Disclaimer : Naruto - Masashi Kishimoto
ANSWER OF THE WIND
Chapter 2
Silent and Handwriting
.
Sakura POV
.
Hari pertama masuk kerja.
Aku berdandan. Eyeshadow, eyeliner, blush on, dan lipstik menempel di wajahku. Bukan make up berat, hanya ringan dan natural. Itu cukup untuk menyapa orang-orang di tempat kerjaku nantinya. Rambutku menggulung, ada sisa poni yang aku selipkan ditelingaku. Kemeja putih, blazer abu-abu dan celana panjang hitam membalutku.
Kakiku bergerak menuju pintu kamarku. Tas tangan hitam menggantung digenggamanku. Satu tanganku memasangkan kacamata di wajahku. Kenop besi itu turun kebawah.
Aku berada di ruang makan. Sendirian. Pagi ini aku tidak menikmati sarapan istimewa. Hanya ada dua lembar roti lapis. Selai coklat dan lapisan keju sebagai perasanya. Tak luput satu gelas susu instan sebagai pelengkap energiku.
Dia datang. Pria yang kata ayahku bernama Sasuke. Kursi didepanku digesernya. Satu mangkuk oatmeal dan segelas air mineral diletakkannya. Dia mendudukkan dirinya. Sesuap demi sesuap menikmati hidangannya. Aku tidak melihat wajahnya. Dia diam.
Bibirku sedikit maju dan berkerut. Aku tidak ingin bicara padanya. Apa yang dilakukan padaku kemarin membuatku marah. Menarik tanganku dengan kasar, mendorongku dan menciumku seenaknya. Sangat menyebalkan!
Dia melirikku. Aku membuang wajahku. Aku tidak butuh lirikannya. Aku tidak betah sarapan bersamanya. Secepatnya kuhabiskan sarapanku dan meninggalkannya dalam diam.
Aku pergi ke kantor.
Aku duduk diantara seluruh pekerja di Warehouse. Mulai dari jabatan tertinggi hingga terbawah berkumpul jadi satu. Katanya, mereka melakukan rapat bersama sebelum bekerja.
"Haruno Sakura. Mohon bimbingan dan bantuannya." Aku menundukkan badanku pada mereka. Berbagai senyuman bertebaran untukku. Ini tim, teman dan keluarga terbaruku.
Aku pulang dari kantor.
Aku membuka pintu apartemenku dengan kartu yang kumiliki. Kunciku masih ada padanya. Lampu diruang tengah tidak menyala. Jam dinding berbunyi. Angka sembilan dan dua belas berada digarisnya. Aku tidak melihat pria itu.
Aku lelah. Kacamataku terselip di sela kerah leher kemejaku. Blazerku sudah terlepas. Kakiku berjalan gontai. Aku menuju kamarku dalam remang. Satu pintu aku lintasi. Itu kamarnya tepat disebelah kamarku.
Aku berhenti. Telingaku mendengar suara dibalik pintu kamarnya. Tenang dan datar. Itu miliknya. Sepertinya dia sedang membahas masalah pekerjaannya. Mungkin, seseorang yang menelponnya. Aku mendengar langkah kakinya hendak keluar. Aku segera berlari menuju kamarku.
Brak!
.
.
Hari kedua masuk kerja.
Sama seperti kemarin. Aku duduk dihadapannya. Menu sarapan kami berbeda. Kami di ruang makan. Bola matanya mengarah padaku. Hanya sekilas dan kembali berkutat pada korannya. Begitu hening.
Aku melihat sepasang burung menari-nari diluar jendela. Mereka bermandikan pantulan cahaya pagi. Aku mengunyah roti sandwich-ku sembari hanyut pada mereka. Iri akan keakraban mereka. Sementara, aku bersama dengannya. Tidak akrab dan tidak berteman.
Roti sandwich-ku sudah habis. Piringku sudah kosong. Aku meliriknya sekilas. Wajahnya ditutupi lembaran koran. Aku tidak berniat membuka pembicaraan padanya. Dia juga sama, sepertinya. Apakah dia sama sekali tidak berniat meminta maaf padaku?
