.

Previous

" shit! " umpat Seokjin lalu berjalan menuju kamarnya dengan hati-hati, dimanfaatkan sinar bulan yang masuk melalui jendela balkon. Seokjin akan mengambil ponsel dan menelpon pemilik apartemen namun langkahnya terhenti saat membuka pintu ketika dilihat sesosok mahluk yang duduk di atas ranjangnya, nafas Seokjin tercekat ketika mahluk itu bergerak mendekatinya

.

Bayangan tersebut terus mendekat, kedua kaki Seokjin menjadi kaku bahkan suaranya seperti tertahan di tenggorokan. Mata Seokjin terbelalak ketika mahluk tersebut tepat berada dihadapannya, dia dapat melihat dengan jelas wajah pucat dengan darah yang mengalir disisi wajah, bau seperti daging busuk menusuk penciuman Seokjin dan-

kamar Seokjin menjadi terang, matanya melihat ke seluruh penjuru kamar dan tidak menangkap bayangan itu lagi. Seokjin menghembuskan nafas lega dan berusaha menyingkirkan peristiwa yang baru saja dia alami, dia berfikir dia terlalu lelah hingga membayangkan sesuatu yang mustahil. Seokjin memutuskan untuk pergi mandi dan tidur. Dia punya banyak kegiatan besok

.

" Namjoon-ah " panggil Daehyun

Namjoon yang sedang memeriksa beberapa email di laptopnya menoleh dan mendapati kakak sepupunya sedang memegang nampan berisi beberapa cemilan dan dua kaleng soda. Namja yang dua tahun lebih tua darinya itu duduk di samping Namjoon dan menatap layar laptop hitam yang menampilkan beberapa email

" Hyung belum tidur? "

Daehyun menggeleng dan memasukkan sepotong chese cake " aku terbangun karena lapar, kau sendiri? "

" aku akan tidur sebentar lagi, hari ini sangat melelahkan " dia dan Daehyun melewati sejumlah proses upacara peringatan yang banyak siang tadi

" apa Jinnie baik-baik saja? "

Namjoon menoleh " ada apa? dia sedang baik-baik saja "

" dia hanya terlihat pucat siang tadi, Junhong juga berkata seperti itu "

" aku tidak tahu, mungkin dia hanya kelelahan "

Daehyun meminum sodanya " kau harus lebih memperhatikan dia, hyung harap kalian cepat menikah "

Namjoon mengangguk singkat " iya hyung "

Tukk.. tuk..

" hyung dengar itu? "

" apa? "

Namjoon berdecak " suara itu? seperti seseorang mengetuk permukaan lantai "

Daehyun menajamkan pendengarannya namun dia tidak mendengar apapun

" hyung tidak mendengar apapun "

" aku mendengarnya hyung, sekarang pun masih terdengar " Namjoon sedikit menurunkan kepalanya ke sisi ranjang

Daehyun beranjak dengan membawa nampan yang sudah kosong " sebaiknya kau segera tidur "

" tapi hyung- " suara Namjoon terhenti saat dia tidak melihat Daehyun lagi, tidak mungkin Daehyun menghilang begitu cepat Namjoon tidak mendengar suara pintu atau langkah kaki. Dia lalu berjalan keluar dan hanya mendapati kondisi rumah yang gelap

" aneh, cepat sekali "

" Namjoon "

Namjoon tersentak ketika suara lembut Junhong memanggilnya dari belakang, dia berbalik dan mendapati kakak iparnya itu dengan piyama biru muda dan wajah mengantuk

" apa yang kau lakukan? "

" mencari Dae hyung "

Kening Junhong berkerut " dia sedang tidur "

" eh? Dia baru saja keluar dari kamarku "

Junhong menaruh punggung tangannya di dahi Namjoon " kau sakit? Dae oppa sudah tidur sejak tadi "

" tidak noona, Dae hyung baru saja keluar dari kamarku "

Junhong menggeleng dan mendorong Namjoon pelan masuk ke kamar " sebaiknya kau segera tidur, kau pasti sangat lelah "

" baiklah " ditutup pintu kamarnya dan mengacak surainya kasar, dia yakin sekali jika kakak sepupunya baru saja berjalan keluar dari kamarnya dan sekarang kakak iparnya Junhong

' tunggu, bukankah Junhong noona dan Dae hyung sedang pergi ke Gwangju? ' batin Namjoon. Sore tadi sehabis upacara peringatan Daehyun dan Junhong pergi ke Gwangju karena ibu Junhong yang tiba-tiba jatuh sakit

Kaki Namjoon melemas ' lalu siapa tadi? '

Namjoon kembali membuka pintu dan keluar, kali ini dia menyalakan beberapa lampu untuk penerangan. Dia membuka pintu kamar Daehyun dan Junhong dan tidak mendapati siapapun disana, dia lalu kembali menutup pintu dan berjalan menuju sofa merah di ruang tengah. Menghempas kasar tubuhnya kesana dan memejamkan mata, dia sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa kejadian tadi dialaminya karena dia terlalu lelah, Namjoon lalu beranjak dari sofa dan menghampiri sebuah lemari besar yang terbuat dari kayu, lemari tempat Daehyun biasa meletakkan minuman keras yang dibelinya atau didapatnya dari rekan bisnis. Sebenarnya Junhong sudah ingin menyingkirkan lemari tersebut beserta isinya namun Daehyun berhasil mempertahankannya

Mata sipit foxy Namjoon menangkap sebotol wine dengan angka 1897 yang tertera di bagian bawah botol, merasa menemukan wine dengan tahun yang bagus dia menyeringai puas dan membawa botol tersebut ke dapur. Namjoon lalu membuka lemari kecil di samping kulkas ukuran big size tempat Junhong menaruh semua cangkir dan gelas mahal miliknya. Diambil satu gelas wine dan membawanya ke pantry, dituang wine tersebut ke dalam gelas, mengocoknya pelan dan menghirup aroma yang membuat Namjoon melayang. Dia segera menelan cairan merah tersebut dan merasa sedikit aneh karena cairan tersebut terasa lebih kental dan berbau anyir ketika masuk ke dalam mulutnya, Namjoon kembali mengeluarkan cairan tersebut dan terkejut mendapati cairan tersebut menjadi lebih banyak dan kental di lantai keramik dapur. Namjoon lalu berjongkok dan menyentuh cairan tersebut dengan ujung jari dan menciumnya

Amis, Kental, Lengket

Darah!

Namjoon lalu bangkit dan membanting gelas yang dipegangnya, nafasnya memburu serta tubuhnya yang tiba-tiba berkeringat. Dia sangat yakin jika ini adalah darah, ditengah keterkejutannya pandangannya pun menjadi gelap

.

.

Mian pendek.. chapter depan akan dibuat lebih panjang. Terima kasih buat yang sudah review dan buat silent readers saya juga menghargai kalian karena telah menyempatkan waktu membaca fanfic saya

RnR please ^^