Imayoshi masih sibuk dengan berkas-berkas di mejanya ketika pintu apartemen terbuka dan Yahiko muncul dari baliknya.
"Oniisan?" Panggil Yahiko sambil membuka pintu kamar Imayoshi. Melihat kakaknya hanya menggumam sambil terus melihat berkas-berkas di hadapannya, Yahiko memutuskan masuk dan menghampiri kakaknya. "Tadi Kaa-san meneleponku, dia bertanya mengapa kau tidak mengangkat teleponnya?"
Imayoshi memutar badannya dan menghadap Yahiko. "Eh, benarkah?" Tanyanya balik. Imayoshi segera mengecek ponselnya yang kini tengah tergeletak di kasurnya. "Ah, ternyata aku lupa menyalakan ponselku. Ada perlu apa Kaa-san meneleponku?" tanyanya. Jarang sekali Ibunya meneleponnya seperti ini.
"Katanya kau harus segera ke Osaka secepatnya, ada teman yang ingin menemuimu," jelas Yahiko.
"Teman?" tanya Imayoshi memastikan. Yahiko mengangguk pelan. Imayoshi mengerutkan dahinya bingung. Siapa yang ingin menemuinya? Jika itu teman-temannya di Osaka, pasti Ibunya akan mengenalinya dan menyebutkan namanya langsung dibanding mengatakan 'teman' seperti yang disampaikan Yahiko tadi. Lalu kalau itu adalah teman SMA, siapa? Tidak ada yang tahu tempat tinggalnya di Osaka, dan seingatnya tidak ada temannya di SMA yang tinggal di Osaka.
"Kalau Oniisan tidak percaya, telepon lagi saja Kaa-san untuk memastikannya," ujar adiknya yang melihat tampang bngung Imayoshi. Lalu ia segera keluar dari kamar kakaknya dan masuk ke kamarnya sendiri.
Imayoshi masih terdiam, mengira-ngira siapa yang ingin menemuinya. Mengikuti saran Yahiko, ia menghidupkan ponselnya dan segera menelepon ibunya.
.
―Gazelle―
by
AkariiYuko
Cast: Imayoshi, Aomine, Momoi, OC, etc.
Genre: Romance,Mystery,Tragedy
Warning(s): Typo, OOC, Death character.
.
Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
.
Bukan aku, jika terus berdiam diri melihatnya—orang-orang yang selalu menatapmu seolah-olah mereka bisa memilikimu.
Hei―
—Mereka harus tahu bahwa dirimu hanya milikku seorang.
.
A/N: Setting cerita diambil 6 tahun setelah Imayoshi lulus dari Touou, atau setelah anak-anak kelas 1 (Aomine, Momoi dll) lulus dari Universitas.
.
Happy reading all! :)
.
.
"Bagaimana? Sudah telepon Kaa-san?" Tanya Yahiko yang sedang menonton televisi. Imayoshi yang baru saja keluar dari kamarnya menghampiri Yahiko lalu duduk di sebelahnya.
"Ya, dan sepertinya aku akan berangkat ke Osaka dua hari lagi," jelasnya.
Yahiko menaikkan alisnya kaget. "Eeh, secepat itu? apa memang benar-benar darurat?" tanyanya.
Imayoshi mengangguk mengiyakan. "Sangat darurat," ujarnya sambil menekankan kata pertamanya.
"Yahiko, rumor mengenai Gazelle yang kau sebutkan waktu itu, bagaimana ceritanya?"
Yahiko terdiam, mencoba mengingat-ngingat rumor yang tersebar tentang toko kue itu di tahun pertamanya di SMA. "Ah, tiga tahun yang lalu, saat toko itu baru saja berumur sekitar beberapa bulan, ada yang mengatakan kalau manager Gazelle itu bukan orang baik-baik. Mereka mengaku sering melihat manager Gazelle keluar di malam hari dan terlibat banyak perkelahian dengan sekelompok yakuza."
"Tapi tentu saja itu hanya rumor," lanjut Yahiko cepat-cepat. "Setelah pihak kepolisian menganggap bahwa rumor yang tersebar sudah semakin tidak masuk akal, mereka memanggil sang manager toko untuk diinterogasi. Dan hasilnya, rumor itu terbukti salah. Tidak pernah ada bukti nyata yang membenarkan rumor itu," jelas Yahiko. Imayoshi yang duduk di sebelahnya hanya mengangguk-ngangguk saat mendengarkan cerita Yahiko―yang sebenarnya itu membuat Yahiko kesal saat melihatnya.
"Beberapa minggu setelah manager Gazelle dipanggil, keadaan toko mulai membaik dan akhirnya malah menjadi terkenal seperti ini. Apalagi saat ada pegawai baru yang bekerja di sana," jelas Yahiko.
