"Sini. Di sini," ujar Rara seraya menunjuk lantai yang sedang ia pijak. Chanyeol menatap gadis ini tidak mengerti. Apa yang maksudnya disini?
Rara menghembuskan napas, "Di sini, tadi ada seseorang di sini," Rara kembali menunjuk lantai.
"Seorang pria. Aku tidak tahu ia masuk dari mana. Tetapi wajah kalian sangat mirip. Aku pikir itu saudaramu. Ya, walau aku tidak tahu pasti. Tapi benar-benar mirip! Hanya berbeda di warna rambut saja. Dan ketika aku ingin mengambilkannya minum pria itu menghilang," jelas Rara. Lalu Rara kembali menatap Chanyeol.
Dan merasa itu pilihan yang salah karena setelah itu ia melihat wajah Chanyeol yang menegang dengan rahang yang terkatup.
Demi Detektif Kogoru Mouri yang selalu tertidur, wajah Chanyeol sangat menyeramkan saat ini!
OoO
"Sepertinya kau baru saja melakukan kunjungan keluarga," ucap Lenata pada seorang pria yang saat ini berdiri disampingnya, dengan tangan yang sedang mengiris apel dihadapannya. Sedangkan pria itu hanya tersenyum sinis.
"Merasa bahagia? Ya, anggap saja ini hadiah atas kebebasanmu," lanjut Lenata seraya menyuapkan seiris apel. Tetapi apel itu sudah lebih dahulu di gapai oleh pria disampingnya. Dan dengan seenaknya memakan tanpa izin.
"Kau berbeda jauh dengannya. Setidaknya ia masih mempunyai sopan santun," dan pria disampingnya tertawa.
"Aku tidak perlu sopan santun untuk membunuh," ujar pria ini santai.
"Ya, kau benar.."
"Dan.. acara kunjunganku berjalan dengan buruk karena aku tidak bertemu dengannya,"
"Kakak yang malang. Bahkan adikmu sendiri tidak ingin melihat wajahmu," ejek Lenata.
"Ya.. walau tidak bertemu. Setidaknya aku mendapatkan gantinya. Kau tahu apa?" tanya pria ini pada Lenata. Sedangkan Lenata hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu. "Aku– bertemu –dengan–si –pembawa–cahaya," lanjut pria itu dengan menekan setiap kata yang ia ucapkan. Tangan Lenata seketika berhenti melakukan aktifitasnya.
"Apa yang kau katakan padanya?" tanya Lenata.
"Aku hanya menitipkan salamku pada adik kecilku yang sudah lama melupakannku. Sepertinya ia tidak tahu bahwa adikku mempunyai saudara kembar. Itu terlihat jelas dari ekspresinya,"
"Jangan dekati gadis itu!" ucap Lenata dengan penuh penekanan.
"Mengapa? Jika aku bisa membunuhnya, Senra akan memuji kesetianku," Lenata bangkit dari kursinya, dan dengan cepat mengarahkan pisau yang ia genggam tepat di leher pria itu.
"Karena jika kau menyentuh gadis itu, akan aku pastikan kau akan pergi menyusul gadis itu. Jadi, pada akhirnya tidak ada pujian dan penghargaan untuk jasadmu!"
"Dia milikku. Senra memerintahkanku untuk membunuhnya. Jadi dia milikku, hanya aku yang boleh membunuhnya. Tanpa seizinku, akan ku pastikan orang bernasib sama dengan apel itu." peringat Lenata lalu menjauhkan pisau itu.
"Jadi ingat itu, Elden Park!" dan Lenata melangkah menjauhi pria itu –Elden- kakak dari teman lamanya Chanyeol.
"Kau tidak akan membunuh gadis itu. Kau terlalu pengecut untuk melakukan hal itu,"
"Kita lihat saja nanti," ucap Lenata tanpa melihat atau menghentikan langkahnya.
"Kau menyukai adikku, Park Chanyeol. Dan kau tidak akan berani merusak hal yang membuatnya bahagia. Kau pikir aku idiot?" tanya Elden, "Lihat, kau bahkan menghentikan langkahmu ketika aku menyebutkan namanya," senyum kemenangan menghiasi wajah Elden.
