MY NAMJA
By : Han Kang Woo
Cast : Xi Luhan, Oh Sehun, etc
Main Cast : HunHan
Genre : Romance
Warning : BL (Boys Love)
Banyak Typo, FF ini hanya pinjam nama saja
Rated : M
DLDR
= Happy Reading =
O…O…O…O…O…O…O…O…O
o
o
o
o
Hening sangat lama.
Luhan masih dengan posisinya, ditindih oleh seorang namja asing yang belum dikenalnya. Mata dan nafas mereka berdua beradu.
"Si..siapa kau? Ke..kenapa masuk kesini?" tanya Luhan, tergagap. Jantungnya berdegup kencang.
Si namja asing tidak menjawab, dia hanya memasang wajah datar yang terlihat tidak bersahabat. Namun yang pasti namja itu belum beranjak dari posisinya yang menindih Luhan.
"Apa kau Sehun?" ulang Luhan, kali ini mengganti pertanyaannya.
Lagi lagi si namja tidak memberikan jawaban. Dia terdiam membisu, dengan mata yang kini turun ke bibir Luhan. Dia mendekatkan bibirnya kearah bibir Luhan, seperti hendak mencium.
Deg.
Sontak Luhan memejamkan matanya, refleks. Jantungnya semakin berdetak cepat, darahnya berdesir. Dia menunggu.
Dan kemudian...
"Sehun. Itu memang namaku." kata si namja asing, yang memang adalah Sehun, namja tampan tetangga kamar Luhan. Dia akhirnya mengeluarkan suaranya.
'Ah, ternyata memang kau, namja yang diceritakan oleh Baekhyun.' batin Luhan, disertai desahan halus.
Sehun bergerak pelan, berdiri, dan otomatis melepaskan Luhan yang ditindihnya. Dia memegang gagang pintu dan bersiap keluar kamar.
Suasana hening dan kaku tercipta diantara mereka.
Dan kemudian, Sehun membuka pintu tersebut dan keluar dari kamar kost Luhan, tanpa mengucapkan apa apa.
Brak, pintu tertutup lumayan keras.
Luhan terduduk, desahan halus terus keluar dari bibirnya. Menatap siluet Sehun yang menghilang dibalik pintu. Entah mengapa dia merasakan kesunyian mendalam saat Sehun meninggalkan kamarnya.
'Semua yang dikatakan Baekhyun benar, namja itu memang tidak ramah.' Luhan lagi lagi membatin.
Namja asal China itu membatalkan niat membeli makanan, entah mengapa rasa laparnya mendadak hilang. Hilang karena menatap wajah tampan seorang Oh Sehun. Oh, mungkin terdengar berlebihan, tapi itulah yang dirasakan oleh Luhan.
Hening lagi.
Luhan memegang dadanya yang masih berdebar, walau detak jantungnya perlahan mulai normal. Dia menggeleng pelan.
'Ya Tuhan, jangan biarkan aku merasakan itu padanya. Jangan...'
Luhan berdiri dan mengunci pintu kamarnya. Berbalik, lalu berbaring di kasur. Dia menarik bantal dan menaruhnya ke kepalanya, berharap kejadian tadi bisa dilupakan. Kejadian yang mungkin biasa saja bagi orang lain, namun tidak biasa untuk dirinya.
Malam berlalu dengan sangat lambat.
o
o
o
o
O...O...O...O
Besoknya.
Hari Luhan semakin membosankan. Dia tidak pernah keluar kamar, kecuali ke kamar mandi. Masa liburan sebelum semester baru akan berakhir minggu depan, jadi masih ada masa cukup lama baginya. Dia memang sudah mendaftarkan diri disebuah sekolah SMA swasta di Seoul, dan terpaksa memanipulasi umur agar bisa diterima disana. Jadi dia akan masuk ke tingkat satu, mulai dari awal lagi.
Luhan kembali teringat dengan namja yang bernama Sehun, penampakan dan sosok namja tampan itu tidak bisa lepas dari pikirannya. Ini kali pertamanya merasakan sesuatu yang begitu 'sulit dijelaskan' kepada seseorang. Dia kurang tidur karena memikirkan itu.
Tok tok tok.
Pintu kamar kost Luhan diketuk oleh seseorang, Luhan dengan cepat beranjak menuju pintu, berharap yang mengetuk pintu adalah Sehun. Tapi setelah membuka pintu, dia agak kecewa, karena bukan Sehun yang mengetuk, melainkan duo tetangga kamarnya yang lain, Kyungsoo dan Baekhyun.
"Hai Luhan, bagaimana harimu." sapa Baekhyun, tersenyum kotak pada Luhan.
"Baik, masuklah." balas Luhan, langsung mempersilahkan dua namja itu masuk. Dia tersenyum.