"Seorang perempuan?" tanya Imayoshi.
Yahiko mengangguk. "Oniisan pasti bertemu dengannya saat membeli donat kemarin. Perempuan dengan rambut panjang berwarna merah muda," jelas Yahiko. Kini giliran Imayoshi yang mengangguk mengiyakan.
"Lalu, manager dan pegawai laki-laki yang kau ceritakan itu, orang yang sama?" tanya Imayoshi.
"Umm, kalau soal itu, aku kurang tahu. Tapi menurutku sepertinya tidak sama."
Imayoshi hendak mengatakan sesuatu, namun lagi-lagi ponselnya berdering. Ia bangkit dari duduknya dan sedikit menjauh dari tempat Yahiko berada. Yahiko memperhatikan kakaknya yang nampak sangat serius mendengarkan perkataan orang di seberang sana. Dirinya mengira-ngira, sebenarnya bagaimana pekerjaan kakaknya sekarang ini?
"Selamat datang―A-ah, Imayoshi-san!" seru Momoi begitu mengenali pembeli yang baru saja masuk. Imayoshi tersenyum menanggapinya. "Bagaimana donat yang waktu itu? Enak 'kan?" Tanya Momoi.
"Ya, ternyata adikku sangat menyukainya. Kau benar-benar sudah bisa memasak ya."
Momoi dapat merasakan wajahnya yang memanas. Sudah lama ia tidak mendapat pujian ―secara normal― seperti ini. Momoi menggaruk pipinya dengan jari telunjuknya, berusaha menghilangkan rasa gugupnya.
"Ah, ngomong-ngomong, apakah kau ada waktu luang hari ini?" tanya Imayoshi.
Momoi menggeleng lemah. "Tidak, aku bekerja hingga toko ini tutup pukul 7 malam nanti," ujarnya. "Memangnya ada apa, Imayoshi-san?"
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Berdua saja," ujar Imayoshi sambil mengusap bagian belakang kepalanya.
"Eeh, memangnya tidak bisa dibicarakan saat ini juga?" ujar Momoi.
Imayoshi terdiam, bingung. Memang tidak apa-apa sih jika membicarakannya disini, tapi ia takut kalau apa yang dibicarakannya bukanlah hal yang layak untuk dibicarakan mendadak seperti ini. Tapi jika tidak hari ini, kapan lagi? Imayoshi tidak mempunyai banyak waktu.
"Baiklah," ujar Imayoshi pada akhirnya. "Aku harap pertanyaanku tidak menyinggungmu—"
Jeda sesaat, Imayoshi nampaknya memikirkan kembali kata-kata yang akan keluar dari mulutnya.
"—Aku... ingin menanyakan Kuroko Tetsuya. Apa kau masih berhubungan dengannya?" tanya Imayoshi ragu. Ia berharap kalau hal itu tidak menyinggung perasaan Momoi dan sebagainya. Tapi sepertinya harapan Imayoshi tidak terkabul. Karena pada saat Imayoshi menyelesaikan kalimatnya, tidak ada jawaban apapun dari Momoi. Bingung harus berbicara apa, Imayoshi membiarkan keheningan menyelimuti mereka berdua.
Detik berlalu, Momoi hanya bisa diam sambil menatap kaget Imayoshi yang berada di hadapannya. Ia ingin menjawab pertanyaan dari Imayoshi, namun napasnya seolah-olah tercekat di tenggorokan, membuat ia tidak bisa berkata apa-apa.
Imayoshi semakin merasa tidak nyaman melihat perubahan di wajah Momoi. Mau tidak mau, ia harus memecahkan keheningan ini. "Momoi? Kau baik-baik saja?" tanya Imayoshi khawatir. Seharusnya aku memang tidak bertanya hal itu secara mendadak seperti ini ya? Pikir Imayoshi, menyesali tindakannya.
Namun, rasa penasarannya muncul, apakah ada sesuatu yang terjadi di antara Kuroko dan Momoi? Hal terakhir yang ia ketahui, Momoi menyukai Kuroko, tapi Imayoshi tidak pernah tahu apakah perasaan Momoi terbalas atau tidak.
Saat Imayoshi tengah memikirkan segala kemungkinan yang bisa terjadi, Momoi menghela napasnya dan menundukkan kepalanya, berusaha menenangkan dirinya.
Setelah memantapkan hatinya, ia kembali menatap Imayoshi. "Hilang," ujar Momoi pelan. Tangannya meremas erat ujung apron yang dikenakannya. Sedangkan Imayoshi hanya menatapnya heran. Jawaban Momoi, sangat jauh dari yang ia perkirakan. "Tetsu-kun... hilang"
"Eh?" gumam Imayoshi memandang Momoi tidak percaya. "Hilang? Kau membicarakan teknik Misdirectionnya itu?"
