SECRETS OF DESIRE

Disclaimer: © Secret of a Duchess by Kaitlin O'riley

© God, their parents, agency, and themselves

Genre: Romance – Drama

Rating: Masih aman :p

Pairing: YunJae

Slight: YooSu, Hanchul, and many more*banyak yang akan numpang nama*

Warning: GenderSwitch for UKE, Membosankan, Typho*asal ketik tanpa edit*, Membuat mual, pusing dan membingungkan*saya yang nulis ajd bingung _) Akan lebih banyak pendeskripsian daripada percakapan, karena kelemahan saya dalam membuat percakapan I'm newbie.. I'm newbie

Summary:

Setelah kedua orangtuanya meninggal dunia, Jaejoong dan Junsu pindah ke Seoul untuk tinggal dengan keluarga bibinya. Memulai kehidupan baru di kalangan atas dan dituntut untuk segera menikah demi kelangsungan tradisi membuat Jaejoong berpikir ulang dan berusaha menghindari namja yang mendekatinya. Sampai Jaejoong bertemu dengan namja yang menawarkan kesepakatan yang menguntungkan mereka. Gejolak hasrat dan kebutuhan yang muncul diantara mereka membuat segalanya berubah. Apakah Jaejoong tetap menyimpan rahasia terdalamnya? Atau ada hal tak terduga yang akan terjadi?

NOTE (PENTING)

Fanfic ini terinspirasi dari Novel Harlequin berjudul © Secret of a Duchess karya Kaitlin O'riley yang bertemakan Historical Romance era Georgian di Inggris. Saya sengaja tidak merubah cerita asli dan beberapa bagian kata, paragraf, dan percakapan yang saya ambil dari versi aslinya tanpa merubah sedikitpun. Kalian boleh menganggap saya menyandur, copy-paste atau apapun. Tapi, fanfic ini saya tulis ulang menjadi romance di zaman modern tanpa istilah kebangsawanan Inggris dan saya lebih mengutamakan konflik yang akan terjadi serta percakapan pintar diantara tokohnya. Jadi, ini akan sangat membosankan. Tapi, jika Kalian tetap berminat silakan menikmati


PERINGATAN!

Don't Like Don't Read

Klik Back or Close jika Tidak Berminat

Saya Tidak memaksa Anda

.

.

*o* Happy Reading *o*

.

.

FIRST MEET

.

.

Ruangan pesta yang serba gemerlap dihiasi karangan bunga segar berwarna-warni semerbak harumnya. Lampu-lampu kristal berharga jutaan won di atas langit-langit memancarkan sinar klasik menambah kesan mewah di ballroom hotel itu. Alunan orchestra dan dengung percakapan bersemangat yang kadang diselingi gelak tawa berpadu menggema dari setiap kerumunan orang-orang berpakaian mahal itu. Ya, beginilah kira-kira suasana pesta ekslusif orang-orang borjuis di negeri ini. Ataukah harus kusebut Ajang Pameran Kekayaan? Mungkin Tempat Mencari Pasangan lebih pantas.

"Huft. . ." Ku-poutkan bibirku sambil melirik kesana kemari. Entah sudah keberapa kalinya aku menghela nafas. Di sinilah aku, terjepit di antara orang-orang berwajah palsu yang selalu mengumbar senyum untuk sekedar beramah-tamah menghadiri pesta demi alasan formalitas. Apakah ada yang lebih buruk dari ini? Berdansa dengan orang tidak dikenal, mengajak mereka bercengkerama, sampai akhirnya mereka berminat untuk melamarmu.

'Oh shit! Si gendut ini menginjak gaunku.' Geramku dalam hati.

".. Jadi Nona Kim, kau datang kemari dengan keluarga Tan dan adikmu? Sungguh suatu kehormatan bila kau mengizinkanku berkunjung ke mansion kalian besok." Kata namja itu, yang entah namanya Park Soo Young atau Soo Yong Park? Argh..peduli dengan omongannya, aku benar-benar sudah tidak tahan.

"Mianhae, tuan. Jika tidak keberatan Anda bisa bertanya langsung pada bibi saya, dan saya rasa kita butuh beristirahat.. Uhuk.. Saya butuh minum." Jawabku sekedarnya.

.

.

~ Selalu ada alasan untuk Menolak ~

.

.

