Title : Affair d'amour

Author : Rainy Hanazawa

Pairing : Taecyeon x Junsu, Changsung x Junho, Nickhun x Wooyoung

Rated : T+

Disclaimer : GOD, their parents, JYP Entertaiment, their self.

Warning : Boys Love, bad conflict, worse dialog, Typo.

-Chapter 2-

-2PM-

At Noon

Namja bernama lengkap Lee Junho itu membuka matanya perlahan. Dibiarkannya bias-bias cahaya menembus retinanya. Ia sedikit meringis ketika merasakan kepalanya yang terasa sedikit pusing dan juga rasa sakit yang timbul dari luka-luka ditubuh serta wajahnya. Bau khas alcohol tercium jelas olehnya. Junho paham dimana ia sekarang, dimana lagi kalau bukan club malam tempatnya bekerja. Yaa.. sebuah kamar yang memang dikhususkan buat para pengunjung club untuk 'menikmati malam' mereka bersama dengan host club yang mereka pesan. Junho menoleh kearah pintu kamar yang perlahan-lahan terbuka, menampakan sosok namja yang sangat ia kenal.

" Junsu-Hyung.." ucap Junho pelan.

" Bagaimana keadaan mu Junho ? Sudah merasa lebih baik ?" tanya Junsu khawatir.

Junho mengangguk pelan, " Iya hyung.. terasa sedikit lebih baik sekarang. "

" Ada apa dengan mu ? kenapa kau bisa pingsan didepan club ?"

Junho hanya bisa menatap miris kearah Junsu. Ia sama sekali tidak berminat untuk menjawab pertanyaan hyungnya tersebut.

" Apa ini ada hubungannya dengan Appa mu, Junho ? Dia menyiksa mu lagi kan. " potong Wooyoung yang baru saja muncul dari balik pintu.

Junho mengangguk pelan, membenarkan perkataan Wooyoung. Memang bukan rahasia lagi, jika kedua hyungnya itu tahu tentang masalah dirinya dan Appa nya. Junho memang selalu menceritakan hal tersebut kepada Junsu ataupun Wooyoung. Dua orang yang sudah dianggapnya seperti saudara kandung.

" Junho.. Kau ini sudah dewasa. Tinggalkan saja pak tua brengsek itu. Tidak usah mengurusnya lagi. Lihat diri mu sekarang. Sungguh berantakkan. Sadarlah Junho. Orang itu hanya menjadikan mu sebagai mesin uang untuknya. " ucap Wooyoung sedikit kasar.

" Tapi bagaimana pun juga pria yang kau sebut 'pak tua brengsek' itu adalah Appa ku. Dia adalah orangtua kandung ku Wooyoung. Aku tak mungkin meninggalkannya sendiri. " ucap Junho

Wooyoung kesal mendengar jawaban Junho, " Apa ada orang tua yang tega menyiksa anaknya sendiri ? bahkan hingga menjual mu ketempat seperti ini. Apa orang seperti itu masih pantas disebut sebagai orang tua ? "

" Kau tahu apa Jang Wooyoung ? Kau tahu apa tentang kata 'orang tua'. Kau saja bahkan tidak mempunyai 'orangtua'. " bentak Junho. Ia tidak peduli dengan rasa sakit akibat luka disudut bibirnya.

Wooyoung tersentak mendengar penuturan Junho. Hatinya terasa sakit. Ia mungkin memang tidak mempunyai orangtua tapi setidaknya ia mengerti mana contoh orangtua yang baik atau buruk.

" Yackk.. kenapa kalian malah bertengkar ! " bentak Junsu tiba-tiba

Junho menundukan wajahnya, " Maaf.. " lirihnya

" Aku yang harusnya minta maaf Junho. Seharusnya orang yang tidak mempunyai orangtua seperti ku tidak pantas mengucapkan seperti itu. Maafkan aku. " Wooyoung tersenyum miris kemudian ia beranjak pergi keluar ruang kamar tersebut.

Sepeninggal Wooyoung, Junsu menatap kecewa kearah Junho. " Seharusnya kau tidak berkata seperti itu pada Wooyoung. Ia mungkin sekarang sedang sedih gara-gara ucapanmu tadi. " ujar Junsu.

