Kuroko no Basket © Tadatoshi Fujimaki

Pair : KiseKuro

Warning : Shounen Ai. 60% Canon-40% AU

Nb : Serpihan canon yang di modif sesuka hati. Hasil melototin Ryouta berbulan-bulan. Maafkan saya :')


PIECES © Faicentt


Koridor menjadi tempat pelarian Kise siang ini. Sembari memegang ponsel miliknya—tolong aku, Kami-sama—model tampan itu memencet tombol panggilan untuk seseorang yang dikenalnya.

Ah, diangkat!

"MIDORIMACCHI!"

"Ck! Suaramu keras sekali!" Midorima mengumpat dari seberang. "Apa maumu, Kise?"

Kise tidak peduli. Ia harus selamat dalam ujian, pokoknya, "Etto, kau masih punya benda itu? Pinjamkan padaku!"

To the point, ungkapan ikemen pirang langsung menjalar ke saraf emosi. Midorima menyipitkan mata. Kurang ajar memang temannya satu itu. "Benda itu?"

"Itu! Itu! Yang selalu kau pakai dalam ujian-ssu!" Kise mengerucutkan bibir. Mana mungkin Midorima tidak ngeh.

Si tampan berkacamata mendesah jengkel. "Kenapa kau selalu mengandalkanku?" Gerutuan dimulai. Kise siap menjauhkan ponsel beberapa senti dari telinga. "Benda keberuntungan hanya membantu mereka yang bergantung pada diri sendiri, tidak akan mempan untuk mereka yang mengandalkan orang lain."

Sudah diduga. "Sombong sekali-ssu! Padahal kita sama-sama pemain regu— "

Tut tut tut.

Kise merana. Telepon yang dimatikan secara sepihak membuat keringat dingin semakin bercucuran. Midorimacchi sialan, padahal waktu ujian tinggal beberapa saat lagi.

Eh, tunggu dulu

"Ah, sepertinya Kurokocchi juga punya satu," Kise langsung memencet nomor yang dihapal luar kepala. Menunggu sambungan diangkat, ia khusuk merapal doa, mengharap malaikatnya mau membantu.

Satu detik, dua detik, tiga…

Pip

Sambungan di seberang di tolak dengan manis.

Kise menjerit dalam hati. Kokoro-nya pecah berkeping-keping.

"Langsung dimatikan tanpa diangkat, Kurokocchi, tega sekali sama seme sendiri~" Sang model menangis bombay.

(_KurokonoBasuke season 2 OVA_)


PESAN

Kise melangkah lunglai sepanjang perjalanan menuju studio pemotretan. Tes tadi—hanya bisa ia pasrahkan pada yang diatas.

Benar ternyata-ssu, cinta ini membunuhkuKurokocchi tega sekali-ssu

Saku celana bergetar, sang model merogoh untuk mengambil ponsel. Sembari memasuki gedung—tidak lupa, melambai ramah pada kakak resepsionis cantik disudut ruang—ia membaca layar. Satu pesan masuk diterima. Dari malaikat kesayangan.

Lain kali sebelum ujian kita belajar bersama ya, Kise-kun.

Ryouta Kise, 16 tahun,mencoba menahan diri untuk tidak menjerit dan mencium ponselnya dengan gemuruh bahagia di dada.


INSTING

Skor 53 – 70 untuk SMA Fukuda.

Tamparan keras bagi Kise. Sedikit tertatih, pemuda itu mencoba berdiri tegap. Nyeri luar biasa seketika kembali menyergap pergelangan sendi kaki.

Brengsek!

Tidak. Ia pantang menyerah. Seorang Ryouta Kise pantang menyerah. Tidak mungkin, hanya karena hal ini—

"Hah, melihatmu down seperti ini, jadi teringat saat kita masih SMP, Ryouta," Haizaki melemparkan senyum merendahkan. "Aku mengambil kekasihmu saat itu, dan kau terlihat sangat menderita dan frustasi. Kau tahu? Aku mencampakkan wanita itu setelah berhasil merebutnya darimu. Seleramu buruk ternyata."

Kise terdiam—tangannya mengepal kuat sampai buku-buku jari memutih pucat.

"Aku kecewa. Sangat kecewa. Hal yang mudah bagiku untuk menghancurkanmu, nee, Ryouta."

Brengsek! Brengsek! Breng

"AKU PERCAYA PADA MU, KISE-KUN!"

Teriakan dari sudut tribun menggelegar, sampai pada telinga Kise. Seketika penonton hingar bingar, saling bertanya, siapa suara yang berteriak lantang itu. Haizaki menoleh, mencari sumber suara. Riuh tribun menyamarkan sosok tersebut. Haizaki mendecih.

Lain Haizaki, lain pula Kise. Ia sangat mengenal suara itu. Seketika kepala pirang mendongak, menatap salah satu sudut tribun, hanya bermodalkan insting. Bahkan riuh pun tenggelam dalam samudera hangat tersebut. Tidak ada yang bisa menghalanginya untuk memandang sang bayangan tepat ke manik mata. Kise menatapnya lekat. Hanya dia seorang.

"Kurokocchi…"

Sang model tersenyum.

