Chapter 2

"ini tidak main-main naruto, kau membuat janji dengan hinata, dan dia harus berkorban untuk tinggal di rumah mu?"

"dia yang bertaruh dengan sebuah perjanjian." Ujar naruto seakan-akan tidak bersalah.

"seharusnya aku tahu dari awal apa motiv mu, kau menjebaknya!"

"itu bukan jebakan. Itu adalah kesempatan yang ternyata dia buat sendiri untukku."

Tsunade tidak tahu harus bagaimana. Hinata yang bertaruh sebuah perjanjian, dan kini dia kalah dalam permainan itu hingga harus mengikuti perjanjian yang telah naruto buat untuknya. Kalau saja hinata tahu taruhan perjanjian itu adalah untuk tinggal di rumah naruto, dia tidak akan bertaruh janji. Ini semua sudah terlambat, "maafkan aku!" hinata meminta maaf pada tsunade, "kenapa kau harus minta maaf padaku, ini semua salah mu, naruto tidak akan mengingkari janjinya, dan kau juga harus menepati janji mu."

"aku bersalah karena bertaruh janji, tapi aku tidak mau tinggal di rumahnya my lady, apa yang akan orang-orang bicarakan kalau mereka semua tahu, mereka pasti aka bergosip kalau aku adalah wanita simpanannya."

"tidak hinata, naruto tidak akan melakukan hal itu, dia menghormati wanita."

Apapun yang lady tsunade katakan tentang naruto, dia percaya. Tapi apa hinata akan sepenuhnya percaya pada naruto, "aku menang! Dan aku ingin kau berjanji padaku, mulai saat ini jangan panggil aku my lord atau pun your grace, panggil namaku. Dan yang kedua, aku ingin kau berjanji untuk tinggal di kediaman ku selama yang aku mau." Dan hinata tercekat mendengar perjanjian yang naruto utarakan itu. Saat itu pula dunianya menjadi berubah.

"jangan memperlihatkan wajah kusut itu padaku hinata, aku tidak suka, aku hanya ingin melihat mu tersenyum." Ujar naruto.

"ini semua salah mu my lord, kalau saja kau tidak mengadakan perjanjian seperti ini, mungkin aku akan tersenyum senang."

"kau akan tersenyum senang saat kita sampai di kediamanku. Dan apa itu tadi, "my lord" sudah ku katakan, panggil namaku, kau lupa yah? Kau sudah berjanji."

"aku tidak akan pernah lupa, my lord."

Naruto hanya tersenyum tipis. Saat sampai di belokan, hinata melihat sebuah bangunan yang megah, luas dan besar, "wow, ini begitu indah my lord," ujar hinata, "yah, sangat indah." Dan saat hinata menoleh kearah naruto, diaat itulah pujian yang terlontar dari mulutnya ditujukan untuk hinata. Hinata berpaling, dan rasa panas menjalari tubuhnya. "apakah di kediaman mu tidak ada orang my lord, kenapa begitu sepi?" naruto menyilangkan tangannya di dada, "banyak orang di dalamnya, ada para pelayan dan..."

"bukan itu maksud ku my lord, seseorang, keluarga mungkin?"

"sayangnya tidak ada."

"benarkah? Aku tidak percaya my lord, kalau aku masuk kesana, apa kekasih mu tidak akan marah?" dan saat itu juga naruto tertawa terbahak-bahak, "tidak akan ada yang marah, kau tenang saja cantik." Dan hinata terkejut mendengar naruto mengatakan kalau dia cantik. Dan dia tersipu, "mari miss, kita sudah sampai," hinata tidak menyadarinya, saat kreta kuda berhenti dia masih melamuni kata-kata naruto, "biarkan aku membantu mu miss," naruto mengulurkan tangannya untuk membantu hinata turun dari kreta. Jemarinya bersentuhan dengan naruto.

Di sebrang sana para pelayan sudah lama menunggu sang lady, "ya ampun, lady itu cantik sekali, apa dia calon istri..." seseorang berdehem, "jangan menebaknya dulu ayame, ujar tobi, mungkin dia hanya tamu, atau mungkin..." sesorang berdehem lagi, "itu mungkin saja, lihat! Betapa serasinya mereka berdua, yang satu tampan dan yang satu cantik."

"sudahlah nenek chiyo, kita akan tahu sebentar lagi."

