JE T'AIME

Pairing : Yunho x Jaejoong

Genre : Romance/Friendship/A little humor

Rate : M

Disclaimer : they are not mine but this story is mine

Warning : kesalahan ejaan dan pemilihan kata, miss typo, penceritaan ngebut. Siap-siap untuk adegan *ehem ehem* Yunjae.

Mohon dimaklumi kalau ada banyak kesalahan dari kosakata dan dari segi cerita. Saya newbie disini jadi masih perlu banyak belajar. Hehehe ...

Terima kasih buat teman saya inggar dan adeknya yang sudah membantu banyak dalam proses pembuatan FF ini.

Enjoy! ^_^

Hari senin pagi jaejoong bangun lebih awal dari yunho untuk menyiapkan sarapan. Meskipun yunho tulus membantunya namun jaejoong ingin membalas budi yunho sebisanya. Jaejoong hanya bisa membuat nasi goreng yang simpel, dia sempat berpikir untuk belajar memasak untuk yunho. Karena dia memperkirakan akan cukup lama tinggal disini, dia tidak ingin hanya berpangku tangan saja.

Tiba-tiba jaejoong merasa ada sesuatu bertengger diatas bahunya, hampir saja jaejoong menyikut perut yunho karena kaget jika sang pria tampan tidak bicara.

"Jadi sekarang kau akan memasak tiap hari untukku? Kenapa tidak sekalian jadi istriku saja jae?" ucap yunho sambil menempelkan dagunya pada bahu jaejoong, memperhatikan nasi goreng diatas wajan.

Jaejoong yang jengkel mendengar penuturan konyol tersebut memukul kepala yunho dengan sendok wajan "Aigoo! Kalau kau ingin istri carilah wanita diluar sana! Mereka pasti akan segera melemparkan diri padamu!" gerutunya.

"Hmm… tapi tidak ada wanita yang secantik dirimu jae" ucap yunho.

Cup. Yunho mencuri cium pada pipi jaejoong, kemudian pergi meninggalkan dapur dengan gesit sambil cengar-cengir.

"Ya! Bagaimana bisa kau berkata begitu, begini-begini aku masih populer diantara para wanita! Dan siapa yang memberimu ijin untuk cium-cium pipiku yang berharga ini!" teriak jaejoong sambil mengacung-acungkan sendok wajan, terlihat seperti ibu rumah tangga yang meneriaki maling.

Begitu sarapan selesai, saat yunho hendak berangkat jaejoong tiba-tiba menahan yunho. Dan membetulkan dasi yunho sambil membawakan tas kerja yunho. Yunho hanya memandangi wajah jaejoong dari sudut pandangnya, alis jaejoong membingkai sempurna kedua pasang eyecat jaejoong.

"Nah.. begini kau sudah tampan. Dan ini tasmu, kau hampir lupa membawanya" ucap jaejoong sambil menyerahkannya pada yunho.

"Terima kasih jae, aku berangkat" hampir saja yunho hendak mencium pipi jaejoong, jika sang androgyny tidak menutup bibir yunho dengan telapak tanganya.

"Jika kau punya waktu untuk mencuri cium padaku, sebaiknya kau gunakan waktumu supaya tidak telat ke kantor" ucap jaejoong dengan wajah yang dibuat sekesal mungkin. Yunho hanya tersenyum kemudian segera pergi sebelum jaejoong benar-benar marah.

Setelah yunho berangkat ke kantor, jaejoong membersihkan apartemen yunho yang cukup luas, mencuci baju-baju kotor, dan menyiram tanaman. Sebenarnya yunho sudah memiliki maid bayaran yang bertugas untuk melakukan semua itu setiap hari. Namun jaejoong berkeras akan melakukan segalanya sehingga yunho tidak perlu mengeluarkan uang lagi dan jaejoong akan merasa bosan jika tidak melakukan apa-apa, dia juga tidak berniat untuk mencari pekerjaan part time karena dia tidak suka bekerja untuk orang lain. Terakhir kali jaejoong memiliki pekerjaan part time, bosnya melakukan pelecehan seksual padanya yang berakhir jaejoong memberikan bogem mentah pada wajah jelek atasanya dan jaejoongpun dipecat.