" Hyung.. aku.. "

" Sudahlah Junho, lebih baik sekarang kau istirahatlah disini. Aku akan bilang pada manager bahwa hari ini kau tidak dapat bekerja . ku rasa tuan Park akan mengerti. Nee.. sekarang kau tidur dan mulai besok pagi tinggal lah di rumah ku dahulu sampai luka-luka mu sembuh semua. "

" Tapi hyung… "

" Aku tidak menerima alasan apapun Lee Junho "

Junho hanya bisa menghela nafasnya berat. Perkataan Junsu adalah sesuatu yang absolute dan tidak terbantahkan. Yaa.. mungkin ada baiknya juga ia tinggal dirumah Junsu. Ia bisa sedikit menenangkan pikirannya untuk beberapa waktu kedepan.

- 2PM -

Wooyoung duduk disalah satu meja bersama dengan 'tamu'nya hari ini. Wajahnya tampak memerah akibat meminum bergelas-gelas vodka beberapa saat lalu. Kesadarannya pun mungkin sudah perlahan-lahan menghilang akibat pengaruh alcohol. Tubuhnya bahkan sudah mulai berkeringat. Ia tidak peduli ketika tangan nakal pria tersebut menjelajahi tubuhnya. Ia juga tidak menolak ketika bibir mungilnya dilumat paksa hingga bengkak. Tetapi ia sama sekali tidak membalas permainan dari tamunya tersebut. Biarkan saja 'tamu'nya itu menikmati tubuhnya. Sebut ia murahan karena memang seperti itulah dirinya. Yaa.. seorang namja murahan yang tidak mempunyai orangtua.

Wooyoung menggigit pelan bibir bawahnya. Bukan karena ia menahan desahan akibat sentuhan pria dihadapannya sekarang melainkan ia menahan tangisnya. Entah kenapa ucapan Junho beberapa saat yang lalu terus berputar dikepalanya. Sakit.. hatinya terasa begitu sakit sekarang.

- 2PM-

In The Morning

Junsu menyiapkan sarapan pagi hari ini. Dua lembar roti tawar dengan selai cokelat dan dua gelas susu hangat untuk dirinya dan Junho, mengingat namja itu kini tinggal bersama nya. Junsu menatap sekilas kearah jam dinding di dekat ruang makan. Jam 7 ada sepuluh menit lagi sebelum ia berangkat kuliah.

" Selamat pagi hyung… " sapa Junho yang baru saja bangun tidur. Ia sesekali mengucek matanya dan juga menguap pelan.

" Selamat pagi Junho. Ayo sarapan dulu " ajak Junsu. Junho mengangguk kemudian duduk sambil memakan roti yang sudah disiapkan oleh Junsu.

" Hyung.. hari ini kau kuliah ? " tanya Junho.

" Iyaa.. sebentar lagi hyung berangkat. Mungkin hari ini hyung tidak akan pulang kerumah. Sehabis kuliah hyung langsung kerumah sakit menjenguk umma kemudian pergi ke club. Jadi kita bertemu lagi nanti malam di club. " jawab Junsu sambil menikmati susu hangatnya.

" Baiklah hyung. Ahh.. berarti aku akan sendirian dirumah. Pasti membosankan " gerutu Junho. Junsu hanya tertawa kecil mendengarnya.

Mereka berdua menikmati sarapan mereka dengan tenang. Setelah selesai Junsu membereskan sisa sarapan pagi ini. Kemudian ia mengambil tas kuliahnya yang berada dikamarnya .

" Junho.. Hyung.. pergi dulu yaa.. sampai bertemu nanti malam. " pamit Junsu pada Junho yang sedang menonton acara TV favoritnya.

" Nee hyung.. hati-hati dijalan yaa ! Selamat bertemu dengan namja bernama Taecyeon itu hyung " goda Junho yang sukses membuatnya terkena lemparan kamus dari Junsu. Kasihan Junho…

- 2PM -

Junsu baru saja tiba di kampusnya. Ia tersenyum ketika melihat sosok namja yang sedang berdiri dipintu gerbang kampus.

" Taecyeon.. " panggilnya.