"Kau memang harus benar-benar belajar sopan santun, Elden Park."
OoO
"Kau hobi membuat orang pingsannya?" tanya Claryn dengan nada mengejek. Lalu mendapat sikutan dari pria disampingnya –Andreas-, "Apa?! Aku benar bukan?!" pria disampingnya menggeleng tanda bahwa itu tidak benar.
"Kenapa kau membawa kesini? Ku pikir kau ingin menjauhkan gadis ini dari ingatan masa lalunya,"Ujar Andreas membuka suaranya ketika keheningan terjadi diantara mereka berempat –termasuk gadis yang pingsan itu-. sedangkan yang di tanya hanya diam. Pria ini terus menatap gadis yang sedang terbaring tidak sadarkan diri. Pria ini menggeleng sejenak.
"Aku harus membawanya, Hyung. Tidak ada pilihan lain. Elden sudah bebas, dan aku tidak ingin ia mengancam gadis ini," jawab pria ini.
"Apa tidak semakin berbahaya? Kau memasuki wilayah yang mudah di gapai oleh si iblis itu, Chanyeol," Chanyeol mengangguk. Ia yakin ini akan baik-baik saja. Chanyeol bangkit dari ranjang yang sedari tadi ia duduki. Lalu menatap kedua orang dihadapannya.
"Aku harus pergi." Alis Andreas dan Claryn bertaut. Menatap Chanyeol bertanya.
"Kembali ke apatermant. Ada yang harus aku urus, dan..." ucapan Chanyeol mengantung. Lalu menatap gadis yang terbaring itu sendu.
"Tolong jaga ia. Aku mohon. Demi penungguanku selama ini, aku mohon jaga ia."
OoO
Chanyeol menatap pria dihadapannya dalam keheningan di antara mereka. Pikirannya berkecamuk harus melakukan apa pada pria dihadapannya.
"Kau datang lebih cepat dari dugaanku," seringai terlihat jelas dari wajah Elden, "Karena gadis itu?"
"Apa itu penting?" tanya Chanyeol pada Elden. Seringai itu masih terpasang dengan baik di wajah pria itu.
"Kau sudah berubah, adikku," tukas Elden seraya memutar telunjuknya disekitaran bibir gelas.
Chanyeol tidak menanggapi ucapan Elden.
"Kau bahkan tidak menanggapi ucapanku. Apa kau tidak rindu dengan, Hyung-mu ini?" Chanyeol mendengus. Yang benar saja ia merindukan iblis dihadapannya ini. Buat apa merindukan seseorang yang tega menghabisi keluarganya sendiri.
"Lupakan tentang kata rindu. Aku lebih menginginkan kau kembali ke neraka,"
"Sekalipun kau sudah berubah menjadi si penyihir baik. Tetap saja jiwa kegelapan masih tersisa didirimu. Jangan sia-siakan hal itu. Senra masih membutuhkanmu," Chanyeol tersenyum miris. Begitu besarkah eksistensinya di dunia kegelapan hingga mereka selalu memintanya kembali? Ini sudah lima ratus tahun berlalu dan mereka tetap sama. Memintanya kembali ke dunia yang sudah ia janjikan tidak akan pernah ia datangi.
"Hapus saja harapan itu mulai saat ini. Aku tidak akan kembali. Lima ratus yang lalu, sekarang, atau yang akan datang, " ujar Chanyeol dengan nada mengejek, "Jadi berhentilah berharap mulai saat ini,"
"Kau merelakan keluargamu untuk gadis sialan itu?" pertayaan Elden sukses membuat Chanyeol mengepalkan tangannya.
"Ini tidak ada hubungannya dengan gadis itu. Dan jangan pernah menyebutnya seperti itu." tukas Chanyeol penuh penekanan.
OoO
"Bunga Eldeweis? Bagaimana bisa?" gadis ini menatap pohon Eldeweis dihadapannya tidak percaya, "Ini bukan di puncak gunung," Rara menyentuh bunga yang dapat ia gapai.
"Demi Chanyeol yang tinggi menjulang. Bunga ini hanya ada di puncak gunung!"