Setelah semuanya selesai, jaejoong berbelanja bahan makanan ke supermarket. Selama beberapa hari tinggal disini, jaejoong mulai mengenali daerah perumahan elit tersebut. Sebelum ke supermarket, jaejoong sempat mencari buku resep-resep masakan rumah di toko buku. Supermarket terdekat dapat dijangkau selama 10 menit dengan berjalan kaki. Sesampainya disana jaejoong mulai memilih-milih bahan-bahan yang akan digunakan untuk memasak makan malam, rencananya dia akan membuat sup ikan pedas dengan kimchi. Diapun sempat bertanya pada penjaga stand dan ibu-ibu yang kelewat ramah jenis ikan apa saja yang cocok digunakan untuk membuat sup ikan.

Setelah berbelanja, jaejoong pulang dan langsung memasak berdasarkan buku resep yang telah dia beli. Jaejoong sempat kewalahan memasak di dapur, namun berhasil membuat sup ikan pedas dengan kimchi. Dia sedikit tidak puas melihat hasil karyanya diatas meja, penampilanya memang kurang meyakinkan tapi setelah dicicipi rasanya lumayan. Jika rasanya sama mengerikanya dengan penampilanya, jaejoong berencana untuk membuangnya. Mana mungkin dia menyajikan masakan dari neraka untuk yunho yang sudah lelah bekerja.

Hari sudah gelap, dan yunho baru tiba di apartemenya.

"Aku pulang. Jae, kau memasak makan malam?" yunho berjalan menuju dapur, mencium wangi makanan.

"Oh, selamat datang yun. Aku membuat sup ikan dengan kimchi, kau belum makan bukan?" jawab jaejoong sambil menyiapkan peralatan makan.

Yunho mematung di depan meja makan, memandangi hal mengerikan diatas meja. Jaejoong yang mengerti akan ekspresi yunho segera meyakinkan sahabatnya.

"Penampilanya memang aneh, tapi rasanya lumayan. Kalau kau tidak suka, kau bisa membuangnya" ucap jaejoong mencoba terlihat biasa saja.

Demi hole jae yang masih perawan, yunho tidak akan tega untuk menyakiti jaejoong cantiknya. Yunho bahkan akan memakan tanah jika jaejoong yang memintanya.

"Tidak - tidak perlu, aku akan memakanya jae" yunho langsung duduk di kursi dimana mangkuk nasi sudah jaejoong sediakan. Setelah dicoba sup buatan jaejoong tidak terlalu buruk, dengan sedikit latihan mungkin kemampuan masak jaejoong bisa lebih baik.

"Rasanya lumayan, jae. Aku akan lebih suka jika kau lebih sering memasak ayam" ucap yunho sambil tersenyum.

Jaejoong senang sekali mendengar penuturan sang pria tampan, membangkitkan tekad jaejoong untuk belajar memasak lebih baik lagi.

"Baiklah. Aku akan mencoba sebisaku" jawab jaejoong sambil membalas senyuman yunho.

Hari-hari berikutnya mereka jalani bersama di dalam apartemen yunho. Setiap pagi jaejoong membuatkan sarapan sebelum yunho pergi bekerja. Kemudian jaejoong akan membersihkan pakaian dan seluruh apartemen, kadang belanja jika kulkas telah kosong. Sorenya jaejoong membuat makan malam untuk dimakan bersama setelah yunho pulang. Di hari libur yunho, mereka makan diluar atau berjalan-jalan di sekitar kota seoul.

