=========Part 2-==============

~Yukimura~

Keinginanku hari ini hanya berjalan-jalan untuk menenangkan diri dari berbagai masalah yang ada. Tapi malam ini, semua kejadian yang ada benar-benar tidak pernah terpikirkan olehku. Apalagi bertemu dengan orang yang sudah lama aku sayangi dan aku benci. "...Sanada! Lepaskan! Lepaskan!!!!" teriakku sebelum dia keluar dan mengunci pintu kamarnya.

Air mataku semakin deras. Aku bertanya pada diriku sendiri mengapa ini semua bisa terjadi. Perlahan kucoba membuka ikatannya yang berada dikakiku. Ya, dengan penuh perjuangan, aku berhasil membuka ikatannya. Sekarang tinggal tali yang berada ditangaku ini.

Ikatannya itu tidak hanya berada ditanganku tetapi mencangkup pakaian yang aku gunakan. Bagaimanapun aku mencoba, tidak ada perubahan yang ada, malah tanganku yang terasa sakit. Lelah dengan perjuangan yang ada, aku bangun dan membetulkan posisi dudukku. Kubersandar pada tembok sudut tempat tidurnya, kedua kakiku kutekuk dan tanganku berada didepannya. Aku menadahkan kepalaku ke tangaku sebagai bantal.

Ingin segera mengakhiri segala kejadian buruk hari ini, air mataku kembali mengalir. "Kenapa!!! Kenapa aku haru menangis?!! Mengapaaa!!!!" kesal dengan diriku sendiri.

Bukan rasa kesal tapi rasa sedih dan kecewa setelah melihat dan mengetahui bahwa dia adalah Sanada. Sanada yang sudah aku kenal lama, dan semuanya sudah tidak seperti dulu lagi. Kalau diingat-ingat, sudah 4 kali menangis dalam keadaan seperti ini. Yang pertama adalah saat mengetahui kegagalan operasiku yang pertama kali, kalah dipertandingan Nasional, kepergian Sanada dan pertemuan dengannya setelah sekian lama.

Sanada keluar begitu lama, dan aku merasa bosan. Kamarnya sungguh gelap walaupun dia sudah menyalakan sebuah lampu yang terdapat diatas mejanya. Aku tidak terbiasa dikegelapan seperti ini. Kamarku mempunyai lampu yang cukup terang sehingga seluruh ruangan dapat terlihat dengan jelas. "Hmph..." helaku.

Kulihat disebelahku yang terdapat sebuah album berukuran A4. Halaman depan dan belakangnya bewarna hitam dan dibagian bawah kanannya terdapat kata 'my best memories'. Ya, kata yang menggunakan huruf komputer dan tercetak dengan rapi. Kubuka halaman demi halaman. Hanya dengan cahaya yang tidak begitu terang dan cahaya bulan yang masuk, kutemukan foto saat dia masih duduk dibangku taman kanak-kanak dan Sekolah Dasar. Aku tersenyum senang melihatnya, baru kali ini aku melihat Sanada yang begitu lucu dan polos. Kutemukan juga saat dia masih berada di SMP Rikkai. Foto bersama saat kelas 1, 2, dan 3. Kami selama 3 tahun berada dikelas yang sama. Ada juga beberapa foto-foto kemenangan klub kami.

Dihalaman berikutnya, pakaian seragam yang dia gunakan bukan seragam Rikkai lagi. Seragam dari sekolah yang tidak aku ketahui. Hanya dengan melihatnya, aku merasa kesal sekali. Kuputuskan untuk menutup album itu, dan tidak sengaja aku membaliknya. Ada sehelai foto yang keluar dari album tersebut. Penasaran, kumengambilnya dan ternyata itu adalah fotoku, Renji dan dia saat pertama kali bertemu di kelas 1. Sudah lama sekali.

Kubuka lagi album tersebut dan ternyata aku menemukan berbagai macam foto lainnya. Foto saat kami mengikuti berbagai macam kegiatan sekolah bersama-sama. Ada saat study tour, menginap, dan berbagai acara pesta lainnya. Sempat aku tercengang saat melihat 1 bagian halaman yang penuh dengan fotoku dan dia! Tidak hanya itu, ada juga 1 halaman khusus berisi fotoku sendiri. Pantas saja, dia sempat meminta foto masa kecilku ataupun pas fotoku yang tersisa.

"Tidak disangka.... Sanada... ternyata kamu..." kututup album foto tersebut dengan rapi dan meletakannya kembali. Rasa kesalku semakin lama berkurang dan digantikan dengan senyuman yang terukir di wajahku. Berbagai macam rasa dan pikiran bercampur dalam pikiranku. Entah apakah ini rasa senang ataupun bahagia. Yang pastinya, aku tidak bisa berhenti tersenyum.