"Tidak, terima kasih. Kami tidak lama. Kami hanya ingin memberikanmu makanan." ucap Kyungsoo yang ada disamping Baekhyun, seraya mengulurkan kresek berisi makanan untuk Luhan.
"Tidak usah repot repot. Aku baru saja ingin keluar membeli makanan." Luhan berkata, tidak enak.
"Terima saja. Anggap sebagai perkenalan lanjutan kita sebagai tetangga." Baekhyun berujar cepat, menyibakkan rambutnya yang tidak panjang ala iklan shampoo murahan.
"Terima kasih." Luhan akhirnya mengambil makanan itu.
Baekhyun dan Kyungsoo tersenyum bersamaan. Senang karena Luhan menerima pemberian mereka. Kyungsoo mulai menyikut Baekhyun lagi, tanda menyuruh Baekhyun bicara lebih lanjut. Menurutnya Baekhyun sangat jago dalam mengeluarkan kata kata, terutama kata kata cabe yang vulgar namun tepat sasaran.
"Hm. Apa kau sibuk?" tanya Baekhyun, setelah membalas sikutan Kyungsoo.
"Saat ini tidak. Aku mulai bersekolah pekan depan. Jadi sekarang aku masih bebas." jawab Luhan, mencoba santai dengan setiap kata katanya. Terus terang dia masih canggung dengan orang orang Korea.
"Bagus." seru Baekhyun, ber-yes dengan tangan terkepal, dia menoleh pada Kyungsoo, saling lirik.
"Apanya yang bagus?" Luhan tidak paham.
"Ehem, begini. Nanti malam kami akan mengajakmu kesuatu tempat. Dijamin kau akan suka dengan tempat itu. Tenang saja, Kyungsoo yang akan membayar semuanya." jelas Baekhyun, disertai kekehan tidak jelas.
"Aku? Tidak. Bukan hanya aku. Tapi Baekhyun juga. Maksudku kami berdua yang membayarnya." ralat Kyungsoo cepat, tidak ingin Baekhyun mengerjainya.
"Maksudku begitu. Aku dan Kyungsoo yang akan mentraktir." Baekhyun memperjelas lagi, ingin menginjak kaki Kyungsoo, namun Kyungsoo sigap menghindar, seakan sudah membaca gerakan Baekhyun.
"Eh, bagaimana ya. Aku..."
"Jangan menolak. Kami hanya ingin mengakrabkan diri dengan tetangga baru. Hanya itu." kata Baekhyun, memohon dengan gaya lebay.
"Ya, jangan menolak." tambah Kyungsoo, juga sama memohonnya.
Luhan nampak berpikir sejenak, dia menatap bergantian antara Baekhyun dan Kyungsoo, setelah dirasa tidak ada yang mencurigakan, dia akhirnya mengangguk.
"Baiklah, nanti malam." kata Luhan.
"Yess. Hore." Baekhyun terlonjak, tanpa sadar. Kyungsoo mencoba membuatnya normal lagi dengan cara mencubit lengannya, hingga memerah.
Luhan tersenyum hampir tertawa, merasa terhibur dengan tingkah dua namja yang tingginya sebelas dua belas itu.
"Hm, kau sebaiknya jangan mengurung diri terus di kamar. Sesekali keluarlah." kata Kyungsoo, memandang wajah Luhan.
"Benar itu. Sesekali datanglah ke kamarku. Kau akan disambut bak tuan putri disana. Aku akan memperlihatkan koleksi kondom aneka rasaku yang kusembunyikan dibawah kasur." tambah Baekhyun, seakan kata katanya itu hanya perkataan biasa saja.
"Baek. Berhenti membicarakan koleksi konyolmu. Aku tahu kau mempunyai banyak koleksi kondom, viagra, foto bugil idol yang di edit, eyeliner imitasi yang sebenarnya pensil menggambar, dan sebagainya." cerocos Kyungsoo, yang tidak ingin Baekhyun terlalu buka bukaan didepan Luhan.
"Kyung sayang. Jangan marah begitu. Apa kau sedang M alias ember? Aku malah berencana mengoleksi namja tampan. Dikoleksi, diseleksi lalu di eksekusi. Syukur syukur jika sampai tahap resepsi." cabe cabe Baekhyun semakin cetar, dia tertawa disertai kekehan menjengkelkan.
"Baek, stop. Ada Luhan disini." hardik Kyungsoo, langsung menginjak kaki Baekhyun, tepat sasaran.
"Aww, ah... Kyung, dasar Satansoo." Baekhyun menjerit seperti yeoja, kakinya tentu saja sangat sakit.
Sedangkan Luhan hanya bisa tersenyum kaku, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia menganggap semua kata kata Baekhyun hanya 'candaan' semata.