Tak terasa sudah hampir tiga bulan sejak jaejoong pertama kali tinggal di apartemen yunho, dan kemampuan memasak jaejoong sudah tidak perlu diragukan lagi. Bisa dibilang jaejoong telah bermetamorfosis menjadi istri idaman. (wuahahaha!)

At yunho's office

Yunho sedang berada di ruangan yoochun setelah mendiskusikan pekerjaan mereka.

"Jidat, aku pulang duluan ya. Hasil evaluasi meeting tadi pagi tolong kau berikan pada tiffany" ucap yunho, sambil bersandar duduk diatas sofa. Setelah hampir 3 tahun bekerja di perusahaan ini, yunho telah memiliki kedudukan yang cukup tinggi untuk ukuran pria seusianya dan yoochun merupakan salah satu pegawai bawahan yunho saat ini.

"Akhir-akhir ini kau selalu pulang tepat waktu, yun. Biasanya kadang kau lembur atau makan diluar bersama karyawan lain" ucap yoochun menopang dagu dengan kedua tanganya di atas meja kerja.

"Hmm.. apa kau berubah karena mendapat promosi atau… ada seseorang yang menunggumu di rumah?" lanjut yoochun tersenyum jahil. Yoochun adalah satu-satunya orang yang tau keberadaan jaejoong di apartemen yunho, dan juga satu-satunya orang yang tau perasaan yunho terhadap jaejoong. Bukan karena yunho yang terang-terangan curhat padanya, namun insting seorang playboy flamboyant yang sudah merasakan berbagai macam jenis cinta. (ceillaaaahhhh…)

Dan siapa sangka, yoochun adalah orang yang menyarankan yunho untuk mengungkapkan cintanya pada jaejoong saat kelulusan high school. Yoochun hanya tidak mau yunho menyesal karena tidak dapat mengungkapkan perasaanya yang tulus pada orang yang dicintai sebelum berpisah.

"Ehmm.. tidak seperti itu.." ucap yunho sambil menghindari kontak mata dari yoochun karena menahan malu. Yoochun tidak tahan melihat yunho yang malu-malu kucing seperti ini, yoochun tau yunho bukanlah tipe lelaki pemalu, malah yunho merupakan lelaki tegas dan sangat bertanggung jawab yang pernah dia kenal. Ditunjang dengan perawakan yunho yang tinggi besar dan tegap, tubuh yang telah berlatih hapkido selama bertahun-tahun, menambah kesan wibawa pada diri yunho. Namun yunho masih ramah seperti dulu, diseimbangkan dengan kebijaksanaan yang tumbuh dalam dirinya selama bertambahnya usia.

"Hei yun, apa dia memasak untukmu?" Tanya yoochun.

"Ya" jawab yunho.

"Apa dia membersihkan baju-bajumu dan membantumu merapikan penampilanmu?" Tanya yoochun lagi.

"Hah? Bagaimana kau tau?" yunho mulai bingung. Yunho tidak pintar mengenakan dasi, namun akhir-akhir ini dasinya bertengger dengan rapi. Dan kebiasaan yunho pulang tepat waktu untuk makan malam di rumah adalah cukup bukti bagi mata jeli yoochun.

"Hahahah! Ayolah, yun. Selama tiga bulan ini secara tidak langsung jaejoong telah menjadi istrimu! Hanya satu kewajiban saja yang tidak dia lakukan sebagai istri" tawa yoochun.

Yunho yang mengerti maksud dari kata 'kewajiban' dari ucapan yoochun mulai membelalakkan matanya dan semburat merah muncul di telinganya. Yoochun yang melihatnya menyadari sesuatu.

"Ah.. apa jangan-jangan kalian sudah melakukanya?" Tanya yoochun tak percaya.

"Tidak! Ka – kami belum melakukanya" jawab yunho kelabakan.

Melihat tingkah atasanya yoochun mulai jengah.

"Ayolah yun! Bisakah kau lebih tegas dalam meyakinkan cintamu pada jaejoong? Apakah perlakuanya selama ini tidak cukup membuktikan bahwa perasaan kalian sebenarnya sama?" ucap yoochun.