Ah, Kurokocchi-nya tersayang…


PENANTIAN

Pertandingan semi final melawan Seirin, Ryouta Kise sudah menantikan hari ini sejak lama. Setelah unjuk kebolehan saat pemanasan, Ia melenggang santai menuju sepasang pemain cahaya dan bayangan Seirin.

Cahaya dan bayangan? Kise tertawa sinis. Cemburu itu menguras hati, sial.

"Kagamicchi," sapanya, menghentikan langkah di hadapan duo Seirin. "Waktu itu, aku kalah dalam pertandingan pertama kita. Sampai sekarang aku frustasi jika memikirkan hal itu. Aku tidak pernah melupakan kejadian itu, tidak sekalipun."

Terutama saat bermain, koordinasi kalian begitu menyakitkan mata

"Namun," lanjut Kise," —berkat kejadian itu, aku menyadari satu hal. Aku sangat menyukai basket. Begitu menyukai, sampai–sampai aku akan melakukan apapun untuk basket,"

dan juga untuk mendapatkan Kurokocchi

"Karena itu, aku tidak akan pernah kalah lagi."


RIVAL

"Kurokocchi, kau setuju denganku bukan?" Ia beralih pada pemilik tubuh mungil, tidak ingin berlama-lama memandang Kagami.

"Ya," Kuroko mengangguk yakin. "—dan hal lain yang aku pikirkan saat ini adalah, bahwa aku mulai terbiasa untuk membencimu, Kise-kun."

"..."

"..."

He?

"Heeeeeeh?" Hati Ryouta Kise seperti diremas-remas, sakit rasanya. "Melihatmu berbicara tanpa ekspresi seperti itu-ssu, rasanya—"

"Tapi, benci yang aku maksud dalam artian yang baik, Kise-kun." Kuroko memotong, masih memandang lekat manik hazel yang indah. "Ketika pertama kali Kise-kun bergabung dengan tim basket, aku dipilih untuk menjadi mentormu. Karena itu, aku merasa Kise-kun sedikit spesial."

Spesial...

"Permainanmu terus berkembang dari waktu ke waktu, dan aku menyadari, kita memiliki potensi yang berbeda. Waktu itu aku merasa frustasi, tidak ingin kalah darimu. Sampai akhirnya aku memutuskan—"

Ditengah ngilu yang mendera, Kise melihat senyum di wajah yang ia puja.

"—Kise-kun adalah rivalku."


SEHATI

Alley oop dari Kagami mulai menyudutkan tim Kaijou. Kise tidak tahan lagi. Matanya panas. Kepalanya panas. Hatinya panas. Ia menggigit bibir keras, lalu berdiri.

"Kise, tunggu! Ini masih terlalu cepat!" Pelatih Takeuchi mencoba menahan.

"Tidak, aku tetap akan bermain!" Kepalang tanggung. Kise sudah terbakar luar dalam.

Genta Takeuchi mencoba menghaluskan nada, khawatir. "Masih ada empat menit tersisa. Dengan kondisi kakimu yang sekarang, kalau kau bertindak gegabah, maka kau—"

"Pelatih," si pirang menyela. Api berkobar di sepasang mata sang model," —tugas seorang Ace, adalah membawa kemenangan bagi tim-nya, benar?"

Takeuchi membuang nafas panjang. "Baiklah." Pria bertubuh gempal itu memandangnya serius. "Satu hal yang harus kau tahu, begitu aku menemukan resiko kecil padamu, aku akan segera mengeluarkanmu."

"Roger!" Kise tersenyum. Tidak berlama-lama, ia segera ia berlari menuju wasit.

"Mohon pergantian pemain," Kise mengangkat tangan, namun sedetik kemudian matanya melebar.

Sepasang hazel terpercik saat samudera dihadapan meminta hal yang sama.


KEKALAHAN

Bel nyaring berbunyi. Panthom shoot dari sang bayangan berhasil mencetak angka pada detik-detik terakhir.

Skor 80-81 untuk SMA Seirin.

Kasamatsu-senpai menengadahkan kepala keatas. Moriyama-senpai menunduk dalam-dalam, mengatupkan mulut rapat. Ryouta Kise mengigit bibir, menyeret langkah dengan berat menuju pemain bayangan.

"Kise-kun,"

"Aku kalah-ssu," Ia memaksakan senyum.

Kuroko memandang, penuh dilemma. "Kau hebat, Kise-kun. Kau pemain yang kuat. Mungkin kami menang, namun kami tidak dapat menghentikanmu."

"Kau ini," Pemuda pirang melepaskan nafas berat. "Mendengarmu berkata seperti ini, kalau dulu pasti aku akan sesumbar, tapi sekarang, entah kenapa aku merasa kau bersikap sarkas-ssu."

"Ah, maaf." Kuroko tersenyum kecut. Bukan begitu maksud hati. Kise-kun salah tangkap.

Kise balas tersenyum, kali ini lembut dan hangat. "Lain kali, kami yang akan menang-ssu. Tahun depan, kita akan bertanding lagi."

Jabatan tangan mereka begitu erat. Kise menahan genangan yang merebak di pelupuk mata.