Momoi menghembuskan napasnya. "Tetsu-kun hilang, Imayoshi-san. Bukan Misdirection dan sejenisnya, keberadaan Tetsu-kun tidak bisa ditemukan dimana-mana, Ponselnya tidak bisa dihubungi, Tetsu-kun tidak—"
BRAK!
Suara yang cukup keras tiba-tiba saja terdengar dari arah dapur. Imayoshi sontak menoleh ke arah sumber suara sementara Momoi tidak dapat melakukan apa-apa selain mematung.
"Itu...?" tanya Imayoshi sambil menatap heran Momoi.
"Ah, mungkin temanku menjatuhkan sesuatu," jelas Momoi. "Apa hanya itu saja yang ingin kau bicarakan Imayoshi-san?" tanya Momoi, berharap percakapan ini cepat selesai.
"Tunggu, masih ada yang ingin aku tanyakan," jawabnya. Ia berusaha menghilangkan rasa penasarannya dan kembali melanjutkan pertanyaannya. "Kalau aku boleh tahu, kapan hal itu terjadi?"
"Eh? hilangnya, Tetsu-kun?" Tanya Momoi memastikan. Imayoshi mengangguk. "Ah... Tidak lama setelah orangtua dan neneknya kecelakaan. Imayoshi-san waktu itu menghadiri pemakaman mereka juga 'kan?" ujar Momoi dengan suara yang lebih pelan.
"Lalu—"
PRANG!
Sebelum Imayoshi berhasil mengutarakan pertanyaan selanjutnya, suara benda pecah terdengar dari arah dapur. Baik Momoi maupun Imayoshi tanpa sadar langsung menoleh ke arah pintu yang menuju dapur.
Imayoshi mengerutkan keningnya. Apa yang terjadi?
"Maaf Imayoshi-san. Sepertinya aku harus mengeceknya sekarang," ujar Momoi setelah cukup lama terdiam.
"Un, apa kau butuh bantuan?"
"A-ah, itu tidak usah. Paling-paling hanya piring atau gelas yang pecah. Temanku memang agak ceroboh"
Imayoshi masih menatap pintu yang menuju ke arah dapur yang kini terbuka setengahnya. Ia lalu mengalihkan pandangannya kembali pada Momoi yang nampaknya masih terlihat kaget.
"Hm, baiklah, kalau begitu aku akan pulang sekarang," ucap Imayoshi. "Jangan ragu untuk menghubungiku jika kau butuh bantuan." Lanjutnya sambil mengusap puncak kepala Momoi secara perlahan, yang sukses membuat kedua pipi Momoi bersemu merah.
"Aku akan datang lagi lain kali, dan terimakasih sudah menjawab pertanyaanku."
"Ah, Tunggu Imayoshi-san!" seru Momoi sambil memegang ujung lengan pakaian Imayoshi. Imayoshi yang hendak menuju pintu keluar, kembali berbalik. Momoi menatap ke arah dapur sebelum akhirnya mengutarakan pertanyaannya, "Kenapa... Imayoshi-san menanyakan Tetsu-kun?"
"Bukan apa-apa. Aku hanya penasaran saja dengannya," ujar Imayoshi dan segera berjalan keluar dari toko itu.
Imayoshi menghela napas. Kini rasa penasarannya terjawab sudah dan dugaan yang ia punya semakin kuat. Imayoshi mengambil ponselnya, dan segera mencari nomor seseorang yang akan dihubunginya.
"Tugas yang kau berikan padaku sudah selesai, besok aku akan datang ke ruanganmu pukul 9 pagi," ujar Imayoshi begitu nada sambung terdengar.
"Baiklah. Aku menunggu laporanmu, Imayoshi-san," ujar seseorang di seberang sana. "Sebelum itu, aku ingin kau menemui seseorang hari ini," lanjutnya.
Imayoshi menghentikan langkahnya, "Siapa?"
"Seorang teman lama."
Momoi membuka matanya perlahan, gelap. Tidak ada cahaya yang masuk ke dalam matanya, berapa kalipun ia mengerjapkan matanya.
Dimana ini?
Lengannya yang tidak tertutup apapun, langsung merasakan dingin karena bersentuhan langsung dengan udara. Ia segera menarik sebuah kain— yang nampaknya sebuah selimut— yang menutupi kakinya dan merapatkannya ke seluruh badannya, berusaha menghangatkan kembali tubuhnya.