"For god's sake! Jae itu pria! Pria normal mana yang mau melayani pria lain dalam urusan rumah tangga. Lebih-lebih membantu pria lain untuk merapikan penampilan!" lanjutnya.

Sepertinya orang yang paling pintar diantara mereka bertiga dalam urusan asmara hanyalah yoochun seorang. Jaejoong terlalu gengsi dengan mempertahankan kenyataan bahwa dia adalah lelaki normal yang hanya menyukai wanita dan tidak mungkin untuk menjadi seorang bottom. Dan yunho terlalu tidak percaya diri pada cintanya terhadap jaejoong yang terlihat bertepuk sebelah tangan.

Yunho mencerna kata-kata yoochun dengan tingkat keseriusan maksimal, selevel keseriusan siswa yang sedang menjalani ujian masuk universitas.

Yunho berjalan di lapangan parkir masih memikirkan ucapan yoochun, mengendarai mobil masih memikirkan ucapan yoochun, dan tiba di depan gedung apartemen pun masih memikirkan ucapan si jidat.

"Jae, aku pulang" yunho membuka pintu apartemen. Namun tidak ada sambutan selamat datang dari jaejoong dan tidak ada makan malam yang tersaji diatas meja. Yunho mulai merasakan ada yang tidak beres pada jaejoongnya.

Saat yunho mencari jaejoong ke ruang tv, dia melihat jaejoong sedang menonton tv sambil meringkuk dan menekuk lutut diatas sofa, wajahnya diletakkan diatas kedua lututnya. Meskipun tv menyala di depanya, namun yunho dapat melihat mata jaejoong yang kosong.

Yunho berdiri di depan jaejoong, namun jaejoong masih tak bergeming. Lalu yunho mulai berlutut di depan jaejoong, sehingga wajah keduanya berhadapan.

"Jae, apa yang terjadi?" Tanya yunho lembut, hampir seperti bisikan. Jaejoong masih diam.

"Jae, bicaralah. Aku akan selalu disampingmu apapun yang terjadi" yunho mulai membelai wajah pucat jaejoong dengan lembut. Yunho bisa melihat betapa kontras warna kulit tannya diatas wajah jaejoong yang begitu putih. Namun tiba-tiba ada cairan bening yang mengalir dari sudut mata jaejoong.

"Jae.." yunho terkejut.

"Yun.." akhirnya mata jaejoong bergerak, menatap yunho dengan nanar.

"Tadi siang temanku dari gwangzu menghubungiku. Dia bilang ayahku menghapus namaku dari riwayat keluarga kami. Aku…" suara jaejoong makin bergetar.

"Apakah aku begitu mengecewakan hingga mereka tega melakukanya?" jaejoong memandang yunho dengan mata bergetar.

"Aku sudah tidak punya keluarga lagi.. aku sendirian.." alis jaejoong bertaut, tumpah sudah seluruh air matanya. Jaejoong menangis tanpa suara, harga dirinya memaksanya untuk tidak meraung saat itu juga meskipun di depan sahabatnya, namun air mata terus mengalir tanpa henti ke pipinya. Jaejoong menggigit bibir bawahnya dengan rapat agar tidak ada isakan yang keluar, begitu rapat sampai bibirnya hampir terluka. Dadanya terasa sesak menahan seluruh beban ini, tubuhnya bergetar hebat.

Yunho langsung memeluk tubuh kecil jaejoong ke dalam dekapanya. Tubuh jaejoong begitu kecil, sehingga tubuh yunho mampu untuk merengkuh tubuh jaejoong seluruhnya. Jaejoong merasa hangat di dalamnya, bagai hewan liar yang tertidur di dalam goa yang aman.