Namja itu menoleh kemudian berjalan menghampiri Junsu. " Junsuie.. Kau lama sekali sih " ucapnya kesal

" Kau menunggu ku ? Tumben.. Memangnya ada yang ingin kau bicarakan padaku ?" tanya Junsu sedikit penasaran.

" Hari ini kau ada acara tidak ? Aku ingin mengajak mu jalan-jalan… " ajak Taecyeon.

Junsu kaget mendengar ajakan Taecyeon. Tidak biasanya Taecyeon mengajaknya jalan-jalan. Kalo pun mereka pergi berdua itu pun hanya untuk mencari bahan tugas atau semacamnya. Ahh.. entah kenapa Junsu merasa bahwa ajakan Taecyeon kali ini terdengar seperti ajakan sebuah kencan. Aish.. kenapa ia merasa teramat percaya diri seperti ini.

" Junsuie.. ada apa ? kenapa muka mu memerah ? kau sakit.. kalo sakit lebih baik lupakan saja ajakan ku tadi. " ujar Taecyeon khawatir.

" Ehhh.. jangan dibatalkan. Aku tidak sakit kok. " potong Junsu cepat.

Taecyeon tersenyum, " Baiklah.. ayo kita pergi sekarang. " ajak Taecyeon sambil menarik atau lebih tepatnya menggenggam tangan Junsu.

" Heiii… tunggu.. bagaimana dengan kuliah pagi ini ? "

" Hari ini kita membolos saja yaa Junsuiee… "

- 2PM -

Taecyeon membawa Junsu ke taman bermain di pusat kota. Kondisi taman bermain itu terlihat sepi. Mungkin karena suasana yang masih pagi. Junsu tidak menyangka Taecyeon akan mengajaknya kesini. Junsu ingat terakhir kali ia kesini adalah beberapa tahun yang lalu, bersama keluarganya yang masih lengkap saat itu. Junsu mendadak merasa sedih. Seandainya waktu bisa diputar kembali.

" Junsuie.. kenapa kau mendadak murung ? kau tidak suka ku ajak kesini?" tanya Taecyeon yang menyadari perubahan raut wajah Junsu.

Junsu memberikan senyuman terbaiknya, " Tidak Taecyeon.. Aku senang kau mengajak ku kemari. "

Taecyeon merasakan debaran jantungnya yang berdetak lebih cepat ketika Junsu tersenyum. Taecyeon memang sudah jatuh cinta pada Junsu sejak pertama kali mereka bertemu. Love at First sight ? yaa mungkin Taecyeon memang mengalami hal tersebut. Hanya saja ia masih belum berani untuk mengungkapkan hal tersebut kepada Junsu.

" Junsuie.. kau ingin mencoba wahana apa dulu ?" tanya Taecyeon

Junsu nampak berfikir, " bagaimana jika cangkir putar terlebih dahulu ? sudah lama aku ingin mencoba permainan itu. "

" Baiklah, ayo kita naik wahana itu. " ucap Taecyeon semangat.

- 2PM -

In The Afternoon

Sudah cukup lama Junsu dan Taecyeon bermain di taman bermain tersebut. Mereka juga tidak sadar jika hari semakin sore. Mereka pun memutuskan untuk beristirahat disalah satu café ditaman bermain tersebut.

" Taecyeon, terima kasih ya untuk hari ini. Aku senang "ucap Junsu sambil menikmati semangkuk es krim vanilla pesanannya.

" Nee.. sama-sama Junsuie. Aku juga merasa senang. " ucap Taecyeon tersenyum.

Taecyeon mendekatkan dirinya kearah Junsu. Perlahan tangannya mengelap sisa es krim yang tersisa disudut bibir Junsu. Pandangan mereka bertemu. Sebuah perasaan hangat tercipta diantara mereka. Junsu memejamkan matanya ketika tangan halus Taecyeon berhenti mengelap sudut bibirnya tetapi malah membelai halus pipinya . Tidak hanya itu Junsu juga dapat merasakan jarak Taecyeon yang semakin mendekat. Dapat dirasakannya hembusan nafas Taecyeon menerpa wajahnya.

" Selamat ulang tahun Junsu.. "ucap Taecyeon pelan.