"Apa yang sedang kau lakukan?" Rara menghentikan aktifitasnya. Lalu berbalik menghadap seseorang yang sepertinya bertanya padanya.
"Kau siapa?" tanya Rara.
"Aku pemilik rumah ini. Perkenalkan, namaku Andreas," pria dihadapannya mengulurkan tangan.
"Namamu bukan Andreas. Namamu Junmyeon bukan? Kim Junmyeon? Tapi orang sering memanggilmu Suho. Karena kau memiliki sifat malaikat," lalu mengelengkan kepalanya pelan. Tersadar dari ucapannya yang melantur. Hah.. kenapa kebiasaan aneh ini keluar.
"Maafkan aku. Ini suatu keanehan dalam diriku. Terkadang aku bisa berbicara di luar apa yang aku pikirkan. Sekali lagi maafkan aku," Rara menundukan kepalanya beberapa kali tanda ia meminta maaf.
"Tidak apa. Itu bukan suatu keanehan.." Rara menatap pria dihadapannya aneh. Bukan suatu keanehan? Yang benar saja.
"Kau sudah ketemu rupanya. Chanyeol mencarimu sedari tadi. Hah.. harusnya kau melihat wajah paniknya karena tidak menemukanmu," ujar seorang wanita dari balik punggung Suho.
Sedangkan seseorang yang disebutkan namanya hanya berjalan dengan bersidekap dada disamping gadis itu. Ah.. jangan lupakan wajah muramnya. Wajah yang paling Rara benci dari pria itu.
"Hallo.. namaku Claryn. Woah.. kau sangat cantik. Pantas Chanyeol mengilaimu secara berlebihan," blushh. Semburat merah terlihat di pipi Rara. Sedangkan Claryn hanya tersenyum melihat perubahan ekspresi gadis itu.
"Lihat. Kuping Chanyeol sama merahnya dengan wajah Rara." Ucap Suho seraya menunjuk telinga Chanyeol.
"Nuna, Hyung. Berhentilah. Ini tidak lucu," dengus Chanyeol seraya berjalan ke arah Rara. Lalu, menarik pergelangan gadis itu paksa, dan menjauhi kedua orang menyebalkan itu.
"Hati-hati, Rara. Jika ia macam-macam tarik saja kuping caplangnya. Setelah itu dia pasti akan diam," teriak Claryn ketika melihat Chanyeol membawa masuk gadis itu kembali ke rumah.
"Hentikan. Apa kau tidak melihat mereka sudah seperti buah ceri saat ini?"
"Biarkan saja. Ini pembalasannku karena Chanyeol selalu usil padaku."
OoO
Chanyeol menatap gadis duduk dihadapannya gusar. Demi semua sumpah konyol yang selalu gadis ini ucapkan, gadis dihadapannya ini membuatnya merasa ingin menjatuhkan diri ke jurang. Ia mencari ke segala tempat setelah tahu gadis ini menghilang dari kamar yang gadis itu tempati.
Chanyeol bangkit dari tempat duduknya.
Tapi ini juga karena kebodohannya. Ia melupakan bahwa gadis ini sangat menyukai bunga Eldeweis. Jadi tidak mungkin gadis ini berdiam diri jika ada bunga yang gadis ini gilai dihadapannya.
Rara meneguk ludah perlahan. Tatapan Chanyeol padanya sangat horror, ia tidak tahu apa yang sedang pria itu pikirkan.
"Jangan lagi-lagi membuatku seperti ini," pria itu membuka suara.
"Aku hanya berkeliling. Dan kulihat tidak terjadi apa-apa pada dirimu," komentar Rara seraya melihat pria yang berdiri dihadapannya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Chanyeol mendengus. Tidak apa-apa bagaimana? Ia bahkan sampai berpikir tidak-tidak ketika tahu gadis ini menghilang.
"Apapun itu. Jangan seperti lagi. Kau membuatku khawatir," blush semburat merah kembali menghinggapi wajah gadis ini.
"Chanyeol-ah. Kita ada dimana?" tanya Rara mengalihkan pembicaraan, lalu bangkit dari kursinya. Berjalan mendekati jendela, lalu menyadarkan kedua tangannya yang di lipat di jendela. Sebagai penopang dirinya.
