#2 Chapter Two

"ShiZaya's Family"

Shizuo membuka matanya. Ah, ini sudah siang. Tapi toh tidak apa-apa, lagipula Tom hari ini memberinya libur. Shizuo meregangkan lehernya yang terasa penat, dia tidur sambil duduk bersandar di dinding ruang tengah. Dan... "Heck!" umpat Shizuo pelan melihat dua makhluk yang menginap dirumahnya tadi malam.

Bocah bernama Akane tertidur di sofa dengan selimut membalutnya, Izaya tidur di lantai namun kepalanya tertumpu pada sofa—berdekatan dengan Akane. Sepintas jika tidur, mereka memang mirip. "Manis..." gumamnya pelan. Lalu tersadar dan hampir menjedukkan kepalanya ke dinding.

Kata 'manis' jika disandingkan dengan Akane mungkin cocok, tapi kalau diletakkan dalam satu kalimat dengan Izaya, itu lain lagi ceritanya. Malah aneh dan membuat bulu kuduk merinding.

Shizuo berlalu ke dapur, berencana membuat susu kesukaannya. Dia memang suka minum susu, bahkan walau dia sudah dewasa. Dia lalu mendengar suara langkah kaki diseret, Izaya masuk ke dapurnya, wajahnya kusut dan terlihat lelah. Padahal Shizuo lebih suka Izaya tidur, wajahnya terlihat damai, tenang dan polos.

Pria blonde itu memukul-mukul kepalanya, "Kuso! Kuso! Kuso! Apa yang kupikirkan!?" rutuknya.

"Shizu-chan..." panggil Izaya serak, "Aku minta kopi, ada?"

"Di-di rak atas sana," balas Shizuo berusaha cuek, tapi sialnya masih gelagapan.

"Hmmm..." Izaya yang memang coffe addict (kayak Author :*) kembali menyeret tubuhnya ke rak yang ditunjukkan Shizuo lalu membuat kopinya. "Shizu-chan mau kopi?" tanyanya.

"Tidak," jawab Shizuo, lalu meminum segelas susunya sampai tandas dan mencuci cangkirnya di wastafel. Dia butuh mandi, setidaknya untuk menjernihkan pikirannya. Dia kurang tidur tadi malam.

"Shizu-chan masih minum susu? Seperti anak-anak saja," what, Izaya masih punya energi untuk meledeknya. Terkutuklah kutu yang satu itu.

Shizuo menggeram lalu ngacir kekamar mandi.

Jelas saja Izaya dan Shizuo kecapekan, tadi malam mereka kurang tidur mengurusi Akane. Terlebih lagi mereka harus bersandiwara jadi orangtua Akane, dan lagi, anak itu sepertinya anteng-anteng saja memanggil 'Okaa-san' pada makhluk seperti Izaya dan 'Otou-san' pada Shizuo.

Masalahnya, Ibu itu harus penyayang dan lemah lembut. Dan catat baik-baik, kata penyayang dan lemah lembut sebaiknya tidak disandingkan dengan Izaya, minimal tidak dalam satu kalimat. Itu hal terlarang.

Dan, seorang ayah harus tegas dan berkepala dingin. Berkepala dingin tidak ada dalam kamus Shizuo. Jika ada, maka Ikebukuro akan damai tenteram tanpa harus ada kerusakan sana-sini. Dan mereka tidak habis pikir dengan Akane, dia sanggup memanggil 'ibu' pada laki-laki—dalam konteks ini, Izaya. Kenapa anak itu ada? Apa mungkin dulu sekali, di kehidupan lalu, Shizuo dan Izaya adalah suami istri yang saling mencintai?

Tidak, tidak. Tidak mungkin.

Jika saja memang iya, bagaimana mungkin mereka sampai punya anak. Mereka berdua laki-laki, ingat? Dan bahkan jika salah satu dari mereka operasi gender, mereka tetap tidak akan bisa punya anak. Mengadopsinya? Mari kita bicarakan konflik awal, sejak kapan Shizuo dan Izaya saling mencintai sampai melupakan gender masing-masing dan sanggup mengadopsi anak-anak?

Jadi, boro-boro mengadopsi anak, saling mencintai saja tidak.

Bahkan sang informan handal yang terkenal pandai itu tidak menemukan jawabannya. Jika Izaya saja tidak dapat, apalagi Shizuo. Dan lagi, mereka capek bersandiwara jadi ayah dan ibunya Akane.