Pembicaraan itu berakhir dengan Baekhyun dan Kyungsoo yang kembali ke kamar mereka masing masing. Luhan sudah mengiyakan ikut bersama dua namja itu malam nanti.
o
o
o
o
Waktu berlalu dengan cepat. Luhan sudah rapi dengan pakaian terbaiknya. Baekhyun sesekali memberikan saran cetar membahana untuknya, misalnya dengan menambahkan syal dibagian leher agar penampilannya semakin oke. Syal itu juga untuk mengusir hawa dingin diluar sana.
"Jadi kita pergi sekarang?" tanya Luhan, melangkah keluar kamar. Posisinya tepat didepan kost sekarang.
"Tentu saja, masak besok." jawab Baekhyun, sumringah. Dia bersorak dalam hati karena berhasil membujuk Luhan untuk pergi.
"Aku suka penampilanmu Luhan." puji Kyungsoo, menaikkan jarinya yang membentuk tanda Ok.
"Terima kasih."
Baekhyun memberikan aba aba kepada Kyungsoo dan Luhan untuk segera pergi, jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam. Kyungsoo berjalan mengikuti Baekhyun, sedangkan Luhan mengekor dibelakang.
Luhan menoleh sejenak kearah kamar Sehun, mengamati pintu kamar namja itu. Yang ada disana hanya keheningan dan kesunyian, entah si pemilik kamar pergi atau mungkin masih tidur.
Luhan sempat berharap berpapasan dengan Sehun saat ke kamar mandi tadi pagi, namun harapannya itu tidak terkabul, Sehun sama sekali tidak muncul dan menampakkan batang hidungnya.
'Ah, kenapa aku malah memikirkan namja berwajah datar itu.' Luhan menggeleng kasar, lalu beranjak dan mengikuti Baekhyun dan Kyungsoo.
Kisah ini terus berlanjut.
o
o
o
o
Baekhyun, Kyungsoo dan Luhan hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk sampai ketempat tujuan. Mereka bertiga menggunakan jasa taksi yang lumayan cepat. Dan yang membayar taksi itu adalah Kyungsoo, dengan paksaan Baekhyun tentu saja.
"Kita sebenarnya mau kemana?" tanya Luhan, sesaat turun dari taksi.
"Ketempat ini. Bersenang senang." jawab Baekhyun cepat, sembari menunjuk plang besi berukuran besar yang dihiasi lampu warna warni.
Jreeng.
"Klub malam?" mata rusa Luhan membulat sempurna. Nyaris tidak percaya.
"Yes, tepat. Salah satu klub malam terbaik di kota Seoul." jawab Baekhyun, melebih lebihkan.
"Dan sewa tempat, juga makanan dan minuman akan dibayar oleh Baekhyun tentunya." ucap Kyungsoo cepat, seakan masih dendam karena Baekhyun menyuruhnya membayar taksi. Bukan karena dia pelit, tapi ini semua ide Baekhyun, jadi namja itulah yang seharusnya membayar semuanya.
"Ya, tapi aku pakai uangmu dulu. Pinjam." Baekhyun terkekeh seperti nenek jompo.
"Huh... Dasar." Kyungsoo menunju pelan bahu Baekhyun yang mulai terbentuk.
Luhan menatap penampakan klub malam yang tepat didepannya, wajahnya terlihat resah dan gelisah.
"Tapi, kenapa ketempat seperti ini?" tanya Luhan, ingin protes.
"Memangnya kenapa? Ini tempat yang bagus, aku yakin kau akan betah selama beberapa jam." Baekhyun menjawab otomatis.
"Tapi..."
"Tidak ada penolakan, ayo masuk." Baekhyun secepat kilat menarik tangan Luhan, dan membawa namja itu masuk kedalam.
Klub malam itu adalah klub malam tempat Baekhyun dan Kyungsoo pertama kalinya bertemu dan bersahabat. Dan ini adalah kali pertama sejak terakhir mereka kesana, sebulan lalu. Kali ini bersama Luhan.
Dan mau tidak mau, terpaksa Luhan masuk juga. Dia membiarkan dirinya ditarik oleh Baekhyun.
o
o
o
o
"Duduk disini dan jangan kemana mana." kata Baekhyun, mendudukkan Luhan disebuah sofa empuk dalam suatu kamar yang remang remang.
"Tapi, sebenarnya kita mau..."
"Jangan protes. Anggap saja malam ini adalah acara penyambutamu di Korea Selatan, negara kiblat musik pop asia paling digemari." Baekhyun memotong kalimat Luhan. Dia sudah merencanakan semuanya, sejak kemarin.
"Kau tenang saja Luhan." Kyungsoo mencoba menenangkan Luhan yang terlihat panik.
Tentu saja Luhan tidak bisa tenang. Matanya terus kesana kemari, mengamati keadaan sekitar yang sangat redup dan remang. Tempat yang hanya cocok untuk melakukan adegan intim tanpa ketahuan.
