yang tak bisa menahan rasa cemburunya langsung menghampiri mereka yang tengah berhadapan dengan jarak sekitar beberapa meter. Ah, Jongin-ah! Sebaiknya jangan terlalu cemburu, kau tak lihat bagaimana istrimu menjaga jarak dengan pria lain, eoh!?
"Jongin-ah!" seru Kyungsoo yang melihat suaminya berjalan ke arahnya dengan dua tangannya yang mengepal, Kyungsoo langsung berlari menghampiri Jongin yang berjalan dari belakang Sehun.
Sehun hanya membalikkan badanya dan melihat Kyungsoo tengah bergelayut manja di lengan suaminya, menurut Sehun.
"Kenapa si kecil brengsek ini ada disini?" tanya Jongin sinis.
"Lama tidak jumpa, sajangnim! Dan selamat atas pernikahan kalian" kata Sehun pada Jongin.
"Dia ada urusan dengan Luhan eonnie, Jongin-ah!" kata Kyungsoo.
"Oh, benarkah? Bukannya itu akal-akalannya saja agar bisa menemuimu?"
Kyungsoo menggeleng "Jangan negatif thinking dulu"
"Kau baik-baik saja kan?"
Kyungsoo tersenyum "Jangan berlebihan, Jongin-ah! Kau tak lihat wajah Sehun yang tulus meminta maaf karena perbuatannya, kau sendiri yang bilang kan jika kau juga sudah memaafkannya?"
"Kyungsoo nunna benar, sajangnim! Aku rasa hukuman ku yang terbaring seminggu di rumah sakit itu cukup! Harusnya kau merasakan pukulan maut mu itu!"
"Yak! Anak kecil, berani sekali kau bicara tidak formal padaku"
Kyungsoo hanya tersenyum ia mengelus lengan suaminya, rasanya sejak kehadiran suaminya, ia bisa bernafas normal dan keadaan juga tidak terlalu tegang lagi. Jongin memang paling bisa dalam menenangkan Kyungsoo.
"Ah, maafkan aku Kim Sajangnim!" kata Sehun sambil menunduk.
"Sudahlah, sebaiknya kita pulang. Sehun, kami pulang dulu yah, cepat selesaikan urusanmu dengan Luhan eonnie. Dan senang bertemu dengan mu kembali" kata Kyungsoo sambil tersenyum , dan jangan lupakan tangannya yang masih bergelayut di lengan suaminya.
Sehun hanya tersenyum, matanya menatap KaiSoo yang berjalan meninggalkannya dan menuju ke mobilnya.
"Pesonamu masih saja indah, Kyungsoo nunna! Sepertinya aku salah jika aku tidak jatuh dalam pesonamu lagi," ucap Sehun sambil memandang mobil Jongin keluar meninggalkan halaman sekolah "Tapi aku bahagia melihatmu bahagia, kalian benar-benar serasi" puji Sehun.
"KAU?" Luhan benar-benar tak percaya jika yang dilihatnya sekarang benar-benar Oh Sehun. Anak ini benar-benar tebal muka untuk datang kembali ke sekolah, bagaimana jika Jongin dan Kyungsoo melihatnya? -Luhan.
"Nunna.. aku sudah lama menunggumu, kau tahu?"
"Kenapa kau kemari? Ingin mencari masalah dengan Jongin lagi?"
"Ish! Kenapa semua orang berfikiran negatif sih tentangku? Aku ingin menemuimu"
Luhan menyilangkan kedua tangannya "Apa lagi sekarang?"
Sehun menunduk, ia mengumpulkan keberaniannya untuk mengeluarkan kalimat selanjutnya.
"Katakan, Oh Sehun?"
"Tentang malam itu..."
"Aku kan sudah bilang jangan dibahas lagi. Aku sudah tidak mengingatnya!"
"Bagaimana aku bisa melupakannya, nunna! Malam itu kita tidur bersama, dan ...dan.."
"Yak! Oh Sehun, apa maksudmu dengan tidur bersama? Sebaiknya kau jaga bicaramu, jika ada orang mendengar mereka akan berfikiran yang tidak-tidak" cegah Luhan.
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu, nunna!"
"Mwote?"
"Jika kau hamil"
"Sehun-ah! Kita hanya tidur, tidak lebih!"
Sehun menatap Luhan "Apa kau yakin jika kita hanya tidur?"
Luhan mengangguk.
"Lalu kenapa kita tidur tidak memakai sehelai kain? Aku tak yakin jika aku tidak menyentuhmu" Sehun berkata frontal.
"Jika pun iya, itu kecelakaan! Kita kan tidak sadar malam itu"
"Bagaimana pun, aku akan bertanggung jawab"
"Kata-kata tanggung jawabmu membuatku ngeri mendengarnya, Sehun-ah!" Luhan melangkah meninggalkan Sehun namun beberapa menit kemudian ia menghentikan langkahnya "Kenapa kau mengikutiku?"
Sehun tersenyum "Kan aku sudah bilang jika aku akan bertanggung jawab"
"Tapi aku baik-baik saja, Sehun-ah!"
"Sekarang, bagaimana jika ternyata kau sedang hamil anakku? Aku akan menjagamu mulai sekarang" Sehun meraih tangan mungil Luhan lalu menggandengnya ke arah halte.
"Yak! Oh Sehun! Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku! Hey..."
::::::::::::
:::::::::::::::::::::::::::
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
TeBeCe or END ?
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
XOXO
==aerii==