"Aku tidak pernah tahu ada bunga eldeweis yang bisa tumbuh dipekarangan rumah. Ini sangat ajaib kau tahu?" ucap Rara seraya menoleh ke arah Chanyeol. Chanyeol mengangguk, setuju dengan ucapan gadis itu.
"Sebenarnya dimana kita?" tanya Rara kembali. Merasa pertanyaan sebelumnya diabaikan.
"Diduniaku," jawab Chanyeol yang kini sudah berada disampingnya. Rara memutar bola matanya.
"Duniaku dalam versimu sama dengan duniaku juga bukan?" Rara menengadahkan kepalanya. Melihat pria yang berbeda dua puluh centi darinya. Dan menyesal karena seketika ia menjadi amat sangat sulit mengapai oksigen.
"Aku tahu, aku tampan," Chanyeol menoleh kearah gadis itu dan menyadari betapa kecilnya gadis ini. Gadis ini terlihat kecil dan rapuh. Tapi, Chanyeol akan mengangkat ucapannya jika ia melihat kehidupan sebelumnya dari gadis ini.
"Aku tahu, aku juga cantik. Kau tidak perlu menatapku seperti itu," ucapan gadis ini menyadarkannya dari lamunan. Sedangkan gadis itu hanya tertawa pelan melihat tingkah pria itu. Dan kembali menatap taman dihadapannya.
"Iya, kau memang cantik. Seperti musim semi saat ini.." dan untuk kesekiankalinya wajahnya kembali memerah. Demi apapun ucapan pria itu tidak bisa di filter dulu ya? Dan posisi berbalik menjadi Chanyeol yang tertawa.
"Ini sedang musim panas, seharusnya. Tapi mengapa di sini musim semi?"
"Karena ini duniaku. Duniaku berbeda dengan duniamu," Rara mencibir. Sampai kapan Chanyeol akan berbicara tentang dunia pria itu dengan dunianya.
"Chanyeol. Aku tidak bercanda."
"Aku juga tidak." Rara kembali menatap pria itu. meminta penjelasan. Dan yang ia dapat hanya pria itu yang menarik pergelangannya.
OoO
Chanyeol membawa gadis itu kedunianya. Chanyeol tersenyum dengan gadis itu. Chanyeol tertawa dengan gadis itu. Dan Chanyeol... mencintai gadis itu.
"Akhh!" teriak Leana geram. Ia benci fakta-fakta yang baru saja berkelebat dipikirannya. Ia membenci hal itu. Dan ia juga membenci gadis itu.
"Kau mengambil yang menjadi milikku gadis sialan!" dan setelah itu terdengar pecahan kaca. Ya.. karena Leana melempar gelas yang sedari tadi ia pegang.
"Aku akan mengembalikanmu ketempat dimana seharusnya kau berada,"
"Dan aku pastikan itu tidak akan lama."
OoO
"Kau lihat itu?" Chanyeol menunjuk objek yang sedang ia lihat. Dan dalam sepersekian detik mata Rara membulat sempurna. Demi apapun, ini.. mimpi?
"Kau senang bunga bukan? Segala jenis bunga ad.." dan belum selesai Chanyeol berbicara gadis ini sudah pergi berlari mejauhinya. Mendekat kearah hamparan bunga-bunga di padang yang luas.
Chanyeol memasukan kedua tangannya pada saku celana. Berjalan menuju gadis itu dengan senyum yang selalu bisa gadis itu buat untuknya.
"Kau senang?" tanyanya ketika tepat dibelakang gadis ini yang berjongkok memandang sebuah bunga.
Gadis ini menoleh, dan tersenyum seraya mengangguk padanya. Dan perlu ia akui darahnya berdesir hanya karena melihat senyum gadis itu. Dan ia suka akan hal itu.
"Tapi tidak ada bunga Edelweis.." gadis itu mengumam seraya mendudukannya dihaparan bunga-bunga disekelilingnya. Dan Chanyeol mengikuti gadis itu. duduk tepat di samping gadis itu.
"Bunga Eldeweis hanya ada di rumah Suho hyung. Di semua tempat ini kau hanya akan menemukan dirumahnya," Rara menatapnya dengan tatapan seolah-olah berkata 'Bagaimana bisa?'