Aku memundurkan kursiku kebelakang. Koran miliknya dilipat. Diletakkan tepat di sebelah sarapannya. Bola mata hitamnya mengamati gerak gerikku. Aku abaikan saja. Aku masih marah padanya. Aku melirik jam tanganku, sudah waktunya berangkat kerja. Aku mengambil tas hitamku dan berjalan melewatinya. Aku sadar, dia menghelakan nafasnya bersamaan langkah kaki pertamaku. Aku meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia juga.
Aku berada di ruangan meeting. Hanya ada sepuluh orang, termasuk aku. Leader-ku sedang memberikan informasi penting. Itu tentang kecelakaan kerja perusahaan lain yang terjadi beberapa hari yang lalu. Slide per slide dia tampilkan dihadapan kami. Aku memperhatikan secara seksama. Telingaku sigap mendengarkan informasi dan arahan darinya.
"Kau mau sebatang rokok?" Tawar salah satu pegawai wanita sambil menyodorkan satu bungkus rokok terbuka. Aku menolaknya dengan halus. Dia mengerti dan membalas dengan senyuman. Dia wanita yang cantik. Rambutnya blonde, kulitnya putih bersih dan dadanya besar. Asap rokok mengepul dari bibir merahnya. Aku melirik ID card yang menggantung dilehernya, Tsunade, itu namanya. Aku dan dia sedang duduk bersama di jam istirahat.
Aku memasuki pintu apartemen setelah seharian bekerja. Aku baru saja meletakkan sepatuku di rak sepatu. Namun, sayup-sayup aku mendengar suara wanita di ruang tengah. Seperti suara menggoda. Ada sedikit desahan. Aku penasaran suara siapa itu. Aku mempercepat langkahku. Siapa wanita yang diajaknya masuk tanpa sepengetahuanku. Aku akan memarahinya. Beraninya dia berbuat mesum disini. Bola mataku bergerak cepat mengelilingi ruang tengah. Dan ternyata, Ah! Itu hanya suara televisi. Dia sedang menonton sebuah film. Sendirian saja.
Dia menoleh kearahku dengan wajah heran. Aku salah tingkah. Padahal aku hendak memarahinya jika dia melakukan hal mesum di apartemen ini.
"Ada apa?" tanyanya padaku. Keningnya sedikit berkerut.
Aku langsung membuang mukaku. Ada apa katanya. Bukan itu yang ingin aku dengar darinya. Mana kata maaf darinya. Lekas saja aku meninggalkannya. Aku tidak ingin bicara padanya. Siapa peduli.
.
.
Hari ketiga masuk kerja.
Pagi ini dia sudah duluan duduk di ruang makan. Dia hanya menikmati dua lembar roti gandum, satu telur dadar dan irisan tomat. Dia melahap sarapannya dengan tenang. Wajahnya sok keren. Aku sama sekali tidak tertarik padanya.
Aku melirik pergerakan jari kanannya. Telunjuknya kosong. Kali ini dia tidak memakai cincinnya. Apakah dia sedang menyimpannya. Aku meraba liontinku dibalik kemejaku. Bibirku tertutup. Mataku masih terpaku pada jemarinya. Miliknya benar-benar sama dengan milikku, kan? Aku bertanya pada diriku sendiri.
Bola matanya bergerak menujuku. Segera saja aku alihkan pandanganku pada rotiku. Aku tidak berniat memandangnya terus-terusan. Mungkin dia sedang percaya diri sekali sekarang.
Kali ini, dia meninggalkanku duluan. Ya, tanpa sepatah kata pun. Aku juga tidak peduli padanya.
Siang ini, aku menemani leader-ku masuk ke dalam gudang. Tubuhku sudah disangkuti atribut keselamatan. Ada safety helmet dan safety shoes. Aku dan leader-ku mencatat nama kami, waktu dan paraf pada buku tamu pekerja yang masuk ke gudang hari ini.