RENGKUHAN

"Aku kalah-ssu," Kise berucap untuk kesekian kali, malam ini membenamkan kepala pada tubuh yang lebih kecil darinya.

"Aku kalah," ia terisak, matanya sembab, hidungnya terasa mampet, bahkan ia tidak bisa mencium aroma manis dari si biru kesayangan.

Tetsuya Kuroko hanya terdiam. Dalam pertandingan, tentu tidak ada satu orang pun yang menginginkan kekalahan, Kuroko tahu betul tentang itu.

Tangan kanan mengelus perlahan helaian pirang yang terkulai lemas, tangan kiri mengusap punggung kokoh yang kali ini tampak rapuh. Rumah Ryouta Kise sepi senyap, hanya mereka berdua—

dan malam ia habiskan dengan merengkuh erat tubuh jangkung matahari-nya.


TERIMA KASIH

Siang itu di Majiba, dengan Kuroko duduk diapit Akashi dan Kagami, mereka tengah me-review pertandingan Winter Cup bersama. Ryouta Kise duduk di kursi paling sudut, sedikit bersungut—kenapa bukan aku-ssu yang duduk disamping Kurokocchi. Obrolan mengalir lancar, seolah mereka adalah kawan lama, membuat Kuroko diam-diam mengukir senyum bahagia. Kise menangkap itu dari sudut matanya.

Kali ini mereka membahas pertandingan antara SMA Fukuda dan SMA Kaijou, Kise yang paling bersemangat untuk berkomentar.

"Ah, saat itu aku seperti mendengar suara Kuroko-kun berteriak dari tribun," Takao turut menyumbang suara. Midorima mengangguk setuju, ia juga berpendapat sama.

Kise nyengir kuda, menggaruk kepala pirangnya dengan kaku. "Etto, itu memang Kurokocchi-ssu."

"Heh? Sungguh?!" Sepasang mata elang membola, sedikit tidak percaya. Berbicara saja suaranya pelan, mana mungkin

"Aku berteriak tanpa pikir panjang," Kuroko beralasan.

Kagami di sebelahnya hanya tersenyum maklum, pemuda manis itu memang selalu membuatnya tertarik. "Kau terkadang bisa melakukan hal-hal diluar dugaan, Kuroko. Membuatku kaget saja."

"Tapi, apapun itu, aku betul-betul senaaaaang sekali-ssu. Rasanya seperti habis terjatuh, dan tiba-tiba ada yang mengulurkan tangan, membantu berdiri." Kise berbicara dari hati terdalam. Aaah, disaat seperti ini, ingin sekali rasanya memeluk tubuh samudera miliknya erat-erat.

Taiga Kagami menaikkan sebelah alis. Memandang si pirang dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tapi hebat juga kau bisa menemukan Kuroko diantara tribun yang terisi penuh. Kau tahu kemungkinannya sama dengan mencari jarum ditumpukan jerami bukan?"

Kise tersentil. "Itu…itu…" Sialan Kagamicchi, "-itu yang disebut dengan intuisi, tahu!"

"Ho?" Kagami mendengus. "Atau jangan-jangan sebenarnya kau tidak tahu Kuroko ada dimana?"

"Tidak mungkin-ssu. Aku langsung tahu kalau itu memang Kurokocchi!"

"He, tapi-hmmph!"

Kise menutup mulut Kagami dengan sebelah tangan. Menggumamkan kalimat Kagamicchi berisik-ssu, tubuh jangkungnya menjulur kearah Kuroko yang juga menatapnya dengan senyum tipis.

"Arigatou nee~, Kurokocchi!"

(_KurokonoBasuke Oshaberi Shioka fandisc3_)


HADIAH

Minggu yang cerah. Secerah hati seorang Ryouta Kise pagi ini. Datang tiga puluh menit sebelum waktu yang telah ditentukan, Kise melakukan pemanasan dengan gantengnya.

"Ki-chaaaaan! Selamat pagi!"

Kise menoleh. "Ah, Momocchi, Aominecchi!"

"Kau datang terlalu cepat, Kise." Daiki Aomine menguap lebar.

"Habisnya, jarang sekali kita berkumpul seperti ini-ssu!" Si pirang bersemangat. Lagipula, hari ini ulang tahun Kurokocchi~ Kise meremas kotak kecil yang sedari tadi ada dalam genggaman.

Aomine berdecak. "Sepertinya baru kita saja yang datang."

"Ano—aku juga sudah disini." Kuroko menyela dari belakang. Si ganguro terlonjak kaget.

"Kurokocchi!" Deg deg deg, jantung sang model memompa darah lebih cepat. "—selamat pagi-ssu!"

"Tetsu-kuuuuuuuun!" Momoi berlari, menjatuhkan diri dalam pelukan pemuda minim ekspresi. Yang ditabrak mengaduh pelan. Sesak rasanya. Untung dada Momoi-san empuk, coba kalau tidak.

"Selamat ulang tahun!" Satsuki Momoi tersenyum lebar.

"Terima kasih."

Kotak berlapis kertas merah muda dengan pita diletakkan manis diatas telapak tangan pucat. "Ano, ini ada hadiah untukmu." Kise bisa melihat pipi gadis itu merona.