Sudah 2 jam, tapi dia belum kembali juga. Karena lelah, aku putuskan untuk mengistirahatkan tubuhku. Aku masih bersandar pada tembok dan kugunakan tanganku sebagai bantal. Perlahan mataku mulai berat dan memejamkan mata.

Sesaat terdengar suara beberapa orang berbicara didepan pintu. Sempat tidak aku acuhkan, tetapi aku langsung bangun saat mendengar suara pintu terbuka. Kuberharap Sanada, dan tidak akan pergi meninggalkanku lagi. Hendak aku mau memanggilnya, raut wajahku kembali menjadi pucat dan takut. Ternyata dugaanku salah besar!

Tamu yang tidak aku kenal itu, dengan santainya memasuki ruangan dan melihat sekeliling. "Beruntung sekali ruangan ini kosong!" seru sang kakak. Aku mengenal mereka! Orang-orang aneh yang sempat bertemu denganku beberapa jam yang lalu. Kenapa mereka bisa sampai disini?

"Kak, lihat" salah satu adiknya berjalan mendekatiku dan menarik kerah bajuku. Lalu dia menatapku, "Kak, sepertinya ini orang yang tadi"

"Hah?" Sang kakak berjalan dan mencari tahu arti perkataan adiknya itu. Kali ini dia menarik tanganku, dan memegang daguku untuk melihatku lebih dekat. "Ya, sepertinya ini anak yang tadi. Wah… kebetulan sekali!"

Sang kedua adik dan kakak tertawa. "Lepaskan!" seruku. Aku mencoba untuk melepaskan tanganku dari genggamannya. Tapi tenagaku kalah kuat dengan sang kakak tersebut. "Andai bertanding tennis, kekuatanku akan lebih besar darimu!" geramku dalam hati.

"Tidak akan!" sang kakak berbalik meneriaki. "Kesempatan yang ada tidak mungkin dibuang dengan sia-sia" dengan satu tangannya, dengan mudah menarikku untuk keluar kamar ini.

Salah satu adik tiba-tiba saja berdiri didepan kakaknya tersebut. "Kak, bagaimana dengan Sanada? Apa dia tidak akan mencarinya?" Tidak hanya dia, adiknnya yang satupun merasa takut hanya mendengar nama Sanada. Terlihat dari gerak-geriknya. "Kak, sebaiknya kita jangan cari masalah dengannya…" tambah adik yang satunya.

Sang kakak berhenti dan berfikir sejenak. Dikesempatan seperti itu, genggamannya melemah dan langsung kulepaskan genggamannya dan menjauhinya. "Akh! Tangkap dia!!"

Kedua adiknya menghalangiku dengan berada didepan-belakangku. Kumencoba untuk kabur, tetapi dari belakang sudah ada yang menahanku. Salah satu lengannya dililitkan ke leherku. Sang kakak berjalan mendekati kami, "Sudahlah! Kita bawa saja! Lagipula dia juga bukan siapa-siapanya!"

'Bukan siapa-siapanya…' kata-kata itu terngiang didalam pikiranku. Pandanganku kosong. Memang benar, aku saat ini bukan siapa-siapanya. Mungkin memang dia masih mencariku, tetapi baru saja aku menolaknya dan memberikan pandangan benci padanya. Saat ini tidak mungkin dia akan menolongku! Aku benar-benar bodoh! Sanada tidak mungkin memaafkanku! Jikalau memang ada kesempatan, aku akan meminta maaf padanya… dan juga…

"Brak!!" suara hentaman pintu yang terkena sesuatu yang kuat. Ternyata Sanada yang memukul pintunya. Kuketahui dari tangannya yang masih menempel pada kayu pintu tersebut "Apakah disini diadakan pesta dadakan?"

Suara yang datar dan tatapan yang tajam, membuat kedua adik takut dan berlari keluar pintu. Sedangkan sang kakak masih saja memegang tanganku. "Tidak juga" balasnya. "Sepertinya disini sudah ada pesta, hanya saja pestanya masih kurang sesuatu. Kurang keramaian"

Wajah Sanada semakin kaku dan terlihat garang. Akhirnya sang kakak yang tidak mau mengakhiri hidupnya ditangan Sanada, dia melepaskan genggamannya dan berlari keluar. Sanada menutup pintunya, menguncinya dan berjalan mendekatiku "Yukimura, kamu tidak apa-apa?"

Dia terlihat panik sendiri. Kedua tangannya digunakan untuk memegang bahuku, matanya menatapku dari atas-bawah , seperti mesin scan. "Sa…Sanada… aku tidak apa-apa" Dia diam saja dan melepaskan ikatan tanganku. Dia melepaskan genggamannya dan berjalan menuju dapur.