Leader-ku yang bernama Jiraiya, menyapa para pekerjanya dengan sumringah. Kata mereka, dia pecinta wanita nomor satu, tapi kinerjanya sangat diacungi jempol. Kami berjalan menyusuri rak-rak besar itu. Jiraiya, orang yang suka mengecek kinerja bawahan setiap hari.
"Aku seperti sedang berjalan dengan istri muda jika bersamamu. Hahaha..." Ucapnya diakhiri tawaan.
"He?!" Aku kaget.
"Hanya bercanda. Kau serius sekali." Dia terkekeh.
Aku tersenyum kaku. Di tempat kerja seperti ini, dia masih saja bisa menggoda bawahannya. Dasar kakek mesum.
Hari sudah malam. Aku berada di bilik lift apartemen bersama orang-orang yang tidak ku kenal. Pintu lift terbuka di lantai 31. Aku segera beranjak keluar.
Sama seperti kemarin malam, aku mendengar suara wanita juga. Mungkin itu hanya tv. Kakiku melangkah menuju ruang tengah. Aku berhenti sejenak. Kali ini dia tidak menonton film rating dewasa. Itu hanya sebuah siaran berita. Aku melihatnya tertidur di sofa. Wajahnya tenang dan rambutnya sedikit berantakkan.
Di atas meja itu banyak sekali kertas-kertas bergambar bangunan. Aku mengambil remote tv diantara tumpukkan kertas itu. Tanganku menekan tombol merah untuk mematikan siaran tv itu. Aku kembali meliriknya, memastikan dia benar-benar tertidur.
Lagi, aku menangkap jemarinya. Berbeda dengan tadi pagi, dia memakai cincin itu lagi. Dengan hati-hati kakiku melangkah mendekatinya. Aku berjongkok didekatnya. Kuamati dengan hati-hati batu cincin itu. Benar, itu Amethyst. Aku mengeluarkan liontinku. Kepalaku tertunduk mengamati batu Amethyst milikku. Bahkan miliknya berbentuk sama dengan punyaku. Aku menggigit ibu jariku pelan. Apakah aku benar-benar pernah melihat cincin ini sebelumnya?Darahku berdesir lebih kencang.
Kepalaku bergerak keatas. Aku menoleh ke arahnya.
"Gyaaaa!" Aku kaget setengah mati.
Bruk! Tanpa sengaja aku melempar remote tv itu di wajahnya. Aku langsung berlari kencang ke kamarku. Sial! Ternyata dia memergokiku.
.
.
Hari keempat masuk kerja.
Aku mendengar berbagai suara dentingan dari dapur. Siapa yang sedang memasak pagi begini. Aku yang belum selesai berpoles mengintip dibalik tembok. Ah, ternyata dia yang sedang memasak. Tangannya begitu cekatan mengiris bawang merah. Ada apron hitam yang menyangkut ditubuhnya. Dia menoleh kearahku. Sial! Hampir saja aku ketahuan. Aku berlari kembali menuju kamarku.
Lima belas menit berlalu. Aku menuju ke dapur. Dia masih sibuk dengan masakannya. Aku melewatinya tanpa suara sapaan. Aku mengambil bungkus sereal di lemari gantung. Sudut matanya mengawasiku. Aku tidak peduli.
Pintu kulkas terbuka. Hembusan udara dingin menyerbu wajahku. Mataku lihai mencari buah-buahan. Serealku akan nikmat jika ada potongan pisang, strawberry, ataupun blueberry. Aku berjalan menuju meja makan dengan semangkuk sereal.
Aku menyuapkan sereal pada mulutku. Aroma telur yang sudah matang menyeruak dalam hidung. Dia menyajikan sepiring omurice untuk dirinya sendiri. Tangannya menuangkan saus tomat diatasnya. Air liurku meneguk. Sendokku masih menggantung dimulutku. Itu kelihatan lezat. Bahkan, serealku seketika tidak nikmat lagi.