"Minum dulu." tawar Baekhyun, menunjuk dua botol bir besar yang sudah dipesannya diatas meja.
"Ti..tidak, aku tidak minum."
"Cobalah sedikit."
"Tidak, jangan paksa aku."
"Baiklah kalau begitu." Baekhyun menyerah.
Sebagai gantinya, Baekhyun memberikan kode pada Kyungsoo untuk memanggil yeoja yang bekerja di klub malam itu. Kyungsoo mengangguk dan berdiri.
Tidak lama kemudian, sesosok yeoja cantik muncul dan langsung duduk disamping Luhan, sesuai arahan yang disampaikan padanya.
"Halo oppa." sapa yeoja itu centil. Namanya Irene.
Luhan kikuk, memandang sekilas pada si yeoja, kemudian beralih memandang Baekhyun dan Kyungsoo. Dia tidak mengerti maksud semua ini.
"Ayo bersenang senang oppa." desah Irene, centil. Dia mengarahkan tangannya dan memegang paha Luhan.
Luhan langsung tersentak, dia menepis tangan yeoja itu.
"Maaf, aku tidak terbiasa." Luhan berkata jujur,
"Ah oppa. Oppa sengaja ya. Aku tahu oppa hanya bercanda." Irene semakin menggoda Luhan, dia mencoba memeluk Luhan, namun gagal, karena namja itu bergeser dan menjauh.
"Oppa kenapa? Oppa tidak tertarik padaku?" Irene mencoba meraih Luhan, tapi Luhan terus menjauh.
Baekhyun dan Kyungsoo terus mengamati ekspresi dan tingkah Luhan, terutama Baekhyun yang seakan tidak berkedip. Jelas saja karena dia sedang melaksanakan misi untuk membuktikan bahwa Luhan adalah namja yang 'sama dengannya'.
"Oppa sini..."
"Maaf, jangan ganggu aku..."
Baekhyun berdiri, memberikan aba aba pada Irene untuk pergi, dan yeoja itu menurut. Si yeoja tentu saja sudah dibayar sebelumnya.
Dan masuklah seorang namja. Namja itu wajahnya mirip dengan Baekhyun, si namja juga adalah salah satu pekerja disana.
Namja itu tanpa basa basi langsung menarik tangan Luhan, ingin memeluk namja China itu. Tapi gagal, karena Luhan berontak keras.
"Apa apaan ini. Kalian berdua pasti sengaja." seru Luhan, membentak keras, bentakan itu ditujukan pada Baekhyun dan Kyungsoo.
"Bu..bukan begitu..." Kyungsoo menimpali, mencoba menjelaskan. Dia otomatis berdiri dari duduknya.
"Aku tahu kalian sengaja. Apa maksud kalian menyuruh yeoja tadi dan sekarang menggantinya dengan namja. Apa?" bentakan Luhan semakin keras, matanya berkaca kaca.
"Luhan, begini... Aku bisa jelaskan..."
"Tidak usah dijelaskan. Kalian bukan teman yang baik." tutup Luhan, dan langsung bergegas keluar dari kamar remang remang itu. Meninggalkan Baekhyun, Kyungsoo dan namja terakhir.
"Luhan, tunggu..." Kyungsoo ingin mencegah Luhan pergi, tapi Baekhyun menghalanginya.
"Biarkan saja. Dia hanya kesal. Mengejarnya hanya memperburuk keadaan." gumam Baekhyun, merasa menyesal dengan rencana konyolnya. Rencana yang tidak berjalan mulus.
"Semua gara gara kau Baek. Seharusnya kau tidak melakukan ini semua." Kyungsoo menunjuk wajah Baekhyun, dia geram.
"Bukan salahku Kyung. Tapi salah namja bodoh ini." Baekhyun menunjuk namja yang disuruhnya menggoda Luhan tadi.
"Kenapa aku? Aku hanya menjalankan perintah." si namja membela diri."
"Hei Kim Taehyung yang wajahnya mirip denganku. Kau terlalu lebay tadi. Langsung nyosor, memegang tangannya. Seharusnya kau bisa melakukannya dengan elegan dan indah. Kau seharusnya memulainya dengan rayuan mendayu, sentuhan lembut. Bukan malah jadi preman pasar tidak jelas." seru Baekhyun, tidak mau kalah.
Si namja yang bernama Taehyung itu hanya bisa diam, dia tahu tidak ada gunanya membantah.
Baekhyun mendengus keras,
"Kau sama saja dengan penismu, sama sama tidak berguna." kata Baekhyun, lalu memegang selangkangan Taehyung yang tertutup celana panjang. Insiden tiba tiba itu tentu saja membuat Taehyung kaget.
"Baek, kau menyakiti hartanya yang paling berharga." tukas Kyungsoo, meringis.
"Yeah, harta. Onderdil yang setiap saat bisa kuisap semauku." Baekhyun tertawa cetar, melepaskan tangannya dari selangkangan Taehyung.
