"Mendapatkanmu adalah suatu anugerah yang sangat lama kuimpikan. Walau bertahun bahkan beribu-ribu tahun lamanya ruh ini mengembara untuk menemukanmu, pada akhirnya takdir akan datang kepada kita. Takdir antara kau dan aku. Bahwasannya kita tidak dapat dipisahkan."
When She Was Pregnant
Naruto belongs Masashi Kishimoto
This story is mine
AU, OOC, Gaje, Abal, Bad
DLDR
Enjoy Reading
Sebenarnya dia sangat tidak ingin berada di tempat ini. Bahkan dia ingin segera keluar dari sini. Kalau saja dokter mengizinkannya.
Aku sangat mengetahui gelagat apa saja yang istriku lakukan. Ekspresinya. Gerak tubuhnya. Semua yang ada pada dirinya aku mengetahuinya. Hanya dengan menginspeksinya saja.
Aku tahu dia adalah seorang yankee yang tidak akan pernah mau berurusan dengan dunia medis. Bahkan saat masuk ke dalam ruangan kecil dengan cat berwarna serupa dengan rambut unik miliknya, dia sudah mual kembali.
Kami sedang menjalani pemeriksaan rutinitas untuk Sakura untuk yang kedua kalinya. Usia kandungan Sakura terbilang muda, baru memasuki minggu ke 12. Aku sangat bahagia melihat istriku yang tengah terlentang di kasur pemeriksaan dengan pandangan lurus menatap langit-langit putih.
Kugenggam erat tangannya. Dia menoleh kemudian tersenyum bahagia.
"Rasanya berdebar-debar." Ucapnya dengan malu-malu.
Aku hanya mendengus pelan, mengusap pucuk rambutnya dengan penuh kasih sayang dan membisikan sesuatu di telinganya. "Aku bahagia."
.
.
.
Kami berjalan sambil bergandengan tangan.
Dari Rumah Sakit Center Konoha, naik bus, sampai berjalan menuju rumah kami tidak pernah melepaskan tautan jemari kami. Saling menghangatkan, memberikan aliran kebahagian dan juga kenyamanan.
Kami adalah pasangan yang menikmati waktu dengan sederhana dan apa adanya. Tidak perlu terburu-buru dan juga tidak terlalu santai. Cukup menikmati waktu yang kami jalani saat ini.
Rambut merah muda Sakura sudah cukup panjang. Rambutnya terbang perlahan dimainkan anak angin yang berasal dari pantai jalanan tepi lingkungan tinggal kami. Rambut raven-ku pun ikut turut bergoyang sehingga membuat Sakura tertawa cekikikan bagai nenek sihir.
Aku menjawir hidung mancung kecilnya hingga memerah dan tertawa lepas bersama pada akhirnya.
Kalian bolehlah bilang kami adalah pasangan suami-istri yang sedang berbahagia dan benar adanya itu.
Kami bahagia. Hidup kami penuh kesyukuran akan hidup sehat dan hidup bahagia berdampingan bersama. Tidak ada yang lebih indah dengan melewati hari bersama istriku yang dulunya seorang yankee dan seorang calon anak yang berada dalam rahim Sakura.
Langkahku terhenti ketika turunan plang kereta api turun dan bunyi tanda peringatan akan datanganya kereta api segera berdentang kencang menguar di indra pendengaran.
"Hari ini kita akan makan malam apa?" tanya Sakura dengan suara cukup kencang.
"Menurutmu?" tanyaku berbalik membuat Sakura segera menggembungkan kedua pipinya.
"Aku bertanya kau malah bertanya balik." Dia mencubit pergelangan tanganku. "Aku ingin makan sup tomat."
Aku terbelalak kaget. "Kau serius?"
Sakura mengangguk pasti walau ekspresinya seperti berkata 'ada yang salah?'. "Memang kenapa?"
"Bukankah kau tidak menyukai sup tomat?"
"Benarkah?"
Aku mendengus kecil. "Sepertinya kau akan segera mengidam."
.
.
.
Ternyata pagi menjelang sangat cepat datang.
Kukerjap-kerjapkan mataku, lalu berubah menyipit tatkala sinar matahari yang menerobos melalui jendela terlalu banyak untuk ditangkap oleh mekanisme mataku.