"Kau mau?" Tanyanya sambil menyodorkan sesendok omurice padaku.
Dia memergokiku. Lagi. Shannaroo!
Aku menunjukkan telapak tanganku padanya. Memberikan isyarat bahwa aku menolaknya. Dia menarik kembali sendoknya dan memasukkan omurice itu kedalam mulutnya. Sungguh, aku menginginkan itu. Sial! Aku kan sedang marah dengannya.
Aku mengunyah serealku sembari meliriknya. Rasa serealku berbeda dengan yang ada dipikiranku. Omurice miliknya, itu yang aku pikirkan. Brak! Aku memukul meja makan. Melahap serealku dengan cepat. Dia melihat sikap anehku. Wajahnya seakan bertanya. Terserah saja.
"Sakura, tolong proses status dokumen ini di sistem," pinta Shizune, rekan kerjaku. Aku menerima tumpukan lembaran kertas kuning darinya.
"Baiklah," ucapku tersenyum padanya. Tanganku sigap mengambil lembaran kertas dokumen itu. Bola mataku berkutat pada sistem, memastikan tidak terjadi kesalahan. Jariku sibuk mengeklik, melakukan proses dan kembali mengecek untuk memastikan status barang sudah di proses. Diakhiri dengan parafku diujung dokumen itu.
Malam ini aku pulang lebih cepat. Biasanya aku mampir di kedai atau restoran kecil untuk makan malam. Tapi, kali ini tidak. Aku ingin memasak, walaupun rasa masakanku standar sekali. Omurice miliknya tadi membuatku jadi ingin memasak juga.
Apartemen ini sangat sepi. Tidak ada suara tv ataupun gerak geriknya. Aku menempelkan telingaku pada pintu kamarnya. Memastikannya ada atau tidak. Ternyata dia tidak ada. Mungkin dia belum pulang. Syukurlah, aku bisa memasak dengan tenang. Lekas aku menuju kamarku untuk mengganti pakaianku dan bergerak menuju dapur.
Uapan air mendidih mengepul dipenutup panciku. Aku sedang membuat gyuniku soba. Kuah berisi Irisan dagingku sudah matang. Aku tuangkan kuahnya pada mangkuk yang berisi soba. Asapnya menyeruak. Meja makan menjadi tujuanku. Aku sudah duduk. Gyuniku soba didepanku bentuknya sungguh menggoda. Aku mencicipinya. Berkali-kali bibirku mengecap. Kedua alisku berkerut. Sial! Rasanya biasa sekali. Tidak ada istimewanya. Bahkan dibawah standar. Aku memang tidak bisa memasak dengan baik. Aku menepuk dahiku yang lebar.
Dia pulang disaat hidangan standarku hampir habis. Aku meneguk air mineral. Dia duduk didepanku bersamaan dengan melahap satu buah burger. Kami saling bertatapan.
"Sudah pulang sejak tadi?" Tanyanya padaku.
Aku menatap malas kearahnya. Bahuku aku gidikkan saja keduanya. Aku tidak ingin berbicara padanya. Kakiku segera beranjak dari ruang makan ini.
.
.
Hari kelima masuk kerja.
"Ini kuncimu," ucapnya sambil menyodorkan kunci apartemenku.
Aku melirik tajam kearahnya. Aku mengambil kunci itu dengan wajah cemberut. Ini sudah hari kelima, dan dia baru mengembalikan kunci apartemenku sekarang. Sekalian saja tidak usah dikembalikan. Apa yang dia pikirkan. Menyebalkan.
"Hei, Bicaralah padaku," ucapnya lagi.
Mulutku sengaja kukunci. Aku tidak akan menjawab apapun yang dikatakannya hingga dia mengatakan maaf padaku.
Ting! Ting! Sendok makanku sengaja aku dentingkan dengan keras agar dia tahu bahwa aku sedang marah dan tidak ingin berbicara. Dia tak hentinya melihatku. Kuhabiskan saja pancake-ku dengan sangat terburu-buru.