"Kau tidak akan pernah sendirian. Kau masih bisa memiliki keluarga, kau bisa masuk ke dalam keluarga Jung. Kita berdua bisa menjadi keluarga" ucap yunho berbisik di telinga jaejoong, yunho masih tidak percaya ayah jaejoong tega melakukan ini pada anaknya. Mendengar perkataan yunho, jaejoong menelusupkan wajahnya ke dada yunho dan menangis terisak-isak. Berharap dengan begitu tangisannya tidak akan terdengar. Namun yunho masih bisa mendengar tangis memilukan di dadanya yang telah basah oleh air mata jaejoong.

Yunho mencium puncak kepala jaejoong dengan sayang. Tubuh jaejoong masih sedikit bergetar dengan sedikit isakan saat yunho menangkup wajah jaejoong dan mencium keningnya turun ke mata, hidung lalu pipi jaejoong. Melihat jaejoong hanya pasrah dan tidak ada perlawanan, yunho meneruskan ciumanya ke bibir jaejoong. Tangan yunho turun dari bahu ke pinggang kecil jaejoong, dan kedua tangan jaejoong terdiam diatas kedua bahu yunho saat mereka berciuman.

Berawal dari kecupan kecil, yunho mulai menjilati bibir jaejoong mencari jalan untuk masuk ke dalam mulutnya. Salah satu tangan yunho berpindah dari pinggang jaejoong untuk mengusap sudut bibir jaejoong dengan jempolnya.

"Aaahh…". Akhirnya jaejoong membuka mulutnya sedikit, lidah yunho menelusup kedalam goa hangat tersebut, menjilat tiap sudut mulut jaejoong kemudian mengisapnya sedikit. Decakan dan hisapan menggaung di ruangan tersebut.

Tangan jaejoong menelusup pada helai-helai rambut yunho, menarik kepalanya untuk memperdalam ciuman keduanya.

"Ngghhh.." jaejoong melenguh, yunho ternyata adalah pencium yang ulung. Jaejoong dibuat melayang hanya karena sebuah ciuman.

Desahan jaejoong membuat penis yunho ereksi. Dan tubuh jaejoong seakan mengatakan bahwa keduanya sama-sama ingin bercinta. Tangan yunho mulai menelusup ke dalam baju jaejoong meraba perut dan dadanya. Yunho bisa merasakan betapa lembutnya kulit jaejoong dalam sentuhanya. Yunho ingin merasakan tubuh jaejoong, tangannya yang bebas dia masukkan ke dalam boxer jaejoong dan menggesek penis jaejoong dengan tanganya.

"Yunhh… jangan…" jaejoong mendesah setelah melepas bibirnya dari ciuman yunho. Dia tau yunho akan bercinta denganya, namun jaejoong masih tidak yakin akan perasaanya pada yunho.

"Jae.. please.. aku mencintaimu.." yunho berbisik sambil menciumi rahang jaejoong, kemudian menjilat telinga sensitive jaejoong. Tanganya menangkap pinggul jaejoong dan menempelkan tubuh keduanya saat jaejoong hendak melepaskan pelukanya.

Yunho terus membisikkan kata-kata cinta di telinga jaejoong sambil menciumi rahang dan leher jaejoong. Tanganya kembali meraba penis jaejoong, tubuh jaejoong lemas dalam pelukanya. Runtuhlah seluruh pertahanan yang telah jaejoong bangun selama ini untuk menghalau perasaan yunho padanya. Meskipun jaejoong ingin menghentikan yunho, namun tubuhnya tidak bisa menahan kekuatan yunho.

Yunho menidurkan jaejoong diatas karpet tebal di sebelah sofa dan mulai melepaskan pakaian jaejoong satu persatu, jantung yunho berdetak kencang melihat tubuh indah jaejoong. Tanganya terus meraba tubuh jaejoong dari dada, pinggang, pinggul hingga paha dalam jaejoong. Semuanya terasa lembut bagai hamparan kain sutera dan jaejoong memandang yunho dengan mata sayu. Yunho terus memandang bola mata kelam jaejoong yang bagaikan pusaran air laut dalam seakan menenggelamkan yunho didalamnya.