Sedangkan Taehyung lagi lagi tidak bisa melakukan apa apa, seniornya itu susah dilawan.
"Ayo Kyung, kita pulang. Aku mulai kepanasan disini." Baekhyun berseru, mengajak Kyungsoo pulang.
"Baiklah." angguk Kyungsoo, tersenyum tidak enak pada Taehyung.
Dua namja berbeda marga itu keluar dari klub, mereka sempat mencari penampakan Luhan yang mungkin saja masih disekitar sana, tapi Luhan sudah menghilang.
"Kita gagal Baek." gumam Kyungsoo, saat mereka berdua menunggu taksi.
"Tidak juga. Ini baru awal Kyung." timpal Baekhyun, memasukkan kedua tangannya kesaku celana.
Yeah, ini memang baru awal dari semuanya.
o
o
o
o
O...O...O...O
Luhan pulang ke kosnya, sendirian. Sejak tadi matanya berkaca kaca, tapi dia berusaha agar tidak menangis. Derap langkahnya berdebam ditanah.
'Kenapa mereka melakukan itu? Kenapa?' batin Luhan, tidak habis pikir.
Dia merasa dijebak oleh Baekhyun dan Kyungsoo. Tetangga kost yang sudah dianggapnya teman sekaligus sahabat.
Luhan tanpa melihat lihat langsung masuk dan menghamburkan diri kedalam kamar, kebetulan kamarnya memang tidak dikunci. Dia menutup lagi kamar itu
Luhan membaringkan diri diatas kasur, mencoba melupakan kejadian di klub malam tadi.
"Hiks..hiks.."
Dan tiba tiba, pintu kamar mendadak terbuka, menampilkan sosok namja yang muncul dibalik pintu. Namja itu memakai handuk yang menutupi bagian bawahnya, serta baju putih tipis yang memperlihatkan otot badannya secara menerawang. Dia Sehun.
Deg.
Luhan terkaget, masih dengan posisinya diatas kasur.
"Ka..kau... Sehun..." gagap Luhan, suaranya tercekat ditenggorokan.
Sehun tidak langsung menanggapi, dia melangkah beberapa langkah, mendekati Luhan.
Hening sejenak.
"Kenapa kau masuk kedalam kamarku?" tanya Sehun, bernada datar, tidak bersahabat.
"Kamarmu?" Luhan mengernyitkan dahinya, lalu menoleh kiri dan kanan.
Itu memang bukan kamarnya, dikamar tersebut hanya ada kasur, koper dan lemari saja, juga beberapa botol kosong alkohol. Sangat berbeda dengan kamarnya. Ya, Luhan salah masuk kamar.
"Eh, ini... Aku... Maaf..." Luhan sadar, dengan cepat berdiri. Wajahnya memerah hebat, malu.
Sehun bergerak lagi, sesekali mengusap rambutnya yang basah pasca selesai mandi. Gayanya itu nampak terlihat sangat seksi dimata Luhan. Namja itu memang dari kamar mandi, dan tidak mengunci kamarnya, seperti biasa.
Hening lagi.
Luhan mematung, merutuki dirinya yang sampai salah kamar. Kamar mereka berdua memang berdekatan, hanya dipisahkan tembok saja. Kesalahan masuk kamar itu terjadi karena dia kurang fokus akibat tergesa gesa, ditambah dengan kegalauan akibat perbuatan Baekhyun dan Kyungsoo.
Sehun semakin dekat, namja tampan itu mengarahkan wajahnya ke wajah Luhan, intim.
"Kau pasti sengaja masuk ke kamarku." Sehun berkata, dengan kalimat yang ditekankan.
"Ti..tidak, bukan begitu. Aku betul betul tidak sengaja. Aku kira ini kamarku." jawab Luhan, masih tergagap. Dia tidak ingin Sehun salah paham dengannya.
Sehun mendengus, lalu bersmirk tidak kentara. Dia nampak memikirkan sesuatu.
Luhan menarik nafas dalam, menghembuskannya pelan. Dia berusaha tidak memandang wajah Sehun lebih dekat. Karena dengan memandang wajah Sehun, bisa dipastikan bahwa jantung dan dadanya akan berdebar hebat.
"Ma..maaf, ak..aku keluar..." Luhan dengan cepat bergerak, berniat keluar dari kamar Sehun,
Tapi,
"Tunggu..." Sehun menghentikan Luhan, dia memegang lengan namja asal China itu.
Deg.
Luhan tersentak pelan, kaget karena Sehun memegang tangannya. Dia bergetar.
"Aku tahu kau sengaja. Kau modus." kata Sehun, meneliti penampakan Luhan dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Ti.. Tidak."
"Jangan menyangkal. Atau kau mata mata? Kau sengaja masuk kesini untuk memataiku?" Sehun tidak begitu saja percaya.