"Uhuk... Uhuk..." Sial, aku malah tersedak. Memalukan. Aku memukul-mukul dadaku pelan.
"Jangan makan terburu-buru," ucapnya lembut. Dia menyodorkan air putihnya padaku.
Tatapanku masih tajam padanya. Aku tidak mau air putihnya. Apa-apaan sikap sok perhatiannya. Kuabaikan saja tawarannya. Aku lebih memilih susu cokelat hangatku. Lebih menggiurkan daripada air mineralnya. Aku meneguk segelas susu cokelat itu. Batukku sudah reda dan lekas pergi ke kantor.
"Selamat pagi, Pak. Saya mau minta tanda tangan Anda," ucapku sopan kepada salah satu co-leader. Dia tersenyum padaku. Aku menyodorkan beberapa kertas dokumen kepadanya.
"Status barangnya sudah dicek ulang?" Tanya pria berambut silver itu. Ada tahi lalat di dekat bibirnya.
"Sudah," jawabku mantap.
Aku melihat tangannya bergerak dengan cepat menandatangani dokumen-dokumen itu. Dibawah tanda tangannya, tercantum namanya, Hatake Kakashi. Aku mengucapkan terima kasih kepadanya setelah urusanku selesai.
Aku lelah sekali. Pekerjaanku tadi sangat banyak sekali. Aku ingin segera sampai di apartemenku. Jam di ponselku sudah menunjukkan angka 20:33. Andai saja aku punya kekuatan berpindah tempat. Mungkin aku sudah menikmati empuknya sofa saat ini. Yah, itu hanya imajinasi saja.
Aku tidak mencium jejaknya malam ini. Sepertinya dia akan pulang telat. Ah, kenapa aku memikirkannya. Pulang atau tidak, aku tidak peduli. Tidak ada untungnya bagiku. Aku mengambil snack dan semangkuk es krim di kulkas.
"Ah... Nikmatnyaaa..." Ucapku sambil menikmati sesendok es krim.
Aku sedang menonton sebuah film romantis. Bahkan, aku sampai menitikkan air mataku. Ya, aku terlalu berlebihan. Tapi, film ini begitu indah dan mengharukan. Aku begitu hanyut kedalam ceritanya, hingga aku tak sadar jika aku sudah tertidur.
Tubuhku seakan melayang. Aku mencium aroma yang aku kenal. Aku sepertinya mencium aroma ini, dulu. Mataku tidak dapat terbuka. Aku benar-benar mengantuk. Seseorang seperti sedang membopongku. Rasanya begitu nyaman, bahkan aku menenggelamkan wajahku padanya. Posisi ini begitu hangat. Aku menyukainya.
.
.
Hari libur pertama.
Aku menemukan diriku sudah berada di kamarku. Seingatku tadi malam aku masih diruang tengah. Apakah aku tidur sambil berjalan semalam? Ataukah dia yang memindahkanku? Jangan-jangan dia juga sudah mencuri kesempatan menyentuhku seperti waktu itu. Sial! Tanganku mengepal erat.
Aku lapar.
Aku melihat meja makan. Ada dua mangkuk sup miso diatasnya. Sepertinya masih baru dan hangat, bahkan asapnya saja masih mengepul. Dia berjalan menuju meja makan.
"Itu untukmu," ucapnya sambil menunjuk satu mangkuk diseberangnya.
Alisku naik satu. Apakah dia berniat merayuku melalui sup miso itu? Jangan harap. Aku duduk didepannya. Pura-pura tidak peduli pada sup buatannya. Tapi aroma supnya, sungguh. Aku tergoda. Hidungku tak henti-hentinya menghirup itu. Shannaroo! Makan atau tidak. Aku gengsi.
Aku menggigit bibir bawahku. Aku meneguk air liurku sendiri. Sup miso buatannya terlihat lezat. Aku meliriknya. Dia juga melirikku dengan wajah sok kerennya. Tangannya bergerak menulis sesuatu di buku memonya. Hanya sebentar. Dia menggeser buku memo itu padaku. Lensa mataku dengan cepat menangkap isi memo itu.