Akhirnya..yah.. akhirnya aku bisa menjauh dari Gendut Jelek tidak Berotak itu. Kulangkahkan kakiku menuju sudut ruangan, tempat Imo dan We Samchon-ku berbicara dengan rekan bisnisnya, ke meja panjang yang yang dihiasi taplak meja linen dengan berbagai minuman segar di dalam gelas kristal cantik yang semakin membuatku berteriak kehausan.

"Joongie, ambillah. Bagaimana, sudah kau temukan namja yang cocok?" tanya Imo sambil memberiku anggur buah. Belum juga aku merasa bisa bernafas lega, aku sudah merasa sesak lagi. Lupa dengan tujuan awal datang ke pesta memuakkan ini-yaitu mencari suami. What the. . Zaman modern seperti ini masih harus mencari suami? Harusnya mereka yang beramai-ramai mendatangiku..sungguh kolot tradisi kuno ini. Apa Imo tak melihat betapa cantik dan memukaunya diriku?

"Namja terakhir yang Imo pilihkan menginjak gaunku dan bahkan dia sama sekali tidak bisa menjumlahkan 1+1. Pikirannya hanya wanita sexy, Imo." Jawabku dramatis sambil menyesap minumanku.

"Ayolah changi, dia tak akan seburuk itu setelah menikahimu. Paling tidak dia akan terus berbaring di ranjang dan tak akan melirik yeoja lain. Kau harus bisa mendapatkan salah satu dari banyak namja di sini. Lihatlah adikmu, kurasa dia menikmati malam ini." Kata Chullie Imo sambil membicarakan Suie dengan antusias dan tatapan berbinar. Hebat, satu tujuan hidup Chullie Imo tidak lama lagi akan terlaksana.

Ku putar mataku menanggapi kata-kata Imo, dan mencari sosok duck butt di antara banyaknya pasangan yang berdansa. Junsu tampak memukau dengan gaun sutra kuning pastel yang membungkus tubuh sintalnya, dengan hiasan renda dan pita menambah kesan manis yang memang sudah ada. Benar kata Imo, Junsu terlihat senang dan terpukau. Dia berdansa anggun dengan bersama seorang namja tampan yang sama terpukau, kadang ada tawa lirih di antara mereka. Hei..aku tak merasa iri dengan adikku yang sudah menggaet seorang pria ekslusif-dilihat dari pakaian dan bahasa tubuhnya-aku hanya merasa namja itu seorang playboy, gumanku dalam hati. Setidaknya ada yang bersenang-senang malam ini.

"Joongie, kurasa pasangan dansamu berikutnya sudah menunggu, dan kuharap kau tidak mengacaukannya lagi." Ingat Chullie Imo sambil mengusap tanganku.

"Semoga saja," jawabku. Semoga dia bukan orangnya. Dan semoga aku bisa bertahan untuk tidak kabur 10 detik setelah bersamanya, karena dia bahkan terlihat lebih tua dari Hanggeng Samchon.

.

.

~ Berubah atau Diubah, Pilihan ~

.

.

Merasa untuk menghindari namja-namja berikutnya, Jaejoong menyelinap keluar ruangan sambil sesekali mengerucutkan bibirnya. Bibinya sedang sibuk bergosip dengan para nyonya-nyonya elit, meributkan trend baju dan barang-barang bermerk lainnya. Sedangkan Junsu, terlihat asyik mengisi piring dengan aneka macam kue, masih dengan namja yang tadi. Yah..untuk beberapa saat ketidakhadirannya tidak akan diketahui.

Dia terus berjalan tanpa tujuan jelas, menyusuri koridor yang panjang sambil mengagumi lukisan dinding dan desain arsitektur bangunan hotel. Tidak ada yang peduli dan memperhatikannya, ketika ia menuruni tangga-tangga pualam dan melangkah keluar menuju taman asri di samping bangunan.

Bulan purnama menyinari balkon dan taman tersebut dengan cahaya lembut. Dengan perlahan Jaejoong menghirup udara segar yang berbaur wangi mawar serta rumput basah, menyegarkan. Udara yang menyegarkan setelah kepengapan di ruangan pesta tadi. Disandarkan tubuh rampingnya pada salah satu kursi cantik , sambil memijat lutut kakinya yang pegal.