"Ak..aku betul betul tidak bohong. Aku juga bukan mata mata."
"Lalu? Kenapa kau masuk kesini tanpa izin?"
"Aku sudah katakan kalau aku salah kamar, hanya itu." nada Luhan meninggi beberapa oktaf, tanpa sadar.
Hening.
Sehun berpikir lagi, dia tentu saja waspada. Tapi sepertinya namja China dihadapannya itu bukanlah mata mata. Seandainya namja itu mata mata, maka tadi malam si namja sudah tentu melaporkan keberadaannya saat bersembunyi dikamar namja itu.
"Baiklah, aku paham sekarang..." Sehun masih saja menampilkan wajah datar, ketus dan tidak bersahabat. Dia menjeda kalimatnya yang menimbulkan efek dramatis mencekam.
Luhan menundukkan wajahnya lagi, tidak sengaja melihat penampakan jendolan Sehun yang tersembunyi dibalik handuk yang terlilit.
Deg. Glek. Luhan tanpa sadar menelan ludah. Dan kemudian menggeleng dengan cepat, mencoba menghilangkan pikiran tidak tidak, efek dari jendolan Sehun itu.
Sehun sejak tadi mengamati Luhan, lalu tersenyum.
"Aku tahu. Kau masuk ke kamarku untuk melihat ini kan?" Sehun tanpa aba aba langsung menarik dan menanggalkan handuk yang dipakainya, tepat dihadapan Luhan.
Deg.
Penampakan tubuh bagian bawah Sehun kini terpampang nyata didepan Luhan. Selangkangan Sehun hanya terbalut celana dalam kesempitan.
Mata Luhan membulat lebar, dia dengan cepat menolehkan wajahnya yang dengan cepat memerah lagi.
Sehun tertawa,
"Aku tidak salah. Kau memang menginginkan ini." ucap Sehun, seraya memegang gundukan celana dalamnya yang terlihat super seksi.
Deg.
Luhan tidak mampu berkata apa apa, namja itu masih membuang wajah, dibarengi dengan berdoa.
'Ya Tuhan. Jangan buat aku tergoda. Jangan.' Luhan membatin dalam hati, memejamkan matanya.
Ini kali pertama Luhan melihat seorang namja tampan nyaris bugil tepat dihadapannya. Dia belum berani melihat namja telanjang, baik disebuah video porno atau video sejenisnya. Yang dia tahu hanyalah di FF yaoi yang biasa dibacanya mengenai penggambaran seorang namja Korea yang bugil, tanpa adanya visualisasi.
"Kenapa diam? Bicaralah, katakan sesuatu." gumam Sehun, yang belum melepaskan genggaman tangannya di lengan Luhan.
"Le..lepaskan tanganku, biarkan aku pergi..." Luhan berusaha keras mendapatkan suaranya, walau dengan terbata bata, wajahnya semakin merah.
Sehun tidak mengindahkan keinginan Luhan. Namja berkulit sangat putih itu mendorong Luhan kearah kasur, yang membuat Luhan terjengkang, jatuh, menimpa kasur tersebut.
"Siapa namamu?" tanya Sehun, terdengar sangat horor.
Luhan tidak menjawab, dia semakin takut.
"Jawab."
"Lu... Luhan. Xi Luhan." jawab Luhan, setelah dibentak.
"Oh, namja China rupanya. Hm, bagaimana pendapatmu mengenai namja Korea?" Sehun seperti ingin bermain main dengan namja China dihadapannya.
"Ter...ternyata Baekhyun benar. Kau namja yang tidak ramah." Luhan tidak menjawab pertanyaan Sehun, tapi menggantinya dengan kalimat lain.
"Oh, si eyeliner itu. Dia berbicara apa saja tentangku?" Sehun bersmirk, lalu berjongkok tepat dihadapan Luhan. Posenya itu membuat Luhan mau pingsan saja.
"Ti..tidak bicara apa apa."
"Aku tidak percaya."
Sehun semakin mendekatkan diri kearah Luhan, wangi tubuhnya pasca mandi tercium jelas di hidung Luhan. Wangi yang uhhh, membuat Luhan seperti mabuk kepayang.
"Kau tahu, aku selama ini tidak pernah terima tamu. Tidak pernah membawa orang lain ke kamar ini. Dan kaulah orang pertama yang nekat masuk kekamarku, tanpa izinku. Dan kau tidak bisa keluar tanpa memberikan sesuatu padaku." kata Sehun, nyaris berbisik.
Tubuh Luhan bergetar mendengar kata kata Sehun yang terdengar menakutkan. Dia merutuki dirinya yang bodoh dan salah kamar itu. Keringat dingin membasahi dahinya dengan cepat. Dan sepertinya dia berhasil mendapatkan koleksi langka Baekhyun karena berhasil membuat Sehun berkata lebih dari 20 kata.