Setelah dirasa cukup sudah aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling kamar kami. Kamar yang lumayan cukup besar dengan segala minim perabotan dan tampak biasa atau kosong. Namun kamar ini sangat hangat untuk ukuran kami berdua, bukan karena memang ada pemanas ruangan di sini. Tapi, karena ada cintaku dan cinta Sakura.
Kudengar pintu kamar dibuka perlahan. Sakura berjalan ketepian kasur, mengelus lenganku yang tertidur dengan posisi miring.
Aku tersenyum hangat. "Selamat pagi."
"Selamat pagi juga." Balasnya dengan menyunggingkan senyum bahagia.
Dia tampak silau di mataku. Permata satu-satunya yang sangat kusukai dan tidak akan aku lepaskan sampai kapanpun.
Sakura beralih membuka pintu jendela. Membiarkan angin pagi yang sejuk datang memasuki ruangan hangat kami. Terdengar cicitan burung-burung camar di dekat tepian pantai. Bahkan suara ombak kecil sampai terdengar kemari.
Sakura menatap pemandangan indah di depannya dengan pandangan kagum. Perutnya yang seharusnya sudah membuncit tidak terlihat karena dia sedang mengenakan pakaian terusan putih tipis yang terkoyak menari diisengi oleh angin. Tak ketinggalan rambut merah mudanya yang panjang terayun ke belakang.
"Sakura."
Sakura menoleh, "Ada apa?" tanyanya tanpa mengubah ekspresi senang.
"Kemari." Titahku lembut. Sakura mengangguk kemudian menghampiri diriku yang masih terbaring di ranjang.
Kuraih pinggang rampingnya, membawa Sakura ke dalam dekapanku dalam posisi terbaring miring. Sakura sedikit memekik ketika kepalaku ku selipkan di antara bahunya. Kucium harum tubuhnya. Aroma alami yang menguar dari tubuhnya adalah wangi the dan sedikit mint.
"Ada apa, Suke?" dia mengelus punggung tanganku yang melingkar di pinggangnya.
Aku masih berdiam tidak menjawab pertanyaan Sakura. Menikmati indahnya pagi hari bersama istri tercinta adalah keinginan setiap suami. Bermanja di pagi hari istilahnya untuk Sasuke.
"Aku sungguh-sungguh mencintaimu." Ucapku gamblang.
Terasa detakan atau debaran pompaan otot jantung Sakura bekerja lebih cepat. Membuat irama dentuman yang indah di indra pendengaranku. Cuping telinga Sakura sudah memerah. Aku terkikik dalam hati. Dia sangat malu ternyata.
Kuelus perutnya yang rata namun sedikit buncit menonjol di atas perineumnya. Suara gemerisik pohon ek yang di luar beranda kamar kami adalah latar keheningan di sini.
"Aku pun sungguh-sungguh cinta kamu." Ucapnya tulus.
.
.
.
Aku tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.
Mual di pagi hari seperti yang Sakura lakukan dua minggu lalu.
Kehamilan Sakura sudah memasuki minggu ke 14. Dia tampak bugar dan kuperhatikan sepertinya dia tidak mengalami sindrom yang biasa wanita hamil lalui. Justru akulah yang mengalami hal tersebut. Sungguh memalukan.
Seperti saat ini. Aku ingin merasakan es krim vanilla. Gila!
Sungguh sebelumnya aku tidak suka dengan makanan dingin tersebut. Mencicipinya saja aku sudah anti apalagi kini aku sudah menghabiskan satu ember kecil es krim tersebut. Gila memang.
Apa mau dikata jika akulah yang mengidam?
Sakura terkikik geli di sofa ruang tamu. Melihatku yang masih bergalau ria karena es krim cokelat stroberi yang masih tersaji beku di hadapanku. Rasanya mulutku ingin segera mencomotnya, namun otakku berkata sudah cukup karena kapasitas glukosa dalam tubuh sudah sangat terpenuhi. Oh, ini pilihan yang sulit.
"Sasuke-kun." Panggil Sakura sambil bergelayut manja di leherku.
"Hn?"
"Kalau kau tidak makan es krim, nanti anak kita akan mengeluarkan air liurnya terus. Aku tidak mau punya anak tampan tapi jorok." Kikik Sakura. Aku terus bergerundel dalam hati. Salah siapa?