Tubuh jaejoong tidak lagi mengalami malnutrition seperti dulu, tulang rusuknya tidak lagi mencuat dari dalam kulitnya. Tubuh dan pahanya sedikit berisi meskipun tergolong kurus berkat kehidupan sehat yang jaejoong jalani bersama yunho.

Yunho melepaskan seluruh bajunya sambil terus saling bertatapan dengan jaejoong. Yunho bisa melihat birahi dalam mata jaejoong, sehingga dia tidak ragu untuk melakukan hal yang ingin dia lakukan bersama jaejoong sejak lama. Making Love.

Setelah yunho melepaskan seluruh pakaian dan celananya, Jaejoong sedikit terkesima dengan tubuh yunho, sudah bertahun-tahun lamanya jaejoong tidak melihatnya. Kulit yunho masih tan sama seperti dulu, namun bahunya semakin lebar dan dadanya semakin bidang. Tubuh yunho yang jaejoong ingat adalah tubuh yang ramping meskipun ada otot yang tumbuh berkat hapkido.

Namun yang jaejoong lihat sekarang adalah seorang pria dewasa dengan tubuh berisi, pinggang besar, lengan dan paha yang kokoh. Mengingatkan jaejoong akan nelayan yang bekerja menarik jaring ikan dengan tubuh topless dan otot-otot yang mencuat saat dia masih di gwangzu. Setiap bagian tubuh yunho menjadi besar, oh dan jangan lupakan kesejatian yunho yang besar, panjang, dan berwarna gelap. Bagaimana bisa benda sebesar itu memasuki tubuhnya?

Yunho menurunkan tubuhnya untuk mencium bibir merah jaejoong yang telah bengkak dan masih berair. Yunho masih memberikan French kiss saat tanganya meraba dada jaejoong kemudian memainkan puting jaejoong dengan jari telunjuknya.

"Aaahhh…" jaejoong mendesah nikmat di sela-sela ciuman mereka. Yunho kembali mencium bibir jaejoong dalam hingga saliva mengalir dari sudut bibir jaejoong. Yunho menghentikan ciumanya, melihat jaejoong meraup udara lewat mulutnya yang terbuka dan basah oleh saliva. Ini adalah pertama kalinya yunho melihat jaejoong seperti ini, dan dia sangat menyukainya membuat penisnya semakin tegak berdiri.

Yunho menjilati putting kanan jaejong, kemudian menghisapnya layaknya anak yang menyusu pada ibunya. Tanganya memainkan penis jaejoong yang telah tegak.

"Aahh… ngghh…" jaejoong kembali mendesah lagi, badanya menggeliat resah. Merasakan perasaan asing dalam dadanya, namun juga nikmat. Dia baru pertama kali ini merasakanya. Selama ini dia sudah beberapa kali dia bercinta dengan banyak wanita dan dia tidak pernah merasa senikmat ini, namun juga bagai berjalan diatas benang tipis, merasa tidak berdaya dalam kungkungan yunho.

Bibir yunho mengecupi perut datar jaejoong kemudian tanganya membuka kedua paha jaejoong sehingga terpampanglah hole virgin jaejoong yang berwarna pink kecoklatan. Yunho tidak percaya bahkan hole jaejoong pun seindah orangnya, dia ingin sekali memasukkan jarinya kedalam hole jaejoong.

Yunho ingin melakukan pemanasan pada hole jaejoong, namun dia tidak memiliki lube atau pelumas. Ini adalah pertama kalinya yunho bercinta dengan pria, yunho pernah bercinta dengan beberapa kekasihnya, namun wanita tidak perlu pelumas. Kemudian yunho melihat segelas air putih diatas meja, dan segera menuangkan sedikit air di telapak tanganya lalu menarik hole jaejoong dengan jarinya agar terbuka sedikit. Lalu menuangkan air tersebut dengan jarinya, hanya sedikit yang masuk ke dalam hole jaejoong. Yunho lalu memasukkan jari tengahnya kedalam hole jaejoong perlahan.