"Terimakasih banyak Momoi-san," senyum Kuroko merekah," —boleh kubuka kadonya?"

"Un!" Gadis cantik itu mengangguk senang, dan semakin senang saat memandang jari-jari Kuroko yang terampil melepas pita. Isinya ditarik lembut dari kotak.

Ah.

Cahaya sang matahari memudar.

"Ho? Bukankah itu syal yang kau rajut akhir-akhir ini, Satsuki?" Aomine memandang takjub kado pemberian yang dipegang sang bayangan. Merah muda warnanya, kombinasi yang indah bila disandingkan dengan kulit putih milik Kuroko.

"Buatan sendiri ya?" Kise menatap lekat-lekat. Buatan tangan, tidak sebanding dengan apa yang ada dalam genggaman.

Sang gadis makin merona. "Ano—kalau kau tidak suka warnanya, tidak perlu dipakai kok."

"Tidak, Momoi-san—" Kuroko membebatkan syal pada leher, hangatnya melingkupi wajah. Ia kembali tersenyum, untuk kesekian kalinya di pagi ini. "—aku akan menjaganya dengan baik."

Tanpa ada yang menyadari, kotak hitam dimasukkan kedalam saku diam-diam, kelam melingkupi wajah sang model tampan.

(_KurokonoBasuke SaikonoPresentDesu_)


FOTO

Senja mulai merayap, burung gagak terbang rendah diatas kepala—menari-nari riang. Para anggota Kiseki no Sedai ditambah dengan Tetsuya Kuroko dan Satsuki Momoi berkumpul disisi lapangan, sibuk mengelap peluh masing-masing.

Ryouta Kise berdiri kokoh, menegak pocari, lalu mengusap mulut. Refleks, ia sodorkan botol minum kepada Kuroko. Yang bersangkutan menerimanya dengan ucapan terimakasih, lalu menegaknya sampai habis.

Murasakibara berjongkok, mengaduk-aduk tas, lalu berdecak. "Ah, aku lapar sekali," keluhnya, saat melihat isi dalam tas nihil dengan persediaan snek. Padahal seingatnya, Tatsuya sempat menjejalkan beberapa macam jajanan ringan ke dalam tas si bongsor.

Sang Kapten tersenyum maklum. "Kalau begitu, kita akhiri saja pertemuan hari ini."

"Ah, benar."

"Tu-tunggu dulu!" Momoi berdiri, membuka tas, mengambil kamera dan tripod yang sudah disiapkan. "Sebelum kita pulang, aku ingin mengabadikan pertemuan kita hari ini." Ia tersenyum, lalu berjalan sedikit menjauh untuk meletakkan tripod dan kamera. 10 detik, cukup untuk mengambil foto.

"Cepat sedikit, Satsuki!" Daiki Aomine menggerutu, baju yang lengket membuatnya gerah.

"Tunggu sebentar dong!" Settingan selesai, Momoi berlari kembali kearah teman-temannya, mengambil posisi disamping model tampan bermahkota pirang.

Murasakibara menguap lebar, Midorima protes keras, dan Aomine memutar bola mata—malas. Akashi dan Kuroko tersenyum tipis melihatnya.

Hari yang sangat menyenangkan, rasanya tidak sabar menantikan pertandingan Inter High selanjutnya, saat dimana mereka bisa bermain bersama lagi.

"Kurokocchi! Mari kita berpose!" Suara sang matahari memasuki pendengaran pemuda bayangan, membuatnya menoleh. Bukan kaget mendengar suaranya, tetapi lebih kepada tangan hangat yang kini hinggap pada pinggang. Lensa kamera terburu-buru mengeluarkan blitz, Kuroko bahkan belum berpose sama sekali.

"Eh?"

(_KurokonoBasuke SaikonoPresentDesu_)


REUNI

Ryouta Kise belum pernah merasa segugup ini sebelumnya. Tidak saat ia menjadi salah satu model favorit idola para remaja. Tidak saat salah seorang fansnya yang cantik mengungkapkan perasaan padanya. Tidak juga saat ia diterima menjadi pemain regular untuk tim basket SMP Teiko yang bergengsi.

Tentu saja, sudah sewajarnya aku dapatkan, pemikirannya kala itu.

Tapi ini berbeda. Kise gugup. Campur senang. Dentuman di rongga dada bertambah seiring menguarnya aroma vanilla di dalam ruang yang lembab. Kise menghirup aroma itu dalam-dalam.

Untuk kesekian kalinya, sang model mematut pantulan dirinya di cermin. Kemeja gradasi biru muda—sengaja ia pilih, agar senada dengan nya—dipadukan dengan celana jeans donker, membuat hidung mancung pemuda itu mengembang bangga.

Psssh. Pssssh. Penyegar mulut disemprotkan. Kise mencoba mencium aroma nafas—aman!

Kau tampan, Ryouta. Kau tampan—dan Ryouta Kise tersenyum lebar.

"Oi, Kise! Cepat, gantian!" Daiki Aomine berteriak dibalik pintu kamar mandi.