Menghadiri pesta megah semacam ini merupakan hal baru untuknya. Beberapa bulan lalu dia masih tinggal dengan appa dan yeosaengnya di rumah mungil di daerah Chungnam. Sampai ayahnya meninggal dunia Oktober lalu, meninggalkan Jaejoong dan Junsu dengan sedikit uang. Jaejoong harus bekerja banting tulang untuk menghidupi mereka dan membiayai sekolah Junsu. Lalu, bibinya, Tan Heechul, seorang desainer ternama, datang membawa kehidupan baru serta menyelamatkan mereka dari nasib yang tidak menentu. Selanjutnya Jaejoong bertemu dengan keluarga lainnya yang belum pernah diketahuinya. Kenyataannya dia adalah seorang dari keluarga terpandang di Korea, dan rasa sayang yang mulai tumbuh pada mereka. Keluarga baru yang bisa mengobati rasa rindu atas kehilangan kedua orangtuanya.

Kini setelah berbulan-bulan belajar, berlatih, bersikap dan menyesuaikan diri dengan tata karma dan semua sopan santun, akhirnya Jaejoong dan Junsu diperkenalkan kepada kalangan atas. Tujuan utamanya adalah menemukan suami yang tepat, begitu yang selalu Tan Heechul tanamkan.

Berhari-hari Jaejoong mencari cara untuk mengatasi masalah tersebut. Bagaimana caranya menolak keputusan bibinya untuk menikah muda tanpa menyinggung perasaannya? Bisakah dia terlepas dari ancaman adanya lamaran dari namja pilihan bibinya?

.

.

~ Kau, Aku dan Mereka ~

.

.

"Nan yeoppo yeoja. Seharusnya tidak murung di malam yang begitu indah."

Jaejoong nyaris memekik kaget mendengar suara berat seorang pria. Sambil mengelus-elus dadanya dengan bibir mengerucut, dia berbalik dan melihat sosok jangkung bersandar pada pilar tanaman merambat di sampingnya.

"Joesong-hamnida, noona. Aku mengejutkanmu."

"Gwaenchansseumnida. Saya sama sekali tidak menyangka ada orang lain di sini. Saya tidak bermaksud mengganggu,' jawab Jaejoong sambil membungkuk dan berbalik hendak pergi.

"Aniyo, sungguh tidak apa-apa. Tidak ada alasan untuk pergi. Bukankah noona duluan yang berada di sini?" katanya dengan suara yang khas. "Kita bisa bersama-sama menikmati bulan purnama yang indah ini."

Ketika namja itu melangkah maju dan cahaya bulan menerpa wajahnya, ada getaran aneh muncul pada tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang ketika namja itu mengamatinya. Tubuhnya tegap dan kekar. Dia jelas memiliki tubuh yang berotot hasil dari kegiatan fisik, dan sering terpancar sinar matahari karena kulitnya yang coklat keemasan. Pembawaannya penuh kepercayaan diri, dengan setelan terbaik yang membungkus tubuh maskulinnya dengan elegan. Rambutnya coklat mengarah ke hitam dengan mata musang yang seakan mengawasi setiap gerak-gerik Jaejoong, tajam menyiratkan kecerdikan. Dia tidak berkumis, tapi bercukur rapi, membuat wajahnya yang kecilnya terlihat jelas, hidung mancung; garis rahang yang tegas; alis gelap yang ekspresif serta bibir berbentuk hati yang mengundang Jaejoong untuk mengecupnya. Sungguh penampilan yang sempurna.

"Kenapa yeoja cantik sepertimu berada di luar sendirian? Tidak mencari suami seperti yeoja lain di dalam?" kata namja itu meremehkan sambil berjalan mendekat, berhenti untuk duduk di bangku sebelahnya.

Jaejoong melihat namja itu tersenyum, dan sadar sedang menggodannya. Entah kenapa, perasaan Jaejoong terusik oleh senyum itu, di tambah rasa jengkel yang muncul karena diingatkan masalah suami-yang dikatakan namja itu-dengan nada merendahkan, dengan sinis Jaejoong kemudian menjawab,

"Mungkin karena tidak menginginkan suami, dan sungguh Anda tidak sopan sekali mencampuri urusan orang lain, tuan."

"Oh..ya? seumur hidup, belum pernah aku mendengar seorang yeoja yang tidak menginginkan suami." Katanya disertai seringai dan tatapan ragu.