Junsu segera membuka matanya, masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi.

Taecyeon mengeluarkan sebuah hadiah kotak kecil dari dalam tasnya. Ia tersenyum lembut begitu melihat ekspresi bingung Junsu, " Kau tidak lupa kan bahwa hari ini adalah hari ulang tahun mu. Aku punya sesuatu untuk mu. Terimalah.. "

Sejujurnya Junsu memang lupa dengan hari ulang tahunnya. Ia tidak pernah membayangkan sebelumnya jika Taecyeon ingat hari ulang tahunnya.

Junsu mengambil kotak kecil tersebut dari tangan Taecyeon. Ia terkejut melihat isi didalamnya, sebuah gantungan ponsel berbentuk panda dan juga sebuah kalung dengan liontin berbentuk panda juga. Junsu merasa sangat bahagia sekarang bahkan ia sampai tidak sadar jika ia baru saja mengeluarkan air mata.

" Heii.. jangan menangis Junsuie.. " ujar Taecyeon, ia menghapus air mata yang mengalir diwajah Junsu.

" Maaf.. aku hanya merasa terlalu bahagia. Terima kasih Taecyeon. Terima kasih karena kau ingat ulang tahun ku. " ucap Junsu yang masih menangis.

" Sudahlah Junsuie.. jangan menangis lagi. Kau jelek jika menangis seperti itu. Tersenyumlah, maka kau akan terlihat cantik . "

" Aku namja.. berhentilah menyebut ku cantik.. " protes Junsu.

" Tapi bagi ku , kau adalah namja yang cantik Junsuie. Sekali lagi, Selamat ulang tahun. Semoga kau selalu bahagia. " ucap Taecyeon lagi, hanya saja kali ini Taecyeon mencium pipi Junsu. Tidak peduli dengan rona merah yang menjalar di wajah Junsu.

- 2PM -

Junho tidak pernah merasa sebosan ini. Duduk didepan televisi dan menonton acara yang baginya sangat membosankan. Junho melirik sekilas kearah jam diruang tamu tersebut. Masih jam 5 sore, itu berarti masih ada 3 jam lagi sebelum ia berangkat kerja. Ia bingung harus melakukan apa untuk menghilangkan kejenuhannya ini. Bermain game console ? Junho segera menepis pikirannya itu, Ia baru ingat Junsu sama sekali tidak mempunyai satupun game console dirumahnya. Membaca majalah ? Aish.. Junho benci membaca, alih-alih menghilangkan kebosanan membaca hanya akan memperbesar rasa bosannya. Lalu apa yang harus ia lakukan untuk menghilangkan rasa bosannya ini ?

Junho mengambil mantelnya di kamar. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan keluar rumah. Setidaknya hanya itu pilihan untuk menghilangkan rasa bosan yang melandanya.

Junho meletakkan telapak tangannya didalam saku mantelnya untuk memberikan rasa hangat ditubuhnya. Harus ia akui udara sore ini cukup dingin. Junho terus berjalan. Sesekali ia bersenandung kecil tidak peduli para pejalan kaki yang berpapasasan dengannya menatap aneh kearahnya.

Junho tiba disebuah taman, ia duduk disalah satu bangku panjang yang tersedia disana. Ia memperhatikan sekelilingnya hingga matanya terus memperhatikan seorang anak laki-laki berumur sekitar 5 tahun tengah bermain bola. Junho berjalan mendekat kearah anak kecil itu.

" Hyung boleh ikut bermain tidak ?" tanya Junho pada bocah laki-laki itu.

Anak laki-laki itu terdiam, tapi tak lama kemudian ia mengangguk pelan. " Nee.. hyung boleh main bola sama Minnie. "

Mereka pun akhirnya bermain bola bersama. Anak kecil bernama Minnie itu menendang bola sedangkan Junho yang menangkapnya. Mereka nampak menikmati permainan mereka. Terkadang anak bernama Minnie itu tertawa ketika Junho yang sengaja terjatuh ketika menangkap bola ataupun sebaliknya Junho tertawa ketika tendangan Minnie meleset kearah lain.