"Ka..kau mau apa? Apa maumu?" Luhan memberanikan diri bertanya, dia berharap ada seseorang yang mengetuk pintu kamar Sehun, agar dirinya bisa lolos. Tapi sepertinya harapan itu adalah harapan hampa, tidak ada siapa siapa diluar sana.
"Pertanyaan yang bagus." Sehun bergumam, seraya melihat jam tangan mahal ditangannya. Waktunya semakin sempit.
"Ah, kita akan melakukannya 10 menit saja." lanjut Sehun,
Namja tampan itu bergerak cepat, langsung memeluk dan menindih tubuh Luhan. Tangannya bergerilya disekujur tubuh Luhan.
"Ap..apa yang..yang kau lakukan, lepaskan." jerit Luhan, baru sadar dengan apa yang terjadi. Sehun ingin menjamahnya.
"Jangan pura pura menjerit. Aku tahu kau menginkan ini." Sehun tidak percaya. Tangannya kesana kemari.
"Jangan lakukan ini..."
Sehun mengabaikan kalimat memohon Luhan, dia meraih tangan namja China itu dan mengarahkannya ke selangkangannya sendiri.
"Pegang dan rasakan..."
Deg.
Telapak tangan Luhan menyentuh kejantanan alias penis Sehun, dia bisa merasakan bagaimana keras dan besarnya rudal namja tampan tersebut.
"Pegang, keluarkan dari sarangnya..." bisik Sehun, posisi wajahnya sudah tepat didepan wajah imut Luhan.
Luhan tidak bisa menimpali, tubuhnya semakin bergetar dan menegang, dengan sangat hebat. Keringat didahinya semakin banyak. Bibirnya juga bergetar, suhu tubuhnya naik beberapa derajat.
"Kenapa? Hah..." Sehun bertanya, jarak bibir mereka hanya beberapa inci saja.
Dan lagi lagi Luhan tidak bisa menjawab. Dia mendadak lumpuh, tidak bisa bergerak.
"Kenapa diam? Waktuku tidak banyak." lanjut Sehun, mengamati wajah Luhan yang memerah hebat.
"Ak..aku..." Luhan tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Baru kali ini dirinya memegang kejantanan seorang namja, dan hal itu membuatnya lumpuh mendadak.
Berlebihan memang. Tapi Luhan pernah berjanji pada dirinya untuk tidak jatuh cinta atau melakukan sesuatu yang dilarang. Termasuk menonton video porno, gambar porno atau sejenisnya. Dan sekarang dia memegang sendiri bagian intim seorang namja Korea yang tampannya bak pangeran. Sesuatu yang luar biasa untuknya yang masih innocent.
Hening lama.
Sehun menunggu Luhan bergerak dan melakukan sesuatu, tetapi setelah ditunggu, Luhan tidak melakukan apa apa. Mata namja itu kosong. Tapi yang aneh, Luhan membiarkan tangannya diselangkangan Sehun.
Dan tiba tiba, ponsel milik Sehun berdering, tanda bahwa ada panggilan telefon yang masuk.
"Ash, mengganggu saja." rutuk Sehun, akhirnya berdiri dan melepaskan Luhan. Dia meraih baju dan celananya yang digantung, memakainya dengan cepat. Waktu 10 menit berlalu dengan cepat.
"Keluarlah. Kita batal melakukannya. Aku melepaskanmu." ucap Sehun, sambil memakai pakaiannya, tergesa gesa. Dia hampir terlambat.
Luhan lagi lagi tidak menimpali, namja itu masih pada posisinya, diatas kasur Sehun, mematung seperti terikat.
Sehun membuka pintu kamarnya, lalu menoleh pada Luhan yang belum bergerak dan beranjak.
"Kau sebenarnya kenapa? Cepat keluar dari kamarku. Aku mau pergi." hardik Sehun, ketus.
Luhan menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya sangat pelan. Mencoba mendapatkan suaranya lagi.
"Ak..aku...aku.."
"Kau kenapa?"
"Ak..aku...aku lumpuh, ti..tidak bisa berdiri." akhirnya Luhan bisa menjelaskan alasannya.
"Ohh." Sehun mengusap rambutnya, mendesah kasar. Matanya terus mengamati Luhan, fokus pada mata rusa namja China itu, mencari kebohongan disana, tapi tidak menemukannya. Luhan tidak bohong.
"Ah, kau menyusahkanku saja." Sehun berbalik, berjalan menuju Luhan.
Tanpa aba aba, Sehun mengangkat tubuh Luhan, untuk membawa namja itu ke kamarnya sendiri. Sehun menggendong Luhan.
Deg deg deg.