"Selalu ada yang pertama di dunia ini. Aku Kim Jaejoong. Dan aku tidak menginginkan suami." Matanya berkilat sambil menjulurkan tangan.

"Jung Yunho, dan merupakan kehormatan bisa berkenalan dengan Anda, Nona Kim." Balas Yunho meladeni permainan Jaejoong.

Namanya tidak terdengar asing untuk Jaejoong, mungkin dia mendengar nama itu dari Chullie Imo dari sekian banyak tokoh masyarakat, politisi, artis, dan rekan bisnis yang selalu dibicarakan Chullie Imo dan Junsu.

"Selamat, Yunho-sshi. Anda bisa bertemu dengan yeoja yang tidak ingin menikah. Semoga Anda tidak pingsan." Kata Jaejoong dengan nada dibuat-buat sopan.

"Kalau begitu, kenapa Anda datang ke pesta ini, kalau bukan untuk mencari suami? Aku tidak bisa membayangkan gadis cantik sepertimu tidak menikah."

"Karena Imo-ku yang menginginkan- datang ke pesta -nya, dan itu merupakan kewajiban untuk membalas perbuatannya padaku. Imo dan orang-orang yang ada di sana berpikir aku harus segera menikah." Balas Jaejoong sambil menunjuk ruangan pesta disertai emosi.

"Kau tidak setuju dengan pendapat mereka?"

"Tidak terlalu, tidak."

"Bagaimana kalau kau bertemu namja yang pantas, atau setidaknya cocok untukmu? Apa yang akan kau lakukan?"

"Paling tidak aku bisa memilih sendiri, tanpa harus disodorkan kepada mereka. Aku akan menolak mereka, memberi kesan dengan berpura-pura menjadi yeoja kutu buku, membosankan ala perawan tua," elak Jaejoong menggebu-gebu. Apa yang sebenarnya aku pikirkan? Secara tak sengaja aku malah membocorkan rencana untuk menjauhi namja-namja itu. Pabbo Joongie. Ini harus segera dihentikan.

"Menurutku, kau tidak seperti itu Jaejoong-sshi. Kau tidak bisa meyakinkan mereka dengan penampilanmu yang seperti ini." Mata Yunho bergerak memandangi Jaejoong dari atas ke bawah, membuat pipi yeoja itu bersemu merah.

"Apakah tadi Anda tidak melihatku berdansa dengan Tuan Lee? Kurasa dia menganggapku sangat tidak menyenangkan." Jaejoong menyeringai puas teringat namja yang membuatnya buru - buru mengakhiri dansa mereka.

"Lee Seungri? Pemilik rumah produksi Lee Musica itu?" guman Yunho jijik, alis hitamnya berkerut.

"Seharusnya kau menjauhi namja lancing itu. Tidak bisa kubayangkan kau bisa lepas begitu saja. Bagaimana kau bisa kabur?" lanjutnya.

"Yah..kau tahu, aku hanya berusaha tidak menanggapinya. Balas mengangguk atau diam saja, dan batuk. God, aku tak percaya ada namja yang begitu banyak omong sepertinya." Kata Jaejoong sambil berusaha menahan tawa dengan menutupi mulutnya.

"Heii..kau batuk di depan wajahnya?" tanya Yunho dengan takjub.

"Menurut buku tata karma itu tidak sopan." Jaejoong mengangguk antusias.

"Hahahaa…kalau ada orang yang pantas diperlakukan seperti itu, Lee Seungrilah orangnya. Kadang aku juga berusaha menahan diri untuk tidak memukulnya. Kau sungguh Lady yang mengagumkan."

Meledaklah tawa yang sedari tadi mereka tahan. Tubuh Jaejoong dijalari perasaan aneh ketika Yunho memujinya. Dia merasa tidak pernah sedekat dan senyaman ini berbicara kepada orang yang belum dikenalnya.

"Aku rasa saat ini telah menyebar desas – desus bahwa aku bukan yeoja terhormat, kutu buku, dan tidak sopan. Tidak seorang namjapun yang menginginkanku."

"Desas-desus itu masih diperdebatkan." Kata Yunho sambil memandangi jaejoong dengan cermat.

Sekali lagi pipi Jaejoong memerah, dia memalingkan pandangan, dan tiba-tiba merasa malu.