"Nee, Shizu-chan," Izaya mencuci cangkirnya di wastafel, sementara Shizuo duduk di kursi meja makan sambil menghisap rokok dan bergumam 'hmmm' pelan—ngomong-ngomong dia sudah mandi—pertanda dia mendengarkan Izaya. "Sepertinya kita harus berhenti bersandiwara jadi orangtuanya Akane-chan," kata informan itu, "Kasihan Akane-chan."

Izaya merasa kasihan? Shizuo hampir tertelan rokoknya. Rupanya makhluk informan itu punya rasa belas kasihan juga, Shizuo kira tidak ada.

"Shizu-chan pasti berpikir bahwa aku bisa kasihan juga kan?" gerutu Izaya, "Jelas saja aku punya rasa kasihan, tapi kalau pada Shizu-chan, aku memang tidak pernah merasa kasihan."

Tepat. Izaya bisa menebak apa yang ada di otak Shizuo. Apakah Izaya itu seorang esper atau memang otak Shizuo yang transparan?

"Shizu-chan memang transparan."

Geh!

"Setidaknya, kita harus mencari tahu dulu tentang siapa 'orangtua' atau 'Shizuo dan Izaya' yang Akane-chan maksud," Izaya melempar senyuman sinis pada Shizuo, "Tidak mungkin benar-benar kita kan, Shizu-chan?"

Shizuo tampak melamun.

"Hmph, kuso," dengus Izaya, "Masaka... Shizu-chan benar-benar berpikir kalau kita lah 'orangtua' Akane-chan kan?"

Shizuo tersentak lalu mendeath glare Izaya, "Tentu saja tidak! Kau pikir aku mau dengan kutu sepertimu!? Lagian aku normal, tahu!"

"Yosh!" suara Izaya mengharuskan Shizuo menatap heran pada musuh bebuyutan yang bersandiwara jadi 'istri'nya itu. "Kalau begitu, kita harus menyelidiki tentang Akane-chan! Yoroshiku, Shizu-chan! Kali ini kita damai dulu yaaa~" Izaya mengulurkan tangan pada Shizuo.

"Apa boleh buat," Shizuo berjabat tangan dengan Izaya.

===_R_===

"Kau mau kemana?"

Izaya yang memasang jaketnya menatap Shizuo, "Ke supermarket," jawabnya kalem.

"Untuk?"

"Shizu-chan kepooo~"

"Urusai."

"Shizu-chan memangnya tidak sarapan?"

"Sarapan sih, tapi—"

"Kalau gitu ya udah," potong Izaya lalu ngacir, meninggalkan Shizuo yang melongo. Protozoan itu mendengus, "Ya sudahlah, bukan urusanku dia mau kemana."

"Ung... otou-san..."

"Akane-chan? Sudah bangun?" Shizuo mendekati Akane, aura ke'bapak'annya langsung keluar. (Author : kyaaaa! Papa Shizuo :*).

"Okaa-san... dimana?" tanyanya pelan sambil bangkit duduk dan mengucek-ucek matanya. Shizuo memanjatkan doa dalam hati kalau dia pengen punya anak kayak Akane.

Klek! Pintu apartemen terbuka. Sosok Izaya muncul sambil menenteng belanjaan. "Tadaimaaaa~ Okaa-san dataaaaanngg~" teriaknya dengan suaranya yang rada cempreng *sasuga Kamiya Hiroshi* *digebuk Kami-nyan*.

"Okaa-san!" Akane langsung ceria, bangkit menyambut Izaya, "Okaa-san, okaerinasai!"

"Araa~ Akane-chan sudah bangun?" ini memang Shizuo yang katarak atau apa, dia melihat aura ke'ibu'an dan penyayang menguar dari Izaya. (Author : howaaa~ Mama Izaya :*). Agak aneh dan moe-moe. Mengingat penyayang dan kata-kata sejenis itu tidak bisa disandingkan dengan sosok Orihara Izaya.

Inilah keluarga yang sebenarnya—ups, Shizuo hampir menjedukkan kepalanya lagi ke lantai.

"Akane-chan mau makan apa? Kare? Sup miso?" tanya Izaya lembut sambil menepuk-nepuk puncak kepala Akane. (Shizuo dan Author langsung nosebleed).

"Ung... kare, aku mau kare," kata anak itu riang, "Okaa-san, aku bantu ya!"

"Ha'i, ha'i..."