Setelah rasa dinginnya berkurang secara bertahap, Momoi mencoba bangkit dari duduknya, namun gagal. Rasa sakit segera terasa di bagian kepalanya, bahu, punggung, dan juga kakinya begitu Momoi mencoba untuk bergerak.
Sebelum ia mencoba untuk menggerakkan badannya kembali, tiba-tiba saja pintu terbuka, membuat Momoi terlonjak kaget dan semakin merapatkan selimut yang ia kenakan. Tak lama setelahnya, lampu menyala, membuat Momoi harus menyipitkan matanya. Setelah matanya beradaptasi dengan cahaya di ruangan tersebut, Momoi segera mengenali ruangan tempatnya berada, kamarnya,—ya, setidaknya untuk sekarang ini.
"Oh. Kau sudah bangun ternyata. Bagaimana keadaanmu?" tanya seorang pemuda yang baru saja masuk dan tengah mendekati Momoi yang ternyata sedang duduk di sebuah ranjang di pojok ruangan tersebut. Tangannya terulur, hendak mengelus pipi Momoi yang kini berwarna pucat, namun Momoi segera menepisnya.
"Hei. Hei. Aku sudah berusaha baik padamu, tapi kau malah bersikap seperti itu? Lihat, aku bahkan membawakan kotak P3K untukmu," katanya sambil mengangkat kotak P3K yang ia bawa.
"Aku, bisa melakukannya sendiri," seru Momoi.
"Oh, benarkah? Lalu coba kau ambil ini dariku," ujarnya dan berjalan mundur menjauhi Momoi.
Momoi segera berjalan mendekatinya, namun sesuatu menghalangi kakinya untuk mendekati pemuda tersebut. Momoi segera melihat kakinya, dan matanya membulat begitu menyadari keberadaan borgol yang ada di kakinya dan tersambung pada besi pinggiran ranjang tersebut.
"Kau gila!" seru Momoi sambil berusaha melepaskan borgol yang mengikat kakinya. Pemuda itu hanya tertawa kecil melihat usaha Momoi. "Lepaskan ini, atau aku akan—"
"Akan apa, huh? Seharusnya kau sudah sadar kalau kau tidak bisa melakukan apa-apa, Satsuki," ucapnya sambil berjongkok di hadapan Momoi yang masih berusaha melepaskan borgol di kakinya. "Ini hukumanmu, aku harap kau tidak mengulanginya lagi," bisiknya tepat di telinga Momoi, membuat Momoi terdiam untuk beberapa saat.
"Kau seharusnya bersyukur, karena aku masih membiarkanmu bekerja di toko. Jika sekali lagi kau membuat kesalahan, mungkin aku benar-benar harus menguncimu di sini," ujarnya dan segera berdiri sambil mengambil kotak P3K yang ada di sampingnya.
"Kau benar-benar jahat. Aku tidak pernah mengira kau akan bisa seperti ini! Kau orang terjahat yang pernah aku temu—"
PLAK!
"Berhentilah membuatku kesal, Satsuki. Jadilah anak yang baik, seperti saat kau menghadapi orang-orang di luar sana. Dan yang paling penting, turuti saja apa yang kukatakan."
Pemuda itu kembali berjongkok di hadapan Momoi. Tangannya terulur ke arah Momoi dan mengelus pipinya lembut. Pandangannya tiba-tiba saja melembut, membuat jantung Momoi berdebar tidak karuan untuk beberapa saat. "Kau milikku. Hanya milikku. Ingat itu, Satsuki."
...To be continued
A/N: Ehm, halo~ lama tidak berjumpa~ gimana nih chap 2 nya? semoga ngga mengecewakan ya XD
yaah, meski saya ngerasa chap ini sangat abu-abu sekali alias ngga jelas ceritanya kayak gimana -_-"
Maaf lama sekali updatenya, tadinya saya berencana buat ngerjain ff ini sampai beres dulu, baru saya update per minggu nya. tapi rasanya ngga enak juga ngebiarin cerita kayak gini. jadi saya putuskan buat update chap 2 nya sekarang :D untuk chap 3 sebenarnya sudah beres diketik, namun masih dalam proses editing, jadi lagi-lagi saya minta maaf kalau nanti chap 3 nya update nya bakalan lama juga X'3
Oh iya, satu lagi, pair nya saya hapus nih. karena saya sendiri jadi gak yakin mau masangin Momoi sama Imayoshi atau sama karakter lain yang ada di ff ini ._.a
lalu terakhir, maaf saya tidak sempat balas review kalian u/\u tapi sudah saya baca dan makasih banyak buat reviewnya ya XD saya tunggu komentar-komentar kalian selanjutnya ^^
arigatou gozaimashita~ /bow