'Maaf untuk yang waktu itu.'
Itu yang tertulis disana. Dia meminta maaf padaku. Aku menoleh kearahnya. Bibirku bergerak maju menunjuk penanya, menunjukkan kode padanya agar memberikan pena itu padaku. Dia mengerti. Tangannya menggeser pena itu padaku.
Dengan cepat aku membalas isi pesannya. Tulisanku mungkin seperti tulisan dokter. Aku harap dia bisa membacanya.
'Jarak kita satu meter.'
Dia tersenyum samar membaca tulisanku. Apakah dia mengejek tulisanku. Ataukah dia meremehkan isi pesanku. Dia menggeser kembali memo terbuka itu padaku.
'Makanlah sup misonya.'
Aku melirik sup miso menggoda itu. Bibirku maju kedepan. Lekas saja aku balas pesannya.
'Kau merayuku dengan sup miso itu.'
Dia membalas dengan cepat pernyataanku.
'Ya.'
Aku menatap tajam kearahnya. Dia menunggu balasan dariku.
'Jika tidak enak, aku tidak akan memaafkanmu.'
Sial. Dia malah berseringai saat membaca isi pesanku. Percaya diri sekali jika sup misonya lezat. Aku mengambil sumpit yang terselimuti tisu itu. Sumpitku bergerak lamban diantara isi mangkuk itu. Aku mengambil potongan tahu sutra, mendekatkan pada bibirku dan mencium aromanya.
Seketika wajahku bersemi. Ini lezat. Itu yang pertama terlintas dari pikiranku. Rasanya sangat istimewa. Shannaroo. Ini benar-benar nikmat. Perutku terus meronta-ronta untuk menikmati masakannya. Aku bahkan tidak sadar jika aku sudah menghabiskan sup miso itu dalam sekejap.
'Kau menghabiskannya.'
Itu isi pesan yang baru saja diberikannya. Wajahnya menggambarkan kemenangan. Sial! Dia berseringai pada wajahku yang bersemu merah. Aku mengalihkan wajahku pada jendela. Aku akui masakannya memang lezat.
Jariku mengambil pena yang diberikannya padaku. Aku sedang berpikir apa yang harus aku tulis dikertas buku memo tersebut. Apakah aku harus memuji masakannya? Mengatakan bahwa aku memaafkannya? Ataukah memintanya untuk jadi koki pribadiku? Aku menahan senyumku.
Aku membaca tulisan tangannya. Mengamati seksama. Rasanya aku pernah mengenal tulisan tangan ini. Aku menautkan poniku pada sisi telingaku. Melihat bola mata hitamnya yang sedari tadi menunggu balasanku. Ah, mungkin hanya perasaanku saja. Banyak orang lain yang tulisan tangannya seperti ini.
'Kita akan buat peraturan.'
Dia tersenyum kecil saat membaca isi pesanku. Jari telunjuk dengan lingkaran cincin itu menahan penanya. Dia memoleskan isi memo itu. Kemudian menunjukkan isinya padaku.
'OK.'
Itu yang ditulisnya. Aku berseringai saat membacanya. Baiklah, aku akan membuat peraturan.
.
.
Hari libur kedua.
Aku membuka tirai gordenku. Jendelaku terbuka dengan manis. Kelopak mataku kuusap dengan lembut. Angin pagi Kota Suna masuk ke dalam kamarku.
"Hmm... Lumayan," gumamku saat mengirup udara tenang ini.
Aku mengambil selembar kertas diatas meja kerjaku. Isinya adalah tentang berbagai peraturan yang sudah aku pikirkan semalaman. Dibagian bawahnya tertempel sebuah materai. Aku akan meminta tanda tangannya.
Aku melihatnya sedang menonton sebuah pertandingan tinju di televisi. Ada secangkir teh hangat ditangannya. Aku duduk disebelahnya. Tepat diujung sofa itu. Aku sedang menjaga jarak dengannya. Dia menoleh kearahku. Aku memberikan selembaran kertas beserta pena padanya.