Selagi Izaya dan Akane sibuk memasak di dapur, Shizuo tepar di sofa dengan lubang hidung tersumpal tisu dan sirih. Ini memang keluarga harapan. Demi apaaaaaa! Izaya mendadak jadi istri dan ibu idaman! Ya tuhan tolong... Shizuo masih normal... masih normaaaaalll...

Tapi 'hampir belok', Heiwajima Shizuo...

Entah berapa lama Shizuo tepar, pria blonde itu sendiri tidak tahu. Yang ada, dia dipanggil Izaya dengan suara cempreng khasnya itu. "Shizu-chaaaaannn! Sarapan sudah siaaaaaap~"

"Woy, kutu. Mana ada sarapan makan kare?" Shizuo mengerutkan kening.

Dengan polosnya, Izaya menunjuk jam dinding, jam 12 lewat—rupanya mereka bertiga tertidur sampai siang. Ini mah sudah siang, dan apa-apaan dia bilang sarapan tadi? Merasa tidak perlu mendebat, Shizuo mengacak-acak rambutnya lalu ke ruang makan. Tatapan matanya menyiratkan, 'mana Akane-chan?'. Dan sepertinya Izaya menyadarinya.

"Oh, dia mandi dulu tadi," jawab Izaya kalem.

"Hah? Tapi dia cuma punya satu baju," kata Shizuo heran.

"Maka dari itu tadi aku membelikannya baju baru~" kata Izaya riang.

"Ooh..." Shizuo manggut-manggut maklum, "Oh ya, kerjaanmu gimana?"

Izaya menyeringai 'aneh', Shizuo langsung bergidik dan merasa menyesal menanyakan itu pada Izaya. "Tenang saja, aku sudah negosiasi untuk perpanjangan waktu jadi aku bisa santai dulu," katanya, "Aku tidak tahu Shizu-chan begitu perhatian padaku, berasa jadi 'suami' beneran ya? Jangan-jangan Shizu-chan suka sama aku ya? Fufufu~"

"Mana ada!?" bentak Shizuo, pipinya mendadak hangat.

"Lalu rona tipis di pipi Shizu-chan itu apa, hm?"

"U-urusai..."

"Araaa~ Shizu-chan gelagapan, kawaii nee... lagian sebenarnya aku tidak keberatan sama Shizu-chan kok."

"Hah? Apa kau bilang?"

Izaya tersenyum misterius, "Nande mo nai yo."

"Bohong," bibir Shizuo mengerucut.

"Memangnya kalau aku ulang, Shizu-chan mau apa?"

Tepat saat Shizuo mau membalas, Akane muncul. Sweeter hitam dan celana pendek hitam. Shizuo menganga, "Oi, Kutu. Kau ingin mendidik anak kita jadi sepertimu ya, hah? Serba hitam begitu. Memangnya Akane-chan itu Izaya chibi versi cewek?"

Terlihat sekilas rona merah di pipi Izaya saat mendengar ucapan Shizuo, malu mungkin, apalagi mengingat komponen kalimat Shizuo 'anak kita' yang didengarnya tadi—walau tahu Shizuo memang sering bicara tanpa berpikir. "Ta-tapi manis kan~" dia berusaha meriangkan nadanya, tidak ingin Shizuo menyadari kalau dia hampir lompat-lompat kegirangan, "Lagian Akane-chan juga suka kok, ya kan?"

"Uhm!" angguk Akane semangat, "Aku suka! Arigatou, okaa-san!"

"Jaa, ayo kita makan!" ajak Izaya, diikuti anggukan semangat Akane dan deheman Shizuo.

Tepat saat Shizuo hendak menyuap, dia terhenti. "Oi, kutu," panggilnya.

"Ya, Shizu-chan?" Izaya menaikkan sebelah alisnya.

"Ini kau yang masak?"

"Iya."

"Serius?"

"Tanya saja Akane-chan."

"Kau... bisa masak?"

"Bisa lah."

"Tidak kau tambahkan racun kan?"

"Ya enggaklah, Shizu-chan!"

Izaya hampir ingin melempar mangkuk kare ke Shizuo yang entah kelewat bego atau kenapa, malah memasang tampang polos. Akane hanya tertawa melihat kedua 'orangtua'nya.

Benar-benar keluarga bahagia, eh? #plak

===_R_===

family gagal kayaknya *garukin tembok* semoga reader dapet feel fluff di familynya! see ya on the next chapter

ffsssf