Dengan cepat kusambar ember sedang yang penuh dengan es krim tersebut. Melahapnya dan jangan tanya apa yang kurasakan saat memakannya. Nikmat? Kh!
.
.
.
Senja yang sejuk di bulan Oktober, di mana kita bisa melihat beberapa bunga yang bermekaran. Atau mungkin, pemandangan yang sering kita jumpai adalah pohon-pohon yang mulai menggugurkan daun-daun kecoklatannya. Ditambah semilir angin yang semakin menusuk tulang tatkala mendekati musim dingin. Sungguh indah musim gugur di Konoha.
Gadis―well wanita―itu masih takjub akan pemandangan di sekitarnya, walaupun hanya pohon-pohon maple yang sedang meranggas, tetapi bisa membuat gadis itu kagum akan pemandangan yang tengah ia saksikan saat ini. Ah, dan jangan lupakan langit senja yang kemerahan, makin menambah daya tarik dari musim gugur kali ini.
Well, musim gugur memang selalu membuat wanita itu terkagum-kagum akan keadaan alam sekitar. Baik itu tumbuhannya maupun cuaca yang sejuk. Karena itulah, ia menyukai musim ini, tentu saja nomor dua setelah musim semi –musim ketika ia lahir.
Dan wanita itu masih asyik mengagumi pemandangan di sekitarnya, tak sadar ketika aku datang menghampirinya.
"Hei, istri Jidat! Daripada kau melamun tidak jelas, bagaimana kalau kita berduet?" kejutku pada istriku yang masih asyik dengan dunianya―mengagumi karya Sang Pencipta. Dan istriku yang kukejutkan itu hanya mengerucutkan bibirnya, imut.
"Kau meledekku?" Sakura memukul bahuku pelan.
"Aku tidak meledekmu." Kekehku. Ku tuntun dirinya untuk duduk di salah satu bangku taman. Perutnya yang sudah semakin membuncit semakin membuatku gila akan tingkahnya yang masih saja lincah.
Sakura saat masih di bangku sekolah, walau dulunya adalah seorang yankee, jemarinya yang sering menghajar musuh-musuhnya itu ternyata dapat bermain lincah juga menekan tuts-tuts hitam-putihnya piano.
"Tapi aku hanya bisa memainnkan satu lagu saja." Gumamnya disertai smeburat merah muda tipis di kedua pipi tembemnya.
"Jangan merendah diri begitu." Aku mengelus puncak rambutnya kemudianmengelus anak kami yang masih berada dalam rahim Sakura. "Janin butuh suatu refleksi diri juga. Aku ingin anak kita mendengar dentingan piano Ibunya."
"Ah, kau pintar berbicara Sasuke-kun." Sakura menangkat salah satu daun maple yang gugur tepat dihadapannya. "Aku pernah baca. Kalau janin sudah diberi pengetahuan atau didengarkan dengan musik, maka dia akan menjadi orang yang romantis."
Aku menyeringai tipis. "Seperti ayahnya."
"Mimpi!" Sakura meleletkan lidahnya. "Kau sama sekali tidak romantis Sasuke-kun."
Aku mengangkat alisku tinggi-tinggi. "Hn?" kemudian aku menyeringai. "Kita lihat seberapa romantisnya aku."
Aku meninggalkan Sakura yang masih dengan wajah terheran-heran dan bingung. Ku langkahkan kakiku menuju segerombolan seniman jalanan. Berdiskusi sebentar kepada mereka, merencanakan sesuatu untuk istriku, dan langsung disetujui oleh seniman jalan tersebut.
Ada pemain biola, cello, gitar akustik, dan juga fluite. Bersama dengan sekelompok kecil musisi jalanan yang beranggotakan lima orang tersebut aku menghampiri Sakura―yang merasa terkejut dan terheran dengan kedatangan kelompok kecil tersebut.
Dengan satu tarikan napas yang seirama, kami mulai bernyanyi atau lebih tepatnya aku yang bernyanyi dengan back vocal si penyanyi dari kelompok kecil tersebut. Dengan sedikit berjongkok aku meminta Sakura untuk ikut menari bersamaku.