Setela sampai di depan pintu tobi pun membuka pintu itu, dan saat itu juga hinata disambut dengan hangat, "selamat datang di rumah ku hinata," ujar naruto. hinata pun terkejut melihat rumah itu, "ini lebih dari keindahan my lord," ujar hinata, "dekorasi yang cantik dari sebuah ruang tamu, pemandangan yang indah diluar sana lebih dari sempurna jika kita duduk disebelah sini dan melihat keluar... oh tunggu.." hinata beranjak dari ruang tamu dan melihat sebuah piano tua yang terpampang di sebelah ruang tamu, "apa ini? Piano tua ini, semua pelayan terkejut mendengar pernyataan hinata, begitu juga naruto, "ini tidak seharusnya di letakan disini my lord," naruto hanya tersenyum tipis.

"lalu aku harus menaruhnya dimana?"

"disebelah sana, agar para tamu yang masuk nanti bisa melihat piano unik ini."

"tamu?" ujar naruto, "sejujurnya, aku tidak ingin ada tamu di rumah ini, apalagi sebuah pesta."

"apa?" hinata terkejut, "kau aneh sekali my lord," para pelayan itu hampir tertawa, dan naruto mulai kesal. Benar-benar wanita yang sempurna, ini dia wanita yang selama ini ku tunggu. Sudah cukup hinata mengkritik ruang tamunya, apalagi yang akan dia kritik dari rumahnya ini. "miss, bolehkah saya perkenalkan anda. Lady yang cantik ini adalah lady hinata, sang lady akan tinggal di rumah ini selama..." naruto menggantungkan kata-katanya, karena dia tahu bahwa hinata tinggal selama yang dia inginkan. Mungkin selama-lamanya, "selama yang aku mau maksud mu my lord?" yah, hinata pasti tahu apa yang ada dalam pikiran naruto, tapi sayangnya hinata tidak mau mengakuinya, "yah, itu sudah jelas, ayame, tolong antarkan lady hinata ke kamarnya," ayame pun mengantar hinata.

Hinata tidak pernah mengira bahwa dia akan ditempatkan di kamar utama, kamar yang seharusnya dimiliki oleh seorang duchess, "huuuufftttt! Ini benar-benar berlebihan, seharusnya dia tidak melakukan hal itu padaku, gumam hinata. Dan ayame mendengarnya, "maafkan saya my lady, sebuah kehormatan bagi saya untuk melayani anda, saya benar-benar tidak menyangka bahwa kamar ini akan segera ditempati, saya merasa..." hinata berdiri dan memandang ayame dan berjalan kearahnya, "wow, rambut mu terlalu bagus, kenapa kau mengikatnya," hinata menyentuh rambut ayame, dan saat itu jug ayame menjauh, "maafkan saya my lady, bukannya saya tidak bersikap sopan, tapi saya tidak pantas diperlakukan seperti itu, saya hanya seorang pelayan dan..."

"cukup! Aku hanya ingin menggerai rambut mu, tangannya sambil melepaskan jepitan itu, kau terlihat cantik dengan rambut digerai, kau dan aku sama-sama manusia, derajat kita sama di mata tuhan." Ayame tersenyum hangat. Belum pernah sekalipun dia bertemu dengan seorang lady yang mau menyentuh seorang pelayan, baru kali ini. "ayame?" panggil hinata, "ya my lady," ujar ayame, "tetaplah rambut mu seperti itu, kau terlihat cantik," ayame tersipu malu mendengar pernyataan hinata.

"my lady, apa anda mau mandi, saya akan menyiapkan air hangat?"

"ya ayame, terimakasih!"

Hinata sudah berjanji untuk tinggal di rumah naruto, selama naruto menginginkannya, dan selama itu pula dia semakin gelisah akan ketertarikannya pada sang lord tampan itu. Apa yang akan terjadi nanti selama hinata tinggal di rumahnya? Dia bertanya-tanya!

Malam sudah semakin larut tapi hinata tidak bisa tidur, esok hari yang hampir siang hinata belum saja bangun, "semalam my lady sepertinya tidak bisa tidur my lord, saya sendiri yang menyiapkan semuanya, dan my lady mengatakan kalau my lady tidak bisa tidur," naruto menghela napas panjang. Sepertinya akan sulit untuknya jika hinata tidak bersikap selayaknya dirinya.

"baiklah. Kau boleh pergi ayame, siapkan makanan untuknya," ayame menunduk, "baik your graace." Naruto berjalan melewati lorong setelah ia menyelesaikan makan paginya yang terlambat karena menunggu hinata, tapi ternyata hinata belum terbangun sepenuhnya. Saat sampai di kamar hinata, harum lavender menyeruak ke dalam otaknya, dan menimbulkan didihan darahnya. Sungguh sebuah keindahan di pagi hari yang menyenangkan, pikir naruto, andai saja harum ini selalu ia cium di pagi hari, mungkin hidupnya akan terasa seperti di kedalaman surga dunia, dan andai saja harum ini berasal dari tubuh hinata, dia pasti sudah gila.