"Sanada!" panggilanku sempat menghentikannya sebelum dia menjauhiku. Dia menoleh padaku, "Sa…Sanada… Terima kasih sudah menolongku..." kata-kataku berhenti. Sanada kembali mendekatiku dan memelukku dengan erat. Dia menundukan wajahnya dan bersandar pada bahuku, "Sanada? Ada apa?"

Dia masih diam saja. Walaupun aku dan dia sudah lama tidak bersama, sepertinya Sanada yang aku kenal masih sama seperti yang dulu. Sanada mempunyai cirikhas, saat dia sedang mengalami masalah, dia tidak akan tunjukan kepada siapapun dan dengan gerak-gerik apapun. Saat itu terjadi, dia akan bersandar pada seseorang yang dia percaya, diam tanpa kata. Dan... yang mengetahui hal itu hanyalah aku.

Kuletakan tangan kananku diatas kepalanya dan membalas memeluk dengan tangan kiriku. Kalau sudah seperti ini, dia terlihat seperti anak kecil! Aku benar-benar tambah suka melihat dia seperti ini. "Sanada... kalau memang ada beban berat yang kau pikul, kau bisa berbagi denganku. Aku bersedia..."

Sanada mengangkat kepalanya dan menatapku. Aku tersenyum padanya dan dia kembali menyandarkan kepalanya. Kali ini terasa hangat dipundakku. Ya, aku berharap masa lalu yang ada bisa digantikan pada saat ini.

Setelah beberapa saat, dia bangun dan berjalan menuju dapur mengambil dua kaleng minuman dari kulkasnya, "Mau?" tawarnya. Tanpa bertanya, aku langsung mengambilnya dan meminumnya. "Yukimura..." aku menatapnya. "Mungkin ini sudah telat, tetapi... maafkan aku..." dia memejamkan matanya dan menundukan badannya didepanku.

Aku menghela nafas dan tersenyum. "Sudahlah.. Tidak usah dibahas kembali. Itu... adalah masa lalu..." jawabku santai.

"Benarkah?" kali ini matanya yang sembap, terlihat cerah dan penuh harap. Aku mengangguk tanda setuju. Saat ini, aku bisa kembali melihat senyuman yang terukir di wajahnya. Senyumannya mungkin tidak terlihat seperti sebuah senyuman dari Marui ataupun Jackal. Tetapi aku sudah mengetahui seperti apakah dia tersenyum. Aku mengangguk sebagai ganti menjawab pertanyaannya. Dia kembali mendekatiku dan memelukku dengan erat. Pelukan yang sudah lama sekali aku inginkan dan aku butuhkan. Lebih dari pelukan ibuku.

Waktu malam terus berjalan. Malam yang gelap mulai terjadi perubahan warna menjadi kemerahan. Udara semakin dingin dan binatang-binatang malam mulai menghentikan aktifitas mereka. Ya... Hari menunjukan waktu, hari, dan keadaan berubah. Bulan yang bersinar terang secara perlahan tidak terlihat yang digantikan dengan lingkaran panas di antariksa. Udara malam yang menyejukan perlahan menambahkan kekuatannya. Embun yang terdapat diberbagai tempat mendakan perubahan udara yang terjadi disekeliling tempat tersebut.

Udara dingin pagi tidak membuatku terasa dingin. Berada disisi orang yang dicintai membuat perasaan dan tubuh menjadi hangat. Tidak perduli seberapa dingin, seberapa gelapnya cahaya, dan seberapa khawatirnya akan hari esok. Ya, itulah yang aku rasakan pada saat ini. Walaupun selimut yang digunakan tidak terlalu tebal, udara dingin yang dirasakan tidak terlalu menyengat. Suhu tubuh tetap terjaga dan perasaan menjadi tenang. Tidak takut kedinginan.

Sanada dan aku, berada dalam satu tempat tidur untuk pertama kalinya setelah sekian lama berpisah. Tempat tidurnya yang berukuran single bisa menampung keberadaan dua orang. Malam itu, dapat kurasakan tubuh hangatnya, lembut tangannya, suaranya yang tenang, seakan memasuki seluruh ruang pikiranku. Dari semua kata yang dapat yang aku katakan, hanya kata 'Sanada' yang keluar dari kata-kataku. Kelembutannya malam itu membuat seluruh tubuhku melebur, menuruti segala permintaannya, namanya memenuhi pikiranku, dan akhirnya akupun menjadi miliknya. Ya, miliknya untuk selamanya.

Saat membuka mata, kulihat Sanada berada disebelahku. Tertidur dengan tenang. Tangan kanannya menjadi tumpuan kepalaku, dan tangan kirinya yang berada diatas perutku. Sepertinya dia kelelahan. Ya, aku mengerti alasannya. Perlahan tanganku mengelus rambut hitamnya, terasa halus. "Sanada... maaf sudah merepotkanmu selama ini..." kukecup keningnya, meletakan tangan kiriku dipinggangnya dan kembali memejamkan mata. Rasanya tidak ingin kutinggalkan mimpi indah ini.