"Untuk seorang wanita kau terlalu cerdas dan terpelajar, Nona Kim." Suara berat Yunho memecah keheningan diantara mereka.

"Tidak seperti kebanyakan yeoja, aku sudah diajarkan macam-macam pengetahuan sejak kecil, selain tugas utama untuk seorang yeoja." Jaejoong tersenyum bangga.

"Benar. Tidak setiap anak bisa seperti kita dan dipedulikan orang tuanya dalam hal pendidikan dan kebebasan memilih." Akunya.

Agak kaget dengan reaksi Yunho yang seperti itu, Jaejoong terdiam. Lagi-lagi dia merasa senang mendapat pujian itu. Kebanyakan namja tidak akan peduli pada wanita pintar. Mereka hanya menuntut kesetiaan seorang istri, tanpa peduli pendapat mereka suka atau tidak. Kepatuhan dan kekuasaan mutlak. Anehnya, Jaejoong merasa tertarik dengan Yunho, namja yang sangat tampan dan bisa beradu argument dengannya.

"Gomawo," guman Jaejoong lirih.

"Aku pasti senang sekali kalau bisa bekenalan dengan orang tuamu," senyumnya hangat.

"Ohh.. Appa.. beliau meninggal musim gugur kemarin. Umma sudah meninggal ketika aku berumur dua belas tahun. Sekarang aku tinggal dengan Imo, keluarga dari pihak Umma." Jaejoong termangu sedih.

"Oh.. Mianhae, aku tak bermaksud mengingatkanmu.. Aku turut bersedih, Jaejoong-sshi. Ayahku juga meninggal musim panas kemarin." Entah untuk alasan apa Yunho ikut bersedih.

"Aku juda turut berduka atas ayahmu." Jantung Jaejoong berdentum-dentum saat menatap mata musang namja itu.

"Jadi kau tinggal dengan Imo-mu dan keluarganya yang memaksamu untuk segera menikah? Kenapa kau membiarkan dirimu berada berada dalam situasi seperti itu? Kau kan bisa menolak?"

Jaejoong menggeleng. "Kau belum tahu, Chullie Imo sangat keras kepala. Dia tidak bisa dibantah siapapun, aku hanya bisa mengelak atau menunda. Baginya mempertahankan tradisi keluarga itu tujuan hidup. Dia hanya berusaha memberi yang terbaik untuk kami."

"Aku mengerti. Kurasa akan sulit untuk menyembunyikan kecantikanmu, Jaejoong-sshi. Kau akan sulit menghindari namja kalau hanya dengan bersikap membosankan dan tidak sopan seperti itu." Kata Yunho dengan senyum kecil.

"Setidaknya sampai saat ini aku masih belum menikah. Umurku dua puluh empat tahun dan hampir menjadi perawan tua." Bagus! Sekarang aku membocorkan rahasiaku dan berkata jujur pada orang tidak dikenal! Pabbo Joongie _)

"Dua puluh empat tahun? Kurasa kau bisa menarik banyak perhatian pria di dalam sana, Jaejoong-sshi."

"Nah.. Tuan Jung yang terhormat. Kutegaskan bahwa aku tidak tertarik untuk menikahi siapapun di dalam sana." Jaejoong berkata tegas.

"Aha! Jadi kau tidak ingin menerima semua namja, bukanya tidak tidak mau menika, tapi karena tidak menginginkan siapapun di sini?" seru Yunho penuh kemenangan sambil menyeringai sok tahu,

"Aku yakin ada seseorang yang tidak di sini, yang ingin kau nikahi. Benarkan yang ku katakan?" tambah Yunho.

"Aniya. Anda salah. Sama sekali tidak ada orang." Jawab Jaejoong tenang, menutupi kenyataan sebenarnya dia gelisah karena rahasianya hamper tertebak. Namja ini sudah tahu terlalu banyak, dia tidak boleh membocorkan informasi apa-apa lagi.

"Lalu kenapa Anda di sini, Yunho-sshi? Apakah Anda sedang mencari istri? Ku yakin Anda belum menikah?" tanya Jaejoong berusaha mengalihkan topik.

"Astaga, tidak! Ne, aku memang belum menikah dan selain untuk keperluan bisnis, aku ingin menyelesaikan sesuatu dengan seseorang di dalam sana." Jawab Yunho dengan nada tidak suka.