"Nghhh..?" jaejoong mendesah, alisnya bertaut merasa tidak nyaman ada benda asing yang memasuki holenya.

"Jae, sakit?" Tanya yunho khawatir.

"Haa.. tidak.. haa.. hanya aneh saja.." ucap jaejoong memandang wajah yunho yang berada diantara selangkanganya. Keringat membasahi pelipisnya.

"Aku akan masukkan satu jari lagi. Katakan bila sakit" ucap yunho. Jaejoong hanya mengangguk sambil memejam. Yunho yang sedang menatap holenya dan memasukkan jarinya satu persatu cukup membuat pipinya memerah.

Akhirnya yunho mampu memasukkan tiga jarinya, kemudian mencoba menggerakkanya didalam hole jaejoong. ketiga jarinya keluar masuk secara perlahan, sambil mencari letak prostat jaejoong.

"Aaangghh!" tiba-tiba jaejoong mengerang saat tiga jarinya mengelus bagian dalam hole jaejoong yang sedikit keras. Merasa berhasil menemukannya, yunho terus mengelus dan menekan bagian yang sama hingga kedua kaki jaejoong makin mengangkang lebar dan bergetar.

"Uuuuuhh.. yunnnn.." jaejoong mendesah dan tubuhnya melengkung keatas menahan kenikmatan yang mendera tubuhnya. Yunho sudah tidak tahan, lubang penisnya telah mengeluarkan cairan bening pre-cum. Dengan segera yunho melumurkan air dari dalam gelas keseluruh penisnya yang ereksi dan mengocoknya sedikit. Satu jarinya melebarkan sedikit hole jaejoong lalu menggesek sedikit kepala penisnya di hole jaejoong agar cairan pre-cumnya dapat melicinkan jalan masuk penisnya.

Kemudian yunho mulai memasukkan kesejatiannya kedalam hole jaejoong. Saat kepala penisnya telah masuk, jaejoong mengerang sakit. Alis jaejoong bertaut menahan sakit, setitik air mata mengalir dari sudut matanya.

"Jae, bertahanlah sebentar.." yunho mencoba menenangkan jaejoong dengan mengusap-usap pinggang jaejoong.

Yunho kembali mendorong penisnya perlahan-lahan, kemudian mendesak penisnya sehingga seluruhnya telah berada dalam hole jaejoong.

"Sssshhh.. jae.. kau sungguh hangat dan ketat, sayang.."

Tubuh jaejoong sangatlah nikmat, lebih nikmat dibandingkan sex dengan kekasih-kekasih yunho digabung menjadi satu. Yunho menumpu tubuhnya dengan kedua lenganya diatas tubuh jaejoong. dia bisa melihat jaejoong memejam, bibir merahnya terbuka meraup udara dan tubuhnya bersimbah keringat.

Yunho mulai menggerakkan penisnya perlahan didalam hole jaejoong. kedua tangan jaejoong memeluk bahu yunho mencari perlindungan. Sebenarnya jaejoong merasa takut tapi juga berhasrat ingin melakukanya bersama yunho. Setelah tubuh jaejoong terbiasa, yunho mempercepat gerakan penisnya semakim dalam.

"Aaahhh... yun…" jaejoong kembali mendesah nikmat menatap sang pria perkasa diatasnya. Yunho memberikan ciuman dalam pada bibir jaejoong yang terbuka dan masih mendesah. Pinggulnya masih bergerak menumbuk hole jaejoong, mencari sweet spot jaejoong. Yunho tidak ingin pada pengalaman pertama mereka berdua, jaejoong hanya merasakan sakit, yunho ingin jaejoongpun menikmati making love bersama yunho.