Luhan membiarkan tubuhnya yang 'lumpuh sesaat' itu digendong oleh Sehun. Dia bisa merasakan kuatnya otot namja itu menggendongnya, melihat dengan jelas bagaimana tampannya wajah Sehun dalam jarak dekat.
Beberapa saat kemudian, Sehun sampai didepan kamar Luhan, namja itu menendang pintu kamar dengan lututnya, hingga pintu tersebut berdebam terbuka. Dia masuk dan membaringkan Luhan diatas kasur.
"Tidurlah namja lemah." gumam Sehun, lalu menarik selimut, untuk menyelimuti tubuh Luhan hingga leher.
Sehun mendesah halus, berdiri lagi, kemudian bergerak menuju pintu kamar. Dia menoleh sejenak, hingga mata mereka berdua beradu pandang, agak lama. Hingga akhirnya Sehun keluar kamar tanpa mengatakan apa apa lagi. Meninggalkan Luhan sendirian dikamar tersebut.
'Terima kasih Sehun.' batin Luhan, mengucapkan terima kasih dalam hati. Karena suaranya tidak bisa kompromi.
Hening.
Luhan memejamkan matanya dan membukanya lagi. Dia memandang langit langit kamar. Masih mengingat dengan jelas perlakuan Sehun padanya, yang ingin melakukan hubungan intim.
Luhan tidak tahu harus menolak atau tidak. Jika dikatakan menolak, tidak tepat juga, karena dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia tidak bisa mengingkari jika dia memang 'sedikit' ingin melakukan itu. Tapi jika dikatakan menginkan, sama tidak tepatnya, karena dia masih 'belum siap' melakukan itu semua. Melakukan 'dosa termanis' itu sama saja membuka kepada dunia bahwa dia memang pecinta namja.
Luhan serba salah, galau tingkat dewa.
Tapi yang pasti, Luhan masih belum tahu siapa Sehun sebenarnya, apa pekerjaannya, kenapa namja itu seperti dikejar oleh seseorang yang ingin menangkapnya, dan kenapa namja itu ingin melakukan hubungan intim, padahal dirinya namja juga, bukan yeoja.
Banyak rahasia yang belum terungkap.
Dan tanpa sepengetahuan Luhan, sudah ada Baekhyun dan Kyungsoo yang sempat melihat Luhan yang digendong oleh Sehun masuk kedalam kamar. Mereka berdua menyaksikan moment itu sambil bersembunyi dibalik pohon didepan kost tersebut.
"Apa kubilang Kyung, Luhan itu sama seperti kita." sorak Baekhyun, setelah melihat Sehun keluar dari kamar Luhan.
"Belum tentu. Kadang pandangan mata tidak sesuai kenyataan Baek." timpal Kyungsoo, bersebrangan dengan Baekhyun.
"Mereka sudah melakukannya Kyung. Aku yakin. Pasti Sehun melakukan itu dengan sangat cepat. Dengan gaya berdiri, gaya anjing. Cukup 10 menit saja, sperma Sehun sudah keluar. Wow, Luhan begitu cepat menaklukkan namja sombong itu." tukas Baekhyun, tersenyum sendiri.
"Kata katamu terlalu berlebihan Baek."
Dua namja yang berstatus uke dan belum punya pacar itu saling sikut dan melempar kata kata candaan, namun candaan mereka harus terhenti, karena ada beberapa orang dibelakang mereka yang berseru.
"Hei kalian berdua..." salah seorang mendekati Baekhyun dan Kyungsoo. Mereka berjumlah tiga orang. Memakai pakaian serba hitam.
"Ya, ada apa?" Baekhyun yang menimpali, memperbaiki posisinya bersama Kyungsoo.
"Apa kalian berdua tinggal di kontrakan ini?" tanya orang asing itu, berbadan tinggi besar. Sembari menunjuk deratan kamar tidak jauh darinya.
"Iya, kami berdua tinggal di kost ini." jawab Baekhyun.
"Apa kau mengenal seorang pemuda bernama Sehun?" lanjut orang itu, penuh penekanan dalam suara beratnya.
Baekhyun tidak langsung menjawab, dia menoleh kepada Kyungsoo yang ada disampingnya, meminta saran untuk jujur atau tidak. Dia merasa sangat curiga pada dua orang asing itu.
"Eh, hm..."
o
o
o
o
o
o
o
TBC
O...O...O...O...O...O...O
Chaper 2 up. Mudah mudahan pembaca semua paham dengan ceritanya, hehee. Maaf jika ceritanya jelek.
Terima kasih atas Review dan Responsnya di chap perdana lalu, aku bersyukur ff biasa ini bisa diterima tanpa bash, heheee. maaf tidak bisa menulis nama nama yang review, soalnya agak ribet karena aku ketik ff ini pakai tablet, bukan laptop. Sekali lagi terima kasih.
Review again chingu, supaya bisa fast update lagi.
Salamxoxo
Han Kang Woo