Kise mengumpat, buru-buru menyimpan kotak hitam ke dalam saku celana. "Tunggu sebentar-ssu!" Sembari berteriak, matanya mengitari wastafel, mencermati merek-merek alat mandi dan mencatatnya dalam hati.

Copy-paste, done!

Ingatkan dia untuk membeli merek yang sama saat mengisi stok bulanannya besok.

"Cih, lama sekali!" Aomine menggerutu begitu Kise membuka pintu kamar mandi, buru-buru mengambil alih ruangan dan menggeser si pirang keluar.

Kise sebodo teuing. Bergegas dihampiri para sahabat yang kini duduk di ruang tamu, dengan samudera menjadi pusatnya.

Kise melipat handuk, Kuroko memberinya plastik untuk menyimpan. Tangan mereka bersentuhan, bulu halus Kise meremang. Di sofa seberang, Murasakibara mengunyah pocky dengan lahap, dan Akashi duduk dengan tampannya, menyesap sedikit demi sedikit teh hangat yang disajikan oleh tuan rumah.

"Jadi, setelah ini kita bersama-sama kerumah Kagamin?" Satsuki Momoi melanjutkan kembali pembicaraan. Ia tampak cantik dalam balutan gaun hijau pastel.

Kuroko mengangguk. "Kalau kalian tidak keberatan," sahutnya. "Aku ingin mengajak kalian makan malam bersama dirumah Kagami-kun."

"Tentu kami tidak keberatan, Kuroko." Akashi mengeluarkan suara. "Hanya saja, apakah kami tidak merepotkan?"

"Tentu tidak, justru aku senang sekali."

Obrolan-obrolan ringan pun terus berlanjut setelah itu, bahkan sampai didepan Taiga Kagami. Ryouta Kise terus menghitung waktu—detik demi detik, menit demi menit. Mencoba menahan diri untuk momen yang tepat. Kotak hitam senantiasa sabar menunggu dalam saku celana.

Tapi mau sampai kapan-ssu? Batinnya nelangsa.


PESTA

Hanya duduk bersampingan sudah membuat hati Ryouta Kise berbunga-bunga. Tidak peduli dengan kasak-kusuk teman-temannya yang menjadikan rumah Ace kebanggaan Seirin itu sebagai tempat pesta dadakan, ia terus menempeli samudera yang telah membuatnya jatuh hati.

Masih duduk manis dirumah Kagami, dengan diapit Kise-kun dan Momoi-san, Kuroko memandang horor tumpukan masakan yang tersaji dihadapan.

"Kau harus makan yang banyak Kurokocchi!" Kise mengambil posisi untuk menyuap, Momoi mendukung penuh semangat dengan sumpit ditangan.

Kuroko menelan ludah.

"Aku—tidak sanggup, Kise-kun."

Dan kotak hitam pun terlupakan untuk sementara waktu.


UNGKAPAN

Rumah berpagar kayu dan kotak hitam berisi kado ulang tahun menjadi saksi bisu malam itu. Malam dimana seorang Ryouta Kise menumpahkan perasaan pada bayangan yang pekat. Dengan kalung dalam genggaman yang tak kunjung diraih, matahari dan samudera saling bertatapan—ia tidak bisa melupakan pelukan beraroma vanilla dan ucapan yang terlontar dari bibir tipis itu,

"—maaf, Kise-kun,"

—yang Ryouta Kise ingat, tiba-tiba saja ia sudah bergulung bak kepompong dalam selimut dikamar dan meluapkan air mata dalam diam.


PESAN

Gigi-gigi putih Ryouta Kise bergemelutuk. Tangannya mengepal erat, Kasamatsu-senpai diperlakukan seperti itu oleh tim Jabberwock—ia jelas tidak bisa terima. Pemuda itu segera menarik jaket, menyampirkannya dalam pundak dan berjalan kearah pintu, bersamaan dengan dentingan pada ponsel. Kise menunda waktu, bunyi pesan masuk sedikit menggetarkan hati.

Ah, sudah berapa lama, Kurokocchi? Tiga bulan? Enam bulan?

'Kise-kun, aku ingin bertemu. Ada yang ingin kusampaikan padamu. Apakah kau ada waktu?'


TEAMMATE

Mereka dikumpulkan dalam satu gedung. Daiki Aomine, Atsushi Murasakibara, Shintarou Midorima, dan sang kapten, Seijuurou Akashi, berdiri gagah saling berhadapan. Ryouta Kise tersenyum kecut.

"Hee~, kupikir ada apa Kurokocchi menghubungiku-ssu." Dasar PHPatau dia yang terlalu ge er?

"Tidak kusangka kita akan bermain dalam satu tim lagi." Sudut bibir Akashi tertarik keatas, memandang ke empat mantan anggota tim-nya. Tidak perlu kaget, ia sudah memprakirakan hal ini akan terjadi.

"Ah, benar. Tidak kusangka kita akan berkumpul lagi setelah 6 bulan ini, nee, Murasakibaracchi?"

"Um."

Kise berkacak pinggang, harap-harap cemas memandang sekeliling. "Tapi, apa hanya kami saja? Mereka berdua—"

"Ah, tentu saja aku mengundang mereka," Pelatih Aida memotong, memandang sepasang sosok yang baru saja menapaki gedung. Berpasang-pasang mata langsung menoleh pada pintu utama.