Seharusnya pria terhormat seperti seorang duke tidak boleh memasuki kmar seorang lady, apalagi lady itu adalah tamunya, tapi naruto melupakan adat kesopanan dan itu adalah salah satu kebiasaannya. Dia tidak menyukai peraturan ataupun adat, dia menyukai kebebasan positif, dan hal ini menurutnya adalah kebebasan positif. Ketika sampai di tempa tidur hinata, naruto duduk di tepi ranjang dan menyentuh pipi hinata dengan punggung jarinya. Dia mengamati wajah canik itu, terus... perlahan... dan mengintimidasi tubuh hinata yang hanya memakai gaun tipis. Jari-jari itu beralih dari pipi ke bibir ranum hinata, "seperti apa rasa mu, aku ingin sekali mencobanya," gumam naruto.

Disaat itu pula hinata terbangun, dan melihat wajah tampan naruto. apa dia bermimpi atau... hinata terkejut saat menyadari kalau itu bukanlah mimpi, ia menjauh dari naruto dan menutupi tubuhnya dengan selimut, "apa yang kau lakukan disini my lord, kau tidak sopan sekali memasuki kamar ku." Ujar hinata marah, "aku hanya ingin membangunkan mu, apa tidak boleh?" hinata melototi naruto, "tentu saja tidak boleh, itu tidak sopan, seorang duke tidak akan melakukan hal itu," naruto terkekeh, "tapi aku melakukannya bukan? Kesopanan hanya untuk di luar rumah, bukan di dalam rumah, lagi pula ini rumah ku, aku berhak melalukan apa saja yang ku mau, termasuk melanggar adat kesopanan."

Hinata terkejut mendengar hal itu, "kalau memang seperti itu peraturan mu my lord, aku juga akan melanggar adat kesopanan, kau lihat saja nanti." Berdiri dan meninggalkan tempat tidur menuju kamar mandi, "akan ku tunggu," gumam naruto. setelah beberapa jam kemudian hinata sudah berada di ruang perpustakaan dan mendengarkan naruto bercerita mengenai garis keturunanya, "jadi, aku adalah pewaris pertama dari namikaze, dan anak ku nanti yang akan mewarisi gelar ku selanjutnya," naruto menatap hinata dengan intens, "sungguh beruntung sekali anak itu my lord, dan sungguh beruntung wania yang menjadi istri mu nanti."

"siapa yang tahu hinata, mungkin kau yang akan menjadi istriku nanti."

Hinata tekejut mendengarnya, "sungguh sebuah keberuntungan." Ujar hinata.

Beralih ke gallery, hinata sangat tidak suka dengan ruangan ini, "bagaimana pendapatmu ruang gallry ku dibanding dengan lady tsunade," hinata menggelengkan kepalanya, "ya tuhan.. aku berharap tidak masuk ke tempat ini my lord. Jelek sekali," ujar hinata. Dan itu membuat ayame dan tobi terkejut mendengarnya. Wah.. wah.. wah.. berani sekali hinata berterus terang seperti itu. Naruto hanya tersenyum sinis, sungguh wanita luar biasa, batin naruto, "kau jahat sekali hinata, kau tahu, hatiku sakit mendengar kau mengatakan hal itu." Hinata menghadap ke arah naruto.

"aku ingin merubah ruangan ini. Tapi maafkan aku sebelumnya my lord, aku benar- benar tidak menyukai ruang gallery ini, aku ingin menata ulang, bolehkah aku melakukannya?" melihat hinata mengatur sebuah ruangan, seperti mengatur kehidupan rumah tangga, melihatnya mengoleskan cat ditembok nanti, membuatnya tidak sabar ingin segera melihat, "terserah kau saja my lady, aku tidak akan melarangnya," kata-kata itu membuat dua orang pelayan itu terkejut. Tapi tidak dengan hinata dia sepertinya sangat senang sekali, "kalau begitu, ayo kita mulai. Tobi, aku ingin kau besok menyiapkan beberapa cat tembok berwarna lavender dan beberapa tirai berwarna cerah, dan kau ayame, aku ingin kau menyiapkan vas bunga, dan juga bunga geranium yang aku lihat di kebun untuk kau petik besok, kalian mengerti? Hanya itu saja.