"Itu peraturan yang sudah aku buat. Baca dan berikan tanda tanganmu," pintaku padanya.
Dahinya sedikit berkerut saat melihat isi tulisanku. Dia kembali menatap wajahku. Aku melipat kedua tanganku.
"Disana tertera berbagai peraturan. Jangan sentuh aku. Jangan bicara padaku. Jangan mengawasiku. Jangan mengikutiku. Jarakku dan kau satu meter. Jangan berbuat mesum disini, dan sebagainya. Nah, kau sudah baca, kan. Cukup tandatangani disana," jelasku sambil menunjukkan materai tersebut.
"Ini terlalu berlebihan," protesnya.
"Kau sudah bilang ok kemarin." Aku menggidikkan bahuku. Ku teguk segelas susu hangat.
Dia menghelakan nafasnya. Tampaknya dia malas beragumen denganku. Aku melihat tangannya bergeraknya. Lagi, cincin berbatu Amethyst itu menjadi perhatianku. Aku penasaran. Ingin rasanya aku menanyakannya.
Dia menyodorkan kertas peraturan itu padaku. Aku melihat seksama tandatangannya. Goresan yang rapi. Tertera namanya dibawah itu, Uchiha Sasuke.
Uchiha? Aku termenung sejenak. Ayahku pernah mengatakan nama Uchiha beberapa tahun yang lalu, seingatku. Apakah aku pernah kenal dengan seseorang bernama Uchiha sebelumnya.
"Jadi namamu Haruno Sakura?" Dia membuka suaranya. Pandangannya masih berkutat pada layar televisi itu.
"Kau baru saja melanggar peraturan yang kubuat. Peraturan nomor dua. Jangan bicara padaku, jika bukan aku yang memulai," ucapku sinis padanya.
Dia terkekeh kecil. Meremehkan ucapanku. Dia mengambil buku memonya dan menuliskan sesuatu.
"Kau tidak ingin kita bicara kan? Bagaimana dengan tulisan. Tidak ada peraturan yang tertera disana," ucapnya berseringai. Dia menyodorkan isi memonya padaku.
'Kau menyebalkan.'
Apa-apan isi tulisannya itu. Dia mau memulai keributan denganku. Aku meremas ujung kausku. Pena ditangannya aku ambil dengan paksa.
'Aku benci wajah sok kerenmu. Kau sama sekali tidak keren.'
'Kau baru saja memujiku.'
'Kau percaya diri sekali. Sebaiknya kau bercermin. Kacamu akan retak melihat wajah tidak kerenmu.'
Dia terlihat kesal saat membaca balasanku. Sungguh, jarak kami dekat, tapi kami seperti orang bodoh yang bertengkar melalui tulisan. Kami saling mengejek melalui tulisan hampir setengah jam lebih. Mungkin buku memonya sudah penuh dengan tulisan dan emot ejekan.
'Berhentilah bertengkar. Kekanakkan sekali.'
Sepertinya dia lelah bertengkar denganku. Tapi kata-katanya sok bijaksana. Bukankah dia duluan yang mengatakan menyebalkan padaku. Dasar!
'Buatkan aku omurice, setelah itu aku akan berhenti.'
Dia menahan senyumnya saat membaca tulisanku. Wajah penuh seringai itu mengejekku. Aku mengalihkan wajahku ke dapur.
'Pipimu bersemu merah. Sebegitu inginkah merasakan omurice buatanku?'
Sial! Dia benar-benar mengejekku. Aku menutup wajahku dibalik jemariku. Tapi, sejujurnya aku ingin merasakan omurice buatannya yang terlewatkan waktu itu. Tidak! Apa yang sedang aku pikirkan.
Aku duduk di ruang makan. Tanganku sibuk memainkan sebuah game di ponselku. Aku menunggu omurice buatannya. Dia datang dengan membawa sepiring omurice kepadaku. Aku menghentikan game-ku. Ponsel itu aku tidurkan diatas meja makan.