-----------------------------------------

~Sanada~

Bagun, mandi, latihan, masak, dan berangkat kerja. Semua itu adalah pekerjaan sehari-hari yang biasa aku lakukan. Bangun sebelum jam alaram berbunyi, mandi supaya tidak mengantuk, latihan untuk menyegarkan pikiran, masak untuk sarapan dan berangkat kerja. Sedikit berbeda untuk hari Sabtu dan Minggu, dimana aku tidak berangkat kerja, melainkan meningkatkan latihan fisik dan batinku.

Untuk saat ini, ada sedikit perubahan dan pengecualian. Biasanya di hari Minggu pagi, aku akan menuju kuil terdekat untuk berdoa dan menenangkan pikiran. Untuk hari ini, seperti biasa aku selalu bangun sebelum jam alaramku berbunyi, tetapi aku tidak berencana untuk pergi ke kuil. Aku lebih memilih berada dirumah, menemani sang kekasih.

Saat kubuka mata, pemandangan yang biasa kulihat sedikit, bahkan banyak, terjadi perubahan. Biasanya kulihat cahaya yang memasuki ruanganku melalui jendela, kamar yang berwarna putih, suasana yang sangat hening hingga bisa mendengar suara detak jam dindingku, dan beberapa suara burung yang mengisi keheningan suasana ini.

Kali ini, kulihat sosok yang aku kenal dan aku sayangi. Rambutnya yang bergelombang dan berwarna biru, tubuhnya yang kecil, senyum yang terukir diwajahnya, dan suaranya yang lembut masih terbayang dalam pikiranku, saat ini tidur dengan tenangnya. Aku tidak ingin membangunkannya. Kuambil bantal yang tadi kupakai menjadi alas tidurnya, kunaikan selimutku sampai batas lehernya, dan kumulai aktifitasku dengan mandi.

Dengan cepat kuselesaikan ritualku di kamar mandi, menyiapkan sarapan dan mulai membangunkannya. Dari dulu, aku ingat sekali bahwa Yukimura ini sulit dibangunkan. Untung saja aku lama mengenal dia, sehingga tahu cara membangunkannya tanpa membuatnya menjadi kesal.

"Yukimura..." kudekatkan bibirku pada daun telinganya. Secara perlahan, kubisikan dan memberikan tahu bahwa hari sudah pagi. "Yukimura... kau masih mengantuk?"

Perlahan dia membuka matanya dan tersenyum lembut. "Sanada... aku masih mengantuk..." dia kembali membelakangiku dan memeluk gulingku. Ternyata dia bandel juga! Kumasukan tanganku kedalam bajunya dan mulai menggelitiki pinggangnya. Dia tersentak, membalikan badannya, dan memprotesnya. "Sanada!"

"Sudah pagi..." jawabku. Aku berjalan meninggalkannya dan menuju dapur. Kurapikan berbagai masakan yang sudah kubuat dan kutata diatas meja. Ya, walaupun hanya sayuran sederhana. Bagiku ini sudah cukup. "Kau mau makan dulu? Atau..." Yukimura sudah berada disebelahku, melingkari dan memeluk tanganku dengan manjanya. Dengan lembut, dia mendekatkan mukanya padaku dan bibir kamipun bersentuhan.

"Atau apa?" suara manjanya membuat mukaku memerah kembali. Senyumannya, suaranya, kelembutannya, kehangatannya, tidak ingin hilang dariku. Kubalas memeluknya dengan erat dan kurebahkan dia keatas tempat tidurku. Tanganku menahan kedua tangannya, menciumnya dengan ganas, dan kusentuh tubuhnya yang putih itu. "Sa... sanada..." nafasnya mulai tidak teratur, demikian juga denganku.

Rambut halusnya terasa disela jari tanganku, nafasnya yang tidak teratur, detak jantung dibalik kulitnya terasa di hangat. Semuanya itu bisa kurasakan dengan baik. Kalau tidak ada kulit dan tulang, mungkin jantungku sudah keluar. Kurasakan detak jantungnya yang berdetak kencang sepertiku. "Sanada... Sanada... Sana..." kata-katanya terputus saat tubuh kami melebur menjadi satu.

Forgive me

------------------------------------------------------------------------------------------

mug~~aaa

akhirna kelar juga... hehehe...

*buagh!! (dihajar ma Sanada) hikz.. knp??

sana: ganggu ja?! pergi sana!!

me: he?!??! hikz.. (padahal dagh susah-susah...)

ya sudah lah.. ^^ please review n comment na ^^ n belon tamat sih... ato dagh tamat ja??. sebelum pergi...

mugya~~ *bugh* yukicha~n... (peluk...peluk...) eh...??!?! MUGYA~AA!!! (kali ni komplit dagh/