Disisi lain ternyata sejak tadi Luhan berada di balik pohon, ia melihat semuanya dan berusaha menahan air matanya agar cairan itu tidak gagal karena baru saja ia meneteskan cairan berharga itu, kemudian isakan kecil keluar dari bibir mungilnya. Ya Luhan menangis. Tiba-tiba saja ada seseorang yang menyodorkan sebuah sapu tangan kearah Luhan. Luhan pun mendangakkan kepalanya, betapa terkejutnya ia saat melihat namja tinggi yang pernah bersinggah dihatinya. Kris.
"K-kris? Kau sedang apa disini." Tanya Luhan seraya menyeka airmata nya.
"Bodoh. Seharusnya aku yang bertanya kau sedang apa disini? Hapus air matamu." Kemudian kris menyodorkan saputangannya kearah Luhan. Dengan senang hati, Luhan pun mengambil sapu tangan pemberian Kris dan mulai menghapus air matanya.
"Aku? Aku tidak apa-apa Kris."
"Kau berbohong."
"T-tidak, aku tidak berb-" Sebelum Luhan menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba tangan besar Kris menggenggam erat tangan mungil milik Luhan. "Hari sudah hamper senja, sebaiknya kita pulang." Lalu Luhan membulatkan mata rusanya. "Kita?"
"Aku akan mengantarkanmu pulang Xiaolu." Tiba tiba saja pipi Luhan memanas karena Kris baru saja memanggilnya dengan 'Xiaolu' itu adalah nama panggilan Luhan semasa kecil.
"Tidak Kris, aku bisa pulang sendiri." Kemudian Luhan berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Kris. Lalu Kris menatap Luhan dengan tatapan garangnya. "Jam segini banyak Ahjussi-Ahjussi. Kau ingin diperkosa olehnya?" Luhan pun bergidik ngeri. "A-aku ikut dengan mu Kris." Akhirnya mereka pun pulang bersama menggunakan mobil milik Kris. Setelah 10 menit berlalu akhirnya mereka sampai didepan kediaman keluarga Kim.
"Terima kasih telah mengantarku pulang." Kemudian Luhan membukukkan badannya 90 derajat. Lalu Kris terkekeh pelan. "Ya sama-sama. Cepat masuk, suhu mulai menurun."
"Ne, hati-hati Kris." Kemudian Kris pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Kim.
"Aku pulang.." Kata Luhan seraya membuka pintu rumahnya. Kemudian Kai yang sedang menonton TV pun menatap Luhan dengan tajam. "Hyung kenapa pulang bersama Kris Hyung? Hyung selingkuh?" Luhan pun membulatkan matanya.
"Bodoh, kau tau? Sehun meninggalkanku. Padahal aku hanya pergi sebentar ke perpustakaan, saat aku kembali dia sudah pergi dengan Baekhyun." Kai pun membulatkan matanya. "Mwo?! Baekhyun." Kemudian Luhan menganggukkan kepalanya pelan. "Iya Baekhyun."
"Maksudmu Byun Baekhyun?" Tanya Kai penasaran.
"Kau mengenalnya?" Kai pun menganggukkan kepalanya. "Hyung, dulu Sehun pernah bercerita tentang Baekhyun Hyung. Sebenarnya Baekhyun hyung itu-" lalu Kai menggantungkan kalimatnya.
"Ayolah Kai, jangan membuatku penasaran."Luhan pun mulai merengek seperti anak kecil yang meminta dibelikan balon. Lalu Kai pun terkekeh pelan.
"Hyung mandi dan buatkan makan malam dulu, Baru aku mau bercerita." Lalu Luhan hanya bisa menurut. Daripada dia mati penasaran.
"Arraseo Kai." Kemudian Luhan langsung membersihkan dirinya dan bersiap untuk menyiapkan makan malam untuknya dan kai tentunya.
Setelah makan malam, Luhan pun dengan cepat menarik tangan Kai ke kamarnya dan mengunci pintunya. Kai pun memutar bola matanya malas. "Hyung, bahkan aku belum minum."
"Ck aku tidak sabar, ini minumlah." Kata Luhan seraya menyodorkan sebotol minuman yang ada di meja belajarnya. "Gomawo Hyung." Kemudian Kai menghabiskan minuman yang diberikan Luhan.
"Hm jadi begini.." kata Kai memulai ceritanya. Kemudian Luhan duduk dengan manis di ranjangnya. "Umm Hyung, apa kau yakin akan baik-baik saja?" Tanya Kai memastikan, Luhan pun mengangguk pelan. "Ya aku baik-baik saja Kai." Kai pun menghela napas nya pelan.
"Baekhyun Hyung dan Sehun sudah bersahabat sejak kecil. Sepertinya mereka saling suka. Kalau tidak, untuk apa mereka merencanakan untuk satu sekolah setelah lulus Sekolah Dasar. Setelah beberapa bulan memasuki Sekolah Menengah, akhirnya Sehun menyatakan perasaannya pada Baekhyun Hyung. Baekhyun Hyung pun menerimanya. Dan jadilah mereka sepasang kekasih. Setelah lulus Sekolah Menengah, Sehun mengajak Baekhyun Hyung untuk mendaftar di SM High School. Tapi Baekhyun Hyung menolaknya, dia bilang Appa nya akan bertugas di Zimbabwe."
Kemudian Kai berhenti bercerita, Luhan yang sedang asik mendengarkan ceritanya pun langsung melemparkan bantal kearah Kai. "Lanjutkan Bodoh."
"Ah appo Hyung. Tunggu sebentar, aku lupa." Kemudian Luhan hanya bisa memutar bola matanya malas.