" Minnie.. hyung pulang dulu yaa. Besok kita main lagi. " ucap Junho saat hari sudah menjelang gelap.

" Nee hyung.. sampai besok yaa.. "

Junho melambaikan tangannya kearah Minnie yang mulai pergi meninggalkannya. Ia tersenyum pelan kemudian berbalik.

" Sudah selesai bermainnya Lee Junho ?" tanya seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri dihadapan Junho ketika dirinya berbalik.

" Kau..apa mau mu ?" tanya Junho kasar.

" Cepat bayar hutang ayah mu itu atau kau akan merasakan akibatnya " jawab yang Junho yakini sebagai seorang renternir.

Junho memperhatikan sekelilingnya kemudian dengan cepat ia segera menendang lutut renternir tersebut yang menyebabkan ia meringis kesakitan. Tanpa menyianyiakan kesempatan Junho segera kabur. Tapi sayang renternir itu masih terus mengejar Junho.

Junho terus berlari hingga akhirnya ia tiba disebuah gang kecil yang ternyata buntu. Junho merasakan sinyal bahaya saat menyadari Renternir itu kini tengah berdiri dihadapannya dengan menyeringai.

" Kau tidak bisa lari lagi. Cepat bayar hutang ayah mu ! " teriaknya

Junho mulai panik saat renternir itu berjalan menghampirinya yang sudah terdesak. Tangan renternir itu menarik dagu Junho dan mengarahkan wajah Junho kearahnya. Kemudian tanpa basa-basi ia langsung melumat bibir Junho dengan kasar.

" Bagaimana jika kau berikan tubuh mu untuk membayar hutang ayah mu. " ucapnya sambil menyeringai senang disela-sela ciumannya dengan Junho.

Junho menggelengkan kepalanya, ia ingin berteriak tetapi tidak bisa karena mulutnya sedang dilumat oleh renternir itu. Junho merasa harga dirinya sungguh rendah. Ia memang sudah sering memberikan tubuhnya untuk orang lain tapi tentu saja tidak dengan paksaan seperti ini. Ia rendah.. ia menjijikan.. ia tak lebih dari tikus kotor dijalanan. Junho menangis. Apakah kehidupan seperti ini yang ditakdirkan untuknya ? Masih boleh kah ia berharap akan sebuah keajaiban ?

BUAGH..

Perlahan Junho membuka matanya. Ia terkejut ketika orang yang tadi melakukan tindakan nista kepadanya sudah terjatuh ditanah dengan darah yang mengalir disudut bibirnya.

" Apa yang kau lakukan ? " bentak seorang namja yang berdiri tidak jauh dari tempat renternir itu terjatuh.

" Siapa kau ? Berani-beraninya kau mengganggu kesenangan ku " Renternir itu segera meluncurkan tinju nya kearah namja disampingnya.

Namja tersebut segera menghindar. Dengan cepat ia menendang perut renternir itu hingga terjatuh. Namja tersebut segera menghampiri Junho yang terlihat bergetar ketakutan.

"Kau baik-baik saja ? " tanyanya.

Junho mengangguk, " Awas ! " teriak Junho ketika melihat renternir tersebut hendak menghunuskan pisau kearah namja yang menolongnya ini.

Namja tersebut segera berbalik namun sayang pisau itu menyerempet ke lengan kanan namja tersebut. Darah segar mengalir dari sana. Namja tersebut meringis kecil kemudian dengan cepat ia segera merebut pisau dari tangan renternir tersebut. Tanpa ampun namja tersebut segera menghajar renternir tersebut, tidak peduli dengan lengan kanannya yang terasa sakit. Tendangan terakhir darinya ternyata mampu membuat renternir itu tidak sadarkan diri.

" Kau baik-baik saja ?" tanya namja itu lagi.

" Nee.. aku baik-baik saja. Terima kasih telah menolong ku. " jawab Junho. Junho menatap lengan kanan namja itu, " Ikutlah kerumah ku. Aku akan mengobati luka mu. " ajak Junho sambil tersenyum manis.