"Yo!"

Cahaya dan bayangan andalan Seirin berjalan mendekat. Sudut mata Kise mengamati bagaimana pemuda dengan manik samudera itu membungkuk sopan.

"Maaf sudah membuat kalian menunggu." Tetsuya Kuroko tersenyum tipis," —senang dapat bertemu lagi. Mohon kerja sama-nya."

Hati Ryouta Kise mencelos. Sudah enam bulan, dan perasaannya tak kunjung hilang. Ia maju selangkah, membentangkan kedua tangan kokoh. "Kurokocchi—"

"TETSU-KUUUUUUUUN!"

Tidak perlu repot-repot, Momoi dengan senang hati mewakilkan pelukan kepada pemuda mungil itu. Kuroko terpelanting, Kise hanya bisa memeluk angin.


DEWASA

"Kagamicchi!" Kise memanggil. Bola diapit dengan lengan kiri, ia berjalan mendekati pemuda bermahkota merah tersebut. "Bagaimana kalau sebelum pulang, kita bermain one-on-one?"

Kagami menaikkan alis, bingung. Tidak sampai sedetik ekspresi itu berubah menjadi cengiran. "Ah, ya!" Energinya masih tersisa banyak, sayang kalau dilewatkan.

Kau lihat, ne Kurokocchi, aku sudah jauh lebih dewasa-ssu—sang model tersenyum.

Saingan atau bukan, mereka kini disatukan dalam sebuah tim impian. Kise tidak akan merusak kerjasama tim hanya karena hal bodoh.

Perasaanku terhadap Kurokocchi itu urusan lain—si pirang menurunkan badan, hendak memulai permainan. "Yosssh! Kalau begitu bersiaplah, Kagami—"

"Oi!" Daiki Aomine menyela, memandang sekeliling mencari seseorang. "Ada yang melihat dimana Tetsu?"

Manik hazel membulat. Dua pemuda tampan saling bertatapan.

Kamisama, jangan lagi—


AMARAH

Tendangan Nash Gold membuat Tetsuya Kuroko terpental. Pemuda kecil itu tersedak—ngilu menyerang ulu hati dan dada terasa sesak. Belum sempat mencuri nafas, kerah bajunya ditarik mendadak. Kuroko memandang tidak gentar, walaupun isi perut bergejolak minta dikeluarkan.

Nash sempat menyipitkan mata. Sepasang bola berwarna samudera itu membuatnya terperangkap—hanya sesaat sampai pada detik dimana derap langkah kaki berlari kearah mereka. Pemuda Amerika itu mundur, tepat sebelum kepalan tangan Kagami hampir mengenai wajah. Ia berdecih jengkel.

"BRENGSEK!" Kagami mengeratkan kepalan tangan, Aomine naik pitam—keduanya memasang badan didepan. "APA YANG KAU LAKUKAN PADA REKAN KAMI?!"

Hanya Kise yang langsung berjongkok diantara mereka, meraih samuderanya dalam dekapan. Wajahnya merah menahan amarah, namun hatinya miris melihat pujaan meringis kesakitan.

"Kurokocchi—"

Kuroko tersenyum lemah. Memegang perut yang begitu nyeri. "Ah, Kise-kun."

Kise merana. Diraihnya sebelah tangan itu untuk membantu berdiri. Dirinya kuat membopong, tapi pasti ditolak mentah-mentah. Harga diri Tetsuya Kuroko begitu tinggi, Kise tahu hal itu.

Sang model mengalungkan lengan pucat pada lehernya, Kuroko memasrahkan berat tubuh pada tubuh kokoh yang menopangnya.

Terimakasih, Kise-kun


PENGORBANAN

Vorpal Swords terdesak. Rencana untuk menyerahkan penjagaan pemain Jabberwock bernomor punggung enam dan tujuh itu kepada Murasakibara adalah suatu kesalahan. Terlebih lagi, dengan dirinya dan Aomine yang menjaga Jason Silver, akan sangat membuang banyak energi. Kise menyadari hal itu. Karenanya, dia meminta Aomine untuk menyerahkan penjagaan Silver penuh padanya.

Agar stamina Aominecchi tetap terjaga

Aomine berdecak. Namun ia paham. "Kalau kau kewalahan menghadapinya, kita tukar posisi."

Si tampan menaikkan sudut bibir. "Yossha! Serahkan padaku, Aominecchi!"

Meski harus menguras habis tenaga sendiri

Kise menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Si pirang men-dribble bola, melewati lawan, mencetak angka demi angka. Silver geram. Nash menajamkan mata, mencari celah. Para penonton meneriakkan dukungan. Anggota tim berteriak dari sisi lapangan.

"KISE MEMASUKI ZONE?!"

"WHOAAAH, ZONE DITAMBAH PERFECT COPY?! INI HEBAT!"

Demi Kasatmatsu-senpai dan para senpai yang telah dipermalukan. Demi tim

Dari bangku pemain, Tetsuya Kuroko mencengkeram celana kuat-kuat. Kise-kun tidak akan bertahan lama. Kekuatannya sudah berada pada ambang batas.