"Aku mendapat kesan Anda sedang bersembunyi. Kemungkinan besar dari para yeoja centil dan ibu-ibu mereka yang sok tahu." Kata Jaejoong sambil memandangi Yunho lekat-lekat.

"Kau benar, Nona Kim. Sekarang kita sudah tahu rahasia masing-masing. Nah, di sinilah kita, berdua saja, di luar bersembunyi dalam gelap. Dua orang yang tidak -ah makusudku- belum ingin menikah." Yunho mengerling nakal.

"Anda tidak akan membocorkan rahasiaku, Tuan Jung?"

"Asal kau berjanji, akan memanggilku Yunho, atau Oppa? Jaejoong..benar?"

"Jaejoong," ulang yeoja itu.

"Jaejoong, karena kita saling membagi rahasia masing-masing, kita sepakat memanggil nama depan, tanpa bahasa formal. Deal?"

"Nde, Yunho. Kita sepakat." Jaejoong menyetujui sambil tersenyum menggoda dan menatapnya lembut.

Yunho meraih tangan yeoja itu, dan menggenggam lembut kedua tangan mungil itu. Jaejoong terkesiap pelan karena kaget, tapi tidak menariknya. Sensasi menggelitik mulai menjalari dirinya. Sekarang dia bisa merasakan kehangatan kulit pria itu, juga jemari tangannya yang memegang dengan erat. Firasatnya merasakan sesuatu yang istimewa akan terjadi. Jaejoong mendongak menatap mata musang Yunho sambil menggigiti bibir cherrynya karena merasakan gelisah yang menyenangkan.

"Haruskah kita menyegel rahasia ini dengan ciuman?"

.

.

~ ^_^ Tabok Bang Changmin ^_^~

.

.


Akhir Kata:

Tuhhh..kan sudah saya bilang ini membosankan dan very absurd #tendang. Jujur saya tambah bingung dengan fanfic ini? Huhuhu..kedepannya akan lebih membingungkan lagi. Jadi siap-siap aja, ne? Oke…mari kita balas review *w*

Ny cho evil: Saya juga bingung ini apa _) Mari kita sama-sama bingung #gampar

Sankyuu atas reviewnya.. :*

ChwangKyuh EviLBerry: Saya juga suka novel fantasi tapi tetep baca ya? Okeh..ini sudah lanjut chingu ^_^

Misscelyunjae: Sankyuu eonni atas reviewnya(?) saya juga suka fanfic eonni. Ini sudah update, semoga tidak kecewa

gwansim84: Sudah. Sankyuu atas reviewnya.. :*

my yunjaechun: Sudah. Sankyuu atas reviewnya.. :*

mrspark6002: Sudah. Sankyuu atas reviewnya.. :*

Irengiovanny:Sudah. Sankyuu atas reviewnya.. :*

Rechi: Kalo gitu baca terus y..biar ngerti. Hehee..ini memang membingungkan chingu.. Sudah. Sankyuu atas reviewnya.. Review lagi y :*

Fane: Sudah. Sankyuu atas reviewnya.. :* Ne, kerangka bener. WonKyu? Gimana y?

Haemin: Mau saya kasih baygon? #dorr Sudah. Sankyuu atas reviewnya.. :*

jaejae: Aye, Kapten

Guest: Belum kog, ini sudah update

Taeripark: Sudah chingu, Review lagi ne

sushimakipark: Terima kasih, ini sudah lanjut

exindira : Thaks..this is for you Keep review ne

iche . cassiopeiajaejoong: Ne, Hwaiting! Sudah. Sankyuu atas reviewnya.. :*

cindyshim07: Ne, saeng. Ehh? Yunjae mw nikah g ya?

yoshiKyu: Sudah.. Adikkk.. Ini sudah lanjut, tetep review ya

ressa . octaviani.9: Sudah. Sankyuu atas reviewnya.. Maaf saya bukan thor, panggil zhe ajd ne :p


Sekali lagi terima kasih atas semuanya, yang sudah baca, nengok sebentar, dan review kalian, yang belum sempat review tolong sempatkan review Kecup basah dari Mami Jeje buat yang follow dan favorite, maaf saya ga bisa kecup kalian satu-satu. Kalo mau meluapkan emosi karena fanfic ini, tulis saja di kolom review.. Saya akan menerima semuanya dengan senang hati. See ya next chap ;)