Kedua pelayan itu menatap naruto, dan naruto mengangguk, "mengerti my lady," ujar mereka berdua. "mulailah kalian berdua menyiapkannya," perintah naruto. dan itu hanya alasan saja agar dia bisa berduaan dengan hinata, "kau suka lavender?" tanya naruto, "sangat," jawab hinata. "apalagi yang kau suka?" hinata menoleh ke arah naruto, "oowh, banyak sekali my lord. Pertama, aku suka warna warni, kedua, aku suka hal yang baru, dan ketiga, aku tidak suka diatur. Dan kalau bukan karena bertaruh sebuah perjanjian, aku mungkin tidak akan menuruti perintahmu, kau dnegar itu my lord?"

"bukankah kau menyukai hal-hal yang baru, tidak kah kau lihat bahwa aku membawa mu pada seuatu yang baru, misalnya mengatur sebuah ruangan sesukamu, mengkritik rumahku, dan satu lagi, bersikap tidak sopan."

"apa? Itu kau maksud sesuatu hal yang baru my lord, menurut ku itu bukan hal yang baru, itu adalah sebuah kecelakaan yang seharusnya tidak terjadi yang berawal dari sebuah permainan monopoli."

"apakah kau lupa my lady, kau sendiri yang bertaruh bukan aku."

"dan itu yang kumaksud sebuah kecelakaan yang seharusnya tidak terjadi, aku baru mengenal mu belum genap satu hari, tapi kau sudah menganggapku sebagai sorang yang kau kenal sejak dulu, apakah kau tidak malu my lord?"

Kenapa naruto harus malu? Itu bahkan bukan sebuah hal yang memalukan, itu adalah keajaiban. Naruto tertawa lepas, dan hinata merasa terhina, "jangan tertawakan aku," hinata merasa kesal, "bagiku itu adalah keajaiban, dan apakah kau lupa hinata? Kau sudah berjanji padaku, bahwa kau tidak akan memanggil ku dengan my lord atau your grace. Tepati janji mu, panggil namaku!" hinata merasa bersalah sekarang, "bagiku, itu tidak sopan," naruto tersenyum masam, "bukankah kau pernah mengatakan kalau kau akan melanggar adat kesopanan?" kebenaran yang mutlak yang tidak bisa hinata hindari, dia memang sudah mengatakannya, tapi apa dia akan melakukannya.

Tapi jika sang lord merasa muak dengan peraturannya sendiri dengan melanggar adat kesopanan, itu berarti dia juga akan senang kalau hinata juga mengikuti peraturan itu. Bagaimana ini? Naruto berdehem, "ini adalah rumahku, rumahku peraturanku!" dan hinata tidak menyangkalnya.

Hinata mengalihkan pikirannya dengan berjalan-jalan di taman. Taman itu suram, hanya ada bunga geranium dan sdikit sekali bunga mawar dan. Sayang, bunga lavender kesukaannya tidak ada di taman itu, "apakah taman ini tidak menyediakan bungan lavender?" hinata bertanya pada pengurus kebun, dia menunduk siap melayani hinata, "maafkan saya my lady, semua bunga di taman ini adalah permintaan dari your grace, dan kami tidak mendapatkan perintah untuk menanam bunga lavender." Hinata memikirkan sesuatu.

"kalau begitu, segeralah tanami bunga lavender, oh dan juga bunga rosemary, dandelion, mawar putih dan anggrek kerjakan! itu perintahku, dan aku yakin your grace akan setuju denganku."

"akan segera saya laksanakan my lady." Ujar pelayan itu dengan senangnya.

"kenapa aku jadi pengatur seperti ini, ujar hinata pada dirinya sndiri, tapi menyenangkan sekali."

Di hari itu, hinata menyuruh semua pelayan untuk melakukan semua permintaannya. Dan para pelayan itu dengan senang hati menurutinya, "apa yang terjadi di rumah ini, kenapa para pelayan itu tidak sama sekali membantah ku?" itu karena naruto sudah mengatakannya, saat itu...

"dia adalah tamu ku, dan kalian tahu bukan, dia adalah tamu pertamaku..."

"dan wanita pertama," sahut tobi, dan dia mendapat pelototan dari naruto.

"apapun yang dia inginkan kalian harus memenuhinya, aku ingin dia senang tinggal di rumah ini. Dan kalian jangan bertanya sampai kapan dia akan tinggal, dia akan tinggal sesuka hatinya dan atas kehendakku, kalian pasti mengerti bukan?" dan mereka semua mengangguk pertanda mengerti benar apa yang dikatakan tuannya. "tapi ingat, hanya kalau aku mengijinkan kalian untuk melakukan perintahnya atau tidak, kalian harus meminta ijinku terlebih dahulu!"