Jari-jari yunho memainkan kedua putting jaejoong yang berdiri dari dada ratanya. Penis jaejoong menggesek-gesek perut yunho tiap yunho menumbuk hole jaejoong. perut keduanya telah basah oleh pre-cum jaejoong yang terus mengalir.

Jaejoong merasakan gelombang kenikmatan yang begitu hebat, kedua kakinya menjepit pinggang yunho dan mulai mengocok penisnya sendiri.

"Anghh.. aghh.." jaejoong meraung nikmat, peluh membasahi tubuhnya dan tubuhnya mengejang, cairan putih membasahi perutnya.

Melihat jaejoongnya terlihat seksi dan penuh birahi, membuat penis yunho membesar dalam hole jaejoong. yunho semakin cepat menumbuk penisnya kedalam hole jaejoong menimbulkan suara decakan dan akhirnya yunho memuntahkan benih-benihnya kedalam hole jaejoong.

Tubuh jaejoong bergetar merasakan cum yunho yang hangat mengalir kedalam tubuhnya. Rasanya sangat panas dan dadanya berdegup kencang.

Yunho kembali mencium bibir jaejoong, namun kali ini dengan lembut. Penisnya masih berkedut didalam hole jaejoong.

Jaejoong masih memeluk bahu yunho, namun kali ini sambil mengelus-elus punggung lebar yunho yang telah basah oleh keringat. Jaejoong benar-benar merasa lelah, meskipun tubuhnya telah puas merasakan nikmat. Kemudian jaejoong tertidur di bawah pelukan yunho.

Melihat sang pujaan hati tertidur kelelahan, yunho menggendongnya bridal style kedalam kamarnya. Kemudian mengambil handuk kecil dan air hangat untuk membersihkan tubuh jaejoong yang lengket. Yunho mengelap seluruh tubuh jaejoong dengan lembut dan hati-hati seakan jaejoong adalah benda yang mudah pecah. Setelah selesai, yunho menutup seluruh tubuh jaejoong dengan selimut tebal. Kemudian dia memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.

Keesokan harinya, jaejoong terbangun dengan sedikit bingung karena dia tertidur di kamar yunho. Selama ini mereka tidur di kamar yang terpisah. Namun mengingat kejadian tadi malam tidak heran jika yunho membawa jaejoong ke kamarnya. Jaejoong memandang pria tampan yang tidur disebelahnya dengan mulut terbuka dan masih tidak percaya bahwa tadi malam lubang pantatnya dimasuki oleh penis yunho. Bagaimana bisa aku menyerahkan diriku begitu saja pada seorang pria?, pikir jaejoong.

Yunho mungkin berharap kejadian tadi malam menunjukkan bahwa cintanya pada jaejoong selama ini telah terbalas. Berbeda dengan yunho, jaejoong mencoba meyakinkan dirinya bahwa selama ini dia masih merasa berhutang budi pada yunho. Namun karena dia tidak memiliki uang ataupun jasa yang bisa diberikan, akhirnya dia menyerahkan tubuhnya pada yunho. Hanya tubuhnya, tidak beserta hatinya.

TO BE CONTINUED

Thanks to :

AprilianyArdeta| Kuminosuki |jungnara2602| kim anna shinotsuke| littlecupcake noona| elfsissy701| ruixi1| RinatyaJoYunjae Shipper| | Hiruzent.1| YunJaeAFA| liangie

Gomawo ne, buat review kalian semua. Saya terharu banget ; ^ ;

Gimana adegan NC nya reader-deul? Semoga tidak mengecewakan ya... saya all out banget saat membuat NC nya... (emang author yadong) *ditabok jaema.

Untuk chapter selanjutnya saya sempat berpikir untuk menunggu sampai selesai bulan puasa, karena bisa dibilang di chapter-chapter depan akan ada adegan *ehem ehem* bertebaran. Hehehe... ^_^'

Tapiiiiiii... itu juga tergantung maunya reader semua ...

Jangan lupa RnR ne ...