"Ya karena hanya dia yang mampu membawa bunga itu ke dunia ini," Rara mengangguk lalu menoleh tiba-tiba yang membuat Chanyeol terkejut.
"Dari tadi kau belum memberitahuku dimana kita. Cepat beritahu aku! Aku mau pulang..." rengek Rara. Tapi, bukannya sebuah jawaban yang gadis ini dapat. Gadis ini malah mendapat sebuah sentilan tepat dikeningnya.
"YAK!" teriak gadis ini kesal.
"Kau bodoh atau bagaimana? Aku sudah memberitahumu dimana kita. Heishh kebodohanmu benar-benar tidak bisa ditoleransi," Chanyeol bangkit dari tempat duduknya. Berjalan pergi meninggalkan gadis itu. sedangkan yang di tinggal hanya berteriak.
"YAK! PARK CHANYEOL! TUNGGU AKU!" gadis ini berlari menyusulnya dengan kaki-kaki pendeknya.
"Ish.. pelankan jalanmu. Kau tahukan seberapa panjangnya kakimu?!" dengus Rara kesal, dan tetap berusaha untuk menyamakan langkah yang kecil dengan langkah pria itu.
"Ahh iya.." ucap Chanyeol yang tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dan membuat gadis yang berjalan dibelakangnya menjadi bertubrukan dengan punggungnya.
"Untuk soal pulang ke rumah. Kau tidak perlu berkata pulang. Karena kau sudah berada di rumah." Dan ucapan pria itu sukses membuat tampang gadis ini menjadi amat sangat bodoh.
OoO
Keadaan sore ini terbilang sejuk. Ya.. jika saja Chanyeol tidak terus-menerus mengerjai Rara dengan kacang polong yang ia lemparkan ke gadis itu.
"Berhentilah kuping caplang!" tukas Rara memperingati dengan tatapan deathglarenya. Dan bukannya berhenti atau takut Chanyeol makin gencar melancarkan kegiatannya.
"Tidak mau," hanya itu yang pria ucapkan dengan senyum jahilnya. Menjahili gadis ini suatu kegiatan yang menyenangkan –untuknya.
"Kau membuat rumah berantakan!" seru gadis kesal. Yeah.. rumah ini menjadi sangat berantakan ketika pria berkuping caplang itu datang.
Tapi sepertinya itu tidak mengubah apapun. Pria itu masih saja melemparinya.
Dan ketika Chanyeol akan melemparinya kembali tangannya sudah lebih dahulu di tahan oleh Suho.
"Hentikan. Rara benar, kau membuat rumah berantakan," Chanyeol menatap gadis ini karena merasa Suho membela gadis itu. Dan benar saja, gadis meleletkan lidahnya kearahnya. Tanda gadis itu menang banyak saat ini.
"Kalian sudah aku pisahkan tapi masih saja seperti ini? Kalian benar-benar luar biasa.." desah Suho.
"Siapa suruh kau memisahkanku dengannya hanya berbeda meja yang berjarak dua meter," tukas Chanyeol acuh.
Suho mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, "Kupisahkan kalian dengan dunia berbeda tahu rasa kau!" ancam Suho.
"Ya kau benar. Pisahkan kami dengan seperti itu! Aku muak dekat-dekat pria Yoda ini," ucapan Rara sukses membuatnya mendapatkan tatapan horror dari Chanyeol. Rara mengalihkan wajahnya. Merasa seram dengan tatapan pria itu.
"Ah.. Baik aku akan memisahkan kalian seperti itu. Aku akan memisahkan kalian,"
"JANGAN!" tepat sebelum Suho menjentikan jarinya. Dan keheningan seketika menyelimuti mereka. Ah.. jangan lupakan wajah memerah Rara dan kuping caplang Chanyeol yang sudah memerah kesiakankalinya.
"Ah.. kalian terlalu munafik untuk mengakui perasaan masing-masing," Suho mengeleng tidak percaya. Dua orang dihadapannya ini, dua orang yang memiliki kepala batu yang terbatu yang pernah ia temui dihidupnya.
"Akurlah. Atau aku benar-benar akan memisahkan kalian!"