Aroma omurice begitu menggoda. Bola mataku tak henti-hentinya menatap nasi bergulung telur dadar itu. Aku tersenyum kecil. Aku mencicipi sesendok omurice. Ya Tuhan! Ini sungguh lezat. Bahkan, terenak yang pernah aku makan seumur hidupku. Aku meliriknya. Dia seperti menahan senyum padaku. Apakah dia reinkarnasi dari seorang chef?
'Terima kasih.'
Itu isi kertas yang aku sodorkan padanya. Dia tersenyum samar padaku. Aku melihatnya. Itu tidak asing, rasanya. Lekas aku mengambil kertas lagi, dan menuliskan sesuatu.
'Boleh aku menanyakan sesuatu.'
Aku kembali menyodorkan sebuah tulisan itu padanya. Wajah tenangnya lurus kearahku. Ada tanda tanya yang didekat wajahnya.
'Katakan saja.'
'Apakah kau yang memindahku ke kamarku waktu itu?'
'Ya.'
Ah, ternyata memang dia. Aku bahkan sempat berpikir jika aku tidur sambil berjalan sebelumnya. Itu sungguh mengerikan. Tapi, ada yang masih terlintas pada benakku. Aroma dirinya seakan tidak asing bagiku. Sungguh, aku pernah merasakan itu sebelumnya. Tapi kapan? Aku tidak tahu.
Aku melipat bibir bawahku. Tanganku menopang sisi kepalaku. Aku sedang berpikir. Lagi, Aku melirik jari telunjuknya. Batu itu. Aku ingin menanyakan itu.
'Apakah itu batu Amethyst?'
Akhirnya aku menanyakan itu padanya. Aku hanya ingin memastikan saja. Dia mengeluarkan cincin yang melingkar ditangannya. Menunjukkan cincin perak itu padaku. Dia memperhatikan barang miliknya dalam ketenangan. Rasanya ada sedikit sendu disana. Dia membalas isi pesanku dengan cepat.
'Tebakanmu benar.'
Benar. Ternyata itu batu Amethyst sama seperti punyaku. Darahku seketika berdesir. Ada satu pertanyaan lagi yang ingin aku tanyakan padanya. Aku menulis balasan pesan itu dengan ragu. Tanganku sedikit bergetar.
'Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?'
Aku menuliskan pertanyaan itu. Dia begitu serius saat membaca pertanyaanku. Wajahnya tidak dapat aku gambarkan. Cukup lama dia mengamatiku. Aku bahkan sampai salah tingkah. Akhirnya dia berhenti.
Tangannya bergerak mengambil pena itu. Aku melihat seksama pergerakan tangannya. Aku menunggu jawabannya. Dia selesai menulis. Jarinya melipat kertas itu, berbeda dengan yang biasanya. Perlahan dia menggeserkan kertas itu padaku. Ada senyuman samar di wajahnya.
Tanganku bergerak mengambil lipatan kertas itu. Jantung berdetak lebih kencang saat tak sengaja menyentuh jarinya. Dia masih tersenyum samar. Aku menautkan poniku pada sisi telingaku. Aku mengintip lipatan kertas itu. Tanganku sedikit gemetar membuka isi balasannya. Jawaban iya atau tidak. Itu memutar-mutar diotakku. Darah di dadaku bergerak sangat cepat.
'Tidak. Senang bertemu denganmu "sekarang", Haruno Sakura.'
Aku menahan nafasku saat membaca tulisannya. Dia bilang tidak. Ada tanda kutip pada kata sekarang. Aku tidak tahu maksud tanda kutip itu. Aku menoleh kearahnya. Dia tenang dan serius menyambut tatapanku. Ternyata aku tidak pernah mengenalnya sebelumnya. Tapi apakah jawabannya jujur?
.
.
To be continued
.
.
Halo, readers :)
terima kasih banyak sudah memberikan review, favorit ataupun follow story ini :) love u all :)