Kise terus berlari. Pemain Jabberwock bahkan tidak sempat untuk mencuri bola.

Ah, tidak kusangka, akan semelelahkan ini-ssu

Pelatih Kagetora melipat tangan didepan dada, gesturnya tenang, namun wajahnya memandang cemas kearah lapangan. Kuroko mengigit bibir, teriakan yang bergaung mengisi penjuru stadion membuat perutnya mulas.

"MASUKKAN, KISEEE!"

"MAJU TERUS, VORPAL SWORD!"

Sang model maju tanpa gentar menggiring bola. Namun Akashi menangkap sesuatu yang aneh dalam ritme pergerakan tubuhnya. Beberapa langkah menuju ring, dan bola terlempar rendah keluar lapangan. Kise terjatuh dengan bertumpu pada kedua lutut. Tubuh tidak bisa bergerak sama sekali, ia sudah mencapai batas.

Cih, tinggal sedikit lagi

"KISE-KUUUN!"


MUNDUR

Vorpal Sword memenangkan pertandingan. Semua bersorak senang, Tim impian memang tidak terkalahkan! Namun dibalik hingar-bingar dan pesta yang diselenggarakan pada malam kemenangan, Kise menangkap sepasang sosok yang justru menjauh dari keramaian. Tidak ada pergerakan yang berarti, tapi Kise tahu mereka berbicara sesuatu hal yang penting. Langkahnya tertahan ketika hati kecil berkata jangan menghampiri.

Ia memutar langkah, mengabaikan ngilu yang menjalar di sekujur tubuh, dan memilih berkumpul dengan para anggota Kiseki no Sedai.


MATAHARI & SAMUDERA

Tiga hari setelah kemenangan Vorpal Sword, dua hari setelah Kagami memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Amerika demi mengejar impiannya, sehari setelah ia menghabiskan malam dikamar dengan bimbang dan kini Ryouta Kise berdiri, bersandar di gerbang SMA Seirin. Matahari sore merangkak malu menuju tempat persembunyiannya, Kise bisa mendengar suara langkah kaki berjalan mendekati gerbang. Segera ia menegakkan badan.

"Otsukare, Kurokocchi."

Kuroko terperanjat. Mataharinya berdiri tegap dihadapan. " Kise…kun?"

Pemuda pirang hanya tersenyum. " Sudah selesai latihan basketnya?" Anggukan dari lawan bicara diterimanya sebagai jawaban. Ia menggaruk-garuk kepala, padahal tidak gatal. "Ah, Kagamicchi sudah tidak berada dalam tim lagi, pasti sepi sekali-ssu?"

Samudera tetap diam tanpa riak. Sepasang kaki kurus itu memilih berjalan melewati tubuh jangkung, Kise mengekor dibelakang bak anak ayam.

"Etto...apakah Kurokocchi kesepian tidak ada Kagamicchi?"

Langkah Kuroko terhenti tiba-tiba, Kise nyaris bersin saat helaian sewarna samudera menggelitik hidung mancungnya.

"Tidak."

"Ah, begitu ya." Ia menggaruk-garuk hidung. Kali ini beneran gatal.

"Kau terdengar kecewa, Kise-kun." Kuroko kembali melanjutkan langkah. Kini Kise berjalan tepat disamping, membuat perbedaan tinggi badan semakin kentara.

"He? Tidak-ssu. Justru aku lega mendengarnya." Sang model tertawa, lalu terdiam. Kuroko masih menunggu, dan Kise memilih untuk jujur. "Hmm, harus kuakui, aku khawatir padamu, Kurokocchi."

"Oh ya?"

Garis lengkung samar menghias wajah pujaan hati. Kise terpana. Ah, senyum itu— "Hee? Kau tersenyum, Kurokocchi?!"

Kuroko merutuk—Kise-kun berisik, Kise-kun menyebalkan—sembari mempercepat langkah.

"Ah, Tunggu! Tunggu-ssu! Kurokocchi!" Ia mengejar. Kurokocchi-nya malu-malu kucing—Kise gemas ingin mengigit. Senyum terpatri di wajah tampan. "Tega sekali-ssu!"

"Kau seperti anak kecil, Kise-kun."

"Eh? Aku bukan anak kecil-ssu!" Si pirang merajuk. Lengan gakuran ditarik pelan, memaksa langkah bayangan agar kembali sejajar dengannya. "Aku sudah lebih dewasa dari yang sebelumnya, kau tahu?"

"Aku…tahu."

Eh?

Tetsuya Kuroko menghela nafas. "Ano, sejak kapan Kise-kun potong rambut?"

"Ha?"

"Rambut," Ia meraih kepala sang model, mengacak lembut helaian pirang yang tebal namun begitu lembut ditangan. "Kise-kun, potong rambut kan?"

Wajah ikemen bersemu, ditatapnya lekat-lekat pemilik mata biru bulat yang menggoda. "Etto—"

"Sejak kapan?"

"Sejak kapan?" Kise mengulangi. Tangan Kuroko diraih, lalu ditangkupkannya pada pipi sendiri. Sinar mata hazel berubah sendu. "Sejak kau menolakku-ssu."