Menyanyikan lagu Sempurna dengan arasemen akustik teralun indah di gendrang pendengaran. Sesekali Sakura terkikik geli melihat siulan penonton anak-anak yang pada saat itu taman sedang cukup ramai dengan anak kecil.
Kau begitu sempurna
Di mataku kau begitu indah
Kau membuat diriku
Akan selalu memujamu
Sakura mulai mengikuti ayunan lembut tanganku yang saling bertautan dengannya. Walau memang kedengarannya suaraku ini sedikit fals tapi Sakura tampak menyukainya.
Di setiap langkahku
Ku kan selalu memikirkan dirimu
Tak bisa ku bayangkan
Hidupku tanpa cintamu
Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa
Kuputar-putarkan badannya perlahan. Sudah kubilang dia adalah Ibu hamil yang lincah. Buktinya dia berputar terlalu cepat begitu. Tidak sadarkah dia sedang berbadan dua? Aku jadi cemas dibuatnya. Tapi, demi menyenangkan hatinya kubiarkan saja dia melakukan tariannya.
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
Dirasa sudah cukup dan kelihatannya Sakura sudah capai berdansa pelan denganku. Kukecup punggung tangannya dengan mesra hingga rona merah menjalar di permukaan wajahnya yang putih.
"Kata siapa aku tidak romantis?" seringaiku.
.
.
.
Hari sudah gelap ketika aku sampai di kediaman keluargaku yang hangat. Ku langkahkan kaki yang masih terbalut setelan seragam kerja―kemeja putih yang rapih dipadu rompi berwarna abu-abu disertai jas hitam dengan celana bahan berwarna hitam―masuk ke dalam halaman rumah yang tidak begitu luas.
"Tadaima!" ujar ku saat membuka pintu depan rumah, lalu melepaskan mantel berwarna hitam di gantungan mantel dekat rak sepatu dan melepaskan sepatu, menukarnya dengan sandal rumah. Kuperhatikan ada sebuah sepatu cokelat tua agak kehitaman mengkilap tersusun rapih. Apakah ada tamu? Kurasa sepatu itu bukan milikku.
Cepat-cepat ku langkahkan kaki menuju ruang keluarga, dimana kemungkinan sedang bersama dengan si pemilik sepatu cokelat tua agak kehitaman mengkilap tersebut.
"Ah, okaerinasai Sasuke-kun." Ucap Sakura yang berpapasan denganku sebelum kubuka pintu dorong menuju ruang keluarga. Wajah Sakura tampak berseri-seri. Ada apa ini gerangan?
"Hn?"
"Aku kedatangan tamu yang mengejutkan!" girang Sakura, dan kemudian Ia membuka pintu tersebut. Di sana ada seorang pemuda sedang duduk menghadap televisi. Dan aku tidak tahu rupanya seperti apa, yang aku yakini kemungkinan orang itu adalah…
"Sasori-nii."
Tsudzuku
Arena Bacotan Ceria
Holla! Terima kasih sebelumnya sudah membaca fanfic-ku! Tak menyangka fanfic abal begini ada juga yang baca, ya? -_-
Saya senang karena cukup ada yang berminat dengan karyaku un. Oh, iya sebelumnya banyak yang tidak tahu apa itu Yankee. Kalian tahu Yankee adalah istilah preman di Jepang. Begitulah intinya, un. Nna piker pada tahu yankee itu apa, makanya ga ditulis artinya un.
Sip, terima kasih kepada:
QRen
Voila Chan 14
Suka SasuSaku Sekali
Me
Sindi 'Kucing Pink
Iya risaskey
Ratu Hitam
Ren Ichinomiya
RedBunny Hime
Chini VAN
lady spain
Phouthrye Mitarashi15
Nita UzuHaruChi
Kamikaze Ayy
Cute girl
Maaf gak bisa balas saran dan kritikan kalian saat ini un. Kemungkinan minggu depan fanfic saya bakal di pending untuk publish semua dikarenakan saya mau UTS. Saya juju raja paling benci UTS di Univ saya. Pelit banget dan susah semua. Sampai stress juga lho.
Ah, pokoknya tunggu aja kelanjutan fanfic aku yang lainnya ya pada akhir desember mendatang. Akan saya selesaikan segera!
Buhbey :*