Namja itu mengangguk, " nee.. baiklah. "

- 2PM -

Junho membawa namja tersebut kerumahnya –atau rumah Junsu- . Ia mempersilahkan namja tersebut untuk duduk diruang tamu sedangkan ia mengambil kotak obat dikamar Junsu. Tidak perlu waktu lama untuk menunggu Junho yang mengambil kotak obat. Junho segera duduk disamping namja tersebut.

" Maaf.. gara-gara menolong ku. Kau jadi terluka seperti ini. " ucap Junho menyesal sambil membersihkan luka dilengan kanan namja tersebut dengan alcohol.

" Arght… itu tidak masalah. Aku hanya kebetulan lewat dan tidak sengaja melihat mu yang tengah butuh pertolongan " serunya sambil sedikit meringis sakit.

" Apa ini sakit ? aku benar-benar minta maaf "

Entah angin apa tangan kiri namja tersebut langsung memegang pipi Junho, " Aku baik-baik saja dan berhentilah meminta maaf. "

Pandangan mata mereka tidak sengaja bertemu. Junho baru saja jika namja tersebut memiliki wajah yang cukup tampan, hidung yang mancung, dan juga rahang yang kokoh. Sadar atau tidak wajah Junho segera berubah menjadi merah. Ia juga merasakan ada perasaan menggelitik ditubuhnya ketika melihat namja ini.

" Ada apa ? Ada yang salah dengan wajah ku ? " tanya namja tersebut bingung.

" Tidak.. tidak ada apa-apa " Junho langsung kembali mengobati lengan namja tersebut. Walaupun ia merasa gugup karena secara tidak langsung ia tertangkap basah tengah menatap namja dihadapannya itu.

" Siapa nama mu ? sejak tadi kita belum berkenalan " ujar namja tampan tersebut pada Junho.

" Lee Junho. Kau bisa memanggilku Junho "ucap Junho yang kini sedang membalut luka dilengan namja itu.

Namja itu tersenyum, " Hwang chansung. Kau bisa memanggil ku Chansung. "

Junho meletakkan sisa perban didalam kotak obat, " Baiklah Chansung-shii. Aku sudah mengobati luka mu. Aku akan kedapur untuk membuatkan minuman untuk mu. "

Chansung tidak menjawab. Ia membiarkan Junho untuk bergegas kedapur untuk membuatkannya minum. Setelah Junho menghilang dari pandangannya dan suasana terbilang aman. Chansung segera mengambil ponsel dari saku celananya.

" Halo, Sekertaris Kwon. Tolong kau carikan informasi tentang namja bernama Lee Junho secepatnya. Besok informasi tentang namja itu harus ada dimeja kantor ku. Mengerti .. " ucap chansung pada orang disebrang telfon. Tanpa menunggu jawaban dari si penerima telfon chansung segera memutuskan telfonnya.

Ia menatap kearah lukanya yangbaru saja diobati oleh Junho. Ia tersenyum pelan, " Kau membuatku tertarik padamu, Lee Junho. " gumam Chansung pelan.

TBC

Author note : Aku terharu, ternyata masih ada orang yang membaca ff nista ku ini. Terima kasih untuk kalian yang telah menyempatkan diri untuk membacanya. Terima kasih *nangis terharu*

Balasan Review :

imritchi : Ini udah lanjut. Mian yak lo chapter ini kurang memuaskan. Iyaa.. nanti klo sempet aku buat ff khunwoo deh . Makasih udah review.

mochi-chan : Khunwoo masih belum muncul. Mungkin chapter depan baru muncul. . makasih yaa udah review .

cloudcindy: nggak hanya Junsu kok, yang lainnya juga mempertaruhkan harga dirinya. Makasih ya udah review.

Devil's YunjaeJoTwins Shipper : Makasih ya udah di fav. Semoga suka lanjutan ceritanya .

Jak Yunjae : Makasih ya udah di fav, ini udah update semoga suka. Maaf klo lama

yesex: iya aku emang sengaja masukin semua pairing disini. Tenang aja nggak Cuma junsu yang tersiksa, semuanya juga nantinya bakal tersiksa . makasih ya udah review

Shymi Oktizen: Saya juga seneng ternyata ff 2PM semakin mengalir difandom ini. Makasih ya udah review.

Yaa.. itu balasan review hari ini . makasih buat kalian yang udah review. Tetep review yaa..