"Menolak?" Tetsuya Kuroko memiringkan wajah. Dinginnya angin sore menggoyangkan ujung rambut, ia sibuk bertanya-tanya dalam hati.

"Buang sial-ssu," Tawa paksa terdengar di telinga. "Kata orang, dengan potong rambut, setidaknya mengobati patah hati."

Mata Kuroko membola. "Kise-kun mengira aku menolakmu?"

Kini ganti pemuda pirang bertanya-tanya dalam hati. "Bukankah memang begitu?" Habis, apa lagi?

Hela nafas terdengar lagi, kali ini lebih berat. Kuroko menarik tangannya kembali dan berbalik badan. Kise tersentak. Panik, ia kembali membuntuti dari belakang. Apa dia salah bicara?

"Eh, Kurokocchi mau kemana-ssu?!" Padahal ingin sekali rasanya menghabiskan waktu bersama.

"Aku mau pulang, Kise-kun."

Eh? Jangan!

Tangan kecil ditarik, Kuroko tidak bisa mengelak saat kepalanya menabrak dada bidang milik model tampan. Ia mengerutkan kening. Rasanya beda seperti saat dipeluk oleh Momoi-san. Dada Momoi-san memang empuk, dan dada Kise-kun—

Tubuh kecil direngkuh erat, ia merasakan hangat yang menjalar sampai belakang telinga.

keras, namun sangat menenangkan.

"Kise…kun?"

Kise tidak tahan. Perasaan yang dipendamnya sejak SMP terus mengendap sampai sekarang. Persetan dengan potong rambut dan buang sial, yang ada semakin hari justru semakin sayang.

"Kurokocchi"

Kumohon sekali lagi, aku ingin mengulang perkataan malam itu

"—ijinkan aku menjadi cahayamu."

Kepala dalam pelukan menggeleng pelan, tubuh kokoh terdorong kebelakang. Hati Ryouta Kise bagaikan di tusuk seribu jarum rasanya ia sudah merasakan hal itu berkali-kali.

"Maaf Kise-kun, aku—"

"Kenapa? Kenapa kau menolakku terus-ssu?!" Kise frustasi. Ditolak dua kali, ia sama sekali tidak mempersiapkan hatinya. Ibarat kertas yang sudah diremas-remas, ini malah semakin disobek-sobek menjadi serpihan kecil.

Jangan samakan hatiku dengan kertas, Kurokocchiiiiiii, Kise menjerit dalam hati.

Samudera memandang wajahnya dengan lembut. Sepasang tangan dingin kembali menangkup pipi dan mengusapnya perlahan. "Dengarkan aku dulu, Kise-kun. Kau bahkan belum mendengar penjelasanku waktu itu."

"Tapi—"

"Ssshh.." Bibir miliknya dibungkam telunjuk, Kise menutup kedua mata.

"Kise-kun tidak akan pernah, dan tidak akan bisa menjadi cahayaku—"

Kenapa?

"—karena kau adalah matahariku. Pusat dari setiap cahayaku." Kuroko memeluknya, membelai rambut pirang dengan sedikit tarikan gemas.

Gemas karena Kise-kun bodoh, mengambil kesimpulan seenak hati.

Kise mengaduh, namun tetap membiarkan Kuroko melanjutkan. "Matahari tidak pernah padam, Kise-kun. Begitupun juga denganmu. Karena aku membutuhkan matahari dalam setiap detik yang aku miliki. Kalau tidak ada matahari, mungkin aku akan mati beku, Kise-kun."

Aku butuh kehangatan dari Kise-kun

"Selera humormu tidak kunjung membaik, Kurokocchi,"pelukan semakin erat, Kise mendengus geli.

Daun momiji melambai tertiup angin. Kicauan burung gagak mengisi keheningan senja. Tinggal menunggu waktu, sampai matahari pamit dari pandangan, digantikan dengan sang bulan. Disudut gang yang sepi, Ryouta Kise membenamkan wajahnya pada perpotongan leher dengan harum vanilla

ia dapat merasakan dentuman keras di rongga dada, badannya lemas, namun hati dan matanya panas oleh kelegaan yang luar biasa.

.

.

.

Sore itu, tiga hari setelah kemenangan Vorpal Sword, dua hari setelah Kagami memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Amerika demi mengejar impiannya, dan sehari setelah ia menghabiskan malam dikamar dengan bimbang, Kise menangis dalam rengkuhan hangat sang kekasih.


tamat


Author's note:

Kise emang masuk zone. Friendzone. Awalnya doang, tapi disini akhirnya happily ever after kok—nggak tega bikin dia merana :')

Btw, part Matahari & Samudera, saya dapat inspirasi dari lagu duet Kise & Kuroko - Time Machine. Itu lagu banyak hints-nya. Dan juga inspirasi tambahan, style rambut Kise yang kece badai abis di Kuroko no Basket-Last Game. Gantengs maksimal :')

Anu, kayaknya disini serpihan-serpihan canonnya lebih banyak dimodifikasi, gegara gemes lihat interaksi mereka berdua, maafkeun saya :')

Terima kasih sudah membaca!

Salam serpihan,

Faicentt