"Ah iya. 2 hari setelah kejadian itu Sehun mendatangi rumah Baekhyun Hyung-" sebelum Kai benar-benar menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Luhan menyelanya. "Untuk apa?" Kai pun memutar bola matanya malas. "Hyung, jangan berbicara selagi aku bercerita."
"Ah maaf Kai. Lanjutkan."
"Sehun datang ke rumah Baekhyun Hyung untuk memberi tahu jika ia sudah diterima di SM High sayang saat Sehun sampai rumah Baekhyun Hyung sudah kosong." Lalu mata Luhan mulai berair. "Jadi hubungan mereka saat ini apa?" Kai pun menggedikan bahunya. "Aku tidak tahu."
"Kalau mereka belum berakhir bagaimana Kai?" Luhan pun mulai panik.
"Tidak usah panik seperti itu Hyung. Kalau mereka belum berakhir, untuk apa Sehun menjadikanmu sebagai kekasihnya."
"Kemarin saat di kantin Baekhyun bilang ia akan merebut Sehun dariku. Aku takut Kai." Kemudian Luhan terisak pelan.
"Uljima Hyung, nanti tidak cantik lagi." Lalu Luhan menyeka air matanya. "Kai, aku ini tampan." Kai pun terkekeh pelan. "Ya, terserah Hyung saja. Aku mau keluar." Luhan memiringkan kepalanya "Untuk apa?"
"Aku ingin menelpon yeojachingu ku." Luhan pun membulatkan matanya.
"Kai?! Kau sebenarnya berpacaran dengan siapa sih?"
"Dengan Kyungsoo Hyung."
"Dia namja Kai."
"Dia cantik seperti perempuan." Luhan pun memutar bola matanya malas. "Bodoh kau. Sudah sana pergi." Kai pun mengangguk sekilas. "Ne Hyung, jalja." Kemudian Kai pergi meninggalkan sendirian di kamarnya dan mulai sibuk bermesraan dengan yeoj- ah maksud ku namja chingunya.
.
.
Tok tok tok
"Hyung bangun. Ini sudah pagi." Kai pun mencoba membangunkan Luhan dari depan pintu kamarnya. Luhan yang merasa terpanggilpun mulai membuka matanya perlahan dan bergumam tak jelas, kemudian Luhan mengambil jam tangannya. "KAI KENAPA KAU TIDAK MEMBANGUNKAN KU?!" Luhan pun langsung berlari ke kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya. Setelah itu Luhan menghmpiri Kai yang sedang menyantap sarapannya. Lalu Luhan pun membulatkan mata rusanya. "Loh Kyung-ie? Kamu kenapa ada disini?" kemudian kyungsoo tersenyum. "Kai menyuruhku kesini." Lalu luhan membulatkan bibirnya.
"Kai, aku mau rotinya." Kata Luhan seraya menunjuk sepotong roti di atas piring Kai. Kai hanya melirik sekilas dan mendekap piring itu. "Andwe. Hyung buat saja sendiri." Luhan pun mendesah frustasi.
"Yak Kyung-ie mengapa namjachingu mu itu pelit sekali?" Lalu Kyungsoo tersenyum manis. "Ini Han, sudah aku buatkan untukmu." Kata Kyungsoo seraya menyodorkan piring yang berisi 2 tumpuk roti bakar. "Ah terima kasih Kyung-ie." Dengan secepat kilat Luhanpun menghabiskan semua roti yang disiapkan ole kyungsoo.
Setelah sarapan akhirnya mereka bertiga berangkat bersama ke sekolah. Awalnya Kai ingin pergi dengan Kyungsoo saja, karena Luhan terus merengek akhirnya Kai mengizinkannya untuk pergi bersama.
.
.
"Terima kasih Kai telah memberiku tumpangan." Kata Luhan seraya menutup pintu mobil dan menggandeng tangan Kyungsoo.
"Ne Hyung, lain kali kau harus berangkat dengan Sehun. Hyung kenapa menggadeng tangan Kyungsoo?" Tanya Kai seraya memperhatikan tangan yang sedang bergandengan itu. Luhan menatap Kai dengan ekspresi -_- "Kai adikku yang hitam, aku dan Kyungsoo itu satu kelas umm dan aku harus cepat masuk karena ada kelas olahraga. Bye." Lalu Luhan dengan Kyungsoo meninggalkan Kai yang sedang berpikir keras 'memangnya aku hitam?'.
.
.
"Annyeonghaseyo Seonsaengnim maaf saya terlambat." Kata Luhan seraya menetralkan deru napasnya kemudian membungkukkan badannya 90 derajat berkali-kali. Seonsaengnim itu menatap Luhan dengan tatapan dinginnya. "Saya tidak terima alas an apapun. Sekarang kau lari 100 putaran." Luhan membulatkan mata rusanya "Mwo? 100?"
"Kerajakan atau hukumanmu ditambah." Dengan setengah hati Luhan menjalankan hukumannya. Ternyata sedaritadi Baekhyun mentertawakan Luhan karena keterlambatannya. Setelah menjalankan hukumannya Luhan menghampiri Seonsaengnim dengan napas yang terengah-engah. "Hhh aku sudah berlari 100 putaran Seonsaengnim."
"Bagus, sekarang masuk barisan Luhan." Dengan setengah berlari Luhan menghampiri barisan Kyungsoo.
"Han-ie kenapa bisa hilang eoh?" Tanya Kyungsoo seraya menepuk pundak Luhan. "Aku tidak tau Kyung." Kemudian Kyungsoo berpikir sejenak. "Jangan-jangan ada seseorang yang -"
"LUHAN DAN KYUNGSOO DIAM ATAU KALIAN INGIN BERLARI 200 PUTARAN?" Kata Seonsaengnim seraya menatap horror kedua muridnya.
Bughh
"Akh appo."
.
.
